Tag: isra miraj

  • 7 Kultum tentang Isra Miraj Singkat Beserta Dalilnya


    Jakarta

    Kultum tentang Isra Miraj bisa dijadikan referensi jelang peringatan peristiwa bersejarah dalam Islam tersebut. Kultum bisa disampaikan ketika khutbah Jumat atau acara-acara lainnya jelang Isra Miraj.

    Menukil dari buku 52 Kultum Favorit untuk Muslimah oleh Zakiah Nur Jannah dan Noor Hafid, kultum merupakan singkatan dari kuliah tujuh menit. Biasanya, kultum banyak dilakukan dalam kegiatan dakwah atau ceramah yang relatif singkat.

    Berikut beberapa kultum tentang Isra Miraj sebagaimana merujuk pada sumber yang sama, laman Kementerian Agama, dan buku Kitab Kultum Kuliah Tujuh Menit karya A R Shohibul Ulum.


    Kumpulan Kultum tentang Isra Miraj

    1. Kultum tentang Isra Miraj Versi Pertama

    Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

    Kita sebagai umat Islam memiliki kekayaan spiritual yang luar biasa dalam peristiwa Isra Miraj. Ketika Rasulullah saw melakukan perjalanan ke langit ketujuh, kita diajarkan untuk menyadari keagungan dan kebesaran Allah SWT. Isra Miraj mengajarkan kepada kita betapa besar dan luar biasanya kekuasaan-Nya. Dari peristiwa ini, kita dapat belajar untuk selalu merenungkan kebesaran Allah dalam segala hal yang kita lakukan. Mari kita tingkatkan keimanan dan ketakwaan kita, serta selalu mengingat dan mengagungkan Allah swt dalam setiap langkah hidup kita.

    Semoga kita semua bisa mengambil hikmah dan pelajaran berharga dari peristiwa Isra Miraj ini untuk meningkatkan keimanan dan kualitas hidup kita. Amin. Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

    2. Kultum tentang Isra Miraj Versi Kedua

    Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,

    Alhamdulillah, pada hari ini kita bisa bersama sama hadir dalam majlis yang mulia ini untuk memperingati suatu peristiwa yang sangat bersejarah, yaitu Isra dan Mi’raj Nabi Besar Muhammad SAW. Tema yang akan saya sampaikan dalam acara peringatan Isra dan Mi’raj ini adalah: Isra dan Mi’raj dalam perspektif keimanan dan ilmu pengetahuan.

    Kisah Isra dan Mi’raj merupakan kisah yang sangat inspiratif sepanjang masa, sejak zaman Rasulullah Muhammad SAW sampai saat ini. Selain inspiratif, kisah Isra dan Mi’raj juga merupakan “tantangan” bagi para Ahli Tafsir maupun Ilmuwan, utamanya dalam usaha untuk mengerti dan menyingkap fakta fakta ilmiah dibalik fenomena Isra dan Mi’raj itu.

    Peristiwa Isra terekam di dalam Kitab Suci AI-Qur’an, yaitu pada surat Al-Isra ayat 1:

    سُبْحَٰنَ ٱلَّذِىٓ أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِۦ لَيْلًا مِّنَ ٱلْمَسْجِدِ ٱلْحَرَامِ إِلَى ٱلْمَسْجِدِ ٱلْأَقْصَا ٱلَّذِى بَٰرَكْنَا حَوْلَهُۥ لِنُرِيَهُۥ مِنْ ءَايَٰتِنَآ ۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْبَصِيرُ

    Artinya: “Maha Suci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.”

    Sedangkan peristiwa Miraj terekam dalam surah An-Najm ayat 13-18:

    وَلَقَدْ رَآهُ نزلَةً أُخْرَى (13) عِنْدَ سِدْرَةِ الْمُنْتَهَى (14) عِنْدَهَا جَنَّةُ الْمَأْوَى (15) إِذْ يَغْشَى السِّدْرَةَ مَا يَغْشَى (16) مَا زَاغَ الْبَصَرُ وَمَا طَغَى (17) لَقَدْ رَأَى مِنْ آيَاتِ رَبِّهِ الْكُبْرَى (18

    Artinya: “Dan Sesungguhnya Muhammad telah melihat fibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratil Muntaha. Di dekatnya ada syurga tempat tinggal, (Muhammad melihat fibril) ketika Sidratil Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya. penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya. Sesungguhnya dia telah melihat sebahagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar.”

    Hadirin yang berbahagia,

    Peristiwa Isra dan Mi’raj yang berlangsung pada diri junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW 15 abad yang lalu, telah memperkuat keimanan Rasulullah SAW maupun kita semua umat Islam, akan ke-Maha-Kuasaan Allah SWT.

    Apapun yang dikehendaki-Nya, bukanlah sesuatu yang mustahil untuk terjadi; karena memang ilmu Allah sangat luas dibanding kekuatan nalar manusia untuk memahaminya. Bandingan ilmu Allah dengan ilmu yang telah dikuasai oleh peradaban manusia sampai saat ini, hanya seperti perbandingan samudera dengan setetes air di ujung jari.

    Namun demikian, peristiwa Isra dan Mi’raj memberikan tantangan sekaligus inspirasi kepada para ilmuwan, untuk melakukan “penalaran/pemahaman” tentang peristiwa itu. Khazanah ilmu pengetahuan telah terakumulasi begitu banyak, tidak ada salahnya para ilmuwan menambah dan memperkuat keimanannya dengan mencoba menalar secara saintifik semua fenomena-fenomena alam ciptaan Allah SWT ini, termasuk fenomena-fenomena yang ada di balik Peristiwa Isra-Miraj ini.

    Akhir kata mohon maaf jika ada kesalahan dan tutur kata yang salah dan tidak menjadi perkenan hadirin.

    Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

    3. Kultum tentang Isra Miraj Versi Ketiga

    Alhamdulillah, pada kesempatan yang penuh berkah ini, kita akan mengulas tentang peristiwa Isra Miraj, suatu mukjizat besar yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya, Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam.

    Peristiwa Isra Miraj terjadi pada malam yang penuh berkah, di mana Rasulullah melakukan perjalanan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa dan kemudian naik ke langit ketujuh. Ini adalah hadiah dari Allah untuk menghibur hati Rasul-Nya yang sedang dilanda kesedihan setelah kehilangan Khadijah dan Abu Thalib.

    Isra Miraj terbagi menjadi dua peristiwa utama, yaitu Isra (perjalanan malam) dan Miraj (kenaikan). Isra melibatkan perjalanan fisik Rasulullah dari Makkah ke Yerusalem, sementara Miraj adalah kenaikan beliau melewati langit-langit menuju Sidratul Muntaha. Peristiwa ini menjadi dasar dari kewajiban sholat lima waktu bagi umat Islam.

    Kita juga dapat merasakan hikmah dari Isra Miraj ini. Pertama, kemukjizatan yang terjadi menunjukkan kuasa Allah atas waktu, mengingat Rasulullah melakukan perjalanan hingga ke hari kiamat. Kedua, pentingnya peran masjid sebagai tempat ibadah dan aktivitas spiritual. Isra Miraj menegaskan bahwa masjid bukan hanya tempat, tetapi ruh dan pusat aktivitas umat Islam. Ketiga, peristiwa ini memberi pengertian bahwa kehidupan umat Islam yang beriman seringkali dinistakan oleh mereka yang tidak percaya.

    Selain itu, kita bisa mengambil hikmah bahwa dalam menghadapi kesulitan hidup, melakukan “safar” atau jalan-jalan seperti yang dilakukan Nabi Muhammad dapat membantu menemukan ide-ide luar biasa. Safar yang dimaksud di sini adalah perjalanan kepada hal-hal yang baik.

    Hikmah terakhir yang patut diambil adalah pentingnya iman sebagai modal utama dalam menjalani kehidupan. Sebagaimana Rasulullah yang mempercayai mukjizat ini, kita pun perlu memperkuat iman sebagai dasar utama hidup dalam naungan Islam.

    Semoga kita semua dapat mengambil pelajaran berharga dari kisah Isra Miraj ini dan mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Terima kasih. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

    4. Kultum tentang Isra Miraj Versi Keempat

    Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,

    Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan nikmat iman dan Islam kepada kita semua. Marilah kita mengingat kembali salah satu peristiwa luar biasa dalam sejarah agama kita, yakni Isra Miraj, perjalanan malam Nabi Muhammad SAW ke Sidratul Muntaha. Dalam perjalanan ini, Nabi kita mendapat banyak pengajaran dan tuntunan yang menjadi pedoman bagi umat manusia. Isra Miraj mengajarkan kepada kita pentingnya keimanan, ketabahan dalam menghadapi cobaan, serta pentingnya menjaga hubungan baik dengan Allah dan sesama. Mari kita ambil pelajaran dari peristiwa ini untuk memperkuat iman dan meningkatkan kualitas hidup kita sehari-hari.

    Terima kasih. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

    5. Kultum tentang Isra Miraj Versi Kelima

    Seandainya seorang muslim memahami secara hakiki peristiwa diterimanya wahyu salat, pastilah tak ada seorang pun dari umat Islam yang meremehkan dan melalaikan bahkan meninggalkan salat. Allah mengistimewakan dan meninggikan kedudukan syariat ini, karena itulah, Nabi SAW menerimanya dengan cara yang berbeda. Langsung berjumpa dengan-Nya tanpa perantara.

    Wahyu ini tidak diterima di bumi sebagaimana syariat lainnya. Syariat ini pula satu-satunya syariat yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta keringanan dalam penunaiannya. Awalnya diwajibkan 50 waktu dalam sehari.

    Mengapa Nabi SAW menerimanya dengan cara yang berbeda. Langsung berjumpa dengan Allah SWT tanpa perantara malaikat Jibril?

    Bagi umat Islam yang mentadabburi perjalanan Isra Miraj, mereka sadar semua kejadiannya dan tahapan peristiwanya adalah sebuah pengantar untuk berjumpa suatu yang lebih dahsyat lagi, yaitu perjumpaan Rasulullah SAW dengan Rabbnya. Terjadilah dialog yang begitu agung hingga beliau menerima perintah kewajiban salat untuk diri beliau dan umatnya. Inilah puncak perjalanan Isra Mi’raj.

    Allah Ta’ala, dengan kasih sayang-Nya menganugerahkan kepada hamba-hambaNya yang beriman sesuatu yang dapat menghubungkan mereka dengan Rabb mereka. Rasulullah SAW Mi’raj dengan ruh dan fisik beliau.

    Dengan keadaan itulah beliau berdialog dengan Allah Ta’ala. Kemudian Allah SWT menyediakan bagi umat Islam sesuatu yang mampu membuat mereka bermunajat, dekat, tersambung, dan berdialog dengan Rabb mereka, yaitu ibadah salat. Inilah makna bahasa dari kata salat. Salat adalah alat penyambung yang menghubungkan seorang hamba dengan Rabbnya.

    Semoga setiap orang muslim merenungkan dan memahami secara hakiki peristiwa diterimanya wahyu salat, sehingga tidak ada seorang pun dari mereka yang meremehkan dan melalaikan salat. Aamiin.

    6. Kultum tentang Isra Miraj Versi Keenam

    Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

    Pertama-tama, mari kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah SWT, Tuhan yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.

    Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, utusan Allah yang membawa rahmat bagi seluruh alam.

    Hadirian yang berbahagia,

    Hari ini, kita akan membahas sebuah peristiwa luar biasa, sebuah peristiwa yang penuh hikmah dan keajaiban, yaitu Isra Miraj.

    Peristiwa ini terjadi pada suatu malam, di mana Rasulullah Muhammad SAW diangkat oleh Allah dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, dan dari sana beliau melanjutkan perjalanan ke langit.

    Tema Isra Miraj adalah tema yang begitu memukau dan penuh dengan pelajaran berharga bagi umat Islam. Allah SWT sendiri mencatat peristiwa ini dalam Al-Quran, di Surat Al-Isra ayat 1:

    سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ

    Artinya: “Mahasuci (Allah) yang telah memperjalankan hamba-Nya (Nabi Muhammad) pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”

    Bapak ibu yang saya hormati,

    Ayat ini menyiratkan keagungan dan kebesaran Allah, yang memilih hamba-Nya, Nabi Muhammad SAW, untuk mengalami perjalanan spiritual yang tiada tandingnya.

    Dalam Isra Miraj, Rasulullah tidak hanya diberikan kesempatan untuk menghadap Allah, tetapi juga diperlihatkan berbagai mukjizat dan tanda-tanda kebesaran-Nya.

    Perjalanan Isra Miraj mengajarkan kita tentang kekuasaan Allah yang tak terhingga, kebesaran-Nya yang meliputi segala sesuatu. Ini menjadi pengingat bahwa tidak ada yang mustahil bagi Allah, dan Dia Maha Mengetahui serta Maha Melihat segala sesuatu.

    Sebagai umat Islam, kita dapat mengambil banyak pelajaran dari Isra Miraj. Antara lain, menguatkan iman kita kepada Allah, mengingatkan kita akan pentingnya menjalankan perintah-Nya, serta merenungkan makna hidup yang sejati.

    Semoga ceramah singkat ini dapat memberikan pemahaman dan inspirasi bagi kita semua. Mari kita terus mendalami ajaran Islam, menjalankan perintah-Nya, dan mengharapkan ampunan serta rahmat-Nya.

    Wabillahi taufiq wal hidayah, wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

    7. Kultum tentang Isra Miraj Versi Ketujuh

    Puji syukur kita panjatkan ke hadirat Allah SWT yang telah memberikan anugerah terindah kepada Rasulullah SAW melalui perintah sholat lima waktu dalam perjalanan Isra Miraj. Momentum ini mengajarkan kita untuk merefleksi kembali sejarah, merenungi pesan, dan menjadikan peristiwa tersebut sebagai peringatan bagi umat Islam.

    Dalam perjalanan Isra Miraj, Rasulullah SAW menyaksikan berbagai gambaran kehidupan umatnya di masa depan. Wabah-wabah seperti kurangnya sedekah, meninggalkan kewajiban sholat, hingga kecenderungan mengonsumsi hasil riba menjadi sorotan dalam visualisasi yang diperlihatkan Allah SWT.

    Ini adalah peringatan bagi kita untuk menjaga kewajiban sholat, mengeluarkan sedekah, dan menjauhi segala bentuk perbuatan yang dilarang. Refleksi ini diharapkan dapat membantu umat Islam menghadapi tantangan zaman yang semakin kompleks.

    Mari jadikan peristiwa Isra Miraj sebagai landasan untuk meningkatkan ketaqwaan, mendekatkan diri kepada Allah SWT, dan menyadari pentingnya menjaga nilai-nilai agama. Semoga kita dapat mengambil hikmah dari peristiwa ini dan menjadi umat yang taat serta bermanfaat bagi sesama.

    (aeb/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • 4 Teks Ceramah Isra Mi’raj untuk Memahami Peristiwa Agung Rasulullah


    Jakarta

    Setiap perayaan Isra Mi’raj, ceramah keagamaan selalu menjadi momen yang ditunggu-tunggu. Ceramah ini tidak hanya mengingatkan kita tentang perjalanan Nabi Muhammad SAW, tetapi juga menggali hikmah-hikmah penting yang terkandung dalam perjalanan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa hingga Sidratul Muntaha.

    Agar pesan yang disampaikan dapat diterima dengan baik, berikut beberapa contoh teks ceramah Isra Mi’raj yang dapat membantu menyampaikan makna peristiwa agung tersebut, sehingga dapat menginspirasi jemaah dengan lebih mendalam.

    Contoh Teks Ceramah Isra Mi’raj

    1. Teks Ceramah Isra Mi’raj tentang Perjalanan Nabi Muhammad SAW

    Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.


    Hadirin rahimakumullah,

    Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga kita dapat hadir dalam keadaan sehat wal’afiat. Sholawat dan salam senantiasa tercurahkan kepada Rasulullah SAW, yang telah membawa kita dari zaman jahiliyah menuju zaman yang Islamiyyah.

    Hadirin rahimakumullah,

    Kata “Isra” dalam bahasa Arab berarti berjalan malam. Menurut istilah, Isra adalah perjalanan Nabi Muhammad pada suatu malam dari Masjidil Haram di Makkah menuju Masjid Al-Aqsa atau Baitul Maqdis di Palestina. Mi’raj berarti naik ke atas. Menurut istilah, Mi’raj adalah naiknya Nabi Muhammad SAW dari Masjid Al-Aqsa menuju Arasy untuk menghadap Allah SWT.

    Allah SWT menceritakan kisah ini dalam surat Al Isra, ayat 1:

    سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ

    Artinya: “Maha Suci (Allah) yang telah memperjalankan hamba-Nya (Nabi Muhammad) pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya) agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”

    Hadirin rahimakumullah,

    Setelah mengalami kedukaan karena dua orang yang amat dicintai dan dihormati telah meninggal dunia, Allah SWT ingin menghibur dan memuliakan Nabi Muhammad SAW. Allah telah mengutus Malaikat Jibril untuk menjemput Nabi Muhammad SAW untuk menghadap-Nya.

    Peristiwa ini terjadi setelah sebelas tahun Muhammad menjadi Nabi. Setelah berjumpa dengan Nabi Muhammad SAW, Malaikat Jibril membaringkan Nabi Muhammad SAW, kemudian membelah dadanya, membersihkan sifat-sifat buruk, dan menggantinya dengan sifat baik ke dalam dadanya. Nabi Muhammad SAW dan Malaikat Jibril menaiki Buraq, yaitu kendaraan yang sangat cepat. Perjalanan mereka pertama menuju Masjidil Aqsa di Palestina.

    Selama di perjalanan, mereka singgah di lima tempat, yaitu:

    Kota Yatsrib, sekarang disebut Madinah Al-Munawwaroh.
    Kota Madyan, yaitu tempat persembunyian Nabi Musa dari Fir’aun.
    Thur Sina, yaitu tempat Nabi Musa menerima Kitab Taurat.
    Bethlehem, yaitu tempat kelahiran Nabi Isa AS.
    Masjidil Aqsa di Palestina, yaitu tempat yang dituju dalam perjalanan malam tersebut. Palestina merupakan tempat suci ketiga setelah Makkah dan Madinah.

    Pada tiap persinggahan, Nabi Muhammad SAW selalu melakukan sholat dua rakaat. Sesampainya di Masjidil Aqsa, Nabi disuguhi dua buah gelas yang masing-masing berisi susu dan arak. Nabi Muhammad SAW mengambil gelas yang berisi susu, kemudian Malaikat Jibril mengucapkan selamat padanya karena beliau telah memilih yang baik bagi dirinya dan umatnya.

    Setelah menjadi imam, Rasulullah diangkat ke Sidratul Muntaha untuk menghadap Allah SWT bersama Malaikat Jibril. Dalam perjalanan menuju Sidratul Muntaha, Nabi Muhammad dan Malaikat Jibril singgah di tujuh lapis langit, yaitu:

    Langit pertama bertemu dengan Nabi Adam AS.
    Langit kedua bertemu Nabi Yahya dan Nabi Ishaq AS.
    Langit ketiga bertemu Nabi Yusuf AS.
    Langit keempat bertemu dengan Nabi Idris AS.
    Langit kelima bertemu dengan Nabi Harun AS.
    Langit keenam bertemu dengan Nabi Musa AS.
    Langit ketujuh bertemu dengan Nabi Ibrahim AS.

    Hadirin rahimakumullah,

    Setelah melewati tujuh lapis langit, Nabi Muhammad diajak ke Baitul Makmur, yaitu tempat Malaikat melaksanakan Thawaf. Kemudian naik ke Sidratul Muntaha, dan dalam perjalanan ini Malaikat Jibril tidak ikut serta.

    Kemudian Rasulullah bertemu dengan Allah SWT, dalam pertemuan tersebut Allah SWT memerintahkan kepada Nabi Muhammad untuk melaksanakan sholat sebanyak lima puluh waktu.

    Ketika hendak turun, Nabi Muhammad bertemu dengan Nabi Musa AS, dan beliau bercerita tentang perintah sholat yang diterimanya dari Allah SWT. Mendengar cerita tersebut, Nabi Musa menyuruh Nabi Muhammad SAW untuk menghadap Allah kembali guna meminta keringanan. Nabi Muhammad berulang kali menghadap Allah untuk memberikan keringanan perintah sholat, dan akhirnya Allah memberikan keringanan kepada Nabi Muhammad, menjadi 5 waktu setiap harinya. Allah memberikan pahala yang sama bagi umat Nabi Muhammad seperti melaksanakan sholat sebanyak 50 waktu. Setelah itu, Nabi dikembalikan ke Makkah.

    Pagi harinya, Nabi berniat menceritakan hal tersebut kepada kaum Quraisy. Nabi Muhammad bertemu dengan Abu Jahal dan meminta Abu Jahal mengumpulkan kaum Quraisy. Kesempatan itu tidak disia-siakan untuk meyakinkan kaum kafir Quraisy tentang kebohongan Nabi Muhammad SAW. Abu Jahal menyeru kaum Quraisy untuk berkumpul.

    Setelah kaum Quraisy berkumpul, Nabi Muhammad menceritakan segala kejadian yang dialaminya dalam Isra Mi’raj. Ceramah Nabi Muhammad tersebut disambut dengan ejekan dan cemoohan. Abu Jahal menghasut kaum Quraisy untuk tidak mengikuti ajaran Nabi Muhammad yang penuh dengan kebohongan. Kemudian menemui Abu Bakar dan menceritakan apa yang mereka dengar dari Nabi Muhammad.

    Mereka bertanya kepada Abu Bakar, “Apakah Abu Bakar mempercayainya?” Dengan tegas, Abu Bakar menyatakan “bahwa dia meyakini apa yang telah diceritakan oleh Nabi Muhammad SAW.” Kemudian Nabi Muhammad SAW memberikan gelar Assidiq kepada Abu Bakar hingga menjadi Abu Bakar Assidiq.

    Hadirin rahimakumullah,

    Nabi Muhammad SAW dalam menerima wahyu mengalami peristiwa yang tidak pernah dirahasiakannya. Peristiwa Isra dan Mi’raj Nabi Muhammad dalam waktu yang singkat telah tersiar ke seluruh kota Makkah. Ejekan dan cemoohan sering diterima Nabi Muhammad mengenai peristiwa yang dialaminya.

    Sebagai contoh, waktu Nabi Muhammad duduk di Masjidil Haram dan bertemu dengan Abu Jahal, Abu Jahal duduk di samping Nabi Muhammad SAW dan berkata dengan nada mengejek, “Apa kabar pagi ini, Muhammad? Adakah sesuatu yang engkau anggap penting yang engkau terima dari Tuhanmu?” Nabi Muhammad menjawab, “Ya, tadi malam aku telah diisra’kan.” Abu Jahal bertanya, “Kemana?” Nabi menjawab, “Ke Baitul Maqdis.” Kata Abu Jahal, “Kemudian pagi ini engkau telah ada di sini?” Nabi Muhammad menjawab, “Ya.”

    Mendengar jawaban itu, Abu Jahal tertawa dan mengejek Nabi dan berkata, “Beranikah engkau menceritakan perkataanmu itu kepada penduduk Makkah? Saya akan mengumpulkan mereka di sini, lalu sampaikan perkataanmu kepada mereka!” Nabi menjawab, “Baiklah, saya akan menerangkan peristiwa ini kepada mereka.”

    Setelah penduduk Makkah berkumpul di Masjidil Haram, Nabi menceritakan peristiwa Isra Mi’raj dari awal sampai akhir, tidak ada sedikitpun yang terlewat. Kejadian ini menjadikan mereka yang sudah masuk Islam berbalik menjadi murtad. Tetapi bagi umat Islam yang kuat imannya, tidak tergoyahkan dan tidak terpengaruh oleh ejekan itu karena mereka telah yakin akan kebenaran Nabi Muhammad.

    Lain halnya dengan Abu Bakar, ia mempunyai sikap yang berbeda dengan yang lain. Setelah didatangi oleh orang-orang yang merasa sangsi dengan peristiwa Isra dan Mi’raj, ia mendatangi Nabi Muhammad SAW dan meminta penjelasannya. Peristiwa yang diceritakan oleh Nabi Muhammad SAW langsung diterimanya, oleh sebab itu Nabi Muhammad memanggilnya dengan sebutan As Siddiq.

    Hadirin rahimakumullah,

    Adapun tamsil dalam Isra, yaitu:

    Nabi Muhammad SAW melihat orang memotong padi (panen) terus menerus, beliau bertanya kepada Jibril, “Siapakah mereka itu?” Jibril menjawab, “Mereka itu ibarat mu yang gemar beramal jariah, yang kemudian mereka memetik pahalanya dari Allah SWT.”

    Melihat orang yang terus menerus memukul kepalanya, Nabi Muhammad bertanya, “Siapakah mereka itu, Ya Jibril?” Dijawabnya, “Mereka itu ibarat mu yang enggan bersholawat, yang kelak akan menyesal dengan memukuli kepalanya sendiri terus menerus sekalipun terasa sakit olehnya.”

    Melihat sebuah kuburan yang sangat harum baunya, Nabi bertanya, “Apakah itu, Ya Jibril?” Dijawabnya, “Itu kuburan Siti Mashitah dan anaknya. Ia mati disiksa dengan digodok oleh Raja Fir’aun karena mempertahankan imannya kepada Allah Swt sewaktu dipaksa untuk menyembah berhala.”

    Melihat orang yang di hadapannya ada dua hidangan, sebelah kanannya makanan lezat dan sebelah kirinya makanan busuk, orang itu dengan lahapnya memakan makanan busuk. Nabi bertanya, “Ya Jibril, siapakah mereka itu?” Jibril menjawab, “Ya Rasulullah, itu ibarat umatmu yang suka membiarkan nafsunya memilih pekerjaan yang buruk dan dosa daripada beramal yang baik dan berpahala.”

    Nabi Muhammad SAW melihat orang-orang yang gagah perkasa. Orang itu menengok dan melihat ke kirinya merasa sedih dan menangis tersedu-sedu, tetapi bila menengok dan melihat ke kanannya, dia berseri-seri gembira dan tersenyum. Nabi bertanya, “Siapakah orang itu, Ya Jibril?” Jawab Jibril, “Dia itu bapakmu yang pertama, yaitu Nabi Adam AS. Bila beliau melihat ke kiri, sedih karena melihat anak cucunya berbuat jahat dan dosa. Sebaliknya, bila mereka menengok ke kanan, merasa gembira karena melihat anak cucunya di dunia yang berbuat baik dan beramal shaleh.”

    Hadirin rahimakumullah,

    Hikmah Isra Mi’raj, yaitu:

    Menghilangkan perasaan sedih dalam diri Nabi Muhammad SAW yang disebabkan oleh meninggalnya pembelanya yang utama, yaitu pamannya Abu Thalib dan istrinya Khadijah. Allah SWT ingin meyakinkan utusan-Nya itu bahwa kebenaran dan keyakinan yang dibawanya tidak akan dapat dikalahkan oleh apa pun dan siapa pun.
    Allah hendak memperlihatkan kemahakuasaan-Nya kepada Nabi Muhammad SAW agar ia tetap yakin bahwa Allah akan tetap menolongnya dalam menghadapi musuh yang menghalangi penyiaran agama Islam.

    Allah mempertemukan dan memperkenalkan Nabi Muhammad SAW dengan para Nabi dan Rasul terdahulu, agar dapat menambah semangat dan keyakinannya.
    Allah memperlihatkan kepada Nabi Muhammad SAW bekas kejayaan bangsa-bangsa terdahulu yang hancur luluh karena kedurhakaan kepada Allah dan Rasul-Nya.
    Menguji para pengikut Nabi, apakah mereka akan tetap beriman kepada agama yang selama ini dianutnya, sekalipun akal dan pikiran mereka belum dapat mengerti dan memahami kejadian tersebut.

    Nabi Muhammad SAW dapat bertemu dengan hadirat Allah SWT.
    Allah menyampaikan perintah melakukan sholat kepada Nabi dan umatnya.

    Demikianlah yang dapat kami sampaikan, mudah-mudahan ada manfaatnya.
    Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

    2. Teks Ceramah Isra Mi’raj Hikmah Peristiwa Isra Miraj yang Penuh Makna

    بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم. الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَبِهِ نَسْتَعِينُ وَعَلَىٰ أُمُورِ دُّنْيَا وَالدِّينِ. وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَىٰ أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، وَعَلَىٰ آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ

    Bismillahirrahmanirrahim. Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, wa bihi nasta’inu wa ‘ala umuri dunya wa ad-din. Wa as-sholatu wa as-salamu ‘ala asyrafil anbiya’i wal-mursalin, wa ‘ala alihi wa sahbihi ajma’in.

    Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

    Pada kesempatan yang penuh berkah ini, mari kita mengulas peristiwa Isra Miraj, sebuah mukjizat besar yang Allah berikan kepada Rasul-Nya, Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam.

    Isra Miraj terjadi pada malam yang penuh berkah, di mana Rasulullah melakukan perjalanan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, lalu naik ke langit ketujuh. Peristiwa ini merupakan hadiah dari Allah untuk menghibur hati Rasul-Nya yang tengah dilanda kesedihan setelah kehilangan Khadijah dan Abu Thalib.

    Isra Miraj terbagi menjadi dua peristiwa utama: Isra (perjalanan malam) dan Miraj (kenaikan). Isra adalah perjalanan fisik Rasulullah dari Makkah ke Yerusalem, sedangkan Miraj adalah kenaikan beliau melewati langit-langit hingga Sidratul Muntaha. Peristiwa ini menjadi landasan kewajiban sholat lima waktu bagi umat Islam.

    Peristiwa Isra Miraj mengandung banyak hikmah yang dapat kita ambil. Kemukjizatan yang terjadi menunjukkan kuasa Allah atas waktu, di mana Rasulullah mampu melakukan perjalanan luar biasa dalam waktu yang sangat singkat. Selain itu, Isra Miraj juga menegaskan pentingnya masjid, bukan hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat rohani dan aktivitas umat Islam.

    Hikmah lainnya adalah pengingat untuk tetap sabar dalam menghadapi cobaan, karena kehidupan umat Islam yang beriman seringkali diuji oleh mereka yang tidak percaya. Isra Miraj juga mengajarkan bahwa melakukan “safar” atau perjalanan menuju hal-hal yang baik dapat membantu menemukan inspirasi dan semangat baru dalam menghadapi kesulitan hidup.

    Pentingnya iman sebagai landasan utama juga menjadi pelajaran besar dari peristiwa ini. Sebagaimana Rasulullah mempercayai mukjizat ini, kita pun perlu memperkuat iman untuk menjalani kehidupan di bawah naungan Islam.

    Semoga kita semua mampu mengambil pelajaran berharga dari kisah Isra Miraj ini dan mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari.

    Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

    3. Teks Ceramah Isra Mi’raj tentang Keutamaan Isra Miraj

    بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم. الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَبِهِ نَسْتَعِينُ وَعَلَىٰ أُمُورِ دُّنْيَا وَالدِّينِ. وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَىٰ أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، وَعَلَىٰ آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ

    Bismillahirrahmanirrahim. Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, wa bihi nasta’inu wa ‘ala umuri dunya wa ad-din. Wa as-sholatu wa as-salamu ‘ala asyrafil anbiya’i wal-mursalin, wa ‘ala alihi wa sahbihi ajma’in.

    Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

    Hadirin yang dirahmati Allah,

    Marilah kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah SWT yang telah memberikan nikmat iman, Islam, serta kesehatan kepada kita semua, sehingga kita dapat berkumpul di tempat ini. Sholawat serta salam kita haturkan kepada junjungan kita, Nabi Muhammad SAW, beserta keluarga, sahabat, dan pengikutnya hingga akhir zaman.

    Pada kesempatan yang penuh berkah ini, izinkan saya menyampaikan ceramah tentang peristiwa agung dalam Islam, yaitu Isra Miraj Nabi Muhammad SAW. Peristiwa ini menjadi bukti kebesaran Allah SWT sekaligus mukjizat luar biasa yang diberikan kepada Rasulullah SAW.

    Hadirin yang berbahagia,

    Isra Miraj adalah perjalanan malam yang terjadi pada malam 27 Rajab tahun ke-12 kenabian. Dalam Isra, Nabi Muhammad SAW diperjalankan oleh Allah SWT dari Masjidil Haram di Makkah ke Masjidil Aqsa di Yerusalem dengan kendaraan yang disebut Buraq. Di Masjidil Aqsa, beliau memimpin sholat bersama para nabi terdahulu, sebuah peristiwa yang menegaskan bahwa Nabi Muhammad SAW adalah pemimpin umat manusia dan para nabi.

    Setelah itu, dalam Miraj, Rasulullah SAW melanjutkan perjalanan menuju Sidratul Muntaha, yaitu tempat tertinggi di langit ketujuh. Dalam perjalanan tersebut, beliau bertemu dengan para nabi pada setiap lapisan langit dan menyaksikan tanda-tanda kebesaran Allah SWT. Puncaknya, Nabi Muhammad SAW bertemu dengan Allah SWT untuk menerima perintah sholat lima waktu, yang menjadi kewajiban utama umat Islam hingga kini.

    Hadirin yang dirahmati Allah,

    Peristiwa Isra Miraj memiliki banyak keutamaan yang patut kita renungkan. Pertama, peristiwa ini adalah bukti kebesaran Allah SWT. Perjalanan luar biasa ini, yang terjadi hanya dalam satu malam, tidak dapat dijelaskan dengan logika manusia. Allah SWT menunjukkan kekuasaan-Nya yang tak terbatas, sebagaimana firman-Nya dalam surat Al Isra ayat 1, yang
    artinya:

    “Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al-Masjidil Haram ke Al-Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

    Keutamaan lainnya adalah sebagai bukti kenabian Rasulullah SAW. Isra Miraj menegaskan bahwa beliau adalah utusan Allah SWT yang membawa kebenaran bagi seluruh umat manusia. Perjalanan ini juga memperlihatkan kepada Nabi Muhammad SAW surga dan neraka, yang menjadi bukti nyata adanya kehidupan setelah mati. Melalui peristiwa ini, Allah SWT menunjukkan bahwa Dia mampu melakukan segala sesuatu, bahkan yang berada di luar nalar manusia.

    Hadirin yang dirahmati Allah,

    Isra Miraj juga menjadi salah satu bukti kebenaran Islam. Mukjizat ini menegaskan bahwa Islam adalah agama yang benar dan berasal dari Allah SWT, pencipta alam semesta. Oleh karena itu, mari kita jadikan peristiwa ini sebagai pengingat untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah SWT.

    Hadirin yang berbahagia,

    Demikianlah ceramah yang dapat saya sampaikan. Semoga kita semua dapat mengambil hikmah dari peristiwa Isra Miraj dan semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT. Mari kita tutup dengan doa, semoga kita senantiasa berada dalam lindungan-Nya.

    Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

    4. Teks Ceramah Isra Mi’raj tentang Pelajaran dari Perjalanan Isra Mi’raj

    Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

    Puji syukur kita panjatkan ke hadirat Allah SWT, Tuhan semesta alam, yang telah memberikan anugerah terbesar kepada umat manusia berupa Islam sebagai jalan hidup. Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, keluarga, sahabat, serta seluruh umatnya hingga akhir zaman.

    Hadirin yang dirahmati Allah,

    Pada kesempatan yang mulia ini, izinkan saya menyampaikan sedikit tausiyah mengenai peristiwa Isra Mi’raj. Isra Mi’raj adalah perjalanan luar biasa yang dilalui oleh Nabi Muhammad SAW, di mana beliau menerima perintah sholat lima waktu sebagai kewajiban umat Islam. Perjalanan ini merupakan mukjizat yang menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah Islam.

    Peristiwa Isra, perjalanan dari Masjidil Haram di Makkah ke Masjidil Aqsa di Palestina, mengajarkan kita tentang pentingnya hubungan manusia dengan sesama. Sedangkan Mi’raj, perjalanan naik ke Sidratul Muntaha, mengingatkan kita akan hubungan manusia dengan Allah SWT, yaitu ibadah dan ketaatan kepada-Nya.

    Dalam perjalanan itu, Rasulullah SAW diperlihatkan berbagai gambaran tentang kehidupan umat manusia. Beliau melihat akibat dari perbuatan buruk seperti meninggalkan sholat, enggan bersedekah, dan memakan riba. Semua ini menjadi peringatan nyata agar kita senantiasa menjaga kewajiban sebagai seorang Muslim.

    Hadirin yang berbahagia,

    Isra Mi’raj bukan hanya peristiwa sejarah, tetapi juga pedoman hidup. Melalui perintah sholat lima waktu, kita diajarkan untuk menjaga hubungan dengan Allah SWT, sekaligus memperbaiki diri dalam menjalani kehidupan.

    Mari jadikan momentum ini untuk meningkatkan ketaqwaan, memperbanyak ibadah, dan menjauhi larangan-Nya. Semoga kita menjadi pribadi yang lebih baik, bermanfaat bagi sesama, dan senantiasa berada dalam lindungan Allah SWT.

    Hadirin yang dirahmati Allah,

    Demikianlah ceramah singkat yang dapat saya sampaikan. Semoga kita semua mampu mengambil hikmah dari peristiwa Isra Mi’raj dan mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari.

    Mohon maaf atas segala kekurangan, semoga Allah SWT meridhoi.

    Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

    (inf/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Doa Malam Isra Miraj: Arab, Latin dan Artinya


    Jakarta

    Ada doa yang bisa dibaca saat malam Isra Miraj. Doa ini menjadi salah satu amalan yang bisa dikerjakan untuk memperingati peristiwa perjalanan agung yang dilakukan Rasulullah SAW.

    Peristiwa Isra Miraj telah dijelaskan dalam banyak ayat Al-Qur’an dan hadits. Isra Miraj merupakan perjalanan menuju langit ketujuh yang dilakukan Rasulullah SAW atas kuasa Allah SWT.

    Syofyan Hadi dalam bukunya yang berjudul Kisah Isra dan Miraj Nabi Muhammad SAW menjelaskan kisah perjalanan Isra Miraj telah dipaparkan Allah SWT pada beberapa ayat di dalam Al-Qur’an.


    Dalam surah Al Isra ayat 1, Allah SWT berfirman,

    سُبْحَٰنَ ٱلَّذِىٓ أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِۦ لَيْلًا مِّنَ ٱلْمَسْجِدِ ٱلْحَرَامِ إِلَى ٱلْمَسْجِدِ ٱلْأَقْصَا ٱلَّذِى بَٰرَكْنَا حَوْلَهُۥ لِنُرِيَهُۥ مِنْ ءَايَٰتِنَآ ۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْبَصِيرُ

    Artinya: “Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

    Perjalanan Isra Miraj menjadi salah satu peristiwa yang sangat penting bagi umat Islam karena mulai dari sinilah perintah salat lima waktu menjadi kewajiban bagi seorang muslim.

    Doa Malam Isra Miraj

    Banyak amalan yang bisa dilakukan untuk mengenang sekaligus memperingati hari Isra Miraj, salah satunya dengan mengamalkan doa. Doa ini dipanjatkan semata-mata untuk mengharapkan rida Allah SWT dan memohon perlindungan selama hidup di dunia dan kelak ketika di akhirat.

    Syekh Abdurrahman bin Abdussalam as-Syafi’i dalam salah satu kitabnya, Nuzhatul Majalis wa Muntakhabun Nafaiz, menjelaskan doa yang bisa dipanjatkan saat malam Isra Miraj. Ia menjelaskan bahwa siapa saja yang membacanya pada tanggal 27 Rajab, kemudian menyebutkan hajatnya kepada Allah SWT, maka akan dikabulkan segala hajatnya, melapangkan urusannya, dan menghidupkan hatinya ketika hati-hati manusia sudah mulai mati.

    Berikut bacaan doa malam Isra Miraj:

    اللهم إِنِّي أَسْأَلُكَ بِمُشَاهَدَةِ أَسْرَارِ الْمُحِبِّيْنَ، وَبِالْخَلْوَةِ الَّتِي خَصَّصْتَ بِهَا سَيِّدَ الْمُرْسَلِيْنَ حِيْنَ أَسْرَيْتَ بِهِ لَيْلَةَ السَّابِعِ وَالْعِشْرِيْنَ أَنْ تَرْحَمَ قَلْبِيَ الْحَزِيْنَ وَتُجِيْبَ دَعْوَتِيْ يَا أَكْرَمَ الْأَكْرَمِيْنَ

    Arab Latin: Allāhumma innī as’aluka bi musyāhadati asrāril muhibbīn, wa bil khalwatil latī khashshashta bihā sayyidal mursalīn hīna asraita bihī lailatas sābi’i wal ‘isyrīn an tarhama qalbiyal hazīna wa tujība da’watī yā akramal akramīn.

    Artinya, “Ya Allah, dengan keagungan diperlihatkannya rahasia-rahasia orang-orang pecinta, dan dengan kemuliaan khalwat (menyendiri) yang hanya Engkau khususkan kepada pimpinan para rasul, ketika Engkau memperjalankannya pada malam 27 Rajab, sungguh aku memohon kepada-Mu agar Kau merahmati hatiku yang sedih dan Kau mengabulkan doa-doaku, wahai Yang Maha Memiliki kedermawanan.”

    Keutamaan Berdoa Malam Hari

    Berdoa menjadi amalan yang bisa dikerjakan kapan pun. Allah SWT bahkan menjanjikan akan mengabulkan doa hamba-hamba-Nya yang memohon kepada-Nya dengan penuh keikhlasan.

    Sebagaimana termaktub dalam surah Al-Mu’min ayat 60,

    وَقَالَ رَبُّكُمُ ٱدْعُونِىٓ أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِى سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

    Artinya: Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.”

    Merangkum buku Ramadhan Menyapa Penduduk Bumi, Menaiki Tangga Langit yang ditulis Mustopa, dijelaskan beberapa hadits yang menjelaskan keutamaan beribadah dan berdoa di malam hari.

    Dalam sebuah riwayat disebutkan, “Dari Aisyah RA bahwasanya Rasulullah SAW melakukan qiyamul lail hingga kedua telapak kaki beliau bengkak. Aisyah RA berkata kepada Beliau, ‘Mengapa engkau melakukannya hingga seperti ini? Padahal, Allah telah mengampuni dosa engkau yang telah lalu dan yang akan datang?’ Rasulullah SAW menjawab, ‘Apakah aku tidak pantas menjadi hamba yang bersyukur?’” (Muttafaqun Alaih)

    Berdoa di malam hari juga menjadi tanda bahwa seorang muslim memiliki kesabaran dan rasa syukur yang luas. Hal ini bersandar pada hadits yang berasal dari Abi Yahya, Shuhaib bin Sinan RA, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda,

    “Sungguh mempesona urusan orang yang beriman. Karena semua urusannya adalah baik baginya. Dan hal yang demikian itu hanya dimiliki oleh orang-orang yang beriman. Jika dia mendapatkan kebaikan, dia akan bersyukur, (karena) hal itu adalah yang terbaik baginya. Jika ia mendapatkan kesulitan, maka dia bersabar, (karena) dia tahu bahwa hal itu adalah yang terbaik baginya.” (HR Muslim)

    Amalan saat Isra Miraj

    Selain berdoa, seorang muslim juga bisa melakukan amalan lainnya saat memperingati Isra Miraj. Berikut amalan saat Isra Miraj:

    1. Dzikir Isra dan Miraj

    Dalam perjalanan Isra Miraj, Rasulullah SAW pernah bertemu Nabi Ibrahim AS di langit ketujuh yang kemudian mengajarkan kalimat dzikir.

    Nabi Ibrahim AS bertanya pada malaikat Jibril, “Siapa yang bersamamu wahai Jibril?” Kemudian Malaikat Jibril menjawab, “Muhammad.”

    Nabi Ibrahim AS lantas mengajarkan pada Rasulullah SAW, “Perintahkanlah pada umatmu untuk membiasakan memperbanyak (bacaan dzikir) yang nantinya akan menjadi tanaman surga, tanahnya begitu subur, juga lahannya begitu luas.”

    Rasulullah bertanya, “Apa itu ghirosul jannah (tanaman surga)?” Ia menjawab, “Laa hawla wa laa quwwata illa billah.” Kalimat dzikir ini artinya, “Tidak ada daya dalam menjauhi maksiat dan tidak ada upaya menjalankan ketaatan melainkan dengan pertolongan Allah.” (HR Ahmad)

    2. Sedekah saat Isra Miraj

    Amalan lain yang bisa dilakukan umat Islam adalah bersedekah. Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa yang melonggarkan satu beban kehidupan sesama saudara muslim di bulan Rajab, Allah akan membangunkan istana untuknya di surga Firdaus yang luasnya sejauh pandangan matanya. Karena itu, muliakanlah bulan Rajab, pasti Allah akan memuliakanmu dengan seribu kemuliaan.”

    (dvs/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Doa dan Dzikir Malam Isra Mi’raj 27 Rajab


    Jakarta

    Doa dan dzikir merupakan amalan yang dapat dikerjakan oleh umat Islam untuk menghidupkan malam Isra Mi’raj. Ada doa dan dzikir khusus yang dapat diamalkan saat malam Isra Mi’raj.

    Mengutip buku 12 Bulan Mulia Amalan Sepanjang Tahun karya Abdurrahman Ahmad As-Sirbuny dikatakan bahwa malam 27 Rajab adalah waktu terjadinya Isra Mi’raj. Malam Isra Mi’raj dapat diisi oleh umat Islam dengan memperbanyak ibadah untuk menghidupkan malam tersebut.

    Berdasarkan kalender Hijriyah yang diterbitkan Kementerian Agama (Kemenag) RI 27 Rajab 1446 Hijriah tahun ini jatuh pada Senin, 27 Januari 2025. Dengan demikian, malam Isra Miraj akan dimulai pada saat matahari terbenam pada Minggu, 26 Januari 2025.


    Doa dan Dzikir Malam Isra Mi’raj 27 Rajab

    Ada doa dan dzikir khusus yang dapat diamalkan oleh umat Islam pada malam Isra Mi’raj. Doa ini terdapat dalam kitab Nurul Anwar wa Kanzul Abrar fi Dzikris Shalati ‘alan Nabi al-Mukhtar karya Syekh Muhammad bin Abdullah bin Hasan al-Halabi al-Qadiri. Berikut ini adalah doa dan dzikirnya menurut kitab tersebut seperti dinukil NU Online:

    Doa Malam Isra Mi’raj 27 Rajab

    اللهم إِنِّي أَسْأَلُكَ بِمُشَاهَدَةِ أَسْرَارِ الْمُحِبِّيْنَ، وَبِالْخَلْوَةِ الَّتِي خَصَّصْتَ بِهَا سَيِّدَ الْمُرْسَلِيْنَ حِيْنَ أَسْرَيْتَ بِهِ لَيْلَةَ السَّابِعِ وَالْعِشْرِيْنَ أَنْ تَرْحَمَ قَلْبِيَ الْحَزِيْنَ وَتُجِيْبَ دَعْوَتِيْ يَا أَكْرَمَ الْأَكْرَمِيْنَ

    Allahumma innii as’aluka bimusyāhadati asrāril muhibbīn, wabil khalwatil latii khashshashta bihaa sayyidal mursalīn hīna asraita bihī lailatassābi’i wal ‘isyrīn antarhama qalbiyal hazīna watujība da’watī yā akramal akramīn.

    Artinya, “Ya Allah, dengan keagungan diperlihatkannya rahasia-rahasia orang-orang pecinta, dan dengan kemuliaan khalwat (menyendiri) yang hanya Engkau khususkan kepada pimpinan para rasul, ketika Engkau memperjalankannya pada malam 27 Rajab, sungguh aku memohon kepada-Mu agar Kau merahmati hatiku yang sedih dan Kau mengabulkan doa-doaku, wahai Yang Maha Memiliki kedermawanan.”

    Mengacu sumber yang sana, berikut tata cara sebelum membaca doa malam Isra Mi’raj 27 Rajab:

    1. Melakukan sholat sunnah 2 rakaat seperti biasa. Setelah itu, membaca surah Al-Fatihah dan surah Al-Ikhlas di rakaat pertama dan kedua.
    2. Membaca sholawat kepada Nabi Muhammad sebanyak 10 kali.
    3. Barulah membaca doa malam 27 Rajab disertai dengan menyebutkan segala hajat yang diinginkan.

    Dzikir Malam Isra Mi’raj 27 Rajab

    Selain berdoa kepada Allah SWT, umat Islam dapat melakukan dzikir. Berikut ini dzikir yang dapat diamalkan:

    Istighfar

    Umat Islam dapat melakukan dzikir istighfar setelah sholat Maghrib atau Isya. Berikut adalah bacaan istighfar:

    أَسْتَغْفِرُ الله

    Arab latin: Astaghfirullah

    Artinya: “Aku memohon ampun kepada Allah.”

    Hal ini sesuai sabda Rasulullah SAW, ” Barang siapa yang beristighfar kepada mukminin dan mukminat setiap hari dua puluh tujuh kali, maka ia termasuk orang-orang yang mustajab doanya. “(HR Al Hakim)

    Dalam Sunan Abi Dawud, at-Tirmidzi, dan Ibnu Majah terdapat hadits dari Ibnu Umar RA yang menjelaskan bacaan istighfar yang biasa dilakukan Rasulullah SAW, berikut lafaznya:

    رَبِّ اغْفِرْ لِي وَتُبْ عَلَيَّ، إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

    Arab latin: Raabbighfir lii watub ‘alayya, innaka antat tawwaabur rahiim

    Artinya: “Ya Allah Tuhanku, ampunilah aku dan berikanlah tobat atasku, sungguh Engkau Maha Penerima tobat lagi Maha Pengasih.”

    Sayyidul Istighfar

    Setelah sholat Maghrib atau Isya, umat Islam juga dapat melakukan dzikir Sayyidul Istighfar. Berikut ini lafaznya:

    اَللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّيْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ، خَلَقْتَنِيْ وَأَنَا عَبْدُكَ، وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ، أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ، أَبُوْءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ، وَأَبُوْءُ بِذَنْبِيْ فَاغْفِرْ لِيْ فَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ

    Arab latin: Allahumma anta rabbii laa ilaaha illaa anta khalaqtanii wa anna ‘abduka wa anaa ‘alaa ‘ahdika wa wa’dika mastatha’tu a’uudzu bika min syarri maa shana’tu abuu u laka bini’ matika ‘alayya wa abuu-u bidzanbii faghfir lii fa innahu laa yagfirudz dzunuuba illa anta

    Artinya: “Ya Allah Engkau adalah Tuhanku, tidak ada sesembahan yang hak kecuali Engkau. Engkau yang menciptakanku sedang aku adalah hamba-Mu, dan aku diatas ikatan janji-Mu (yaitu selalu menjalankan perjanjian-Mu untuk beriman dan ikhlas dalam menjalankan amal ketaatan kepada-Mu) dengan semampuku. Aku berlindung kepadamu dari segala kejahatan yang telah aku perbuat, aku mengakui-Mu atas nikmat-Mu terhadap diriku, dan aku mengakui dosaku pada-Mu, maka ampunilah aku. Sesungguhnya, tiada yang bisa mengampuni segala dosa kecuali Engkau.” (HR Bukhari)

    (hnh/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Bentuk Buraq Menurut Hadits, Kendaraan yang Dinaiki Nabi SAW saat Isra Miraj


    Jakarta

    Ketika Nabi Muhammad SAW melakukan perjalanan Isra Miraj, ia menaiki buraq. Tunggangan sang rasul ini dikatakan dapat melaju dengan sangat cepat sampai-sampai mampu mempersingkat waktu perjalanan.

    Menukil dari Buku Teks Pendidikan Agama Islam pada Perguruan Tinggi Umum susunan Furqon Syarief Hidayatullah, buraq diartikan sebagai cahaya atau kilat. Kata buraq merupakan turunan dari beberapa kata dalam bahasa Arab.

    Menurut buku al-Isra wa al-Mi’raj oleh Ibnu Hajar Al-Asqalani dan Jalaluddin As-Suyuti yang diterjemahkan Arya Noor Amarsyah, kata lain dari asal kata buraq adalah istilah khusus yang menjelaskan hewan tunggangan yang digunakan Nabi Muhammad SAW ketika Isra Miraj.


    Lantas, seperti apa bentuk atau wujud buraq?

    Mengutip dari buku Ensiklopedia Islam karya Hafidz Muftisany, bentuk buraq dideskripsikan dalam hadits dari Anas bin Malik RA. Rasulullah SAW bersabada:

    “Didatangkan kepadaku buraq, yaitu hewan (dabbah) yang berwarna putih (abyadh), bertubuh panjang (thawil), lebih besar dari keledai dan lebih kecil dari baghal, dan sekali ia menjejakkan kakinya yang berkuku bergerak sejauh mata memandang.” (HR Muslim)

    Berdasarkan hadits tersebut, Nabi Muhammad SAW menjelaskan bahwa buraq adalah dabbah. Menurut penafsiran bahasa Arab dabbah merupakan makhluk hidup berjasad, bisa laki-laki atau perempuan. Dabbah ada yang memiliki akan dan juga tidak berakal.

    Penafsiran tersebut menunjukkan bahwa kita tidak dapat menentukan jenis kelamin dabbah, seperti halnya malaikat.

    Melalui haditsnya yang lain, Rasulullah SAW bersabda:

    “Jibril mendatangiku dengan seekor hewan yang tingginya di atas keledai dan di bawah baghal, lalu Jibril menaikkanku di atas hewan itu kemudian bergerak bersama kami, setiap kali naik maka kedua kakinya yang belakang sejajar dengan kedua kaki depannya, dan setiap kali turun kedua kaki depannya sejajar dengan kedua kaki belakangnya.”

    Selain itu, dalam riwayat dari Tsa’labi diterangkan tentang fisik buraq. Dari Ibnu Abbas RA berkata,

    “Dia (buraq) memiliki pipi seperti pipi manusia, tubuhnya seperti tubuh kuda, kaki-kakinya seperti kaki unta, kuku serta ekornya seperti kuku dan ekor sapi betina, dan dadanya seperti sebongkah batu mulia berwarna merah.”

    Kecepatan buraq tidak dapat dijangkau oleh akal manusia. Langkah buraq bahkan sejauh mata memandang, artinya ia menjejakkan kaki pada setiap titik terjauh yang dilihatnya.

    Perlu dipahami, perlu dilakukan kajian mendalam tentang hewan tunggangan yang memiliki sayap tersebut. Sebab, kecepatan bergeraknya dianggap melebihi kecepatan cahaya dan kilat yang artinya hal itu merupakan tanda kebesaran Allah SWT dan bukti kemuliaan-Nya kepada sang rasul.

    Wallahu a’lam.

    (aeb/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Seperti Apa Sidratul Muntaha Lokasi Terakhir Isra Miraj Nabi Muhammad?


    Jakarta

    Nabi Muhammad SAW melakukan Isra Miraj dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa dan berakhir di Sidratul Muntaha, di langit ketujuh. Sidratul Muntaha digambarkan penuh keagungan.

    Peristiwa Isra Miraj terjadi pada malam 27 Rajab setelah Nabi Muhammad SAW pulang dari Thaif, menurut pendapat masyhur yang dipastikan Ibnu Hazm.

    Menurut hadits yang dihimpun dalam al-Isra’ wa al-Mi’raj karya Ibnu Hajar al-Asqalani dan Imam as-Suyuthi yang diterjemahkan Arya Noor Amarsyah, perjalanan Rasulullah SAW dimulai dari Masjidil Haram di Makkah. Setelah itu, beliau mengendarai Buraq–sejenis hewan berwarna putih yang lebih besar daripada keledai dan lebih kecil daripada bagal–menuju Baitul Maqdis di Palestina.


    Rasulullah SAW menambatkan Buraqnya lalu masuk Masjidil Aqsa untuk menunaikan salat. Setelah itu, Allah SWT menaikkan Rasulullah SAW ke Sidratul Muntaha melewati tujuh lapisan langit. Demikian menurut hadits Hamad ibn Salamah dari Tsabit dari Anas RA yang dinilai paling kuat dan bebas dari segala perselisihan.

    Gambaran Wujud Sidratul Muntaha

    Menurut hadits dalam kitab al-Isra’ wa al-Mi’raj, Sidratul Muntaha adalah sebuah pohon yang daunnya selebar telinga gajah dan buah-buahnya sebesar kendi. Saat Allah SWT menitahkan perintah-Nya, Sidratul Muntaha langsung berbuah sehingga tak ada satupun makhluk yang bisa menggambarkannya karena sangat indah.

    Menurut suatu pendapat dalam Qishash Al-Anbiya lil Athfal karya Hamid Ahmad Ath-Thahir yang diterjemahkan Masturi Irham dan M. Asmui Taman, pohon Sidratul Muntaha digambarkan amat besar yang seandainya ada pengendara kuda melarikan kudanya dengan kencang di bawah naungannya selama seratus tahun, tidak akan sampai ke ujungnya. Sidratul Muntaha adalah tempat tertinggi di alam semesta, sebelum ‘Arsy Allah.

    Keberadaan Rasulullah SAW saat di Sidratul Muntaha disebutkan dalam Al-Qur’an surah An-Najm ayat 16. Allah SWT berfirman,

    اِذْ يَغْشَى السِّدْرَةَ مَا يَغْشٰىۙ ١٦

    Artinya: “(Nabi Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratul Muntaha dilingkupi oleh sesuatu yang melingkupinya.”

    Menurut Al-Baghawi, seperti dikutip dari Nuzhah al-Majalis wa Muntakhab an-Nafa’is karya Syekh ash-Shafuri yang diterjemahkan Jamaluddin, maksud “sesuatu yang melingkupi” dalam ayat tersebut adalah diliputi oleh kupu-kupu dari emas. Ada yang berpendapat diliputi cahaya keagungan yang tirai-tirainya turun permata, yaqut, dan zamrud.

    Lebih lanjut dijelaskan, Sidratul Muntaha diberi kekhususan dengan keutamaan tersebut karena memiliki tiga hal, yaitu bayangan yang dipanjangkan, makanan yang lezat, dan aroma yang harum. Hal tersebut diumpamakan sebagai iman yang menghimpun tiga hal, perkataan, niat, dan perbuatan.

    Bayangan Sidratul Muntaha diumpamakan seperti perbuatan karena iman melewati pelakunya seperti bayangan melewati orangnya. Rasanya seperti niat karena samar dan aromanya seperti perkataan karena aroma itu jelas.

    “Karena itulah ketika Nabi Muhammad sampai di Sidratul Muntaha para malaikat pun mengetahui hal tersebut karena cahaya turun seperti tetesan awan. Maka mereka bersegera mengucapkan salam, layaknya belalang yang bertebaran di surga Ma’wa,” jelas Syekh ash-Shafuri dalam kitabnya.

    Penamaan Sidratul Muntaha karena tak ada yang mengetahui apa yang ada di sana. Menurut Ali, diberi nama Sidratul Muntaha karena manusia yang berada di atas sunah Muhammad berhenti di sana. Ada juga yang berpendapat, penamaan ini karena siapa yang berhenti di sana berarti telah mencapai puncak kemuliaan.

    Wallahu a’lam.

    (kri/inf)



    Sumber : www.detik.com

  • Doa Buka Puasa Senin 27 Rajab: Arab, Latin dan Arti


    Jakarta

    Doa buka puasa Senin 27 Rajab bisa diamalkan muslim. Sebagaimana diketahui, doa buka puasa termasuk salah satu sunnah yang bisa dikerjakan oleh muslim.

    Dari Ibnu Umar RA berkata,

    “Apabila Rasulullah SAW berbuka, beliau berdoa: Hilanglah rasa haus dan basahlah urat-urat (badan) dan insyaallah mendapatkan pahala.” (HR Abu Dawud)


    Puasa Senin 27 Rajab merupakan amalan sunnah puasa Senin-Kamis yang bisa dikerjakan muslim. Selain itu, 27 Rajab adalah momen Isra Miraj yang termasuk peristiwa agung dalam Islam.

    Yusuf Qardhawi dalam Fiqh Al-Shiyam-nya yang diterjemahkan Danis Wijaksana mengatakan bahwa beberapa muslim melakukan puasa pada 27 Rajab. Mereka meyakini bahwa Isra Miraj terjadi pada tanggal tersebut.

    Mereka yang berpuasa ketika Isra Miraj berkeyakinan bahwa momen tersebut merupakan hari penting dalam Islam. Sebab, Allah SWT memberikan perintah salat kepada Rasulullah SAW saat Isra Miraj.

    Imam an-Nawawi dalam kitab al-Adzkar yang diterjemahkan Ulin Nuha memaparkan sejumlah bacaan doa buka puasa mengacu pada hadits-hadits shahih. Berikut di antaranya.

    Bacaan Doa Buka Puasa Senin 27 Rajab

    ذَهَبَ الظَّمْأُ وَابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ وَثَبَتَ الْأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ تَعَالَى

    Dzahabadh dham-u wabtalatil ‘uruuqu wa tsabatal ajru in syaa allaahu ta’aalaa.

    Artinya: “Telah hilang rasa haus, telah basah urat nadi, dan telah tetap pahala jika Allah menghendaki.”

    Bacaan doa buka puasa tersebut diriwayatkan dalam kitab Sunan Abu Dawud dan an-Nasa’i dari Ibnu Umar RA dari Nabi SAW.

    Ada juga bacaan doa puasa dengan lafaz berikut:

    اَللّٰهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّحِمِيْنَ

    Allaahumma lakasumtu wabika aamantu wa’alaa rizqika afthortu birahmatika yaa arhamar-roohimiina.

    Artinya: “Ya Allah karena-Mu aku berpuasa, dengan-Mu aku beriman, kepada-Mu aku berserah dan dengan rezeki-Mu aku berbuka (puasa), dengan rahmat-Mu, Ya Allah yang Tuhan Maha Pengasih.” (HR Imam Bukhari dan Muslim)

    Sunnah Buka Puasa Senin 27 Rajab

    Selain membaca doa buka puasa, ada beberapa sunnah lainnya yang dianjurkan saat berbuka. Berikut bahasannya seperti disebutkan dalam buku Panduan Muslim Sehari-hari karya DR KH M Hamdan Rasyid MA dan Saiful Hadi El-Sutha.

    1. Menyegerakan Waktu Berbuka

    Sunnah pertama yaitu menyegerakan waktu berbuka. Ini sesuai dengan hadits Nabi SAW, beliau bersabda:

    “Manusia senantiasa dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka.” (HR Muslim)

    2. Berbuka dengan Kurma atau Air Putih

    Dari Anas bin Malik RA mengatakan bahwa buka puasa dengan kurma atau air putih termasuk sunnah Rasulullah SAW. Ia berkata,

    “Rasulullah SAW berbuka puasa dengan makan beberapa biji kurma muda, jika tidak ada maka dengan beberapa butir kurma, jika tidak ada maka beberapa teguk air.” (HR Abu Ya’la, Al Bazzar dan Ath Thabrani)

    3. Awali dengan Bismillah

    Ketika muslim berbuka, hendaknya ia mengucap basmalah sebelum makan dan minum. Dengan begitu, makanan dan minuman yang dikonsumsi menjadi berkah.

    (aeb/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Apakah Nabi Muhammad Melihat Allah ketika Isra Miraj?


    Jakarta

    Nabi Muhammad SAW diperjalankan Allah SWT dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa dan dinaikkan ke langit menuju Sidratul Muntaha untuk menerima perintah salat lima waktu. Perjalanan agung ini dikenal dengan Isra Miraj.

    Ibnu Hajar al-Asqalani dan Imam as-Suyuthi dalam kitab al-Isra’ wa al-Mi’raj yang diterjemahkan Arya Noor Amarsyah, memaparkan hadits tentang peristiwa Isra Miraj Nabi Muhammad SAW tersebut. Hadits yang paling kuat dan bebas dari perselisihan dikeluarkan Imam Muslim dari Hamad ibn Salamah dari Tsabit dari Anas RA.

    Dalam hadits tersebut dikatakan Rasulullah SAW dibersamai Malaikat Jibril saat Isra Miraj. Beliau naik kendaraan bernama buraq, sejenis hewan berwarna putih yang lebih besar dari keledai dan lebih kecil dari bagal.


    Saat dinaikkan ke langit, Jibril-lah yang meminta para penjaga langit membukakan pintu. Setelah dibukakan, ada para nabi terdahulu yang menyambut dan mendoakan kebaikan untuk Rasulullah SAW.

    Begitu sampai di langit ketujuh, Jibril membawa Nabi Muhammad SAW ke (pohon) Sidratul Muntaha yang daun-daunnya selebar telinga gajah dan buah-buahnya sebesar kendi.

    “Tatkala Allah menitahkan perintah-Nya, (pohon) Sidratul Muntaha langsung berubah sehingga tidak ada satu makhluk pun yang bisa menggambarkannya karena sangat indah,” demikian sabda Rasulullah SAW menggambarkan keindahan Sidratul Muntaha.

    Setelah itu, Allah SWT memberikan wahyu dan mewajibkan salat lima puluh kali kepada Nabi Muhammad SAW dalam sehari semalam. Rasulullah SAW kemudian turun dan bertemu Nabi Musa AS. Nabi Musa AS pun bertanya apa yang Allah SWT wajibkan kepada umat Rasulullah SAW.

    Setelah mendengar jawaban Rasulullah SAW, Nabi Musa AS menyarankan agar meminta keringanan kepada Allah SWT, “Kembalilah menemui Tuhanmu dan mintalah keringanan kepada-Nya. Sebab, umatmu tidak akan mampu melakukan hal itu. Aku telah menguji bani Israil.”

    Setelah beberapa kali mondar-mandir menghadap Allah SWT dan menemui Nabi Musa AS, akhirnya Allah SWT memberi keringanan dengan mewajibkan salat lima kali sehari semalam. Pahala setiap salat bernilai sepuluh kali kebaikan.

    Apakah Nabi Muhammad Melihat Allah?

    Pertanyaan apakah Nabi Muhammad SAW melihat Allah ketika Miraj kemudian muncul. Dalam Shahih Bukhari terdapat hadits bahwa hal ini pernah ditanyakan kepada Aisyah RA, istri Nabi Muhammad SAW.

    Masruq berkata, “Aku bertanya kepada Aisyah RA, ‘Hai ibu, apakah Nabi Muhammad SAW telah melihat Tuhan?’ Aisyah RA menjawab, ‘Sungguh bulu romaku berdiri karena pertanyaanmu itu, di manakah (pemahamanmu) dari tiga hal berikut ini: 1) Siapa yang menerangkan kepadamu bahwa Nabi Muhammad SAW melihat Tuhan, maka ia dusta.

    Lalu ‘Aisyah membaca ayat: Allah tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, dan Dia yang mencapai semua penglihatan, dan Dia Maha Halus kekuasaan-Nya yang Maha Mengetahui sedalam-dalamnya. Juga membaca ayat: Tiada seorang yang berkata-kata dengan Allah melainkan dengan wahyu atau dari balik tabir (hijab).”

    2) Dan siapa yang mengatakan bahwa ia mengetahui apa yang akan terjadi esok hari, maka itu pun sungguh dusta, lalu dibacakan ayat: Dan tiada seorang pun yang mengetahui apa yang akan terjadi (atau dikerjakan) esok hari.

    3) Dan siapa yang berkata bahwa Nabi Muhammad menyembunyikan apa yang diwahyukan oleh Allah maka sungguh orang itu dusta. Siti Aisyah membaca: Hai utusan Allah sampaikanlah apa yang diturunkan oleh Tuhan kepadamu.” Tetapi Nabi Muhammad SAW telah melihat Jibril dalam bentuk yang sebenarnya dua kali.

    Imam Bukhari mengeluarkan hadits tersebut pada Kitab ke-65, Kitab Tafsir 53.

    Ada juga hadits lain yang menerangkan Nabi Muhammad SAW tidak melihat Allah tetapi beliau telah melihat Malaikat Jibril. Berikut bunyi haditsnya,

    . حَدِيْثُ عَائِشَةَ قَالَتْ مَنْ زَعَمَ أَنَّ مُحَمَّدًا رَأَى رَبَّهُ فَقَدْ أَعْظَمَ ولَكِنْ قد رَأَى جِبْرِيلَ فِي صُورَتِهِ وَخَلْقُهُ سَادٌ مَا بَيْنَ الأُفُقِ أخرجه البخاري في: ٥٩ كتاب بدء الخلق: ۷ باب إذا قال أحدكم آمين والملائكة في السماء

    Artinya: ‘Aisyah berkata: “Siapa yang menerangkan bahwa Nabi Muhammad telah melihat Tuhannya, maka sungguh besar bahayanya, tetapi Nabi Muhammad telah melihat Malaikat Jibril dalam bentuk aslinya yang bisa menutupi ufuk.” (Dikeluarkan oleh Bukhari pada Kitab ke-59, Kitab Awal Mula Penciptaan bab ke-7, apabila salah seorang kalian berkata ‘amin’ bersamaan dengan ucapan Malaikat yang berada di langit)

    Orang Mukmin Akan Melihat Allah di Akhirat

    Dalam Shahih Bukhari juga terdapat hadits bahwa orang-orang mukmin bisa melihat Allah SWT di akhirat. Tak ada hijab antara manusia dengan tuhannya.

    Diriwayatkan dari Abu Musa RA, Rasulullah SAW bersabda, “Ada dua surga yang semua perabot dan bejananya terbuat dari perak, lalu dua surga lagi bejana dan peralatannya terbuat dari emas, dan tidak ada hijab antara mereka dengan Tuhan agar mereka dapat melihatnya kecuali tabir kebesaran Allah dalam jannatu ‘adn.”

    Hadits tersebut dikeluarkan Bukhari pada Kitab ke-65, Kitab Tafsir: 55 Surat Ar-Rahman.

    Wallahu a’lam.

    (kri/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Malaikat Malik Bertemu Rasulullah SAW Tanpa Tersenyum



    Jakarta

    Malaikat Malik merupakan malaikat yang bertugas menjaga pintu neraka. Ada sebuah kisah yang menceritakan bahwa Malaikat Malik bermuka masam ketika bertemu Rasulullah SAW.

    Pertemuan tersebut terjadi saat Rasulullah SAW melakukan Isra Mi’raj. Imam Al-Qusyairi dalam Kitab al-Mi’raj, menceritakan mengenai kisah Nabi Muhammad SAW yang melakukan perjalanan suci tersebut.

    Saat melakukan Isra’ Miraj Nabi Muhammad SAW diajak oleh Malaikat Jibril untuk menaiki Buraq. Dalam perjalanan itu, Nabi Muhammad SAW melihat malaikat yang banyak sekali jumlahnya. Beliau melihat tangga yang menjulang dari Bayt al-Muqaddas ke langit dunia.


    Kemudian Nabi Muhammad SAW meneruskan perjalanan hingga sampai ke langit dunia yang disebut al-raqi. Ketika memasukinya, semua malaikat senantiasa tersenyum gembira. Sampai akhirnya Rasulullah SAW bertemu dengan satu malaikat yang juga menyambutnya seperti yang lainnya, tetapi tanpa tersenyum dan tidak tampak kegembiraan di wajahnya.

    Malaikat Jibril lalu berkata tentangnya, “Seandainya dia tersenyum selain kepada selainmu, tentu dia akan tersenyum padamu.”

    Akan tetapi dia tidak pernah tersenyum kepada siapa pun, dia adalah Malaikat Malik penjaga neraka. Dia tidak pernah tersenyum sama sekali, mukanya selalu masam, cemberut, marah, dan menyeramkan karena begitu marahnya kepada para penghuni neraka sebagaimana Tuhan marah kepada mereka.

    Lalu, Rasulullah SAW bertanya, “Hai Jibril, maukah kamu menyuruhnya untuk menunjukkan neraka kepadaku?”

    Jibril menjawab, “Ya.” Lalu Jibril berkata, “Hai Malik, Muhammad Rasul Allah ingin melihat neraka.”

    Malaikat Malik lalu membukakan penutup neraka dan terlihatlah neraka yang bergolak dan mendidih, sangat hitam, berasap, dan apinya juga hitam pekat.

    Ada yang meronta-ronta dan menggelegak hampir pecah lantaran marah. Begitulah gambaran neraka.

    Sebelum bertemu dengan Malaikat Malik dan saat menaiki tangga di sebelah kanan Rasulullah SAW ada 400 ribu malaikat, di sebelah kirinya juga ada 400 ribu malaikat, di depannya 1000 malaikat dan di belakangnya juga 1000 malaikat.

    Setiap malaikat mempunyai dua sayap berwarna hijau. Kemudian, Malaikat Jibril membimbing Nabi Muhammad SAW menaiki tangga. Pada setiap tangga ada satu malaikat yang bermahkotakan cahaya dengan dua sayap berwarna hijau.

    Setiap malaikat itu disertai lima ratus malaikat lainnya. Semuanya berkata, “Selamat datang bagimu wahai Muhammad.”

    Ada pendapat yang menyebut, jarak antar anak tangga sejauh perjalanan selama 40 tahun lamanya dan begitu seterusnya hingga terdapat 55 anak tangga.

    Nabi Muhammad SAW kemudian melihat malaikat di udara yang jumlahnya tidak terhingga bertanya kepada Malaikat Jibril tentang mereka. Lalu Malaikat Jibril menjawab, “Mereka adalah para malaikat yang layang-layang di udara sejak langit dan bumi diciptakan.”

    Kepala malaikat yang melayang di udara itu berada di bawah sayapnya. Tidak ada satupun dari mereka yang melihat tubuhnya masing-masing, karena mereka demikian takut kepada Allah SWT. Mereka selalu membaca tasbih dan menangis, namun tidak diketahui ke mana jatuhnya air mata mereka.

    Kisah Malaikat Malik bertemu Rasulullah SAW turut diceritakan oleh Nur Syam dalam buku Tarekat Petani: Fenomena Tarekat Syattariyah Lokal.

    Dijelaskan bahwa Malaikat Malik yang bertugas menjaga neraka, digambarkan tidak pernah tertawa, bahkan juga ketika bertemu dengan Nabi Muhammad SAW, sehingga Nabi SAW pun bertanya kepada Malaikat Jibril.

    Lalu Malaikat Jibril menjawab, kalau Malaikat Malik tertawa maka hawa panas neraka akan berkurang sehingga membuat senang orang-orang yang di neraka.

    (kri/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Saat Nabi Muhammad Bertemu Nabi Adam di Surga


    Jakarta

    Nabi Muhammad SAW pernah bertemu Nabi Adam AS di surga. Peristiwa ini terjadi saat Rasulullah SAW melakukan Mikraj, perjalanan dari Masjid Al Aqsa ke Sidratul Muntaha.

    Kisah pertemuan Nabi Muhammad SAW dan Nabi Adam AS diceritakan Ibnu Katsir dalam Qashash al-Anbiyaa dan diterjemahkan oleh Umar Mujtahid. Ibnu Katsir menyandarkan kisah ini dengan hadits Isra’ dalam kitab Shahihain.

    Diceritakan, dalam perjalanan menuju Sidratul Muntaha, Rasulullah SAW bersama Malaikat Jibril melewati setiap lapisan langit. Beliau bertemu Nabi Adam AS di langit paling bawah.


    Saat melihat kedatangan Nabi Muhammad SAW, Nabi Adam AS berkata, “Selamat datang anak saleh dan nabi saleh.”

    Nabi Muhammad SAW melihat di samping kanan dan kiri Nabi Adam AS ada kumpulan banyak manusia. Saat melihat ke kanan, Nabi Adam AS tertawa dan saat melihat ke kiri, Nabi Adam AS menangis.

    Rasulullah SAW bertanya kepada Jibril, “Wahai Jibril, siapa dia?” Jibril menjawab, “Dia Adam, dan mereka itu anak keturunannya. Saat melihat ke sebelah kanan–mereka adalah para penghuni surga, Adam tertawa, dan saat melihat ke sebelah kiri, mereka adalah para penghuni neraka, Adam menangis.”

    Terkait Nabi Adam AS, Abu Bakar Al-Bazzar menyebut riwayat dari Muhammad bin Mutsanna, dari Yazid bin Harun, dari Hisyam bin Hassan yang mengatakan, “Akal Adam sama seperti akal seluruh anak keturunannya.”

    Dalam riwayat lain dikatakan, Nabi Muhammad SAW melintas di hadapan Nabi Yusuf AS, beliau bersabda, “Aku melintas di hadapan Yusuf, ternyata ia diberi separuh ketampanan.”

    Sebagian ulama menafsirkan makna hadits tersebut adalah Nabi Yusuf AS diberi separuh ketampanan Nabi Adam AS. Ibnu Katsir berpendapat makna ini sesuai karena Allah SWT menciptakan Nabi Adam AS dan membentuknya dengan tangan-Nya, meniupkan roh padanya dan makhluk yang Allah SWT ciptakan pasti memiliki keindahan yang paling baik.

    Dalam Shahihain juga terdapat riwayat lain dari sejumlah jalur yang menyebut Rasulullah SAW bersabda, “Sungguh, Allah menciptakan Adam sesuai wujud-Nya (sifat-sifat-Nya).” (HR Bukhari)

    Nabi Muhammad Bertemu Nabi-nabi Lain

    Nabi Muhammad SAW juga bertemu nabi-nabi lain saat melakukan perjalanan menuju Sidratul Muntaha. Ibnu Hajar Al-Asqalani dan Jalaluddin As-Suyuthi dalam kitab al-Isra’ wa al-Mi’raj yang diterjemahkan oleh Arya Noor Amarsyah menceritakan, Nabi Muhammad SAW bertemu Nabi Isa AS dan Nabi Yahya AS di langit kedua.

    Selanjutnya, Nabi Muhammad SAW bertemu dengan Nabi Yusuf AS di langit ketiga dan berjumpa Nabi Idris AS di langit keempat.

    Beliau kemudian melanjutkan perjalanan. Saat tiba di langit kelima, Nabi Muhammad SAW bertemu dengan Nabi Harun AS dan bertemu dengan Nabi Musa AS di langit keenam.

    Terakhir, Nabi Muhammad SAW bertemu dengan Nabi Ibrahim AS di langit ketujuh. Menurut riwayat Nabi Ibrahim AS saat itu sedang menyandarkan punggungnya di Baitul Ma’mur–Ka’bah-nya para malaikat penduduk langit.

    Para nabi terdahulu itu memberikan sapaan hangat kepada Nabi Muhammad SAW dan mendoakan kebaikan untuk beliau.

    Kisah bertemunya Nabi Muhammad SAW dengan para nabi terdahulu di setiap lapisan langit itu mengacu pada hadits yang diriwayatkan Imam Muslim dari Syaiban ibn Farukh, dari Hamad ibn Salamah, dari Tsabit al-Banani, dari Anas ibn Malik RA yang menceritakan dari Rasulullah SAW. Ibnu Hajar Al-Asqalani mengatakan ini adalah hadits yang paling kuat dan tidak diperselisihkan.

    Wallahu a’lam.

    (kri/lus)



    Sumber : www.detik.com