Tag: Inflasi AS

  • Data Inflasi AS dan Risalah Rapat The Fed Dorong Bitcoin di Atas 30K?

    Data inflasi AS dan risalah rapat The Fed menjadi sentimen yang kuat untuk pergerakan harga Bitcoin (BTC) pada pekan ini. Namun ketika data keluar, belum mendorong Bitcoin untuk melaju menembus level harga US$ 30.000 atau sekitar Rp 444 juta.

    Ekspektasi awal angka Consumer price index (CPI) bulan Maret menunjukkan penurunan tingkat inflasi AS menjadi 5,2%. CPI untuk Februari mencapai 6%, yang merupakan penurunan dibandingkan Januari. Penurunan 1% pada data inflasi berdampak langsung pada harga Bitcoin.

    Sementara, core CPI, yang mengecualikan ceruk yang lebih tidak stabil seperti makanan dan energi, diharapkan berada di antara 5,5% dan 5,6%. Core CPI ini benar-benar sesuai dengan ekspektasi, berdiri di 5,6%.

    Harga BTC meroket hampir US$ 500 dalam beberapa menit setelah angka inflasi keluar. Namun, setelahnya Bitcoin diperdagangkan dengan tenang di US$ 30.000, seperti yang dilaporkan sebelumnya, tetapi melonjak menjadi US$ 30.500.

    Pengaruh Data Inflasi

    Ilustrasi inflasi AS. Foto: Reuters.
    Ilustrasi inflasi AS. Foto: Reuters.

    Baca juga: Upgrade Ethereum Shanghai Sukses, Jadi Game Changer Holder ETH

    Dianggap sebagai aset berisiko, kinerja harga jangka pendek BTC sangat berkorelasi dengan data CPI. Ini karena angka inflasi menentukan kebijakan moneter yang diambil oleh Federal Reserve AS dan apakah akan terus menaikkan suku bunga acuan.

    Penurunan inflasi YoY menunjukkan bahwa tindakan The Fed berdampak dan bank sentral dapat segera mulai membalikkan strateginya. Pada kenaikan suku bunga The Fed tahun lalu terjadi lonjakan sebesar 0,25%.

    Menyusul rilis data CPI, The Fed juga mengeluarkan risalah rapat Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) terbaru yang mempengaruhi harga Bitcoin. Meskipun demikian, ini menghasilkan situasi yang membingungkan untuk kinerja aset dalam menanggapi CPI, karena investor berharap penurunan inflasi yang lebih cepat dari perkiraan sementara The Fed mempertahankan sikap hawkishnya.

    Menurut FedWatch yang disediakan oleh CME Group, pertemuan FOMC yang akan datang akan menghasilkan kenaikan suku bunga sebesar 0,25%, sama seperti bulan lalu. Perlu dicatat bahwa peluang ini sangat dinamis dan cepat menyesuaikan diri dengan perubahan data makro seperti indeks harga konsumen.

    Dalam risalah rapat The Fed menyatakan kejatuhan tiga bank di AS pada bulan lalu dapat menyebabkan ekonomi Amerika jatuh ke jurang resesi pada tahun ini. Kegagalan bank telah menyebabkan beberapa spekulasi bahwa The Fed mungkin menahan suku bunga. Namun, para pejabat menekankan bahwa lebih banyak upaya yang harus dilakukan untuk menjinakkan inflasi.

    Harga Bitcoin

    Grafik harga harian BTC/USD. Sumber: TradingView.
    Grafik harga harian BTC/USD. Sumber: TradingView.

    Baca juga: Market Watch: Mengapa Bitcoin dan Kripto Lain Naik Hari Ini (11/4)?

    Ada kemungkinan bahwa Bitcoin dapat menembus di atas penghalang US$ 30.000, dan jika itu terjadi, aset kripto terbesar di dunia ini dapat terus meningkat saat memetakan wilayah baru. Namun, selalu ada kemungkinan koreksi pasar, yang dapat mengakibatkan penurunan drastis pada pasar kripto secara keseluruhan.

    Reaksi pasar saham AS terhadap pengumuman tersebut akan berfungsi sebagai sinyal peringatan dini. Tingkat inflasi tahunan AS melemah dari 6,0% menjadi 5,0% dibandingkan perkiraan 5,2%. Namun, tingkat inflasi inti dipercepat dari 5,5% menjadi 5,6%, memberikan alasan Fed hawks untuk mengejar kenaikan suku bunga lainnya.

    Bitcoin awalnya merespons dengan baik laporan CPI sebelum berbalik arah pada angka inflasi inti. Probabilitas kenaikan suku bunga The Fed sebesar 25 basis poin menurun moderat sebagai tanggapan atas Laporan CPI dan risalah rapat FOMC semalam berdampak pada Bitcoin.

    Sementara Laporan CPI menyampaikan pullback, BTC menghindari pembalikan yang diperpanjang sebagai tanggapan atas risalah rapat FOMC. Pembicaraan tentang menekan tombol jeda adalah bullish, sementara ekspektasi resesi yang dipicu krisis perbankan adalah BTC negatif.

    BTC harus bergerak melalui pivot pada level US$ 30.008 untuk menargetkan Level Perlawanan Utama Pertama (R1) di US$ 30.339. Pengembalian ke US$ 30.000 akan menandakan sesi bullish yang diperpanjang. Jika reli diperpanjang, BTC kemungkinan akan menguji Level Resistensi Utama Kedua (R2) di US$ 30.799 dan resistensi di US$ 31.000. Level Resistensi Utama Ketiga (R3) berada di US$ 31.590.

    DISCLAIMER: Artikel ini bersifat informasi dan bukan merupakan tawaran atau ajakan untuk menjual dan membeli aset kripto apapun. Perdagangan aset kripto merupakan aktivitas beresiko tinggi. Harga aset kripto bersifat fluktuatif, di mana harga dapat berubah secara signifikan dari waktu ke waktu dan Tokocrypto tidak bertanggung jawab atas perubahan fluktuasi dari nilai tukar aset kripto.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Market Aset Kripto Hijau, Harga Bitcoin Naik

    Tingkat inflasi tahunan Amerika Serikat (AS) akhirnya melandai dan membuat performa market aset kripto mengalami kenaikan. Tidak hanya itu harga Bitcoin (BTC) sempat tembus level US$ 26.000 untuk pertama kalinya dalam sembilan bulan terakhir.

    Dilansir Bloomberg, Departemen Tenaga Kerja AS mencatat indeks harga konsumen (IHK) AS naik 6% pada Februari 2023 dari periode yang sama tahun sebelumnya (year-on-year/yoy). Tingkat inflasi AS ini lebih rendah dibandingkan inflasi Januari 2023 sebesar 6,4 persen yoy.

    Dibandingkan bulan sebelumnya (month-on-month/mom), inflasi AS Februari mencapai 0,4 persen, lebih rendah dari Januari 2023 dengan inflasi 0,5 persen. Angka ini berbeda dengan hasil konsensus IHK tahunan pada Februari 2023 yang diperkirakan naik 6 persen yoy, sedangkan IHK bulanan diperkirakan naik 0,4 persen.

    Market Kripto Hijau

    Ilustrasi market aset kripto.
    Ilustrasi market aset kripto.

    Baca juga: Goldman Sachs Harapkan Tidak Ada Kenaikan Suku Bunga AS di Maret

    Data inflasi terbaru dari AS bersifat bullish bagi pasar kripto, karena dapat memberikan ruang bagi The Fed untuk menghentikan suku bunga atau bahkan memangkasnya. Dan harga Bitcoin segera bereaksi. Pada saat data inflasi keluar, BTC menembus resistensi yang sangat penting di US$ 25.200 dan mencapai US$ 26.278.

    Satu hal yang perlu diingat adalah bahwa Indeks Dolar AS (DXY) juga mengalami penurunan setelah laporan pekerjaan AS yang beragam baru-baru ini dan masalah perbankan terbesar sejak krisis keuangan besar pada tahun 2008. Karena masalah intrinsik sistem perbankan dengan pemerintah AS obligasi dan “Bank Term Funding Program” baru dari Federal Reserve (Fed) AS, ekspektasi dovish telah meningkat secara besar-besaran.

    Melalui program baru, The Fed menyelamatkan semua bank. Mereka dapat menjaminkan obligasi Silicon Valley Bank (SVB) dan Signature Bank yang saat ini merugi kepada Fed dengan harga beli saat itu, bukan nilai pasar saat ini dan menerima uang tunai sebagai imbalannya. Bagi banyak pelaku pasar, ini berarti Fed sekali lagi menghidupkan mesin pencetak uang sementara DXY bersiap untuk penurunan lebih lanjut.

    Reli Melandai

    Ilustrasi Rekt Capital.
    Ilustrasi market aset.

    Baca juga: Analisis Harga Cardano (ADA) Pasca Raih TVL Tertinggi Sepanjang Masa

    Reli market kripto kini telah melandai. Harga Bitcoin kembali ke posisi di kisaran level US$ 24.000. Terpantau pada situs CoinMarketCap, BTC hanya mengalami kenaikan 2,05% dalam 24 jam terakhir dengan harga US$ 24.756.

    Aset kripto yang lebih kecil juga melonjak dan kemudian jatuh kembali sepanjang hari, termasuk Ethereum (ETH), Dogecoin (DOGE), Polygon (MATIC) dan Polkadot (DOT). ETH, Dogecoin, Polygon, dan Polkadot semuanya turun antara 1-2%.

    “Saya pikir itu adalah kemunduran yang sehat setelah reli khusus kripto yang euforia,” Riyad Carey, analis riset di firma data kripto, Kaiko dikutip CoinDesk.

    “Saya masih terkejut betapa cepatnya pasar mengabaikan peristiwa akhir pekan.”

    Carey menyoroti bahwa pasar masih tidak likuid, yang “membuat semua pergerakan ini lebih tajam.” Sementara itu, berita tentang jet tempur Rusia yang bertabrakan dengan drone Angkatan Udara AS di atas Laut Hitam, “menambah beberapa kegelisahan di semua pasar,” tambahnya.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Market Kripto Tertekan, Menanti Data Baru Inflasi AS

    Badai kembali menghantam market aset kripto. Pergerakan market pada Rabu (10/8) siang terpantau terkoreksi, dan ini mengakhiri reli kencang yang sudah berlangsung sejak awal pekan lalu. Apa penyebab market lesu ini?

    Melansir situs CoinMarketCap pada Rabu (10/8) pukul 12.00 WIB, dari 10 aset kripto berkapitalisasi pasar terbesar atau big cap, kompak alami penurunan cukup dalam ke zona merah dalam 24 jam terakhir. Misalnya, nilai Bitcoin (BTC) anjlok 3,82% ke US$ 22.963 per keping dalam sehari terakhir.

    Sementara, Ethereum (ETH) turun lebih dalam 5,53% ke US$ 1.680 di waktu yang sama. XRP, Solana (SOL) dan Dogecoin (DOGE) punya nasib yang lebih buruk karena anjlok masing-masing 4,03%, 7,29% dan 3,71%.

    Trader Tokocrypto, Afid Sugiono, melihat sejauh ini mulai kehabisan bensin untuk melaju sejak Selasa (9/8) sore. Ada beberapa penyebab market berbalik arah, seperti volume perdagangaan yang belum menunjukan peningkatan yang signifikan hingga antisipasi perilisan data inflasi AS untuk bulan Juli.

    “Sepertinya keyakinan investor sudah mulai goyah setelah melihat bahwa penguatan aset kripto sejatinya tak dibarengi dengan kenaikan volume perdagangan. Kemudian, dari sisi teknikal investor gagal mempertahankan nilai BTC di level psikoogisnya US$ 23.000. Lalu, yang utama adalah siap-siap perilisan CPI atau data inflasi AS,” kata Afid.

    Ilustrasi Bank Sentral AS, The Fed. Foto: Shutterstock.
    Ilustrasi Bank Sentral AS, The Fed. Foto: Shutterstock.

    Baca juga: BlackRock Mantap Masuk ke Market Kripto Incar Investor Kaya

    Afid menambahkan pelemahan aset kripto pagi ini sejalan dengan volume perdagangan harian yang cukup rendah dibanding hari-hari sebelumnya. Hal tersebut jadi indikasi investor tengah memasang sikap bertahan atau wait and see.

    Investor sedang galau atau memang kurang yakin dengan arah pergerakan harga aset kripto saat ini, sehingga susah bersikap terlalu bullish dalam price actions. Terlebih perilisan data inflasi Juli AS akan dilaksanakan pada tanggal 10 Agustus.

    “Jika data inflasi AS melebihi proyeksi 8,7%, maka ada kemungkinan The Fed akan semangat mengerek suku bunga acuannya sebesar 75 basis poin di rapat FOMC berikutnya. Dampaknya, situasi pemulihan ekonomi akan melambat dan pasar investasi berisiko, seperti kripto akan terus tertekan,” jelasnya.

    ethereum
    Ilustrasi Bitcoin dan Ethereum.

    Baca juga: Industri Kripto dan Blockchain Tetap Jadi Incaran Venture Capital

    Analisis Pergerakan Bitcon dan Ethereum

    Dari perspektif teknikalnya, perdagangan Bitcoin turun di bawah garis trennya, bisa dinyatakan sebuah sinyal bahwa ada keyakinan terbatas dalam pergerakan harga lebih rendah.

    Jika bitcoin gagal merebut kembali tren di level US$ 22.930, tampaknya akan diposisikan mengalami penurunan yang signifikan. Level support terdekat kini berada dikisaran US$ 22.000.

    Sementara, Ethereum sangat penting bagi untuk mempertahankan zona dukungan US$ 1.690-US$ 1.700 untuk terus bull. Namun, tekanan market saat ini dapat mendorong ETH ke level US$ 1.580.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Bitcoin dan Kripto Lainnya Terbang saat Data Inflasi AS Meroket

    Pergerakan market aset kripto kini sedang anomali. Nilai Bitcoin kembali naik di atas US$ 20.000, meskipun ada pembacaan inflasi AS yang semakin panas. Apa penyebabnya?

    Harga Bitcoin (BTC) terpantau melonjak lebih tinggi untuk pertama kalinya dalam enam hari dan mendapatkan kembali ke level psikologisnya di US$ 20.000. Padahal, BTC sempet turun US$ 800 dalam beberapa menit saat data inflasi AS untuk Juni melonjak hingga 9,1% jauh di atas perkiraan.

    Trader Tokocrypto, Afid Sugiono, menjelaskan banyak investor yang berekspektasi bahwa angka inflasi AS yang tinggi untuk bulan Juni akan mendorong The Fed menjadi lebih agresif dalam pengetatan kondisi moneter untuk memperlambat kenaikan inflasi. Dampaknya akan memberikan tekanan negatif pada harga untuk aset berisiko, dari saham ke Bitcoin.

    “Indeks saham AS mengakhiri sesi lebih rendah, sehingga kenaikan Bitcoin memicu beberapa kritik, karena tidak biasa hal ini terjadi. Biasanya, berita buruk bagi ekonomi dan pasar akan menekan harga Bitcoin dan kripto lainnya,” kata Afid.

    Ilustrasi Bitcoin.
    Ilustrasi Bitcoin.

    Baca juga: Bank Indonesia: Aset Kripto Ciptakan Inklusi Keuangan

    Anomali Gerak Market Saham dan Kripto

    Dari laporan trio indeks saham AS melemah di perdagangan Rabu (14/7), tercatat, nilai indeks Nasdaq melemah 0,1%, sementara nilai indeks S&P 500 dan Dow Jones Industrial Average (DJIA) masing-masing turun 0,5% dan 0,7%. Ini akibat inflasi AS tahunan telah capai 9,1% pada Juni.

    Sementara, kondisi berbeda justru ditunjukkan oleh aset kripto. Terpantau di situs CoinMarketCap pukul 10.00 WIB, 10 aset kripto berkapitalisasi pasar berada di zona hijau dalam 24 jam terakhir.

    Ethereum (ETH) bahkan naik sampai 5,29% ke US$ 1.115,08 sehari terakhir. Altcoin lain juga tak kalah perkasa. Misalnya nilai Solana (SOL), Cardano (ADA) dan BNB naik lebih dari 3%.

    “Penyebab pergerakan yang anomali ini masih banyak spekulasi. Pasalnya, melihat data historis, biasanya nilai market kripto akan langsung tertekan ketika terdapat perilisan data penting makroekonomi seperti inflasi. Sehingga investor akan menangkap tingginya inflasi memicu The Fed untuk mengerek suku bunga acuannya lebih tinggi,” jelas Afid.

    Apa itu altcoin seasons
    Ilustrasi aset kripto.

    Baca juga: Tokocrypto Market Signal 13 Juli 2022: ETH Siap Terbang, Awas Data Inflasi AS

    Lebih lanjut, jika The Fed mengambil langkah tersebut, tentu selera risiko investor perlahan akan pudar. Namun, kali ini, situasi market malah terbalik.

    “Bisa jadi investor kripto mulai acuh terhadap data inflasi AS dan tetap ingin Bitcoin berada di kisaran level support-nya di US$ 19.000-US$ 20.000. Di samping itu, banyak whales yang melakukan buy the dip dan mengaitkan kondisi market kripto yang mulai kondusif,” ungkap Afid.

    Sentimen Positif Market Kripto

    Sentimen positif lain di ekosistem kripto yang membuat market kembali tumbuh datang dari beberapa kabar, mulai dari Binance yang menyelesaikan burn periode triwulanan ke-20 dari token aslinya, BNB sekitar hampir 1,96 juta BNB (sekitar US$ 444,6 juta).

    Selain itu, ada Polygon Network yang memperluas cakupan infrastruktur web3 miliknya dengan Walt Disney Company. Dampaknya nilai Polygon (MATIC) meroket 18,39% dalam 24 jam terakhir. Kemudian, platform Celsius dikabarkan juga telah melunasi utangnya kepada platform keuangan terdesentralisasi, Aave.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Efek Inflasi CPI AS Juni ke BTC

    Pasar kripto menunjukkan dinamika yang menarik pada 16 Juli 2025. Meskipun inflasi CPI AS Juni mencapai 2,7%, Bitcoin nyaris tidak bereaksi, menunjukkan bahwa pasar mungkin telah mengantisipasi dampak suku bunga.

    Di sisi lain, Ethereum menunjukkan performa yang sangat kuat, melonjak hampir 90% dalam tiga bulan terakhir dengan indikator teknis bullish yang mengisyaratkan siklus kenaikan harga yang lebih awal dibanding Bitcoin. Lihat lebih banyak insight di bawah ini:

    Bitcoin Bereaksi Saat CPI Juni Naik 2,7%

    • Inflasi CPI AS Juni naik 2,7%, Bitcoin nyaris tak bergerak.
    • Ekonom kaitkan inflasi dengan tarif Trump, biaya dibebankan ke konsumen.
    • Bitcoin tak banyak bergerak, pasar telah perhitungkan ekspektasi suku bunga pasca-CPI.

    Ethereum Tembus $3.000, Potensi Naik Lebih Tinggi

    • Ether naik hampir 90% dalam tiga bulan terakhir.
    • Grafik harga Ethereum tunjukkan indikator bullish, termasuk golden cross.
    • Ether tampak dalam siklus bullish lebih awal dari Bitcoin.

    Undang Teman Dapat Cuan Raih Hadiah Rp30 Juta!

    Pakar Prediksi XRP Capai ATH Baru Setelah Disetujui ETF UXRP

    • Ali Martinez perkirakan XRP tembus ATH jika lewati resistensi $3.
    • ProShares dapat persetujuan NYSE Arca untuk ETF UXRP leverage.
    • ETF UXRP terdaftar di DTCC, siap diperdagangkan akhir minggu ini.

    Tiga RUU Kripto Utama AS Diperkirakan Terbit Minggu Ini

    • DPR AS fokus pada tiga RUU kripto penting: GENIUS, CLARITY, dan Anti-CBDC.
    • UU GENIUS atur stablecoin, dukung adopsi Ethereum.
    • UU Anti-CBDC bertujuan blokir Fed terbitkan CBDC demi privasi.

    Baca juga: Tutorial Mudah Buat Jurnal Investasi & Trading + Template Google Sheet Gratis!


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekaran

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut.

    Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.





    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Harga Bitcoin Naik Seiring Mendinginnya Inflasi CPI AS

    Harga Bitcoin menguat pada Rabu (12/6) malam setelah data inflasi CPI AS yang mereda meningkatkan kepercayaan pasar dan menambah spekulasi mengenai sikap dovish Federal Reserve atau The Fed.

    Data Indeks Harga Konsumen (CPI) AS yang paling ditunggu menunjukkan bahwa inflasi AS tetap stabil sebesar 0,3% di bulan Mei, melebihi perkiraan pasar. Para pengamat pasar sangat menantikan data ini untuk menilai kesehatan ekonomi dan potensi kebijakan suku bunga The Fed.

    Inflasi CPI AS Mereda, Optimisme Pasar Meningkat

    Menurut Biro Statistik Tenaga Kerja AS, CPI AS tetap stabil di 0,3% pada bulan Mei. Pasar sebelumnya mengantisipasi inflasi akan turun sebesar 0,1%. Secara tahunan, inflasi CPI menurun menjadi 3,3% di bulan Mei dari 3,4% di bulan sebelumnya.

    CPI Inti, yang tidak termasuk harga pangan dan energi, turun menjadi 0,2% di bulan Mei dari 0,3% di bulan sebelumnya. Secara tahunan, CPI Inti menunjukkan penurunan inflasi menjadi 3,4% dari 3,6% di bulan April. Penurunan ini memicu optimisme pasar.

    Data inflasi yang menurun ini meningkatkan sentimen pasar, terutama setelah data Pekerjaan AS yang kuat minggu lalu. Kini, pasar kripto akan memantau keputusan suku bunga FOMC yang dijadwalkan hari ini, diikuti dengan konferensi pers Ketua Fed Jerome Powell.

    Reli Harga Bitcoin

    BTC/IDR Daily Chart. Sumber: TradingView.
    BTC/IDR Daily Chart. Sumber: TradingView.

    Baca juga: PEPE hingga BONK Menunjukkan Kekuatan Menjelang FOMC dan CPI

    Penurunan inflasi CPI AS telah meningkatkan sentimen investor, terlihat dari reli di pasar kripto dan harga Bitcoin. Data yang bullish ini menambah ekspektasi pasar akan sikap dovish Federal Reserve dalam kebijakan suku bunganya.

    Markus Thielen dari 10X Research sebelumnya memperkirakan bahwa jika CPI AS turun menjadi 3,3%, BTC dapat melonjak lebih dari 4%. Setelah rilis CPI, Imbal Hasil Obligasi 10-tahun AS turun 2,81% menjadi 4,278, dan Indeks Dolar AS Berjangka turun 0,97% menjadi US$104,175.

    Harga Bitcoin menguat 3,60% hari ini setelah data inflasi, diperdagangkan pada US$69.411.30. Selama 24 jam terakhir, harga BTC menyentuh level terendah US$66.123.60. Dalam empat jam terakhir, Open Interest Bitcoin Futures juga naik 2,29% menjadi 523,38 ribu BTC atau US$36,37 miliar, menurut data CoinGlass.

    Sektor altcoin juga mencatat pemulihan kuat. Harga Ethereum naik hampir 3% menjadi US$3.637.36, sementara Solana naik sekitar 4% menjadi US$158.43.

    Keputusan FOMC dan komentar Ketua Fed hari ini akan sangat diperhatikan oleh pasar. Selain itu, data inflasi PPI AS yang dijadwalkan besok juga akan memainkan peran penting dalam menentukan pergerakan pasar di masa depan.


    Pastikan kamu hanya melakukan investasi dan trading kripto di platform terpercaya, seperti Tokocrypto. Dengan berbagai fitur yang mumpuni serta ekosistem yang luas, trading kripto jadi lebih mudah.

    DISCLAIMERSetiap keputusan investasi adalah tanggung jawab pribadi Anda. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual kripto. Tokocrypto tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi Anda.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • BTC Naik Di Atas US$66.000: Mengapa Harga Bitcoin Bisa Melonjak?

    Harga Bitcoin mencapai US$66.000, naik 7% pada Kamis (16/5) pukul 10:00 WIB, didorong oleh inflasi inti AS yang lebih rendah dan meningkatnya investasi institusional pada ETF Bitcoin.

    Dalam 24 jam terakhir, harga Bitcoin (BTC) telah melonjak hingga $66.000, mengalami kenaikan luar biasa sebesar 7%. Peningkatan ini didorong oleh beberapa faktor makroekonomi, termasuk data inflasi AS terbaru.

    Inflasi Inti AS Menurun

    Data Indeks Harga Konsumen (CPI) AS yang baru-baru ini dirilis menunjukkan penurunan inflasi inti ke level terendah dalam tiga tahun sebesar 3,4%. Penurunan ini memicu peningkatan aktivitas di pasar Bitcoin, dengan minat signifikan dari bank-bank besar global. Korelasi antara inflasi yang lebih rendah dan peningkatan investasi pada aset digital menunjukkan bahwa investor mungkin melihat Bitcoin sebagai lindung nilai terhadap ketidakstabilan ekonomi.

    Penurunan inflasi juga menandakan potensi penurunan suku bunga AS di masa depan. Meskipun Federal Reserve mengadopsi pendekatan “wait and see” yang hati-hati, data terbaru mungkin mempercepat jangka waktunya. Namun, masih ada kekhawatiran mengenai kecepatan penurunan inflasi, yang dapat membatasi ruang lingkup penurunan suku bunga tahun ini.

    Investasi ETF Bitcoin Meningkat

    BTC/USDT Daily Chart. Sumber: TradingView.
    BTC/USDT Daily Chart. Sumber: TradingView.

    Baca juga: 4 Strategi Trading Dengan Moving Average

    Lonjakan harga Bitcoin juga didorong oleh meningkatnya minat institusional, khususnya pada ETF Bitcoin. Pengajuan SEC baru-baru ini mengungkapkan bahwa bank-bank terkemuka seperti JPMorgan dan Wells Fargo, serta bank internasional seperti UBS dan Bank of Montreal, telah melakukan investasi signifikan dalam ETF Bitcoin. Pengungkapan ini memainkan peran penting dalam meningkatkan nilai pasar Bitcoin.

    Yang lebih mendorong momentum pasar adalah investasi dari entitas seperti State of Wisconsin Investment Board, yang baru-baru ini menginvestasikan $99 juta di Spot Bitcoin ETF BlackRock. Masuknya modal institusional ini tidak hanya memvalidasi daya tarik investasi Bitcoin tetapi juga meningkatkan legitimasi dan stabilitasnya sebagai kelas aset.

    Pasar ETF terus ramai dengan antisipasi karena diperkirakan semakin banyak institusi yang masuk. Penunjukan Salim Ramji baru-baru ini, mantan kepala ETF global di BlackRock, sebagai CEO Vanguard, patut mendapat perhatian khusus. Vanguard, yang sebelumnya melarang ETF Bitcoin spot, mungkin mempertimbangkan kembali pendiriannya di bawah kepemimpinan Ramji, yang berpotensi mengarah pada lebih banyak keterlibatan institusional.

    Pergeseran ini kemungkinan akan mempertahankan tren kenaikan Bitcoin karena semakin banyak investor institusional yang mulai memasukkannya ke dalam portofolio mereka. Perkembangan yang sedang berlangsung di sektor ETF, dikombinasikan dengan faktor makroekonomi, memberikan kerangka kerja yang kuat untuk memahami kenaikan nilai Bitcoin baru-baru ini dan yang berkelanjutan.


    Pastikan kamu hanya melakukan investasi dan trading kripto di platform terpercaya, seperti Tokocrypto. Dengan berbagai fitur yang mumpuni serta ekosistem yang luas, trading kripto jadi lebih mudah.

    DISCLAIMER: Setiap keputusan investasi adalah tanggung jawab pribadi Anda. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual kripto. Tokocrypto tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi Anda.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Perkiraan Data Inflasi AS, Bisa Bikin Harga Bitcoin ke $55.000?

    Investor kripto dan pasar saham menantikan data inflasi AS atau indeks harga konsumen (CPI) bulan Januari oleh Biro Statistik Tenaga Kerja AS untuk isyarat lebih lanjut mengenai penurunan suku bunga The Fed. Harga Bitcoin diperdagangkan di atas $50.000 setelah pembelian besar-besaran di ETF Bitcoin spot, memicu reli pasar kripto yang besar.

    Ekspektasi CPI dan CPI Inti oleh Wall Street

    Raksasa Wall Street memperkirakan penurunan besar pada inflasi CPI dan CPI inti, terutama setelah revisi CPI baru-baru ini. Meskipun para pejabat The Fed berhati-hati terhadap penurunan suku bunga di bulan Maret, data ekonomi mendatang akan memandu prospek kebijakan moneter dengan lebih baik.

    Dilaporkan Coingape, JPMorgan, Bank of America, UBS, Morgan Stanley, Citigroup, Deutsche Bank, Nomura, dan RBC memperkirakan inflasi IHK utama turun menjadi 2,9% dari 3,4%. Namun, Barclays, Goldman Sachs, TD Securities, dan Wells Fargo mengantisipasi penurunan hingga 3%.

    Sedangkan untuk CPI inti, para ahli dari perbankan antara lain Citigroup, Deutsche Bank, JPMorgan, Morgan Stanley, dan UBS memperkirakan turun menjadi 3,7% dari 3,9%. Selain itu, Bank of America, Barclays, TD Securities dan Nomura mengantisipasi suku bunga 3,8%, dan Goldman Sachs memperkirakan suku bunga inti tahunan lebih tinggi sebesar 3,9%.

    Dengan demikian, pasar memperkirakan tingkat inflasi tahunan akan turun menjadi 2,9% pada bulan Januari, yang merupakan angka terendah sejak Maret 2021. Selain itu, inflasi inti tahunan diperkirakan akan melambat menjadi 3,7%, angka terendah sejak April 2021. Perkiraan tingkat inflasi bulanan untuk CPI dan CPI inti tetap stabil di 0,2% dan 0,3%.

    Ilustrasi inflasi AS. Foto: Reuters.
    Ilustrasi inflasi AS. Foto: Reuters.

    Baca juga: Harga ETH Incar Reli ke $3.500 Menanti Perkembangan ETF Ethereum

    Harga Bitcoin menjadi $55.000?

    Mendinginnya inflasi AS akan memberikan bukti bagi The Fed untuk mempertimbangkan penurunan suku bunga dalam beberapa bulan mendatang. CME FedWatch Tool menunjukkan hampir 50% probabilitas penurunan suku bunga sebesar 25 bps di bulan Mei, dengan probabilitas tinggi di bulan Juni.

    Data makro menunjukkan volatilitas akhir-akhir ini, sehingga penting bagi para pedagang untuk terus memantaunya. Indeks dolar AS (DXY) turun dari 104,25 menjadi 104. Penurunan di bawah 104 adalah apa yang diharapkan oleh para trader kripto untuk pergerakan naik lebih lanjut dalam harga BTC menjadi $55.000.

    Selain itu, imbal hasil treasury 10-tahun (US10Y) turun namun tetap di atas 4%. Lelang surat utang negara baru-baru ini dan pandangan hati-hati pejabat Fed terhadap penurunan suku bunga.

    Pasar derivatif terlihat kuat karena pedagang berjangka dan opsi membuat taruhan baru untuk kenaikan harga BTC lebih lanjut. Open interest Bitcoin berjangka meningkat lebih dari 7% menjadi $47,32 miliar, dengan volume berjangka meningkat 70% dalam 24 jam terakhir.

    Total opsi open interest melonjak 4% menjadi $24,29 miliar setelah kenaikan besar-besaran sebesar 7,20% pada open interest CME BTC Futures dan arus masuk besar-besaran di ETF Bitcoin spot.

    Trader opsi membuat taruhan lebih tinggi untuk $56.000, $60.000, dan bahkan $70.000 untuk bulan Februari. Ini menunjukkan harga BTC kemungkinan akan bertahan di atas $50.000 setelah rilis CPI.

    Harga BTC melonjak 4% dalam 24 jam terakhir, dengan harga saat ini diperdagangkan pada $50,100. Harga terendah dan tertinggi 24 jam masing-masing adalah $47.745 dan $50.358. Selain itu, volume perdagangan melonjak hingga hampir 100% dalam 24 jam terakhir, menunjukkan peningkatan minat di kalangan trader.


    Pastikan kamu hanya melakukan investasi dan trading kripto di platform terpercaya, seperti Tokocrypto. Dengan berbagai fitur yang mumpuni serta ekosistem yang luas, trading kripto jadi lebih mudah.

    DISCLAIMER: Setiap keputusan investasi adalah tanggung jawab pribadi Anda. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual kripto. Tokocrypto tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi Anda.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Pasar Kripto Hari Ini 19 Desember 2025: Inflasi AS Belum Naikan Harga

    Pasar kripto hari ini, Jumat (19/12) bergerak volatil menjelang akhir pekan dengan altcoin memimpin reli, di mana JELLYJELLY melonjak 38%, DRX naik 26%, dan F menguat 17%.

    Namun, di balik euforia tersebut, pasar global justru bergerak berlawanan setelah inflasi AS mereda ke 2,7% YoY, Bitcoin dan saham sempat naik lalu terkoreksi tajam, mengindikasikan tekanan likuidasi dan arus struktural alih-alih pelemahan fundamental.

    Di tengah kondisi ini, Tokocrypto mengingatkan hari terakhir program Launchdrop DRX Token dengan total hadiah Rp80 juta bagi pengguna yang menahan TKO. Lihat lebih lengkap di bawah ini:

    Daftar Altcoin Pimpin Kenaikan Pasar Menjelang Akhir Pekan

    • JELLYJELLY mencatat penguatan harian 38%, harganya naik $0,125685.
    • Harga DRX mengalami kenaikan 26%, harga mencapai $0,007933.
    • F melonjak 17%, saat ini diperdagangkan di level $0,00714.

    Inflasi AS Mereda, Jadi Mengapa Bitcoin dan Saham Koreksi?

    • CPI AS turun 2,7% YoY, salah satu kejutan inflasi paling optimis di tahun 2025.
    • Bitcoin dan saham awalnya melonjak tetapi kemudian berbalik tajam.
    • Volume dan aksi jual tunjukkan likuidasi dan arus struktural, bukan fundamental.

    HARI TERAKHIR! Launchdrop DRX Token Raih Total Hadiah Rp80Juta*

    Bitcoin, Ethereum, atau XRP: Mana yang Paling Unggul di 2026?

    • BTC: Struktur kuat berkat institusi dan ETF, meski diprediksi konsolidasi sebelum breakout.
    • ETH & XRP butuh katalis (adopsi, ETF, regulasi) untuk konfirmasi tren kenaikan baru.
    • 2026 menjadi tahun transisi dan konsolidasi menuju siklus naik berikutnya.

    ETH Turun Tekan BitMine; Tom Lee & Ark Tetap Borong

    • Saham BitMine anjlok akibat strategi perbendaharaan ETH yang agresif saat pasar merugi.
    • Tom Lee tetap akumulasi ETH meski harga turun dan sentimen pasar melemah.
    • Ark Invest borong BitMine dan saham kripto, tegaskan perbedaan strategi antar lembaga.

    Baca juga: OJK: Investor Kripto Tembus 19 Juta, Siap Salip Investor Pasar Modal?


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli

    Tokocrypto berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Proyeksi Inflasi AS Melambung, Begini Dampaknya ke Bitcoin cs


    Jakarta

    Laporan inflasi Amerika Serikat (Consumer Price Index atau CPI) untuk bulan September menunjukkan hasil yang melebihi ekspektasi. Data tersebut menunjukkan kenaikan inflasi sebesar 2,4% secara tahunan, sedikit lebih tinggi dari proyeksi pasar yang diperkirakan sebesar 2,3%. Selain itu, inflasi inti, yang mengabaikan harga energi dan makanan, juga mencatat peningkatan menjadi 3,3%, melampaui prediksi yang sebesar 3,2%.

    Federal Reserve AS telah menetapkan target inflasi sebesar 2% dalam jangka panjang, dan angka inflasi saat ini yang lebih tinggi dari target tersebut mengisyaratkan tantangan lebih lanjut bagi ekonomi AS, serta pasar kripto.

    Inflasi yang lebih tinggi dari prediksi dapat mempengaruhi berbagai kelas aset, misalnya aset berisiko seperti Bitcoin. Sementara penurunan suku bunga biasanya dianggap sebagai sinyal positif bagi aset digital dan komoditas lainnya, kenyataannya efek dari kebijakan moneter ini belum terasa dalam jangka pendek.


    “Inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan memberikan tekanan tambahan pada aset berisiko seperti Bitcoin. Langkah Federal Reserve menurunkan suku bunga memang diharapkan mampu memberikan angin segar bagi pasar kripto. Namun, kenyataannya, pasar masih merespons dengan hati-hati,” kata CEO INDODAX, Oscar Darmawan dalam keterangannya, Selasa (15/10/2024).

    Oscar menekankan bahwa ketidakpastian ekonomi global, ditambah dengan perkembangan geopolitik yang terus berubah, turut mempengaruhi sentimen pasar secara keseluruhan.

    Pada bulan September 2024, Federal Reserve telah menurunkan suku bunga sebesar 50 basis poin sebagai langkah untuk meredam inflasi dan mendukung pertumbuhan ekonomi. Namun, langkah tersebut belum cukup memberikan dorongan signifikan bagi harga Bitcoin untuk mengalami lonjakan yang lebih tinggi.

    Banyak pelaku pasar memperkirakan adanya potensi pemangkasan suku bunga tambahan sebesar 25 basis poin pada pertemuan bulan November 2024. Akan tetapi, setelah data inflasi terbaru yang lebih tinggi dari ekspektasi, potensi untuk adanya pemangkasan suku bunga tambahan semakin berkurang. Hal ini disebabkan oleh kekhawatiran bahwa langkah pelonggaran moneter yang terlalu dini bisa memicu lonjakan inflasi lebih lanjut, yang pada gilirannya dapat mengganggu kestabilan ekonomi secara keseluruhan.

    Saat ini, pasar kripto secara keseluruhan sedang berada dalam fase konsolidasi, dengan banyak investor yang masih mengadopsi pendekatan wait and see. Menurut Oscar, potensi pemangkasan suku bunga yang biasanya menjadi katalis positif bagi Bitcoin, belum mampu mengatasi tekanan negatif dari kondisi ekonomi global yang tidak stabil.

    “Banyak investor yang masih menunggu kejelasan lebih lanjut dari arah kebijakan Federal Reserve sebelum mengambil keputusan investasi yang lebih agresif,” tambahnya.

    Meskipun begitu, Oscar tetap optimis bahwa dalam jangka menengah hingga panjang, Bitcoin memiliki peluang untuk kembali menguat, terutama jika inflasi berhasil ditekan dan kebijakan moneter mulai melonggar. “Dibalik tekanan jangka pendek ini, saya melihat peluang yang cukup besar untuk Bitcoin dapat pulih, terutama jika kondisi ekonomi global membaik dan pelonggaran moneter terjadi lebih lanjut,” jelasnya.

    Faktor politik juga mulai memainkan peran yang penting dalam menentukan arah pasar kripto ke depan. Menjelang pemilihan presiden Amerika Serikat tahun 2024, spekulasi mulai muncul terkait kemungkinan terpilihnya pemimpin yang lebih ramah terhadap aset digital, yang pada gilirannya bisa menjadi katalis positif bagi harga Bitcoin dan aset kripto lainnya.

    “Investor tetap optimis bahwa Bitcoin dapat mengalami pemulihan pada kuartal terakhir tahun ini, terutama jika kebijakan ekonomi global lebih mendukung sektor kripto,” ujar Oscar.

    (das/das)



    Sumber : finance.detik.com