Tag: horor

  • Bukan Horor, Ternyata Ini 5 Penyebab Lampu Suka Berkedip


    Jakarta

    Lampu yang meredup dan kembali terang berulang kali terkadang membuat suasana rumah agak ngeri bagi sebagian orang. Padahal, bisa saja lampu berkedip karena sudah mendekati akhir masa pakainya.

    “Salah satu alasan paling umum, dan Anda harus selalu mencari hal-hal yang jelas terlebih dahulu, adalah bohlam akan segera putus,” kata Terry Duncan, CEO Mr Electric dikutip dari Family Handyman, Senin (15/9/2025).

    Selain itu, lampu yang berkedip-kedip bisa saja pertanda bohlam ada bagian lampu atau aliran listrik yang rusak. Simak penyebab lampu berkedip berikut ini.


    Penyebab Lampu Berkedip

    Inilah beberapa hal yang membuat lampu berkedip.

    1. Sirkuit Kelebihan Beban

    Lampu bisa berkedip karena sirkuit kelebihan beban. Kondisi ini terjadi ketika ada berbagai perangkai elektronik yang digunakan dalam satu waktu. Sebab, aliran listrik dapat melambat atau menumpuk di satu tempat.

    2. Sakelar Tidak Serasi

    Jika tidak ada masalah pada bohlam, pemilik rumah bisa coba cek sakelar lampu. Dalam beberapa kasus, sakelar terasa panas dan menyetrum ketika dipegang. Lampu bisa berkedip kalau sakelar dan bohlam tidak kompatibel. Oleh karena itu, sakelar dan lampu harus diserasikan agar alirannya setara.

    3. Sakelar Sudah Lama

    Selain itu, sakelar yang sudah berumur biasanya mengalami penurunan dari segi kualitas dan fungsinya. Hal itu dapat mempengaruhi sinyal yang diterima sehingga lampu berkedip.

    4. Soket Harus Diganti

    Soket adalah tempat untuk memasang lampu. Perangkat ini semakin lama bisa mengalami korosi sampai rusak akibat sering terkena panas. Kalau sudah rusak, sebaiknya langsung mengganti soket agar lampunya tidak berkedip.

    5. Masalah Kabel

    Dilansir dari Sunrise Electric, kabel yang kedaluwarsa atau longgar juga dapat mengakibatkan lampu berkedip, bahkan risiko kebakaran. Jika pemilik belum melakukan perubahan atau peningkatan apa pun pada sistem listrik, tetapi lampu berkedip, penyebabnya bisa jadi kabel yang kendor. Pemilik sebaiknya segera mengatasinya dengan bantuan ahli listrik.

    Punya pertanyaan soal rumah, tanah atau properti lain? detikProperti bisa bantu jawabin. Pertanyaan bisa berkaitan dengan hukum, konstruksi, jual beli, pembiayaan, interior, eksterior atau permasalahan rumah lainnya.

    Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini

    (dhw/das)



    Sumber : www.detik.com

  • Viral Wanita Pakai Hijab Instan Malah Mirip Karakter Valak, Bikin Ngakak

    Yogyakarta

    Hijab intan kini jadi tren karena mudah dipakai dan tetap stylish serta bisa tetap sesuai dengan aturan agama Islam. Namun bagaimana jadinya jika hijab instan ini dipakai oleh pemula? Aksi kocak seorang hijabers yang baru mencoba hijab instan ini pun viral bikin ngakak. Sebab ketik dipakai hasilnya disebutnya malah mirip dengan karakter Valak.

    Postingan tersebut mulai jadi sorotan berawal dari unggahan akun TikTok @kemanaa_aja. Dalam unggahannya dia mengaku membeli hijab instan yang sudah terdapat inner ninja yang menutupi bagian leher.

    Pengalamanku Pakai jilbab instan jadi kek valak,” ucap akun TikTok @kemanaa_aja.


    @kemanaa_aja

    Pengalamanku Pakai jilbab instan jadi kek valak🥲

    ♬ suara asli – kemana.ajaa

    Ia mengatakan ketika memakai hijab instan tersebut malah mirip dengan karakter fiksi Valak dalam film horor The Nun. Valak, yang mengambil bentuk biarawati dalam film, muncul dengan kerudung putih yang menjuntai ke depan.

    Tolong banget ini emang modelnya yang begini atau aku yang nggak paham ya. Konsep dari jilbab instan. Aku ngerasa malah kayak valak. Jujur aku ngeliat orang-orang pakai jilbab instan ini kayak estetik cantik cakep ini kok malah kayak valak cuy,” ujarnya.

    Ia bingung cara memakai hijab instan yang berwarna cream itu. Ia mengaku sudah percaya diri dari rumah ke mall pakai hijab tersebut karena merasa sudah estetik.

    Aku positif thinking tuh dari rumah. Oh, mungkin modelnya gini kali ya tinggal diginiin aja kalau ditutorial. Udah tuh aku ke mall gini terus aku foto loh kok hasilnya kaya gini. Jadi kaya valak yang lagi nongki di cafe. GImana ini ngasih tutornya itu jangan setengah-setengah. Jangan ditiru ya teman-teman,” ujarnya ngakak.

    Postingan tentang wanita yang memakai hijab instan malah mirip dengan valak ini viral sudah ditonton lebih dari 26,5 juta kali. Warganet ada yang ngakak dan memberikan saran.

    IYAA PLISS aku kira aku doang yang ngerasa kaya valak pas make ,” ujar akun @deiivv.

    1. dimundurin, innernya diceperin sama muka 2. innernya yg di leher masukin ke dalem kerah baju semoga paham ,” saut akun @Melly.

    KA emang bener kaya gitu cara pakainya ,” ucap akun @M.ROJA .

    Itu dimasukin kak dalemnya, trs yang luar diselempangin jdi kayak pasmina,” timpal akun @kemanaa_aja.

    Konfirmasi Wolipop

    Wolipop sudah menghubungi Adissa Mutiara yang mengunggah video di TikTok aksinya mencoba memakai hijab instan namun malah berakhir mirip karakter hantu Valak dalam film The Nun. Wanita yang akrab disapa Dissa ini mengatakan baru membeli hijab tersebut.

    “Jadi di video itu aku baru beli pasmina instan, dan pas dipake di rumah ternyata ga cocok, sudah nyoba lihat tutorial dan akhirnya pergi ke mall buat iseng pake sekali-kali, tapi pas di mall tiba-tiba hijabnya lepas sendiri jadi ke bentuk seperti valak, karena instan dan bahan ny yang licin. Akhirnya pas lagi mau betulin hijabnya iseng buat video itu,” kata Dissa kepada Wolipop.

    Dissa membeli hijab tersebut karena tergoda saat menonton siaran langsung melalui TiKTok. Saat itu dia merasa cara memakai hijab tersebut simpel.

    Namun saat hijab tersebut sudah dibelinya, wanita yang tinggal di Yogyakarta ini bingung ketika mencoba memakainya. Ia mengatakan hijabnya mirip dengan valak.

    “Sempat kaget karena waktu benerin hijabnya malah jadi seperti valak bentukannya, nggak expect pas hijabnya ngelepas malah jadi seperti valak,” terangnya.

    Dissa (23 tahun) menyebutkan kini sudah bisa memakai hijab instan tersebut dan tidak terlihat seperti valak lagi. “Sekarang sudah bisa. Diajarin sama teman-teman kos di Yogyakarta langsung, nggak lihat tutorial di video karena gagal pas nyoba lihat di video,” pungkasnya.

    (gaf/eny)





    Sumber : wolipop.detik.com

  • Pesanggrahan Tamsis Kaliurang, Tempat WN Finlandia Ditemukan Konon Angker



    Jogja

    WN Finlandia, Erik Aleksander dilaporkan hilang saat berwisata di kawasan Kaliurang. Ia ditemukan di halaman pesanggrahan Taman Siswa yang konon angker.

    Erik ditemukan dalam kondisi sehat, namun lemas karena seharian belum makan. Erik dilaporkan hilang tepat pada hari Natal, Senin (25/12/2023) sore. Dia baru ditemukan wisatawan lain pada keesokan harinya, Selasa (26/12) siang.

    Pesanggrahan Taman Siswa Kaliurang tempat Erik ditemukan itu terletak di Hargobinangun, Pakem, Kabupaten Sleman. Bangunan bercat putih itu sudah ada sejak zaman pendudukan Belanda.


    Berbeda dari pesanggrahan yang lain, rumah yang satu ini terkenal karena nuansa mistis dan angker yang melingkupi bangunan tersebut.

    Dibangun Hampir Satu Abad yang Lalu

    Dilansir dari laman Jogja Cagar, pesanggrahan tersebut dibangun sebelum tahun 1930. Bangunan ini juga dikenal dengan nama Pesanggrahan Sarjanawiyata, karena saat ini dimiliki oleh Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST).

    Pesanggrahan itu juga kerap disebut Rumah Putih Grezenberg karena lokasinya yang berdekatan dengan gunung Merapi. Disebutkan pula rumah dua lantai ini pernah rusak akibat letusan Merapi pada tahun 1994.

    Sebelum tidak terurus seperti sekarang, rumah bergaya arsitektur Eropa ini dulunya digunakan sebagai tempat berkumpulnya para penyebar agama Katolik Belanda.

    Pada tahun 1953, bangunan tersebut sempat dimiliki oleh salah satu guru besar UGM, yakni Prof. drg. Soedomo, yang merupakan pendiri Fakultas Kedokteran Gigi UGM. Sebelum akhirnya rumahnya beralih kepemilikan kembali menjadi milik UST.

    Nuansa Horor di Pesanggrahan Taman Siswa

    Akibat terbengkalai, Pesanggrahan ini ditumbuhi oleh berbagai tanaman jalar yang merambat di dinding-dinding rumah sehingga memberikan kesan horor. Terlebih lagi, bangunannya sudah tak digunakan karena konstruksinya yang tidak layak huni.

    Meskipun tampak mencekam, banyak wisatawan masih kerap mengunjungi Pesanggrahan Taman Siswa itu. Mulai dari sekadar melihat-lihat bagian luar dan bagian dalam bangunan, melakukan sesi foto, hingga uji nyali.

    Banyak pengunjung yang mengaku melihat penampakan makhluk halus di bangunan tersebut, bahkan di siang hari. Terlepas dari benar tidaknya pengakuan itu, Pesanggrahan Taman Siswa masih terlihat megah dan kokoh berdiri, bahkan dengan kondisinya yang terbengkalai dan berkesan angker.

    —–

    Artikel ini telah naik di detikJogja.

    (wsw/wsw)



    Sumber : travel.detik.com

  • Gedung Megah Jadi Tempat Uji Nyali, Dulu Mau Jadi Tempat Kremasi



    Medan

    Sebuah gedung megah berwarna kuning di Medan kondisinya terbengkalai. Gedung ini pun kerap jadi lokasi uji nyali warga. Dulunya, sempat mau jadi tempat kremasi.

    Gedung ini terletak tak jauh dari Simpang Glugur dan jembatan yang baru direvitalisasi Pemkot Medan. Lokasi tepatnya berada di Jalan Adam Malik, Medan.

    Setiap wisatawan, maupun warga yang lewat, pasti akan bertanya-tanya tentang gedung megah berwarna kuning yang kondisinya terbengkalai itu. Gedung ini bak bangunan misterius yang dibiarkan teronggok begitu saja.


    Salah satu warga Medan yang mengaku penasaran dengan gedung tersebut adalah Karina. Padahal, dia sering melintasi Jalan Adam Malik dan melihat gedung yang sekelilingnya dipenuhi semak belukar itu.

    “Sering lah lewat sini kalau kerja, kalau dulu penasaran ini gedung apa kok besar kali, tapi kok enggak ada yang menempati,” kisah Karina.

    Konon Gedung Itu Angker

    Konon katanya, gedung kuning itu angker. Tak heran jika banyak warga Medan yang menjadikan lokasi gedung itu sebagai tempat untuk menguji nyali mereka.

    Karina mendengar desas-desus, kalau gedung tua itu dulunya sempat mau dijadikan tempat kremasi alias untuk pembakaran mayat manusia.

    “Katanya udah puluhan tahun gedung ini enggak dilanjuti, dulunya mau jadi tempat kremasi orang mati, tapi enggak dikasih warga, tapi enggak tahu lah betul enggaknya,” ujarnya.

    Selain Karina, warga Medan lainnya, Wanin pun sering penasaran dengan kondisi bangunan yang dulunya sering ia lewati. Ia pun bercerita dulunya sering melihat para tukang saat membangun gedung tersebut.

    “Sebenarnya gedung apaan sih ini, aku dari kecil terus melihat pengerjaan tukangnya, tapi jadi malah enggak ditempatin,” tuturnya.

    Pengalaman Horor Warga

    Dibiarkan kosong selama puluhan tahun, membuat gedung ini diliputi hawa seram. Para netizen pun berbagi cerita tentang pengalaman horornya saat melintasi gedung yang diduga sudah mangkrak selama 25 tahun lalu.

    “Sering lewat situ kalau pulang kerja. Aku pernah ngerasa di sudut bangunan itu macam ada putih-putih rambut panjang, kalau malam dekat tengah malam itu hawanya agak beda,” kata Danang.

    Sementara itu, Camat Medan Barat, Roby Chairi membenarkan bahwa gedung tersebut dulunya sempat ingin dijadikan gedung kremasi.

    “Setahu saya dulunya rencana tempat kremasi, tapi tidak jadi,” ucap Roby.

    Saat disinggung tentang alasan pembatalan tersebut, Roby mengaku harus mencari datanya dulu.

    Meski tampak tak terawat, bangunan gedung kuning itu tampak berdiri kokoh. Gedungnya terdiri dari beberapa lantai yang menjulang ke atas.

    Di sekitar bangunan tersebut tampak pedagang bunga yang berjualan. Namun traveler tidak dapat memasuki gedung kuning itu secara sembarangan, lantaran di sekitar bangunan ditutup oleh seng dan dikunci.

    Traveler berani uji nyali di sini?

    ——

    Artikel ini telah naik di detikSumut.

    (wsw/wsw)



    Sumber : travel.detik.com

  • Pelajaran Penting dari Macet Horor di Puncak


    Jakarta

    Libur panjang akhir pekan kemarin membuat kawasan wisata Puncak, Bogor, Jawa Barat, macet total. Macet horor ini terjadi lantaran melonjaknya jumlah kendaraan yang melintas di kawasan Puncak, Bogor.

    Menurut Pemerintah Provinsi Jawa Barat, kemacetan parah yang terjadi di Puncak, Bogor, akhir pekan kemarin murni karena kapasitas berlebih di kawasan tersebut. Mulai dari jalan raya sampai akses wisata tak bisa menampung banyaknya kendaraan yang datang.

    Satlantas Polres Bogor mencatat sebanyak 150 ribu kendaraan melintas di jalur wisata Puncak dalam satu hari. Padahal seharusnya kapasitasnya hanya 70 ribu kendaraan.


    “Kemacetan di Bogor, murni karena over kapasitas, pengaturan lalu lintas yang dilakukan tiap masa liburan belum berjalan efektif karena pergerakan sudah macet, saling mengunci,” kata Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Barat Herman Suryatman seperti dikutip Antara.

    Tak cuma itu, akses jalan alternatif menuju kawasan Puncak Bogor banyak yang kecil yang biasanya digunakan pengendara sepeda motor. Hal itu menyulitkan petugas dalam menerapkan sistem buka tutup jalan.

    “Banyaknya jalan alternatif menuju atau dari puncak juga menyulitkan pengaturan tutup buka lalu lintas, khususnya mengatur pergerakan roda dua,” katanya.

    Menurut Kapolres Bogor AKBP Rio Wahyu Anggoro, Pemotor yang tak sabaran membuat kondisi kemacetan kian parah. Bukannya mengantre saat macet, pemotor justru banyak nekat melawan arah sehingga membuat kendaraan lainnya jadi terhambat.

    “Iya, motor pada melambung melawan arah sehingga lalu lintas terkunci,” lanjutnya lagi.

    Dari macet parah di Puncak akhir pekan kemarin, ada pelajaran penting agar peristiwa ini tidak terjadi lagi dan pengendara tidak terjebak macet berjam-jam. Menurut Sony Susmana, praktisi keselamatan berkendara sekaligus Director Training Safety Defensive Consultant Indonesia (SDCI), agar tidak terjebak macet seharusnya pengendara melakukan manajemen perjalanan sebelum berangkat.

    “Jika akan menuju satu destinasi, biasakan dulu melihat map. Rutenya, alternatifnya, tipe jalannya dan waktunya. Jika terjadi kemacetan, ada jalan keluar yang bisa diambil,” kata Sony kepada detikOto, Selasa (17/9/2024).

    Sony telah melakukan hal yang sama akhir pekan kemarin. Dia bepergian dengan konvoi empat mobil, tapi tidak sampai memakan waktu belasan jam karena macet. Kuncinya ada di manajemen perjalanan.

    “Pergi dan pulang tidak melewati rute Puncak 1, tapi lewat jalan alternatif. Masing-masing perjalanan kami tempuh 2,5 jam (Cibubur-Cimacan). Jadi penting sekali mengatur perjalanan,” ungkapnya.

    Akumulasi Semrawutnya Lalu Lintas

    Menurut Sony, kemacetan horor di Puncak kemarin merupakan akumulasi dari semrawutnya lalu lintas. Setidaknya ada empat penyebab, yang mungkin sulit dihindari.

    “Pertama stop and go. Nggak mungkin selaras kecepatan antarkendaraan yang satu dengan yang lain saat stop n go di jalan. Jika jumlahnya berpuluh-puluh maka kemungkinan mengularnya akan panjang,” ucapnya.

    Kedua banyaknya mobil keluar-masuk parkir. Berderetnya spot-spot berhenti membuat kendaraan keluar-masuk dan itu membutuhkan waktu minimal 3-5 menit menyetop arus lalu lintas.

    “Ketiga Pak Ogah. Keberadaan mereka sering kali menyebabkan kemacetan karena tidak dibekali pengetahuan lalu lintas yang cukup dan sering kali menomorsatukan pengendara yang membayar,” sambungnya.

    Terakhir banyaknya motor yang menyerobot jalur berlawanan. Menurut Sony, pemotor banyak yang tidak peka terhadap kondisi ini.

    “Jalur kosong yang ada di sebelah kanannya bukan haknya untuk dilintasi, karena jika itu dilakukan maka akan menyebabkan bottleneck,” bebernya.

    “Hanya anak-anak kecil yang hrs selalu diatur biar tertib. Karena seribu petugas atau rekayasa yang beragam sekalipun akan kewalahan untuk mengurai kemacetan ini jika tidak dibarengi dengan kesadaran pengendara dalam tertib berlalu lintas,” pungkas Sony.

    (rgr/din)



    Sumber : oto.detik.com

  • Eksotis juga Mistis Jalur Pendakian Gunung Catur Bali



    Jakarta

    Bali memiliki begitu banyak gunung yang bisa didaki oleh para traveler. Salah satu yang mengandung banyak misteri saat kabut turun yakni Gunung Catur.

    Jalur pendakian Pura Pucak Mangu di Gunung Catur, Banjar Tinggan, Desa Pelaga, Kecamatan Petang, Kabupaten Badung, Bali, memiliki keunikan tersendiri. Jalur yang jarang dikunjungi pendaki itu menyuguhkan pemandangan yang eksotis dan mistis.

    “Jalur itu untuk persembahyangan ke pura. Jadi, dijaga betul oleh warga,” kata Jero Bendesa Agung Pucak Mangu I Made Sujana kepada detikBali, Sabtu (19/10).


    detikBali sempat mendaki ke Pura Pucak Mangu, beberapa waktu lalu. Jalur pendakian dimulai di areal parkir atas Pura Pucak Mangu. Sekitar pukul 07.10 Wita, detikBali mulai mendaki bersama dua pendaki lain.

    Saat itu, suasana di sana masih cukup sepi. Selain detikBali, hanya empat orang yang mendaki ke Pura Pucak Mangu saat itu. Meski sepi, jalur pendakian masih terlihat jelas.

    Jalan hutan yang tertata dan dilapisi lempengan batu, membuat jalur pendakian tidak terlalu sulit untuk ditelusuri. Hanya, penataan lempengan batu yang dibuat berundak-undak seperti tangga, terasa berat, apalagi bagi pendaki pemula.

    Semakin masuk ke dalam, hutan yang lebat menyuguhkan pemandangan eksotis di sepanjang jalur. Kabut saat pagi hari dan rimbunan pohon di kiri dan kanan jalan menambah aura mistis bak film horor yang berlatar belakang tempat di hutan.

    Beberapa pohon terlihat dililit kain putih dan kuning, dengan tumpukan canang di bawahnya. Di situ, tempat warga atau pendaki yang beragama Hindu berdoa memohon keselamatan sebelum tiba di Pura Pucak Mangu di ketinggian 2096 MDPL.

    Tak hanya pepohonan, kabut, dan suara binatang yang terlihat dan terdengar di sepanjang jalur pendakian. Ada juga rambu atau papan tanda ketinggian meter di atas permukaan laut (mdpl) dan empat papan tanda pos yang terpampang di sepanjang jalur pendakian.

    Jalur pendakian ke Pura Pucak Mangu di Gunung Catur, Badung, Bali, Senin (9/10/2024). (Aryo Mahendro/detikBali)Jalur pendakian ke Pura Pucak Mangu di Gunung Catur, Badung, Bali (Foto: Aryo Mahendro/detikBali)

    Sekitar dua jam mendaki, di ketinggian sekitar 1.700 MDPL, detikBali akhirnya sampai di Pura Pesiraman. Selain tempat sembahyang, pura itu juga jadi sumber mata air bagi warga atau pendaki yang kehausan.

    “Itu Pura Pesiraman. Tempat sumber air ada di sana. Tapi, karena sekarang musim kemarau (airnya) habis,” kata Sujana.

    Meski menyuguhkan pemandangan eksotis nan mistis, banyak papan tanda ketinggian mdpl yang terpasang di sepanjang jalur itu rusak. Mulai papan tanda 100 mdpl hingga 1.850 mdpl, terlihat rusak dan banyak coretan sehingga tak terbaca.

    Sujana mengatakan wajar bila rambu tanpa ketinggian itu kondisinya rusak. Jalur pendakian itu memang ramai oleh warga yang mendaki ke Pura Pucak Mangu hanya saat perayaan keagamaan Hindu atau upacara adat lain.

    “Karena sebenarnya, jalur itu disakralkan. Bukan untuk pendaki. Boleh mendaki, tapi harus ada izin pariwisatanya. Tapi memang baru sedikit (pengunjungnya),” kata Sujana.’

    Meski tidak sepenuhnya tertutup untuk umum, warga atau wisatawan, masih diperbolehkan mendaki dan berkunjung ke Pura Pucak Mangu. Sujana mengingatkan warga atau wisatawan wajib lapor ke bendesa adat setempat sebelum melakukan pendakian.

    “Karena kalau nggak izin, khawatir orangnya nggak selamat. Jadi, untuk keamanan bersama, pendaki harus izin. Nanti kami sediakan pemandu khusus supaya nggak tersesat,” jelasnya.

    (msl/msl)



    Sumber : travel.detik.com

  • 5 Destinasi Wisata Horor buat Habiskan Weekend



    Jakarta

    Destinasi tak hanya soal yang cantik-cantik. Beberapa lokasi ini menawarkan suasana horor pada waktu yang tepat.

    Film horor masih merupakan genre tontonan yang jadi primadona bagi masyarakat Indonesia. Selain jalan cerita dan aktor serta aktris yang banyak disukai, tak sedikit set syuting dalam film-film horor yang menjadi daya tarik wisata untuk dikunjungi.

    Cerita-cerita rakyat mengenai misteri di suatu daerah juga banyak bikin masyarakat tanah air penasaran untuk mengetahui lebih lanjut.


    Tak jarang dari cerita-cerita misteri itu, diubah menjadi film yang menarik bagi penonton yang memang senang ditakut-takuti. Lokasi-lokasi syutingnya pun turut menjadi daya tarik untuk didatangi.

    Dari film Pengabdi Setan hingga KKN Desa Penari, berikut 5 destinasi wisata yang juga merupakan lokasi syuting film horor terkenal Indonesia, seperti dirangkum situs Kemenparekraf. Berani coba berkunjung?

    1. Rumah Pengabdi Setan

    Masih ingat dengan tokoh Ibu dalam keluarga Rini di film garapan Joko Anwar ini? Dalam seri pertamanya, film Pengabdi Setan (2017) melakukan syuting di Pangalengan, Bandung, Jawa Barat.

    Bangunan yang paling ikonik dalam film ini adalah rumah yang ditinggali oleh keluarga Rini, yang beralamat lengkap di Kawasan PTPN VIII, Kampung Kertamanah.

    Rumah tersebut menjadi perhatian bagi masyarakat, terkhusus bagi mereka yang telah menonton film horor populer itu.

    Ada dua rumah yang digunakan dalam film Pengabdi Setan, satu rumah masih ditempati sehingga tidak boleh dimasuki. Meski begitu, pengunjung masih diperbolehkan berfoto di depannya.

    Sedangkan satu rumah lainnya dibiarkan kosong dan terbuka untuk umum. Sebuah poster besar bertuliskan Pengabdi Setan dan tokoh hantu Ibu dipajang di halaman rumah.

    Jika tertarik berkunjung, kamu cukup membayar tarif seharga Rp10 ribu.

    2. Hutan Pinus Mangunan

    Masih ingat dengan film hits pada masanya, KKN Desa Penari (2022)? Ternyata, salah satu set yang dipilih menjadi lokasi syuting film horor tersebut adalah Hutan Pinus Mangunan yang terletak di Bantul, Yogyakarta.

    Walaupun dijadikan lokasi syuting film horor, hutan ini sebenarnya jauh dari kesan mistis lho! Tempat tersebut dijadikan sebagai destinasi wisata karena vibes-nya seperti ada di luar negeri.

    Selain itu, hutan pinus ini sering dijadikan venue konser penyanyi ibu kota, salah satunya Tulus.

    3. Waduk Sermo

    Terletak di Kulonprogo, waduk ini memiliki sejuta keindahan yang memikat, sekaligus menyimpan misteri dan kesan horor yang juga cukup kuat sehingga dijadikan lokasi syuting film horor Jailangkung: Sandekala (2022) karya Kimo Stamboel.

    Jailangkung: Sandekala mengangkat kisah mengenai kepercayaan masyarakat setempat, bahwa saat memasuki waktu maghrib atau ketika matahari tenggelam, orang-orang dilarang keluar rumah.

    Waduk Sermo menjadi lokasi syuting saat scene sebuah keluarga dalam film tersebut mengalami musibah di sebuah danau.

    Selain memiliki daya tarik karena dijadikan lokasi syuting film horor, tempat ini juga asyik untuk dijadikan lokasi berkemah dengan keluarga atau teman-teman.

    4. Karacak Valley

    Terletak di Garut, Jawa Barat, Karacak Valley merupakan destinasi wisata alam yang pernah dijadikan lokasi syuting film horor berjudul Rasuk (2018).

    Meski terlihat mistis dan sangat menyeramkan dalam film, sebenarnya tempat wisata alam ini sangat indah dan asri lho, serta sering dijadikan lokasi berkemah karena menawarkan pemandangan indah hutan pinus yang khas.

    Karacak Valley masuk dalam film ketika scene pemeran bernama Langgir Janaka beserta ketiga sahabatnya harus berjalan kaki karena mobil yang ditumpangi tidak bisa lewat akibat jalanan rusak.

    Bagi kamu yang ingin berkunjung ke sana, kamu bisa menggunakan kendaraan pribadi ataupun dengan angkutan umum seperti angkot maupun ojek motor.

    5. Taman Watu Kandang

    Berlokasi di Trenggalek, Jawa Timur, tempat ini pernah menjadi lokasi syuting Sinden Gaib (2024). Film ini diangkat dari kisah nyata dari Kabupaten Trenggalek, tepatnya dari Desa Pandean, Kecamatan Dongko.

    Sehingga Taman Watu Kandang yang terletak di sana juga menjadi lokasi syuting karena mengambil tempat yang sama seperti cerita.

    Ada banyak aktivitas seru yang bisa kamu lakukan di sana selain menikmati keindahan alamnya, yakni river tubing hingga menjelajah desa.

    (msl/msl)



    Sumber : travel.detik.com

  • Kisah Jembatan Cincin Jatinangor yang Konon Horor



    Sumedang

    Ada sebuah jembatan ikonik di daerah Jatinangor. Jembatan Cincin, begitu warga setempat mengenalnya. Konon, jembatan ini horor. Apa iya?

    Selepas menunaikan salat Zuhur, seorang pria tua berjalan menuju ke gapura di jalan menuju Jembatan Cincin di Desa Cikuda, Kecamatan Jatinangor, Kabupaten Sumedang.

    Mengenakan peci hitam, kaus cokelat dan celana pendek, pria itu langsung duduk di bawah gapura yang di bawahnya memiliki teras untuk bersantai.


    Pria itu bernama Aba Adi Brata. Sesampainya di gapura itu, Aba yang kini usaianya sudah 75 tahun langsung duduk untuk bersantai sejenak di teras tersebut. Menurut Aba, teras itu menjadi tempat nyaman baginya kala dia keluar rumah.

    “Bukan kereta api (angkutan masyarakat umum), tapi lori, kereta angkutan yang digunakan untuk ke perkebunan,” kata Aba sambil menunjuk ke arah Jembatan Cincin.

    Jembatan yang dibangun pada 1917-1918 memiliki pesona tersendiri dan pemandangannya yang sangat indah. Namun cerita-cerita horor kerap menghantui jembatan itu.

    Aba pun menjelaskan pengalaman mistis yang diceritakan terkait jembatan Cincin. Rata-rata, pengalaman itu karena terbawa perasaan takut dan salah penglihatan.

    “Seperti gini, waktu itu bapak (Aba) pas pulang nonton bioskop malam-malam di tempat yang gelap. Bapak lihat seperti berwujud orang yang sedang melambai. Bapak saat itu lari terbirit-birit, eh besoknya pas dilihat ternyata pohon pisang,” ujar Aba.

    Menurut Aba, jembatan Cincin dianggap berbau mistis dan horor karena dulu oleh sebagian orang dijadikan tempat untuk meminta nomor togel. Kebanyakan dari mereka menganggap bahwa di jembatan tersebut bisa mendatangkan keberuntungan dari makhluk gaib.

    “Itu kenapa angker karena awalnya sudah dianggap begitu, padahal itu sulit dibuktikan. Jika suatu tempat dianggap angker, makhluk selain manusia akan senang menggoda kita. Harusnya kita cukup sama Allah saja tempat meminta dan tempat menaruh rasa takut, bukan sama hal begituan (makhluk gaib),” tutur Aba.

    Tak Ada Horor di Jembatan Cincin

    Aba pun membantah isu yang menyebut jembatan itu mengandung nuansa mistis. Tak pernah ada kejadian apapun yang berkaitan dengan hal mistis atau horor selama dia tinggal di dekat jembatan Cincin.

    “Enggak, enggak angker. Bapak orang sini asli. Pernah mahasiswa sini saya tegur, jangan macam-macam sebar isu itu. Banyak juga mahasiswa yang melintas ke sini malam-malam, tidak ada apa-apa,” tuturnya.

    Jembatan Cincin di Sumedang.Jembatan Cincin Foto: Wisma Putra/detikJabar

    Aba juga menyebut, jika ada yang menyebut kawasan tersebut angker itu hanya isu burung yang tidak dapat dibuktikan keasliannya.

    “Itu hanya isu, dikarenakan gini di sini banyak kosan paling dekat dan lainnya iri, yang dekat penuh yang lain tidak, biasa nakut-nakutin,” tambahnya.

    Dindin (54), salah satu pengendara yang melintas di jalan itu mengatakan, dia sering pulang-pergi lewat jembatan itu di malam hari. Menurut Dindin, baik-baik saja.

    “Enggak pernah tuh ada hantu (horor) atau apa, aman-aman saja,” ujarnya.

    Dindin mengakui jika keberadaan jembatan itu sangat membantu aktivitas warga.

    “Kalau enggak ada jembatan ini, yang mau sekolah harus muter, begitu juga petani. Berguna sekali, khususnya bagi anak sekolah,” tambahnya.

    Sejarah Jembatan Cincin

    Jembatan Cincin dulu dibangun oleh Staatsspoorwegen (SS) atau Perusahaan Kereta Api Negara pada tahun 1917/1918. Rencananya, jembatan itu untuk jalur kereta api yang menghubungkan Rancaekek-Jatinangor-Tanjungsari-Citali.

    “Dulu namanya SS (Staatsspoorwegen), bukan PT KAI, bukan PJKA, tapi SS (yang membangun jembatan). Bukan jalur kereta api umum, tapi digunakan lori untuk mengangkut hasil pertanian, itu juga kata kakek bapak yang bekerja di SS,” jelas Aba.

    Menurut Aba, sebelum kawasan tersebut dipenuhi pemukiman, kereta lori berlalu lalang di jembatan itu untuk mengangkut hasil-hasil perkebunan dari mulai kawasan Jatinangor hingga Tanjungsari. Hail panen itu nantinya diangkut ke kota oleh Belanda.

    “Bukan jalur kereta api tapi jalur lori, seperti angkutan tebu atau barang. Anak-anak sekarang tidak tahu riwayatnya, bukan kereta api, bapak tanyakan langsung ke kakek bapak dulu,” ujarnya.

    Menurut Aba, dulunya perkebunan di kawasan Jatinangor ditanami tanaman haramai yang biasa dihinggapi ulat sutera dan hasilnya di bawa ke luar negeri dijadikan kain sutra. Setelah itu, diganti tanaman teh dan diganti kembali dengan pohon karet.

    “Teh itu diganti lagi, dikarenakan Jatinangor daerah panas tidak seperti Ciwidey dan Lembang. Hujan bagus, kemarau kering dan diganti lagi jadi kebun karet,” tuturnya.

    Saat ini, jembatan tersebut digunakan warga sebagai jalan penghubung antar kampung. Jalan itu biasa digunakan petani, pelajar, hingga masyarakat umum.

    ——-

    Artikel ini telah naik di detikJabar.

    (wsw/wsw)



    Sumber : travel.detik.com

  • Wajah Terkini Rumah Kentang-Gedong Setan, Urban Legend Bandung yang Dulu Seram



    Bandung

    Bandung punya beberapa Urban Legend yang terkenal angker. Tapi itu dulu, sekarang tempat-tempat itu sudah tidak seram lagi. Seperti apa penampakannya sekarang?

    Kota Bandung menyimpan sejumlah misteri yang menyelubungi sejumlah tempat-tempat bersejarah di sana. Cerita berbau mistis hidup dari masa ke masa melalui penuturan masyarakat yang tinggal di sekitar tempat tersebut.

    Cerita-cerita itu pun menjelma sebagai Urban Legend yang populer. Banyak wisatawan yang justru penasaran dengan cerita itu, lalu mendatangi tempat yang dimaksud.


    Tahun terus berganti, kini sejumlah situs sejarah tempat kemunculan urban legend tersebut mulai mengalami pemugaran. Bagaimana kondisinya sekarang?

    1. Rumah Kentang

    Rumah posisi hoek yang terletak di Jalan Banda nomor 18 ini sejak lama terkenal dengan nama “Rumah Kentang”. Nama tersebut muncul bukan tanpa alasan. Konon, masyarakat setempat kerap mencium aroma kentang yang menyeruak dari rumah tersebut di sore hingga malam hari.

    Cerita yang paling santer terdengar adalah bahwa bau kentang tersebut berasal dari anak orang Belanda yang tewas tercebur ke dalam kuali panas berisi kentang.

    Rumahnya yang sepi tampak tak berpenghuni, dipadukan dengan gaya bangunan khas era kolonial Belanda, menambah kesan misterius di benak orang yang melintasinya.

    Rumah Kentang berubah jadi restoranRumah Kentang berubah jadi restoran Foto: Putu Intan/detikcom

    Namun, mitos tragedi kuali kentang tersebut ternyata pernah dibantah oleh penjaga Rumah Kentang, Pramutadi.

    Melalui wawancaranya dengan Tim detikJabar dan Komunitas Aleut pada tahun 2020, ia mengatakan bau kentang tersebut berasal dari bau tanaman yang ditanam oleh penghuni rumah. Kala itu, dia menyebut bahwa rumah tersebut sempat dihuni oleh ahli botani.

    Di saat wawancara tersebut, rencana pemugaran Rumah Kentang telah mulai dilaksanakan. Hasilnya adalah sebuah kafe bernama sama, yakni “Roemah Kentang 1903”.

    Kafe tersebut diluncurkan di pengujung tahun 2020 dan masih beroperasi hingga saat ini. Bahkan, tempat ini kerap digunakan untuk berbagai acara seperti gathering hingga pernikahan.

    Berdasarkan pantauan di lokasi, kafe tersebut masih mempertahankan bentuk bangunan aslinya. Sejumlah bagian bangunan seperti kusen jendela, beberapa daun pintu hingga ventilasi pun masih menggunakan apa yang sudah eksis di Rumah Kentang sebelumnya.

    Sang pemilik kafe, Arys Buntara mengaku tidak pernah mencium adanya aroma kentang dari rumah tersebut ketika proses pembangunan berlangsung hingga saat ini.

    “Enggak pernah cium ada bau kentang sih. Dari cerita penjaganya, memang dulu ada ahli botani yang suka menanam di sini. Katanya ada bunga yang baunya seperti kentang. Tapi enggak tahu juga bunganya yang mana,” ungkap Arys, Jumat (27/6/2025).

    Urban legend di Bandung.Rumah Kentang Foto: Nur Khansa Ranawati/detikJabar

    Namun, bukan berarti misteri sepenuhnya lenyap. Arys mengaku terdapat beberapa hal ‘di luar nalar’ yang terjadi saat renovasi berlangsung maupun saat operasional kafe sudah berjalan. Salah satunya adalah tukang bangunan yang tiba-tiba berpindah tempat saat tertidur.

    “Ada juga karyawan yang dia kekeuh bilang sedang ngobrol dengan karyawan lain di lantai atas. Eh, pas dilihat di CCTV, ternyata dia ngobrol sendiri,” ungkap Arys seraya tertawa.

    Ia juga menuturkan bahwa Rumah Kentang sempat digunakan kelompok teosofi Freemasonry “Loji Hermes” di Kota Bandung untuk beraktivitas.

    Beberapa artefak peninggalan seperti dua pilar besar, jubah, hingga pedang yang identik dengan kegiatan kelompok Freemasonry ditemukan saat ia melakukan renovasi.

    “Sampai sekarang masih disimpan. Pilarnya sengaja kita pajang sebagai unsur sejarah tempat ini,” jelasnya.

    2. Hantu Ambulans Jalan Bahureksa

    Entah sudah berapa dekade sebuah ambulans tua terpakir di depan rumah di Jalan Bahureksa nomor 15. Yang jelas, cerita kengerian ambulans Mercy Rubor buatan tahun 1961 tersebut telah tersebar luas di masyarakat sejak lama.

    Salah satu versi cerita yang terkenal adalah bahwa ambulans tersebut sempat dipakai mengangkut satu keluarga yang seluruhnya tewas karena kecelakaan. Setelah digunakan untuk mengangkut jasad keluarga tersebut, ambulans kemudian diparkir di depan rumah Jalan Bahureksa nomor 15.

    Sejak saat itu, ambulans tersebut disebut berhantu dan tidak dapat dipindahkan ke manapun oleh orang lain. Ada juga versi yang menyebut bahwa ambulans kerap terlihat berkeliaran sendiri tanpa pengemudi di malam hari. Kisahnya bahkan sempat diangkat ke film layar lebar berjudul Hantu Ambulance di 2008.

    Urban legend di Bandung.Rumah Jalan Bahureksa 15 Bandung Foto: Nur Khansa Ranawati/detikJabar

    Rumah tua di Jalan Bahureksa nomor 15 bukan tidak berpenghuni. Beberapa kali rumah tersebut beserta area di sampingnya disewa untuk tempat komersial seperti distro, tempat fotokopi, hingga salon.

    Di tahun 2008, empat anak muda Kota Bandung menyewa rumah tersebut dan mengubahnya menjadi sebuah distro yang dinamai “Ambulans Shop”.

    Di tahun 2012, salon khusus rambut gimbal bernama Dreadock Studio juga mulai beroperasi di area tersebut, masih dengan ambulans horor terparkir di depan toko mereka.

    Namun, mitos mistis soal ambulans tersebut akhirnya tumbang di tahun 2016. Kala itu, keluarga sang pemilik ambulans menjual ambulans tersebut ke Parung, Bogor. Sang Legenda yang konon tak bisa dipindah tersebut akhirnya berhasil diangkut ke kota lain, tanpa pernah kembali.

    Tahun berganti, saat ini kisah ambulans horor tak lagi menghantui Jalan Bahureksa. Rumah di Jalan Bahureksa nomor 15 sudah berubah menjadi sebuah restoran. Berdasarkan pantauan detikJabar, tak ada jejak keberadaan ambulans yang tersisa.

    Restoran yang dinamai “Republic” tersebut terlihat masih mempertahankan bentuk bangunan jadulnya, baik dari fasad luar maupun di bagian dalam bangunan.

    Terdapat tambahan area duduk dengan nuansa interior modern dan minimalis. Dengan situasi saat ini, agaknya tak ada yang menyangka bahwa pernah ada legenda mistis yang tersemat di tempat tersebut.

    3. ‘Gedong Setan’

    Gereja Katolik Bebas Santo Albanus adalah salah bangunan yang tak lepas dari cerita mistis warga Kota Bandung. Terletak hanya sekitar 300 meter dari Rumah Kentang, bangunan Gereja Anglikan ini memiliki julukan “Gedong Setan”.

    Usut punya usut, julukan tersebut muncul karena bentuk bangunan di Jalan Banda nomor 26 ini terkesan misterius. Desas-desus di antara warga pun menyebut bahwa sering terdengar suara radio transistor berbunyi keras dengan bahasa Belanda dari dalam gedung tersebut.

    Bahkan ada pula yang mengaku mendengar suara orang bercakap-cakap dalam Bahasa Eropa. Bangunan Gereja Santo Albanus sendiri dibangun pada tahun 1920, oleh seorang arsitek ternama Belanda Ir. F.J.L. Ghijsels.

    Urban legend di Bandung.Gedong Setan sekarang Foto: Nur Khansa Ranawati/detikJabar

    Serupa dengan Rumah Kentang, gereja ini salah satunya difungsikan oleh kelompok Freemasonry untuk beraktivitas. Penggunaan gedung ini sebagai markas Freemasonry hanya berlangsung hingga 1930an, sebelum akhirnya pindah ke Oclottpark yang sekarang jadi mal Bandung Indah Plaza.

    Gedung tersebut juga pernah menjadi tempat kursus Bahasa Belanda di era kolonial Belanda. Bangunan Gereja Santo Albanus saat ini terdaftar sebagai Cagar Budaya tipe A oleh Pemerintah Kota Bandung dalam Perda No. 19 tahun 2009.

    Oleh karena itu, proses pemugaran bangunan gereja yang masih berlangsung hingga saat ini sempat menuai protes dari masyarakat, khususnya pecinta sejarah.

    Setelah bertahun-tahun sempat terkesan terbengkalai dan digunakan sebagai parkir liar, saat ini pembangunan yang terbilang besar tengah berlangsung di kompleks gereja tersebut.

    Berdasarkan pantauan di lokasi, per 27 Juni 2025, sudah berdiri bangunan bertingkat berdinding kaca dan bernuansa modern di belakang fasad bangunan utama Gereja Santo Albanus.

    Area gereja sendiri masih dipagari seng mengingat pembangunan yang belum selesai. Wujud bangunan asli gereja di area depan tampak tak banyak berubah, meskipun tulisan “S. Albanus” Geredja Katholik Bebas yang sebelumnya terpatri di bagian muka bangunan saat ini tak lagi ada.

    Belum jelas bangunan apa yang akan dibangun dan dikembangkan di kompleks gereja tersebut. Namun, berdasarkan keterangan dari stempel Pemerintah Kota Bandung yang tertera di luar area pembangunan, proyek ini masih merupakan “Proyek Keagamaan”.

    Proyek ini terdaftar dengan Nomor Persetujuan Bangunan Gedung (PBG) SK-PBG-327309-12072022-001 tertanggal 12 Juli 2022. Bangunan yang direnovasi termasuk ke dalam golongan Bangunan Tidak Sederhana, dengan jumlah lantai mencapai enam lantai.

    Akankah pemugaran Gereja Santo Albanus ini sekaligus perlahan mengikis cerita-cerita mistis yang menyertainya?

    ———

    Artikel ini telah naik di detikJabar.

    (wsw/wsw)



    Sumber : travel.detik.com