Tag: intensitas lari

  • Kunci Rahasia biar Lari Makin Cepat dan Staminanya Gila

    Jakarta

    Lari merupakan olahraga yang mengedepankan kekuatan, kelenturan, hingga daya tahan tubuh. Untuk itu, baik pelari profesional maupun pemula, dibutuhkan stamina yang kuat dan kemampuan kecepatan yang bisa diandalkan.

    Salah satu jenis latihan yang bisa dilakukan untuk meningkatkan latihan kecepatan yaitu dengan latihan interval (interval training). Mengutip dari Jurnal Sport, Physical Education, Organization, Recreation, Training, latihan interval adalah tata cara latihan yang mencampurkan kinerja berulang antara bekerja dan istirahat. Aspek yang perlu diperhatikan dalam latihan ini yaitu durasi, konsistensi, jumlah pengulangan latihan, hingga interval pemulihan setelah pemulihan.

    Dalam olahraga lari, metode latihan interval dapat dikombinasikan dengan lari sprint dengan durasi 20-90 detik dan interval istirahat selama 30-120 detik.


    Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai tata cara latihan interval, detikers dapat menyimak ulasan berikut ini.

    Teknik Latihan Interval pada Lari

    Latihan interval mampu mendorong kemampuan pelari agar lebih cepat dan kuat selama kompetisi. Latihan ini dapat meningkatkan daya tahan otot, sehingga efektif digunakan saat berlari.

    Tak hanya itu, latihan interval juga dapat meningkatkan daya tahan kardiovaskular, sehingga detikers dapat terus meningkatkan kecepatan saat berlari tanpa merasa cepat lelah.

    Agar lebih optimal, detikers dapat menyimak teknik latihan interval berikut ini:

    1. Melakukan Pemanasan dengan Benar

    Mengutip dari Jurnal Pengabdian Masyarakat Kesehatan dan Sains, pemanasan saat berolahraga dapat memberikan manfaat bagi tubuh untuk meningkatkan kondisi tubuh menjadi lebih baik dan mengurangi risiko cedera.

    Sebelum mulai berlatih, pastikan detikers melakukan pemanasan selama 5-10 menit untuk mencegah terjadinya kram otot dan permasalahan lain selama latihan.

    2. Lari Sprint

    Lari pada latihan interval dapat dilakukan dengan lari cepat (sprint) dengan durasi 6-8 detik dan jarak 40 meter. Latihan ini dapat dilakukan sebanyak 10 kali dengan interval istirahat selama 1-2 menit.

    3. Pendinginan

    Mengutip dari Jurnal PKM Ilmu Kependidikan, pendinginan setelah latihan dapat merilekskan otot-otot tubuh yang telah melakukan aktivitas fisik yang berat maupun sedang.

    detikers dapat melakukan pendinginan dengan gerakan santai seperti jogging dan jalan selama beberapa menit.

    Jenis-jenis Lari Interval

    Dalam olahraga lari, terdapat beberapa jenis latihan interval yang bisa diterapkan, yaitu:

    • Short interval (lari interval jarak pendek): interval ini dilakukan dengan lari sprint selama 60 detik dan diselingi dengan istirahat singkat.
    • Long interval (lari interval panjang): interval yang berlangsung lebih dari 60 detik namun tetap dengan intensitas tinggi. Detikers dapat melakukan sprint selama 90 detik kemudian jalan santai selama 2-3 menit.
    • Progressive interval (lari interval progresif): latihan interval dengan meningkatkan intensitas lari untuk meningkatkan kekuatan dan daya tahan.
    • Pyramid interval (lari interval piramida): lari ini dapat dilakukan dengan durasi sprint yang meningkat lalu berkurang secara bertahap. Lari cepat dapat dilakukan dengan durasi terendah kemudian meningkat, yaitu 15 detik, 30 detik, dan 45 detik. Setelah itu kembali lagi ke awal. Jangan lupa istirahat di sela-sela waktu.

    Itulah ulasan terkait latihan interval sebagai kunci bagi pelari untuk meningkatkan kekuatan dan stamina. Semoga dapat dipraktekkan dengan baik ya, detikers!


    Artikel ini ditulis oleh Salamah Harahap, peserta magang di detikcom.

    (krs/krs)

    Sumber : sport.detik.com

    Alhamdulillah lapangan olahraga اللهم صل على رسول الله محمد
    ilustrasi gambar : unsplash.com / sandro schuh
  • Latihan Marathon 16 Minggu, Rahasia Pelari Pro Tuntaskan 42K Tanpa Drop

    Jakarta

    Latihan marathon membutuhkan banyak persiapan, tidak hanya sekedar menambah jarak dan intensitas lari. Sebelum mulai latihan, detikers perlu memahami apa saja jenis lari yang bisa dimasukkan ke dalam jadwal latihan marathon.

    Latihan marathon 16 minggu dengan menggabungkan variasi latihan dapat meningkatkan daya tahan tubuh, kekuatan , sehingga kemampuan tubuh dalam menyerap energi lebih optimal.

    Lebih lanjut, detikers dapat menyimak jadwal latihan marathon 16 minggu berikut ini, lengkap dengan sesi long run, recovery, hingga nutrisi, agar tubuh dapat terhindar dari cedera.


    Jadwal Latihan Marathon 16 Minggu

    Full marathon atau lari dengan jarak 42k biasanya diiringi dengan program latihan selama 16-20 minggu. Latihan ini bertujuan untuk meningkatkan ketahanan tubuh untuk lari selama berjam-jam, serta melatih mental agar dapat mempertahankan pace meskipun dalam kondisi kelelahan.

    Dalam menyusun jadwal, detikers dapat membagi hari latihan, misalnya pada 4-5 hari termasuk long run, kemudian 1-2 hari latihan kekuatan dan pemulihan. Berikut struktur mingguannya.

    Senin : Istirahat total

    • Hari pemulihan penuh setelah long run

    Selasa: Interval Training + Strength

    • Misalnya: lari 8×800 m ditambah dengan latihan kekuatan selama 30 menit

    Rabu: Recovery Run

    • Durasi: 30-40 menit dengan pace yang sangat ringan

    Kamis: Tempo Run atau Fartlek

    • Melatih variasi kecepatan dan fokus ritem pada saat pertandingan

    Jumat: Easy Run atau Core Workout

    • Diisi dengan lari ringan atau latihan tubuh bagian tengah.

    Sabtu: Medium Long Run

    • Lari dengan 60-75% jarak dari long run utama.

    Minggu: Long Run

    • Mulai lari dengan jarak 12 km hingga 32-35 km.

    Saat melakukan program latihan, detikers bisa menambah jarak long run maksimal 10% per minggu. Kemudian di minggu terakhir, volume lari bisa dikurangi namun tetap jaga intensitas ringan.

    Selain itu, pastikan nutrisi dan elektrolit tetap terjaga. Detikers dapat mengonsumsi karbohidrat kompleks sebelum latihan panjang, minum air secara bertahap dan minuman isotonik setelah selesai latihan.

    Demikianlah jadwal latihan marathon 16 minggu yang bisa detikers terapkan sebelum mulai menghadapi lari 42k. Semoga bermanfaat ya, detikers!

    Artikel ini ditulis oleh Salamah Harahap, peserta magang di detikcom.

    (krs/krs)

    Sumber : sport.detik.com

    Alhamdulillah lapangan olahraga اللهم صل على رسول الله محمد
    ilustrasi gambar : unsplash.com / sandro schuh
  • Baru Mau Mulai Lari? Ini Cara Tepat agar Nggak Cepat Lelah dan Cedera!

    Jakarta

    Bagi pemula, cedera dan kelelahan masih sering dirasakan, bahkan pada beberapa menit pertama lari. Napas terengah-engah hingga nyeri otot seringkali mengganggu aktivitas lari.

    Nah, bagi detikers yang baru mulai menekuni olahraga lari, berikut beberapa cara mulai olahraga lari untuk pemula terutama agar tidak mudah lelah dan cedera. Yuk, disimak sampai selesai!

    5 Cara Berlari agar Tidak Cepat Lelah dan Cedera

    Terdapat beberapa cara yang bisa detikers lakukan untuk terhindar dari cedera dan lelah yang terlalu cepat pada saat melakukan aktivitas lari. Berikut uraiannya.


    1. Memeriksa Kondisi Kesehatan Sebelum Berlari

    Persiapan sebelum berlari menjadi aspek terpenting agar manfaat yang dirasakan lebih optimal. Salah satu persiapan yang harus detikers lakukan yaitu memeriksa kondisi kesehatan terlebih dahulu.

    Dalam hal ini, sangat disarankan untuk berkonsultasi dengan ahli seperti tenaga medis ataupun dokter, terutama bagi detikers yang sudah berusia di atas 40 tahun dan memiliki riwayat penyakit bawaan.

    Dengan mengetahui kondisi medis, detikers dapat mengatur durasi, intensitas lari, hingga elevasi medan lari menyesuaikan dengan kesehatan.

    2. Pemanasan Sebelum Berlari

    Pemanasan sangat penting dilakukan sebelum memulai berbagai aktivitas olahraga, termasuk lari. Pemanasan bertujuan untuk mempersiapkan otot sebelum melakukan kegiatan yang cukup berat. Otot akan terasa lebih kaku dan mudah untuk terkena cedera jika detikers tidak memulai lari dengan pemanasan.

    Sebelum mulai berlari, pemanasan dapat dilakukan dengan lari-lari kecil dengan kisaran waktu 10-15 menit. Selanjutnya, detikers dapat melakukan peregangan dinamis pada kaki.

    3. Mendapatkan Nutrisi yang Memadai

    Nutrisi diperlukan bagi tubuh untuk melaksanakan berbagai proses metabolisme untuk menghasilkan energi. Salah satu energi yang digunakan dalam berlari yaitu glikogen, bentuk sederhana dari karbohidrat.

    Jika kekurangan glikogen, detikers akan cepat merasa lelah meskipun kesehatan dalam kondisi baik. Oleh karenanya, dibutuhkan sumber energi dari makanan yang kaya akan nutrisi, seperti karbohidrat, protein, dan mineral.

    Sebelum berlari, pastikan perut dalam keadaan terisi agar kadar gula darah tetap stabil dan tidak menimbulkan kelelahan yang cepat.

    woman runner hold her injured leg on roadAwas cedera saat berolahraga lagi! Foto: Getty Images/iStockphoto/lzf

    4. Memantau Intensitas Lari

    Ketika berlari, detikers perlu memantau intensitas lari dan menentukan detak jantung dengan menggunakan skala RPE dan MHR.

    Rate of Perceived Exertion atau Skala RPE merupakan skala yang digunakan untuk mengukur seberapa keras kamu berlari. Sementara MHR (Max Heart Rate) adalah jumlah detak jantung selama berlari.

    Pengukuran ini diperlukan untuk menjaga daya tahan dan mengatur kecepatan detikers saat berlari.

    5. Mengatur Pernapasan Saat Berlari

    Mengatur pernapasan saat berlari dapat menjaga daya tahan detikers. Dengan begitu, seiring meningkatnya daya tahan, durasi berlari juga bisa dibuat lebih lama tanpa takut merasa lelah dengan cepat.

    Salah satu metode pernapasan yang dapat diikuti yaitu dengan menggunakan pola 1:2. Di setiap dua langkah, detikers dapat langsung mengambil satu tarikan napas. Namun pola ini dapat disesuaikan dengan ritme dan kemampuan detikers.

    Itulah beberapa cara atau tips cara mulai olahraga lari untuk pemula yang bisa detikers lakukan, khususnya untuk menghindari cedera dan mudah lelah saat mulai melakukan aktivitas tersebut. Semoga bermanfaat ya, detikers!

    Artikel ini ditulis oleh Salamah Harahap, peserta magang di detikcom.

    (krs/krs)



    Sumber : sport.detik.com

  • Lari 30 Menit Bisa Bakar Ribuan Kalori? Ini Perhitungannya yang Bikin Kaget

    Jakarta

    Salah satu manfaat lari yang bisa kita rasakan yaitu pembakaran kalori. Apa detikers pernah penasaran berapa kalori terbakar saat lari 30 menit?

    Hal ini penting diketahui terutama bagi detikers yang sedang dalam program mengurangi berat badan atau ingin mendapatkan berat badan yang ideal.

    Selain durasi berlari, terdapat beberapa faktor yang dapat mempengaruhi jumlah kalori yang terbakar. Beberapa di antaranya seperti berat badan, kecepatan, berlari, lokasi lari, hingga tingkat elevasi medan lari yang dilalui.


    Pada artikel kali ini, detikSport telah merangkum perhitungan berapa kalori yang terbakar saat berlari 30 menit. Yuk, simak sampai selesai!

    Perhitungan Kalori yang Terbakar saat Berlari 30 Menit

    Beberapa aspek seperti berat badan, kecepatan lari, hingga usia juga mempengaruhi jumlah kalori yang dibakar saat berlari 30 menit.

    Harvard Health Publishing melaporkan bahwa berlari dengan kecepatan 8 km/jam mampu membakar kalori dengan jumlah yang berbeda-beda, yaitu bagi berat badan 57 kg (240 kalori), 70 kg (155 kalori), dan 83 kg (185 kalori).

    Estimasi tersebut dapat berubah jika kecepatannya juga diubah, misalnya menjadi 9,6 km/jam, maka akan membakar sebesar 495 kalori (57 kg), 360 kalori (70 kg), dan 420 kalori (83 kg).

    Namun, perhitungan tersebut masih berupa estimasi. Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi pembakaran kalori saat berlari. Beberapa di antaranya yaitu berat badan, durasi, dan identitas lari.

    Agar dapat mengestimasikan dengan tepat, detikers dapat menggunakan beberapa aplikasi kalkulator kalori seperti runbundle. Aplikasi ini memungkinkan kita untuk dapat menghitung jumlah kalori yang terbakar dengan menginput beberapa data seperti berat badan, jarak, durasi lari, hingga tingkat elevasi medan lari.

    Women running in to the shadowKalori yang terbakar saat olahraga lari punya rumus penghitungan. Foto: Getty Images/Primoz_Korosec

    Selain menggunakan aplikasi, detikers juga bisa menghitung kalori yang terbakar menggunakan rumus sederhana. Rumus ini digunakan dalam dunia olahraga untuk mengestimasi energy expenditure. Rumusnya sebagai berikut.

    Calories = (Time x MET x 3.5 x Weight) / 200

    Rumus ini memiliki keterangan dimana time merupakan waktu atau durasi berlari, weight (berat badan), 3.5 (konstanta angka konsumsi oksigen) dengan satuan ml/kg/min, 200 (faktor konversi kalori), dan MET (Metabolic Equivalent of Task), yaitu angka pada intensitas lari.

    Demikianlah pembahasan terkait perhitungan berapa kalori terbakar saat lari 30 menit. detikers dapat memilih untuk menggunakan aplikasi atau rumus sederhana. Semoga membantu ya, detikers!

    Artikel ini ditulis oleh Salamah Harahap, peserta magang di detikcom.

    (krs/krs)



    Sumber : sport.detik.com