BlockchainBitcoin Cash (BCH) akan menjalani hard forkjaringan pada 15 November 2020 mendatang. Nantinya, pembaruan ini akan membuat koin terbagi menjadi dua.
Peristiwa hard fork yang akan datang ini merupakan kejadian puncak setelah terjadi ketidaksepakatan dan ketegangan terkait dengan usul perubahan dalam kode dasar jaringan, serta masa depan dari Bitcoin Cash itu sendiri.
Bitcoin Cash diciptakan sebagai hasil dari ketidaksepakatan intens antara anggota komunitas Bitcoin (BTC) pada 1 Agustus 2017. Sayangnya, tidak hanya berhenti disitu, pencipta BCH, Roger Ver kembali bersitegang dengan Calvin Ayre. Kali ini, perselisihan tersebut membuahkan hasil Bitcoin SV (BSV) yang mengalami hard fork pada 15 November 2018 lalu.
Seperti ingin mengulang kejadian yang sama, kesitegangan terjadi kembali anatara Amaury Séchet sebagai pengembang BCH dan perbedaan pendapat pada komunitas BCH.
Jika melihat dari filosofis BCH, koin tersebut memiliki tujuan untuk menjadi mata uang digital peer-to-peer global dengan transaksi berbiaya rendah, berkecepatan tinggi, dan tanpa batas.
Filosofi ini sangat dijunjung tinggi oleh komunitas BCH yang ada. Namun, tidak semua entitas dari komunitas BCH sepakat terhadap perubahan arsitektur dari jaringan dasar blockchain tersebut. Saat ini, ada sejumlah implementasi aktif pada jaringan, seperti Bitcoin ABC, BCHN, dan Bitcoin Unlimited.
Lantaran implementasi ini membuat komunitas BCH terpecah menjadi 2 fraksi besar antara Amaury Séchet yang memimpin komunitas Bitcoin ABC, sedangkan Roger Ver memimpin komunitas BCHN. Keduanya memiliki pandangan berbeda terkait dengan kemajuan teknologi dan pemrograman dalam jaringan BCH.
Hard Fork Bitcoin Cash
Pada 15 November 2020 mendatang, blockchain Bitcoin Cash akan memperbarui sistem yang ada. Pembaruan ini pertama kali diusulkan oleh komunitas BCHN dengan memperkenalkan algoritma penambangan baru agar dapat diterima secara luas.
Tidak sepakat, tim pengembang Bitcoin ABC mengusulkan pembaruan alternatif dengan menambahkan elemen lebih lanjut dengan mengalihkan 8% block rewards dari penambangan Bitcoin Cash.
Roger Ver selaku pemimpin fraksi komunitas BCHN menanggapi dengan mengatakan “tolong berhenti” pada Twitter pribadinya,
Dari skenario paling mungkin terjadi yang terlihat dari mayoritas pendukung, pembaruan yang dilakukan pada 15 November 2020 akan mengambil versi dari BCHN. Kontroversi ini akan membuat BCH nantinya memiliki dua jaringan blockchain terpisah dengan masing-masing nilainya sendiri.
Persiapan Bursa Pertukaran Dunia
Peristiwa hard fork kontroversial ini membuat beberapa bursa pertukaran dunia ikut turun tangan.
Beberapa di antaranya seperti OKEx yang mengumumkan akan mendukung kedua aset dari hard fork tersebut. Nantinya, OKEx akan mendaftarkan BCH ABC dan BCHN untuk bisa diperdagangkan. Namun, sementara ini fungsi tersebut akan ditangguhkan sebelum hard fork terjadi.
Bursa pertukaran dunia lainnya, Houbi Global juga akan mengambil langkah yang sama setelah konsensus di anatara komunitas BCH telah tercapai, dan akan menamai aset menjadi BCHA atau BCHN.
Sementara itu, Binance akan menangguhkan deposit dan juga withdrawal BCH pada hari hard fork terjadi. Pihak Binance juga akan melihat skenario yang akan terjadi pada hari tersebut, dan belum memutuskan antara mendaftarkan dua koin yang ada atau tidak mendaftarkan koin sama sekali.
Harga Bitcoin Cash
Saat penulisan dilakukan, harga BCH hari ini berada dikisaran 258,85 disandingkan dengan USDT.
Jika mengacu pada analisis harga yang dilakukan Cointelegraph Marketsbeberapa saat lalu, BCH telah turun ke nilai terendahnya jika disandingkan dengan Bitcoin (BTC).
Berbeda dari koin induknya BTC yang mengalami rally dalam satu bulan terakhir, BCH menghabiskan tiga bulan terakhir dengan melayang-layang di kisaran $230 dan $280.Hal ini membuat sentimen pasar terhadap hard fork ini sedikit redup. Misalnya saja, tanggapan Co-founder dari CasaHODL, Jameson Lopp, terkait peristiwa ini
“Semoga drama pemilihan suara ini akan segera beres sebelum drama shitcoinnya kembali muncul: H-10 untuk fraktur bcash berikutnya!”
Juru bicara Dogecoin Foundation dan Guardian of Doge Mr. Angel Versetti mengumumkan rencananya untuk melakukan hardfork dengan upgrade penuh terbaru dari Syscoin (syscoin.org, salah satu blockchain PoW tertua dan tercanggih). Ada beberapa diskusi dan negosiasi dengan Syscoin pendiri dan yayasan Syscoin tentang dukungan bantuan teknis dalam proses fork.
Fork yang direncanakan akan diluncurkan di bawah situs web doge.org di mana koin fork yang baru akan diberi nama “Dogecoin” dengan rasio airdrop 1: 1 untuk pemegang Syscoin yang ada. Fork ini juga dilengkapi dengan rencana untuk memberi hadiah kepada pemegang Dogecoin “pra-Elon” saat ini.
Versetti mengklaim hubungannya yang mendalam dengan Syscoin Foundation sebagai Shadow Member dan fork yang direncanakan serta telah memperoleh dukungan substansial dari pemegang terbesar Syscoin (SYS) dan anggota kunci dari Komunitas Syscoin, khususnya DogeTop5, Crypto WSB dan para whale.
“Konsepnya adalah menggabungkan branding Doge yang kuat dengan teknologi Syscoin yang tak tertandingi,” kataVersetti.
Ingin Buat Dogecoin Lebih Hebat
Dalam keterangan resminya, Verseti menyatakan jika ia ingin Doge menjadi lebih hebat, sebab ia melihat banyak penggiat doge yang tidak terlalu senang dengan situs Dogecoin.org yang telah menjadi situs web iklan untuk cybertruck.
“Kami akan mengembalikan dogecoin ke model bersikap baik kepada orang lain. Dogecoin akan menjadi cryptocurrency yang maju, berkelanjutan, dan sadar sosial. Sebagai contoh, kami dengan ini mengumumkan bahwa 5% dari koin yang baru diterbitkan akan diberikan kepada badan amal yang memenuhi syarat untuk membantu hewan di seluruh dunia untuk bertahan dari Covid ganda dan krisis keuangan,” jelasnya.
Verseti sendiri diketahui berhasil masuk ke Forbes 30 Under 30 di bidang Keuangan, Pendiri Versetti & Co crypto Hedge Fund ($$1b+ AUM), mantan pendiri Ambrosus, serta penambang Bitcoin sejak 2012. Ia juga merupakan orang di balik DogeTop5.com, sebuah inisiatif dibuat untuk menjalankan kampanye pemasaran yang strategis dengan WallStreetBets.
Sebelum rencana untuk melakukan hardfork SYS, Versetti telah bergabung ke berbagai startup inovatif yang bernilai hingga hingga $600 juta. Sebagai investor ia berhasil memperoleh ROI hingga 26.000%, dan sebagai “investopreneur”, ia bergerak di bidang deep-tech, life extension, dan space-tech. Mimpinya adalah memungkinkan umat manusia untuk hidup selamanya dan membangun dunia baru di planet lain.
Para penggemar crypto pasti sudah tak asing dengan nama Bitcoin, bagaimana tidak, Bitcoin merupakan aset kripto pertama yang diciptakan oleh pseudonim Satoshi Nakamoto.
Ia merilis Bitcoin pada tahun 2009 dalam bentuk bentuk sebuah bentuk Bitcoin sebagai uang digital yang menjabarkan sistem pembayaran elektronik peer-to-peer beserta ketentuan dasar dalam penggunaannya.
Seiring berjalannya waktu, Bitcoin yang merupakan pionir dalam industri mata uang crypto ini mendapatkan kepopuleran dan kepercayaan dari para penggemar crypto dan lapisan masyarakat lainnya. Ketahanan Bitcoin dalam menghadapi pandemi dan krisis global membuatnya bersanding dan disejajarkan dengan safe haven seperti emas, bahkan karena hal itu sebagian orang menobatkan Bitcoin sebagai emas digital.
Jika menilik kebelakangan, perjalanan Bitcoin sebenarnya tidak selalu mulus. Mengapa demikian? Dengan sifat Bitcoin yang sulit untuk didapatkan, apalagi Bitcoin memiliki peristiwa seperti halving yang menjadikannya setiap empat tahun sekali kesulitannya semakin bertambah, banyak usaha lain untuk menjadikan Bitcoin tetap relevan dengan menciptakan forks atau cabang-cabang dari Bitcoin.
Bitcoin Hardfork dan Jenis-Jenisnya
Bitcoin itu berdiri dalam sebuah jaringan blockchain, yang biasanya disebut jaringan Bitcoin. Jaringan ini melibatkan jaringan komputer global yang luas dan beroperasi di dalam basis data terdistribusi yang sama dengan tujuan utama untuk memproses volume data yang sangat besar di setiap detiknya.
Transaksi-transaksi ini diproses dengan cara mengubah basis data terdistribusi secara real-time dengan persetujuan semua orang yang berada dalam jaringan. Namun, ketika komunitas tidak dapat mencapai kesepakatan tersebut, misalnya terkait perubahan tertentu, dan berlakunya perubahan tersebut, hal ini menghasilkan forks atau cabang-cabang dari jaringan blockchain tersebut.
Dalam praktiknya, Bitcoin forks yang ada di dalam jaringan blockchain ini terbentuk karena beberapa alasan, tetapi alasan-alasan yang paling sering dikaitkan adalah sebagai berikut:
1. Perbedaan Konsensus dalam Komunitas
Biasanya forks yang disebabkan tidak adanya kesepakatan di dalam komunitas ini akan dibiarkan mereda dan berlalu. Namun, hal ini berbeda pada kasus-kasus yang ekstrem. Kedua cabang tersebut akan dilihat dari seberapa lama ia bertahan dalam jaringan.
2. Perubahan pada Aturan Dasar Blockchain
Biasanya perubahan forks untuk menjadi permanen memerlukan peningkatan pada perangkat lunak yang harus tetap up-to-date untuk bisa terus berpartisipasi dalam jaringan.
Lebih lanjut, forks ini dibagi menjadi empat bagian, ada Soft fork, Hard fork, Codebase fork atau perubahan basis kode dalam jaringan blockchain yang bisa membuat cryptocurrency baru atau fork dalam jaringan yang tidak disengaja, dan juga blockchain fork yang biasanya muncul untuk membentuk mata uang crypto yang sama dengan mempertahankan karakteristik dan sejarah tetapi dengan mengembangkan identitas yang berbeda.
Apa Saja Jenis Bitcoin Forks?
Dalam perkembangannya Bitcoin Forks ada banyak jenisnya, tetapi yang paling utama yang ada di dalam jaringan Bitcoin adalah sebagai berikut
1. Bitcoin/Bitcoin Core
Ini adalah Bitcoin pertama yang dirilis oleh Satoshi Nakamoto pada tahun 2009 lalu. Sampai sekarang Bitcoin masih mendominasi di dalam jaringan mata uang crypto. Ketahanan dan kekuatannya dalam menghadapi volatilitas yang tinggi juga membuatnya dipercaya tidak hanya di kalangan penggemar crypto, tetapi juga di masyarakat luas
2. BTC1
BTC1 ini merupakan contoh dari codebasefork. Pengembang BTC1 merilis sebuah hard fork yang disebut Segwit2x, dengan maksud agar pengguna Bitcoin bermigrasi ke protokol tersebut. Sayangnya hal ini gagal mendapatkan atraksi dan dianggap tidak berfungsi.
3. Bitcoin ABC
Bitcoin ABC merupakan contoh dari codebase fork lainnya. Ia sengaja dirancang dalam beberapa fungsinya untuk keluar dari Bitcoin Core. pada tahun 2017, percabangan ini akhirnya membentuk Bitcoin Cash yang hingga saat artikel ini ditulis masih memiliki relevansi di pasar crypto.
Lebih lanjut, Bitcoin Cash mengalami hard fork dan memunculkan mata uang crypto baru yaitu Bitcoin SV (Satoshi Vision). Ia mempunyai misi untuk membawa kembali nilai-nilai dan teknologi dari Bitcoin asli termasik desentralisasi, menggunakan crypto sebagai alat transaksi dan metode perdagangan dengan meningkatkan kapasitas jaringan itu sendiri
4. Bitcoin Gold, Bitcoin Diamond, dan Koin Lainnya
Perilisan Bitcoin Cash yang terbilang sukses, akhirnya banyak koin dari fork lainnya bermunculan. Beberapa ada yang didorong oleh ideologi BTC1, ada juga konsensus campuran, ada juga didorong karena besarnya laba, atau bahkan ketiganya.
Tentu saja selain empat jenis di atas ada juga cabang-cabang yang ditinggalkan dan bahkan tidak lagi diketahui namanya.
Akankah Forks Lain Kembali Muncul?
Munculnya forks di dalam jaringan Bitcoin memang adalah sebuah keniscayaan. Banyak yang percaya, adanya forks akan membantu semua orang yang terlibat memiliki kesempatan yang sama.
Dari tahun 2009 hingga saat ini, Bitcoin telah menghadapi berbagai macam kondisi harga dengan volatilitasnya yang tinggi. Perkembangan Bitcoin sebagai teknologi juga akan terus bergerak. Tidak memungkiri perkembangan itu juga dipengaruhi dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi di luar jaringan Bitcoin.
Belum diketahui pasti apakah akan ada soft fork atau hard fork baru, tetapi untuk saat ini dominasi Bitcoin di dalam jaringan cryptocurrency masih cukup kuat. Akankah dominasi itu tetap bertahan, kita sendiri harus tetap mengamati dan menyaksikannya sendiri.
Selamat datang di artikel ini yang akan menjelaskan mengenai konsep hard fork dan soft fork dalam dunia kripto. Jika Anda memiliki minat dalam teknologi blockchain dan aset kripto, mungkin sudah sering mendengar istilah-istilah ini sebelumnya.
Hard fork dan soft fork merupakan dua jenis perubahan yang dapat terjadi dalam protokol kripto yang berdampak pada jaringan dan aset digital terkait. Dalam artikel ini, kita akan membahas bagaimana peningkatan dilakukan dalam jaringan aset kripto tanpa melibatkan otoritas pusat.
Selain itu, kami juga akan memberikan definisi yang jelas mengenai hard fork dan soft fork, menjelaskan perbedaan di antara keduanya, dan mengapa kedua konsep ini penting dalam ekosistem kripto.
Dengan pemahaman yang lebih baik mengenai konsep-konsep ini, Anda akan dapat mengikuti perkembangan terbaru dalam dunia kripto dan memahami implikasi dari perubahan-perubahan yang terjadi. Mari kita mulai dengan mempelajari lebih lanjut mengenai hard fork dan soft fork dalam konteks kripto.
Siapa yang Mengambil Keputusan dalam Jaringan Blockchain?
Untuk memahami bagaimana fork bekerja, penting untuk memahami peran para peserta dalam proses pengambilan keputusan atau tata kelola jaringan.
Dalam konteks Bitcoin, terdapat tiga kelompok peserta yang dapat secara umum dibedakan, yaitu pengembang, penambang, dan pengguna full node. Mereka merupakan pihak-pihak yang secara aktif berkontribusi dalam jaringan. Meskipun pengguna light node (misalnya dompet kripto di ponsel atau laptop) juga digunakan secara luas, namun mereka tidak terlibat secara langsung sebagai “peserta” dalam konteks jaringan.
Pengembang
Para pengembang bertanggung jawab dalam membuat dan memperbarui kode-kode yang terkait. Siapa pun dapat berkontribusi dalam proses ini, karena kode tersebut tersedia untuk umum dan dapat dikirimkan perubahan oleh pengembang lain untuk ditinjau.
Penambang
Penambang merupakan pihak yang mengamankan jaringan dengan menjalankan kode aset kripto dan menyumbangkan sumber daya untuk menambahkan blok baru ke dalam blockchain. Misalnya, dalam jaringan Bitcoin, mereka melakukannya melalui mekanisme Proof of Work. Penambang diberi imbalan berupa block reward sebagai hasil dari upaya mereka.
Pengguna Full Node
Pengguna full node merupakan tulang punggung jaringan kripto. Mereka melakukan validasi, pengiriman, dan penerimaan blok dan transaksi, serta mempertahankan salinan lengkap blockchain.
Ser often kali terjadi tumpang tindih dalam kategori-kategori ini. Sebagai contoh, seseorang dapat menjadi pengembang dan pengguna full node, atau penambang dan pengguna full node. Atau bahkan seseorang dapat menjadi ketiganya sekaligus atau tidak ada satupun dari peran tersebut. Faktanya, banyak pengguna kripto yang tidak mengambil salah satu peran tersebut dan memilih untuk menggunakan light node atau layanan yang terpusat.
Dengan melihat penjelasan di atas, dapat dianggap bahwa pengembang dan penambang memiliki peran dalam pengambilan keputusan terhadap jaringan. Para pengembang menciptakan kode-kode tersebut, karena tanpa mereka, tidak akan ada perangkat lunak yang bisa dijalankan dan tidak ada yang akan memperbaiki bug atau menambahkan fitur baru. Penambang mengamankan jaringan, karena tanpa persaingan sehat dalam penambangan, rantai blockchain dapat diambil alih atau dihentikan.
Namun, jika kedua kategori ini berusaha memaksa sisa jaringan untuk mengikuti keinginan mereka, hal itu tidak akan berakhir dengan baik. Sebenarnya, kekuatan sebenarnya berada pada pengguna full node. Pengguna full node merupakan fungsi jaringan yang berbasis pada pilihan, yang berarti pengguna dapat memilih perangkat lunak apa yang ingin mereka jalankan.
Sebagai ilustrasi, para pengembang tidak akan datang dan memaksa Anda untuk mengunduh perangkat lunak Bitcoin Core dengan kekerasan. Jika penambang mengadopsi sikap “ikut saya atau cari yang lain” untuk memaksakan perubahan yang tidak diinginkan pada pengguna, maka pengguna mungkin akan beralih ke penyedia lain.
Pihak-pihak tersebut bukanlah penguasa yang sangat berkuasa, melainkan lebih sebagai penyedia layanan. Jika orang-orang memutuskan untuk tidak menggunakan jaringan, maka nilai kripto tersebut akan menurun. Penurunan nilai ini akan berdampak langsung pada penambang (reward yang diterima akan berkurang dalam nilai dolar). Sedangkan bagi pengembang, pengguna dapat dengan cepat mengabaikan perubahan yang mereka usulkan.
Jika diamati, perangkat lunak ini seolah-olah tidak dimiliki oleh siapa pun. Anda dapat mengubahnya sesuai keinginan, dan jika ada orang lain yang menjalankan perangkat lunak yang telah Anda modifikasi, semua pihak dapat berkomunikasi. Dalam hal ini, Anda melakukan fork terhadap perangkat lunak tersebut dan menciptakan jaringan baru.
Apa Itu Fork?
Fork perangkat lunak terjadi saat perangkat lunak disalin dan dimodifikasi. Proyek asli tetap ada, tetapi sekarang terpisah dari versi baru yang mengikuti arah yang berbeda. Misalnya, dalam tim situs web konten kripto favorit Anda, mungkin terjadi perbedaan pendapat besar tentang cara melakukan sesuatu. Salah satu bagian tim mungkin memutuskan untuk menduplikasi situs ke domain yang berbeda. Namun, di masa mendatang, keduanya akan memposting konten yang berbeda dari yang asli.
Proyek-proyek ini membangun fondasi dan sejarah yang sama. Sama seperti jalan yang kemudian terbagi menjadi dua, sekarang ada perbedaan permanen di setiap jalur.
Perlu dicatat bahwa ini sering terjadi dalam proyek open-source dan telah ada sejak lama sebelum munculnya Bitcoin atau Ethereum. Namun, perbedaan antara hard fork dan soft fork adalah sesuatu yang unik dan hanya terjadi dalam lingkungan blockchain. Mari kita bahas lebih lanjut.
Hard Fork vs Soft Fork
Meskipun memiliki nama yang mirip dan pada akhirnya mencapai tujuan yang sama, hard fork dan soft fork sangat berbeda. Mari kita bahas satu per satu.
Apa itu Hard Fork?
Hard fork adalah pembaruan perangkat lunak yang tidak kompatibel secara mundur atau backward-incompatible. Biasanya terjadi ketika node (simpul) menambahkan aturan baru yang bertentangan dengan aturan simpul yang lama. Node baru hanya dapat berkomunikasi dengan simpul lain yang menjalankan versi baru. Akibatnya, blockchain terbelah, menciptakan dua jaringan yang terpisah: satu dengan aturan lama dan satu dengan aturan baru.
Node menjadi biru saat diperbarui. Node lama yang berwarna kuning menolaknya, sedangkan yang biru saling terhubung. Sumber: Binance Academy.
Sekarang ada dua jaringan yang berjalan secara paralel. Keduanya akan terus menyebarkan blok dan transaksi, tetapi tidak lagi beroperasi di blockchain yang sama. Semua simpul memiliki blockchain yang identik sampai titik fork (dan sejarahnya tetap sama), tetapi setelah itu, blok dan transaksi akan berbeda di masing-masing jaringan.
blockchain mengalami fork di blok 600.000. Sumber: Binance Academy.
Karena ada sejarah yang sama, Anda akan memiliki koin di kedua jaringan jika Anda menyimpannya sebelum fork terjadi. Misalnya, jika Anda memiliki 5 BTC ketika fork terjadi pada Blok 600.000, Anda dapat menghabiskan 5 BTC tersebut di rantai lama pada Blok 600.001, tetapi koin tersebut belum dihabiskan di Blok 600.001 di rantai baru. Dengan asumsi kriptografi tidak berubah, kunci pribadi Anda masih akan memiliki lima koin di jaringan baru yang terbentuk setelah fork.
Contoh konkret dari hard fork adalah fork yang terjadi pada Bitcoin pada tahun 2017, yang membagi menjadi dua rantai terpisah: yang asli, Bitcoin (BTC), dan yang baru, Bitcoin Cash (BCH). Fork tersebut terjadi setelah terjadi banyak perdebatan tentang pendekatan terbaik untuk meningkatkan skalabilitas. Para pendukung Bitcoin Cash ingin meningkatkan ukuran blok, sementara pendukung Bitcoin menentang perubahan tersebut.
Peningkatan ukuran blok memerlukan modifikasi aturan. Sebelum adanya soft fork SegWit (akan dibahas sebentar lagi), node hanya akan menerima blok dengan ukuran maksimum 1MB. Jika Anda membuat blok 2MB yang secara teknis valid, simpul lain masih akan menolaknya. Hanya simpul yang telah memperbarui perangkat lunaknya untuk menerima blok dengan ukuran lebih dari 1MB yang akan menerima blok-blok tersebut. Tentu saja, ini membuat simpul tersebut tidak kompatibel dengan versi sebelumnya, sehingga hanya simpul dengan protokol yang sama yang dapat berkomunikasi satu sama lain.
Apa itu Soft Fork?
Soft fork adalah peningkatan perangkat lunak yang kompatibel secara mundur atau backward-compatible, yang berarti simpul yang telah ditingkatkan masih dapat berkomunikasi dengan simpul yang tidak ditingkatkan. Biasanya, dalam soft fork, aturan baru ditambahkan yang tidak bertentangan dengan aturan lama.
Misalnya, pengurangan ukuran blok dapat diimplementasikan melalui soft fork. Mari kita gunakan kembali Bitcoin sebagai contoh: meskipun ada batasan pada ukuran blok, tidak ada batasan pada seberapa kecilnya. Jika Anda hanya ingin menerima blok dengan ukuran di bawah ambang tertentu, Anda hanya perlu menolak blok dengan ukuran yang lebih besar.
Namun, ini tidak secara otomatis memisahkan Anda dari jaringan. Anda masih dapat berkomunikasi dengan simpul yang tidak menerapkan aturan tersebut, tetapi Anda memfilter sebagian informasi yang mereka berikan kepada Anda.
Contoh konkret yang baik dari soft fork adalah fork Segregated Witness (SegWit) yang telah disebutkan sebelumnya. SegWit adalah pembaruan yang mengubah format blok dan transaksi, tetapi dibuat dengan cerdik. Simpul lama masih dapat memvalidasi blok dan transaksi (formatnya tidak melanggar aturan), tetapi tidak akan sepenuhnya memahami elemen-elemen baru yang ditambahkan. Beberapa bidang hanya dapat dibaca oleh simpul yang telah beralih ke perangkat lunak yang lebih baru, yang memungkinkan simpul tersebut memahami data tambahan.
Bahkan dua tahun setelah SegWit diaktifkan, belum semua simpul ditingkatkan. Ada keuntungan untuk melakukannya, tetapi tidak ada urgensi, karena tidak ada perubahan yang berpotensi memecah jaringan.
Perbedaan Antara Hard Fork dan Soft Fork: Mana yang Lebih Baik?
Pada dasarnya, kedua jenis fork di atas memiliki tujuan yang berbeda. Hard fork yang kontroversial dapat memecah komunitas, tetapi hard fork yang direncanakan memberikan kebebasan untuk memodifikasi perangkat lunak dengan persetujuan semua pihak.
Soft fork merupakan pilihan yang lebih ramah. Secara umum, Anda memiliki batasan dalam hal apa yang dapat dilakukan karena perubahan baru tidak boleh bertentangan dengan aturan yang sudah ada. Oleh karena itu, jika pembaruan dapat dirancang sedemikian rupa sehingga tetap kompatibel, Anda tidak perlu khawatir tentang terpecahnya jaringan.
Kesimpulan
Hard fork dan soft fork memiliki peranan yang sangat penting dalam keberhasilan jangka panjang jaringan blockchain. Keduanya membantu kita dalam membuat perubahan dan peningkatan dalam sistem terdesentralisasi, meskipun tanpa adanya otoritas pusat.
Fork membantu blockchain dan kripto untuk mengintegrasikan fitur-fitur baru saat dikembangkan. Tanpa mekanisme ini, kita akan membutuhkan sistem yang terpusat dengan kendali dari atas. Jika tidak, kita akan terjebak dengan aturan yang sama selamanya.
Perkembangan teknologi berbagai bidang, dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan pembaruan. Tidak terkecuali pada teknologi yang digunakan oleh cryptocurrency, beberapa koin menggunakan teknologi terbaru yang muncul untuk menyempurnakan programnya.
Dalam istilah programing pada aset kripto Fork merupakan proses pembaruan teknologi, sebuah proses modifikasi kode pemrograman open-source. Kode-kode yang di-fork ini biasanya sama dengan kode aslinya atau kode sebelumnya, namun dengan beberapa modifikasi penting yang dilakukan, sehingga mengubah beberapa fitur.
Beberapa proses fork tersebut juga digunakan untuk menguji sebuah proses pada pemrograman, namun pada aset kripto, fork digunakan untuk mengimplementasikan perubahan fundamental atau untuk membuat aset baru dengan karakteristik yang hampir serupa namun ada perbedaan di beberapa sisi untuk meningkatkan fitur atau performa.
Nah fork-fork tersebutlah yang menghasilkan model kripto yang baru. Seperti pada Bitcoin, ada Bitcoin Core, Bitcoin ABC, Bitcoin Gold, Bitcoin Diamond dan masih banyak lagi.
Secara umum Fork dibagi menjadi dua hard fork dan soft fork.
Pengertian Hard Fork dan Soft Fork
Keduanya sama sama akan melakukan perubahan yang fundamental, namun masing-masing tipe fork ini memiliki perbedaan ketika diimplementasikan. Jadi apa sebenarnya hard fork dan soft fork? Lalu apa perbedaan keduanya? Langsung saja kita bahas di bawah hard fork vssoft fork!
Penjelasan perbedaan hard fork dan soft fork di menit 3:30
Pengertian Hard Fork
Hard fork adalah perubahan protocol yang akan menyebabkan versi lama menjadi tidak valid. Jika kita mengambil contoh pada bitcoin, sebuah hard fork dibutuhkan untuk mengubah protocol pada parameter seperti ukuran block, tingkat kesulitan puzzle kriptografi yang harus dipecahkan saat penambangan, batasan informasi yang dapat ditambahkan dan yang lainya.
Perubahan protocol parameter ini akan membuat block dapat diterima oleh protocol baru namun ditolak oleh protocol lama dan dapat menjadi masalah yang cukup serius atau yang lebih parahnya kehilangan sejumlah aset kripto pada sistem.
Contoh sederhananya, jika batas ukuran block di upgrade dari 2MB menjadi 5MB, sebuah block dengan ukurannya 3MB akan diterima oleh node yang beroperasi di versi baru namun ditolak oleh node yang beroperasi di versi lama.
Pengertian Soft Fork
Soft fork adalah update program yg tetap compatible dengan versi lamanya. Berbeda dengan hard fork, sebuah soft fork masih dapat beroperasi dalam versi yang lama. Misalkan, jika sebuah protokol diubah dengan cara peraturannya yang diperketat, menjalankan sebuah perubahan atau menambahkan fungsi yang tidak mempengaruhi konstruksi apapun, sehingga kemudian block versi terbaru akan dapat diterima dengan node versi lama.
Sederhananya, jika para komunitas memutuskan untuk mengurangi ukuran blok menjadi 1MB dari batas yang sekarang 2MB. Node versi terbaru akan menolak blok yang berukuran 2MB, dan akan membangun di blok yang sebelumnya (dengan versi kode yang sudah diperbaharui), dan hal ini akan menyebabkan fork sementara.
Hal tersebutlah yang dinamai dengan soft fork dan beberapa kali sering terjadi. Pada awalnya bitcoin yang tidak memiliki batas ukuran blok, diketahui oleh proses soft fork bitcoin memiliki batas ukuran blok 1MB. Soft fork tidak terlalu memiliki resiko sebesar hard fork, karena merchant (platform exchange) dan pengguna yang beroperasi pada node lama akan membaca kedua versi dari blok tersebut.
Pay-to-script-hash, atau menambahkan kode tanpa merubah strukturnya, dapat dengan mudah ditambahkan melalui proses soft fork. Penambahan tipe ini umumnya hanya membutuhkan banyak miner untuk melakukan upgrade, di mana hal ini mudah dilakukan dan tidak terlalu menggangu jaringan.
Perbedaan Soft Fork dan Hard Fork
Soft Fork
Hard Fork
Aturan Semakin ketat (Contoh 2MB => 1Mb)
Aturan Semakin Longgar(Contoh 2MB => 3Mb)
Protokol baru masih kompatibel dengan protokol lama
Protokol baru tidak kompatibel dengan protokol lama
Node lama menerima blok baru
Node lama tidak menerima blok baru
Baik melalui soft fork ataupun hard fork, Tokocypto akan selalu menjadi keamanan dan kenyamanan pengguna untuk dapat bertransaksi pada aset kripto yang disediakan oleh Tokocypto. Untuk lebih mengenal kami lebih dalam, kunjungi Tokocrypto melalui sosial media dengan username @Tokocypto atau mengunjungi website kami di www.Tokocrypto.com