Tag: iri

  • Kisah Jembatan Cincin Jatinangor yang Konon Horor



    Sumedang

    Ada sebuah jembatan ikonik di daerah Jatinangor. Jembatan Cincin, begitu warga setempat mengenalnya. Konon, jembatan ini horor. Apa iya?

    Selepas menunaikan salat Zuhur, seorang pria tua berjalan menuju ke gapura di jalan menuju Jembatan Cincin di Desa Cikuda, Kecamatan Jatinangor, Kabupaten Sumedang.

    Mengenakan peci hitam, kaus cokelat dan celana pendek, pria itu langsung duduk di bawah gapura yang di bawahnya memiliki teras untuk bersantai.


    Pria itu bernama Aba Adi Brata. Sesampainya di gapura itu, Aba yang kini usaianya sudah 75 tahun langsung duduk untuk bersantai sejenak di teras tersebut. Menurut Aba, teras itu menjadi tempat nyaman baginya kala dia keluar rumah.

    “Bukan kereta api (angkutan masyarakat umum), tapi lori, kereta angkutan yang digunakan untuk ke perkebunan,” kata Aba sambil menunjuk ke arah Jembatan Cincin.

    Jembatan yang dibangun pada 1917-1918 memiliki pesona tersendiri dan pemandangannya yang sangat indah. Namun cerita-cerita horor kerap menghantui jembatan itu.

    Aba pun menjelaskan pengalaman mistis yang diceritakan terkait jembatan Cincin. Rata-rata, pengalaman itu karena terbawa perasaan takut dan salah penglihatan.

    “Seperti gini, waktu itu bapak (Aba) pas pulang nonton bioskop malam-malam di tempat yang gelap. Bapak lihat seperti berwujud orang yang sedang melambai. Bapak saat itu lari terbirit-birit, eh besoknya pas dilihat ternyata pohon pisang,” ujar Aba.

    Menurut Aba, jembatan Cincin dianggap berbau mistis dan horor karena dulu oleh sebagian orang dijadikan tempat untuk meminta nomor togel. Kebanyakan dari mereka menganggap bahwa di jembatan tersebut bisa mendatangkan keberuntungan dari makhluk gaib.

    “Itu kenapa angker karena awalnya sudah dianggap begitu, padahal itu sulit dibuktikan. Jika suatu tempat dianggap angker, makhluk selain manusia akan senang menggoda kita. Harusnya kita cukup sama Allah saja tempat meminta dan tempat menaruh rasa takut, bukan sama hal begituan (makhluk gaib),” tutur Aba.

    Tak Ada Horor di Jembatan Cincin

    Aba pun membantah isu yang menyebut jembatan itu mengandung nuansa mistis. Tak pernah ada kejadian apapun yang berkaitan dengan hal mistis atau horor selama dia tinggal di dekat jembatan Cincin.

    “Enggak, enggak angker. Bapak orang sini asli. Pernah mahasiswa sini saya tegur, jangan macam-macam sebar isu itu. Banyak juga mahasiswa yang melintas ke sini malam-malam, tidak ada apa-apa,” tuturnya.

    Jembatan Cincin di Sumedang.Jembatan Cincin Foto: Wisma Putra/detikJabar

    Aba juga menyebut, jika ada yang menyebut kawasan tersebut angker itu hanya isu burung yang tidak dapat dibuktikan keasliannya.

    “Itu hanya isu, dikarenakan gini di sini banyak kosan paling dekat dan lainnya iri, yang dekat penuh yang lain tidak, biasa nakut-nakutin,” tambahnya.

    Dindin (54), salah satu pengendara yang melintas di jalan itu mengatakan, dia sering pulang-pergi lewat jembatan itu di malam hari. Menurut Dindin, baik-baik saja.

    “Enggak pernah tuh ada hantu (horor) atau apa, aman-aman saja,” ujarnya.

    Dindin mengakui jika keberadaan jembatan itu sangat membantu aktivitas warga.

    “Kalau enggak ada jembatan ini, yang mau sekolah harus muter, begitu juga petani. Berguna sekali, khususnya bagi anak sekolah,” tambahnya.

    Sejarah Jembatan Cincin

    Jembatan Cincin dulu dibangun oleh Staatsspoorwegen (SS) atau Perusahaan Kereta Api Negara pada tahun 1917/1918. Rencananya, jembatan itu untuk jalur kereta api yang menghubungkan Rancaekek-Jatinangor-Tanjungsari-Citali.

    “Dulu namanya SS (Staatsspoorwegen), bukan PT KAI, bukan PJKA, tapi SS (yang membangun jembatan). Bukan jalur kereta api umum, tapi digunakan lori untuk mengangkut hasil pertanian, itu juga kata kakek bapak yang bekerja di SS,” jelas Aba.

    Menurut Aba, sebelum kawasan tersebut dipenuhi pemukiman, kereta lori berlalu lalang di jembatan itu untuk mengangkut hasil-hasil perkebunan dari mulai kawasan Jatinangor hingga Tanjungsari. Hail panen itu nantinya diangkut ke kota oleh Belanda.

    “Bukan jalur kereta api tapi jalur lori, seperti angkutan tebu atau barang. Anak-anak sekarang tidak tahu riwayatnya, bukan kereta api, bapak tanyakan langsung ke kakek bapak dulu,” ujarnya.

    Menurut Aba, dulunya perkebunan di kawasan Jatinangor ditanami tanaman haramai yang biasa dihinggapi ulat sutera dan hasilnya di bawa ke luar negeri dijadikan kain sutra. Setelah itu, diganti tanaman teh dan diganti kembali dengan pohon karet.

    “Teh itu diganti lagi, dikarenakan Jatinangor daerah panas tidak seperti Ciwidey dan Lembang. Hujan bagus, kemarau kering dan diganti lagi jadi kebun karet,” tuturnya.

    Saat ini, jembatan tersebut digunakan warga sebagai jalan penghubung antar kampung. Jalan itu biasa digunakan petani, pelajar, hingga masyarakat umum.

    ——-

    Artikel ini telah naik di detikJabar.

    (wsw/wsw)



    Sumber : travel.detik.com

  • Danau Dendam Tak Sudah dan Kisah Legenda di Baliknya



    Bengkulu

    Di Bengkulu, ada destinasi wisata alam dengan nama yang indah, yaitu Danau Dendam Tak Sudah. Di balik nama itu, ada kisah legenda yang menyelimutinya.

    Danau Dendam Tak Sudah adalah salah satu danau di Bengkulu yang banyak dikunjungi oleh wisatawan. Danau ini memiliki legenda yang melatarbelakangi namanya.

    Lokasi Danau Dendam Tak Sudah

    Dilansir dari laman Pemerintah Kota Bengkulu, Danau Dendam Tak Sudah berlokasi di Kelurahan Dusun Besar, Kecamatan Singaran Pati, Kota Bengkulu. Danau ini memiliki luas keseluruhan 557 hektar dan luas permukaan 67 hektar.


    Danau Dendam Tak Sudah diperkirakan terbentuk dari aktivitas gunung berapi di daerah tersebut. Danau ini telah ditetapkan sebagai cagar alam oleh Pemerintah Hindia Belanda.

    Ada beberapa versi mengenai kisah legenda Danau Dendam Tak Sudah. Berikut beberapa versi legenda tentang danau tersebut:

    1. Kisah Legenda Danau Dendam Tak Sudah Versi Pertama

    Dalam artikel berjudul Revitalisasi Legenda Danau Dendam Tak Sudah Melalui Komik, diketahui bahwa legenda danau ini berkaitan dengan dua kerajaan yang dulu berada di daerah Bengkulu.

    Dua kerajaan itu adalah Kerajaan Sungai Itam dan Kerajaan Jenggalu yang berkuasa di daerah bernama Muara Bangkahulu.

    Pada saat itu, Raja Kerajaan Jenggalu Rangga Janu berkeinginan untuk menguasai Kerajaan Sungai Itam. Hal ini membuat kedua kerajaan tersebut bertikai satu sama lain.

    Kerajaan Sungai Itam sendiri dipimpin oleh Raja Senge. Kerajaan ini dikenal memiliki wilayah yang makmur dan subur, serta menjadi daerah dengan perkebunan lada terbesar.

    Raja Senge memiliki empat anak, yakni Pangeran Bungin dan Bingin, serta Puteri Jenti dan Suderati. Keempat anak ini memiliki pribadi yang rendah hati, layaknya Raja Sange dan istrinya yang sangat baik.

    Pada suatu hari, Putri Jeni dan Puteri Suderawati menaiki sebuah rakit untuk mengitari sungai yang ada di Kerajaan Sungai Itam. Mereka pergi bersama para pengawal dengan tujuan untuk bermain.

    Saat asyik menyusuri sungai, keduanya menemukan sebuah kampung di pinggiran danau yang belum pernah mereka kunjungi. Namun, karena hari sudah malam, para pengawal membawa keduanya kembali ke istana.

    Keesokan harinya, mereka berdua kembali ke kampung tersebut dan bertemu pemuda yang memberikan perhatian lebih kepada Puteri Suderati. Pemuda tersebut bernama Jungku Mate.

    Danau Dendam Tak Sudah di BengkuluDanau Dendam Tak Sudah di Bengkulu Foto: Fitraya Ramadhanny

    Perasaan Jungku Mate tidak bertepuk sebelah tangan, Putri Suderati juga menaruh perasaan pada Jungku Mate. Singkat cerita, mereka menjalin hubungan tanpa diketahui siapapun, kecuali Puteri Jenti.

    Namun suatu hari pertemuan mereka diketahui warga kampung. Melihat hal itu mereka melaporkan pertemuan keduanya kepada pihak istana.

    Saat itu Raja Senge terkejut dan merasa khawatir kalau anggota kerjaan akan murka pada Puteri Suderati. Menjalin hubungan dengan rakyat biasa berarti melanggar peraturan istana.

    Raja Jangga Janu yang mendengar hal itu menawarkan perdamaian dengan Kerajaan Sungai Itam. Namun, ia memberikan syarat yaitu Raja Senge menikahkan putrinya dengan anaknya.

    Raja Senge akhirnya menyetujui hal tersebut agar kedua kerajaan tidak lagi berselisih. Sang raja menikahkan Putri Suderati untuk menebus kesalahan yang dilakukan sebelumnya.

    Putri Suderati menolak perjodohan itu, tetapi akhirnya ia tetap dinikahkan dengan putra mahkota Kerajaan Jenggalu, yaitu Pangeran Natadirja. Jungku Mate juga merasa putus asa dan merasa dikhianati.

    Meskipun ia merasakan dendam, tapi Jungku Mate memilih untuk mengakhiri hidupnya ke danau yang ada di kampungnya. Danau tersebut kemudian diberi nama Danau Dendam Tak Sudah.

    2. Legenda Dendam Danau Tak Sudah Versi Kedua

    Legenda kedua tentang Danau Dendam Tak Sudah adalah tentang sepasang kekasih yang cintanya tidak direstui. Mereka yang saat itu saling mencintai memutuskan loncat ke danau.

    Namun ada versi lain juga yang mengatakan bahwa danau itu terbentuk dari air mata si perempuan yang ditinggal menikah oleh kekasihnya.

    Sepasang kekasih ini adalah Esi yang dikenal sebagai bunga desa dan Buyung si perjaka tampan yang berani. Mereka dikisahkan memiliki hubungan yang menyenangkan dan banyak membuat yang lain merasa iri.

    Namun sayang, hubungan mereka ternyata tidak direstui oleh orang tua Buyung. Esi yang mendengar hal tersebut merasa kecewa. Bahkan setelah bertemu dengan Upik Leha, Buyung sang kekasih pun merasa goyah.

    Esi yang merasa sedih kemudian menangis hingga air matanya menjadi seperti air bah. Air itu kemudian menenggelamkan rumah-rumah yang ada di kampung itu.

    Danau itu kemudian terbentuk dan dinamai sebagai Danau Dendam Tak Sudah.

    3. Legenda Danau Dendam Tak Sudah Versi Belanda

    Versi ini menceritakan tentang pembangunan dam atau bendungan oleh kolonial Belanda pada masa lampau. Berdasarkan sejarah, Bengkulu dahulu diduduki oleh Belanda dan membangun dam di lokasi danau untuk antisipasi dan menampung banjir.

    Namun, pembangunan dam itu tidak selesai karena penjajahan telah berakhir. Masyarakat menamainya dengan dam tak sudah karena pembangunan dam yang belum selesai.

    Seiring waktu, penamaan dan penyebutan ‘dam tak sudah’ juga mengalami perubahan. Orang-orang kemudian banyak menyebut danau ini menjadi Danau Dendam Tak Sudah.

    ——-

    Artikel ini telah naik di detikSumbagsel.

    (wsw/wsw)



    Sumber : travel.detik.com

  • Ada yang Bikin Barcelona Iri sama Real Madrid, nih


    Jakarta

    Ada yang bikin Barcelona iri sama Real Madrid di jeda internasional November ini. Para pemain Madrid dinilai bisa cepat pulang dan istirahat!

    Dilaporkan Mundo Deportivo, para staf di Barcelona menilai Real Madrid punya ‘privilege’ untuk melindungi para pemainnya di jeda internasional kali ini. Kebanyakan para pemain El Real cuma main satu laga di Kualifikasi Piala Dunia 2026 saat membela negaranya masing-masing.


    Para pemain Real Madrid itu adalah Kylian Mbappe, Fede Valverde, Thibaut Courtois, Eduardo Camavinga, dan Dean Huijsen.

    Para pemain itu dilaporkan cedera, tapi pihak Barcelona tidak percaya. Walau memang, Courtois dan Camavinga tidak dipanggil ke timnasnya gegara cedera.

    Pihak Barcelona juga menyesalkan media-media Spanyol yang membesar-besarkan soal Lamine Yamal. Yamal tidak gabung ke Timnas Spanyol dan memilih terapi sendiri untuk cederapubalgia atautulang selangkangan. Padahal, diketahui pihak Timnas Spanyol memaklumi Yamal.

    Di Liga Spanyol, persaingan Real Madrid dan Barcelona terus ketat. Madrid memimpin dengan 31 poin dari 12 laga, Barcelona mengekor dengan 28 poin di bawahnya.

    (aff/bay)



    Sumber : sport.detik.com

  • 50 Kata-Kata Mutiara Para Sahabat Nabi Muhammad SAW



    Jakarta

    Para sahabat Nabi Muhammad SAW adalah generasi terbaik umat Islam. Mereka bukan hanya saksi hidup perjuangan Rasulullah, tetapi juga penerus risalah yang menebarkan cahaya Islam ke seluruh penjuru dunia.

    Dalam kehidupan mereka yang penuh kesederhanaan dan keikhlasan, tersimpan banyak nasihat dan kata-kata bijak yang menjadi pelajaran berharga bagi umat hingga kini.

    Kata-kata mutiara para sahabat tidak hanya mencerminkan keteguhan iman dan akhlak mulia, tetapi juga menunjukkan bagaimana mereka memahami hakikat hidup, sabar dalam ujian, dan tulus dalam beramal.


    Melalui ungkapan-ungkapan penuh hikmah ini, kita dapat belajar tentang ketawadhuan, kesabaran, dan keteguhan hati dalam menjalani kehidupan sesuai ajaran Islam.

    Kata-kata Mutiara Sahabat Rasulullah SAW

    1. “Ilmu adalah cahaya bagi hati dan petunjuk bagi jalan.” – Abu Bakar RA
    2. “Kesabaran menghadapi ujian adalah kunci kebahagiaan.” – Umar bin Khattab RA
    3. “Jadilah orang yang menebar manfaat bagi sesama.” – Ali bin Abi Thalib RA
    4. “Amal kebaikan kecil lebih baik daripada menunda amal besar.” – Utsman bin Affan RA
    5. “Hargai waktu, karena ia tidak akan kembali.” – Abu Hurairah RA
    6. “Jangan sombong, karena semua berasal dari Allah.” – Bilal bin Rabah RA
    7. “Kejujuran adalah fondasi persaudaraan sejati.” – Salman Al-Farisi RA
    8. “Belajarlah sepanjang hayat, ilmu tak mengenal usia.” – Talhah bin Ubaidillah RA
    9. “Ridha Allah lebih berharga daripada pujian manusia.” – Sa’ad bin Abi Waqqas RA
    10. “Hati yang lembut membawa kedamaian dalam hidup.” – Abu Darda RA
    11. “Tegaslah dalam kebenaran, walau sendirian.” – Abdullah bin Mas’ud RA
    12. “Bersyukurlah atas nikmat kecil maupun besar.” – Aisyah RA
    13. “Berdoalah tanpa henti, karena doa senjata orang mukmin.” – Abu Bakrah RA
    14. “Jangan berhenti berbuat baik meski sedikit.” – Ibn Abbas RA
    15. “Keimanan sejati tampak dari akhlak yang mulia.” – Umar bin Khattab RA
    16. “Jauhi kemarahan, karena ia merusak hati.” – Abu Hurairah RA
    17. “Persaudaraan adalah harta paling berharga.” – Talhah bin Ubaidillah RA
    18. “Senyum kepada sesama adalah sedekah.” – Abdullah bin Umar RA
    19. “Hidup sederhana, hati tenang, jiwa bahagia.” – Salman Al-Farisi RA
    20. “Jangan menunda kebaikan, lakukan sekarang juga.” – Ali bin Abi Thalib RA
    21. “Ilmu tanpa amal ibarat pohon tak berbuah.” – Ibn Mas’ud RA
    22. “Bersikap lemah lembut menenangkan jiwa.” – Abu Darda RA
    23. “Berani menegakkan kebenaran, meski berbeda pendapat.” – Umar bin Khattab RA
    24. “Doa tulus membuka pintu rahmat Allah.” – Aisyah RA
    25. “Jangan iri, karena setiap orang punya rezeki berbeda.” – Utsman bin Affan RA
    26. “Hati yang bersih menenangkan diri dan orang lain.” – Abu Bakr RA
    27. “Sabar menghadapi musibah adalah bagian dari iman.” – Abdullah bin Mas’ud RA
    28. “Kebaikan kecil jika konsisten lebih mulia dari besar tapi jarang.” – Ali bin Abi Thalib RA
    29. “Ridha Allah adalah kebahagiaan sejati.” – Bilal bin Rabah RA
    30. “Ilmu bermanfaat bagi diri sendiri dan umat.” – Salman Al-Farisi RA
    31. “Bersyukur membuat hidup ringan dan tentram.” – Abu Darda RA
    32. “Jangan sombong dengan harta, karena ia sementara.” – Talhah bin Ubaidillah RA
    33. “Memaafkan orang lain menenangkan hati.” – Aisyah RA
    34. “Setiap langkah menuju kebaikan dicatat sebagai pahala.” – Abu Hurairah RA
    35. “Jangan takut berbuat benar meski sulit.” – Umar bin Khattab RA
    36. “Keikhlasan adalah kunci diterimanya amal.” – Ibn Abbas RA
    37. “Hargai teman yang menasihati dengan tulus.” – Abu Bakrah RA
    38. “Menjaga lisan dari ucapan buruk adalah tanda iman.” – Abdullah bin Umar RA
    39. “Sedekah menyejukkan hati dan memperkuat persaudaraan.” – Ali bin Abi Thalib RA
    40. “Kesederhanaan adalah jalan menuju ketenangan.” – Abu Darda RA
    41. “Ilmu tanpa berbagi akan sia-sia.” – Salman Al-Farisi RA
    42. “Jangan menunda taubat, lakukan segera.” – Ibn Mas’ud RA
    43. “Bersikap rendah hati mendekatkan diri kepada Allah.” – Umar bin Khattab RA
    44. “Hidup untuk memberi manfaat, bukan hanya menerima.” – Abu Bakr RA
    45. “Jangan menilai seseorang dari harta atau kedudukannya.” – Ali bin Abi Thalib RA
    46. “Senyum dan salam mempererat ukhuwah Islamiyah.” – Bilal bin Rabah RA
    47. “Bersyukur dalam segala keadaan adalah tanda orang beriman.” – Abu Hurairah RA
    48. “Belajar dan beramal adalah jalan hidup seorang Muslim.” – Ibn Abbas RA
    49. “Kesabaran menghadapi ujian membentuk karakter kuat.” – Talhah bin Ubaidillah RA
    50. “Jadilah cahaya bagi orang lain melalui kebaikanmu.” – Aisyah RA

    (dvs/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Pertemuan Haru Yusuf AS dengan Sang Adik, Bunyamin


    Jakarta

    Surat Yusuf ayat 69 berisi tentang kisah pertemuan Nabi Yusuf AS dengan para saudaranya. Sebagaimana diketahui, Yusuf AS terpisah dari saudara-saudaranya karena rasa iri hati mereka.

    Dikisahkan dalam Qashashul Anbiya susunan Ibnu Katsir terjemahan Umar Mujtahid, Nabi Yusuf AS dibuang ke dalam sumur oleh para saudaranya. Ia kemudian ditolong keluar dari sumur oleh musafir yang melintas.

    Sayangnya, Nabi Yusuf AS justru dijual oleh rombongan musafir tersebut seharga 20 dirham, ada juga yang menyebut 40 dirham. Yusuf AS kemudian dibeli Menteri Mesir dan semenjak itulah ia tak pernah lagi bertemu dengan saudara-saudaranya.


    Surat Yusuf Ayat 69: Arab, Latin dan Arti

    وَلَمَّا دَخَلُوا۟ عَلَىٰ يُوسُفَ ءَاوَىٰٓ إِلَيْهِ أَخَاهُ ۖ قَالَ إِنِّىٓ أَنَا۠ أَخُوكَ فَلَا تَبْتَئِسْ بِمَا كَانُوا۟ يَعْمَلُونَ

    Wa lammā dakhalụ ‘alā yụsufa āwā ilaihi akhāhu qāla innī ana akhụka fa lā tabta`is bimā kānụ ya’malụn

    Artinya: “Dan tatkala mereka masuk ke (tempat) Yusuf. Yusuf membawa saudaranya (Bunyamin) ke tempatnya, Yusuf berkata: “Sesungguhnya aku (ini) adalah saudaramu, maka janganlah kamu berdukacita terhadap apa yang telah mereka kerjakan.”

    Tafsir Surat Yusuf Ayat 69

    Menurut Tafsir Kementerian Agama (Kemenag RI), pada surat Yusuf ayat 69 diceritakan bahwa Nabi Yusuf AS bertemu dengan para saudara kandungnya, termasuk Bunyamin yang tak lain merupakan adiknya. Yusuf AS langsung mengenali beliau seraya berkata,

    “Jangan sedih dan gundah. Saya ini adalah saudara kandungmu, tapi hal ini jangan kamu ceritakan kepada saudara-saudara yang lain,” kata Yusuf AS.

    Melalui sebuah riwayat dijelaskan bahwa ketika saudara-saudara Nabi Yusuf AS masuk ke tempat sang nabi, mereka memperkenalkan Bunyamin sambil berkata,

    “Inilah saudara kami Bunyamin yang diminta datang bersama-sama dengan kami, sekarang kami memperkenalkannya kepada Baginda,”

    Yusuf AS menjawab, “Terima kasih banyak, dan untuk kebaikan ini niscaya kami akan menyediakan balasannya,”

    Kemudian, Nabi Yusuf AS menyediakan hidangan makanan untuk mereka yang jumlahnya sebelas rang. Setiap meja untuk dua orang, sehingga semuanya sudah duduk hadap-hadapan pada lima meja dalam lima buah kamar yang tertutup.

    Hanya Bunyamin lah yang tidak duduk berpasangan dengan saudaranya. Yusuf berkata kepada tamu-tamunya, “Kamu yang sepuluh orang masing-masing berdua masuklah ke dalam kamar. Karena yang seorang ini, yaitu Bunyamin tidak mempunyai kawan, maka baiklah saya yang menemaninya,”

    Setelah Yusuf AS dan Bunyamin berdua dalam sebuah kamar, maka beliau merangkul saudaranya dan berkata, “Apakah kamu suka menerima aku sebagai saudaramu, ganti dari saudaramu yang hilang itu?”

    Bunyamin menjawab, “Siapa yang akan menolak mendapatkan saudara seperti engkau yang mulia ini? Namun engkau tidak dilahirkan dari bapakku Yakub dan ibuku Rahil,”

    Karena tidak tahan dengan ucapan itu, Nabi Yusuf AS lalu menangis dan merangkul Bunyamin sambil berkata, “Akulah Yusuf, saudaramu yang diaktakan hilang itu,”

    Kemudian, Yusuf AS menasehati saudaranya agar tidak bersedih atas apa yang telah dikerjakan oleh saudara-saudaranya terhadap-nya. Nabi Yusuf AS memberitahu pula kepada Bunyamin mengenai rencana terhadap saudara-saudaranya untuk menguji mereka apakah akhlaknya masih seperti dahulu atau berubah.

    Hal ini dimaksudkan agar Bunyamin tidak terkejut bila ada hal-hal janggal yang akan dilakukan Nabi Yusuf AS. Wallahu a’lam.

    (aeb/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Doa Terhindar dari Orang Iri dan Dengki, Ini Bacaannya



    Jakarta

    Iri dan dengki merupakan penyakit hati yang harus dihindari oleh setiap muslim. Salah satu caranya dengan membaca doa terhindar dari orang iri dan dengki.

    Memiliki sifat iri dan dengki ini dapat merusak segala amal saleh yang kita lakukan, sebagaimana dijelaskan oleh RD Moch Firdy Adi S dalam buku Fiqih untuk Pemula yang bersandar pada sebuah hadits dalam sabda Rasulullah SAW,

    عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم إِيَّاكُمْ وَالْحَسَدَ فَإِنَّ الْحَسَدَ يَأْكُلُ الْحَسَنَاتِ كَمَا تَأْكُلُ النَّارُ الْحَطَبَ


    Artinya: Dari Abu Hurairah RA, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda: “Jauhilah sifat dengki karena dengki itu memakan (pahala) kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar.” (HR Abu Dawud)

    Lebih lanjut dikatakan, hadits tersebut menegaskan betapa bahaya dan merugikannya sifat dengki. Ketika seorang muslim memiliki sifat dengki terhadap orang lain maka bisa diibaratkan seperti amal perbuatan kita yang telah dilakukan habis termakan oleh api kecemburuan.

    RD Moch Firdy Adi S juga memaparkan lima ciri orang yang memiliki sifat iri dan dengki, di antaranya:

    1. Tidak pernah bersyukur atas apa yang telah diperoleh.

    2. Tidak pernah merasa puas.

    3. Tidak pernah suka ketika melihat orang lain melebihinya. Jika orang lain terlihat lebih unggul dibandingkan dirinya, maka dia berusaha untuk menjatuhkannya.

    4. Berperilaku sombong dan merasa dirinya lebih baik dari orang lain.

    5. Tidak mau mengintrospeksi diri.

    Bacaan Doa Terhindar dari Orang Iri dan Dengki

    Mengutip buku Indahnya Doa Rasulullah Bagiku karya Masriyah Amva berikut doa supaya selamat dari berbagai bahaya termasuk bahaya yang berasal dari orang-orang yang iri dan dengi atas nikmat yang kita peroleh,

    مَا شَاءَ الله ، لاَ قُوَّةَ إِلا بالله

    Arab latin: Mâ sya allah, lâ quwwata `illä billäh

    Artinya: “Atas kehendak-Nya semua ini terjadi. Tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan-Nya.” (HR al-Thabrani)

    Syaikh Bakar Abdul Hafizh Al-Khulaifat dalam Tafsir dan Makna Doa-Doa dalam Al Qur’an menafsirkan surah Al-Hasyr ayat 10 di mana ciri umat Islam adalah berkasih sayang dengan sesama mereka.

    Oleh karena itu, mereka saling mendoakan dan memohonkan ampunan bagi saudara-saudara yang lebih dulu beriman, dan memohon agar hati mereka disucikan dari rasa dengki dan iri hati kepada sesamanya.

    وَالَّذِيْنَ جَاۤءُوْ مِنْۢ بَعْدِهِمْ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِاِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالْاِيْمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلًّا لِّلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا رَبَّنَآ اِنَّكَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ ࣖ ١٠

    Artinya: “Orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Ansar) berdoa, “Ya Tuhan kami, ampunilah kami serta saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu daripada kami dan janganlah Engkau jadikan dalam hati kami kedengkian terhadap orang-orang yang beriman. Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.” (QS Al-Hasyr: 10)

    Merujuk dari Kitab Tanbihul Mughtarrin karya Imam Abdul Wahab Asy-Sya’rani sebagaimana dilansir NU Online, berikut ini doa yang bisa dibaca untuk orang yang menaruh perasaan iri dan dengki terhadap kita,

    اللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِحَاسِدِيْنَا فَإِنَّهُمْ لِمَا عِنْدَهُمْ مِنَ الضَّيْقِ لَا يَحْتَمِلُوْنَ رُؤْيَةَ النِّعَمِ الَّتِي عَلَيْنَا دُوْنَهُمْ، وَلَوِ اتَّسَعَتْ نُفُوْسُهُمْ لَمْ يَقَعُوْا فِي حَسَدِنَ

    Arab latin: Allâḥummaghfir li hâsidînâ, fa innahum li mâ ‘indahum minadl dlaiqi lâ yaḫtamilûna ru’yatan ni’amil latî ‘alainâ dûnahum. Wa law ittasa’at nufûsuhum lam yaq’û fî hasadinâ.

    Artinya: “Ya Allah, ampunilah para pendengki kami karena mereka dalam kesempitan hatinya tidak kuat melihat nikmat-nikmat yang dianugerahkan pada kami, bukan pada mereka. Andai berhati lapang, mereka tentu takkan iri dengki kepada kami.”

    (kri/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Pembelahan Dada Nabi Muhammad SAW oleh Malaikat Jibril


    Jakarta

    Nabi Muhammad SAW adalah sosok yang sangat mulia dan menjadi teladan dalam berbagai aspek kehidupan umat manusia. Hati beliau sangat suci, bebas dari segala sifat buruk seperti kesombongan, iri, dengki, dan syirik.

    Sejak kecil, Allah SWT telah membersihkan hati Nabi Muhammad SAW dengan cara yang luar biasa. Salah satunya melalui kisah pembelahan dada Nabi Muhammad SAW oleh Malaikat Jibril berikut ini.

    Kisah Pembelahan Dada Nabi Muhammad SAW

    Diceritakan dalam buku Kisah Manusia Paling Mulia yang disusun oleh Neti S, pada masa kecilnya, Nabi Muhammad SAW menghabiskan waktunya di pedalaman Bani Sa’ad ikut ibu sepersusuannya. Beliau tumbuh menjadi anak yang sehat, berhati baik, dan fasih dalam berbahasa.


    Nabi Muhammad SAW hidup dengan rukun dan penuh kasih sayang bersama saudara sepersusuannya. Kesehariannya, mereka bermain dan menggembala kambing bersama di padang penggembalaan Bani Sa’ad.

    Pada suatu ketika, saat Nabi Muhammad SAW menggembala kambing bersama saudara sepersusuannya, datanglah Malaikat Jibril menghampiri Nabi Muhammad SAW dalam wujud manusia. Malaikat Jibril lantas memegang tangan mungil Nabi Muhammad SAW, hingga membuat beliau terkejut dan pingsan.

    Malaikat Jibril kemudian meletakkan Nabi Muhammad SAW yang tak sadarkan diri di atas batu. Di saat ini pula, Jibril mulai membelah dada Nabi SAW. Jibril mengeluarkan segumpal darah hitam dari hati beliau yang telah dibelah, kemudian membuangnya.

    Setelah itu, hati Nabi Muhammad SAW dibersihkan dengan air zamzam yang disimpan dalam wadah emas. Setelah hati Nabi Muhammad SAW bersih, Jibril meletakkannya kembali ke tempat semula.

    Melihat kejadian ini, para saudara persusuan Nabi Muhammad SAW sangat ketakutan. Mereka kemudian berlari pulang dan menceritakan kejadian tersebut kepada ibunya, Halimah.

    “Ibu…ibu…Muhammad….dibunuh! Muhammad dibunuh!” kata mereka dengan menjerit-jerit.

    “Ada apa dengan saudaramu?” tanya Halimah cemas.

    “Muhammad…. ada orang yang ingin melukainya,” jawab mereka dengan terbata-bata.

    Halimah yang terkejut dan cemas setelah mendengarnya, segera mendatangi padang gembalaan tempat Nabi Muhammad SAW berada.

    Sesampainya di sana, Halimah melihat Nabi Muhammad SAW sedang menggembalakan kambing dalam kondisi yang baik-baik saja dan tidak ada luka atau goresan yang mengkhawatirkan pada diri anak susuannya itu. Bahkan, wajah Nabi Muhammad SAW terlihat lebih cerah dari biasanya.

    “Apa yang telah terjadi padamu, wahai anakku?” tanya Halimah.

    “Dua orang laki-laki berjubah putih telah mengambil sesuatu dari tubuhku,” Nabi Muhammad SAW menjawab dengan polosnya.

    “Apa itu?” tanya Halimah dengan wajah khawatir. “Aku tidak tahu,” jawab Nabi Muhammad SAW.

    “Kamu tidak apa-apa?” tanya Halimah sambil memeriksa tubuh Nabi Muhammad SAW untuk memastikan kembali keadaan anak susuannya itu. Namun, ia tetap tidak menemukan tanda-tanda yang mengkhawatirkan pada diri Nabi Muhammad SAW.

    Halimah pun segera membawa Nabi Muhammad SAW dan anak-anaknya pulang dengan rasa waswas akan keselamatan anak susuannya tersebut. Peristiwa pembelahan dada Nabi Muhammad SAW di padang gembalaan itu benar-benar telah mengganggu pikiran Halimah.

    Dalam beberapa riwayat, yang dikutip dari buku The 10 Habits of Rasulullah karya Rizem Aizid, air yang digunakan untuk membersihkan hati Rasulullah SAW tersebut bukan air zamzam, melainkan air dari surga. Peristiwa pembelahan dada ini pun terjadi dua kali, yaitu ketika Nabi Muhammad SAW berusia empat tahun dan sepuluh tahun.

    Dalam buku Meneladani Rasulullah melalui Sejarah karya Sri Januarti Rahayu disebutkan bahwa, tidak lama setelah kejadian pembelahan dada Nabi Muhammad SAW oleh Malaikat Jibril, Halimah mengembalikan beliau kepada sang ibu, Aminah.

    Sejak saat itu, Nabi Muhammad SAW merasakan kebahagiaan karena bisa hidup bersama ibunda. Namun, kebahagiaan tersebut tidak berlangsung lama, karena sang ibu, Aminah, meninggal dunia saat Nabi Muhammad SAW berusia enam tahun.

    Wallahu a’lam.

    (kri/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Cerita Qabil dan Habil, Anak Nabi Adam AS yang Membunuh Saudara Kembarnya



    Jakarta

    Qabil dan Habil merupakan anak kembar laki-laki dari Nabi Adam AS. Siti Hawa melahirkan dua pasang anak kembar laki-laki dan perempuan, yaitu Qabil, Habil, Iqlima dan Labuda.

    Menukil dari Qashashul Anbiya oleh Ibnu Katsir yang diterjemahkan Umar Mujtahid dkk, Qabil adalah saudara kembar dari Iqlima. Sementara itu, Habil merupakan saudara kembar dari Labuda.

    Ketika mereka sudah baligh, Allah SWT memerintahkan kepada Nabi Adam AS agar menikahkan anak-anaknya yang tidak sekandung. Jadi, Habil dinikahkan dengan Iqlima sementara Qabil dengan Labuda.


    Namun, Qabil merasa dengki terhadap Habil. Sebab, paras Labuda tidak secantik Iqlima yang mana merupakan saudara kembar Qabil.

    Setan dengan segala tipu daya dan bisikannya menghasut Qabil untuk membunuh Habil. Karena tidak mau mengalah dan hatinya dipenuhi rasa iri, akhirnya Adam AS meminta kedua putranya untuk berkurban agar mendapat pilihan terbaik. Langkah ini dilakukan Nabi Adam AS agar tidak melanggar anjuran dari Allah SWT.

    Qabil mempersembahkan kurban berupa hasil pertanian yang buruk, sementara Habil memberikan kurban berupa seekor kambing gemuk dengan kualitas baik. Atas kuasa Allah SWT, muncul api menyambar kurban Habil yang menandakan kurbannya diterima sang Khalik. Sebaliknya, kurban Qabil ditolak karena api membiarkan miliknya begitu saja.

    Melihat hal itu, Qabil menjadi marah dan berkata ingin membunuh Habil jika benar-benar menikahi Iqlima. Jawaban Habil atas gertakan Habil diceritakan dalam surah Al Maidah ayat 28,

    لَئِنۢ بَسَطتَ إِلَىَّ يَدَكَ لِتَقْتُلَنِى مَآ أَنَا۠ بِبَاسِطٍ يَدِىَ إِلَيْكَ لِأَقْتُلَكَ ۖ إِنِّىٓ أَخَافُ ٱللَّهَ رَبَّ ٱلْعَٰلَمِينَ

    Artinya: “Sungguh kalau kamu menggerakkan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, aku sekali-kali tidak akan menggerakkan tanganku kepadamu untuk membunuhmu. Sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan seru sekalian alam.”

    Qabil yang gelap mata akhirnya memutuskan untuk membunuh Habil. Ulama berpendapat bahwa Qabil memanggul jenazah Habil selama satu tahun setelah membunuh saudaranya.

    Ulama lain ada yang mengatakan selama 100 tahun sampai akhirnya Allah SWT mengutus dua ekor burung gagak yang bertarung hingga salah satunya mati. Burung gagak yang masih hidup menggali tanah dan memasukkan bangkai burung gagak yang telah mati ke dalamnya, ketika itu Qabil menyaksikan pergulatan kedua burung gagak tersebut dan meniru apa yang dilakukan mereka.

    Ada lagi yang berpendapat bahwa Qabil membunuh Habil dengan batu yang dilempar hingga mengenai kepalanya ketika ia terlelap. Pendapat lain menyebutkan Qabil mencekek leher Habil sekuat-kuatnya dan menggigitnya seperti layaknya binatang buas hingga Habil meninggal dunia.

    Sewaktu Qabil menyaksikan Habil yang terkapar tidak berdaya, ia bingung dan menyesali perbuatannya. Qabil teringat bahwa Habil merupakan saudara yang baik.

    Allah SWT tidak langsung mengazab Qabil di dunia, namun ia menanggung dosa besar. Rasulullah SAW bersabda dalam haditsnya,

    “Tidaklah seorang jiwa dibunuh secara zalim, kecuali anak Adam yang pertama (Qabil) ikut menanggung darahnya, karena ia adalah orang yang pertama mencontohkan pembunuhan.” (HR Bukhari)

    Wallahu a’lam

    (aeb/lus)



    Sumber : www.detik.com