Tag: IOTA

  • Mengungkap Rahasia Kenaikan Harga Kripto IOTA

    IOTA (IOTA), platform teknologi distributed ledger technology (DLT) mengalami lonjakan harga yang kuat dalam beberapa hari terakhir ini. Harga IOTA meroket dalam waktu yang relatif singkat.

    IOTA menyaksikan lonjakan harga pada perdagangan Jumat (26/1) pagi, mencapai level tertinggi US$ 0,261, menampilkan kandil hijau yang mencolok. Kenaikan harga disertai dengan peningkatan volume perdagangan yang cukup besar, menunjukkan minat dan aktivitas pasar yang kuat. Menurut data CoinMarketCap, volume perdagangan IOTA meningkat 597% dalam 24 jam terakhir menjadi US$ 153,47 juta.

    Pada saat penulisan, IOTA naik 14,05% dalam 24 jam sebelumnya menjadi US$ 0,247. IOTA mengungguli 100 teratas dalam hal keuntungan karena harga Bitcoin tetap datar setiap hari, menghasilkan keuntungan kecil atau bahkan kerugian bagi banyak altcoin. IOTA adalah peraih keuntungan harian terbesar kedua, hanya tertinggal dari helium (HNT), yang melonjak hingga 30% setelah pengumuman kemitraan besar.

    Sebelumnya, IOTA terpukul setelah jatuhnya pasar selama seminggu terakhir tetapi kini sedikit pulih, naik 4,22% dalam tujuh hari terakhir. Khususnya, mata uang kripto ini mulai pulih setelah mencapai support di $0,196 pada 23 Januari, yang bertepatan dengan MA 200 harian. Momentum bullish terus berlanjut, dengan IOTA membukukan kenaikan selama dua hari, termasuk hari ini, sejak tanggal tersebut.

    Optimisme IOTA Tumbuh

    Grafik Harian IOTA/USDT. Sumber: TradingView.
    Grafik Harian IOTA/USDT. Sumber: TradingView.

    Baca juga: 5 Aset Kripto di Bawah $0,10 yang Dapat Reli Seperti Shiba Inu

    Dilaporkan U.Today, optimisme terhadap ekosistem IOTA mungkin menjadi pemicu kenaikan harga IOTA. Dalam AMA yang diadakan oleh KuCoin, salah satu pendiri IOTA, Dominik Schiener menekankan fokus perusahaan pada tokenisasi aset dunia nyata, menjembatani kesenjangan antara dunia digital dan fisik, yang merupakan langkah penting menuju integrasi blockchain yang sebenarnya, beralih dari konsep inovatif ke penggunaan produktif.

    IOTA mengklaim dirinya sebagai DLT Foundation pertama yang diatur oleh Pasar Global Abu Dhabi di Uni Emirat Arab. Pada tahun sebelumnya, IOTA Foundation baru didirikan di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, untuk berekspansi secara global.

    Ke depan, IOTA bermaksud untuk meluncurkan EVM dan memperluas secara geografis, terutama di Asia, untuk menciptakan jaringan yang dapat diskalakan dan terdesentralisasi untuk berbagai aplikasi blockchain di dunia nyata.

    Komentar Schiener—yang mengonfirmasi peluncuran Mesin Virtual Ethereum (EVM) IOTA yang akan datang dan debut versi alfa baru IOTA—memicu kesibukan pasar. Namun dia juga merekomendasikan agar pemegang IOTA mempertaruhkan token mereka di IOTA EVM pada kuartal kedua, sebuah tip yang mungkin juga memicu sensasi pembelian di kalangan petani token.

    Rilis terbaru iota-ore versi alfa dari IOTA Foundation minggu lalu menandai langkah signifikan menuju penyempurnaan parameter protokol dan memperkuat kegunaan jaringan. Hans Moog, pengembang utama di yayasan tersebut, mengumumkan peningkatan tersebut di akun media sosialnya.


    Pastikan kamu hanya melakukan investasi dan trading kripto di platform terpercaya, seperti Tokocrypto. Dengan berbagai fitur yang mumpuni serta ekosistem yang luas, trading kripto jadi lebih mudah.

    DISCLAIMER: Setiap keputusan investasi adalah tanggung jawab pribadi Anda. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual kripto. 



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Tokenisasi Aset Dunia Nyata Diramal Jadi Segmen Blockchain Paling Bernilai


    Jakarta

    Tokenisasi aset dunia nyata diproyeksi jadi salah satu segmen blockchain paling bernilai, dengan Boston Consulting Group memperkirakan pasar senilai US$16 triliun pada 2030. Di Indonesia, analis lokal memperkirakan tokenisasi RWA dapat mencapai US$88 miliar pada tahun yang sama.

    Prediksi ini didorong oleh beberapa faktor: populasi lebih dari 270 juta, lebih dari separuh penduduk masih underbanked atau unbanked, serta pertumbuhan pesat layanan keuangan digital seperti dompet elektronik dan pinjaman daring.

    Permintaan yang meningkat untuk infrastruktur digital yang terpercaya membuka peluang untuk aplikasi seperti pinjaman mikro ter-tokenisasi, kontrak berbasis emas yang terdigitalisasi, pembiayaan rantai pasok yang dapat dilacak, serta lapisan remitansi lintas batas yang semuanya sedang dieksplorasi dalam kerangka Tokenize Indonesia.


    Saat ini tengah terjadi pergeseran besar bukan melalui peluncuran token baru atau hype spekulatif, melainkan dari dalam institusi-institusi paling strategis di Indonesia.

    Mewakili kapitalisasi pasar gabungan lebih dari US$35 miliar, Bank Rakyat Indonesia (BRI), Pegadaian, Pos Digi, dan MDI Ventures bergabung dalam Tokenize Indonesia untuk mendorong use case tokenisasi dan aset dunia nyata (Real-World Assets / RWA) mereka masing-masing.

    Tokenize Indonesia, yang diinisiasi oleh Saison Capital, Coinvestasi, dan BRI Ventures (BVI), dirancang sebagai platform eksperimental terstruktur bagi institusi untuk mengeksplorasi real-world use case blockchain dalam operasi mereka. Alih-alih mengejar popularitas semata, program ini bertujuan menjembatani institusi tradisional dengan penyedia infrastruktur blockchain untuk bersama-sama mengembangkan solusi Develop Used Case yang siap diterapkan.

    Program ini dimulai pada Juli 2025 dan akan berpuncak dalam sebuah showcase di Coinfest Asia, festival kripto terbesar di dunia yang akan digelar pada 21-22 Agustus 2025.

    “Tujuan kami adalah mendorong kolaborasi yang bermakna antara institusi keuangan besar yang mapan dengan mitra teknologi yang inovatif dan bergerak cepat. Dengan menjembatani dua dunia ini, kami ingin mendorong pertumbuhan berkelanjutan, memperluas inklusi keuangan, dan mempercepat adopsi aset digital di Indonesia,” ujar Markus Liman Rahardja, Chief Investment Officer, BRI Ventures dalam keterangan pers, ditulis Minggu (14/9/2025).

    Tokenize Indonesia juga dipandang sebagai gerbang menuju regulatory sandbox OJK yang akan diluncurkan pada 2025. Hal ini menandai perubahan strategis: Indonesia bergerak dari pasar kripto ritel menuju testbed nasional untuk adopsi blockchain tingkat institusi.

    Sandbox, Sebelum Regulasi Final

    Waktu peluncuran program ini sangat tepat. Pada Januari 2025, pengawasan aset digital telah berpindah dari Bappebti (otoritas komoditas) ke OJK. Transisi ini diperkirakan akan mendefinisikan ulang klasifikasi aset digital dan membuka ruang eksperimen berbasis sandbox memungkinkan inovator fintech dan blockchain untuk menguji model baru di bawah pengawasan regulator.

    Dengan menyesuaikan strukturnya lebih awal terhadap kerangka ini, Tokenize Indonesia menempatkan para peserta sebagai pionir dalam lanskap aset digital yang baru.

    Ekosistem kripto Indonesia sendiri telah membuktikan kapasitas skalanya di level ritel. Antara 2021-2024, jumlah pengguna terdaftar meningkat dua kali lipat dari 9,9 juta menjadi 20,9 juta, sementara volume transaksi bulanan melonjak dari US$739 juta menjadi US$2,25 miliar. Namun, pertumbuhan ritel yang cepat juga rawan volatilitas.

    Peluang sesungguhnya ada di adopsi institusional yang lebih berkelanjutan dan sistemik. Begitu blockchain terintegrasi di sektor seperti perbankan, logistik, atau telekomunikasi, dampaknya bukan hanya efisiensi, tetapi juga legitimasi. Dan legitimasi inilah yang akan menjadi jangkar pertumbuhan jangka panjang ekonomi digital Indonesia.

    Blockchain Enabler Global Sudah Bersiap

    Untuk melaksanakan eksperimen berisiko tinggi ini, program menggandeng nama-nama terpercaya dalam infrastruktur blockchain, termasuk:
    * IOTA, dengan jaringan berbasis DAG tanpa biaya yang digunakan di proyek logistik dan IoT global.
    * Stellar, yang banyak diadopsi dalam keuangan lintas batas dan bermitra dengan lembaga kemanusiaan.
    * Ripple, yang protokol pembayarannya digunakan oleh lebih dari 100 institusi keuangan di seluruh dunia.
    * Fireblocks, penyedia infrastruktur yang mengamankan lebih dari US$4 triliun aset digital institusional bagi bank, fintech, dan manajer aset.

    (kil/kil)



    Sumber : finance.detik.com