Tag: Ibnu Majah

  • 6 Doa Penutup Acara yang Dapat Diamalkan Muslim


    Jakarta

    Doa penutup acara adalah amalan yang dibaca muslim setelah menyelesaikan suatu giat. Baik itu majelis, ataupun acara lain yang sering dijumpai dalam kehidupan sehari-hari.

    Sebagai seorang muslim, mengawali dan menutup sesuatu sudah seharusnya dilakukan dengan doa. Anjuran berdoa disebutkan dalam surah Gafir ayat 60,

    وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُوْنِيْٓ اَسْتَجِبْ لَكُمْ ۗاِنَّ الَّذِيْنَ يَسْتَكْبِرُوْنَ عَنْ عِبَادَتِيْ سَيَدْخُلُوْنَ جَهَنَّمَ دَاخِرِيْنَ ࣖࣖࣖ ٦٠


    Artinya: “Tuhanmu berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu (apa yang kamu harapkan). Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri tidak mau beribadah kepada-Ku akan masuk (neraka) Jahanam dalam keadaan hina dina.”

    Kumpulan Doa Penutup Acara yang Bisa Dibaca

    1. Doa Penutup Acara Versi Pertama

    Berikut doa penutup acara versi pertama yang dikutip dari buku Kumpulan Doa Sehari-Hari oleh Ditjen Bimas Islam Kementerian Agama RI.

    سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ رَبِّي وَبِحَمْدِكَ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ

    Subḥānakallahumma rabbī wa biḥamdika lā ilaha illa anta astagfiruka wa atūbu ilaik.

    Artinya: “Maha Suci Engkau, Ya Allah wahai Rabbku, dan dengan memuji-Mu, tiada Ilah selain Engkau, aku memohon ampun kepada-Mu dan bertaubat kepada-Mu.”

    2. Doa Penutup Acara Versi Kedua

    Ada juga doa penutup acara versi lain yang tertulis dalam kitab Hisnul Muslim oleh Syaikh Sa’id bin Wahf Al-Qahthani yang diterjemahkan Qosdi Ridlwanullah. Doa ini diamalkan Nabi Muhammad SAW sebanyak 100 kali sebelum meninggalkan majelis.

    رَبِّ اغْفِرْ لِي وَتُبْ عَلَيَّ إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الْغَفُوْرُ.

    Rabbigfirlī wa tub ‘alayya innaka antat-tawwābul-gafūr

    Artinya: “Wahai Tuhanku! Ampunilah aku dan terimalah taubatku, sesungguhnya Engkau Maha Menerima Taubat lagi Maha Pengampun.” (HR Tirmidzi no 3/153 dan Ibnu Majah no 2/321)

    3. Doa Penutup Acara Versi Ketiga

    Menukil dari buku Doa Harian Pengetuk Pintu Langit tulisan H Hamdan Hamedan, terdapat doa penutup acara lainnya yang berasal dari hadits Ibnu Umar RA,

    اَللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَاتَحُوْلُ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعْصِيَتِكَ وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَابِهِ جَنَّتَكَ وَمِنَ الْيَقِيْنِ مَاتُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مَصَائِبَ الدُّنْيَا. اَللَّهُمَّ مَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُوَّتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا وَاجْعَلْهُ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ عَاداَنَا وَلاَ تَجْعَلْ مُصِيْبَتَنَا فِى دِيْنِنَاوَلاَ تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا وَلاَ مَبْلَغَ عِلْمِنَا وَلاَ تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لاَ يَرْحَمُنَا

    Allahummaqsim lana min khasy-yatik, maa tahulu bainanaa wa baina ma’shiyyatik, wa min thaa’atika maa tuballighuna bihi jannatak wa minal yaqiini ma tuhawwinu bihi ‘alaina mashaaibad dunya.

    Allahumma matti’naa bi asmaa’inaa wa abshaarina wa quwwatinaa ma ahyaytana waj’alhul waaritsa minna waj’alhu tsa’ranaa ‘alaa man ‘aadanaa wa laa taj’al mushiibatanaa fii diininaa wa laa taj’alid dunya akbara hamminaa wa laa mablagha ‘ilminaa wa laa tusallith ‘alainaa man laa yarhamunaa.

    Artinya: “Ya Allah, anugerahkanlah untuk kami rasa takut kepada-Mu, yang dapat menghalangi antara kami dan perbuatan maksiat kepada-Mu, dan (anugerahkanlah kepada kami) ketaatan kepada-Mu yang akan menyampaikan Kami ke surga-Mu dan (anugerahkanlah pula) keyakinan yang akan menyebabkan ringannya bagi kami segala musibah dunia ini.

    Ya Allah, anugerahkanlah kenikmatan kepada kami melalui pendengaran kami, penglihatan kami dan dalam kekuatan kami selama kami masih hidup, dan jadikanlah ia warisan dari kami. Jadikanlah balasan kami atas orang-orang yang menganiaya kami, dan tolonglah kami terhadap orang yang memusuhi kami, dan janganlah Engkau jadikan musibah kami dalam urusan agama kami, dan janganlah Engkau jadikan dunia ini sebagai cita-cita terbesar kami dan puncak dari ilmu kami, dan jangan Engkau jadikan orang-orang yang tidak menyayangi kami berkuasa atas kami.” (HR Tirmidzi)

    4. Doa Penutup Acara Versi Keempat

    Selain dari hadits, doa penutup acara versi lainnya termaktub dalam Al-Qur’an tepatnya pada surah As Saffat ayat 180-182,

    سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

    Subhaana rabbikaa rabbil ‘izzati ‘ammaa yashifuun, wa salaamun ‘alal mursaliin, wal hamdulillahi rabbil ‘aalamiin

    Artinya: “Maha Suci Tuhanmu, Tuhan pemilik kemuliaan dari apa yang mereka sifatkan. Selamat sejahtera bagi para rasul. Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam.”

    5. Doa Penutup Acara Versi Kelima

    Alhamdulillahirabbil’alamin, hamdan yuwafi nikmahu Ya rabbana walakal hamdu, walaka syukru Allahumma shalli ala Muhammadin fil awwalina wal akhirin. Subhaanakallaahumma wa bihamdika asyhadu allaa ilaaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika. Rabbana atina fiddunya hasanah wa fil akhirati hasanah wa gina ‘adzaban naar Alhamdulillahrabbil alamin.

    Artinya: “Ya Allah Tuhan Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang. Puji dan syukur kami panjatkan kepadamu ya Allah, atas segala rahmat dan nikmat-Mu. Maha Suci Allah dan segala puji bagi Allah Swt., aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, aku memohon ampunan dan bertaubat hanya pada-Mu. Ya Tuhan kami, karuniakanlah kami kebahagiaan di dunia dan di akhirat kelak, hindarkanlah kami dari azab api neraka.”

    6. Doa Penutup Acara Versi Keenam

    Allahummaj’al jam’anaa haadzaa jam’an marhuumaan wa tafarruqnaa min ba’dihii tafarruqon ma’shuuman wa laa taj’al fiinaa wa laa minnaa syaqiyyan walaa mahruuman.

    Artinya: “Ya Allah jadikanlah perkumpulan ini adalah perkumpulan yang dirahmati. Dan jadikanlah perpisahan ini perpisahan yang terjaga [dari bencana], dan Ya Allah jangan Engkau jadikan diantara kami,siapa yang bersama kami dan siapa yang mengikuti kami orang-orang yang sakit, orang yang tertolak (amal-amalnya) dan terhalang (dari rida-Mu).”

    Demikian beberapa doa penutup acara yang bisa dibaca oleh muslim ketika menyelesaikan suatu kegiatan. Jangan lupa diamalkan ya!

    (aeb/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • 4 Doa saat Angin Kencang yang Bisa Dibaca Muslim


    Jakarta

    Doa angin kencang bisa diamalkan ketika cuaca buruk. Seperti diketahui, angin kencang dapat membahayakan jika dibiarkan terus menerus.

    Doa angin kencang diamalkan oleh Rasulullah SAW untuk memohon perlindungan dari Allah SWT. Terkait angin juga disebutkan dalam Al-Qur’an, tepatnya pada surah Al Baqarah ayat 164:

    إِنَّ فِى خَلْقِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ وَٱخْتِلَٰفِ ٱلَّيْلِ وَٱلنَّهَارِ وَٱلْفُلْكِ ٱلَّتِى تَجْرِى فِى ٱلْبَحْرِ بِمَا يَنفَعُ ٱلنَّاسَ وَمَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلسَّمَآءِ مِن مَّآءٍ فَأَحْيَا بِهِ ٱلْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَبَثَّ فِيهَا مِن كُلِّ دَآبَّةٍ وَتَصْرِيفِ ٱلرِّيَٰحِ وَٱلسَّحَابِ ٱلْمُسَخَّرِ بَيْنَ ٱلسَّمَآءِ وَٱلْأَرْضِ لَءَايَٰتٍ لِّقَوْمٍ يَعْقِلُونَ


    Artinya: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.”

    Doa Angin Kencang: Arab, Latin dan Artinya

    Berikut beberapa doa angin kencang yang bisa dibaca muslim seperti dikutip dari buku Panduan Lengkap Shalat, Doa, Zikir & Shalawat susunan Ustaz Enjang Burhanudin Yusuf.

    1. Doa Angin Kencang Versi Pertama

    اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ خَيْرَهَا وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا

    Allahumma innii as’aluka khairahaa wa a’uudzubika min syarriha

    Artinya: “Ya Allah, sungguh aku mohon kepada-Mu kebaikan angin ini, serta aku berlindung kepada-Mu dari keburukannya.” (HR Abu Dawud dan Ibnu Majah)

    2. Doa Angin Kencang Versi Kedua

    اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ خَيْرَهَا وَخَيْرَ مَا فِيْهَا وَخَيْرَ مَا أُرْسِلْتَ بِهِ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا وَشَرِّ مَا فِيْهَا وَشَرِّ مَا أُرْسِلْتَ بِهِ

    Allahumma innii as’aluka khairahaa wa khaira maa fiiha wa khaira maa ursilat bihi wa a’uudzubika min syarrihaa wa syarri maa fiiha wa syarri maa ursilat bihi.

    Artinya: “Ya Allah, sungguh aku mohon kepada-Mu kebaikan angin ini, kebaikan apa yang ada padanya, dan kebaikan pada tujuan angin ini dihembuskan. Aku berlindung kepada-Mu dari keburukan angin ini, keburukan apa yang ada padanya, dan keburukan tujuan angin ini dihembuskan.” (HR Muslim dan Tirmidzi)

    3. Doa Angin Kencang Versi Ketiga

    Saat melihat angin, Rasulullah SAW menganjurkan untuk berdoa memohon kebaikan dan berlindung kepada Allah dari keburukannya. Dalam sebuah hadits dikatakan,

    عن أبي هريرة قال: سمعت النبي صلي الله عليه وسلم يقول: الريح من روح الله تعالي تأتي بالرحمة وتأتي بالعذاب, فإذا رأيتموها فلا تسبوها واسألوا الله خيرها واستعيذوا بالله من شرها

    Artinya: “Dari Sayyidina Abu Hurairah RA beliau berkata: “Aku mendengar Nabi SAW bersabda: ‘Angin adalah bagian dari pemberian Allah, bisa membawa rahmat dan juga bisa membawa azab. Jika kalian melihatnya, jangan mencelanya, mohonlah kepada Allah kebaikannya dan berlindunglah kepada Allah dari keburukannya.”

    Dari Sayyidah Aisyah RA sesungguhnya Nabi SAW ketika melihat awan hitam di langit, beliau langsung meninggalkan pekerjaan, meskipun beliau sedang melakukan salat, kemudian berucap: “Allahumma innî a’ûdzu bika min syarrihâ” (ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari keburukan awan ini).” Dan ketika turun hujan, beliau berucap: “Allahumma shayyiban nâfi’an (ya Allah turunkanlah hujan yang membawa manfaat dan kesenangan).”

    4. Doa Angin Kencang Versi Keempat

    اللَّهُمّ حَوَالَيْنَا وَلَا عَلَيْنَا,اللَّهُمَّ عَلَى الْآكَامِ وَالْجِبَالِ وَالظِّرَابِ وَبُطُونِ الْأَوْدِيَةِ وَمَنَابِتِ الشَّجَرِ

    Allahumma haawalaina wa laa ‘alaina. Allahumma ‘alal aakami wal jibaali, wazh zhiroobi, wa buthunil awdiyati, wa manaabitisy syajari.

    Artinya: “Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami, bukan untuk merusak kami. Ya Allah, turunkan lah hujan ke dataran tinggi, gunung-gunung, bukit-bukit, perut lembah, dan tempat tumbuhnya pepohonan.” (HR Bukhari)

    (aeb/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Rodhitu Billahi Robba dan 8 Bacaan Doa sebelum Belajar


    Jakarta

    Rodhitu billahi robba merupakan bacaan doa yang mengawali doa sebelum belajar yang cukup populer diajarkan. Doa ini dipanjatkan agar memperoleh kemudahan dalam belajar dan mendapatkan berkah ilmu.

    Simak berikut ini bacaan lengkap doa rodhitu billahi robba dengan teks Arab, latin, dan artinya. Simak juga bacaan doa-doa lainnya yang bisa dipanjatkan sebelum belajar dan menuntut ilmu.

    Bacaan Lengkap Rodhitu Billahi Robba: Teks Arab, Latin, dan Artinya

    رَضِيتُ بِاللَّهِ رَبًّا، وَبِالإِسْلَامِ دِينًا، وَبِمُحَمَّدٍ نَبِيًّا وَرَسُولًا، رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا، وَارْزُقْنِي فَهْمًا.


    Arab-Latin: Rodhitu billahi robba, wabil islami dina, wabimuhammadin nabiyya warosula, robbi zidniilma, warzuqni fahma.

    Artinya: Aku ridho Allah SWT sebagai Tuhanku, Islam agamaku, dan Nabi Muhammad SAW nabi dan rasulku. Ya Allah, tambahkanlah kepadaku ilmu dan berikanlah aku pengertian yang baik.

    Selain mengiringi doa sebelum belajar, rodhitu billahi robba juga termasuk dalam kumpulan doa dan dzikir yang disunnahkan untuk dibaca pada pagi dan sore hari. Berikut bacaannya yang dikutip dari buku Dzikir Pagi oleh Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas:

    رَضِيتُ بِاللَّهِ رَبًّا، وَبِالإِسْلَامِ دِينًا، وَبِمُحَمَّدٍ نَبِيًّا وَرَسُولًا

    Arab-Latin: Rodhitu billahi robba, wabil islami dina, wabimuhammadin nabiyya warosula.

    Artinya: Aku ridho Allah SWT sebagai Tuhanku, Islam agamaku, dan Nabi Muhammad SAW nabi dan rasulku. Ya Allah, tambahkanlah kepadaku ilmu dan berikanlah aku pengertian yang baik.

    Bacaan Doa sebelum Belajar

    Selain doa rodhitu billahi robba yang dituliskan di atas, terdapat beberapa bacaan doa lainnya yang bisa diamalkan sebelum belajar agar proses menuntut ilmu dimudahkan oleh Allah SWT dan mendapatkan ilmu yang bermanfaat.

    Berikut bacaan doanya yang dirangkum dari buku Kumpulan Doa Harian yang diterbitkan oleh Yayasan Pondok Pesantren Darul Hikmah Surabaya, repository Sistem Informasi Manajemen Bimas Islam (SIMBI) Kementerian Agama, dan buku Khasiat Dzikir dan Doa Terjemahan Al-Adzkar An-Nawawi.

    1. Bacaan Doa Rodhitu Billahi Robba versi Lain

    Selain bacaan doa rodhitu billahi robba yang disebutkan sebelumnya, terdapat pula bacaan lainnya yang menggabungkan doa yang tercantum dalam surah Thaha ayat 25-28.

    رَضِيتُ بِاللَّهِ رَبًّا، وَبِالإِسْلَامِ دِينًا، وَبِمُحَمَّدٍ نَبِيًّا وَرَسُولًا، وَبِالْقُرْآنِ إِمَامًا وَحُكْمًا. رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا، وَارْزُقْنِي فَهْمًا .رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي، وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي، وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِّنْ لِسَانِي، يَفْقَهُوا قَوْلِي

    Arab-Latin: Rodhitu billahi robba, wabil islami dina, wabimuhammadin nabiyya warosula, wa bil qur’ani imamaw wahukma. Robbi zidniilma, warzuqni fahma. Rabbisy rahlii shadrii, wa yassirlii amrii, wahlul ‘uqdatan min lisaanii, yafqahuu qawlii.

    Artinya: Aku ridho Allah SWT sebagai Tuhanku, Islam agamaku, dan Nabi Muhammad SAW nabi dan rasulku, dan Al-Qur’an sebagai pemimpin dan hakimku. Ya Allah, tambahkanlah kepadaku ilmu dan berikanlah aku pengertian yang baik. Ya Tuhanku, lapangkanlah dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskan kekakuan dari lidahku agar mereka mengerti perkataanku.

    2. Doa Memohon Kemudahan dalam Belajar

    اللَّهُمَّ افْتَحْ عَلَيْنَا حِكْمَتَكَ، وَانْشُرْ عَلَيْنَا مِنْ خَزَائِنِ رَحْمَتِكَ، يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ

    Arab-Latin: Allahummaftah ‘alainaa hikmataka, wansyur ‘alainaa min khazaaini rahmatika, yaa arhamar raahimiin.

    Artinya: Ya Allah, bukakanlah hikmah-Mu kepada kami, dan limpahkanlah rahmat-Mu dari khazanah-Mu. Wahai Dzat yang Maha Pengasih di antara yang pengasih.

    3. Doa Nabi Musa AS sebelum Berdakwah

    Dalam surah Thaha ayat 25-28 tercantum doa yang dipanjatkan oleh Nabi Musa AS untuk meminta kemudahan saat beliau ingin berdakwah. Doa ini juga bisa dipanjatkan untuk meminta kelancaran berbicara sebelum menyampaikan tausiah, pidato, mengajar, dan sebagainya.

    رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي، وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي، وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِّنْ لِسَانِي، يَفْقَهُوا قَوْلِي

    Arab-Latin: Rabbisy rahlii shadrii, wa yassirlii amrii, wahlul ‘uqdatan min lisaanii, yafqahuu qawlii.

    Artinya: Wahai Tuhanku, lapangkanlah dadaku, mudahkanlah urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku agar mereka memahami perkataanku.

    4. Doa Memohon Ilmu yang Bermanfaat

    اللَّهُمَّ انْفَعْنِي بِمَا عَلَّمْتَنِي وَعَلِّمْنِي مَا يَنْفَعُنِي وَزِدْنِي عِلْمًا.

    Arab-Latin: Allahumma anfa’nii bimaa ‘allamtanii wa ‘allimnii maa yanfa’uunii wa zidnii ‘ilmaa.

    Artinya: Ya Allah, berikanlah manfaat kepadaku dari apa yang telah Engkau ajarkan, ajarkanlah aku hal yang bermanfaat, dan tambahkanlah aku ilmu. (Hadis Riwayat Ibnu Majah No. 251)

    5. Doa Menjadi Orang yang Berilmu dan Bermanfaat

    اللَّهُمَّ اجْعَلْنِي مِنَ الَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ

    Arab-Latin: Allahumma aj’alnii mina alladziina yastami’uuna al-qawla fayattabi’uuna ahsanahu.

    Artinya: Ya Allah, jadikanlah aku termasuk orang-orang yang mendengarkan perkataan dan mengikuti yang terbaik darinya.

    6. Doa agar Memperoleh Ilmu yang Bermanfaat dan Harta yang Halal

    اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلًا مُتَقَبَّلًا

    Arab-Latin: Allahumma inni as-aluka ‘ilman nafi’an, wa rizqon thoyyiban, wa ‘amalan mutaqobala.

    Artinya: Wahai Allah, aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat dan rizki yang baik serta ibadah yang diterima.

    7. Doa agar Terhindar dari Ilmu yang Tidak Bermanfaat

    اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ، وَقَلْبٍ لَا يَخْشَعُ، وَدُعَاءٍ لَا يُسْمَعُ، وَنَفْسٍ لَا تَشْبَعُ

    Arab-Latin: Allahumma inni a’udzubika min ‘ilmin laa yanfa’u, wa qolbin laa yakhsya’u, wa du’aain laa yasma’u, wa nafsin latasyba’u

    Artinya: Wahai Allah, aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, dan hati yang tidak khusyuk, dan doa yang tidak diterima, dan nafsu yang tidak kenyang (puas)”

    8. Doa Memohon Tambahan Ilmu dan Dilindungi dari Kesesatan

    Diriwayatkan oleh Abu Daud, Aisyah RA berkata bahwa Rasulullah SAW membaca doa ini saat terbangun dari tidurnya di malam hari.

    لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ، اللَّهُمَّ زِدْنِي عِلْمًا، وَلَا تُزِغْ قَلْبِي بَعْدَ إذْ هَدَيْتَنِي، وَهَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْووَهَّابُ

    Arab-Latin: La ilaha illa anta subhanaka alluhamma zidni ilman wa la tuzigh qolbi ba’da idzhadaitani wa habli min ladunka rahmatan innaka antal wahhab.

    Artinya: Tidak ada Tuhan melainkan Engkau, maha suci Engkau ya Allah, aku minta ampun kepada-Mu tentang dosa-dosaku, dan aku mohon rahmat-Mu tentang dosa-dosaku, dan aku mohon rahmat-Mu. Ya Allah, tambahlah ilmuku dan janganlah Engkau gelincirkan hatiku setelah Engkau memberi petunjuk kepadaku, dan karuniakanlah rahmat untukku dari-Mu, sesungguhnya Engkaulah yang Maha Memberi.

    (inf/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Arti Syafakallah Syifaan Ajilaan, Doa untuk Orang Sakit yang Bisa Diamalkan Muslim


    Jakarta

    Syafakallah syifaan ajilaan merupakan lafaz dalam doa bagi orang sakit. Bacaan ini dipanjatkan oleh muslim kepada sesamanya untuk memohon kesembuhan.

    Menukil dari buku Fiqih Ibadah bagi Orang Sakit dan Bepergian oleh Enang Hidayat, menjenguk dan mendoakan orang sakit termasuk salah satu hak sesama muslim. Rasulullah SAW bersabda,

    “Hak muslim atas muslim lainnya ada lima, yaitu; menjawab salam, menjenguk yang sakit, mengiringi jenazah, memenuhi undangan, dan mendoakan yang bersin.” (HR Bukhari, Muslim dan Ibnu Majah)


    Sakit merupakan bagian dari takdir yang Allah SWT atur bagi setiap makhluk hidup. Dalam Islam, sakit bukan sekadar kondisi fisik yang kurang sehat melainkan juga ujian yang Allah SWT berikan kepada hamba-Nya sebagai sarana mendekatkan diri kepada Sang Khalik.

    Muslim bisa mendoakan diri sendiri atau didoakan oleh yang menjenguknya dengan harapan diberi kesembuhan. Berkaitan dengan itu, ada beberapa doa untuk orang sakit yang bisa diamalkan termasuk syafakallah syifaan ajilaan.

    Lantas, apa arti syafakallah syifaan ajilaan?

    Arti Syafakallah Syifaan Ajilaan

    Sebelum membahas arti syafakallah syifaan ajilaan, muslim harus mengetahui lebih dulu bunyi lengkap dari doa tersebut. Berikut bacaan disertai terjemahnya,

    شفك الله شفعا عاجلا لا يغادر بعدها سقما

    Arab latin: Syafakallah syifaan ajilaan, syifaan la yughadiru ba’dahu saqaman.

    Artinya: “Semoga Allah menyembuhkanmu secepatnya, dengan kesembuhan yang tiada sakit selepasnya.”

    Syafakallah Syifaan Ajilaan Adalah Doa untuk Orang Sakit Laki-laki

    Menurut buku Menulis Buku, Alternatif bagi Guru yang disusun Ardhi Aditya, syafakallah syifaan ajilaan merupakan doa untuk orang sakit laki-laki. Sebab, lafaz syafakallah diperuntukkan bagi laki-laki.

    Sementara itu, jika doa dibaca untuk orang sakit perempuan maka syafakallah diganti menjadi syafakillah. Maknanya sama seperti syafakallah, perbedaannya hanya terdapat pada subjek, apakah laki-laki atau perempuan.

    (aeb/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Doa Setelah Salat Taubat, Amalkan Saat Meminta Ampunan Allah SWT



    Jakarta

    Doa setelah salat taubat bisa menjadi amalan yang dikerjakan setelah mendirikan salat taubat. Doa ini berisi permohonan agar Allah SWT mengampuni segala kesalahan yang kita perbuat.

    Manusia adalah tempatnya salah dan khilaf. Setiap manusia pasti pernah berbuat kesalahan.

    Manusia yang mulia adalah mereka yang berbuat salah namun segera memohon ampun dan bertaubat. Dalam hadits, Rasulullah SAW bersabda,


    كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ، وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ

    Artinya: Setiap anak keturunan Adam adalah orang yang berbuat kesalahan, dan sebaik-baik orang yang berbuat kesalahan adalah orang yang bertaubat (HR Ibnu Majah).

    Dosa bisa dihilangkan dengan dua jalan sebagaimana diajarkan dalam Islam. Jalan yang pertama yakni dengan taubat, jalan ke dua yakni dengan beribadah sungguh-sungguh kepada Allah SWT. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam buku Keutamaan Tobat karya Hafidz Muftisany.

    Cara bertaubat kepada Allah bisa dilakukan dengan salat sunnah taubat. Salat ini bisa dilakukan bagi orang-orang yang telah melakukan perbuatan dosa atau merasa pernah melakukannya. Salat taubat bisa dilakukan dengan 2 hingga 6 rakaat dengan salam di setiap 2 rakaat.

    Mengutip buku Ibadah-ibadah Paling Terhormat bagi Pelaku Maksiat Agar Taubat Nasuha karya Muhammad Nasrul dijelaskan salat sunnah taubat bisa dilaksanakan pada siang maupun malam hari.

    Anjuran untuk melaksanakan salat dua rakaat ketika akan bertaubat dijelaskan Rasulullah SAW dalam haditsnya berikut:

    Dari Abu Bakar, ia berkata Rasulullah SAW bersabda, “Tidak ada seorangpun yang melakukan dosa, lalu dia berdiri kemudian bersuci lalu menunaikan salat, setelah itu memohon ampun kepada Allah, kecuali Allah pasti akan mengampuninya.” (HR Tirmidzi)

    Tata Cara Salat Taubat

    Merangkum buku Panduan Shalat untuk Wanita: Panduan Bersuci Untuk Sholat karya Ria Khoirunnisa, berikut tata cara sholat taubat:

    1. Mengucapkan niat sholat taubat

    أصلى سُنَّةَ التَّوْبَةِ رَكْعَتَيْنِ لِلَّهِ تَعَالَى .

    Arab latin: “Ushalli sunnatat taubati rak’ataini lillaahi ta’aalaa.”

    Artinya: “Saya niat sholat taubat dua raka’at Lillahi Ta’aalaa.”

    2. Takbiratul ihram
    3. Membaca doa iftitah
    4. Membaca surah Al Fatihah
    5. Membaca surah pendek dalam Al-Qur’an
    6. Rukuk
    7. Iktidal
    8. Sujud
    9. Duduk di antara dua sujud
    10. Sujud
    11. Bangun dari sujud dan melanjutkan rakaat kedua seperti rakaat pertama
    12. Tasyahud akhir
    13. Salam
    14. Membaca doa sholat taubat
    15. Doa Sholat Taubat

    Waktu Salat Taubat

    Mengutip buku Buku Panduan Shalat Doa & Dzikir karya Ustaz A Solihin As Suhaili dijelaskan bahwa salat sunnah taubat bisa dikerjakan pada waktu kapanpun. Baik siang ataupun malam, termasuk pada waktu-waktu dilarang, dikarenakan adanya sebab yaitu meminta ampun dengan bertaubat. di mana meminta ampunan atau bertaubat hendaknya disegerakan.

    Meskipun demikian, akan lebih baik jika salat taubat dikerjakan bukan pada waktu-waktu yang dilarang.

    Doa Setelah Salat Taubat

    Berikut bacaan doa sholat taubat:

    أَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْم الَّذِي لَا إِلهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُ الْقَيُّوْمُ وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ

    Arab latin: Astaghfirullaahal’adziim, alladzii laa ilaaha illa huwal hayyul qayyuumu wa atuubu ilaiih

    Artinya: “Saya mohon kepada Allah Yang Maha Agung, Dzat yang tiada Tuhan melainkan hanya Dia Yang Maha Hidup lagi Berdiri Sendiri. Aku bertaubat kepada-Nya,”

    Kemudian, dianjurkan juga membaca doa setelah sholat taubat berikut:

    اللّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لآاِلهَ اِلَّااَنْتَ خَلَقْتَنِي وَأَناَ عَبْدُكَ وَأَناَ عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ أَعُوْذُ بِكَ من شَرِّمَاصَنَعْتَ. اَبُوْءُلَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَي وَأَبُوْءُ بِذَنْبِي فَاغْفِرْلِي فَإِنَّهُ لاَيَغْفِرُ الذُّنُوْبَ اِلاَّ اَنْتَ

    Arab latin: Allaahumma anta rabbii laa ilaaha illaa anta khalaqtanii wa ana’abduka wa ana’alaa ‘ahdika wa wa’dika mastatha’tu a’uudzubika min syarri maa shana’tu. abuu ulaka bini’matika ‘alayya wa abuu u bidzanbi fahghfirlii fa innahu laa yaghfirudz dzunuuba illaa anta.

    Artinya: “Wahai Tuhan, Engkau adalah Tuhanku, tiada yang patut disembah melainkan hanya Engkau, Engkaulah yang menjadikan aku dan aku adalah hamba-Mu, dan aku dalam ketentuan dan janji-Mu yang Engkau limpahkan kepadaku dan aku mengakui dosaku, karena itulah ampunilah aku, sebab tidak ada yang dapat memberi ampunan melainkan Engkau wahai Tuhanku, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan apa yang telah aku perbuat.”

    (dvs/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Amalan Terbaik, Paling Suci dan Bisa Mengangkat Derajat Seseorang


    Jakarta

    Ada satu amalan yang disebut paling suci di sisi Allah SWT dan terbaik bagi manusia. Amalan ini juga bisa mengangkat derajat seseorang.

    Amalan ini disampaikan langsung oleh Rasulullah SAW kepada para sahabatnya. Beliau bersabda,

    ألا أنبئكُم بِخَيْرٍ أَعمَالِكُمْ وَأَزْكَاهَا عِندَ مليككُمْ وَأَرْفَعِهَا فِي دَرَجَاتِكُمْ وَخَيْرٌ لَكُمْ من أنفاق الذَّهَبِ وَالْوَرِقِ وَخَيْرٌ لَكُمْ مِنْ أَنْ تلْقَوْا عَدُوَّكُمْ فَنَضْرِبُوا أَعْنَا فَهُمْ وَيَضْرِبُوا أَعْنَا فَكَمْ؟ قَالُوا بَلَى ، قَالَ ذِكْر اللَّهِ تَعَالَى . رواه الترمذي عن أبي الدرداء .


    Artinya: “Maukah kalian aku beritahukan tentang amalan yang paling baik, paling suci di sisi Tuhanmu, paling dapat mengangkat derajatmu, yang lebih baik bagimu daripada infak emas dan perak, dan lebih baik bagimu daripada jika kalian menjumpai musuh lalu kalian tebas leher-leher mereka atau mereka memenggal leher-leher kalian? Para sahabat menjawab: “Baiklah”, Rasulullah bersabda: “Berzikirlah kepada Allah.” (HR Tirmidzi dari Abu Darda’)

    Hadits tersebut terdapat dalam Sunan Tirmidzi dalam kitab ad-Da’awat an Rasulillah.

    Menurut penjelasan dalam buku Keutamaan Doa dan Dzikir untuk Hidup Bahagia Sejahtera karya M. Khalilurrahman al Mahfani terkait hadits tersebut, zikir kepada Allah SWT (termasuk doa) adalah amalan yang paling utama di sisi Allah SWT. Bahkan, zikir lebih baik daripada menginfakkan emas dan perak atau jihad di jalan Allah SWT.

    “Hal ini dapat dimaklumi karena zikir merupakan media komunikasi antara hamba dengan Tuhannya yang dapat dilakukan kapan saja dan di mana saja. Dengan zikir, seorang hamba merasa dekat dengan Allah dan merasa selalu dalam perlindungan serta pengawasan-Nya,” jelas buku tersebut.

    Ibnu Qayyim al-Jauziyah dalam kitab Fawaaidul Adzakaar yang diterjemahkan Abdul Hayyie al-Kattani dan Budi Musthafa menukil pendapat Ibnu Zaid dan Qatadah yang mengatakan zikir kepada Allah SWT merupakan perkara yang paling besar dari apa pun. Pendapat ini diperkuat dengan hadits yang dikeluarkan at-Tirmidzi tadi.

    Ibnu Abi ad-Dunya menyebutkan sebuah hadits dari Ibnu Abbas bahwa suatu ketika seseorang bertanya kepadanya, “Amal apakah yang paling utama?” Dia menjawab, “Zikir kepada Allah lebih besar dari seluruh perkara.”

    Keutamaan zikir mengingat Allah SWT telah banyak disebutkan dalam ayat Al-Qur’an. Salah satunya dalam surah Al Baqarah ayat 152. Allah SWT berfirman,

    فَاذْكُرُوْنِيْٓ اَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْا لِيْ وَلَا تَكْفُرُوْنِ ࣖ ١٥٢

    Artinya: “Maka, ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu ingkar kepada-Ku.”

    Menurut penafsiran Ibnu Qayyim, kedudukan Allah SWT mengingat hamba-Nya lebih besar daripada hamba mengingat Allah SWT.

    Bacaan Zikir yang Bisa Jadi Benteng Setan Seharian Penuh

    Ulama kelahiran Baghdad yang hidup pada abad ke-14, Ibnu Rajab, dalam kitab Jamiul Ulum wal Hikam fi Syarhi Haditsi Sayyidil Arab wal Ajm yang diterjemahkan Fadhli Bahri, memaparkan sebuah hadits tentang bacaan zikir yang bisa menjadi benteng setan. Zikir ini juga bisa menghapus 100 kesalahan, dituliskan 100 kebaikan dan setara memerdekakan 10 budak.

    Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa berkata, ‘Tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah saja tanpa ada sekutu bagi-Nya, kerajaan milik-Nya, pujian milik-Nya, Dia menghidupkan dan mematikan, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu’ sebanyak seratus kali, maka itu sama dengan memerdekakan sepuluh budak, seratus kebaikan ditulis baginya, seratus kesalahan dihapus darinya, kalimat tersebut adalah benteng baginya dari setan sejak siangnya hingga sore hari, dan tidak seorang pun yang datang dengan sesuatu yang lebih baik daripada apa yang ia bawa kecuali orang yang mengerjakan yang lebih banyak darinya.”

    Hadits tersebut dikeluarkan Imam Bukhari, Muslim, Imam Ahmad, Imam Malik, at-Tirdmidzi, dan Ibnu Majah.

    Bacaan zikir yang dimaksud adalah sebagai berikut,

    لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرُ

    Laa ilaahaillallah wahdahu laa syariikalahu, lahul mulku walahul hamdu wa huwa alaa kulli syain qadiiru.

    Wallahu a’lam.

    (kri/inf)



    Sumber : www.detik.com

  • 10 Doa Penyembuh Segala Penyakit yang Bisa Diamalkan Muslim


    Jakarta

    Doa penyembuh segala penyakit bisa diamalkan muslim. Bacaan ini diamalkan untuk memohon kepada Allah SWT untuk mengangkat penyakit yang dideritanya.

    Dalam Islam, sakit merupakan musibah sekaligus waktu digugurkannya dosa-dosa seorang muslim. Nabi Muhammad SAW bersabda dalam sebuah hadits,

    “Tidaklah seorang muslim ditimpa suatu musibah berupa sakit atau lainnya, melainkan Allah akan menggugurkan dosa-dosanya dengan sakitnya itu, sebagaimana sebatang pohon yang menggugurkan daun-daunnya.” (HR Bukhari dan Muslim)


    Saiful Hadi El-Sutha melalui bukunya Bimbingan Orang Sakit menjelaskan bahwa membaca doa penyembuh segala penyakit termasuk ikhtiar seseorang agar sembuh. Jika seseorang menyikapi sakit dengan sabar dan senantiasa berserah diri kepada Allah SWT, niscaya sakit yang dideritanya menjadi berkah.

    Kumpulan Doa Penyembuh Segala Penyakit

    1. Doa Penyembuh Segala Penyakit Versi Pertama

    Doa penyembuh segala penyakit ini dikutip dari buku Doa-Doa Terbaik Sepanjang Masa susunan Ustaz Ahmad Zacky El-Syafa. Berikut bacaan lengkapnya,

    بِسْمِ الله، حَسْبِيَ الله تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهُ، اِعْتَصَمْتا بِاللَّه فَوَّضْتُ أَمْرِي إِلَى الله مَا شَاءَ اللَّهُ لَا حَوْلَ وَلَا قُ وَّةَ إِلَّا بِاللَّه الْعَلِيُّ الْعَظِيمِ

    Arab latin: Bismillaahi hasbiyallaahi tawakkaltu ‘alallaahi i’tashamtu billaahi fawwadltu amri ilallaahi maa syaa-allahu laa haula walaa quwwata illaa billaahil ‘aiyyil ‘adziimi

    Artinya: “Dengan menyebut nama Allah, Allah-lah Zat Yang mencukupiku. Aku berserah diri kepada Allah. Aku memohon perlindungan kepada Allah. Tiada daya dan upaya hanyalah kepada Allah Zat Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung.”

    2. Doa Penyembuh Segala Penyakit Versi Kedua

    Selain doa di atas, ada juga bacaan penyembuh segala penyakit yang berasal dari hadits shahih. Aisyah RA mengatakan Rasulullah SAW kerap membaca surah Al-Mu’awwidzat bagi anggota keluarganya sambil mengusap dengan tangan kanannya lalu memanjatkan bacaan berikut,

    للَّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ أذهبْ البَاسِ اشْفِ أَنْتَ الشَّافِي لَا شَافِي إِلَّا أَنتَ شِفَاءً لَا يُغَادِرُ سَقَمًا

    Arab latin: Allahumma rabban naasi adzhibil ba’sisyfi antasy syaafi laa syaafiya illa anta syifaa’an laa yughaadiru saqama

    Artinya: “Ya Allah, Tuhan yang memelihara dan menguasai manusia, hapuskanlah penyakit dan penderitaan ini. Sembuhkanlah karena Engkaulah yang Maha Menyembuhkan. Tiada kesembuhan kecuali kesembuhan-Mu. Kesembuhan yang tidak menimbulkan efek samping.” (HR Bukhari, Muslim, Ahmad, & Abdurrazaq)

    3. Doa Penyembuh Segala Penyakit Versi Ketiga

    Doa penyembuh segala penyakit selanjutnya ini berasal dari buku Doa Menghadapi Musibah oleh Arif Munandar Riswanto. Berikut bacaannya,

    اللَّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ أَذْهِبِ الْبَأْسَ اشْفِ أَنْتَ الشَّافِي لَا شَافِيَ إلَّا أَنْتَ شِفَاءً لَا يُغَادِرُ سَقْمًا

    Arab latin: Allaahumma rabban naasi, adzhibil ba’sa. Isyfi. Antas syaafi. Laa syaafiya illā anta syifaa’an lā yughaadiru saqaman.

    Artinya: “Tuhan segala manusia, hilangkanlah penyakit. Sembuhkanlah, Engkaulah penyembuh. Tidak ada penawar selain dari penawar-Mu, penawar yang menghabiskan sakit dan penyakit.”

    4. Doa Penyembuh Segala Penyakit Versi Keempat

    Mengutip dari kitab Al Adzkar Imam Nawawi yang diterjemahkan Masturi Irham dan Muhammad Anik, ada juga doa penyembuh segala penyakit lainnya yang dapat diamalkan muslim. Ketika memanjatkannya, hendaknya muslim menggunakan debu.

    بِسْمِ اللهِ تُرْبَةُ أَرْضِنَا بِرِيقَةِ بَعْضِنَا يُشْفَى سَقِيمُنَا بِإِذْنِ رَبِّنَا

    Arab latin: Bismillahi turbatu ardhinaa biriiqati ba’dhinaa yusyfa saqiimunaa bi idzni rabbinaa

    Artinya: “Dengan nama Allah, debu tanah kami dengan ludah di antara kami, orang-orang yang menderita sakit di antara kami menjadi sembuh dengan izin Tuhan kami.” (HR Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Ibnu Majah, Ahmad, & Hakim)

    5. Doa Penyembuh Segala Penyakit Versi Kelima

    Doa berikutnya ini dinukil dari buku Panduan lengkap Shalat, Doa, Zikir & Shalawat karya Ustaz Enjang Burhanudin Yusuf. Bunyi bacaannya sebagai berikut,

    اللَّهُمَّ إِنْ كَانَ أَجَلِي قَدْ حَضَرَ فَأَرِحْنِي وَإِنْ كَانَ مُتَأَخِّرًا فَاشْفِنِي وَإِنْ كَانَ بَلَاءً فَصَبِرْنِي

    Arab latin: Alloohumma in kaana ajalii qod hadhoro fa arihnii. wa in kaana muta’akhkhiron fasyfinii. wa in kana balaa-an fashobbirnii.

    Artinya: “Ya Allah, jika ajalku sudah dekat maka wafatkanlah aku dengan tenang, jika ajalku masih lama maka sembuhkanlah penyakitku, dan jika sakitku ini adalah ujian dari-Mu maka anugerahkanlah kesabaran untukku.”

    Setelahnya bacaan dilanjut dengan doa di bawah ini,

    أَعُوْذُ بِعِزَّةِ اللَّهِ وَقُدْرَتِهِ مِنْ شَرِّ مَا أَجِدُ وَأُحَاذِرُ

    Arab latin: A’uudzu bi ‘izzatillahi wa qudrotihi min syarri maa ajidu wa uhaadziru.

    Artinya: “Aku berlindung dengan kebesaran Allah dan kekuasaan-Nya dari kejahatan apa yang aku derita dan aku khawatirkan.”

    6. Doa Penyembuh Segala Penyakit Versi Keenam

    بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ، بِسْمِ اللهِ الْكَبِيرِ وَأَعُوْذُ بِاللَّهِ الْعَظِيمِ مِنْ شَرِّ عِرْقٍ نَعَارٍ، وَ مِنْ شَرِّ حَرِّ النَّارِ.

    Arab latin: Bismillahir rahmanirrahim, bismillaahil kabiir wa a’uudzu billaahil ‘azhiim min syarri ‘irqin na’-aarin wa min syarri kulli harrin naar.

    Artinya: “Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, dengan nama Allah Yang Maha Besar, aku berlindung kepada Allah Yang Maha Agung dari sakitnya darah mengalir (luka) dan dari buruknya panas api.”

    7. Doa Penyembuh Segala Penyakit Versi Ketujuh

    Doa penyembuh segala penyakit versi ketujuh ini diambil dari buku Doa dan Dzikir Sepanjang Tahun yang ditulis Adi Tri Eka. Doa tersebut berasal dari hadits Abu Daud.

    اللَّهُمَّ عَافِنِي فِي بَدَنِي، اللَّهُمَّ عَافِنِي فِي سَمْعِي، اللَّهُمَّ عَافِنِي فِي بَصَرِي، اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْكُفْرِوَالْفَقْرِ وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ

    Arab latin: Allaahumma ‘aafinii badanii, allaahumma ‘aafinii fii sama ‘ii, allahumma ‘aafinii fii basharii. Allaahumma innii a’uudzu bika minal kufri wal faqri. Allaahumma innii a’uudzu bika min ‘adzaabil qabri la ilaaha illaa anta

    Artinya: “Ya Allah, sembuhkanlah badanku. Ya Allah, sembuhkanlah pendengaranku. Ya Allah, sembuhkanlah penglihatanku. Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kekafiran dan kefakiran. Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari siksa kubur, tiada Tuhan selain engkau.” (HR Abu Daud)

    8. Doa Penyembuh Segala Penyakit Versi Kedelapan

    Bacaan ini dipanjatkan ketika Rasulullah SAW meruqyah sahabatnya. Berikut bunyi doanya,

    امْسَحِ الْبَأْسَ رَبَّ النَّاسِ بِيَدِك الشِّفَاءُ لَا كَاشِفَ لَهُ إلَّا أَنْتَ

    Arab latin: Imsahil ba’sa rabban nāsi. Bi yadikas syifā’u. Lā kāsyifa lahū illā anta.

    Artinya: “Tuhan manusia, sapulah penyakit ini. Di tangan-Mu lah kesembuhan itu. Tidak ada yang dapat mengangkatnya kecuali Kau,”

    9. Doa Penyembuh Segala Penyakit Versi Kesembilan

    يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيْثُ ، أَصْلِحْ لِيْ شَأْنِيْ كُلَّهُ وَلاَ تَكِلْنِيْ إِلَى نَفْسِيْ طَرْفَةَ عَيْنٍ ولا إل أحد منان ناس

    Arab latin: Yaa hayyun, yaa qayyuumun, birahmatika istaghiitsu, ashlih lii sya’nii kullahuu, wa laa takilnii ilaa nafsii tharfata ‘ainin, wa laa ilaa ahadin minan naas.

    Artinya: “Wahai Dzat Yang Maha Hidup dan Maha Kekal, hanya dengan rahmat-Mu aku memohon pertolongan. Perbaikilah seluruh kondisiku, jangan Engkau biarkan diriku sekejap mata (tanpa pertolongan atau rahmat dari-Mu). Dan jangan Engkau biarkan aku bergantung kepada siapapun dari manusia.” (Ath Thabrani, Al-Mu’jamu ash-Shaghir lith Thabrani, Juz 2 [Mesir: Muwaqi’u Jaamil Hadits])

    10. Doa Penyembuh Segala Penyakit Versi Kesepuluh

    Doa penyembuh segala penyakit yang terakhir ini bermula ketika Utsman bin Abil ‘Ash yang mengadu kepada Rasulullah SAW perihal penyakit yang ia rasakan pada tubuhnya. Nabi SAW pun memerintahkannya membaca doa berikut,

    (3x) بِسْمِ اللَّهِ

    (7x) أَعُوذُ بِعِزَّةِ اللهِ وَقُدْرَتِهِ مِنْ شَرِّ مَا أَجِدُ وَأُحَاذِرُ

    Arab latin: Bismillah (3x), a’uudzu bi’izzatillaahi wa qudrotihi min syarri maa ajidu wa uhaadziru (7x)

    Artinya: “Dengan nama Allah, aku berlindung dengan keagungan dan kekuasaan Allah dari kejahatan yang menimpaku dan yang aku takuti.”

    (aeb/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Arti Ungkapan Alhamdulillah Ala Kulli Hal, Tulisan Arab dan Waktu Membacanya


    Jakarta

    Sering kali kita menghadapi situasi yang tidak sesuai harapan. Di saat seperti ini, penting untuk mengingat ungkapan Alhamdulillahi ‘ala kulli hal. Apa sebenarnya maksud dari kalimat tersebut?

    Alhamdulillahi ‘ala kulli hal adalah ungkapan syukur yang menunjukkan kepasrahan dan keridhaan seorang hamba terhadap segala ketetapan Allah.

    Tulisan Arab Alhamdulillah Ala Kulli Hal dan Artinya

    الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ


    Arab latin: Alhamdulillahi ‘ala kulli hal

    Artinya: Segala puji bagi Allah atas setiap keadaan.

    Berdasarkan buku Jangan Hancur karena Keadaan (Dunia Takkan Berhenti Berputar hanya karena Kamu Tidak Baik-Baik Saja) karya Fitri Handayani menjelaskan bahwa ungkapan Alhamdulillah ala kulli hal adalah ucapan yang diajarkan untuk diucapkan ketika kita menghadapi hal-hal yang tidak sesuai dengan keinginan kita.

    Meskipun situasi tersebut sulit atau tidak sesuai harapan, kita harus tetap bersyukur dan menerima takdir Allah dengan ikhlas.

    Sebagaimana hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda:

    “Orang yang selalu bersyukur atas nikmat yang diberikan oleh Allah SWT sama dengan orang yang berpuasa.” (HR Ibnu Majah)

    Hadits ini menunjukkan betapa besar keutamaan sikap syukur dalam Islam. Rasulullah SAW menggambarkan orang yang senantiasa bersyukur atas nikmat Allah memiliki derajat yang sama dengan orang yang berpuasa.

    Hal ini menegaskan bahwa bersyukur bukan hanya sekadar ucapan, tetapi juga bentuk ibadah yang memiliki nilai tinggi di sisi Allah.

    Waktu Terbaik Mengucapkan Alhamdulillah Ala Kulli Hal

    Setiap hari, barangkali ada di antara kita yang sering mengalami hal-hal yang tidak sesuai dengan harapan. Terkadang, rencana yang kita buat malah tidak berjalan seperti yang diinginkan.

    Namun, kita bisa belajar dari setiap kejadian dan percaya bahwa ada kebaikan di baliknya. Ketika lelah atau kecewa datang, kita harus tetap bersyukur dan mengingat bahwa segala yang terjadi adalah bagian dari rencana Allah.

    Inilah saat yang tepat untuk mengucapkan “Alhamdulillah Ala Kulli Hal,” karena kita yakin bahwa semua yang terjadi adalah yang terbaik dari-Nya.

    Perbedaannya dengan Alhamdulillah Bini’matihi Tatimmush Shalihaat

    Dari Aisyah RA, kebiasaan Rasulullah SAW ketika menyaksikan hal-hal yang beliau sukai adalah mengucapkan, “Bi ni’matihi tatimmus shalihat.” Sedangkan jika beliau menyaksikan hal-hal yang tidak menyenangkan, beliau mengucapkan, “Alhamdulillah ‘ala kulli hal” (HR Ibnu Majah), yang dikutip dari buku Ingatlah Allah, Allah akan Mengingatmu susunan D.A. Akhyar.

    Kedua kalimat ini menunjukkan sikap syukur Rasulullah SAW terhadap segala keadaan. “Bi ni’matihi tatimmus shalihat” digunakan untuk mengungkapkan rasa syukur atas nikmat dan kebaikan, sementara “Alhamdulillah ‘ala kulli hal” digunakan untuk tetap bersyukur meskipun dalam kondisi yang tidak menyenangkan.

    Ucapan-ucapan ini mengajarkan kita untuk senantiasa mengingat Allah dan bersyukur, baik dalam keadaan yang menyenangkan maupun yang penuh ujian.

    (inf/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Nu’aiman, Sahabat Nabi yang Suka Menjahili Rasulullah SAW



    Jakarta

    Nu’aiman adalah seorang sahabat Nabi Muhammad SAW yang terkenal suka bercanda. Meski demikian, Nu’aiman pernah ikut serta menjadi bagian pasukan Islam dalam Perang Badar yang dipimpin Rasulullah SAW.

    Dikutip melalui buku Saring Sebelum Sharing karya Nadirsyah Hosen, salah satu kisah Nu’aiman yang menarik untuk diceritakan yakni saat ia mengerjai Rasulullah SAW. Nu’aiman bin Ibnu Amr bin Raf’ah adalah nama lengkapnya. Nu’aiman diriwayatkan oleh Nabi Muhammad SAW bahwa ia akan memasuki surga dengan keadaan tertawa.

    Saat Nu’aiman Mengerjai Rasulullah SAW

    Kisah ini dimulai ketika Nu’aiman mendatangi Nabi Muhammad SAW dengan membawakan buah-buahan sebagai hadiah. Tak lama kemudian ternyata datanglah seorang penjual buah-buahan yang menagih uang pembayaran buah-buahan tersebut kepada Nabi Muhammad SAW.


    Rasulullah SAW yang terkaget sontak bertanya kepada Nu’aiman, “Bukankah engkau memberikan buah-buah ini sebagai hadiah kepadaku?”

    Tanpa disangka ternyata Nu’aiman berhutang terlebih dahulu kepada penjual buah-buahan tersebut. Ia ternyata berkata kepada penjual tersebut bahwa buah-buahan itu sudah dibebankan tagihan atas nama Rasulullah SAW.

    Nu’aiman menjawab pertanyaan Rasulullah SAW tadi, “Benar, ya Rasulullah, aku sungguh ingin memakan buah-buahan ini bersamamu, akan tetapi aku sedang tidak memiliki uang.”

    Respons suri tauladan umat Islam ini tertawa, lalu ia membayar harga buah yang ditagihkan kepadanya itu.

    Saat Nuaiman ‘Menjual’ Sahabatnya

    Kisah selanjutnya yang juga masih diceritakan dari buku yang sama, dipastikan sumbernya melalui Ibnu Majah. Pada suatu hari Nu’aiman pernah diajak untuk berjualan bersama Abu Bakar Ash-Shiddiq juga dengan sahabat lainnya ke Negeri Syam. Negeri Syam dapat dikatakan menjadi salah satu negeri paling maju saat itu.

    Salah satu dari sahabat itu namanya adalah Suwaibith bin Harmalah. Dikisahkan ketika hari beranjak siang, Nu’aiman yang sedang merasa kelaparan menghampiri Suwaibith yang saat itu ditugaskan untuk menjaga makanan.

    Suwaibith yang bersikap patuh serta amanah kemudian menolak dengan tegas saat Nu’aiman hendak meminta satu potong roti untuknya. Hingga Nu’aiman berkata, “Kalau memang begitu, artinya kamu setuju saya buat ulah yang membuatmu marah!”

    Ulah yang dimaksudkan oleh Nu’aiman adalah ketika ia bertemu dengan sekelompok kafilah, ia bertanya kepada mereka, “Apakah kalian hendak membeli budak? Saya memiliki budak yang tangkas dan pandai bicara,” ujarnya.

    Kafilah yang tertarik dengan budak yang ditawarkan Nu’aiman itu kemudian membayarnya dengan sepuluh ekor unta. Dengan cerdik seakan membaca masa depan Nu’aiman berkata, “Budak itu nantinya akan berkata, ‘Saya adalah orang merdeka dan bukan budak!’ Apabila demikian, jangan hiraukan perkataannya,”

    Setelah beberapa saat para kafilah itu datang ke tempat Suwaibith berada dan berkata “Kami telah membelimu!” Suwaibith pun menjawab “Dia (Nuaiman) itu pembohong, saya adalah seorang lelaki merdeka!”

    Lalu, para kafilah itu menjawab, “Dia telah mengatakan kepada kami bahwa engkau akan berkata yang sedemekian itu.” Mereka pun menghiraukan perkataan Suwaibith kemudian mengikatkan tali di lehernya dan langsung pergi.

    Ketika beberapa waktu, Abu Bakar yang datang Negeri Syam kemudian diberi tahu akan kejadian tersebut. Ia dan para sahabat pun akhirnya bergegas pergi untuk menemui kafilah untuk menjelaskan kondisi yang sebenarnya.

    Setelah berunding, kafilah pun sepakat untuk mengembalikan Suwaibith dan dikembalikan juga sepuluh ekor unta yang dibayarkan mereka untuk ‘budak’ Suwaibith.

    Setelah beberapa lama, Rasulullah SAW pun juga mendengarkan mengenai kisah ini. Ketika kisah ini diceritakan kepada Rasulullah SAW, beliau merespons dengan tertawa karena kelucuan atas aksi jahil Nuaiman tersebut.un

    (rah/rah)



    Sumber : www.detik.com

  • Ini Amalan yang Bisa Dikerjakan Wanita Haid untuk Raih Malam Lailatul Qadar



    Jakarta

    Lailatul qadar disebut sebagai malam yang lebih mulia dari seribu bulan. Bahkan, keistimewaan malam lailatul qadar hanya diberikan kepada umat Nabi Muhammad SAW.

    Dalam sebuah riwayat dikatakan bahwa para nabi terdahulu ingin kembali hidup meski tidak membawa ajarannya hanya demi menjadi umat Rasulullah SAW dan mendapatkan malam lailatul qadar. Pada malam yang diprediksi jatuh pada 10 hari terakhir Ramadan itu, umat Islam berbondong-bondong meraih keutamaan dengan mengerjakan berbagai amalan.

    Menukil dari Buku Pintar Muslim dan Muslimah tulisan Rina Ulfatul Hasanah, di malam lailatul qadar Allah SWT memerintahkan para malaikat-Nya untuk turun ke Bumi dan menuliskan segala urusan seperti takdir, rezeki dan ajal yang ada pada tahun tersebut. Hal ini didasarkan dalam surat Al-Qadr ayat 4 yang berbunyi:


    تَنَزَّلُ ٱلْمَلَٰٓئِكَةُ وَٱلرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِم مِّن كُلِّ أَمْرٍ

    Arab latin: Tanazzalul-malā`ikatu war-rụḥu fīhā bi`iżni rabbihim, ming kulli amr

    Artinya: “Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan,”

    Namun, bagaimana dengan wanita haid? Seperti yang kita ketahui, wanita yang sedang haid atau nifas tidak diperbolehkan untuk mengerjakan ibadah salat ataupun membaca Al-Qur’an.

    Amalan bagi Wanita Haid untuk Meraih Malam Lailatul Qadar

    Muhammad Adam Hussain SPd MQHi dalam bukunya yang bertajuk Sukses Berburu Lailatul Qadar menjelaskan bahwa ada sejumlah amalan yang bisa dikerjakan oleh wanita haid untuk meraih malam lailatul qadar. Salah satunya membaca Al-Qur’an tanpa menyentuh mushaf, ini sesuai dengan pendapat dalam at Tamhid (17/397), Ibnu Abdil Barr berkata:

    “Para pakar fiqh dari berbagai kota baik Madinah, Irak, dan Syam tidak berselisih pendapat bahwa mushaf tidaklah boleh disentuh melainkan oleh orang yang suci dalam artian berwudhu. inilah pendapat Imam Malik, Syafi’i, Abu Hanifah, Sufyan ats Tsauri, al Auzai, Ahmad bin Hanbal, Ishaq bin Rahuyah, Abu Tsaur dan Abu Ubaid. Merekalah para pakar fiqh dan hadits di masanya,”

    Selain membaca Al-Qur’an tanpa menyentuh mushaf, ada juga amalan lainnya yang dapat dikerjakan. Antara lain sebagai berikut:

    • Berzikir dengan memperbanyak bacaan tasbih (subhanallah), tahlil (laa ilaha illallah), tahmid (alhamdulillah) dan zikir lainnya
    • Memperbanyak istighfar
    • Memperbanyak doa

    Menurut buku Ibadah Penuh Berkah Ketika Haid dan Nifas karya Himatu Mardiah Rosana, wanita dalam kondisi haid bisa mengerjakan amalan-amalan tersebut karena tergolong ibadah mahdhah yang tidak mensyaratkan kesucian dalam melakukan istighfar, zikir, dan doa. Ada juga yang menyarankan untuk perbanyak doa yang dilafalkan oleh Aisyah RA sesuai hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah.

    Dari Aisyah RA, beliau berkata:

    “Wahai Rasulullah, apa pendapatmu jika aku ketepatan mendapatkan malam lailatul qadar, apa yang harus aku ucapkan?”

    Nabi SAW menjawab:

    “Ucapkanlah; ya Allah, sesungguhnya Engkau maha pemaaf mencintai kemaafan, maka maafkanlah daku,” (HR Ibnu Majah).

    (aeb/lus)



    Sumber : www.detik.com