Tag: gedong

  • Ratusan Pelari Jelajahi Keindahan Alam Gunung Gajah


    Jakarta

    GTR Ultra 2025 kembali digelar untuk tahun ketiga dan sukses mencuri perhatian para pelari lintas alam dari berbagai daerah, bahkan mancanegara.

    Diselenggarakan di Lapangan Dusun Kayuwangi, Desa Gedong, Kecamatan Banyubiru, Kabupaten Semarang, pada tanggal 7 Oktober 2025, event ini menjadi bagian dari kalender resmi ITRA National League 2025 dan UTMB Index Races 2025, menegaskan posisinya sebagai salah satu ajang trail run bergengsi di Indonesia.

    Tahun ini sebanyak 800 pelari dari 90 kota di Indonesia dan 20 pelari internasional dari Vietnam, China, Jepang, Selandia Baru, Inggris, dan Amerika Serikat ikut menantang diri di lintasan yang menakjubkan di sisi utara Gunung Gajah.


    Dengan slogan GTR Ultra 2025 #WhyNot!, para peserta disuguhi lintasan dengan pemandangan spektakuler, mulai dari panorama Gunung Telomoyo, Gunung Gajah, hingga Rawa Pening. Kategori lomba tetap mempertahankan empat jarak diantaranya 7K, 12K, 30K, dan 52K, di mana kategori 30K dan 52K memberikan Point ITRA serta UTMB Index bagi para finisher.

    Kategori 52K menjadi tantangan utama dengan start pukul 00.00 WIB, melewati tiga puncak gunung yaitu Gunung Gajah, Telomoyo, dan Sokorini, serta Bukit Sepakung dan Gumuk Reco sebelum mencapai garis finis.

    Menariknya, tahun ini GTR Ultra menambahkan kategori Pelajar dan Mahasiswa untuk jarak 7K dan 12K. Inisiatif ini diharapkan dapat menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap olahraga alam sekaligus gaya hidup sehat.

    Tak hanya memacu adrenalin, GTR Ultra 2025 juga membawa dampak ekonomi positif bagi masyarakat lokal. Lebih dari 200 pelari menginap di homestay warga, sementara BUMDes Desa Gedong mencatat omzet lebih dari Rp50 juta selama event berlangsung.

    Dukungan kuat datang dari Pemerintah Kabupaten Semarang, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, hingga Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia, melalui Kelompok Kerja Event Alam dan Petualangan. Bahkan, Fahmi Octaviano, Ketua Pokja Event Alam dan Petualangan, turut hadir dan melepas peserta di garis start.

    Kini, GTR Ultra tak hanya menjadi bagian dari Festival Telomoyo, tetapi juga resmi masuk dalam agenda tahunan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, membawa semangat baru untuk memajukan pariwisata dan ekonomi daerah.

    Melalui semangat “Why Not!”, GTR Ultra 2025 berhasil menunjukkan bahwa olahraga dan pariwisata bisa berjalan beriringan, menumbuhkan semangat petualangan sekaligus menggerakkan ekonomi lokal.

    (krs/krs)

    Sumber : sport.detik.com

    Alhamdulillah lapangan olahraga اللهم صل على رسول الله محمد
    ilustrasi gambar : unsplash.com / sandro schuh
  • Dari Desa Gendong Sampai Kayuwangi


    Jakarta

    Indonesia makin serius dalam mendukung geliat olahraga lari lintas alam atau trail run. Terbukti, GTR ULTRA kembali hadir di tahun ketiganya dengan skala yang lebih besar dan jalur yang semakin menantang.

    Event ini bukan sekadar lomba lari biasa, GTR ULTRA 2025 telah resmi masuk dalam kalender race ITRA National League 2025 dan UTMB Index 2025, menjadikannya pilihan ideal untuk kamu yang ingin naik level sebagai trail runner sejati.

    Berlokasi di Lapangan Kayuwangi, Gedong, Banyubiru, Kabupaten Semarang, GTR ULTRA 2025 menjanjikan pengalaman lari yang tak terlupakan. Jalur lintasan menyusuri keindahan sisi utara Gunung Merbabu, dengan elevasi yang menantang adrenalin.


    Selain menyajikan pemandangan pegunungan yang memesona, setiap finisher di kategori 30K dan 52K juga akan memperoleh Point ITRA dan UTMB Index yang bisa digunakan sebagai syarat mengikuti ajang-ajang lari internasional bergengsi di masa depan.

    Pendaftaran dibuka mulai 1 Juli hingga 13 September 2025. Tapi perlu dicatat, untuk kamu yang ingin ikut kategori 30K dan 52K, wajib lolos proses kualifikasi terlebih dahulu.

    GTR ULTRA 2025 hadir dengan empat kategori yang bisa kamu pilih sesuai kemampuan: 7K untuk pemula dengan elevasi ringan, 12K dengan tantangan elevasi lebih tinggi dan sudah masuk UTMB Index 20, serta 30K dan 52K yang cocok untuk pelari berpengalaman yang ingin mengumpulkan Point ITRA dan UTMB Index.

    Kategori 30K memberikan 2 Point ITRA dan UTMB Index 20, sedangkan kategori 52K memberikan 3 Point ITRA dan UTMB Index 50. Keduanya membutuhkan proses kualifikasi terlebih dahulu yang bisa kamu akses di sini. Untuk kategori 7K, 12K, dan pelari yang sudah lolos kualifikasi, tiket bisa langsung dibeli melalui detikevent!

    Dengan ikut serta di GTR ULTRA 2025, kamu bukan hanya menyelesaikan race, tapi juga membangun reputasi dan portofolio sebagai pelari trail yang profesional. Untuk kamu punya mimpi ikut ajang besar seperti UTMB tingkat Internasional, event ini adalah langkah awal yang tepat.

    Yuk, siapkan dirimu, melatih endurance dan teknik lintas alam, dan segera daftar melalui detikevent! GTR ULTRA 2025 siap menguji batasmu dan membuka pintu menuju panggung trail running dunia!

    (aff/aff)

    Sumber : sport.detik.com

    Alhamdulillah lapangan olahraga اللهم صل على رسول الله محمد
    ilustrasi gambar : unsplash.com / sandro schuh
  • Lari dengan Pemandangan Telomoyo, Merbabu, Rawa Pening


    Jakarta

    Industri sport tourism di Indonesia semakin menggeliat, terutama melalui event-event yang mampu menggabungkan pesona wisata alam dengan aktivitas fisik yang menantang.

    Salah satu yang patut kamu lirik adalah Gajah Trail Run (GTR) Ultra 2025, sebuah lomba lari lintas alam berskala nasional hingga internasional yang siap digelar pada 4-5 Oktober 2025 mendatang di kawasan Telomoyo, Jawa Tengah.

    Diselenggarakan sebagai bagian dari Festival Telomoyo ke-9, GTR Ultra 2025 akan menjadi edisi ke-3 dari ajang ini. Lokasi start dan finis akan berpusat di Lapangan Kayuwangi, Desa Gedong, Kecamatan Banyubiru, Kabupaten Semarang.


    Jalurnya? Nggak main-main, para peserta akan diajak menyusuri jalur penuh keindahan mulai dari Gunung Gajah Telomoyo, Pagergedog, Sepakung, hingga Gumuk Reco. Sepanjang lintasan, kamu akan disuguhi panorama tiga gunung sekaligus,Telomoyo, Merbabu, dan Ungaran, plus view eksotis Danau Rawa Pening dari ketinggian.

    Ajang ini menawarkan empat kategori lomba berdasarkan jarak dan tingkat elevasi:

    • 7 Km (elevation gain 400 m)
    • 12 Km (elevation gain 800 m)
    • 30 Km (elevation gain 1.200 m)
    • 52 Km (elevation gain 2.500 m)

    Gajah Trail Run Ultra bukan sekadar lomba, tapi juga menjadi simbol sinergi antara olahraga dan pemberdayaan masyarakat. Lewat jalur yang melewati desa-desa wisata, sawah, dan pegunungan, kamu akan merasakan langsung interaksi dengan kearifan lokal masyarakat sekitar. Selain itu, event ini mendorong pertumbuhan ekonomi lokal dengan mendatangkan hingga 1.000 pelari dari dalam dan luar negeri.

    Bukan hanya pelari profesional yang boleh ikut, kamu yang ingin menantang diri sendiri juga bisa ambil bagian. Apalagi sejak 2023, ajang ini telah terdaftar dalam kalender ITRA (International Trail Running Association) dan UTMB (Ultra Trail Mont Blanc), yang berarti setiap pelari bisa mengumpulkan poin dan indeks untuk keikutsertaan di lomba-lomba kelas dunia.

    Untuk kamu yang ingin ikut atau sekadar menyaksikan atmosfer luar biasa dari ajang ini, pantau terus informasi resminya di akun Instagram @gtrultra.

    Beli tiketnya sekarang juga sebelum ketinggalan melalui detikevent!

    (krs/cas)

    Sumber : sport.detik.com

    Alhamdulillah lapangan olahraga اللهم صل على رسول الله محمد
    ilustrasi gambar : unsplash.com / sandro schuh
  • Wajah Terkini Rumah Kentang-Gedong Setan, Urban Legend Bandung yang Dulu Seram



    Bandung

    Bandung punya beberapa Urban Legend yang terkenal angker. Tapi itu dulu, sekarang tempat-tempat itu sudah tidak seram lagi. Seperti apa penampakannya sekarang?

    Kota Bandung menyimpan sejumlah misteri yang menyelubungi sejumlah tempat-tempat bersejarah di sana. Cerita berbau mistis hidup dari masa ke masa melalui penuturan masyarakat yang tinggal di sekitar tempat tersebut.

    Cerita-cerita itu pun menjelma sebagai Urban Legend yang populer. Banyak wisatawan yang justru penasaran dengan cerita itu, lalu mendatangi tempat yang dimaksud.


    Tahun terus berganti, kini sejumlah situs sejarah tempat kemunculan urban legend tersebut mulai mengalami pemugaran. Bagaimana kondisinya sekarang?

    1. Rumah Kentang

    Rumah posisi hoek yang terletak di Jalan Banda nomor 18 ini sejak lama terkenal dengan nama “Rumah Kentang”. Nama tersebut muncul bukan tanpa alasan. Konon, masyarakat setempat kerap mencium aroma kentang yang menyeruak dari rumah tersebut di sore hingga malam hari.

    Cerita yang paling santer terdengar adalah bahwa bau kentang tersebut berasal dari anak orang Belanda yang tewas tercebur ke dalam kuali panas berisi kentang.

    Rumahnya yang sepi tampak tak berpenghuni, dipadukan dengan gaya bangunan khas era kolonial Belanda, menambah kesan misterius di benak orang yang melintasinya.

    Rumah Kentang berubah jadi restoranRumah Kentang berubah jadi restoran Foto: Putu Intan/detikcom

    Namun, mitos tragedi kuali kentang tersebut ternyata pernah dibantah oleh penjaga Rumah Kentang, Pramutadi.

    Melalui wawancaranya dengan Tim detikJabar dan Komunitas Aleut pada tahun 2020, ia mengatakan bau kentang tersebut berasal dari bau tanaman yang ditanam oleh penghuni rumah. Kala itu, dia menyebut bahwa rumah tersebut sempat dihuni oleh ahli botani.

    Di saat wawancara tersebut, rencana pemugaran Rumah Kentang telah mulai dilaksanakan. Hasilnya adalah sebuah kafe bernama sama, yakni “Roemah Kentang 1903”.

    Kafe tersebut diluncurkan di pengujung tahun 2020 dan masih beroperasi hingga saat ini. Bahkan, tempat ini kerap digunakan untuk berbagai acara seperti gathering hingga pernikahan.

    Berdasarkan pantauan di lokasi, kafe tersebut masih mempertahankan bentuk bangunan aslinya. Sejumlah bagian bangunan seperti kusen jendela, beberapa daun pintu hingga ventilasi pun masih menggunakan apa yang sudah eksis di Rumah Kentang sebelumnya.

    Sang pemilik kafe, Arys Buntara mengaku tidak pernah mencium adanya aroma kentang dari rumah tersebut ketika proses pembangunan berlangsung hingga saat ini.

    “Enggak pernah cium ada bau kentang sih. Dari cerita penjaganya, memang dulu ada ahli botani yang suka menanam di sini. Katanya ada bunga yang baunya seperti kentang. Tapi enggak tahu juga bunganya yang mana,” ungkap Arys, Jumat (27/6/2025).

    Urban legend di Bandung.Rumah Kentang Foto: Nur Khansa Ranawati/detikJabar

    Namun, bukan berarti misteri sepenuhnya lenyap. Arys mengaku terdapat beberapa hal ‘di luar nalar’ yang terjadi saat renovasi berlangsung maupun saat operasional kafe sudah berjalan. Salah satunya adalah tukang bangunan yang tiba-tiba berpindah tempat saat tertidur.

    “Ada juga karyawan yang dia kekeuh bilang sedang ngobrol dengan karyawan lain di lantai atas. Eh, pas dilihat di CCTV, ternyata dia ngobrol sendiri,” ungkap Arys seraya tertawa.

    Ia juga menuturkan bahwa Rumah Kentang sempat digunakan kelompok teosofi Freemasonry “Loji Hermes” di Kota Bandung untuk beraktivitas.

    Beberapa artefak peninggalan seperti dua pilar besar, jubah, hingga pedang yang identik dengan kegiatan kelompok Freemasonry ditemukan saat ia melakukan renovasi.

    “Sampai sekarang masih disimpan. Pilarnya sengaja kita pajang sebagai unsur sejarah tempat ini,” jelasnya.

    2. Hantu Ambulans Jalan Bahureksa

    Entah sudah berapa dekade sebuah ambulans tua terpakir di depan rumah di Jalan Bahureksa nomor 15. Yang jelas, cerita kengerian ambulans Mercy Rubor buatan tahun 1961 tersebut telah tersebar luas di masyarakat sejak lama.

    Salah satu versi cerita yang terkenal adalah bahwa ambulans tersebut sempat dipakai mengangkut satu keluarga yang seluruhnya tewas karena kecelakaan. Setelah digunakan untuk mengangkut jasad keluarga tersebut, ambulans kemudian diparkir di depan rumah Jalan Bahureksa nomor 15.

    Sejak saat itu, ambulans tersebut disebut berhantu dan tidak dapat dipindahkan ke manapun oleh orang lain. Ada juga versi yang menyebut bahwa ambulans kerap terlihat berkeliaran sendiri tanpa pengemudi di malam hari. Kisahnya bahkan sempat diangkat ke film layar lebar berjudul Hantu Ambulance di 2008.

    Urban legend di Bandung.Rumah Jalan Bahureksa 15 Bandung Foto: Nur Khansa Ranawati/detikJabar

    Rumah tua di Jalan Bahureksa nomor 15 bukan tidak berpenghuni. Beberapa kali rumah tersebut beserta area di sampingnya disewa untuk tempat komersial seperti distro, tempat fotokopi, hingga salon.

    Di tahun 2008, empat anak muda Kota Bandung menyewa rumah tersebut dan mengubahnya menjadi sebuah distro yang dinamai “Ambulans Shop”.

    Di tahun 2012, salon khusus rambut gimbal bernama Dreadock Studio juga mulai beroperasi di area tersebut, masih dengan ambulans horor terparkir di depan toko mereka.

    Namun, mitos mistis soal ambulans tersebut akhirnya tumbang di tahun 2016. Kala itu, keluarga sang pemilik ambulans menjual ambulans tersebut ke Parung, Bogor. Sang Legenda yang konon tak bisa dipindah tersebut akhirnya berhasil diangkut ke kota lain, tanpa pernah kembali.

    Tahun berganti, saat ini kisah ambulans horor tak lagi menghantui Jalan Bahureksa. Rumah di Jalan Bahureksa nomor 15 sudah berubah menjadi sebuah restoran. Berdasarkan pantauan detikJabar, tak ada jejak keberadaan ambulans yang tersisa.

    Restoran yang dinamai “Republic” tersebut terlihat masih mempertahankan bentuk bangunan jadulnya, baik dari fasad luar maupun di bagian dalam bangunan.

    Terdapat tambahan area duduk dengan nuansa interior modern dan minimalis. Dengan situasi saat ini, agaknya tak ada yang menyangka bahwa pernah ada legenda mistis yang tersemat di tempat tersebut.

    3. ‘Gedong Setan’

    Gereja Katolik Bebas Santo Albanus adalah salah bangunan yang tak lepas dari cerita mistis warga Kota Bandung. Terletak hanya sekitar 300 meter dari Rumah Kentang, bangunan Gereja Anglikan ini memiliki julukan “Gedong Setan”.

    Usut punya usut, julukan tersebut muncul karena bentuk bangunan di Jalan Banda nomor 26 ini terkesan misterius. Desas-desus di antara warga pun menyebut bahwa sering terdengar suara radio transistor berbunyi keras dengan bahasa Belanda dari dalam gedung tersebut.

    Bahkan ada pula yang mengaku mendengar suara orang bercakap-cakap dalam Bahasa Eropa. Bangunan Gereja Santo Albanus sendiri dibangun pada tahun 1920, oleh seorang arsitek ternama Belanda Ir. F.J.L. Ghijsels.

    Urban legend di Bandung.Gedong Setan sekarang Foto: Nur Khansa Ranawati/detikJabar

    Serupa dengan Rumah Kentang, gereja ini salah satunya difungsikan oleh kelompok Freemasonry untuk beraktivitas. Penggunaan gedung ini sebagai markas Freemasonry hanya berlangsung hingga 1930an, sebelum akhirnya pindah ke Oclottpark yang sekarang jadi mal Bandung Indah Plaza.

    Gedung tersebut juga pernah menjadi tempat kursus Bahasa Belanda di era kolonial Belanda. Bangunan Gereja Santo Albanus saat ini terdaftar sebagai Cagar Budaya tipe A oleh Pemerintah Kota Bandung dalam Perda No. 19 tahun 2009.

    Oleh karena itu, proses pemugaran bangunan gereja yang masih berlangsung hingga saat ini sempat menuai protes dari masyarakat, khususnya pecinta sejarah.

    Setelah bertahun-tahun sempat terkesan terbengkalai dan digunakan sebagai parkir liar, saat ini pembangunan yang terbilang besar tengah berlangsung di kompleks gereja tersebut.

    Berdasarkan pantauan di lokasi, per 27 Juni 2025, sudah berdiri bangunan bertingkat berdinding kaca dan bernuansa modern di belakang fasad bangunan utama Gereja Santo Albanus.

    Area gereja sendiri masih dipagari seng mengingat pembangunan yang belum selesai. Wujud bangunan asli gereja di area depan tampak tak banyak berubah, meskipun tulisan “S. Albanus” Geredja Katholik Bebas yang sebelumnya terpatri di bagian muka bangunan saat ini tak lagi ada.

    Belum jelas bangunan apa yang akan dibangun dan dikembangkan di kompleks gereja tersebut. Namun, berdasarkan keterangan dari stempel Pemerintah Kota Bandung yang tertera di luar area pembangunan, proyek ini masih merupakan “Proyek Keagamaan”.

    Proyek ini terdaftar dengan Nomor Persetujuan Bangunan Gedung (PBG) SK-PBG-327309-12072022-001 tertanggal 12 Juli 2022. Bangunan yang direnovasi termasuk ke dalam golongan Bangunan Tidak Sederhana, dengan jumlah lantai mencapai enam lantai.

    Akankah pemugaran Gereja Santo Albanus ini sekaligus perlahan mengikis cerita-cerita mistis yang menyertainya?

    ———

    Artikel ini telah naik di detikJabar.

    (wsw/wsw)



    Sumber : travel.detik.com