Tag: generasi z

  • Bitcoin, Jalan Alternatif? – Tokocrypto News

    Ibarat sel tubuh yang tumbuh tanpa hambatan (proliferasi), Bitcoin (BTC) yang berteknologi blockchain kian merasuki kelompok usia muda (Generasi Z). BTC sebagai mata uang digital (MUD) baru, setidaknya selama satu dekade terakhir adalah sebuah kelaziman bagi kaum “ber-DNA digital” itu. Bitcoin sebagai jalan alternatif?

    BTC semakin dianggap sebagai mata uang (currency) alternatif dengan “nilai paling stabil” dibandingkan mata uang resmi alias fiat currency yang diterbitkan oleh negara dan emas.

    Ketika tulisan ini disusun, harga tertinggi 1 BTC mencapai Rp587 juta dalam dua pekan terakhir. Bandingkan dengan Maret 2020 yang hanya Rp76 juta. Atau ketika diciptakan pertama kali, tidak sampai Rp5 ribu, pada tahun 2009.

    Tentu BTC adalah salah satu dari sekitar 4.800 jenis MUD yang lahir setelahnya dalam sepuluh tahun terakhir. Tetapi, lebih dari separuhnya gagal berkembang (Johnson dan Green, 2019). Universitas Cambridge merilis studi yang memperlihatkan peningkatan pengguna MUD sudah mencapai 101 juta orang hingga September 2020 (2019).

    Cryptocurrency (mata uang digital/elektronik berbasis kriptografi) pada prinsipnya tidak diterbitkan oleh negara, melainkan oleh individu ataupun kelompok-kelompok termasuk perusahaan, melalui pemrograman.

    Baca Juga: Warga AS akan Dapat Stimulus, Harga Bitcoin Diprediksi …

    Bitcoin sebagai Sebuah Sistem

    Oleh perancangnya, Satoshi Nakamoto (2008), Bitcoin didefinisikan sebagai “A Peer-to-Peer Electronic Cash System”; sistem uang elektronik peer-to-peer.

    Tulis Nakamoto dalam paper-nya: Versi uang elektronik murni peer-to-peer akan memungkinkan pembayaran daring (online) dilakukan langsung dari satu pihak kepada pihak lain tanpa melalui lembaga keuangan.

    Sebagai sebuah sistem, yang dimaksud dengan Bitcoin adalah peranti lunak untuk bertransaksi objek bernilai (uang), sekaligus penerbitan bentuk uang (money) dan mata uangnya/nilai uang (currency). Wujud mata uangnya adalah digital (juga disebut Bitcoin [BTC]) dan ditransaksikan melalui Internet.

    Memanfaatkan jaringan transaksi peer-to-peer, bagi Nakamoto, guna mencegah terjadinya double spending (uang digunakan dalam beberapa kali transaksi).

    Nakamoto memang tak menyebut sistem itu dengan istilah “blockchain” dalam paper-nya itu. Istilah “block” dan “chain” ditulis terpisah didalamnya, tetapi mengandung makna serupa terhadap makna “blockchain” yang dikenal dunia saat ini.

    Istilah “block chain” (ditulis dengan spasi) kali pertama disebut oleh Hal Finney, seorang pakar kriptografi asal Amerika Serikat yang juga terlibat memberikan masukan soal “sistem Bitcoin” itu kepada Nakamoto, sebelum sistem itu diluncurkan pada awal tahun 2009.

    Disebut dengan blockchain, karena setiap kumpulan transaksi dicatatkan ke dalam block (sebuah jenis berkas/file khusus). Lantas, setiap block ditautkan/dirantai secara kronologis dan diamankan secara kriptografis (hash). Dalam konteks sistem Bitcoin, kemunculan setiap block ditetapkan rata-rata setiap 10 menit.

    Sedangkan BTC sebagai bentuk uang digitalnya, diterbitkan dalam bentuk imbalan (reward) kepada pihak yang memverifikasi dan memvalidasi transaksinya. Pihak itu disebut dengan istilah miner (penambang), menggunakan alat khusus. Alat ini lazimnya “sangat haus” energi listrik karena perlu daya yang besar.

    Jadi, setiap block terbit, miner yang berhasil memverifikasinya, berhak mendapatkan reward dalam bentuk BTC yang baru.

    Kali pertama sistem Bitcoin diluncurkan, reward yang diperoleh miner adalah 50 BTC per block. Nah, karena Bitcoin menganut faham “deflationary system”, setiap 210.000 block berlaku mekanisme Halving. Mekanisme itu memastikan reward akan berkurang sebanyak separuh.

    210.000 block itu setara dengan periode 4 tahun. Jadi setiap 4 tahun, reward yang diperoleh miner berkurang, mulai dari 50 BTC menjadi 25 BTC. Lalu 25 BTC menjadi 12,5 BTC. Saat ini, sejak Mei 2020 reward-nya (penerbitan BTC yang baru) adalah 6,25 BTC per 10 menit (rata-rata).

    Kelak pada tahun 2024 berkurang separuh lagi, yakni menjadi 3,125 dan seterusnya seperti itu, setiap 4 tahun.

    Pada akhirnya, sekitar tahun 2140 nanti, total BTC yang terakumulasi adalah 21 juta BTC. Tak ada BTC baru yang diterbitkan setelahnya. Saat ini BTC yang sudah ditambang adalah 18.602.600 BTC.

    Dengan kata lain, pasokan (supply) BTC sudah ditetapkan (diprogram) oleh sistem, yakni terbatas hanya 21 juta unit.

    Mata Uang Digital (MUD)  Baru dan Semangat Jalan Alternatif

    Jika dirunut asal muasalnya, kemunculan MUD dipicu oleh ketidakpastian atas nilai uang resmi yang diakui oleh pemerintah, tingginya inflasi, kelambanan operasi dan biaya tinggi perbankan.

    Selain itu, lembaga otoritas keuangan dianggap tidak mampu menjaga nilai tukar uang yang terus menerus terdepresiasi.

    Ratusan orang berlatar belakang disiplin filsafat, matematika, komputer sains, kriptografi dan politik bergabung dalam grup diskusi virtual-mailing list-diberi nama cypherpunk sejak tahun 1992. Mereka adalah sekelompok ahli dan aktivis multidisiplin yang gusar terhadap keadaan dan rute teknologi, ekonomi, sosial, dan politik pada era proliferasi internet jaman itu (Assange, 2016).

    Secara khusus, diskusi awal dimulai dengan kekhawatiran semakin hilangnya privacy dalam dunia digital, yang dilanjutkan dengan diskusi mendasar lainnya yang menantang kemapanan sekaligus kerentanan sistem ekonomi mainstream.

    Pertanyaan penting lainnya yang ingin dijawab adalah bagaimana epistemologi nilai dikembalikan kepada setiap individu.

    Sebagai contoh dalam bentuk operasional; bisakah bank disebut sebagai tempat penitipan aset bernilai, digantikan dan dikembalikan kepada setiap individu itu sendiri? Nah, sampai disini, jawabannya ditemukan: Bitcoin.

    Di sinilah muncul pemberontakan saintifik para cypherpunk; desentralisasi versus sentralisasi. Bank tersentralisasi di pihak ketiga bergeser ke pengertian bahwa “setiap individu adalah bank berjalan”.

    Mata uang dengan nilai tukar yang sama secara permanen versus mata uang resmi dengan nilai tukar yang terdepresiasi. Ide mengembalikan transaksi purba: barter secara adil.

    Blockchain, ekosistem yang dipakai MUD, diletakkan secara saintifik-teknologis plus semangat idealisme gerakan sosial di dalamnya.

    Idealisme otentik dalam sistem blockchain menegaskan bahwa individu harus memiliki kedaulatan atas nilai, tidak tersubordinasi dalam sistem yang eksploitatif; solidaritas (ekonomi) versus individualisme.

    Akademisi di berbagai jurnal ilmiah pun memberikan justifikasi bahwa mata uang berbasis blockchain memang layak dipercaya.

    Baca Juga: Ini Sejarah Lahirnya Logo Bitcoin

    Dari Ide ke Materi

    Kalam telah menjadi materi dan materi telah menciptakan revolusi. MUD ini menggelembung seperti tsunami raksasa lintas negara, menciptakan semacam “chaos” baru.

    Memang, uang ini tidak memposisikan restu negara sebagai prinsip. Jikapun mendapat restu, itu hanya sekadar pelengkap.

    Pada awalnya ada upaya memberangus MUD, namun upaya itu gagal di berbagai negara.

    Para penggagas awalnya memiliki impian akan suatu dunia tanpa penghisapan manusia atas manusia, dunia yang sebisanya tanpa pihak ketiga dalam bertransaksi untuk memastikan nilai yang utuh, akuntabel, rahasia, dan dapat dipercaya.

    Namun, tidak seperti impian ideal para penciptanya, uang digital ini tidak hanya digunakan oleh kelompok Generasi Z untuk bertransaksi.

    Penggunaannya meluas dan mengglobal, tidak hanya sebagai alat tukar, tetapi menjadi komoditi, hingga munculnya kembali jebakan pihak ketiga; broker jual beli mata uang kripto, layaknya jual beli mata uang resmi (valas/valuta asing).

    Tak Berdaulat atas Private Key

    Contohnya, “kode rahasia” (private key) Bitcoin yang sejatinya harus dipegang oleh masing masing pemiliknya, justru disimpan oleh pihak ketiga dengan jaminan rekognisi negara sebagai barang komoditi.

    Seperti pernak pernik terkait Che Guevara yang dikapitalisasi, demikian juga blockchain. Dalam hal ini satu produknya mata uang kripto, pun dibajak kembali oleh kapitalisme.

    Tercatat beberapa negara gagal juga mencoba MUD. Zimbabwe melegalkan MUD untuk mengatasi kehancuran mata uang dolar setempat.

    Kehancuran mata uang bolivar tahun 2018 memaksa presiden Venezuela, Nicholas Maduro untuk menciptakan MUD petro.

    Tidak hanya negara gagal, negara adikuasa seperti Rusia dan Tiongkok telah menciptakan MUD sendiri, termasuk negara tetangga kita, Singapura.

    Hingga tulisan ini dibuat, total perdagangan global uang digital telah mencapai lebih dari satu triliun dolar AS, dimana lebih dari separuhnya bertumbuh pada saat pandemi COVID-19 dimulai sejak tahun 2020.

    Hal ini dipicu krisis dan plus suntikan uang besar besaran berbagai bank sentral negara-negara di dunia ke dalam pasar (UC, 2020).

    Badan resmi PBB dan LSM internasional pun mulai melirik uang digital sebagai alat transaksi dan donasi yang sah.

    Oktober 2019, UNICEF meresmikan UNICEF Cryptocurrency Fund, unit resmi yang beroperasi menerima donasi publik, dan menyalurkan donasi ke seluruh dunia dalam bentuk uang digital.

    Save the Children, sebuah LSM internasional yang ternama, tercatat sebagai LSM pertama yang menerima dan menyalurkan uang digital sejak tahun 2013.

    Setelah itu, ribuan LSM di seluruh dunia mulai menerima dan menyalurkan donasi uang digital.

    Sebagai Komoditi di Indonesia

    Pemerintah Indonesia melalui Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) telah mengakui beberapa jenis MUD sebagai komoditi, meskipun belum menerimanya sebagai alat tukar yang sah.

    Bak jamur di musim hujan, perusahaan jual beli aset digital/aset kripto bermunculan, dan pengguna nasional meningkat tajam.

    Kapitalisasi uang digital di Indonesia pada minggu pertama Januari 2021 telah mencapai lebih dari Rp6 ribu triliun (Fiat, 2021).

    Lebih jauh, mata uang ini tidak hanya dikejar oleh perusahaan keuangan, korporasi dan hedge fund. MUD berpotensi dipakai sebagai alat transaksi ‘uang panas’ oleh para koruptor, mafia, hingga kelompok bersenjata dan teroris, karena tingkat kerahasiaannya yang nyaris sempurna (RAND, 2019).

    Alhasil, mata uang kripto ini tertelan oleh dunia kapitalisme yang gelap dan mengikuti karakter uang, pendahulunya; aset baru dengan tingkat volatilitas dan berisiko tinggi.

    Kontribusi untuk Bumi yang Lebih Baik, Mungkinkah?

    Sejauh ini, perlu digarisbawahi berjaraknya antara pikiran gerakan (keadilan sosial, ekonomi, dan politik) tentang blockchain dengan para pelaku gerakan itu di berbagai lapangan.

    Pemikirannya melesat jauh, sementara pelaku gerakan sosial terlambat jauh dan tertinggal.

    Ide blockchain semakin condong pada sektor keuangan semata. Alhasil, pelaku utama pengguna gagasan besar ini bergeser cepat dan disambar oleh pasar.

    Sebagai promosi kembali ke “khittah” ideal blockchain, sudah selayaknya pelaku gerakan sosial politik melirik penggunaan teknologi ini sebagai alat perlindungan alam.

    Penghancuran sumber daya alam khususnya hutan di Indonesia sebagai emitter tertinggi karbon penyebab perubahan iklim, terjadi karena ketidak-jelasan tenurial yang sudah berlangsung puluhan tahun.

    Penggunaan teknologi blockchain berbasis rakyat masif, dengan menciptakan aplikasi murah yang tersedia di ponsel, berpotensi melindungi hak atas sumberdaya alam dan menjaga keutuhan keanekaragamannya, termasuk menghindari potensi pencurian hak atas kekayaan hayati.

    Sebagai contoh, jika teknologi blockchain digunakan untuk tatakelola tanah berbasis rakyat di Indonesia, maka kemungkinan munculnya perijinan keliru dan tumpang tindih hak atas tanah akan bisa dihindari, dan dengan sendirinya mengurangi konflik tanah.

    Salah satu perhatian penting para pengkritik aset kripto khususnya terhadap Bitcoin adalah penggunaan listrik berskala besar yang digunakan untuk komputer canggih para penambang di berbagai belahan dunia, utamanya di Tiongkok, Amerika Serikat dan Eropa, pusat-pusat penambangan uang digital.

    Namun, penggunaan listrik para penambang virtual ini tidak apple to apple dengan tambang emas, salah satu pesaing penting uang digital.

    Tambang emas yang murni fisik sejatinya menghancurkan bentang alam dan menghasilkan limbah berskala besar, termasuk mencemari air bersih.

    Secara metaforik, satu cincin emas nikah meninggalkan 20 ton limbah terkontaminasi merkuri dan sianida.

    Dengan kehadiran Bitcoin yang kompetitif berhadapan dengan emas, ada harapan perlambatan penghancuran sumberdaya alam dan hutan.

    Tentu gerakan kolektif dan investasi teknologi diperlukan sehingga ekosistem blockchain mampu dipergunakan secara mudah dan murah oleh masyarakat utamanya petani, masyarakat adat, nelayan, dan berbagai pemangku sumberdaya alam dan hutan di Indonesia.

    Penggunaan MUD untuk menerima dan menyalurkan donasi kepada kelompok sosial rentan yang membutuhkan dukungan sosial di Indonesia, adalah salah satu alternatif yang patut dipertimbangkan, sebagaimana telah dimulai lembaga resmi dibawah Perserikatan Bangsa Bangsa dan lembaga internasional lainnya.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Bitcoin, Norma Baru untuk Generasi Z

    Sejak awal terjadinya pandemi Covid-19, Aset, Obligasi, Saham dan Mata Uang Fiat di seluruh dunia nilainya turun secara substansial. Namun, ketika krisis semakin parah, orang-orang dari berbagai generasi mulai menyadari nilai Bitcoin sebenarnya.

    Robert Kiyosaki, penulis buku terlaris internasional “Rich Dad Poor Dad” mempromosikan Bitcoin selama dua hari berturut-turut dalam twitter pribadinya.

    Ia menyebut Bitcoin sebagai “Uang Rakyat” dan menyatakan bahwa orang-orang harus sudah memulai untuk menyimpan emas sebagai “God’s Money”dan Bitcoin sebagai “Uang Rakyat” karena nilai Dollar AS yang terus menurun seiring kebijakan pencetakan uang kertas yang merajalela.

    Kicauan itu menyebar dan menjadi viral di kalangan komunitas crypto. Banyak yang berterima kasih kepada Robert karena telah meningkatkan kesadaran tentang nilai dari Bitcoin tersebut.

    Cuitan ini juga berhasil menunjukan bagaimana generasi-generasi merespons krisis saat ini.

    Salah satu orang membalas cuitan tersebut dengan

    “Secara sederhana, silahkan lakukan hal berdasar pada standar ‘emas’ Anda sendiri. Buat presentase berdasarkan simpanan Anda dalam emas. Jika Anda termasuk generasi Z atau Y atau lebih muda dari generasi X, lakukan hal tersebut untuk rencana hari tua Anda.”

    Baca juga: Generasi Milenial, Generasi Investor Bitcoin

    Bitcoin adalah Norma Baru

    Sylvain Saurel, editor In Bitcoin We Trust, setuju bahwa generasi Y dan Z adalah generasi yang paling mungkin memiliki pendapat positif tentang Bitcoin. Dalam salah satu postingan blognya untuk The Startup dijelaskan bahwa generasi milenial merasakan arti “kebebasan” yang mendalam terhadap Bitcoin.

    Sylvain percaya bahwa generasi Z akan cenderung melihat pembayaran yang dilakukan melalui smartphone sebagai norma, dan akan menggunakan Bitcoin bahkan tanpa memikirkannya. Dia menulis

    “Mereka yang penasaran untuk mengetahui seperti apa sistem moneter dan keuangan saat ini pasti akan terkejut. Mereka akan bertanya-tanya bagaimana generasi sebelumnya dapat menerima kenyataan bahwa beberapa orang secara sistematis dapat menurunkan suatu nilai dari apa yang dimiliki mayoritas orang.”

    Sumber



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Aset Kripto adalah Investasi Paling Umum Bagi Gen Z

    Aset kripto, termasuk Bitcoin (BTC) dan Ethereum (ETH), adalah investasi paling umum yang dipegang oleh investor Gen Z, menurut sebuah studi bersama CFA Institute dan Financial Industry Regulatory Authority’s Investor Education Foundation. Ini menjadi sebuah tren yang kemungkinan didorong oleh kelompok yang tumbuh bersamaan dengan perubahan teknologi, media sosial, dan akses investasi yang lebih mudah.

    Dalam laporan riset tersebut, 55 persen investor Gen Z saat ini berinvestasi di kripto. Gen Z adalah kelompok yang lahir pada akhir 1990-an hingga abad ke-21, yang berarti anggota tertuanya berusia pertengahan 20-an, dan laporan tersebut didasarkan pada survei online terhadap orang-orang di Amerika Serikat yang berusia 18-25 tahun.

    Investasi saham menempati peringkat kedua, dipegang oleh 41 persen dari investor ini, diikuti oleh reksa dana (35 persen), non-fungible tokens (NFT) (25 persen) dan Exchange Traded Funds (23 persen), kata laporan itu.

    Investor Kripto

    Ilustrasi investasi aset kripto.
    Ilustrasi investasi aset kripto.

    Baca juga: Pasar Kripto dan Bitcoin Mulai Bangkit, namun Belum Optimal

    Sebagai perbandingan, reksa dana adalah kepemilikan paling umum di antara investor Gen X, kelompok yang lahir antara tahun 1965 dan 1980. 47 persen memegang reksa dana, diikuti oleh saham individu (43 persen) dan kripto (39 persen).

    Dikutip CNBC, konsentrasi Gen Z yang relatif tinggi dalam aset kripto — contohnya termasuk Bitcoin dan Ethereum — dan saham individu “dapat menimbulkan kekhawatiran” jika investor tidak mempertimbangkan dan mengelola risiko secara memadai, kata Gerri Walsh, Presiden Financial Industry Regulatory Authority’s Investor Education Foundation.

    “Sedangkan reksa dana dan sebagian besar ETF biasanya menawarkan tingkat diversifikasi, hal yang sama tidak berlaku saat membeli mata uang kripto dan saham individu,” kata Walsh.

    Gen Z adalah generasi pertama yang tumbuh di era teknologi dan media sosial, mengonsumsi informasi termasuk saran investasi dari platform seperti TikTok dan Instagram, kata Ted Jenkin, perencana keuangan bersertifikat yang berbasis di Atlanta.

    Diversifikasi

    Ilustrasi aset kripto.
    Ilustrasi aset kripto.

    Baca juga: Investor Kripto Indonesia Terus Tumbuh Capai 17,25 Juta pada April 2023

    Antusiasme mereka terhadap aset kripto juga bertepatan dengan pertumbuhan aplikasi investasi yang memungkinkan pengguna membeli dengan jumlah uang yang relatif kecil dan karenanya dapat menawarkan lebih banyak akses investasi kepada mereka yang memiliki lebih sedikit uang tunai.

    Gen Z juga umumnya menyaksikan kebangkitan raksasa teknologi seperti Alphabet, Apple, dan Meta dan memiliki tingkat kepercayaan yang tinggi terhadap pertumbuhan teknologi dan ekonomi digital yang berkelanjutan, kata Jenkin, pendiri oXYGen Financial dan anggota Dewan Penasihat CNBC.

    Laporan bersama Finra-CFA Institute tidak menentukan bagian rata-rata portofolio investor Gen Z yang dialokasikan ke aset digital. Kripto umumnya harus hanya 1 persen hingga 3 persen dari portofolio investor, kata Jenkin.

    Investor juga harus mempertimbangkannya sebagai investasi jangka panjang yang dimaksudkan untuk dimiliki setidaknya selama 10 tahun, sarannya.

    Investor Gen Z di AS memandang diri mereka sebagai pengambil risiko. Memang, 46 persen mengatakan mereka bersedia mengambil risiko keuangan yang besar atau di atas rata-rata, menurut laporan bersama Finra-CFA Institute. Dan bagian yang sama (50 persen) mengatakan bahwa mereka telah melakukan investasi karena takut ketinggalan atau FOMO, yang “mungkin tidak selalu memerlukan penilaian risiko yang cermat,” kata Walsh.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Gen Z Jepang Ternyata Paling Takut Crypto, Ini Alasannya

    Generasi Z di Jepang menjadi kelompok paling waspada terhadap risiko penipuan kripto dibandingkan generasi lainnya. Hal ini terungkap dalam survei terbaru yang menunjukkan adanya perbedaan signifikan dalam cara tiap generasi memandang aset digital.

    Gen Z Fokus pada Ancaman Penipuan di Media Sosial

    Dikutip BeInCrypto, survei yang dilakukan oleh perusahaan konsultan Clabo pada Februari 2026 terhadap 1.486 responden menunjukkan bahwa Gen Z paling khawatir terhadap penipuan kripto, terutama yang berasal dari media sosial.

    Berbeda dengan generasi yang lebih tua, Gen Z lebih sering terpapar promosi palsu, giveaway fiktif, hingga skema penipuan yang tersebar di platform digital yang mereka gunakan sehari-hari.

    Generasi Tua Justru Bingung Cara Kerja Kripto

    Secara keseluruhan, alasan utama responden menganggap kripto mencurigakan adalah karena tidak memahami cara kerjanya (23,3%). Disusul oleh volatilitas harga (21,1%) dan risiko penipuan (19,2%).

    Namun, kelompok generasi yang lebih tua, termasuk generasi “bubble economy” Jepang, lebih mengkhawatirkan kompleksitas teknologi blockchain dibanding risiko penipuan.

    Baca juga: Jepang Ancam Penjara 10 Tahun bagi Pelaku Kripto Ilegal

    Minat Investasi Masih Rendah

    Survei juga menunjukkan bahwa adopsi kripto di Jepang masih tergolong rendah. Sebanyak 50% responden mengaku belum pernah berinvestasi di kripto.

    Hanya 33,7% yang saat ini memiliki aset digital, sementara 15,7% lainnya pernah berinvestasi namun sudah keluar dari pasar.

    Menariknya, kelompok milenial tercatat sebagai generasi dengan tingkat investasi kripto tertinggi sekaligus paling aktif dalam mencari informasi.

    YouTube Jadi Sumber Utama Keputusan Investasi

    Dalam hal sumber informasi, situs berita masih menjadi rujukan utama (38,4%), diikuti media sosial (36,7%) dan YouTube (31,6%).

    Namun, untuk pengambilan keputusan investasi, YouTube justru menempati posisi pertama dengan 27%, mengungguli platform lainnya. Hal ini menunjukkan peran besar konten video dalam memengaruhi keputusan investor ritel.

    Tim Research Tokocrypto menilai bahwa perbedaan persepsi antar generasi ini mencerminkan tantangan utama dalam adopsi kripto. “Gen Z cenderung lebih digital-native sehingga lebih cepat mengenali pola penipuan, sementara generasi yang lebih tua masih menghadapi hambatan dari sisi pemahaman teknologi,” jelas tim.

    Mereka juga menambahkan bahwa rendahnya tingkat partisipasi menunjukkan adanya gap literasi yang signifikan. “Edukasi yang lebih sederhana dan relevan dengan masing-masing generasi menjadi kunci untuk meningkatkan kepercayaan dan adopsi kripto di pasar seperti Jepang,” tambahnya.

    Hasil survei ini menunjukkan bahwa tantangan industri kripto tidak hanya soal volatilitas, tetapi juga soal kepercayaan dan literasi. Tanpa pendekatan edukasi yang tepat, adopsi kripto berpotensi berjalan lebih lambat di berbagai kelompok masyarakat.

    Baca juga: 8,4 Juta WLFI Gratis! Begini Cara Mendapatkannya Lewat Program USD1


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli

    Tokocrypto Berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • 90% Kredit Macet Datang dari Anak Muda


    Jakarta

    Jumlah outstanding peer to peer (P2P) lending atau utang pinjaman online (pinjol) perseorangan di Indonesia tercatat sudah mencapai Rp 75,44 triliun Per Maret 2025 ini. Dari jumlah ini, total outstanding kredit macet sebesar Rp 1,65 triliun.

    Berdasarkan Statistik Layanan Pendanaan Bersama Berbasis Teknologi Informasi (LPBBTI) OJK, mayoritas peminjam hingga akhir triwulan tahun ini masih didominasi oleh mereka yang berusia 19-34 tahun alias kalangan milenial dan generasi Z (gen Z).

    Dalam data tersebut OJK membagi para peminjam berdasarkan empat kelompok usia yakni mereka yang di bawah 19 tahun, kelompok usia 19-34 tahun, kelompok usia 35-54 tahun, dan mereka yang berusia lebih dari 54 tahun.


    Dalam hal ini, total utang pinjol kelompok usia 19-34 tahun (milenial dan Gen z) mencapai Rp 37,87 triliun dengan jumlah rekening penerima sebanyak 14.001.344 entitas. Sayang selain menjadi kelompok peminjam terbesar, dua generasi ini juga tercatat sebagai penyumbang gagal bayar (galbay) terbesar.

    Kondisi ini terlihat dari jumlah kredit macet lebih dari 90 hari (TWP90) perseorangan kelompok usia 19-34 tahun yang sebesar Rp 794,41 miliar dengan jumlah rekening penerima sebanyak 467.865 entitas. Angka ini setara 2,09% dari total pinjaman yang diambil Generasi Milenial dan Z.

    Selain itu generasi milenial (kelahiran 1981-1996) yang kini ditaksir berusia hingga 45 tahun juga tergabung dalam kelompok usia 35-54 tahun bersama Generasi X. Di mana kelompok usia ini memiliki total utang pinjol per Maret 2025 sebesar Rp 33,92 triliun.

    Sedangkan untuk outstanding kredit macet kelompok usia 35-54 tahun ini berada di Rp 725,26 miliar dengan jumlah rekening penerima sebanyak 264.794 entitas. Angka ini setara 2,13% dari total pinjaman yang diambil oleh masyarakat milenial dan Generasi X.

    Jika ditotal, gagal bayar atau galbay kedua kelompok usia ini (19-34 dan 35-54 tahun) ini mencapai Rp 1,51 triliun. Jumlah ini setara dengan 91,92% dari seluruh kredit macet pinjol per Maret 2025. Sehingga tak berlebihan jika mayoritas galbay utang pinjol paling banyak dilakukan oleh mereka kelompok milenial dan gen Z, ditambah mereka dari generasi X.

    Simak juga Video: Kurangi Risiko Galbay, Score Credit Masuk ke Slip Gaji?

    (igo/fdl)

    Sumber : finance.detik.com

    Alhamdulillah Haji Allohumma Sholli Ala Rosulillah Muhammad Ekonomi Bisnis uang dolar
    ilustrasi sumber : unsplash.com / adam nir
  • Banyak Gen Z Terjerat Pinjol, Kok Bisa?


    Jakarta

    Generasi Z atau gen Z menjadi kalangan yang paling banyak terjerat pinjaman online (pinjol). Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyampaikan fenomena tersebut terjadi lantaran gaya hidup yang tidak bijak.

    Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, dan Perlindungan Konsumen OJK Friderica Widyasari Dewi mengatakan banyak mahasiswa terjebak pinjol karena gaya hidupnya. Berdasarkan data OJK, pertumbuhan rekening pinjol yang berusia 19-34 tahun mengalami kenaikan, dari sebelumnya 7,7 juta rekening per Februari 2024 menjadi 8 juta rekening pada April 2024.

    Jika dilihat dari sisi oustanding pinjaman atau pinjaman yang belum dilunasi juga mengalami kenaikan. Pada periode waktu yang sama, volume oustanding naik dari Rp 25,6 miliar menjadi Rp 26,1 miliar.


    “Mahasiswa banyak terjerat dengan pinjol. Itu karena apa karena lifestyle ya gaya hidup jadi harus bijaksana,” kata Kiki, dikutip dari akun Instagram @ojkindonesia, Jumat (26/7/2024).

    Dia menjelaskan tidak semuanya pinjol ilegal, ada juga yang legal dan diawasi oleh OJK. Meski begitu, Kiki menekankan pentingnya literasi keuangan kepada generasi muda. Menurutnya, literasi keuangan dapat memberikan perlindungan sehingga dapat terhindar dari jebakan-jebakan keuangan ilegal.

    Selain itu, literasi keuangan juga dapat memberikan wawasan terkait penggunaan produk keuangan yang tepat guna, termasuk pinjol. Dengan begitu, produk-produk keuangan itu dapat digunakan dengan tujuan meningkatkan kesehatan keuangan masyarakat.

    “Ketika kita well literate kita tidak akan masuk kepada jebakan-jebakan investasi ilegal, kita tidak akan menggunakan produk-produk keuangan di luar kemampuan kita. Pada intinya seluruh produk jasa keuangan dimaksudkan untuk meningkatkan kesehatan kita jadi kalau yang terjadi sebaliknya Berarti ada yang keliru dengan itu,” jelasnya.

    Sebelumnya, perempuan yang karib dipanggil Kiki juga mengatakan pengguna pinjaman online (pinjol) ilegal didominasi kalangan muda. Adapun rentang usia pengguna pinjol ilegal dari 26 tahun sampai 35 tahun. Data tersebut didapatkan dari data yang dimiliki Oleh Satgas Pemberantasan Aktivitas Keuangan Ilegal (Satgas PASTI).

    “Pengaduan terkait pinjol ilegal periode 1 Januari hingga 30 Juni 2024 didominasi oleh rentang usia 26-35 tahun,” ujarnya dalam keterangan, dikutip Rabu (10/7/2024).

    Berdasarkan data dari Kementerian Komunikasi dan Informatika, Kiki menyebut sebagian besar pelaku pinjol ilegal menggunakan server di luar negeri. Hal tersebut dapat diketahui lantaran adanya kemiripan nama pinjol ilegal yang telah diblokir. Dalam waktu singkat, pinjol ilegal yang telah diblokir tersebut muncul kembali dengan identitas yang hanya sedikit mengalami perubahan, seperti penambahan huruf, tanda baca, maupun angka.

    Dengan begitu, Kiki menilai indikasi tersebut menunjukan kecenderungan pelaku melakukan kegiatan di luar wilayah Indonesia. Selain itu, pelaku juga lebih menggunakan rekening di luar negeri sehingga menghindari jangkauan otoritas di wilayah Indonesia.

    (ara/ara)



    Sumber : finance.detik.com

  • Terungkap Biang Kerok Gen Z Terjerat Pinjol & Judi Online


    Jakarta

    Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengungkap anak-anak generasi muda seperti generasi Z masih banyak terjerat pinjaman online dan judi online. Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, dan Pelindungan Konsumen Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Frederica Widyasari Dewi mengatakan salah satu penyebabnya adalah masih rendahnya literasi keuangan generasi tersebut.

    “Tadi usia 15 sampai 17 tahun itu rentan, tingkat literasinya rendah inklusinya rendah. Itu banyak sekali menjadi korban pinjol, anak anak juga masuk ke judi online. Yang formal paylater, produk itu formal, benar, penggunaannya mereka tidak well literate, akhirnya anak-anak muda terjerat utang yang sangat menyusahkan masa depan mereka,” ungkap wanita yang akrab disapa Kiki dalam konferensi pers di kantor BPS, Jakarta Pusat, Jumat (2/8/2024).

    Selain itu, generasi Z yang literasi keuangannya rendah ini disebut sering kali menempuh jalan pendek untuk memenuhi gaya hidupnya. Kiki mencontohkan bahwa ada kasus anak muda yang kini nekat membuka pinjaman online hanya untuk nongkrong.


    “Mislanya mereka butuh sesuatu untuk memenuhi FOMO dan YOLO, tetapi mereka nggak financially literate. Ini bahaya. Saya dapat info, anak-anak mudah ini yang terjerat pinjol dan kemudian beranak (utangnya), itu karena ketika dia makan di cafe dengan gaya hidupnya, tiba-tiba tahu nggak cukup uangnya. Dengan jempol yang cepat pinjam online yang cair dalam waktu 15 menit. Itu ternyata menggulung (utangnya) dan terjerat dalam utang,” ungkap Kiki.

    Kiki pun mewanti-wanti agar anak muda jangan sembarangan menggunakan pinjaman online dan judi online karena dampaknya kepada masa depan. OJK sendiri telah memasukan catatan pinjaman online ke Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK).

    “Anak-anak muda ini harus kita bimbing. OJK akan memasukkan data termasuk data data pinjol ke SLIK, semua akan masuk dan akan terhubung. Kalau tidak perform akan ter-capture, dan akan membahayakan dalam mereka daftar kerja atau melakukan hal hal lain,” tuturnya.

    Sebagai informasi, OJK dengan Badan Pusat Statistik (BPS) mengeluarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) untuk mengukur indeks literasi dan inklusi keuangan penduduk Indonesia sebagai landasan program peningkatan literasi dan inklusi keuangan ke depan.

    Hasil SNLIK tahun 2024 menunjukkan indeks literasi keuangan penduduk Indonesia sebesar 65,43%, sementara indeks inklusi keuangan sebesar 75,02%.

    SNLIK tahun 2024 juga mengukur tingkat literasi dan inklusi keuangan syariah. Hasil yang diperoleh menunjukkan indeks literasi keuangan syariah penduduk Indonesia sebesar 39,11%. Adapun, indeks inklusi keuangan syariah sebesar 12,88%.

    Berdasarkan umur, kelompok 15-17 tahun dan 51-79 tahun memiliki indeks literasi keuangan terendah, yakni masing-masing sebesar 51,70% dan 52,51%. Sementara indeks inklusi keuangan terendah, yakni masing-masing sebesar 57,96% dan 63,53%.

    Kelompok usia 26-35 tahun, 36-50 tahun, dan 18-25 tahun memiliki indeks literasi keuangan tertinggi, yakni masing-masing sebesar 74,82%, 71,72%, dan 70,19% .

    Selanjutnya, kelompok umur 26-35 tahun, 36-50 tahun, dan 18-25 tahun memiliki indeks inklusi keuangan tertinggi, yakni masing-masing sebesar 84,28%, 81,51%, dan 79,21%.

    (ada/kil)



    Sumber : finance.detik.com

  • Milenial dan Gen Z Paling Banyak Tunggak Utang Pinjol, Ini Datanya


    Jakarta

    Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengungkap kelompok usia 19-34 tahun mendominasi menggunakan Layanan Pendanaan Bersama Berbasis Teknologi Informasi (LPBBTI) atau Peer-to-Peer Lending (P2P Lending/Pinjaman Online). Generasi itu pula yang paling banyak mengalami kredit macet atau menunggak.

    Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro, dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya (KE PVML) Agusman mengungkap outstanding pembiayaan terbesar berada pada kelompok 19-34 tahun dengan porsi 51,52% dari total outstanding pinjaman perorangan.

    “Adapun pembiayaan bermasalah didominasi oleh kalangan usia 19-34 tahun dengan porsi 53,48%,” kata Agusman dalam keterangannya, dikutip Sabtu (11/1/2025).


    Kelompok usia 19-34 tahun itu diketahui masuk dalam generasi milenial dan generasi Z. Dalam catatan detikcom, generasi milenial lahir dari tahun 1981-1996, saat ini berusia 29-44 tahun; Gen Z dari tahun 1997-2012, saat ini berusia 13-28 tahun.

    Lebih lanjut, OJK mengungkapkan pada periode November 2024 total utang pinjol tumbuh 27,32% yoy menjadi Rp 75,60 triliun. Angka ini naik dari catatan bulan sebelumnya yakni Rp 72,03 triliun per Agustus 2024.

    “Berdasarkan gender borrower, outstanding pembiayaan kepada gender perempuan mencapai 54,34% dari total outstanding pembiayaan perorangan,” lanjut Agusman.

    Terkait usia yang diperbolehkan menggunakan pinjol telah diatur oleh OJK. Aturan baru bagi pengguna financial technology peer to peer (fintech P2P) lending. Syarat tersebut tertuang dalam Surat Edaran OJK Nomor 19/SEOJK.05/2023 tentang Penyelenggaraan Layanan Pendanaan Bersama Berbasis Teknologi Informasi (SEOJK 19/2023). Penerapan aturan baru ini untuk meningkatkan kualitas pendanaan dari Lembaga Pembiayaan Bersama Berbasis Teknologi Informasi (LPBBTI).

    “Batas usia minimum pemberi dana (lender) dan penerima dana (borrower) adalah 18 tahun atau telah menikah dan penghasilan minimum penerima dana LPBBTI adalah Rp 3.000.000 per bulan,” tulis OJK dalam keterangan resminya.

    (ada/ara)



    Sumber : finance.detik.com

  • Separuh Gen Z Amerika Pengin Kripto Jadi Hadiah Natal


    Jakarta

    Generasi Z Amerika memasukkan kripto ke dalam daftar hadiah Libur Natal. Hal ini terjadi di tengah kondisi harga Bitcoin yang baru-baru ini mengalami penurunan harga cukup dalam.

    Berdasarkan survei dari Visa and Morning Consult pada Oktober, sebanyak 45% dari Generasi Z (Gen Z) menyatakan akan sangat gembira jika menerima kripto sebagai hadiah. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan 28% dari total populasi orang dewasa yang disurvei.

    “Lebih dari satu dari empat orang dewasa AS, dan hampir setengah dari orang dewasa Gen Z, mengatakan mereka akan senang menerima mata uang kripto sebagai hadiah,” tulis hasil hasil survei tersebut, dikutip dari Reuters, Senin (8/12/2025).


    Tercatat, total ada sebanyak 34% generasi milenial yang senang menerima kripto sebagai hadiah liburannya, lalu Gen X ada sebanyak 24%, dan generasi baby boomers ada sebanyak 17%.

    Minat ini menjadi sorotan karena pasar kripto sendiri belum lama ini mengalami koreksi besar-besaran. Harga Bitcoin telah turun 20% sejak survei berakhir pada 16 Oktober.

    Meski begitu, tekanan tersebut mulai mereda. Setelah tekanan jual yang terjadi pada Senin dan ikut menekan saham-saham terkait aset kripto, harga Bitcoin mulai kembali menguat pada pekan ini.

    Bagi sebagian anak muda Amerika yang melihat peluang untuk membeli aset saat harganya terkoreksi, penurunan ini justru membuat kripto semakin menarik untuk dijadikan pilihan investasi.

    Tonton juga Video: Ngetes Gen Z Lagu-lagu Kartun Minggu Pagi, Tahu Gak Nih?

    (kil/kil)



    Sumber : finance.detik.com

  • Gen Z-Milenial Simak! Ini Tips Biar Gaji Kamu Nggak Numpang Lewat


    Jakarta

    Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyampaikan banyak generasi Z dan milenial yang hidup dari paycheck to paycheck alias gaji hanya numpang lewat. OJK menyebut milenial hingga gen Z hidup tanpa cadangan uang dan menjadi sandwich generation yang masih ngurus orang tua, adik, atau keponakan.

    Di tengah krisis ekonomi, PHK, dan kesehatan mental yang makin rentan, OJK menyebut punya dana darurat itu bentuk self-care yang paling nyata. Dana darurat ini berbeda dengan tabungan biasa.

    Dana darurat merupakan uang yang disiapkan khusus untuk menghadapi situasi yang tidak terduga dan tidak bisa ditunda. Tabungan biasa punya tujuan jelas, seperti liburan, gadget, atau DP rumah.


    “Misalnya, motor tiba-tiba mogok, laptop rusak padahal lagi banyak kerjaan. Orang tua sakit dan butuh biaya atau terkena PHK,” tulis OJK dilansir dari unggahan akun Instagram @sikapiuangmu, dikutip Minggu (27/7/2025).

    Dana darurat mempunyai beberapa karakteristik. Pertama, likuid atau mudah dicairkan kapan saja. Kedua, aman atau tidak disimpan di instrumen keuangan berisiko tinggi (bukan saham ataupun bukan kripto).

    Ketiga, terpisah dari rekening utama agar tidak mudah terpakai. Keempat, tidak perlu diutak-atik, kecuali untuk kondisi benar-benar darurat.

    Lantas berapa banyak dana darurat yang ideal? OJK telah memberikan tips jumlah dana darurat ideal berdasarkan status finansial. Pertama, status finansial single dengan penghasilan tetap. Menurut OJK, jumlah dana darurat idealnya tiga hingga enam bulan pengeluaran.

    Bagi status finansialnya yang mempunyai tanggungan, seperti orang tua dan anak, maka jumlah dana darurat idealnya enam hingga dua belas bulan pengeluaran. Apabila freelancer atau pekerja lepas, minimal jumlah dana daruratnya enam bulan dari pengeluaran. Untuk mahasiswa/anak kos, jumlah dana daruratnya satu hingga tiga bulan pengeluaran dasar.

    “Sobat tinggal di Jakarta, pengeluaran bulanan Rp 4 juta (kos, makan, transport), maka dana darurat minimal= 3 bulan x Rp 4 juta= Rp 12 juta,” tulis OJK.

    (kil/kil)

    Sumber : finance.detik.com

    Alhamdulillah kaya raya uang اللهم صل على رسول الله محمد
    Image : unsplash.com / towfiqu barbhuiya