Tag: harga bitcoin

  • Investor Borong Bitcoin di Harga Diskon saat Timur Tengah Memanas


    Jakarta

    Harga Bitcoin melonjak di tengah memanasnya konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Lonjakan signifikan tercatat pada perdagangan hari ini, Kamis (5/3/2026), yang bergerak dari rentang harga US$ 68.513 atau sekitar Rp 1,15 miliar (asumsi kurs Rp 16.900) menjadi US$ 72.028 atau sekitar Rp 1,21 miliar.

    Sebelumnya, diketahui harga Bitcoin sempat terkoreksi di area US$ 66.000 atau sekitar Rp 1,11 miliar. Koreksi tersebut terjadi seiring dengan meningkatnya harga minyak mentah dunia ke level US$ 85 per barel imbas serangan AS terhadap Iran pada Sabtu (28/2) kemarin.

    Analis Tokocrypto, Fyqieh Fachrur menilai kembalinya harga kripto dipicu oleh meningkatnya kepercayaan investor ritel maupun institusional. Kondisi ini memperkuat fondasi pasar kripto di tengah momentum harga diskon.


    “Pergerakan Bitcoin yang cepat pulih setelah sempat terkoreksi menunjukkan bahwa minat beli investor masih aktif, khususnya di pasar spot. Koreksi ke area US$ 66.000 hingga US$ 67.000 justru dimanfaatkan sebagian pelaku pasar untuk melakukan akumulasi,” ujar Fyqieh dalam keterangan tertulis, Kamis (5/3/2026).

    Di samping itu, ia menyebut investor institusional juga mulai melakukan inflow pada produk investasi berbasis Bitcoin seperti ETF. Fyqieh mengatakan, tercatat ratusan juta dolar AS masuk ke produk ETF Bitcoin dalam beberapa hari terakhir.

    “Arus masuk dana ke ETF Bitcoin menjadi salah satu indikator bahwa minat investor institusional terhadap aset ini masih tinggi. Hal ini membantu menjaga likuiditas pasar dan memberikan dukungan terhadap harga ketika terjadi tekanan jangka pendek,” katanya.

    Meski begitu, Fyqieh mengatakan masih tercatat netflow di sejumlah bursa kripto besar dunia. Binance misalnya, mencatat netflow sekitar 13.500 Bitcoin sejak akhir Februari. Bahkan dalam satu hari, lebih dari 3.800 Bitcoin ditarik dari bursa Binance.

    Secara keseluruhan, tren netflow ini terjadi selama tujuh hari berturut-turut di berbagai bursa kripto utama. Namun menurut Fyqieh, tren ini menjadi sinyal sebagian investor memiliki pandangan jangka panjang terhadap Bitcoin.

    “Ketika netflow di bursa berubah menjadi negatif, biasanya itu mengindikasikan investor tidak berniat menjual dalam waktu dekat. Mereka memindahkan aset ke wallet pribadi sebagai bagian dari strategi penyimpanan jangka menengah atau panjang,” ungkapnya.

    Fyqieh mengingatkan, volatilitas pada aset Bitcoin masih berpotensi terjadi mengingat pasar global yang sensitif terhadap perkembangan geopolitik dan kebijakan ekonomi. Ia mengatakan, Bitcoin yang bergerak di level US$ 70.000 menjadi area teknikal penting untuk menjaga momentum pergerakan harga.

    “Selama Bitcoin mampu bertahan di atas area US$ 70.000, peluang untuk melanjutkan pergerakan menuju kisaran US$ 72.000 hingga US$ 74.000 masih terbuka. Level tersebut menjadi area yang cukup penting untuk menjaga momentum pasar,” imbuhnya.

    (ara/ara)



    Sumber : finance.detik.com

  • Biang Kerok Harga Bitcoin Anjlok


    Jakarta

    Harga Bitcoin mengalami penurunan ke level US$ 70.000 atau Rp 1,18 miliar (kurs Rp 16.928/dolar AS). Penurunan nilai aset digital ini didorong oleh hasil pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) yang menunjukkan sinyal arah kebijakan moneter Amerika Serikat (AS) yang masih cenderung ketat.

    Sebelumnya, Bitcoin sempat mengkuat mendekati US$ 76.000 atau Rp 1,28 miliar pada perdagangan Selasa (17/3) pekan lalu, didorong arus dana institusional ke spot Bitcoin ETF sebesar US$ 199,37 juta hingga sesi ketujuh berturut-turut, dengan total arus masuk selama tujuh hari mencapai US$ 1,16 miliar.

    “Hal ini menunjukkan minat investor besar yang masih terjaga meski pasar mengalami volatilitas. Namun, setelah pertemuan FOMC, para investor melakukan penyesuaian yang mempengaruhi pergerakan harga, tercermin dari koreksi sekitar 7-8%,” kata Vice President INDODAX, Antony Kusuma, dalam keterangan tertulis, Sabtu (21/3/2026).


    “Keputusan FOMC yang mempertahankan suku bunga acuan serta revisi naik proyeksi inflasi menunjukkan arah kebijakan The Fed yang masih cenderung hawkish. Pasar pun menangkap sinyal bahwa inflasi belum turun secepat harapan, sehingga likuiditas ke aset berisiko seperti kripto menjadi lebih terbatas. Namun, ini merupakan bagian dari penyesuaian pasar terhadap dinamika ekonomi global yang terus berkembang,” sambungnya.

    Belum lagi menurutnya pergerakan ini turut dipengaruhi oleh faktor makroekonomi, termasuk revisi kenaikan inflasi AS menjadi sekitar 2,7% serta suku bunga yang bertahan di kisaran 3,50%-3,75%.

    Dalam hal ini Gubernur The Federal Reserve (Bank Sentral AS) Jerome Powell menyampaikan penurunan suku bunga di AS akan sangat bergantung pada perkembangan inflasi, di tengah ketidakpastian akibat konflik di Timur Tengah dan kenaikan harga energi. Membuat minat investasi akan aset digital ini menjadi terbatas.

    “Kondisi ini membuat peluang penurunan suku bunga dalam waktu dekat menjadi lebih terbatas, sehingga mempengaruhi minat terhadap aset berisiko, termasuk kripto,” paparnya.

    Pada akhirnya, Antony berpendapat pergerakan aset kripto Bitcoin saat ini berada di kisaran US$ 70.000, dengan area US$ 70.000-72.000 menjadi level support penting yang dicermati oleh investor.

    “Selama level ini mampu bertahan, pergerakan harga berpotensi tetap stabil dalam jangka pendek, didukung oleh arus masuk dana institusional yang membantu menyerap tekanan jual. Namun jika harga melewati level support ini, penyesuaian harga berpotensi berlanjut ke level yang lebih rendah,” jelasnya.

    Antony menambahkan pada kondisi pasar saat ini, sentimen pasar cenderung dipengaruhi oleh faktor makroekonomi. Namun bagi investor, fase koreksi dan konsolidasi seperti ini dapat dimanfaatkan untuk menata kembali strategi investasi secara lebih bijak dengan manajemen risiko yang tepat dan fokus jangka panjang

    “Sejalan dengan dinamika ini, INDODAX menegaskan komitmennya untuk terus menyediakan ekosistem perdagangan aset kripto yang aman, transparan, dan mudah diakses oleh seluruh member. INDODAX juga aktif mendorong literasi dan edukasi masyarakat melalui INDODAX Academy, agar pengguna memahami risiko investasi dan pentingnya riset mandiri (DYOR),” ujar Antony.

    “Selain itu, penerapan strategi seperti Dollar Cost Averaging (DCA) menjadi salah satu pendekatan yang dapat membantu investor menghadapi volatilitas pasar dengan lebih disiplin, Lewat edukasi yang berkelanjutan, INDODAX mengajak masyarakat untuk tetap rasional, bertanggung jawab, dan berorientasi jangka panjang dalam menyikapi peluang di pasar kripto,” pungkasnya.

    (igo/hns)



    Sumber : finance.detik.com . Diterbitkan pada :