Tag: Investor

  • Alasan Investor Baru Pilih ADA Daripada Bitcoin dan Ethereum

    Trader dan analis Crypto popular, Alex Krüger, baru-baru ini menulis sebuah komentar di laman Twitter pribadinya mengenai alasan aset Cardano (ADA) yang mungkin menjadi aset paling dicari para investor baru.

    Alex Krüger juga menghubungkan popularitas Cardano dengan podcast. Meskipun ada banyak podcast kripto yang populer, Krüger lebih merujuk pada podcast yang dipandu oleh Charles Hoskinson.

    Krüger mengakui taktik jitu ala Hoskinson selaku salah satu pendiri dan CEO IOHK, perusahaan di belakang Cardano, memang pintar mempromosikan asetnya melalui media sosial.

    Sementara pencipta Bitcoin saja dirahasiakan identitasnya.

    Hoskinson sendiri diketahui cukup aktif di platform media sosial. Di laman pribadinya, ia menjelaskan konsep yang mencakup proposal pembaruan Cardano, tantangan kripto global, serta melakukan sesi AMA reguler atau ‘ask me anything‘.

    Dengan kata lain, investor pemula yang baru ingin coba-coba investasi akan lebih yakin untuk membeli ADA sebagai pilihannya karena sang CEO yang rutin memberikan update dan kejelasan tentang aset mereka.

    Baca JugaAnalisis Teknikal Menunjukkan Cardano Segera Ungguli Bitcoin

    Namun selain faktor external tersebut, sebenarnya apa sih yang membuat Cardano menjadi naik daun?

    Cardano Memiliki Banyak Pembaharuan

    Cardano berada di bagian depan soal pemutakhiran dan pembaharuan.

    Komunitas mereka merilis pembaruan statusnear-term pada 8 Oktober. Disebutkan bahwa tim sedang mengerjakan pemutakhiran dan pemeliharaan tersebut bersama dengan beberapa penerapan ERC20 lagi.

    Namun sebelum itu, Cardano telah resmi merilis smart contract miliknya pada tanggal 12 September 2021, dan menyiptakan stablecoin yang akan diterbitkan oleh COTI. Koin stabil tersebut bernama Djed.

    Sang pemilik juga telah mencatat bahwa untuk peningkatan desentralisasi. Mereka telah memperbarui dependensi node milik Cardano yang diikuti dengan menerapkan kembali modal konfirmasi transaksi.

    Selain itu, tim Cardano sedang meninjau beberapa testnet seperti Daedalus testnet v.4.3.2 dan berfokus pada debugging (proses menghapus bug di dalam code). Guna men-support peningkatan lainnya.

    Baca jugaPentingnya Strategi Fibonacci Dalam Trading Crypto

    Pandangan Positif Yang Dibangun

    Menurut laporan terbaru dari Grayscale Investments, mereka memperkirakan bahwa jaringan Cardano kerap kali menunjukkan tren fundamental yang positif.

    Lebih lanjut dalam waktu dekat, laporan tersebut menyatakan bahwa peluncuran Dapp, NFT, dan token baru dapat menyebabkan pemegang ADA mengalihkan alokasi mereka ke aset ini.

    Sementara itu, jaringan apapun memang tidak pernah lepas dari ancaman persaingan.

    Laporan tersebut menyebutkan bahwa pesaing terbesar ADA adalah blockchain Layer 1 dengan kemampuan smart contract yang juga dimiliki Ethereum, Solana, Internet Computer Protocol, Avalanche, dan lainnya.

    Namun perlu dicatat, bahwa Cardano Foundation baru-baru ini mengumumkan beberapa kemitraan strategis dengan nama-nama seperti COTI, Chainlink, Rival, dll. di Cardano Summit 2021.

    Kemitraan ini diharapkan dapat lebih meningkatkan adopsi dan penggunaan jaringan Cardano dalam beberapa hari mendatang.

    “Mitra ekosistem baru kami mencakup berbagai tantangan dan peluang di garis depan masyarakat global saat ini, termasuk perubahan iklim, NFT, keuangan terdesentralisasi (DeFi), dan identitas digital, dan mereka akan memainkan peran penting dalam membantu kami mewujudkan visi kami. ” Ungkap Frederik Gregaard, CEO Cardano Foundation.

    Terlepas dari momentum perkembangannya, akhir bulan lalu memanglah bukan waktu yang tepat bagi Cardano.

    Karena rata-rata jumlah transaksi besar secara on-chain telah menunjukkan penurunan yang tajam.

    Laporan arus dana mingguan CoinShares, untuk periode hingga 1 Oktober, menunjukkan bahwa Cardano hanya menerima $1,1 juta dalam arus masuk modal.

    sumber.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Laporan Terbaru Tunjukkan Investor Mulai Berburu Bitcoin

    Lama vs baru, fisik vs digital. Ini adalah perdebatan hangat baru-baru ini terkait dengan aset mana yang dapat menyimpan nilai dengan lebih baik. Di sisi lain, usia dari para investor juga mendorong aksi pada strategi investasi saat ini.

    Menurut laporan JPMorgan Chase & Co yang dirilis minggu ini dan dikutip oleh Bloomberg, investor secara keseluruhan (berdasarkan umur) mencari aset alternatif selama pandemi dan ketidakpastian ekonomi seperti saat ini.

    Jika investor dengan usia yang lebih tua mencari rasa aman dari emas, sebuah penyimpan nilai klasik dan lindung nilai terhadap inflasi, investor muda justru melakukan hal yang sama, tetapi tidak pada emas melainkan pada Bitcoin.

    Baca Juga: 5 Alasan Bitcoin Bisa Wujudkan kebebasan Finansial

    Investor Secara Keseluruhan Mulai Melirik Bitcoin

    Laporan tersebut juga menunjukkan bahwa di antara produk investasi tradisional, investor muda memilih saham teknologi sedangkan investor yang lebih tua memilih untuk menjual ekuitas.

    Ada indikasi akhir-akhir ini bahwa investor yang lebih tua mulai melihat Bitcoin dan mata uang crypto lainnya sebagai cara berinvestasi yang layak dipertimbangkan.

    Misalnya saja, aplikasi bernama Mode, baru-baru ini melaporkan peningkatan signifikan dalam pembelian Bitcoin bulanan dari pengguna Baby Boomers dan Gen X. jumlahnya hampir sama dengan jumlah peningkatan dari bulan ke bulan yang terlihat pada pengguna Milenial dan Gen Z.

    Baca Juga: Penulis Rich Dad Poor Dad: Bitcoin Bisa Membuatmu Kaya dan Pintar

    Meski begitu, investor yang lebih tua ternyata masih melihat lebih banyak nilai dalam aset yang telah teruji waktu seperti emas ini. Hal ini tidak lain karena emas memang selalu dijadikan sumber stabilitas di pasar selama beberapa waktu. Di sisi lain, Bitcoin masih dipandang sebagai aset baru dan asing, belum lagi karena volatilitasnya yang tinggi dianggap relatif tidak stabil.

    Lonjakan Harga Emas dan Bitcoin

    Namun, di luar itu semua, terdapat hal yang pasti, yaitu harga emas dan Bitcoin sedang melonjak akhir-akhir ini. Pada akhir bulan lalu saja, harga emas mencapai titik all-time-high baru, melampaui level tertinggi sebelumnya pada tahun 2011 silam. Pada hari Selasa, 4 Agustus, emas berhasil menembus $2.000 per troy ounce di New York untuk pertama kalinya.

    Baca Juga: Seberapa Profit Bitcoin Dibandingkan Emas Dalam 10 Tahun?

    Bitcoin tidak berada di dekat level tertinggi all-time-high di $20.089 pada 2017 silam, tetapi secara berkala terus melonjak dan melipatgandakan harga yang sempat menjadi terendah di $3.900 pada Black Thursday lalu.

    Saat penulisan ini, Bitcoin berada di kisaran $11.700 dan naik 28% dalam 30 hari terakhir. Hampir semua mata uang crypto juga ikut naik, dengan Ethereum berada di kisaran $400 naik 74% dalam 30 hari terakhir.

    Baca Juga:

    Informasi ini dapat dibaca kembali di sini



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Hal Yang Perlu Dihindari Investor Aset Kripto

    Walaupun baru berusia satu dekade, aset kripto merupakan salah satu instrumen investasi yang banyak diminati oleh masyarakat. Banyak juga orang yang mengira bawa nasib aset kripto akan berakhir dalam beberapa tahun, nyatanya investasi ini makin kuat setiap harinya. 

    Berdasarkan data kementerian perdagangan pada bulan Mei 2021 terdapat lebih dari 6 juta investor aset kripto di Indonesia. Jumlah ini melebihi jumlah investor pasar modal di bursa. 

    Beberapa dari kalian yang membaca artikel ini mungkin penasaran dan ingin coba berinvestasi kripto namun terbayang dengan berbagai pengalaman-pengalaman buruk yang pernah terjadi sebelumnya dan dialami oleh sebagian investor kripto. Padahal dalam kenyataannya, tiap instrumen investasi tentunya memiliki resiko masing-masing dan hal ini dapat dihindari dengan mempelajari lebih lanjut terkait instrumen investasi tersebut terlebih dahulu sebelum benar-benar terjun didalamnya. 

    Baca Juga: London Hard Fork Kemungkinan Ditunda, Ini Pernyataan Developer Ethereum

    Berikut adalah hal-hal yang perlu dihindari, belajar dari pengalaman yang pernah dialami sebagian besar investor dan bagaimana cara untuk menghindari situasi tersebut:

     

    • Saya lebih pintar dari orang lain, saya tidak mungkin melakukan kesalahan seperti mereka. 

     

    Banyak orang yang merasa bahwa dirinya tidak akan jatuh dalam pemikiran seperti ini. Sebelum memulai investasi di aset kripto para investor cenderung memahami terlebih dahulu sehingga mereka memiliki hampir semua pengetahuan dasar tentang aset kripto. Terkadang dengan memahami pengetahuan dasar aset kripto, bagaimana cara membaca grafik, teknikal analisis dan mengetahui fundamentalnya, para investor merasa bahwa mereka sudah ahli dalam aset kripto. Kenyataannya, trading bukan hanya tentang itu, melainkan trading adalah hal psikologis. Para investor harus melangkah lebih jauh untuk memahami konsepnya. Para investor harus menerima berbagai bentuk strategi pasar apapun. Aset kripto memiliki tingkat volatilitas yang tinggi. Jangan lupa untuk selalu melakukan penelitian terlebih dahulu terkait grafik dan teori market. 

     

    • Kehilangan banyak harta tabungan, tanah, rumah, mobil, dan sebagainya

     

    Semua orang memiliki potensi untuk mengalami kerugian dan kehilangan dananya dalam investasi. Akan ada saat dimana hal-hal terjadi diluar keinginan sehingga sangat penting selalu teliti dalam mengambil tindakan dalam dunia kripto. 

    Tentunya untuk menghindari hal ini, pastikan anda berinvestasi aset kripto dengan menggunakan dana dingin. Jangan pernah menggunakan dana tabungan hidup, dana darurat bahkan utang atau pinjaman. Pastikan anda dapat menutupi semua tagihan sebelum menginvestasikan dana anda dalam instrumen investasi manapun, termasuk aset kripto. Dalam investasi, semakin banyak keuntungannya, semakin tinggi pula potensi kerugian. Pastikan untuk selalu mempertimbangkan dan mempersiapkan rencana investasi sesuai dengan kondisi masing-masing. 

     

     

    Kunci kesuksesan dalam melakukan trading adalah disiplin dalam mengatur emosi. Mempertahankan sikap yang tenang dan penuh perhitungan adalah hal utama yang harus diperhatikan dalam trading. 

    Ketakutan dan keserakahan adalah dua emosi paling umum yang dialami trader, dan ini menyebabkan sebagian besar keputusan buruk yang membuat mereka kehilangan dana. 



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Bitcoin Turun Drastis, Investor pun Bisa Miliki Sentimen Negatif

    Pasar cryptocurrency terpuruk dan menunjukan kehancuran yang paling parah dalam sejarah mereka yang masih relatif singkat. Pada titik terendah, seluruh kapitalisasi pasar dari semua aset digital merosot sekitar $75 miliar dalam hitungan jam.

    Meskipun Bitcoin dan mata uang digital lainnya dikenal karena volatilitasnya, skala dan kecepatan jatuhnya pasar yang begitu lebar membuatnya sulit untuk membayangkan bagaimana investor dapat kembali.

    Harga memang mengalami kenaikan dari posisi terendah mereka, tetapi masih terlalu dini untuk mengatakan apakah kepercayaan pasar dapat kembali lagi.

    Pada Kamis adalah hari di mana harga Bitcoin mengalami penurunan parah dalam industri uang digital. Harga BTC jatuh sekitar 50%, aset digital lainnya bahkan bernasih lebih buruk seperti ETH dan XRP yang harganya juga menurun drastis.

    Menurut investor dan CPO Tinder, Brian Norgard laju penurunan Bitcoin membuat sebuah kehancuran bagi pikiran investor yang akan sulit dilupakan.

    Kejatuhan dramatis di tengah meningkatnya kepastian ekonomi global bukanlah tampilan yang baik untuk Bitcoin. Sebagai wartawan industri Larry Cermak menyoroti, banyak investor diberikan pada gagasan bahwa digital bisa berfungsi sebagai tempat berlindung yang tidak berkorelasi.

    Sebuah narasi juga telah muncul bahwa skenario seperti penyebaran virus corona, harga minyak dan lain sebagainya membuat Bitcoin pun semakin turun dan memiliki citraburuk karena tidak berhasil membuktikan sebagai safe haven asset.

    Apakah Investor akan Melupakan Penurunan Bitcoin?

    Bitcoin tentu tidak asing dengan pergolakan harga yang dramatis. Sejarahnya dipenuhi dengan guncangan besar. Namun, penurunan saat ini tidak mengikuti langkah besar untuk masa depan. Kerusakan yag sebenarnya dialami Bitcoin adalah sebuah sentimen dalam diri investor, apakah negatif atau positif? Hal ini masih harus dilihat lebih jauh lagi.

    Baca juga: Trader Veteran Ini Prediksi Bitcoin akan Berharga $1.000

    Namun setelah harga yang turun drastis, Bitcoin pun mengalami rebound harganya sempat membaik ke angka $5.000, ini tentu menjadi kabar yang baik bagi investor dan bisa membuat sentimen positif BTC kembali. Ini juga membuktikan bahwa Bitcoin memang memiliki volatilitas yang baik.

    Meskipun volatilitas gila, tampaknya tidak mungkin bahwa ini benar-benar adalah awal dari akhir cryptocurrency. Tingkat inovasi dan minat di sekitar industri telah tumbuh secara eksponensial. Pengembang yang paling berkomitmen pasti akan menjadi prajurit, meningkatkan pengalaman pengguna dan bekerja menuju masa depan keuangan terdesentralisasi yang mereka bayangkan.

    Seperti yang dilaporkan BeInCrypto, penurunan Bitcoin baru-baru ini mungkin sebenarnya mengarah pada periode akumulasi yang berkepanjangan,dan memungkinkan investor yang cerdas untuk mengambil Bitcoin dengan harga murah dan memanfaatkannya.

    Sumber





    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Investor Institusi Tingkatkan Alokasi Dana Investasi Selama Crypto Winter

    Investor institusi dilaporkan meningkatkan alokasi mereka selama crypto winter, menurut survei yang disponsori oleh exchange, Coinbase. Hasil survei ini menunjukkan bahwa prospek kripto dalam jangka panjang tetap positif.

    Coinbase menerbitkan temuan dari survei yang disponsorinya untuk memahami bagaimana pembuat keputusan di institusi AS memandang aset digital. Survei dilakukan secara independen oleh Institutional Investor Custom Research Lab antara 21 September dan 27 Oktober.

    Sebanyak 140 investor institusional di AS berpartisipasi dalam survei tersebut, mewakili sekitar US$ 2,6 triliun aset yang dikelola. Coinbase tidak terlibat dalam mencari responden.

    “Investor institusi meningkatkan alokasi mereka selama crypto winter, dengan banyak yang menggunakan ini sebagai kesempatan untuk belajar dan membangun masa depan,” ungkap dalam laporan tersebut.

    Potensi Jangka Panjang

    market kripto bitcoin
    Ilustrasi market kripto bitcoin.

    Baca juga: Genesis Terancam Bangkrut Potensi Kirim Bitcoin ke Titik Rendah Baru

    Dikutip Bitcoin.com, 62% investor yang saat ini berinvestasi di kripto meningkatkan alokasi mereka dalam 12 bulan terakhir (vs. 12% yang menurunkan alokasi mereka). Ini adalah bukti bahwa investor institusi terus mengambil pandangan jangka panjang dari kelas aset bahkan ketika harga telah turun.

    Sementara, 58% investor berharap untuk meningkatkan alokasi mereka selama tiga tahun ke depan. Mayoritas investor (59%) saat ini menggunakan atau berencana untuk menggunakan pendekatan buy-and-hold.

    Beberapa investor mengkategorikan aset digital sebagai komoditas nyata atau sebagai aset alternatif, lebih banyak investor yang membuat kategori mereka sendiri untuk kripto atau mengklasifikasikannya sebagai bagian dari inovasi atau teknologi baru. Ini juga merupakan bukti peluang jangka panjang yang mungkin muncul di masa depan

    Tetap Positif

    market aset kripto
    Ilustrasi market aset kripto.

    Baca juga: JP Morgan Resmi Daftarkan Merek Dagang untuk Layanan Wallet Kripto

    Sentimen keseluruhan terhadap aset digital tetap positif dengan 72% mendukung pandangan bahwa aset digital akan tetap ada dan 86% di antara yang saat ini diinvestasikan dalam kripto dan 64% di antara mereka yang berencana untuk berinvestasi.

    Mengingat iklim saat ini, ini adalah sinyal kuat penerimaan kripto sebagai kelas aset. Meskipun crypto winter, Coinbase mengatakan investor institusional masih bullish tentang kripto jangka panjang.

    “Prospek harga dalam jangka panjang tetap positif dengan 71% investor mengatakan bahwa mereka memperkirakan valuasi aset digital akan meningkat dalam jangka panjang,” jelas Coinbase.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Aktivitas Trading Investor Kripto Meningkat Selama Ramadhan 1444 H

    Dalam momen Ramadhan dan Idul Fitri 1444 H, Tokocrypto mencatatkan peningkatan signifikan aktivitas trading kripto pengguna dan perubahan perilaku yang berbeda dengan hari biasa. Tokocrypto, salah satu platform populer untuk perdagangan aset kripto di Indonesia, telah mengalami pertumbuhan yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir.

    Mengusung semangat #KejarTHR dan #BerbagiRezeki untuk kebaikan di sepanjang momen Ramadhan dan Idul Fitri 1444 H yang baru saja berlalu, Tokocrypto sebagai good crypto exchange konsisten berupaya memaksimalkan pengalaman trading bagi seluruh pelanggan melalui program yang menarik dan menguntungkan. Berkat upaya tersebut, Tokocrypto mencatatkan adanya pertumbuhan sekitar 15 persen dibanding momen hari biasa.

    “Tokocrypto mengucapkan selamat Hari Raya Idul Fitri 1444 H kepada seluruh umat muslim di Indonesia. Semoga hari perayaan besar ini bisa menjadi momentum bagi kita semua untuk menjadi pribadi yang lebih optimis dan aktif dalam menebar manfaat bagi sesama. Kami juga memaknai perayaan Idul Fitri kali ini sebagai momentum untuk terus membuka lebih banyak peluang bagi masyarakat untuk mengelola keuangan dan melek berinvestasi. Saat ini sudah banyak instrumen investasi yang memudahkan calon investor untuk mulai berinvestasi. Mulai dari emas, saham, reksa dana sampai kripto,” kata Rieka Handayani, VP Corporate Communications Tokocrypto.

    Trading saat Sahur

    Ilustrasi investasi aset kripto. Sumber: Shutterstock.
    Ilustrasi investasi aset kripto. Sumber: Shutterstock.

    Baca juga: Korelasi Bitcoin-Emas Mencapai Fase Tertinggi Sepanjang Masa

    Selama bulan Ramadhan, terdapat perubahan perilaku trading yang menarik untuk diamati. Frekuensi trading pada waktu sahur (antara pukul 03.00 WIB hingga 05.00 WIB) mengalami peningkatan sebesar 70 persen dibandingkan dengan sebelum Ramadhan. Hal ini menunjukkan bahwa banyak pengguna memanfaatkan waktu sahur untuk melakukan aktivitas perdagangan aset kripto.

    “Perubahan perilaku trading selama bulan Ramadhan ini menunjukkan adaptasi dan fleksibilitas pengguna dalam mengatur waktu trading mereka. Peningkatan aktivitas trading di waktu sahur mencerminkan bagaimana pengguna memanfaatkan waktu luang di pagi hari untuk berinvestasi,” ungkap Rieka.

    Pada periode 6-10 April, yang bertepatan dengan pemberian Tunjangan Hari Raya (THR), belum terjadi peningkatan trading yang signifikan. Namun, periode 10-13 April menunjukkan peningkatan sebesar 10 persen pada sisi deposit dibandingkan dengan dua minggu sebelumnya. 

    Kemudian, menjelang Idul Fitri periode 19-22 April juga terjadi peningkatkan active trader dan deposit sebesar 12 persen. Hal ini mengindikasikan bahwa beberapa pengguna mungkin menggunakan dana THR mereka untuk berinvestasi dalam aset kripto. Selama Ramadhan, aset kripto yang paling banyak diperdagangkan di Tokocrypto adalah Bitcoin (BTC), Ethereum (ETH), dan Tokocrypto Coin (TKO).

    “Kami melihat adanya peningkatan deposit di periode penerimaan THR, yang menunjukkan bahwa masyarakat semakin sadar akan potensi investasi dalam aset kripto. Hal ini sejalan dengan misi kami untuk meningkatkan inklusi keuangan melalui teknologi blockchain,” tutur Rieka.

    Pengguna Tokocrypto

    Tokocrypto Data Insight Q1 2023. Sumber: Tokocrypto.
    Tokocrypto Data Insight Q1 2023. Sumber: Tokocrypto.

    Baca juga: Pengadilan Hong Kong Akui Cryptocurrency Sebagai Properti

    Menurut data terbaru, jumlah pengguna terdaftar di Tokocrypto mencapai lebih tiga juta. Porsi usia pengguna Tokocrypto cukup bervariasi, dengan sebagian besar pengguna berusia antara 18-30 tahun (56,7 persen), 31-45 tahun (33,9 persen), 46-55 tahun (9,4 persen). Dalam hal jenis kelamin, mayoritas pengguna Tokocrypto adalah laki-laki, yang mencakup 74 persen dan perempuan sebesar 26 persen.

    “Pertumbuhan pengguna dan perubahan perilaku trading di Tokocrypto selama Ramadhan mencerminkan tren global yang menunjukkan minat yang semakin meningkat dalam investasi kripto. Selain itu, adaptasi pengguna terhadap waktu trading yang berbeda menunjukkan bahwa pasar kripto terus berkembang dan menjadi lebih inklusif bagi berbagai segmen masyarakat,” jelas Rieka.

    Untuk menjaga keberlanjutan pertumbuhan ini, Tokocrypto terus mengupayakan inovasi dan peningkatan layanan bagi penggunanya. Beberapa inisiatif yang sedang dilakukan meliputi pengembangan fitur edukasi, kolaborasi dengan mitra strategis, serta peningkatan keamanan platform.

    “Masa depan industri kripto di Indonesia terlihat cerah, dan Tokocrypto siap untuk memimpin perubahan tersebut. Dengan memahami demografi dan perilaku pengguna, platform ini berharap dapat terus menyediakan layanan yang sesuai dengan kebutuhan mereka, sambil mendorong inklusi keuangan dan ekonomi digital yang lebih luas,” pungkas Rieka.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • 5 Aset Kripto yang Paling Diminati Investor Indonesia

    Industri aset kripto terus mengalami pertumbuhan dari sisi jumlah investor kripto dan nilai transaksi dari waktu ke waktu. Kementerian Perdagangan (Kemendag) sebagai lembaga yang mengawasi dan mengatur perdagangan aset kripto mengeluarkan data transaksi terbaru dari industri yang baru tumbuh ini.

    Dari data yang dirilis Kemendag, disebutkan jumlah nasabah aset kripto telah mencapai 14,1 juta pada Mei lalu. Sementara itu, investor saham tercatat hanya 8,86 juta.

    Selain itu, aset kripto di Indonesia mengalami lonjakan luar biasa. Per 2020, nilai transaksi aset kripto sebesar Rp 64,9 triliun. Satu tahun kemudian, per Desember 2021, angkanya melonjak sangat signifikan menjadi Rp 859,4 triliun. Selama periode Januari hingga Mei 2022, tercatat sudah mencapai Rp 192 triliun.

    Ada hal menarik yang disebut dari data tersebut, bahwa ada lima jenis aset kripto teratas yang memiliki nilai transaksi tertinggi, yaitu Tether (Rp42,3 triliun), Bitcoin (Rp 18,5 triliun), Ethereum (Rp14,2 triliun), Dogecoin (Rp 6,8 triliun), dan Terra (Rp 6 triliun).

    Nasib Tether yang didenda 41 juta dolar AS oleh CFTC.
    Ilustrasi Nasib Tether yang didenda 41 juta dolar AS oleh CFTC.

    Baca juga: Bitcoin Kembali Turun ke Harga di Bawah $ 20 Ribu, Apakah Investor Mulai Menyerah?

    Tether (USDT) sendiri adalah aset kripto stablecoin yang dipatok ke dolar AS. Itu dibuat untuk menstabilkan nilai tukar dalam transaksi aset digital. Sejak kemunculannya, stablecoin telah memainkan peran yang sangat penting di pasar. 

    Tidak seperti aset kripto tradisional seperti Bitcoin dan Ethereum, yang nilai moneternya dapat berfluktuasi secara luas, stablecoin USDT dirancang untuk mempertahankan harga konstan US$ 1 dan didukung oleh cadangan dana yang besar atau rekayasa keuangan lainnya.

    Alasan Stablecoin Jadi Pilihan saat Bear Market

    VP Growth Tokocrypto, Cenmi Mulyanto, mengatakan laporan yang dikeluarkan oleh Kemendag sejalan dengan transaksi yang terjadi di Tokocrypto. Ia mengungkap bahwa tiga jenis aset kripto teratas yang ditransaksinya di platfrom Tokocrypto adalah USDT, ETH dan BTC.

    “Laporan transaksi aset kripto yang dikeluarkan oleh Kementerian Perdagangan untuk bulan Mei 2022, sejalan dengan situasi di Tokocrypto. Di platform kami tiga jenis aset kripto yang paling banyak di-trading adalah USDT, Ethereum dan Bitcoin. Untuk volume trading masing-masing belum bisa kami ungkap,” kata Cenmi.

    Menurut CoinGecko, USD Tether (USDT) dan USD Coin (USDC) adalah dua stablecoin terbesar berdasarkan kapitalisasi pasar sejauh ini, masing-masing mencapai US$ 66 miliar dan US$ 55 miliar, pada 1 Juli 2022. Cenmi sedikit mengungkap kenapa volume trading Tether mengalami lonjakan ketika kripto sedang bear market

    Ilustrasi stablecoin.
    Ilustrasi stablecoin. Foto: David Sandron/Shutterstock.com.

    Baca juga: Belajar dari Kripto UST dan LUNA, Stablecoin Masih Aman Jadi Instrumen Investasi?

    Menurut Cenmi, secara teori, nilai Tether seharusnya lebih konsisten daripada aset lainnya dan disukai oleh investor yang waspada terhadap volatilitas ekstrim dari koin lain. Selama pasar naik, Bitcoin biasanya akan jauh mengungguli stablecoin. Namun, selama tekanan pasar, stablecoin menawarkan perlindungan dari volatilitas.

    “Aset kripto tradisional berada di bear market, karena meningkatnya inflasi dan ancaman kenaikan suku bunga dari The Fed. Akibatnya, sulit untuk menemukan peluang untuk menghasilkan hasil keuntungan. Stablecoin mewakili satu-satunya tempat berlindung yang tersisa yang menawarkan pengembalian yang mengalahkan inflasi,” jelasnya.

    Meski begitu, Cenmi mengingatkan stablecoin adalah aset volatilitas yang lebih rendah, tetapi bukan tanpa risiko. Waspadai hal ini dan jangan mengalokasikan investasi yang berlebihan dan selalu melakukan riset serta selalu menggunakan uang dingin, bukan dana darurat.

    Ilustrasi Tpkocrypto dan Binance buat aset kripto BIDR.
    Ilustrasi Tpkocrypto dan Binance buat aset kripto BIDR.

    Di samping itu, Bappebti mencatat lima calon pedagang fisik aset kripto dengan nilai transaksi tertinggi pada Januari-Mei 2022, yaitu Tokocrypto, Indodax, Pintu, Rekeningku dan Zipmex. Cenmi mengatakan Tokocrypto masih memiliki daily trading volume yang terus tumbuh walaupun saat bear market.

    “Dalam situasi bear market saat ini, daily trading volume harus diakui terjadi penurunan dari segi daily trading volume dari sebelumnya pada saat normal bisa mencapai US$ 50-70 juta (Rp 747 miliar-1 Triliun), kini jadi US$ 15-20 juta (RP 224 miliar-298 miliar),” pungkas Cenmi.

    Baca juga: Tips Cuan Investasi Kripto Kala Market Bearish dan Kekhawatiran Stablecoin



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Investasi Aset Kripto Sudah Dipercaya Investor Ritel di Indonesia

    Perkembangan investasi aset kripto semakin hari terus menunjukkan hal positif. Sebuah riset terbaru mengungkap aset kripto sudah menjadi salah satu portofolio investasi dari banyak investor ritel di Asia, termasuk Indonesia.

    Penelitian Accenture menyebutkan setengah atau 52% dari investor asia memiliki aset digital dalam portofolio mereka, baik aset kripto, stablecoin, NFT maupun crypto funds selama kuartal I 2022.

    Accenture mengatakan survei dilakukan dengan lebih dari 3.200 klien di seluruh China, Hong Kong, India, Indonesia, Jepang, Malaysia, Singapura, dan Thailand. Perusahaan mendefinisikan klien mereka sebagai investor kaya yang mengelola aset dapat diinvestasikan antara US$ 100.000 (Rp 1,4 miliar) hingga US$ 1 juta (Rp 14,5 miliar). 

    Rata-rata 7% dari portofolio koresponden yang disurvei, menjadikannya aset digital sebagai kelas aset terbesar kelima bagi investor di Asia. Menariknya, investor di Thailand dan Indonesia memiliki persentase aset digital terbesar dalam portofolio mereka dibandingkan dengan investor di negara lain.

    Alokasi investasi aset digital di Indonesia masih jauh unggul dibandingkan negara seperti India, Singapura, Jepang dan China. Di Indonesia, aset digital termasuk kripto memiliki porsi 9% dibandingkan dengan alokasi untuk mata uang asing (5%), komoditas (6%), barang koleksi (8%), properti (13%) hingga saham (15%). 

    Ilustrasi market aset kripto.
    Ilustrasi market aset kripto.

    Baca juga: Market Awal Pekan: Bitcoin Terpuruk di Bawah Tekanan Inflasi Tinggi

    Aset Kripto Bisa Jadi Pilihan Tepat Investasi

    VP Growth Tokocrypto, Cenmi Mulyanto, melihat hasil survei ini sebagai pembuktian bahwa para investor ritel sudah confidence dengan aset digital, seperti kripto, stablecoin, NFT dan lainnya sebagai portofolio mereka untuk mendapatkan keuntungan.

    “Kripto sebagai aset digital kini sudah dilihat sebagai aset yang menjanjikan. Meski, saham masih mendominasi portofolio investasi, lambat laun para investor diyakini akan mulai memperlajari aset kripto. Terjadi perubahan perilaku investor khususnya di kalangan anak muda yang mulai melihat kripto sebagai ruang baru yang menjanjikan,” kata Cenmi.

    Menurut Cenmi, faktor yang mendukung berkembangnya perdagangan aset kripto di Indonesia salah satunya adalah penawaran balik hasil tinggi yang tidak kalah dengan instrumen investasi lainnya. Namun, ia kembali mengingatkan investasi di sektor ini high risk, high return. Kondisi ekonomi yang kurang kondusif juga mendorong investor lokal untuk mencari peluang investasi tambahan.

    “Tingkat adopsi kripto yang tinggi dapat, dikaitkan dengan ancaman kenaikan inflasi, yang memaksa investor Indonesia untuk beralih ke kripto sebagai lindung nilai terhadap ketidakpastian. Tidak mengherankan jika orang Indonesia mencari solusi keuangan alternatif untuk mempertahankan nilai tabungan mereka, lewat kripto ini, walaupun mengandung risiko cukup tinggi,” jelasnya.

    Ilustrasi market kripto.
    Ilustrasi market kripto.

    Baca juga: Persib Luncurkan Fan Token Kripto Ikuti Jejak AC Milan dan Barcelona FC

    Investor Aset Kripto Terus Tumbuh

    Selain itu, penetrasi pasar terhadap tingginya penggunaan smartphone, banyaknya penduduk usia produktif yang menggunakan perangkat tersebut, serta tumbuhnya perhatian dan ketertarikan milenial terhadap inovasi teknologi. Munculnya, NFT turut meningkatkan ketertarikan masyarakat terhadap investasi aset kripto.

    “Pasar yang menjadi target investor aset kripto di Indonesia adalah penduduk usia produktif 23-44 tahun. Rentang usis tersebut sudah memiliki rencana keuangan yang baik hingga pendapatan yang tetap. Mereka juga tertarik dengan teknologi blockchain yang mendukung eksistensi kripto sebagai aset digital yang kini menjadi bagian dari gaya hidup anak muda, seperti NFT,” kata Cenmi.

    Peminat aset kripto terus meningkat di Indonesia. Menurut data Bappebti, transaksi tiga bulan pertama (Januari—Maret) pada 2022 yang telah mencapai Rp 130,2 triliun. Selain itu, rata-rata kenaikan pelanggan aset kripto mengalami penambahan sebesar 740.523 pelanggan tiap bulan. Hingga kuartal I 2022, aset kripto di Indonesia tercatat memiliki 12,8 juta investor.

    Perlu diketahui bahwa populasi investor kripto di Indonesia hanya terdiri dari sekitar 2,7 persen dari total populasi, 272 juta. Maka dari itu, masih sangat besar potensi yang belum dimanfaatkan di Indonesia dalam hal adopsi dan pertumbuhan aset kripto.

    Baca juga: Investor Kakap ini Prediksi Bitcoin akan Injak Harga $ 250 Ribu, Apa Alasannya?



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Riset: Investor Kaya di Indonesia Banyak yang Mulai Investasi Aset Kripto

    Investasi aset kripto saat ini sudah menjadi pilihan yang penting untuk sebagian besar masyarakat Indonesia. Sebuah riset terbaru menemukan banyak dari investor kaya di Indonesia sudah masuk ke industri aset kripto untuk memperoleh keuntungan dari portofolionya.

    Menurut penelitian dari Accenture yang diterbitkan pada 6 Juni 2022, mengungkap investor kaya di Indonesia tidak malu memiliki beberapa bentuk aset digital selama kuartal I 2022. Riset itu bahkan menempatkan investor Indonesia paling banyak terjun ke dunia aset digital dibanding tujuh negara yang ditelitinya.

    Dibanding China, Hong Kong, India, Jepang, Malaysia dan Singapura, investor dari Indonesia dan Thailand masing-masing sebesar 9% melakukan investasi di aset digital. Aset digital yang dimaksud meliputi aset kripto, stablecoin dan crypto funds.

    Riset Accenture temukan investor kaya di Indonesia banyak yang sudah investasi aset kripto.
    Riset Accenture temukan investor kaya di Indonesia banyak yang sudah investasi aset kripto. Sumber: Accenture.

    Aset investasi lainnya dalam riset tersebut adalah mata uang asing, komoditas dan barang koleksi, dan dalam beberapa kasus setara atau melebihi jumlah yang diinvestasikan dalam ekuitas swasta/modal ventura dan hedge funds atau dana lindung nilai.

    Baca juga: 5 Alasan Bitcoin Jadi Investasi Jangka Panjang yang Lebih Baik daripada Emas

    Rata-rata Investor Kaya di Asia, Investasi di Kripto

    Accenture mengatakan survei dilakukan dengan lebih dari 3.200 klien di seluruh China, Hong Kong, India, Indonesia, Jepang, Malaysia, Singapura, dan Thailand. Perusahaan mendefinisikan investor kaya sebagai siapa saja yang mengelola aset yang dapat diinvestasikan antara US$ 100.000 hingga US$ 1 juta.

    52% investor kaya di Asia memiliki portofolio investasi di aset kripto. Setiap negara yang diteliti membentuk rata-rata 7% dari portofolio investor yang disurvei punya kripto dan menjadikannya kelas aset terbesar kelima bagi investor di Asia.

    Meskipun setengah dari investor di Asia sudah memegang aset digital pada kuartal I 2022, penelitian Accenture menunjukkan bahwa 21% lebih lanjut diharapkan untuk berinvestasi di dalamnya pada akhir tahun 2022, yang berarti sebanyak 73% investor kaya Asia dapat memiliki aset digital.

    Riset Accenture paparkan risiko dari berbagai instrumen investasi.
    Riset Accenture paparkan risiko dari berbagai instrumen investasi. Sumber: Accenture.

    Baca juga: Investor Bitcoin Jangka Panjang Mulai Serok, Tanda Apa?

    Hambatan Pertumbuhan Investasi Kripto

    Dalam riset juga menemukan bahwa perusahaan manajemen kekayaan, yang menyediakan perencanaan keuangan, pajak, saran investasi dan perencanaan perumahan kepada klien mereka, lambat untuk naik pertumbuhan aset kripto. 67% perusahaan manajemen kekayaan mengatakan mereka tidak memiliki rencana untuk menawarkan produk atau layanan aset digital.

    “Perusahaan manajemen kekayaan, aset digital adalah peluang pendapatan senilai US$ 54 miliar, namun sebagian besar diabaikan.”

    Riset Accenture

    Perusahaan manajemen kekayaan mengaku kurangnya kepercayaan dan pemahaman tentang aset digital, pola pikir wait and see dan kompleksitas operasional meluncurkan penawaran aset digital sebagai alasan utama untuk menahan, mengarahkan investor untuk memprioritaskan inisiatif lain sebagai gantinya.

    Baca juga: $750 Juta Posisi Short Rugi! Ethereum Kembali Pulih?

    Accenture mengatakan akibat langkah yang lambat dari perusahaan manajemen kekayaan tersebut, membuat investor dipaksa untuk mendapatkan nasihat keuangan mereka tentang aset kripto dari sumber yang tidak dapat diandalkan. Namun, Accenture telah menekankan pentingnya perusahaan manajemen kekayaan untuk maju ke ruang aset digital, atau berisiko tertinggal.

    Pada bulan April, sebuah laporan oleh exchange global, Gemini menemukan bahwa adopsi kripto meroket pada tahun 2021, terutama di negara-negara seperti Indoneisa, India dan Hong Kong. Sekitar 45% responden di Asia Pasifik membeli aset kripto pertama mereka pada tahun 2021.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • ETF Picu Kenaikan Litecoin Hingga 18%

    Litecoin (LTC) mengalami lonjakan hingga 18% dalam 24 jam terakhir, dipicu oleh ekspektasi bahwa aset ini akan segera mendapatkan persetujuan Exchange-Traded Fund (ETF).

    Thedefiant menyebutkan bahwa kenaikan ini terjadi meskipun pasar kripto secara keseluruhan mengalami penurunan, dengan Bitcoin (BTC) anjlok di bawah $84.000 dari hampir $96.000 pada 24 Februari.

    Sementara itu, analis Bloomberg, Eric Balchunas dan James Seyffart memperkirakan peluang persetujuan ETF Litecoin mencapai 90%.

    Prediksi ini mendorong LTC keluar dari tren penurunan dan mengungguli sebagian besar pasar kripto lainnya. Menurut mereka, Litecoin tetap memiliki peluang besar untuk mendapatkan ETF bahkan jika regulator anti-kripto masih berkuasa di SEC.

    Kenaikan Harga Litecoin Hanya Menutupi Kerugian Sebelumnya

    Meskipun mencatatkan kenaikan signifikan, lonjakan harga LTC sebenarnya hanya menutupi penurunan harga sehari sebelumnya.

    Saat artikel ini ditulis, LTC diperdagangkan di sekitar $130, masih di bawah level tertingginya dalam tujuh hari terakhir di $138 pada 21 Februari.

    Pergerakan harga Litecoin (LTC/USDT) pada Jumat, 28 Februari 2025. Sumber: Tokocrypto.
    Pergerakan harga Litecoin (LTC/USDT) pada Jumat, 28 Februari 2025. Sumber: Tokocrypto.

    Di sisi lain, Ben Yorke, kepala ekosistem di Woo Network, menilai skeptis bahwa ETF Litecoin akan membawa dampak positif yang berkelanjutan.

    Menurutnya, Litecoin hanya mendapat dorongan dari spekulasi dan tidak memiliki daya tarik jangka panjang bagi investor institusional karena kurangnya utilitas dan imbal hasil.

    Yorke berpendapat bahwa persetujuan ETF Litecoin justru bisa menjadi pemicu aksi jual besar-besaran. Investor kemungkinan akan menjual aset ini setelah berita ETF disahkan dan mengalihkan dana mereka ke aset kripto lain yang lebih menarik atau tren ETF berikutnya.

    Jauh Dari Harga Puncak

    Meskipun mengalami lonjakan harga dalam beberapa hari terakhir, Litecoin masih berada sekitar 70% di bawah harga tertingginya pada tahun 2021 yang mencapai sekitar $400.

    Hal ini menunjukkan bahwa prospek jangka panjang Litecoin masih belum menjanjikan dibandingkan aset kripto lainnya.

    Meskipun Litecoin berhasil naik 18% di tengah hype ETF, kenaikan ini lebih didorong oleh spekulasi daripada fundamental yang kuat.

    Jika ETF Litecoin benar-benar disetujui, ada kemungkinan besar bahwa investor akan segera menjual aset ini, yang dapat menghambat kenaikan lebih lanjut.

    Dengan prospek jangka panjang yang masih meragukan, penting bagi investor untuk tetap berhati-hati sebelum mengambil keputusan investasi.


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut.

    Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.



    Sumber : news.tokocrypto.com