Tag: hikmah

  • Kisah Istri Nabi Ibrahim, Wanita Pilihan yang Lahirkan Para Nabi


    Jakarta

    Nabi Ibrahim AS memiliki dua istri yang bernama Siti Sarah dan Siti Hajar. Mereka merupakan wanita yang dipilih Allah SWT untuk melahirkan para nabi.

    Dari istri keduanya, Siti Hajar, lahirlah anak pertama Nabi Ibrahim AS yang diberi nama Ismail AS. Sedangkan dari istri pertamanya, Siti Sarah, ia dikaruniai putra kedua yang bernama Ishaq AS ketika usianya sudah cukup tua.

    Sosok Sarah Istri Nabi Ibrahim yang Pertama

    Diceritakan dalam buku Sejarah Terlengkap 25 Nabi oleh Rizem Aizid, Nabi Ibrahim AS bersama istri pertamanya semula hidup di Babilonia, Irak. Sarah merupakan wanita yang sangat cantik, tidak hanya secara fisik tetapi juga secara akhlak dan budi pekerti.


    Sarah begitu patuh dengan sang suami dan mengikuti risalahnya untuk beriman kepada Allah SWT. Suatu hari, Sarah mendapat cobaan ketika ia masuk ke Mesir sebab kecantikannya itu.

    Kecantikan Sarah yang mengagumkan membuat penguasa Mesir, Raja Firaun, ingin mempersuntingnya sebagai selir. Akan tetapi, kekukuhan iman Sarah doa-doanya yang begitu tulus akhirnya membuatnya lepas dari godaan raja. Bahkan, ia diminta oleh raja Mesir untuk pulang dan diberi hadiah seorang budak bernama Hajar.

    Tahun demi tahun berjalan, Sarah yang sudah semakin tua tak kunjung dikaruniai keturunan oleh Allah SWT. Atas petunjuk dari Allah SWT, sarah kemudian dengan ikhlas menawarkan suaminya untuk menikah dengan Hajar agar diberi keturunan.

    Ia berkata kepada suaminya, “Hai suamiku, hai kekasih Allah, inilah Hajar, aku berikan kepadamu. Mudah-mudahan Allah memberi anak keturunan kepada kita darinya.”

    Akhirnya, Nabi Ibrahim AS pun menikah dengan Siti Hajar. Keduanya dikaruniai putra pertama yang diberi nama Ismail.

    Kecemburuan Sarah setelah Kelahiran Ismail

    Imam Ibnu Katsir mengisahkan dalam buku Qashash Al-Anbiyaa, ketika Siti Hajar melahirkan putra pertama Nabi ibrahim AS yang bernama Ismail, kecemburuan Sarah terhadapnya semakin membara. Sarah kemudian meminta Nabi Ibrahim AS untuk menyingkirkan Siti Hajar dari pandangannya.

    Nabi Ibrahim AS lalu membawa Siti Hajar dan bayi Ismail keluar dari rumah mereka untuk meringankan kecemburuan Sarah. Mereka berjalan sampai di sebuah tempat yang kini dikenal sebagai Kota Makkah.

    Setelah menemukan tempat tersebut, Nabi Ibrahim AS pun berniat kembali dan melihat keadaan Sarah yang mengalami guncangan. Siti Hajar yang merasa asing dengan tempat tersebut pun memegangi baju Nabi Ibrahim agar ia tidak meninggalkannya.

    “Wahai Ibrahim, hendak ke mana kah kamu pergi, apakah kamu tega meninggalkan kami di sini, kami tidak kenal dengan lingkungan ini.”

    Nabi Ibrahim AS hanya terdiam menjawabnya. Lantas Siti Hajar bertanya kembali, “Apakah Allah memerintahkanmu untuk berbuat seperti ini?”

    Nabi Ibrahim AS menjawab, “Benar.” Selanjutnya Siti Hajar dengan ikhlas berkata, “Baiklah kalau demikian adanya, kamu boleh pergi sekarang, karena jika Allah yang menghendaki, maka Dia tidak akan menyia-nyiakan kami.”

    Setelah cukup jauh berjalan, Nabi Ibrahim AS berbalik ke belakang dan melihat tempat yang ditinggalkannya dari kejauhan. Ia kemudian mengangkat tangannya seraya berdoa:

    رَّبَّنَآ إِنِّىٓ أَسْكَنتُ مِن ذُرِّيَّتِى بِوَادٍ غَيْرِ ذِى زَرْعٍ عِندَ بَيْتِكَ ٱلْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ فَٱجْعَلْ أَفْـِٔدَةً مِّنَ ٱلنَّاسِ تَهْوِىٓ إِلَيْهِمْ وَٱرْزُقْهُم مِّنَ ٱلثَّمَرَٰتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ

    Artinya: “Ya Tuhan, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, Ya Tuhan (yang demikian itu) agar mereka melaksanakan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah mereka rezeki dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.” (QS Ibrahim: 37)

    Siti Hajar yang telah ditinggalkan oleh Nabi Ibrahim AS pun tetap memberikan asi kepada anaknya, sedangkan air yang ada digunakan untuk diminum olehnya. Namun, semakin lama air itu pun habis hingga membuat ia dan anaknya kehausan sebab air susunya pun telah mengering.

    Siti Hajar kemudian memutuskan untuk pergi dari tempat itu dan mencari air minum, sebab tak kuasa mendengar anaknya yang terus menangis.

    Perjalanan Siti Hajar di Bukit Shafa-Marwah hingga Munculnya Air Zamzam

    Dalam kepergiannya, Siti Hajar tiba di Bukit Shafa, bukit yang paling dekat dengan tempat peristirahatannya. Ia berdiri di atas bukit dan memandang sekelilingnya untuk mencari seseorang yang bisa membantunya, tetapi ia tidak menemukan siapa pun.

    Selanjutnya Siti Hajar turun dari bukit itu hingga sampai di Bukit Marwah dan menaikinya. Namun, lagi-lagi ia tidak menemukan seorangpun yang bisa membantunya. Siti Hajar terus mencoba untuk berjalan pulang pergi dari Bukit Shafa ke Bukit Marwah sampai tujuh kali perjalanan.

    Disebutkan dalam buku Sejarah Ibadah oleh Syahruddin El-Fikri, saat kali ketujuh sampai di Bukit Marwah, tiba-tiba Siti Hajar mendengar suara yang mengejutkan. Alangkah kagetnya mengetahui bahwa suara itu berasal dari air yang memancar dari dalam tanah dengan derasnya di bawah telapak kaki Ismail.

    Sumber air yang memancar tersebut hingga saat ini dikenal sebagai sumur Zamzam. Di lokasi ini pula, Siti Hajar mendengar suara malaikat Jibril yang berkata kepadanya, “Jangan khawatir, di sini Baitullah (rumah Allah) dan anak ini (Ismail) serta ayatnya akan mendirikan rumah itu nanti. Allah tidak akan menyia-nyiakan hamba-Nya.”

    Dari air zamzam yang terus mengalir, Siti Hajar dan Ismail mampu meneruskan kehidupannya. Sementara itu, Nabi Ibrahim AS kembali menjalani kehidupannya dengan Siti Sarah. Hingga saat usia keduanya sudah sangat tua, malaikat datang ke rumahnya dan memberi kabar gembira.

    فَبَشَّرْنَٰهَا بِإِسْحَٰقَ وَمِن وَرَآءِ إِسْحَٰقَ يَعْقُوبَ

    Artinya: “Maka kami sampaikan kepadanya berita gembira tentang (kelahiran) Ishaq, dan dari Ishaq (akan lahir putranya), Ya’qub.” (QS Hud: 71).

    Peristiwa itu menunjukkan bentuk kebesaran Allah SWT. Istri Nabi Ibrahim AS yang pertama ini dikaruniai putra di usia yang sudah tidak muda lagi, yakni 90 tahun. Wallahu a’lam.

    (kri/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Nabi Nuh AS Berdakwah pada Bani Rasib, Tetap Sabar Meski Dicemooh



    Jakarta

    Nabi Nuh AS termasuk ke dalam satu dari 25 nabi dan rasul yang wajib diketahui oleh kaum muslimin. Nama lengkapnya adalah Nuh bin Laamik bin Mutawasylikh bin Khanuuh (Idris) bin Yarid bin Mahlaabil bin Qaniin bin Anusy bin Syiits bin Adam AS.

    Ibnu Katsir dalam Kitab Qashashul Anbiya menyebut Nabi Nuh AS lahir 146 tahun setelah Nabi Adam AS meninggal dunia. Nuh AS diutus kepada kaum Bani Rasib untuk mengajak mereka ke jalan yang benar.

    Kala itu, kaum Nabi Nuh AS menyembah berhala yang mana merupakan patung-patung orang saleh. Tindakan itu tergolong menyekutukan Allah SWT.


    Bani Rasib menjadikan Wadd, Suwa’, Yaghuts, Ya’uq, dan Nasr, anak-anak Adam yang saleh, dengan meminta keberkahan dan rezeki dari mereka.

    Allah SWT berfirman dalam surah Al Ankabut ayat 14,

    وَلَقَدْ اَرْسَلْنَا نُوْحًا اِلٰى قَوْمِهٖ فَلَبِثَ فِيْهِمْ اَلْفَ سَنَةٍ اِلَّا خَمْسِيْنَ عَامًا ۗفَاَخَذَهُمُ الطُّوْفَانُ وَهُمْ ظٰلِمُوْنَ ١٤

    Artinya: “Sungguh, Kami benar-benar telah mengutus Nuh kepada kaumnya, lalu dia tinggal bersama mereka selama seribu tahun kurang lima puluh tahun. Kemudian, mereka dilanda banjir besar dalam keadaan sebagai orang-orang zalim.”

    Nabi Nuh AS berdakwah selama 950 tahun. Ia melakukan segala cara agar kaumnya dapat kembali ke jalan yang benar dan menyembah Allah SWT.

    Sayangnya, tidak sedikit kaum Nuh AS yang justru menentang dakwahnya. Merasa putus asa, Nabi Nuh AS lalu berdoa kepada Allah SWT seperti tercantum dalam surah Asy Syu’ara ayat 117-118,

    قَالَ رَبِّ اِنَّ قَوْمِيْ كَذَّبُوْنِۖ ١١٧ فَافْتَحْ بَيْنِيْ وَبَيْنَهُمْ فَتْحًا وَّنَجِّنِيْ وَمَنْ مَّعِيَ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ ١١٨

    Artinya: “Dia (Nuh) berkata, “Wahai Tuhanku, sesungguhnya kaumku telah mendustakanku. Maka, berilah keputusan antara aku dan mereka serta selamatkanlah aku dan orang-orang mukmin bersamaku.”

    Akhirnya, Allah SWT memerintahkan sang nabi untuk membuat perahu besar atau bahtera untuk menyelamatkan Nuh AS beserta pengikutnya dari azab yang hendak Allah turunkan. Ketika membuat bahtera itu, Nabi Nuh AS tak henti-hentinya diejek dan dicemooh oleh Bani Rasib.

    Meski demikian, Nuh AS tidak pernah berkecil hati dan semakin giat membangun kapal tersebut. Setelah bahtera itu rampung, Allah SWT menepati janji-Nya.

    Bahtera yang besar itu juga diisi oleh hewan-hewan, tidak hanya kaum muslimin. Lalu, Allah SWT menurunkan hujan dari langit yang sangat dahsyat selama 40 hari 40 malam. Dia juga memerintahkan bumi untuk mengeluarkan air dari segala penjuru hingga permukaan bumi tertutup oleh air.

    Saking besarnya banjir tersebut, dianalogikan seperti gulungan air yang bertabrakan juga naik ke atas sehingga membentuk gunung. Perahu itu terombang-ambing oleh air yang menenggelamkan orang-orang kafir.

    Ketika Nabi Nuh memandangi banjir tersebut, beliau melihat anaknya, Kan’aan dan berkata, “Wahai anakku, berimanlah kepada Allah. Naiklah ke atas perahu ini sebelum kamu ditelan oleh gelombang air itu, dan ikut binasa bersama orang-orang kafir itu.”

    Kan’aan menjawab seperti dalam Surah Hud ayat 43, “Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari air bah!”

    Nuh berkata lagi sesuai dalam Surah Hud ayat 43, “Tidak ada yang melindungi hari ini dari azab Allah selain Allah (saja) yang Maha Penyayang.”

    Setelah berbulan-bulan berlayar di atas perahu besar itu, Allah SWT lalu menyurutkan air yang terus turun dari langit. Banjir bandang tersebut telah usai.

    Orang-orang kafir termasuk anak Nabi Nuh AS, Kan’an binasa dalam azab tersebut. Naudzubillah min dzaalik.

    (aeb/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Seorang Penggembala Jujur yang Digoda Ibnu Umar



    Jakarta

    Dalam kitab ‘Uyunul Hikayat karya Imam Ibnu Jauzi, terdapat kisah menarik antara Abdullah bin Umar dengan seorang penggembala kambing. Di mana, Ibnu Umar menggoda penggembala tersebut yang sedang melintas di depannya.

    Kisah ini disampaikan oleh Abdul Aziz, yang diperolehnya dari Nafi’. Mengutip buku berjudul 500 Kisah Orang Saleh Penuh Hikmah yang ditulis oleh Imam Ibnul Jauzi, begini ceritanya.

    Pada suatu hari, Abdullah bin Umar dan sahabat-sahabatnya pergi ke pinggiran kota Madinah. Saat beristirahat dan makan, mereka bertemu dengan seorang penggembala yang sedang melintas.


    Ketika berjumpa dengan penggembala tersebut, Ibnu Umar mengundangnya untuk bergabung dan makan bersama.

    “Silakan bergabung, mari makan bersama kami,” ajak Ibnu Umar kepada penggembala yang tengah melintas.

    “Terima kasih, tapi saya sedang puasa,” jawab si penggembala singkat.

    Ibnu Umar kagum melihat penggembala tersebut. Bisa-bisanya ia tetap menjalankan ibadah puasa di tengah terik matahari.

    “Di hari yang begitu panas seperti ini, di tengah perbukitan sambil menggembala kambing, engkau masih tetap berpuasa?” tanya Ibnu Umar.

    “Waktu berlalu dengan cepat, saya tidak ingin menyia-nyiakannya,” kata penggembala itu.

    Ibnu Umar kemudian menawarkan kepada penggembala untuk menjual salah satu kambingnya. Nantinya, sebagian dari daging tersebut akan ia bagikan untuk si penggembala sebagai bekal berbuka puasa.

    Namun si penggembala enggan untuk menjualnya. Sebab kambing tersebut bukanlah miliknya.

    “Mereka bukanlah milikku, melainkan milik majikanku,” jawab si penggembala menolak tawaran Ibnu Umar.

    Kemudian Ibnu Umar mencoba untuk menggoda penggembala tersebut. Ia mengajarkan si penggembala untuk berbohong jika ditanya oleh majikannya ke mana satu ekor kambingnya yang hilang.

    “Mudah, katakan saja pada majikanmu bahwa salah satu kambingnya dimakan oleh serigala,” kata Ibnu Umar.

    Jawaban si penggembala cukup mencengangkan. Ia sama sekali tidak tergoda oleh rayuan Ibnu Umar.

    “Namun, di mana Allah berada?” jawab penggembala dengan tegas meyakinkan Ibnu Umar bahwa Allah selalu mengawasi hamba-Nya.

    Tak lama kemudian, penggembala itu melanjutkan perjalanannya. Ia meninggalkan Ibnu Umar yang sedang beristirahat bersama kawan-kawannya.

    Setelah kembali ke Madinah, Umar menemui majikan penggembala yang ternyata adalah seorang hamba sahaya. Ibnu Umar lalu membeli kambing-kambingnya.

    Namun, tak hanya itu, Ibnu Umar juga memerdekakan penggembala tersebut dan memberikannya kambing-kambing yang baru saja dibelinya.

    Berkat sebuah kejujuran, si penggembala akhirnya memperoleh kambing yang berlimpah dan mendapatkan kemerdekaan. Seandainya penggembala itu mau menjual kambingnya saat pertama kali bertemu dengan Ibnu Umar, ia mungkin akan tetap menjadi budak dan hanya menerima bayaran seharga satu kambing beserta sepotong daging.

    Wallahu a’lam.

    (hnh/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Nabi Hud AS dan Binasanya Kaum Ad Penyembah Berhala



    Jakarta

    Nabi Hud AS adalah satu dari 25 nabi dan rasul yang wajib diketahui dalam Islam. Ia diutus untuk berdakwah pada kaum Ad.

    Kaum Ad adalah penduduk kabilah Iram, mereka tinggal di sekitar Gunung Ram, 25 mil dari kota Aqabah yang letaknya di antara Yaman dan Oman, sampai Hadramaut dan As-Syajar seperti dinukil dari buku Mutiara Hikmah Kisah 25 Rasul tulisan Dhurorudin Mashad.

    Hud AS adalah putra dari Abdullah bin Ribah bin Khulud bin Ad nin Aus bin Irim bin Syam bin Nuh. Letak daerah tempat diutusnya Nabi Hud terkenal dengan tanahnya yang subur, aliran sungai melimpah, dan hewan ternak yang sehat.


    Meski dengan anugerah yang dikaruniai Allah SWT itu, kaum Ad justru mengingkari Sang Khalik. Mereka menyembah berhala dan tidak mengenal Allah sebagai Tuhan mereka.

    Kisah mengenai Nabi hud AS yang berdakwah menyerukan ajaran Allah SWT itu tercantum dalam surah Hud ayat 52,

    وَيَٰقَوْمِ ٱسْتَغْفِرُوا۟ رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوٓا۟ إِلَيْهِ يُرْسِلِ ٱلسَّمَآءَ عَلَيْكُم مِّدْرَارًا وَيَزِدْكُمْ قُوَّةً إِلَىٰ قُوَّتِكُمْ وَلَا تَتَوَلَّوْا۟ مُجْرِمِينَ

    Artinya: “Dan (dia berkata): “Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu, dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa.”

    Sayangnya, kaum Ad sama sekali tidak menghiraukan seruan sang nabi. Mereka tetap menyembah berhala-berhala hingga menuduh Hud AS sebagai orang gila.

    Ingkarnya kaum Ad itu membuat Allah SWT murka. Atas kuasa-Nya, nikmat yang dilimpahkan pada kaum Ad dicabut, mereka mengalami kekeringan yang panjang.

    Tak sampai di situ, situasi semakin parah hingga menyebabkan hasil pertanian mereka gagal karena keringnya sumber air. Para penduduk kaum Ad kelaparan.

    Nabi Hud AS tak henti-hentinya menyerukan dakwah pada kaum Ad di situasi yang serba sulit itu. Ia mengajak kaum Ad untuk kembali ke jalan Allah SWT.

    Mirisnya, masih banyak penduduk kaum Ad yang enggan menggubris seruan sang nabi hingga azab dari Allah SWT pun turun,

    وَٱذْكُرْ أَخَا عَادٍ إِذْ أَنذَرَ قَوْمَهُۥ بِٱلْأَحْقَافِ وَقَدْ خَلَتِ ٱلنُّذُرُ مِنۢ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِۦٓ أَلَّا تَعْبُدُوٓا۟ إِلَّا ٱللَّهَ إِنِّىٓ أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيمٍ

    Artinya: “Dan ingatlah (Hud) saudara kaum ‘Aad yaitu ketika dia memberi peringatan kepada kaumnya di Al Ahqaaf dan sesungguhnya telah terdahulu beberapa orang pemberi peringatan sebelumnya dan sesudahnya (dengan mengatakan): “Janganlah kamu menyembah selain Allah, sesungguhnya aku khawatir kamu akan ditimpa azab hari yang besar.” (QS Al Ahqaf: 21)

    Adapun, azab yang ditimpakan pada kaum Ad adalah angin yang dingin dan kencang hingga berputar untuk membinasakan mereka selama tujuh hari tujuh malam. Azab itu mengakibatkan kaum Ad lenyap, mayat mereka berserakan ditutupi pasir.

    Allah SWT berfirman dalam surah Al Haqqah ayat 6-7,

    وَأَمَّا عَادٌ فَأُهْلِكُوا۟ بِرِيحٍ صَرْصَرٍ عَاتِيَةٍ

    Artinya: “Adapun kaum ‘Aad maka mereka telah dibinasakan dengan angin yang sangat dingin lagi amat kencang.” (QS Al Haqqah: 6)

    سَخَّرَهَا عَلَيْهِمْ سَبْعَ لَيَالٍ وَثَمَٰنِيَةَ أَيَّامٍ حُسُومًا فَتَرَى ٱلْقَوْمَ فِيهَا صَرْعَىٰ كَأَنَّهُمْ أَعْجَازُ نَخْلٍ خَاوِيَةٍ

    Artinya: “yang Allah menimpakan angin itu kepada mereka selama tujuh malam dan delapan hari terus menerus; maka kamu lihat kaum ‘Aad pada waktu itu mati bergelimpangan seakan-akan mereka tunggul pohon kurma yang telah kosong (lapuk).” (QS Al Haqqah: 7)

    Riwayat lain menyebut, azab pusaran angin itu sama sekali tidak terasa bagi Hud AS dan pengikutnya yang beriman. Mereka hanya merasa angin segar dan nyaman saja yang menyentuh kulit.

    (hnh/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Hijrahnya Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah



    Jakarta

    Peristiwa hijrahnya Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah dimaksudkan untuk menyebarluaskan ajaran Islam. Dalam berhijrah, banyak tantangan yang dilalui oleh sang rasul.

    Dalam buku Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad Volume 1 yang disusun oleh Moenawar Khalil, ketika di Makkah pun sang nabi berdakwah dan bertabligh selama 10 tahun pada penduduk asli Makkah.

    Mengutip Kisah Nabi Muhammad SAW oleh Ajen Dianawati, setelah berlangsungnya peristiwa Isra Mi’raj dan Nabi SAW kembali ke Makkah, banyak pengikutnya yang tidak mempercayai beliau. Bahkan, banyak yang memilih untuk murtad dan menganggap Rasulullah SAW gila.


    Lain halnya dengan Abu Bakar yang justru percaya dan selalu membenarkan perkataan sang nabi. Kebencian kaum kafir Quraisy terhadap Rasulullah SAW semakin memuncak, mereka tak segan menghentikan sang nabi dengan iming-iming harta.

    Meski begitu, usahanya gagal. Mereka tidak dapat menghentikan Rasulullah SAW dalam mensyiarkan agama Islam.

    Tak kenal lelah menghentikan Nabi Muhammad SAW, kaum kafir Quraisy semakin kejam terhadap beliau dan para pengikutnya. Mereka bahkan tak segan mengusir kaum muslimin dari kota Makkah dengan harapan Rasulullah SAW berubah pikiran.

    Sikap keji kaum kafir Quraisy inilah yang menyebabkan Nabi SAW untuk membawa kaum muslimin untuk hijrah ke Madinah. Perjalanan tersebut mereka lakukan secara sembunyi-sembunyi.

    Anif Sirsaeba dalam bukunya Agar Kekayaan Dilipatkan dan Kemiskinan Dijauhkan juga menceritakan bagaimana kejamnya kaum kafir Quraisy kepada Rasulullah SAW beserta dengan para pengikutnya.

    Kaum kafir Quraisy juga mengancam akan membunuh dan mencincang hidup-hidup Nabi Muhammad SAW beserta dengan pengikutnya. Tak hanya itu, mereka juga diboikot dalam perniagaan dan perdagangan. Hingga membuat para pengikut Rasulullah SAW mengalami kesulitan dan tidak memiliki apa-apa.

    Mereka tak bisa berbuat apa-apa selain memasrahkan nasib dan keberlangsungan hidup kepada Allah SWT. Hingga pada akhirnya, Rasulullah SAW melakukan hijrah dari tanah kelahirannya menuju Kota Madinah atas dasar perintah Allah SWT.

    Allah SWT berfirman dalam surah Al Baqarah ayat 218,

    اِنَّ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَالَّذِيْنَ هَاجَرُوْا وَجَاهَدُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ ۙ اُولٰۤىِٕكَ يَرْجُوْنَ رَحْمَتَ اللّٰهِ ۗوَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ ٢١٨

    Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman serta orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

    Maka Rasulullah SAW beserta seluruh pengikutnya pun menuruti perintah Allah SWT. Mereka meninggalkan rumah dan kampung halaman serta mengumpulkan sisa-sisa kekayaan yang mereka miliki untuk diinfakkan dalam jalan Allah SWT.

    Ketika mereka benar-benar telah hijrah di jalan-Nya, maka semakin dilimpahkan rezeki kepada mereka. Di Madinah kehidupan dan dakwah mereka semakin membesar bahkan kesuksesan, kemakmuran, keberhasilan, dan kejayaan mereka tersiar hingga ke Makkah.

    Saat di Madinah pun, kedatangan sang rasul dan kaum muslimin disambut baik oleh penduduk Madinah. Dalam buku Kisah Teladan Sepanjang Zaman: Rasullullah dan Para Sahabat karya Syaikh Muhammad Yusuf, orang yang pertama kali melihat kedatangan Rasulullah SAW adalah seorang Yahudi.

    Pada saat itu orang Yahudi tersebut melihat kedatangan mereka dari atap rumahnya, setelah itu ia langsung berteriak keras memanggil penduduk Madinah untuk memberitahukan mengenai kedatangan Rasulullah SAW.

    Penduduk Madinah pun segera keluar dan pergi ke batas kota untuk menyambut kedatangan mereka. Namun, orang-orang belum pernah melihat wujud dari Rasulullah SAW.

    Pada saat itu kaum Anshar langsung mendatangi dan menyalami Abu Bakar RA, karena mereka mengira Abu bakar RA adalah Rasulullah SAW.

    Al Baihaqi telah meriwayatkan dalam Al-Bidayah: 3/197, dari Aisyah RA mengatakan, “Ketika Rasulullah dan Abu Bakar tiba di kota Madinah, saking bahagianya penduduk di sana banyak kaum wanita dan anak-anak membacakan syair:

    “Telah muncul bulan purnama ke atas kami yang datang dari bukit, Tsaniyatil Wada’, wajib bersyukur atas kami dan atas ajakanya kepada Allah.”

    (aeb/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Peristiwa Perang Tabuk, Pertempuran di Kala Masa Sulit Kaum Muslimin



    Jakarta

    Perang Tabuk terjadi pada bulan Rajab. Pertempuran ini menjadi yang terakhir diikuti oleh Nabi Muhammad SAW.

    Tabuk sendiri adalah sebutan untuk tempat yang terletak antara Wadil Qura dan Syam. Perang Tabuk juga disebut Ghazwah Al-Usrah yang bermakna Perang Kesulitan.

    Menukil Sirah Nabawiyah susunan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, latar belakang terjadinya Perang Tabuk adalah keinginan Rasulullah SAW menyerang Romawi sebagai kekuatan militer terbesar di muka bumi pada masa itu, sehingga ajaran Islam dapat meluas. Keinginan sang Rasul muncul setelah dibunuhnya Al-Harits bin Umair di tangan Syuhrabil bin Amr Al-Ghasaani ketika Al-Harits membawa surat yang ditujukan kepada pemimpin Bushra.


    Nabi Muhammad SAW mengirimkan satuan pasukan yang dipimpin oleh Zaid bin Haritsah yang nantinya bertempur dengan pasukan Romawi dalam peperangan besar dan meninggalkan pengaruh bagi bangsa Arab. Ketika Rasulullah memerintahkan kaum muslimin bersiap menyerang Romawi, keadaan mereka sedang dalam masa sulit.

    Dikutip dari buku Perang Hunain dan Perang Tabuk yang diterjemahkan oleh Muhammad Ridha dan H. Anshori Umar Sitanggal Abu Farhan, dijelaskan bahwa Perang Tabuk terjadi pada bulan Rajab tahun ke-9 H. Dalam kalender Masehi diperkirakan terjadi antara bulan September-Oktober 630 M.

    Rasulullah SAW memerintahkan kaum muslimin untuk mempersiapkan perbekalan dan menganjurkan umat Islam yang kaya untuk berinfak membiayai jihad di jalan Allah SWT.

    Ketika Rasulullah hendak berangkat ke medan perang, cuaca terasa amat panas dan musim itu musim paceklik.

    Rasulullah SAW tidak menggunakan metode tauriyah (sindiran) lagi mengenai tujuan keberangkatan, seperti yang biasa beliau lakukan pada peperangan sebelumnya. Kali ini beliau menjelaskan kepada para sahabatnya bahwa beliau hendak menghadapi bala tentara Romawi.

    Begitu panasnya udara saat peristiwa Perang Tabuk, orang-orang menyembelih unta, lalu meminum air dalam kantong di perut kecilnya. Itulah sebabnya perang ini disebut juga Ghazwah Al-Usrah, yakni perang yang dilakukan dalam masa kesulitan dan kesempitan.

    Kisah perang Tabuk dijelaskan dalam Al-Qur’an surah At-Taubah Ayat 117,

    لَّقَد تَّابَ ٱللَّهُ عَلَى ٱلنَّبِىِّ وَٱلْمُهَٰجِرِينَ وَٱلْأَنصَارِ ٱلَّذِينَ ٱتَّبَعُوهُ فِى سَاعَةِ ٱلْعُسْرَةِ مِنۢ بَعْدِ مَا كَادَ يَزِيغُ قُلُوبُ فَرِيقٍ مِّنْهُمْ ثُمَّ تَابَ عَلَيْهِمْ ۚ إِنَّهُۥ بِهِمْ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ

    Artinya: “Sesungguhnya Allah telah menerima taubat Nabi, orang-orang muhajirin dan orang-orang anshar yang mengikuti Nabi dalam masa kesulitan, setelah hati segolongan dari mereka hampir berpaling, kemudian Allah menerima taubat mereka itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada mereka.”

    Perang antara kaum Muslimin dan bangsa Romawi tersebut berhasil dimenangkan oleh kaum muslimin. Meski dalam keadaan yang sulit, mereka berhasil memenangkan peperangan tersebut.

    Setelah persiapan matang, pasukan muslim pun bergerak ke arah utara menuju Tabuk dengan membawa 30.000 prajurit, 10.000 lebih sedikit dibanding jumlah prajurit Romawi. Sekalipun begitu banyak sumbangan yang berhasil terkumpul, ternyata belum mencukupi untuk pasukan sebanyak itu.

    Meskipun telah mendatangi kawasan Tabuk, pihak musuh kemudian mengajak berdamai dengan membayar upeti. Dengan ini, kemenangan berada di pihak kaum Muslim, kendati tidak sampai terjadi pertempuran.

    Sejak peristiwa itu, pasukan muslim semakin digdaya karena berhasil mengalahkan imperium raksasa Romawi. Kabilah-kabilah Arab yang sebelumnya mendukung Romawi pun kini bergabung bersama pasukan muslim.

    (aeb/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Teladan Ali Bin Abi Thalib, Berani-Pemimpin yang Adil



    Jakarta

    Kehidupan Ali bin Abi Thalib RA penuh dengan keteladanan yang dapat ditiru oleh kaum muslimin. Bagaimana kisah teladan Ali bin Abi Thalib RA tersebut?

    Ali bin Abi Thalib RA adalah sepupu Nabi Muhammad SAW. Tepatnya, ia merupakan putra dari Abi Thalib, paman Rasulullah SAW. Pernyataan ini sebagaimana dituliskan oleh Abdul Syukur Al Azizi dalam bukunya yang berjudul Ali bin Abi Thalib RA.

    Selain menjadi kerabat terdekat Rasulullah SAW, Ali bin Abi Thalib RA juga merupakan menantu beliau, yakni suami dari Fatimah Az Zahra RA.


    Sepeninggal Rasulullah SAW, Ali bin Abi Thalib RA juga ditunjuk menjadi salah satu dari empat khalifah yang memimpin umat Islam. Tepatnya, ia adalah khalifah terakhir yang menggantikan khalifah Utsman bin Affan RA.

    Kisah Teladan Ali bin Abi Thalib RA

    Banyak hal yang bisa diteladani dari sosok yang sangat dekat dengan Rasulullah SAW ini. Keteladanan tersebut sudah detikHikmah rangkum dari sebuah buku karya Masan AF yang berjudul Pendidikan Agama Islam: Akidah Akhlak untuk Madrasah Tsanawiyah Kelas IX.

    1. Lebih Mementingkan Ilmu Pengetahuan daripada Harta

    Kisah teladan Ali bin Abi Thalib RA yang pertama adalah dirinya termasuk orang yang sangat cerdas dan selalu mementingkan ilmu pengetahuan daripada harta kekayaan.

    Saking cerdasnya Ali bin Abi Thalib RA, khalifah Abu Bakar RA, khalifah Umar RA, dan khalifah Utsman RA sering datang kepadanya untuk meminta pendapat dan bantuan untuk memecahkan sebuah masalah.

    Suatu hari, ada 10 orang yang terkenal pandai datang bertanya kepada Ali bin Abi Thalib RA, “Mana yang lebih baik antara pengetahuan dan kekayaan? Beri kami jawaban yang memuaskan dan berbeda untuk masing-masing kami.”

    Ali bin Abi Thalib RA menjawab bahwa pengetahuan lebih baik dari kekayaan. Ia juga berhasil memberikan jawaban memuaskan yang berbeda-beda untuk mereka.

    2. Teguh Pendirian dalam Beragama

    Kisah teladan Ali bin Abi Thalib RA ditunjukkan dari sikap teguh pendirian dalam beragama beliau yang tidak takut kepada siapa pun kecuali kepada Allah SWT dan rasul-Nya.

    Hal ini dibuktikan dengan kesediaan Ali bin Abi Thalib RA menggantikan Rasulullah SAW untuk tidur di kasur beliau ketika diburu oleh kafir Quraisy yang hendak membunuh beliau.

    Karena keberanian dan keteguhan hati Ali bin Abi Thalib RA akan Allah SWT, akhirnya Rasulullah SAW bisa lolos dari pembunuhan dan kejaran kaum kafirin.

    3. Bersikap Adil ketika Jadi Pemimpin

    Ali bin Abi Thalib RA terkenal sebagai seorang pemimpin yang adil. Hal ini ditunjukkan ketika ia melihat putrinya, Zainab memakai baju dan perhiasan yang mahal dari baitul mal.

    Ali bin Abi Thalib RA bersikap tegas kepada putrinya dengan memerintahkan ia segera mengembalikan harta tersebut ke baitul mal dan tidak mengulangi hal yang sama lagi.

    4. Tidak Pelit dan Bersikap Dermawan

    Keteladanan Ali bin Abi Thalib RA yang keempat adalah ia memiliki sifat dermawan dan tidak bakhil sama sekali.

    Meski Ali bin Abi Thalib RA tidak sekaya Abu Bakar RA atau Utsman bin Affan RA, tapi kekayaan hati beliau begitu besar. Ia berderma dengan hatinya dan ketulusannya.

    Rasa kasih sayangnya kepada orang yang tidak berdaya, orang-orang lemah serta fakir miskin begitu besar. Ketika beliau menyalurkan harta yang diambil dari baitul mal, maka yang ia utamakan adalah santunan untuk fakir miskin.

    5. Berani Membela Agama Allah SWT

    Kisah teladan Ali bin Abi Thalib RA yang terakhir adalah dirinya merupakan salah satu sahabat Rasulullah SAW yang terkenal dengan keberaniannya menghadapi musuh dan membela agama Islam.

    Dalam Perang Badar dan pertarungan perorangan, Ali bin Abi Thalib RA dengan keberaniannya melawan dan mengalahkan musuhnya. Begitu pula ketika Perang Uhud, dirinya berhasil mengalahkan orang paling kuat dari kaum kafirin, yaitu Abu Saad bin Abi Thalhah.

    Ketika Abu Saad sudah tidak berdaya akibat perlawanan dari Ali bin Abi Thalib RA, sahabat pemberani Rasulullah SAW ini justru menyarungkan kembali pedangnya dan tidak membunuhnya.

    Ketika ditanyai perihal ini, Ali bin Abi Thalib RA menjawab kepada muslimin, “Aku tidak tega melihat dia sudah tak berdaya, tiba-tiba saja aku merasa kasihan.”

    Dengan demikian menunjukkan bahwa walaupun Ali bin Abi Thalib RA adalah orang yang pemberani, ia tetap memiliki rasa kasih sayang yang tinggi.

    (dvs/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Rabiah Al Adawiyah, Wanita Cantik Bersuara Merdu yang Cinta kepada Allah



    Jakarta

    Kisah Rabiah Al Adawiyah tidak bisa dilewatkan ketika kita membahas tentang wanita solehah. Ceritanya begitu menarik dan inspiratif sebab ia tidak tertarik pada kehidupan duniawi.

    Rabiah Al Adawiyah adalah seorang wanita yang terkenal di dunia tasawuf. Dirinya banyak diketahui karena ia memilih untuk tidak menikah hingga akhir hayatnya demi beribadah dan mendekat kepada Allah SWT.

    Diambil dari arsip detikHikmah, Rabiah Al Adawiyah adalah seorang wanita yang lahir pada tahun 713 Hijriah di Basrah, Irak. Ia sudah menjadi sebatang kara setelah ditinggal orang tuanya wafat dan ketiga kakaknya yang juga wafat karena wabah kelaparan.


    Oleh sebab itu, Rabiah Al Adawiyah sudah harus hidup sendiri dan jauh dari masyarakat. Dirinya menghidupi diri sendiri dengan bekerja menjadi budak.

    Ketika ia punya waktu luang atau tidak sedang bekerja, maka ia memilih untuk menghabiskan waktunya untuk bermeditasi.

    Rabiah Al Adawiyah hidup dalam kemiskinan. Harta yang ia punya hanyalah sebuah tikar lusuh, sebuah periuk tanah, dan sebuah batu bata.

    Meski demikian, hidup Rabiah Al Adawiyah penuh dengan kemuliaan. Setiap hari, dia senantiasa berdzikir dan berdoa kepada Allah SWT tanpa mempedulikan urusan dunianya. Tujuannya hanya satu, yaitu surga-Nya yang amat dirindukan.

    Besarnya Cinta Rabiah Al Adawiyah kepada Allah SWT

    Rabiah Al Adawiyah begitu beriman dan bertakwa kepada Allah SWT. Takwanya bahkan sudah mencapai tahap cinta yang besar kepada Sang Khalik. Dirinya memilih dalam kesederhanaan, meskipun bisa hidup mewah mengandalkan parasnya yang cantik dan suaranya yang merdu.

    Dalam sebuah buku yang berjudul Rabiah Al Adawiyah karya Makrum Gharib disebutkan pernyataannya mengenai cintanya yang besar kepada Allah SWT bisa mengalahkan rasa takutnya kepada Dia.

    “Aku tidak menyembah Allah karena takut akan neraka, tidak juga karena mengharap surga. Jika aku menyembah-Nya karena takut neraka atau mengharap surga maka aku seperti buruh yang buruk yang bekerja karena rasa takut. Aku menyembah-Nya karena cinta dan rindu kepada-Nya.”

    Kecintaan Rabiah Al Adawiyah yang besar kepada Allah SWT ini biasa dikenal dengan istilah “mahabbah,” jelas Abrar M. Daud Faza dalam bukunya yang berjudul Moderasi Beragama Para Sufi.

    Bagi Rabiah Al Adawiyah, mahabbah adalah cinta yang besar yang dilandasi rasa iman yang sangat tulus dan ikhlas, sehingga mampu mengangkat harkat dan martabat manusia menuju Allah SWT.

    Mahabbah yang dimiliki Rabiah Al Adawiyah sudah memenuhi aspek makhluk dan Khalik. Ketika itu, dirinya bermunajat kepada Allah SWT dengan berbicara, “Tuhanku, akankah kau bakar kalbu yang mencintai mu oleh api neraka?”

    Tiba-tiba saja, ada sebuah suara yang menjawabnya dengan berkata, “Kami tidak akan melakukan itu. Janganlah engkau berburuk sangka kepada Kami.” Hal ini sebagaimana dinukil dari buku Risalah Al-Qusyairiyah.

    Mahabbah yang diajarkan oleh Rabiah Al Adawiyah menunjukkan betapa besarnya cintanya kepada Allah SWT sampai-sampai tidak ada perasaan benci sedikitpun kepada yang lainnya, baik alam maupun manusia.

    Semua hal yang berkaitan dengan Rabiah Al Adawiyah dipenuhi dengan cinta dan kasih atau mahabbah. Konsep mahabbahnya juga sangat berkaitan erat dengan konsep aulawiyah atau mendahulukan yang prioritas.

    Rabiah Al Adawiyah pasti mendahulukan sesuatu yang menjadi prioritas atau yang lebih penting. Salah satu contohnya adalah ketika ada dua pemuka agama yang kelaparan hendak bertamu ke rumah Rabiah Al Adawiyah.

    Di sana, keduanya sudah mendapati dua buah roti di atas meja. Mereka sudah senang akan segera mendapat roti tersebut. Namun, ternyata ada seorang pengemis datang untuk meminta makanan.

    Maka, Rabiah Al Adawiyah pun memberikan kedua roti tadi kepada si pengemis. Dua orang pemuka agama tadi kecewa karena tentunya mereka tidak jadi mendapat makanan.

    Lalu, ternyata ada seorang pelayan datang ke rumah Rabiah Al Adawiyah dengan membawa dua buah roti yang baru saja matang. Maka ia langsung memberikan roti itu kepada kedua tamunya.

    Tentunya, Rabiah Al Adawiyah memberikan roti kepada pengemis tadi bukan karena ingin mengecewakan tamunya. Namun, ia tahu mana yang lebih menjadi prioritas.

    (lus/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Pengangkatan Ali bin Abi Thalib sebagai Khalifah, Gantikan Utsman bin Affan



    Jakarta

    Ali bin Thalib adalah salah satu sahabat yang juga merupakan sepupu Rasulullah SAW. Nama lengkapnya adalah Ali bin Abi Thalib bin Abdul Mutalib bin Hasyim bin Abdul Manaf.

    Ali menjabat sebagai khalifah menggantikan Utsman bin Affan. Masa kekhalifahannya tidak lama karena hanya berjalan selama 5 tahun sebelum ia wafat.

    Menukil Pendidikan Agama Islam: Sejarah Kebudayaan Islam untuk Madrasah Tsanawiyah Kelas VII oleh Dr H Murodi MA, setelah Utsman bin Affan meninggal kaum muslimin merasa bingung seakan-akan kehilangan tokoh yang akan menggantikan beliau. Pada situasi itu, Abdullah bin Saba yang merupakan seorang pemimpin di Mesir mengusulkan agar Ali bin Abi Thalib diangkat sebagai khalifah.


    Usulan tersebut lantas disetujui oleh mayoritas masyarakat muslim kecuali mereka yang berada di sisi Muawiyah bin Abi Sufyan. Ali bin Abi Thalib mulanya menolak usulan tersebut dan tidak ingin menerima jabatan karena situasinya kurang tepat. Kala itu banyak terjadi kerusuhan di berbagai tempat.

    Menurutnya, situasi demikian harus diatasi terlebih dahulu sebelum membicarakan masalah kepemimpinan. Namun, para pengikutnya kian mendesak Ali bin Abi Thalib sehingga ia menerima tawaran tersebut dan menjabat sebagai khalifah pada 23 Juni 656 M.

    Sejak saat itu, Ali bin Abi Thalib menjadi khalifah menggantikan kedudukan Utsman bin Affan. Dijelaskan dalam buku Parlemen di Negara Islam Modern oleh Prof Dr Ali Muhammad Ash Shallabi, pada dasarnya pembaiatan Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah dilakukan oleh mayoritas masyarakat dan sebagian besar dari mereka memilih secara langsung .

    Masyarakat umum dan anggota dewan perwakilan berpartisipasi bersama-sama dalam pembaiatan tersebut. Alasannya karena Ali bin Abi Thalib menolak pembaiatan kecuali dilaksanakan di masjid secara terbuka dan di hadapan semua orang.

    Saat masa pemerintahan Ali bin Abi Thalib, ia meneruskan cita-cita Abu Bakar dan Umar bin Khattab. Selain itu, ia juga mengembalikan semua kekayaan yang diperoleh para pejabat melalui cara-cara yang tidak baik ke dalam perbendaharaan negara atau Baitul Mal.

    Kemudian, Ali bin Abi Thalib juga bertekad mengganti semua gubernur yang ia anggap tidak mampu memimpin dan tidak disenangi masyarakat. Ia mencopot jabatan gubernur Basrah dari tangan Abu Bakar bin Muhammad bin Amr dan digantikan oleh Utsman bin Hanif.

    Mengutip buku Sejarah Peradaban Islam karya Akhmad Saufi dan Hasmi Fadhilah, Ali bin Abi Thalib merupakan sosok pemimpin yang berakhlak baik. Ia sering berkeliling hanya untuk menantikan siapa saja yang menghampirinya untuk meminta bantuan atau bertanya.

    Suatu ketika, pada siang yang terik Ali tiba di pasar. Sang khalifah mengenakan dua lapis pakaian, gamis sebatas betis, sorban melilit tubuhnya, dan bertumpu pada sebatang tongkatnya. Ali berjalan menyusuri pasar untuk berdakwah, mengingatkan manusia agar senantiasa bertakwa pada Allah SWT dan melakukan transaksi jual beli dengan baik.

    Dirinya memiliki kebiasaan berjalan ke pasar seorang diri. Umumnya ia menasehati orang yang tersesat, menunjukkan arah pada orang yang kehilangan, menolong orang yang lemah, serta menasehati para pedagang dan penjual sayur.

    Meski masa kepemimpinannya sebagai khalifah cukup singkat, ada sejumlah prestasi yang Ali capai. Salah satunya ialah memajukan bidang ilmu bahasa.

    Khalifah Ali bin Abi Thalib memerintahkan Abu Aswad ad Duali untuk mengembangkan pokok-pokok ilmu nahwu, yaitu ilmu yang mempelajari tata bahasa Arab. Keberadaan ilmu nahwu diharapkan dapat membantu orang-orang non-Arab dalam mempelajari sumber utama agama Islam, yaitu Al-Qur’an dan hadits.

    Pada bidang pembangunan Ali juga berhasil membangun Kota Kuffah secara khusus. Mulanya, kota tersebut disiapkan sebagai pusat pertahanan oleh Mu’awiyah bin Abi Sofyan, namun pada akhirnya Kota Kuffah berkembang sebagai pusat ilmu tafsir, hadits, nahwu, dan ilmu pengetahuan lainnya.

    Ali bin Abi Thalib wafat pada Jumat, 17 Ramadhan tahun 40 Hijriah. Ia meninggalkan 33 anak yang terdiri atas 15 laki-laki dan 18 perempuan. Penyebab kematiannya ialah ditikam ketika hendak salat Subuh.

    (aeb/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Pemboikotan Kaum Quraisy terhadap Bani Hasyim



    Jakarta

    Nabi Muhammad SAW merupakan penutup para nabi bagi umat Islam. Selama menjalani tugasnya untuk menegakkan agama Islam, Nabi Muhammad menghadapi banyak tantangan.

    Pemboikotan kaum Quraisy terhadap Bani Hasyim menjadi salah satu tantangan besar yang dihadapi Rasulullah SAW.

    Pemboikotan Quraisy terhadap Bani Hasyim

    Dirangkum dari buku Sirah Nabawiyah karya Abul Hasan Ali al-Hasani an-Nadwi, Islam mulai tersebar di berbagai kabilah. Kaum Quraisy pun mengadakan pertemuan dan merencanakan untuk menulis surat kesepakatan untuk memboikot Bani Hasyim dan Bani Muthalib.


    Kaum Quraisy sepakat untuk tidak mengadakan pernikahan dan tidak melakukan jual beli dengan kedua kaum tersebut. Hasil pertemuan mereka ditulis dalam sebuah lembaran sebagai surat perjanjian yang akan dipatuhi bersama. Mereka menggantungkan surat tersebut di dalam Kakbah dalam rangka memperoleh legitimasi.

    Ketika pemboikotan dilaksanakan, Bani Hasyim dan Bani Muthalib berpihak kepada Abu Thalib. Mereka masuk bersama Abu Thalib ke dalam kelompok yang diboikot. Hal ini terjadi pada bulan Muharram tahun ke-7 dari kenabian.

    Sedangkan Abu Lahab bin Abdul Muthalib menyatakan keluar dari Bani Hasyim. Ia memilih bergabung dengan kaum Quraisy.

    Kaum Bani Hasyim yang bertahan harus merasakan kepayahan karena sempitnya blokade. Mereka memakan daun samur, anak-anak mereka kejang karena kelaparan, hingga tangisan mereka terdengar dari jauh.

    Mereka berada dalam pemboikotan selama tiga tahun. Rasulullah SAW tetap melakukan dakwah kepada kaumnya baik secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan. Kaum Bani Hasyim pun tetap bersabar dan mempertimbangkan segala sesuatunya.

    Rusaknya Kesepakatan dan Berakhirnya Pemboikotan

    Beberapa orang dari kaum Quraisy yang memiliki kedudukan dan rasa kesetiakawanan sosial yang tinggi beraksi. Di antara mereka yang menonjol adalah Hisyam bin ‘Amr bin Rabi’ah.

    Mereka beraksi karena jiwa mereka bertentangan dengan surat keputusan Quraisy. Mereka tidak setuju dengan surat yang bersifat menzhalimi tersebut.

    Hisyam adalah lelaki dari kaum Quraisy yang gandrung akan perdamaian. Ia memiliki kedudukan tinggi di kalangan kaumnya.

    Ia membangkitkan perasaan empati dan harga diri sebagai kaum laki-laki. Mereka yang berjumlah lima orang itu berkumpul dan sepakat untuk menghapuskan surat pemboikotan.

    Keesokan harinya saat kaum Quraisy berada di majelis pertemuan mereka, Zuhair bin Abi Umaiyah berkata, “Wahai penduduk Makkah! Apakah kita akan memakan makanan dan memakai pakaian, sedangkan Bani Hasyim dalam keadaan menderita, tidak boleh mengadakan hubungan jual beli dengan kita? Sungguh, aku tidak akan duduk hingga surat pemboikotan yang jahat itu hancur.”

    Abu Jahal yang hendak ikut campur dalam pembicaraan tersebut tidak diperkenankan. Kemudian al-Muth’im bin ‘Adi bangkit dan mendatangi surat pemboikotan itu untuk merobeknya.

    Namun al-Muth’im menemukan bahwa hampir seluruh surat pemboikotan tersebut telah dimakan rayap. Hanya kalimat “bismikallahumma” (dengan nama-Mu, ya Allah) yang tersisa.

    Ketika itu, Rasulullah SAW telah mengetahui hal tersebut dan memberitahukannya kepada Abu Thalib. Maka, lembaran surat tersebut dihancurkan dan seluruh isinya tidak berlaku.

    Dampak Pemboikotan yang Dilakukan Kaum Quraisy

    Dirangkum dari buku Membaca Sirah Nabi Muhammad SAW dalam Sorotan Al-Qur’an dan Hadis-hadis Shahih karya M. Quraish Shihab, pemboikotan oleh kaum Quraisy sangat merugikan kaum Bani Hasyim dan Bani Muthalib. Bukan hanya dalam aspek kesehatan, tetapi juga pada perkembangan dakwah islamiyah. Bahkan Abu Thalib dan Khadijah yang mendampingi Nabi SAW pun wafat setelah masa pemboikotan tersebut.

    Meskipun sangat merugikan, pemboikotan tersebut tidak seluruhnya berakibat negatif. Pemboikotan oleh kaum Quraisy tersebut membuka mata masyarakat secara umum tentang kehadiran satu ajaran baru yang mengajak kepada keluhuran budi pekerti, yang penganutnya bersedia berkorban demi mempertahankan agamanya atau karena simpati terhadap penganjurnya.

    Kaum Bani Hisyam dan Bani Muthalib mendapatkan bagian tertentu dari harta rampasan perang, apalagi mereka tidak dibenarkan menerima zakat. Kedua kaum ini memperoleh hak tersebut sebagai ganjaran Ilahi atas dukungan mutlak kepada Nabi Muhammad SAW.

    (dvs/dvs)



    Sumber : www.detik.com