Jalan tengah kota diKepulauan Virgin Britania Raya, 4 Maret 2020, 09:00 UTC – Tether Gold (XAU ₮), aset digital yang memberikan dampak terhadap emas fisik (XAU), telah memiliki penyerapan yang besar dalam permintaan untuk menjadi emas terbesar – didukung token di tengah gejolak pasar keuangan global.
XAU ₮, yang sekarang memiliki kapitalisasi pasar lebih dari $ 21 juta, telah melampaui saingan terdekatnya PAX Gold, memberikan investor cara termudah untuk memiliki dan memperdagangkan emas fisik berkualitas tertinggi dalam ekosistem aset digital yang sedang tumbuh.
“Tether Gold telah memiliki awal yang sangat hebat,”
kata Paolo Ardoino, CTO di Tether.
“Tapi saya percaya bahwa ini tidak ada artinya dibandingkan dengan potensi aset baru ini, terutama dalam konteks peningkatan minat investor dalam diversifikasi risiko dan keamanan modal terhadap ketidakpastian politik. Tether Gold menawarkan diversifikasi dalam hal risiko dan volatilitas dan saya berharap untuk mencapai kapitalisasi pasar setidaknya $ 100 juta. “
Awal pekan ini, Dow Jones Industrial Average melonjak lebih dari 1.200 poin, atau 5 persen, di tengah harapan bahwa bank sentral akan mengambil tindakan untuk melindungi ekonomi global dari dampak wabah koronavirus. Sementara itu, harga spot emas telah meningkat sekitar 24 persen selama setahun terakhir menjadi $ 1.603 per ounce, di tengah meningkatnya minat investor untuk memiliki aset.
Mengenal Lebih Jauh Tentang Tether Gold
XAU ₮ adalah aset digital yang ditawarkan oleh TG Commodities Limited. Satu token XAU ₮ mewakili satu troy ons emas di London Good Delivery.
Pemegang XAU ₮ mendapatkan manfaat gabungan dari aset fisik dan digital. Pemegang token XAU ₮ akan dapat menikmati kepemilikan emas sambil menghindari efek negatif yang mungkin adalah dampak dari emas fisik, seperti biaya penyimpanan yang tinggi dan aksesibilitas yang terbatas.
Saat ini, Tether Gold (XAU ₮) adalah satu-satunya produk di antara pesaing yang menawarkan biaya tanpa penyimpanan dan memiliki kendali langsung atas penyimpanan emas fisik, yang disimpan dengan aman di brankas Swiss, mengadopsi tindakan keamanan dan anti-ancaman terbaik di kelasnya.
Tether perusahaan kripto yang menerbitkan stablecoin seperti USDT yang dipatok ke USD dan XAUt yang dipatok ke emas, menurut data dari bank investasi Jefferies Tether membeli 26 ton emas di Q3, lebih banyak dibandingkan bank sentral negara mana pun pada periode yang sama.
Apa itu Tether dan Kenapa Membeli Begitu Banyak Emas?
Didirikan pada 2014, Tether Limited adalah perusahaan kripto terkemuka yang menerbitkan stablecoin populer USDT, stablecoin yang dirancang untuk mempertahankan rasio 1:1 dengan dolar AS, menyediakan likuiditas dalam perdagangan kripto. Sekarang, kapitalisasi pasar USDT telah melebihi $184 miliar.
Tether sering mendapat sorotan atas transparansi cadangannya. Sehingga, sebagai respons, perusahaan mendiversifikasi asetnya di luar uang tunai dan obligasi pemerintah, termasuk Bitcoin dan, yang paling menonjol, sekarang adalah emas fisik. Pergeseran ini mulai meningkat sekitar 2021, seiring dengan ledakan aset tokenisasi.
Dikutip Yahoo Finance, per bulan September 2025, cadangan emas Tether mencapai 116 ton. Cadangan ini bernilai sekitar $13 miliar, mencakup sekitar 104 ton yang mendukung USDT dan 12 ton yang mendukung XAUt, produk emas tokenisasi Tether.
Ditengah harga emas yang tengah terus naik, Tether sibuk memborong emas sebagai bagian dari cadangan stablecoin yang dimilikinya. Pembelian 26 ton emas oleh Tether pada Q3 bahkan lebih besar daripada pembelian emas yang dilakukan oleh banyak negara.
Grafik pembelian emas Tether Q3 vs central bank. Sumber: Jefferies via Reuters
Sebagai konteks, Kazakhstan membeli 18 ton, Brasil 15 ton, Turki 7 ton, dan Irak 6 ton selama periode yang sama. Menurut bank investasi Jefferies, Tether menyumbang sekitar 12% dari pembelian emas bank sentral yang diketahui pada kuartal itu dan 14% pada Q2.
Ini menjadikan Tether bukan hanya pembeli, tetapi pemegang independen emas fisik yang dominan, setara dengan cadangan nasional Korea Selatan (sekitar 104 ton, menurut beberapa estimasi), Hungaria, dan Yunani.
Despite it being a stablecoin issuer, in which one would expect it to be only buying U.S. Treasury bills, Tether has been a voracious buyer of gold recently.
Based on its 116 tonnes of gold, Tether is now the largest holder of gold outside of central banks. pic.twitter.com/5KiKAnwJIS
Namun, berbeda dengan entitas berdaulat yang menimbun emas untuk stabilitas moneter, pembelian Tether didorong oleh permintaan komersial, seperti sirkulasi USDT yang terus melonjak (dari $174 miliar menjadi $184 miliar pada Q3), minat yang tumbuh terhadap XAUt di tengah volatilitas ekonomi, dan adopsi kripto yang semakin meluas.
Alasan di Balik Tether Memborong Emas
Data cadangan aset Tether per September 2025. Sumber: Tether Financial Report and Reserve Report
Faktor seperti dominasi fiskal, utang publik yang meningkat, kebijakan moneter longgar, dan terkikisnya kepercayaan terhadap mata uang fiat. Investor, yang waspada terhadap inflasi dan ketegangan geopolitik, membuat banyak entitas berbondong-bondong membeli aset safe-haven seperti emas.
Tidak ketinggalan, Tether juga semakin giat mengintegrasikan emas ke dalam cadangannya, yang kini mencakup sekitar 7% dari total asetnya (sekitar $13 miliar).
S&P Global diam-diam menurunkan penilaian stablecoin Tether dari “constrained” menjadi “weak”, yang merupakan rating terendahnya. Penurunan ini disebabkan oleh cadangan aset berisiko yang dimiliki Tether terus meningkat, seperti Bitcoin sebesar 5,6%, emas, pinjaman terjamin, dan kredit korporasi.
to S&P regarding your Tether rating:
We wear your loathing with pride.
The classical rating models built for legacy financial institutions, historically led private and institutional investors to invest their wealth into companies that despite being attributed investment grade…
CEO Tether, Paolo Ardoino, membalas dengan menolak kritik keuangan tradisional dan menekankan ketahanan perusahaan. Paolo juga menganggap bahwa bank-bank lama telah melihat Tether sebagai pengganggu.
Di sisi lain regulasi baru GENIUS Act Amerika Serikat yang disahkan pada 2025 mewajibkan stablecoin yang diizinkan untuk didasarkan 1:1 dengan cadangan aset likuid seperti dolar AS atau surat utang AS jangka pendek, bukan aset volatil atau sulit dicairkan seperti emas dan Bitcoin.
Tether merespons dengan meluncurkan USAT, token yang sesuai GENIUS tanpa emas, dan memungkinkan USDT tetap beroperasi di luar regulasi AS yang ketat.
DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli
Tokocrypto berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.
Sumber: Reuters: Has gold been Tethered? Diakses 2 Desember 2025
Tether: Financial Report and Reserve Report. Diakses 2 Desember 2025
Yahoo! Finance: Tether Bought 26 Tonnes of Gold in Q3 — Reserves Now Rival Central Banks. Diakses 2 Desember 2025
Perusahaan penerbit stablecoin terbesar di dunia, Tether, resmi mengumumkan investasi senilai $150 juta atau sekitar Rp2,4 triliun ke perusahaan logam mulia Gold.com. Langkah ini menjadi strategi besar Tether untuk memperluas akses emas fisik ke ekosistem aset digital di tengah lonjakan minat terhadap stablecoin berbasis emas.
Dari investasi tersebut, Tether memperoleh sekitar 12% saham di Gold.com. Investasi ini juga memperkuat fokus jangka panjang Tether dalam mengembangkan sektor real-world assets (RWA) atau aset nyata yang dihubungkan ke teknologi blockchain.
Investasi Dilakukan Dua Tahap, Tether Bisa Duduk di Dewan Direksi
Dalam kesepakatan tersebut, investasi Tether akan dilakukan dalam dua tahap. Tahap pertama, Tether membeli saham Gold.com senilai $125 juta, kemudian dilanjutkan dengan tambahan $25 juta yang masih menunggu persetujuan regulator.
Tidak hanya itu, Tether juga mendapatkan hak untuk menunjuk satu anggota dewan direksi, sehingga memiliki pengaruh dalam arah strategi bisnis Gold.com ke depan.
Tether Gold (XAU₮ Akan Terintegrasi Lebih Dalam
🔥 NOW: Tether invests $150M in Gold. com, acquiring 12% stake to integrate its gold-backed stablecoin XAU₮, and expand access to tokenized and physical gold. pic.twitter.com/fleDwb2C0H
Dilaporkan Coinpedia, salah satu fokus utama kerja sama ini adalah integrasi lebih dalam antara Tether Gold (XAU₮) dengan platform Gold.com.
XAU₮ merupakan token digital berbasis emas, di mana setiap 1 token didukung 1:1 oleh emas fisik yang disimpan dalam brankas dengan keamanan tinggi. Melalui kolaborasi ini, pengguna nantinya berpeluang membeli emas fisik menggunakan aset digital seperti USDT maupun XAU₮.
Dengan menggabungkan kekuatan jaringan stablecoin Tether dan operasi bullion Gold.com, kedua perusahaan menargetkan terciptanya platform yang menjembatani pasar emas tradisional dengan pembayaran berbasis kripto.
Harga Emas Pecah Rekor, Stablecoin Berbasis Emas Ikut Meledak
Kerja sama ini muncul di saat harga emas sedang mengalami reli besar. Harga emas dilaporkan mencapai rekor tertinggi hingga menembus $5.000 per ounce, yang ikut mendorong kenaikan permintaan aset digital berbasis emas.
Dalam satu tahun terakhir, nilai pasar aset digital berbasis emas melonjak dari $1,3 miliar menjadi $5,5 miliar. Tether Gold saat ini memimpin sektor tersebut dengan menguasai lebih dari setengah total kapitalisasi pasar.
Tether juga disebut memiliki sekitar 140 ton emas fisik senilai lebih dari $23 miliar, memperkuat posisinya sebagai pemain besar dalam industri keuangan digital berbasis aset nyata.
Menurut Tim Research Tokocrypto, ekspansi Tether ke infrastruktur komoditas fisik (RWA) adalah langkah diversifikasi cerdas. Ini memposisikan XAU₮ bukan hanya sebagai stablecoin, tapi sebagai jembatan likuiditas utama antara pasar kripto dan pasar logam mulia tradisional.
Gold.com Siap Masuk Dunia Digital Berkat Suntikan Dana Tether
Gold.com merupakan perusahaan logam mulia yang berdiri sejak 1965 dan membawahi beberapa merek besar seperti JMBullion, Monex Precious Metals, GovMint, serta Stack’s Bowers Galleries. Selama ini, bisnis mereka dikenal kuat di sektor penjualan emas fisik dan koleksi.
Dengan dukungan Tether, Gold.com disebut akan memperluas layanan ke produk emas digital, stablecoin, hingga aset tokenisasi, bahkan membuka peluang ke bisnis gold leasing atau penyewaan emas.
Manajemen Gold.com menyatakan kerja sama ini akan mempercepat ambisi mereka menjadi platform logam mulia “full service” yang mampu melayani investor konvensional sekaligus pengguna kripto.
Strategi Baru Tether: Serius Garap Aset Nyata
Investasi ke Gold.com menjadi bagian dari strategi diversifikasi besar Tether. Perusahaan tersebut melaporkan laba bersih mencapai $10 miliar pada 2025, serta memiliki cadangan berlebih lebih dari $6,3 miliar.
Selain mengembangkan USDT, Tether juga aktif masuk ke berbagai sektor seperti Bitcoinmining, kecerdasan buatan (AI), komunikasi terdesentralisasi, hingga industri logam mulia.
Kesepakatan ini mempertegas ambisi Tether untuk memposisikan emas tokenisasi sebagai instrumen penyimpan nilai modern, menggabungkan stabilitas emas fisik dengan kecepatan transaksi aset digital.
DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut.
Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.
Harga Bitcoin (BTC) kembali mencetak rekor tertinggi sepanjang masa atau all-time high (ATH) mencapai nilai US$89.000 atau sekitar Rp 1,4 miliar (kurs Rp 15.907) per koin pada kemarin, 12 November 2024. Tren tren positif terjadi sepekan pasca kemenangan Donald Trump dalam pemilihan presiden AS 2024
Menurut data dari CoinGecko, kapitalisasi pasar kripto global saat ini melonjak sebesar 6,9% dalam 24 jam terakhir, mencapai US$ 3,1 triliun. Reli ini tidak hanya mendorong Bitcoin, tetapi juga berimbas pada beberapa aset kripto lainnya, seperti Ethereum (ETH) yang naik 7,4% menjadi US$ 3.397.
Adapun beberapa aset kripto yang mengalami kenaikan di antaranya altcoin populer, seperti XRP yang mengalami kenaikan sebesar 16,4% ke harga US$0,6782, Cardano (ADA) naik sebesar 8,7% ke angka US$ 0,6317, dan Solana (SOL) naik 4,9% ke harga US$ 220,56.
Selain itu, coin AI juga memiliki tren positif seperti Render (RENDER) mengalami kenaikan sebesar 24% ke angka US$ 7,37 dan SleeplessAI (AI) naik sebesar 10,5% di harga US$ 0,52. Di sisi lain, meme coin pun mengalami kenaikan signifikan, Dogecoin (DOGE) melonjak 52,6% menjadi US$0,42 dengan kapitalisasi pasar US$ 62,1 miliar, SHIB naik 16,4% ke harga US$ 0,00002917 dan PEPE mengalami kenaikan 21,4% ke US$ 0,00001462.
CEO INDODAX Oscar Darmawan mengatakan dengan naiknya berbagai koin membuktikan tren positif sepekan pasca kemenangan Donald Trump dalam pemilihan presiden AS 2024 memberi dampak signifikan di kalangan pelaku pasar. Bahkan, Standard Chartered juga memprediksi lonjakan harga Bitcoin hingga US$ 200.000 pada akhir tahun depan.
Proyeksi ini dianggap semakin realistis dengan melihat tren harga Bitcoin saat ini. Selain Bitcoin, dia juga menyebut Ethereum diperkirakan akan mencatatkan rekor tertinggi baru di level US$ 10.000 dalam setahun mendatang. Sementara itu, Solana diproyeksikan memiliki potensi pertumbuhan lebih tinggi daripada kedua aset utama tersebut di pasar kripto.
“Lonjakan harga Bitcoin yang mencapai ATH adalah momen penting bagi pasar kripto, menandakan kepercayaan dan adopsi yang terus meningkat terhadap Bitcoin sebagai aset digital yang terdesentralisasi,” ujar Oscar dalam keterangannya, dikutip Kamis (14/11/2024).
Menurut Oscar, pencapaian ini juga berpotensi membuka peluang Bitcoin mencapai harga yang lebih tinggi lagi, didukung oleh sejumlah faktor eksternal seperti perkembangan kebijakan global dan minat dari institusi keuangan besar.
“Ke depan, saya optimistis Bitcoin akan menjadi lebih menarik, tidak hanya bagi investor ritel tetapi juga bagi institusi yang mencari diversifikasi aset di tengah ketidakpastian ekonomi global,” tambahnya.
Oscar menilai Bitcoin semakin mengukuhkan diri sebagai ‘digital gold’. Sama halnya dengan emas yang telah lama dianggap sebagai penyimpan nilai, dia bilang bitcoin kini mulai mendapatkan pengakuan yang serupa.
Menurutnya, Bitcoin menawarkan peluang bagi investor untuk melindungi kekayaan mereka di saat ketidakstabilan pasar tradisional. Dengan kenaikan harga ini, Oscar juga melihat adanya peningkatan kesadaran masyarakat terhadap aset digital.
“Bitcoin telah membuktikan dirinya sebagai aset yang tidak hanya terdesentralisasi tetapi juga transparan. Kami di INDODAX percaya bahwa adopsi yang lebih luas akan semakin memperkuat keamanan dan daya tarik Bitcoin,” jelas Oscar.
Kondisi ekonomi dunia masih dilanda ketidakpastian. Melihat keadaan tersebut, investor perlu menimbang kembali produk investasi yang dipilih untuk meminimalisir kerugian.
Seperti diketahui, ekspektasi suku bunga tinggi bertahan lama atau higher for longer. Kemudian, perang di Timur Tengah masih terus memanas dan kemungkinan konflik besar dapat terjadi.
Head of Research BCA Sekuritas Andre Benas mengatakan di tengah kondisi global yang tidak pasti, emas masih menarik untuk menjadi instrumen investasi. Menurutnya, harga emas yang terus naik di tengah tensi global politik menjadi salah satu bukti emas tidak terpengaruh.
“Kalau dari beberapa bulan terakhir kita lihat gold hampir naik US$ 2.400 per troy ounce karena impact dari global political tension. Walaupun ada global political tension turun, emas masih bertengger di sekitar US$ 2.300,” kata Andre dalam acara Sharing dan Peningkatan Wawasan, Jakarta, Senin (15/7/2024).
Dia memperkirakan harga emas akan terus meroket hingga tahun depan. Pasalnya, kondisi politik global yang masih memanas, terutama di Amerika Serikat (AS) dan ada negara yang membeli emas dengan masif, seperti India.
Di sisi lain, nilai emas juga tidak berpengaruh pada nilai tukar mata uang apapun, termasuk suku bunga acuan dari Bank Sentral AS. Apalagi The Fed tidak menunjukkan keadaan menurunkan suku bunga. Melihat hal itu, dia bilang emas menjadi pilihan investasi yang baik.
Dia juga bilang saat ini akses membeli emas juga semakin mudah. Banyak gerai toko emas di ritel bahkan masyarakat juga dapat beli emas secara digital.
“Higher for long term masih ada. Ekonomi AS masih tumbuh 2-3% dengan inflasi sekitar 3%, kita lihat ya gold is good asset. Karena inflasi nggak mungkin bisa turun balik ke periode 2013, di mana yg suku bunga 0,25%. Karena situasi itu, gold menjadi salah satu pilihan investasi ke depannya,” jelasnya.
Kemudian, dollar AS juga bisa menjadi pilihan investasi yang baik. Apalagi saat ini nilainya terus menguat terhadap mata uang di dunia.
Dia menyebutkan membeli dolar AS menjadi pilihan yang paling sederhana untuk investasi di tengah kondisi ekonomi yang tidak stabil seperti sekarang. Dia juga menyebut nilai tukar dolar AS akan semakin kuat setiap tahunnya.
“Dari saya kuliah sampai sekarang, lulus kuliah 2009, dulu dolar AS Rp 8.000- Rp 9.000 berarti dalam hampir lima belas tahun dobel ya. Dan setiap tahun kondisinya, diferensiasinya hampir 10-15%. Jadi, menurut saya pegang dolar AS strategi cukup bagus untuk investasi di situasi seperti ini,” terangnya.