Tag: garut

  • Cerita Mata Air Asin yang Diburu Warga Tasikmalaya buat Lebaran



    Tasikmalaya

    Menjelang Lebaran, sebuah sumber mata air dengan rasa asin banyak diburu oleh warga Tasikmalaya. Mereka menggunakan air asin itu untuk membuat ketupat.

    Penjualan air asin Tanjung di Kecamatan Kawalu, Kota Tasikmalaya mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Warga tasik mulai terlihat antre untuk membeli sumber mata air yang dijadikan bahan pembuatan ketupat tersebut.

    Mata air asin Tanjung ini merupakan salah satu keunikan yang ada di Tasikmalaya. Jika biasanya mata air punya rasa tawar, tapi sumber mata air Tanjung malah mengeluarkan air asin.


    Oleh masyarakat, air ini kerap dimanfaatkan untuk membuat ketupat. Selain bisa memberi rasa yang khas pada ketupat, air asin Tanjung ini juga dipercaya membuat ketupat lebih tahan lama dan bisa awet sampai seminggu.

    Kebiasaan ini sudah berlangsung sejak dulu dan membawa berkah bagi daerah setempat. Sejumlah warga terlihat sudah memadati Kampung Cukang, Kelurahan Tanjung, Kecamatan Kawalu, Kota Tasikmalaya, tempat di mana sumber air asin Tanjung ini berada.

    Ketua Pengelola air asin Tanjung, Iman Hermansyah (42) mengatakan pembeli air asin Tanjung mulai ramai sejak awal bulan Ramadan.

    “Dari tanggal 5 Ramadan sudah ramai masyarakat yang membeli air asin Tanjung untuk membuat ketupat Lebaran. Penjualan meningkat sekitar 60 persen dari hari-hari biasa,” kata Iman.

    Iman mengatakan mereka yang membeli air asin Tanjung untuk bahan pembuatan ketupat, tidak hanya datang dari wilayah Tasikmalaya saja, melainkan dari berbagai daerah.

    “Pembeli tidak hanya warga Tasikmalaya, dari luar seperti Ciamis, Banjar, Garut dan daerah lainnya juga ada,” kata Iman.

    Tak sedikit pula mereka yang datang, membeli dalam jumlah banyak dengan tujuan untuk dijual kembali.

    “Selain mereka membeli untuk membuat ketupat di rumah, ada juga mereka yang akan menjual lagi,” jelasnya.

    Harga jual air asin ini relatif murah, satu galon dijual dengan harga Rp 10 ribu saja.

    “Kalau jeriken biru yang 35 liter Rp 15 ribu, kalau galon Rp 10 ribu,” papar Iman.

    Hasilkan Ketupat dengan Rasa yang Khas

    Iman membenarkan membuat ketupat dengan air asin Tanjung akan memberikan cita rasa yang khas serta tekstur ketupat yang lebih kenyal dan tahan lama.

    “Air Tanjung itu keistimewaannya seperti ada pengawet alami. Rasa ketupat atau lontong jadi beda, agak kenyal juga. Terus ketupat kalau pakai air asin Tanjung bisa bertahan sampai 6 hari,” ujar Iman.

    Dia juga berharap penjualan di Lebaran kali ini akan semakin meningkat sehingga warga bisa mendapatkan cuan yang maksimal.

    Mata air unik yang memiliki rasa asin bernama Air Tanjung di Tasikmalaya.Mata air unik yang memiliki rasa asin bernama Air Tanjung di Tasikmalaya. Foto: Faizal Amiruddin/detikJabar

    “Biasanya semakin dekat Lebaran semakin membeludak, kalau stok banyak,” kata Iman.

    Sumber mata air unik ini dikelola oleh pihak RW dengan melibatkan warga. Setidaknya ada 21 warga yang dilibatkan dalam bisnis pemanfaatan Air Tanjung ini.

    Sehari ada 3 atau 4 orang yang jaga. Mereka bertugas melayani pembeli, menampung air dan lain-lain. Warga yang bekerja tentu dapat upah, sisanya disetor ke kas RW.

    Secara swadaya masyarakat mengelola air itu dengan cara menampungnya ke bak-bak penampungan. Kemudian dari bak dialirkan ke dua tangki air kapasitas 1000 liter.

    Air Tanjung memang perlu ditampung sebagai stok, karena volume mata air tidak besar. Penasaran dengan rasanya yang menurut warga asin, beberapa bulan lalu kami pernah mencoba mencicipi air Tanjung tersebut.

    Rasa asin memang ada, tapi tak terlalu kentara. Lidah justru merasakan gurih. Seperti air kelapa, tapi air kelapa tua yang hambar.

    Beberapa saat setelah menenggak, tenggorokan terasa kering seperti usai minum air laut. Begitu kira-kira rasa dari mata air unik ini.

    ——-

    Artikel ini telah naik di detikJabar.

    (wsw/wsw)



    Sumber : travel.detik.com

  • Dulu Miskin, Kini Kaya dan Mandiri Berkat Kearifan Lokal


    Garut

    Desa Saung Ciburial di Garut adalah destinasi tepat untuk kamu yang butuh healing dengan melihat pemandangan alam dan menghirup udara segar. Desa ini dianugerahi alam indah, subur, dan tradisi yang diolah menjadi destinasi wisata.

    “Bersih, nyaman dan pemandangannya bagus,” tulis akun Charles Aritonang dalam google review. Dalam keterangan review tertulis, pemilik akun mengunjungi Desa Saung Ciburial sekitar satu bulan sebelumnya saat hari libur nasional.

    Lokasi Desa Saung Ciburial

    Desa Wisata Saung Ciburial berlokasi di Kecamatan Samarang, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Kawasan ini sebelumnya adalah Desa Sukalaksana, namun mengganti namanya sejak memutuskan mengolah poteni wisata.


    Kepala Desa Sukalaksana saat itu Obon Sobana, bertekad membuat desanya sukses bertransformasi menjadi desa wisata. Desa ini menggunakan rumah palupuh yang merupakan tempat tinggal khas masyarakat setempat. Pemerintah desa juga menggunakan air Ciburial yang menghidupi masyarakat desa.

    Sejak saat itu, Desa Sukalaksana dikenal sebagai Desa Wisata Saung Ciburial. Desa ini kemudian memanfaatkan seluruh potensinya hingga siap menyambut kunjungan wisatawan. Keindahan desa pelayanan yang baik sukses menggaet wisatawan dan meningkatkan pendapatan desa.

    Desa Wisata Saung Ciburial saat ini dikelola BUMDesa Sukalaksana. Menurut Onon, potensi wisata pada akhirnya menjadikan desa lebih kaya dan mandiri. Desa Wisata Saung Ciburial atau Desa Sukalaksana tak lagi miskin serta tertinggal.

    Tiket Masuk Desa Saung Ciburial

    Pengunjung tak perlu bayar tiket masuk Desa Wisata Saung Ciburial yang terletak di kaki Gunung Cikuray. Namun, pengunjung dikenakan tarif untuk menikmati layanan di destinasi wisata tersebut.

    Berikut tarif fasilitas Desa Wisata Saung Ciburial dikutip dari akun media sosialnya:

    Paket wisata

    • Belajar pertanian: Rp 25 ribu minimal 40 orang
    • Kaulinan barudak lembur (Kabarulem): Rp 2 juta
    • Melukis di atas media: Rp 50 ribu minimal 40 orang
    • Pandai besi: Rp 20 ribu minimal 40 orang
    • Tracking kampung: Rp 30 ribu minimal 40 orang
    • Belajar pencak silat: Rp 25 ribu minimal 40 orang
    • Menangkap ikan (ngagogo): Rp 65 ribu per kg minimal 15 kg
    • Papalidan (river tubing): Rp 45 ribu minimal 40 orang
    • Belajar membuat kerajinan tenun: Rp 25 ribu minimal 40 orang
    • Atraksi domba Garut: Rp 3 juta
    • Pembuatan tas lipat: Rp 25 ribu minimal 40 orang
    • Fun games: Rp 30 ribu minimal 40 orang.

    Paket penginapan

    • Saung Cikalapa 1 dan 2: Rp 1,5 juta 3 kamar
    • Saung Cikalapa 2: Rp 1,5 juta 3 kamar
    • Saung Ciburial: Rp 1,5 juta 4 kamar
    • Saung Cikahuripan 1 dan 2: Rp 1,5 juta 2 kamar
    • Saung Ciliang: Rp 500 ribu 1 kamar
    • Saung Cigintung Rp 2 juta 4 kamar
    • Saung Cigembor Rp 1,5 juta 2 kamar
    • Homestay: Rp 50 ribu 1 orang
    • Meeting room: Rp 1,5 juta.

    Tersedia juga akomodasi lain yaitu paket makan dan sewa alat yang bisa dinikmati pengunjung. Detikers yang tertarik bisa melakukan pemesanan dulu dengan menghubungi langsung Instagram Desa Wisata Saung di @pesonasaungciburial.

    Detikers bisa menggunakan kereta lebih dulu menuju Stasiun Garut dengan pilihan sebagai berikut:

    • Papandayan: Rp 195 ribu
    • Papandayan Panoramic: Rp 675 ribu
    • Cikuray: Rp 45 ribu.

    Ketersediaan akses kereta bisa berubah setiap saat sesuai permintaan konsumen. Jadwal dan akses kereta bisa diakses di aplikasi KAI Access.

    Selanjutnya, detikers bisa naik transportasi roda dua menuju Desa Wisata Saung Ciburial dengan waktu tempuh 42 menit. Rute perjalanan melewati Jl. Raya Samarang-Garut dan Jl. Raya Kamojang yang makin lama semakin sempit. Karena itu, pengunjung sebaiknya tidak menggunakan mobil kecil atau besar.

    Pesona Tirta Setra Ciburial dan Wisata Lain di Desa Saung Ciburial

    Salah satu spot wisata populer di Saung Ciburial adalah Tirta Setra Ciburial yang punya air bersih, jernih, dan menyegarkan. Tirta Setra Ciburial berasal dari mata air Ciburial yang telah lama memberi manfaat bagi warga desa.

    Ciburial (bahasa Sunda) artinya adalah air yang memancar keluar dan tiap tetesnya selalu memberi manfaat. Sesuai filosofi Ciburial, warga desa berharap semua aktivitas yang dilakukan bermanfaat dan selalu berdampak baik pada pelestarian lingkungan.

    Air dari mata air Ciburial ini menjadi kolam renang dan wahana snorkeling. Selain Tirta Setra Ciburial, masih ada lagi pesona Desa Wisata Saung Ciburial yang terdiri dari:

    Teh kewer

    Teh kewer berasal dari olahan biji buah tanaman kewer yang banyak tumbuh sekitar desa. Minuman ini punya rasa dan aroma yang sangat khas.

    Domba Garut

    Di Desa Wisata Saung Ciburial, pengunjung bisa ikut memberi pakan, merawat, dan membantu domba olahraga. Pengunjung juga bisa menyaksikan adu ketangkasan domba Garut sebagai bagian dari tradisi.

    Kopi akar wangi

    Minuman ini adalah perpaduan bubuk kopi dan tanaman akar wangi yang menghasilkan aroma khas. Jenis minuman ini adalah salah satu hidangan khas di Desa Wisata Saung Ciburial.

    (row/wsw)



    Sumber : travel.detik.com

  • Mitos Situ Bagendit dan Keindahan Alam dan Cerita Rakyat yang Melegenda



    Garut

    Situ Bagendit adalah salah satu destinasi wisata favorit di Kabupaten Garut. Baru-baru ini, pemerintah Kabupaten Garut melakukan upaya pembersihan Situ Bagendit dari tanaman liar yang mengganggu.

    Selain sebagai daya tarik wisata, situ yang berlokasi di Desa Bagendit, Kecamatan Banyuresmi ini juga menjadi salah satu sumber air bagi masyarakat sekitar.

    Situ Bagendit menawarkan keindahan alam yang memukau dengan panorama danau yang luas dan dikelilingi pegunungan seperti Gunung Guntur, Gunung Putri, Gunung Papandayan, dan Gunung Cikuray


    Di balik daya tarik wisatanya, Situ Bagendit menyimpan cerita legenda yang menarik untuk disimak. Konon, nama Situ Bagendit juga diambil dari nama tokoh utama yang ada di dalam cerita legenda ini.

    Cerita Rakyat

    Mengutip situs resmi Kabupaten Garut, cerita legenda ini juga menyimpan pesan moral yang penting untuk diresapi.

    Pada zaman dahulu kala, hidup seorang perempuan kaya bernama Nyai Bagendit di salah satu desa yang terletak di Jawa Barat. Nyai Bagendit hidup seorang diri dengan kekayaan melimpah dari warisan suaminya yang meninggal.

    Dari kekayaan yang dimiliki, Nyai Bagendit kerap merasa takut akan jatuh miskin. Hal itu membuatnya menjadi seseorang yang kikir. Terlebih lagi, Nyai Bagendit memiliki perangai yang kurang ramah kepada warga sekitar.

    Nyai Bagendit akan berkenan membantu warga yang sedang kesulitan dengan catatan terdapat ganti bunga yang sangat tinggi. Kemudian, apabila warga telat membayar utang tersebut maka akan mendapat diperlakukan kasar oleh orang suruhan Nyai Bagendit dan bahkan menyita sisa kekayaannya.

    Beberapa perangai buruk Nyai Bagendit pun membuatnya kerap tidak disukai oleh warga sekitar. Ditambah lagi dengan sifatnya yang senang memamerkan harta kekayaan kepada warga sekitar.

    Pada suatu hari, Nyai Bagendit sedang bersantai di halaman rumahnya sambil menghitung kekayaan uang dan emasnya. Kemudian datanglah seorang kakek tua yang berjalan dengan sebuah tongkat.

    Kakek tersebut merupakan seorang pengembara yang meminta sedikit air minum kepada Nyai Bagendit. Namun, Nyai Bagendit menolak dan justru memaki kakek tersebut dengan kasar lantas mengusirnya.

    Setelah diperlakukan tidak mengenakkan, kakek tersebut merasa sedih dan kecewa. Kemudian ia menancapkan tongkatnya di depan rumah Nyai Bagendit sambil mengingatkan wanita kaya tersebut mengenai pelajaran yang akan diterimanya.

    Melihat hal tersebut Nyai Bagendit tidak menghiraukan dan hanya mengejeknya dengan tertawa. Kemudian ia pun masuk ke dalam rumah untuk meninggal kakek tersebut di luar.

    Setelah itu, kakek tersebut mencabut tongkat yang ditancapkannya yang kemudian memancarkan air yang sangat deras. Air yang memancar tersebut menyebabkan banjir pada desa yang ditempati Nyai Bagendit. Para penduduk desa pun berlarian untuk menyelamatkan diri.

    Sementara itu kakek pengembara menghilang entah ke mana. Nyai bagendit pun terlambat menyadari kedatangan banjir dan lebih memilih untuk menyelamatkan kekayaannya.

    Akhirnya, Nyai Bagendit pun meminta pertolongan sembari membawa sekotak uang dan emas. Nahasnya tidak ada orang yang mendengar Nyai Bagendit karena warga sudah menyelamatkan diri terlebih dahulu.

    Nyai Bagendit pun tenggelam bersama seluruh kekayaannya dan banjir pun semakin meluap sampai akhirnya membentuk sebuah danau. Kemudian danau atau situ tersebut diberi nama Situ Bagendit.

    Mitos di Situ Bagendit

    Oh iya, mitosnya, buat yang pacaran di Situ Bagendit, kabarnya bakal putus cinta. Bahkan ada kalanya, keluarga melarang anak-anak yang tengah berhubungan datang ke Situ Bagendit. Walah, benar atau tidak ya mitos ini?

    —-

    Artikel ini sudah tayang juga di detikJabar. Klik di sini untuk membaca selengkapnya.

    (ddn/ddn)



    Sumber : travel.detik.com

  • Kampung Muara Sunda, Restoran Bernuansa Bali yang Pernah Disinggahi Jokowi



    Garut

    Bagi warga Jawa Barat yang belum sempat bertandang ke Bali, khususnya kawasan Ubud, singgah ke Kampung Muara Sunda (KMS) dapat menjadi alternatif.

    Sebab meski berkategori rumah makan sunda, khusus Sabtu – Minggu dan libur panjang restoran di Jalan Raya Bayongbong Km3, Muara Sanding – Garut Kota ini menyajikan full nuansa Bali.

    Sebetulnya sentuhan Bali sudah mulai terlihat sejak di bagian teras restoran. Di situ selain ada dua patung domba garut dengan tanduk baplang di kiri-kanan teras seolah menyambut para tamu, juga ada dua Tedung (payung) bermotif kotak-kotak hitam-putih khas Bali.


    Nuansa Bali kian terasa dominan dan kental dengan arsitektur dan desain interior anyaman bambu yang megah dan artistik. Tak kalah dengan dengan Bamboo Dome di The Apuva Kempinski Hotel, Nusa Dua Bali yang pernah dipakai untuk jamuan makan siang para kepala negara dunia di acara KTT G-20 pada November 2022.

    Restoran bergaya Ubud di GarutRestoran bergaya Ubud di Garut Foto: Sudrajat/detikTravel

    Belum lagi alunan instrumental rindik (gamelan bambu) berpadu dengan irama suling yang mendayu-dayu, menghanyutkan. Juga busana khas Bali yang dikenakan para pelayan pria dan wanita.

    “Untuk desain arsitektur resto ini semuanya dikonsep Pak Tedi (Golsom) Aristiadi,” kata Manajer Pemasaran KMS Nur Bintang Insani kepada detikTravel, Sabtu (6/9/2025) malam.

    Tedi adalah pemilik KMS yang juga dikenal sebagai pengusaha di bidang akomodasi dan otomotif di Kota Garut.
    Tedi mengaku sengaja membuat desain rumah makan bernuansa Bali agar berbeda dengan desain restoran sunda pada umumnya.

    Sekalipun demikian aneka material utama seperti bamboo tetap berasal dari Garut. Demikian juga dengan makanan yang disajikan dominan menu sunda.

    “Saya mencoba out of the box, dengan mengambil vibes Bali biar orang-orang yang belum bisa ke Bali cukup ke Kampung Muara Sunda. Saya boleh sebut ini sebagai Ubudnya Garut,” papar Tedi yang tengah berada di Makassar melalui chat WA.

    Tak berlebihan bila Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) Kabupaten Garut, 2025-2030, itu mengklaim demikian. Restoran ini memang memiliki area makan yang luas dengan suasana yang nyaman dan asri.

    Selain dikeliling area persawahan dan kebun sayuran yang hijau, sambil bersantap para pengunjung dapat memandang lepas ke tiga gunung utama di Garut, yakni Gunung Guntur, Papandayan, dan Cikuray.

    Restoran bergaya Ubud di GarutRestoran bergaya Ubud di Garut Foto: Sudrajat/detikTravel

    Selain itu, di lahan seluas 5000 m2 restoran ini juga menyediakan area bermain untuk anak-anak, sehingga sangat cocok untuk dikunjungi bersama keluarga. Juga tersedia ruang makan khusus untuk para sopir atau staf dengan bangunan yang dindingnya dipasangi batu-batu hitam yang tak kalah artistik.

    Dengan sekitar 200 menu khas Sunda yang otentik, fasilitas yang memadai, dan suasana yang nyaman, restoran ini menjadi tempat yang sempurna untuk menghabiskan waktu bersama keluarga dan teman-teman.

    “Gak akan nyesel pokoknya menjadikan Kampung Muara Sunda sebagai destinasi kuliner yang wajib dikunjungi di Garut,” kata Bintang.

    Selain nyaman untuk bersama keluarga, Sarjana Akuntansi dari sebuah perguruan tinggi swasta di Jakarta itu melanjutkan, KMS juga menyediakan layanan private dinner maupun lunch dengan sentuhan romantis.

    Selain para pejabat daerah baik sipil maupun militer, serta para pengusaha dan selebritas kenamaan di tanah air, Presiden Joko Widodo juga sempat singgah untuk makan siang di KMS.

    Restoran bergaya Ubud di GarutFoto mantan presiden Jokowi sedang makan di KMS Garut Foto: Sudrajat/detikTravel

    Hal itu terjadi sebelum dia membuka Rapat Koordinasi Nasional Pondok Pesantren Muhammadiyah di Pondok Pesantren Darul Arqam Garut, pada 17 Oktober 2017.

    Foto Jokowi bersama Menteri Pekerjaan Umum Basuki Hadimuljono terpamang di dinding dekat kasir. Kepada pers kala itu, Tedi mengaku diberi tahu panitia sehari sebelum acara. Menu yang dipesan antara lain goreng ayam kampung, tumis kikil, dan karedok.

    (jat/wsw)



    Sumber : travel.detik.com

  • Nyamannya Sensasi Air Hangat Gunung Guntur di Cahaya Villas Garut



    Garut

    Berkali-kali liburan ke Garut, baru di akhir pekan kemarin akhirnya kami kesampaian menginap di Cahaya Villas. Tak seperti hotel dan penginapan lain, Cahaya Villas yang berlokasi di Jl. Cipanas Baru No. 83, Langensari memanfaatkan air panas alami dari Gunung Guntur untuk shower, kolam renang, maupun water parknya.

    Sekalipun demikian, air panas ini tak beraroma belerang dan tak bikin pedih di mata. Setelah menempuh perjalanan sekitar 4 jam dari Depok, saat check-in selepas Ashar bersama anak-anak kami langsung melepas penat dengan berenang di kolam renang. Benar-benar bikin fresh. Sementara istri memilih berendam di kolam Jacuzzi yang tersedia di setiap tipe villa.


    “Kami merupakan resort hotel yang mengakomodir semua segmentasi market (individu, family , komunitas, government & corporate),” tutur GM Cahaya Villa Antoni Gultom saat berbincang dengan detikTravel.

    Berdiri di atas lahan sekitar 18 ribu m2, Cahaya Villas yang beroperasi mulai Oktober 2018 dilengkapi hotel berkapasitas 120 kamar, dan 43 kamar villa untuk tipe standar, suites, dan penthouse. Cahaya Villas, kata Antoni, dilengkapi 2 ballroom, yakni Papandayan Meeting Hall berkapasitas 500 orang dan ⁠Cahaya Grand ballroom (1.200 orang).

    “Kalau untuk okupansi rata-rata per bulan 85%, kalau libur panjang Maulid pekan lalu tingkat hunian sampai 95%,” imbuh alumnus Akademi Perhotelan Aktripa Bandung itu.

    Tak seperti hotel dan penginapan lain, Cahaya Villas yang berlokasi di Jl. Cipanas Baru No. 83, Langensari memanfaatkan air panas alami dari Gunung Guntur untuk shower, kolam renang, maupun water parknya.  SFasilitas bermain perahu di Cahaya Villas Foto: Sudrajat

    Fasilitas lainnya, dari pengamatan selintas detikTravel Cahaya Villas dilengkapi area fitness, danau buatan untuk anak-anak dan keluarga bermain perahu, kafe, dan lainnya.

    Area parkir di halaman depan cukup luas. Untuk para tamu yang menginap di villa, setiap kendaraan dapat langsung diparkir di depan atau samping villa.
    Resto untuk sarapan cukup luas, menyajikan aneka menu lokal, Asia, maupun Eropa.

    Cahaya Villas, GarutCahaya Villas Hotel, Garut (Foto:Sudrajat/detikcom)

    Selain soal ras, vie ke arah Gunung Guntur yang seolah berada di pelupuk mata menjadi sensasi tersendiri. Di tengah menikmati sarapan, kebanyakan tamu asyik berselfie ria dengan latar gunung tersebut.

    “Semuanya sih oke, kecuali WiFi-nya agak lemot. Mungkin karena cuaca dan daerah ini dikelilingi pegunungan ya,” kata Mukti Rahardi, mahasiswa asal Semarang yang menginap bersama keluarganya.

    Ia terlihat menutup laptopnya dan kemudian asyik berselancar di dunia maya melalui iPhone di genggamannya.

    (jat/ddn)



    Sumber : travel.detik.com

  • PBNU Resmikan Dapur MBG di Cirebon, Targetkan 1.000 Titik di Pesantren NU



    Cirebon

    Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) meresmikan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Pondok Pesantren Mualimin Mualimat, Babakan Ciwaringin, Cirebon.

    Program ini menjadi wujud komitmen PBNU dalam mendukung pemenuhan gizi santri dan pelajar di lingkungan lembaga pendidikan Nahdlatul Ulama.

    Dalam rilis yang diterima detikHikmah pada Sabtu (2/7/2025), Peresmian dapur MBG tersebut dihadiri langsung oleh Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya), bersama jajaran pengurus PBNU, pimpinan Badan Gizi Nasional (BGN), dan pimpinan 13 pesantren mitra MBG yang turut meresmikan dapurnya pada kesempatan yang sama.


    Adapun 13 pesantren dan yayasan pendidikan mitra MBG yang terlibat dalam peresmian ini antara lain:

    1. Ponpes Mualimin-Mualimat Babakan Ciwaringin, Cirebon
    2. Ponpes Abu Manshur, Cirebon
    3. Ponpes Sirajul Mukhlasin 2 Yajri, Magelang
    4. Ponpes Assalafiyah Mlangi, Yogyakarta
    5. Ponpes Ma’hadul Muta’allimin, Ngawi
    6. Ponpes Darussyifa Yaspida, Sukabumi
    7. Ponpes Duta Aswaja, Kudus
    8. Ponpes Krapyak Yayasan Ali Maksum, Yogyakarta
    9. Yayasan Pendidikan Azzam Abu Haidir Anshor, Labuhan Batu Utara
    10. Yayasan Mukti Khoiriyah, Banyumas
    11. Yayasan Al Musaddadiyah, Garut
    12. Yayasan Al Muhajirin, Purwakarta
    13. Ponpes Putra Putri Marsahaja, Riau

    Dalam sambutannya, Gus Yahya menegaskan bahwa inisiatif pembangunan dapur MBG merupakan bentuk konkret dukungan PBNU terhadap program prioritas nasional di bawah kepemimpinan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka, khususnya dalam mempercepat pemenuhan gizi anak-anak Indonesia.

    “Di tahap awal ini, sebanyak 218 yayasan pesantren dan lembaga pendidikan di bawah naungan NU sudah mulai diproses oleh BGN,” ujar Gus Yahya.

    Ia juga menambahkan, PBNU menargetkan pembangunan 1.000 dapur MBG yang tersebar di berbagai pesantren dan sekolah/madrasah NU di seluruh Indonesia. Dari sekitar 26 ribu pesantren serta lebih dari 10 ribu sekolah dan madrasah di lingkungan NU, setidaknya 426 pesantren dengan jumlah santri lebih dari 1.000 orang akan menjadi prioritas utama.

    “Kami ingin memastikan setiap anak mendapatkan hak dasar atas gizi yang baik. Lewat program ini, kami berharap bisa mencetak generasi yang sehat, cerdas, dan unggul untuk masa depan bangsa,” ungkap Gus Yahya.

    Peresmian 13 dapur MBG ini menjadi tonggak penting dalam mempercepat realisasi target 1.000 titik dapur MBG NU di seluruh Indonesia. Lewat inisiatif ini, PBNU ingin berperan aktif dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia sekaligus mendukung visi pemerintah dalam menciptakan generasi emas yang sehat dan kompetitif.

    (lus/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Kemenag Jamin Hak Kebebasan Beribadah di Garut Usai Insiden Penutupan Rumah Doa



    Jakarta

    Beberapa waktu lalu tersiar kabar mengenai penutupan rumah doa umat Kristen di Kecamatan Caringin, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Menanggapi hal itu, Staf Khusus Menteri Agama Gugun Gumilar menyampaikan saat ini pihaknya sedang berkoordinasi dengan Kantor Wilayah Kemenag Jabar dan Kabupaten Garut agar masalah bisa selesai secara dialogis dan sesuai peraturan perundang-undangan.

    Kemenag menyatakan komitmennya terkait hak setiap warga negara dalam menjalankan ibadah sesuai keyakinan masing-masing.

    “Konstitusi menjamin kebebasan beragama dan beribadah bagi seluruh warga negara tanpa diskriminasi. Kementerian Agama berkewajiban memastikan hal tersebut terlaksana, termasuk di Garut,” ujar Gugun dalam keterangannya yang dikutip pada Sabtu (16/8/2025).


    Stafsus Menag itu juga mengunjungi Kecamatan Caringin sebagai bentuk keseriusan sekaligus melihat situasi di lapangan. Di sana, ia berdiskusi dengan warga setempat, tokoh agama, dan pemerintah setempat guna mendengarkan aspirasi dan mencapai solusi terbaik.

    “Saya mendengar langsung pandangan warga dan tokoh setempat. Prinsipnya, semua pihak menginginkan suasana damai dan saling menghormati. Kami akan memfasilitasi agar hak beribadah tetap terjaga, sekaligus memperkuat kerukunan,” sambung Gugun.

    Kemenag mengajak seluruh pihak mengedepankan musyawarah dan saling menghormati demi terciptanya kerukunan umat beragama. Proses mediasi akan terus dilakukan dengan melibatkan pemerintah daerah, tokoh agama, dan perwakilan jemaat rumah doa.

    “Kerukunan adalah modal penting bangsa ini. Perselisihan harus diselesaikan dengan jalan damai, bukan pembatasan hak ibadah,” tegas Stafsus Menag Gugun Gumilar.

    Kemenag berharap masyarakat Garut dan sekitarnya bisa terus menjaga suasana kondusif, serta memberikan ruang bagi semua pemeluk agama untuk beribadah dengan aman dan nyaman. Selain itu, Gugun juga menyampaikan bahwa Kemenag akan menyiapkan regulasi yang lebih jelas dan terperinci terkait pendirian dan penggunaan rumah doa.

    “Kami ingin memastikan regulasi ini mampu melindungi semua pihak, memberikan kepastian hukum, dan mencegah terulangnya peristiwa seperti di Garut,” ungkapnya.

    Kemenag juga mendorong pemerintah daerah untuk membuka ruang komunikasi antara seluruh pihak, sehingga penyelesaian dapat dilakukan secara damai tanpa mengorbankan hak-hak dasar masyarakat.

    “Pemerintah daerah memiliki peran strategis dalam memastikan kerukunan umat beragama tetap terjaga,” terang Gugun.

    Kemenag menegaskan akan terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah tak hanya untuk penyelesaian masalah saat ini, melainkan juga dalam jangka panjang demi membangun mekanisme yang mampu mencegah terulangnya konflik serupa di masa depan.

    “Kita akan terus berkoordinasi guna memperkuat sistem deteksi dini agar setiap potensi permasalahan dapat diantisipasi sejak awal,” jelas Stafsus Menag.

    Melansir dari detikJabar, informasi mengenai penutupan paksa rumah doa umat Kristen di Garut ini mencuat ke publik usai unggahan di media sosial beberapa waktu lalu.

    “Penginjil Dani Nataniel yang melayani puluhan umat Kristen di Rumah Doa Imanuel, Caringin, Garut diusir oleh Forkopimcam pada 2 Agustus 2024. Seluruh aktivitas ibadah juga dilarang rumah doanya ditutup paksa,” tulis unggahan tersebut.

    Melalui unggahan itu, pengunggahnya menyebut jika penutupan rumah doa itu menjadi polemik. Pertama, karena rumah doa diduga ditutup paksa oleh pemerintah.

    Hal itu tertuang dalam sebuah surat kesepakatan bersama yang diteken Kapolsek Caringin Ipda Indra Koncara, Kasi Kesra Kecamatan Caringin Suat Setiawan dan perwakilan TNI, Peltu Rosidin.

    Surat tersebut, intinya menyatakan bahwa Forum Komunikasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimda) telah bersepakat dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan pengurus Gereja Beth-El Tabernakel Rumah Doa Imanuel (Pos Pelayanan Gereja Beth-El Tabernakel Suka Bungah).

    (aeb/lus)



    Sumber : www.detik.com