Tag: jakarta pusat

  • Daftar Hotel Bintang 5 di Jakarta, Per Malam Mulai Rp 1,5 Jutaan


    Jakarta

    Jakarta merupakan salah satu kota terbesar di Asia. Untuk memenuhi para tamu dari dalam maupun luar negeri, tersedia hotel bintang 5 di Jakarta yang memiliki fasilitas mumpuni.

    Biasanya, hotel bintang 5 dipakai untuk sejumlah tamu VIP, mulai dari artis, aktor, musisi, hingga tim nasional sepak bola yang bertanding di Jakarta. Selain itu, hotel bintang lima juga kerap digunakan oleh para business trip.

    Namun, belakangan ini juga sedang tren staycation di hotel bintang lima. Cara ini dilakukan orang-orang untuk melepas penat atau sekadar ingin mencicipi rasanya menginap di kamar hotel yang mewah.


    Penasaran, apa saja sih hotel bintang 5 di Jakarta? Simak daftar hotelnya dalam artikel ini.

    Daftar Hotel Bintang 5 di Jakarta

    Ada sederet hotel bintang 5 di Jakarta, beberapa di antaranya yang terkenal seperti Ritz-Carlton, The Langham, hingga Fairmont. Untuk harga menginap di hotel bintang 5 mulai dari Rp 1,5 jutaan per malam.

    Daripada penasaran, berikut daftar hotel bintang 5 di Jakarta yang telah dirangkum detikTravel:

    Hotel Bintang 5 di Jakarta Pusat

    Cukup banyak hotel bintang 5 yang berada di Jakarta Pusat. Simak daftar hotelnya di bawah ini:

    1. Park Hyatt Jakarta

    • Lokasi: Kebon Sirih, Jakarta Pusat
    • Rating: 9,1/10
    • Harga per malam: mulai dari Rp 4,2 juta

    2. Fairmont Jakarta

    • Lokasi: Senayan, Jakarta Pusat
    • Rating: 9,4/10
    • Harga per malam: mulai dari Rp 3,9 juta

    3. Grand Hyatt Jakarta

    • Lokasi: Thamrin, Jakarta Pusat
    • Rating: 8,7/10
    • Harga per malam: mulai dari Rp 3,8 juta

    4. Mandarin Oriental Jakarta

    • Lokasi: Thamrin, Jakarta Pusat
    • Rating: 9/10
    • Harga per malam: mulai dari Rp 3,2 juta

    5. Hotel Indonesia Kempinski

    • Lokasi: Thamrin, Jakarta Pusat
    • Rating: 8,9/10
    • Harga per malam: mulai dari Rp 3 jutaan

    6. The Orient Jakarta, a Royal Hideaway Hotel

    • Lokasi: Sudirman, Jakarta Pusat
    • Rating: 8,7/10
    • Harga per malam: mulai dari Rp 2,7 juta

    7. Shangri-La Jakarta

    • Lokasi: Karet Tengsin, Jakarta Pusat
    • Rating: 8,9/10
    • Harga per malam: mulai dari Rp 2,4 juta

    8. Hotel Mulia Senayan

    • Lokasi: Senayan, Jakarta Pusat
    • Rating: 8,7/10
    • Harga per malam: mulai dari Rp 2,4 juta

    9. Ayana Midplaza Jakarta

    • Lokasi: Sudirman, Jakarta pusat
    • Rating: 8,8/10
    • Harga per malam: mulai dari Rp 2,3 juta

    10. Fraser Residence Sudirman Jakarta

    • Lokasi: Sudirman, Jakarta Pusat
    • Rating: 8,7/10
    • Harga per malam: mulai dari Rp 2,3 juta

    11. Le Meridien Jakarta

    • Lokasi: Sudirman, Jakarta Pusat
    • Rating: 8,7/10
    • Harga per malam: mulai dari Rp 2,2 juta

    12. Ascott Jakarta

    • Lokasi: Thamrin , Jakarta Pusat
    • Rating: 8,7/10
    • Harga per malam: mulai dari Rp 2,1 juta

    13. Pullman Jakarta Indonesia

    • Lokasi: Thamrin, Jakarta Pusat
    • Rating: 8,6/10
    • Harga per malam: mulai dari Rp 2 juta

    14. The Mayflower Jakarta

    • Lokasi: Sudirman, Jakarta Pusat
    • Rating: 9/10
    • Harga per malam: mulai dari Rp 1,9 juta

    15. Fraser Residence Menteng Jakarta

    • Lokasi: Kebon Sirih, Jakarta Pusat
    • Rating: 8,8/10
    • Harga per malam: mulai dari Rp 1,8 juta

    16. Sari Pacific Jakarta

    • Lokasi: Thamrin, Jakarta Pusat
    • Rating: 8,4/10
    • Harga per malam: mulai dari Rp 1,5 juta

    17. Grand Mercure Jakarta Kemayoran

    • Lokasi: Gunung Sahari, Jakarta Pusat
    • Rating: 8,7/10
    • Harga per malam: mulai dari Rp 1,4 juta

    18. Grand Sahid Jaya Jakarta

    • Lokasi: Sudirman, Jakarta Pusat
    • Rating: 8,1/10
    • Harga per malam: mulai dari Rp 1,2 juta

    19. Hotel Sultan Jakarta

    • Lokasi: Kebayoran Baru, Jakarta Pusat
    • Rating: 8,6/10
    • Harga per malam: mulai dari Rp 1,1 juta

    20. Hotel Borobudur Jakarta

    • Lokasi: Pasar Baru, Jakarta Pusat
    • Rating: 8,6/10
    • Harga per malam: mulai dari Rp 1 jutaan

    21. Aryaduta Menteng

    • Lokasi: Gambir, Jakarta Pusat
    • Rating: 8,5/10
    • Harga per malam: mulai dari Rp 1 jutaan

    22. Merlynn Park Hotel

    • Lokasi: Petojo Utara, Jakarta Pusat
    • Rating: 8,6/10
    • Harga per malam: mulai dari Rp 1 jutaan

    23. DoubleTree by Hilton

    • Lokasi: Cikini, Jakarta Pusat
    • Rating: 8,8/10
    • Harga per malam: mulai dari Rp 1,9 jutaan

    24. Pan Pacific Jakarta

    • Lokasi: Thamrin, Jakarta Pusat
    • Rating: 9,7/10
    • Harga per malam: mulai dari Rp 2,9 jutaan

    25. The Grand Mansion Menteng by The Crest Collection

    • Lokasi: Menteng, Jakarta Pusat
    • Rating: 8,9/10
    • Harga per malam: mulai dari Rp 2,8 jutaan

    26. The Hermitage Jakarta

    • Lokasi: Menteng, Jakarta Pusat
    • Rating: 8,9/10
    • Harga per malam: mulai dari Rp 1,7 juta

    Hotel Bintang 5 di Jakarta Selatan

    Ada banyak juga hotel bintang 5 yang berlokasi di Jakarta Selatan. Berikut daftarnya:

    1. The Ritz-Carlton Jakarta, Pacific Place

    • Lokasi: Senayan, Jakarta Selatan
    • Rating: 9/10
    • Harga per malam: mulai dari Rp 5,5 juta

    2. The Ritz-Carlton Jakarta, Mega Kuningan

    • Lokasi: Kuningan, Jakarta Selatan
    • Rating: 8,8/10
    • Harga per malam: mulai dari Rp 4,2 juta

    3. Four Seasons Hotel Jakarta

    • Lokasi: Gatot Subroto, Jakarta Selatan
    • Rating: 9/10
    • Harga per malam: mulai dari Rp 4,2 juta

    4. The Gunawarman

    • Lokasi: Selong, Jakarta Selatan
    • Rating: 8,7/10
    • Harga per malam: mulai dari Rp 4 juta

    5. The Langham, Jakarta

    • Lokasi: Senayan, Jakarta Selatan
    • Rating: 8,9/10
    • Harga per malam: mulai dari Rp 3,9 juta

    6. The Westin Jakarta

    • Lokasi: Rasuna Said, Jakarta Selatan
    • Rating: 8,9/10
    • Harga per malam: mulai dari Rp 3,7 juta

    7. Alila SCBD Jakarta

    • Lokasi: Senayan, Jakarta Selatan
    • Rating: 8,5/10
    • Harga per malam: mulai dari Rp 3,7 juta

    8. The Dharmawangsa Jakarta

    • Lokasi: Dharmawangsa, Jakarta Selatan
    • Rating: 8,9/10
    • Harga per malam: mulai dari Rp 3,6 juta

    9. Ascott Kuningan Jakarta

    • Lokasi: Kuningan, Jakarta Selatan
    • Rating: 8,7/10
    • Harga per malam: mulai dari Rp 3,6 juta

    10. Raffles Jakarta

    • Lokasi: Kuningan, Jakarta Selatan
    • Rating: 9/10
    • Harga per malam: mulai dari Rp 3,5 juta

    11. Oakwood Suites La Maison Jakarta

    • Lokasi: Gandaria, Jakarta Selatan
    • Rating: 8,8/10
    • Harga per malam: mulai dari Rp 3,1 juta

    12. JW Marriott Hotel Jakarta

    • Lokasi: Kuningan, Jakarta Selatan
    • Rating: 8,6/10
    • Harga per malam: mulai dari Rp 2,9 juta

    13. InterContinental Hotels Jakarta

    • Lokasi: Pondok Indah, Jakarta Selatan
    • Rating: 8,9/10
    • Harga per malam: mulai dari Rp 2,9 juta

    14. Sheraton Grand Jakarta Gandaria City

    • Lokasi: Kebayoran Baru, Jakarta Selatan
    • Rating: 8,9/10
    • Harga per malam: mulai dari Rp 2,6 juta

    15. Fraser Place Setiabudi

    • Lokasi: Rasuna Said, Jakarta Selatan
    • Rating: 8,8/10
    • Harga per malam: mulai dari Rp 1,8 juta

    16. Hotel Gran Mahakam

    • Lokasi: Gandaria, Jakarta Selatan
    • Rating: 8,9/10
    • Harga per malam: mulai dari Rp 1,8 juta

    17. Gran Melia Jakarta

    • Lokasi: Kuningan, Jakarta Selatan
    • Rating: 8,8/10
    • Harga per malam: mulai dari Rp 1,7 juta

    18. The Grove Suites by Grand Aston

    • Lokasi: Kuningan, Jakarta Selatan
    • Rating: 8,7/10
    • Harga per malam: mulai dari Rp 1,5 juta

    19. Manhattan Hotel Jakarta

    • Lokasi: Rasuna Said, Jakarta Selatan
    • Rating: 8,3/10
    • Harga per malam: mulai dari Rp 1,3 juta

    20. Kemang Icon Hotel

    • Lokasi: Kemang, Jakarta Selatan
    • Rating: 8,1/10
    • Harga per malam: mulai dari Rp 1,1 juta

    21. Mangkuluhur ARTOTEL Suites

    • Lokasi: Setiabudi, Jakarta Selatan
    • Rating: 8,6/10
    • Harga per malam: mulai dari Rp 1,1 juta

    22. Ra Suites Simatupang

    • Lokasi: Cilandak, Jakarta Selatan
    • Rating: 8,9/10
    • Harga per malam: mulai dari Rp 1,1 juta

    23. The St. Regis Jakarta

    • Lokasi: Setiabudi, Jakarta Selatan
    • Rating: 8,9/10
    • Harga per malam: mulai dari Rp 2,9 juta

    Hotel Bintang 5 di Jakarta Barat

    Pullman Jakarta Central Park

    • Lokasi: Tanjung Duren, Jakarta Barat
    • Rating: 8,5/10
    • Harga per malam: mulai dari Rp 2 juta

    Hotel Bintang 5 di Jakarta Utara

    Swissôtel Jakarta PIK Avenue

    • Lokasi: Kamal Muara, Jakarta Utara
    • Rating: 8,5/10
    • Harga per malam: mulai dari Rp 2,4 juta

    Demikian daftar hotel bintang 5 di Jakarta. Semoga dapat membantu detikers yang ingin staycation di hotel mewah.

    (ilf/fds)

    Sumber : travel.detik.com

    Alhamdulillah wisata mobil اللهم صل على رسول الله محمد
    ilustrasi gambar : unsplash.com / Thomas Tucker
  • Spot-spot Nongkrong Estetik di Taman Ismail Marzuki, Catat ya!



    Jakarta

    Taman Ismail Marzuki (TIM) bisa menjadi pilihan sebagai tempat nongkrong hemat. Apa saja spotnya? Catat ya traveler!

    Selain karena gratis, kawasan TIM juga memiliki spot-spot yang estetik untuk berfoto bersama teman-teman atau untuk selfie.

    Letaknya berada di pinggir Jalan Cikini Raya Nomor 73, Menteng, Jakarta Pusat. Biasanya masyarakat ramai mengunjungi tempat ini ketika sore hari.


    Entah itu sehabis para pelajar usai sekolah ataupun pekerja di sekitar area itu yang hendak rehat sejenak untuk sekadar duduk-duduk santai.

    Salah satu petugas keamanan yang berjaga di Taman Ismail Marzuki mengatakan, ketika sore hari tiba yang ditandai mulai banyaknya pedagang yang berjualan, di situlah waktu yang biasanya mulai banyak berdatang masyarakat untuk menikmati sore hari di Cikini.

    Ketika detikTravel berada di Taman Ismail Marzuki dan waktu tepat menunjukkan sekitar pukul 15.45 WIB. Betul saja para pedagang pun mulai bermunculan di area depan Taman Ismail Marzuki.

    Kemudian tak lama berselang, masyarakat yang entah keluar dari gedung-gedung di area Taman Ismail Marzuki atau sekelilingnya mulai menghampiri pinggiran jalan itu.

    Selain pinggiran Jalan Cikini atau area depan Taman Ismail Marzuki, area mana saja sih yang biasa dijadikan tempat nongkrong oleh masyarakat, yuk simak beberapa pilihan spotnya.

    1. Depan Patung Ismail Marzuki

    Tempat ini biasa dijadikan area untuk duduk-duduk santai masyarakat yang hendak menunggu transportasi atau pun yang memang sengaja menjadikan area tersebut sebagai spot nongkrong mereka.

    Selain itu, tepat tak jauh dari patung tersebut ada photo box yang bisa dicoba oleh masyarakat dengan latar belakang patung Ismail Marzuki.

    2. Tangga Gedung Ali Sadikin

    Sebelum masuk ke dalam gedung ini, kamu harus menaiki beberapa anak tangga untuk akses menuju ke Perpustakaan Jakarta. Nah anak tangga inilah yang biasanya juga dijadikan area nongkrong oleh masyarakat.

    tempatnya teduh juga bersih, begitu nyaman untuk duduk-duduk sore sambil bercengkrama dengan teman-teman.

    3. Kolam Planetarium

    Tempat Nongkrong di Taman Ismail MarzukiTempat Nongkrong di Taman Ismail Marzuki Foto: Muhammad Lugas Pribady/detikTravel

    Jika masuk ke outdoor di dalam area Taman Ismail Marzuki dan berada dekat Planetarium, kamu akan menemukan sebuah kolam yang cukup luas.

    Di tempat ini pula terdapat area luas yang biasa dijadikan tempat duduk-duduk santai oleh masyarakat dan biasanya pula area ini dijadikan tempat untuk latihan menari oleh para pelajar.

    Menurut petugas keamanan lainnya yang berada di Taman Ismail Marzuki, Mukti mengatakan untuk aktivitas nongkrong ini diperbolehkan selagi tidak melakukan hal-hal di luar aturan yang sudah ada.

    Kegiatan melanggar norma hingga membuang sampah sembarangan sudah tentu dilarang di sini. Sedangkan untuk waktu, terbilang begitu leluasa karena warga bisa nongkrong hingga malam.

    “Kalau untuk jam operasional itu kita di Taman Ismail Marzuki itu di jam 07.00 pagi mungkin sudah bisa diakses untuk umum hanya saja belum bisa masuk ke area dalam venue, karena untuk venue sendiri dibuka ketika ada kegiatan paling yang bisa diakses itu area outdoor. Dan terkait untuk jam operasional itu sebenarnya kita ada di jam 09.00 sampai 22.00 WIB,” ungkap Mukti.

    Jadi buat kamu yang nyari tempat nongkrong murah dan estetik bisa langsung datang ke Taman Ismail Marzuki. Selain nongkrong-nongkrong di Taman Ismail Marzuki, kamu juga bisa kunjungi Perpustakaan Jakarta.

    Taman Ismail Marzuki dengan bangunan yang berkonsep minimalis ini cocok untuk dijadikan latar belakang foto yang keren.

    4. Perpustakaan Jakarta

    Rasanya seperti kurang afdol jika berkunjung Ke Taman Ismail Marzuki tanpa mengunjungi Perpustakaan Jakarta yang berada di Gedung Ali Sadikin.

    Bukan hanya jadi tujuan tempat baca saja, banyak dari pengunjung yang datang ke sana juga menjadikan perpustakaan tersebut sebagai tempat berfoto karena areanya yang estetik, belum lagi suasana di dalam yang nyaman bikin betah buat nongkrong berlama-lama.

    5. Tangga Kecil Dekat Masjid Amir Hamzah

    Buat kamu yang belum tahu spot nongkrong estetik lainnya di Taman Ismail Marzuki, ini adalah salah satunya.

    Tak terlalu jauh dari Masjid Amir Hamzah terdapat beberapa anak tangga yang bisa dijadikan tempat duduk-duduk santai, tempat yang hening dan sejuk (sore hari) cocok banget buat kamu yang ingin suasana lebih tentram dibanding nongkrong di area depan Taman Ismail marzuki.

    6. Foodcourt Gedung Ali Sadikin

    Buat kamu yang ingin nongkrong dan sambil makan-makanan berat, tempat ini cocok banget deh. Berada di lantai satu, foodcourt ini bisa jadi pilihan kamu ketika ingin nongkrong tapi perut keroncongan.

    Di sini terdapat berbagai pilihan makanannya mulai dari kudapan berat hingga cemilan, dan tentunya juga minuman. Tak jauh dari foodcourt juga terdapat kursi panjang yang dilengkapi dengan meja, bisa bengat buat menikmati makanan kalau kursi di depan foodcourt penuh.

    (wsw/fem)



    Sumber : travel.detik.com

  • Ada Apa di Taman Lapangan Banteng? Ini 6 Aktivitas Seru dan Cara Ke Sana


    Jakarta

    Jakarta memiliki banyak area terbuka cantik yang cocok untuk tempat rekreasi di akhir pekan, salah satunya Lapangan Banteng. Kawasan ini terkenal dengan Monumen Pembebasan Irian Barat yang menjulang tinggi di tengah dan sangat ikonik.

    Taman Lapangan Banteng termasuk landmark strategis di Jakarta. Lokasinya berada tidak jauh dari Masjid Istiqlal dan Katedral Jakarta. Menariknya, berbagai acara kerap digelar di sini sehingga banyak orang yang datang berkunjung.

    Selain itu, area Lapangan Banteng menjadi tempat yang pas untuk berolahraga. Terdapat lapangan bola dan jalur lari di sana. Makin penasaran dengan kawasan taman satu ini? Temukan informasi lebih lengkapnya di bawah.


    Ada Apa Saja di Taman Lapangan Banteng?

    Ada sejumlah spot dan aktivitas seru yang dapat kamu lakukan di Lapangan Banteng, yakni sebagai berikut:

    1. Pertunjukan Air Mancur

    Jadwal Air Mancur Lapangan BantengWarga menyaksikan pertunjukan air mancur menari di Lapangan Banteng, Jakarta, Sabtu (18/6/2022). Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta kembali menghadirkan pertunjukan air mancur menari setiap akhir pekan dan terbagi dalam tiga sesi, yakni pukul 18.30 WIB, 19.30 WIB dan 20.15 WIB, setelah dua tahun ditiadakan akibat pandemi COVID-19. ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/foc.Pertunjukan air mancur di Lapangan Banteng. (Muhammad Adimaja/Antara)

    Ini adalah salah satu daya tarik utama dari Taman Lapangan Banteng. Show air mancurnya digelar hari Sabtu dan Minggu saja pada jam 18.30 dan 19.30. Pertunjukannya semakin meriah dengan berhiaskan lampu warna-warni yang menyala indah di malam hari.

    2. Berbagai Event Seru

    Lapangan Banteng jadi spot langganan berbagai hajatan event. Mulai dari festival makanan, bazar pernak-pernik, pameran tanaman dan satwa, hingga konser. Berbagai acara ini juga yang menarik warga berdatangan ke sana.

    Acara di Taman Lapangan Banteng selanjutnya yang akan diadakan yaitu Festival Raya Indonesia yang berlangsung selama 30 Agustus-1 September 2024. Pengunjung akan menemukan bazar makanan, mini zoo & pet show, sampai konser gratis.

    3. Area Bermain

    Menghabiskan akhir pekan di Lapangan Banteng, Jakarta PusatLapangan Banteng di Jakarta Pusat. (Muhammad Lugas Pribady/detikTravel)

    Kamu akan menemukan area bermain anak di Taman Lapangan Banteng. Di sini anak-anak bisa bermain papan seluncur, ayunan, hingga jungkat-jungkit. Orang tua pastikan tetap memperhatikan anak-anaknya yang sedang bermain di sana ya.

    4. Tempat Olahraga

    Taman Lapangan Banteng menjadi spot yang pas untuk berolahraga. Biasanya pengunjung akan jogging, jalan santai, atau berlari dengan mengitari area taman. Tak sedikit juga bermain sepak bola maupun bermain basket di lapangan khusus yang tersedia.

    5. Spot Foto

    Semenjak revitalisasinya selesai pada 2018 silam, Taman Lapangan Banteng semakin cantik. Hamparan rumput hijaunya dan deretan pepohonannya terlihat asri. Sejumlah tempat duduk juga disebar di beberapa titiknya.

    Di satu area terdapat spot payung warna-warni bergantungan yang sekelilingnya ditanam pohon palem. Tempat-tempat tersebut sering kali dijadikan spot foto andalan oleh para pengunjung.

    Lapangan Banteng beralamatkan di Pasar Baru, Sawah Besar, Jakarta Pusat. Letaknya dekat dengan Masjid Istiqlal dan Katedral Jakarta. Lokasinya pun tidak terlalu jauh dari Monumen Nasional (Monas), sekitar 2 km saja.

    Lapangan Banteng dapat dijangkau menggunakan kendaraan pribadi maupun umum seperti KRL, Transjakarta, MRT, dan transportasi online. Kalau tertarik ke tempat rekreasi ini, simak cara ke Taman Lapangan Banteng dengan berbagai transportasi yang dikutip dari catatan detikcom berikut:

    – Cara ke Lapangan Banteng Naik KRL

    Untuk menuju Taman Lapangan Banteng menggunakan KRL, traveler dapat turun di Stasiun Juanda. Setelahnya, kamu bisa lanjut berjalan kaki berjarak kurang lebih 750 m dengan waktu tempuh sekitar 10 menit. Bisa juga memesan transportasi online menuju ke sana jika lelah berjalan.

    – Cara ke Lapangan Banteng Naik Transjakarta

    Pengguna Transjakarta dapat menaiki bus koridor 6H (Senen-Lebak Bulus) atau 1P (Blok M-Senen) untuk menuju ke sini. Nantinya kamu bisa turun di halte Lapangan Banteng 1, 2, 3, atau halte Kantor Pos Lapangan Banteng 3. Lanjut berjalan sebentar sampai ke area Taman Lapangan Banteng.

    – Cara ke Lapangan Banteng Naik MRT

    Lapangan Banteng juga dapat dijangkau dengan MRT. Nantinya traveler bisa turun di Stasiun Bundaran HI. Lanjut menaiki transportasi online berjarak sekitar 5 km dengan waktu tempuh kisaran 13 menit saja.

    Menghabiskan akhir pekan di Lapangan Banteng, Jakarta PusatLapangan Banteng di Jakarta Pusat. (Muhammad Lugas Pribady/detikTravel)

    Fasilitas Taman Lapangan Banteng

    Fasilitas umum yang tersedia di Lapangan Banteng sudah cukup lengkap. Terdapat mushola, toilet, pos keamanan, sentra UMKM, amfiteater, serta area bermain anak. Hamparan rumput hijau di bawah pohonnya cocok juga jadi spot piknik.

    Kamu juga tidak perlu khawatir kelaparan karena di sekeliling kawasan taman ini berjejer banyak pilihan kuliner yang siap mengganjal perut keroncongan.

    Nah, itu tadi informasi seputar Taman Lapangan Banteng di Jakarta Pusat. Jadi, traveler tertarik berekreasi di sana nggak nih?

    (azn/row)



    Sumber : travel.detik.com

  • Spot Ngonten Baru Nih! Skydeck Sarinah dengan Pemandangan Gedung Tinggi Jakarta



    Jakarta

    Menjelang matahari terbenam merupakan waktu tepat untuk menyaksikan keindahannya kota. Salah satu spot baru yang asyik dikunjungi ada di Sarinah, Jakarta Pusat.

    Skydeck Sarinah itulah nama spot baru ini. Spot ini ramai dijadikan spot santai untuk menikmati sore hari. Di Skydeck ini pengunjung umum bisa hadir tanpa ada syarat apapun atau minimun pembelian.

    Dari pintu masuk Sarinah langsung saja naik menggunakan eskalator ke lantai tiga untuk tiba di Skydeck ini. detikTravel pun menyambangi kawasan ini sekitar pukul 16.00 WIB, Kamis (29/8) lalu.


    Terpantau Skydeck Sarinah ini belum terlalu ramai pada jam-jam tersebut. Area yang cukup luas ini bisa dieksplor oleh pengunjung untuk dijadikan spot berfoto dan membuat konten video.

    Salah satunya adalah Fernando yang merupakan konten kreator asal Yogyakarta, ia mengetahui Skydeck Sarinah ini pun dari media sosial. Maka dari itu selagi berkunjung ke Jakarta, Fernando langsung menentukan destinasi pertamanya ke area ini.

    “Awalnya lihat di TikTok, viewnya bagus, city lightnya bagus sama sunset juga katanya. Makanya ke sini pengen ngebuktiin bener apa nggak, ternyata bener sih city viewnya keliatan (khasnya) Jakarta,” katanya saat dihampiri detikTravel.

    Skydeck SarinahSkydeck Sarinah Foto: Muhammad Lugas Pribady/detikTravel

    Angin yang berhembus membuat suasana menjadi sejuk ditambah matahari yang sudah tidak begitu menyengat. Skydeck Sarinah juga menyuguhkan panorama gedung-gedung yang megah.

    Belum lagi sinar lampu yang menyala kala malam hari tiba, tak lupa pengunjung yang datang ke Skydeck ini mengabadikan momen dengan view gedung-gedung pencakar langit dan Jalan MH Thamrin.

    Serupa dengan Fernandi, Rini yang datang bersama keluarganya yang tengah berkeliling Jakarta menggunakan transportasi umum menyebut tempat ini bagus untuk spot foto. Namun, warga asli Cibubur ini mengeluh soal kurangnya pepohonan.

    “Bagus cuma mungkin kurang pohon ya agak gersang, maksudnya agak gersang gitu. Mungkin kalau tamannya agak sedikit diperbanyak, tapi bagus sih maksudnya backgroundnya ya,” ungkapnya.

    Skydeck SarinahSkydeck Sarinah Foto: Muhammad Lugas Pribady/detikTravel

    Skydeck Sarinah ini mulai ramai di jam-jam selepas magrib hingga malam. Rooftop Mal Sarinah bisa dikunjungi sejak pukul 10.00 hingga 21.20 WIB.

    Untuk lebih menikmati suasana sore hari dengan nyaman, pengunjung bisa membeli makan atau minuman di gerai-gerai di dalam mal Sarinah.

    Karena di area Skydeck ini tidak terdapat gerai makan atau minuman. Namun yang perlu diingat adalah untuk membuang sampah bekas makanan dan minuman ke tempat sampah yang sudah disediakan.

    “Pengunjung boleh bawa makan ke sini, tapi harus produk dari dalam Sarinah ya, kalau itu boleh,” terang petugas keamanan di lokasi.

    (wsw/wsw)



    Sumber : travel.detik.com

  • Deretan Tempat Wisata yang Didatangi IShowSpeed Selama di Indonesia



    Jakarta

    Kedatangan Youtuber IShowSpeed diyakini turut mempopularkan destinasi pariwisata Indonesia. Secara langsung, dia mempromosikan tempat-tempat wisata di Indonesia yang didatangi.

    Youtuber IShowSpeed mencuri perhatian netizen Indonesia karena kedatangannya disiarkan langsung dan ditonton lebih sejuta netizen. Selama di Indonesia, dia berkeliling Jakarta, Yogyakarta dan Bali.

    detikTravel telah merangkum nih, tempat wisata yang didatangi IShowSpeed selama di Indonesia. Bisa jadi referensi liburan kamu.


    1. Kota Tua

    Heboh! IShowSpeed Dapat Hadiah Nasi Padang dari PenggemarnyaSpeed di Kota Tua, Jakarta (YouTube/IShowSpeed)

    Hari pertamanya, IShowSpeed langsung live streaming di Kota Tua, Jakarta. Saat dia turun dari mobil, para penggemar langsung menyambutnya.

    Selama di Kota Tua, Speed seru-seruan dengan bermain di Rumah Hantu. Dia juga mencoba jasa ramal dan bergoyang mengikuti alunan musik angklung yang bergema di Kota Tua.

    2. Pasar Baru

    Setelah dari Kota Tua, Speed menuju ke pasar Baru di Jakarta Pusat. Selama berada di Pasar Baru, IShowSpeed sempat mengunjungi toko batik dan melayani permintaan swafoto pengunjung. Para penggemar terus mengikuti IShowSpeed sampai dia masuk ke mobilnya, yang diparkir di depan Antara Heritage Center di Pasar Baru.

    Informasi nih untuk traveler, di pasar Baru kamu juga bisa belanja thrifting lho. Banyak barang-barang menarik yang bisa kamu buru.

    Serta Pasar Baru juga surga bagi pecinta fotografi, karena banyak tempat service kamera bagus di sana.

    3. Jalan Malioboro

    IShowSpeed di Malioboro, Yogyakarta, Sabtu (21/9/2024).IShowSpeed di Malioboro, Yogyakarta, Sabtu (21/9/2024). (Youtube.com/@IShowSpeed)

    Saat di Yogyakarta, Speed menyusuri Jalan Malioboro dengan andong hingga ke Pasar Beringharjo. Dia pun streaming memakai blangkon yang dihadiahi oleh fansnya.

    Speed pun singgah ke toko batik bernama Hamzah Batik. Ia disambut para penari dari Raminten Kabaret Show. Di sana, ia dikenakan batik dan disodori makanan khas Yogyakarta yakni bakpia.

    Di sana Speed juga menabuh gendang diiringi pemusik tradisional lainnya. Kemudian, petualangannya berlanjut dengan memasuki area toko batik. Matanya langsung tertuju ke tenan penjual jamu. Penasaran, ia pun memesan segelas minuman tradisional tersebut. Oleh sang acaraki, Speed diberikan segelas jamu beras kencur.

    4. Alun-alun Kidul Yogyakarta

    iShowSpeediShowSpeed di Alun-alun Kidul Yogyakarta (YouTube)

    Speed selalu dikerubungi fansnya saat berkeliling Yogyakarta. Salah satunya saat dia menyuruh fansnya dengan kalimat “minggir lu miskin” saat berkunjung ke Alun-alun Kidul. Kalimat spontan itu pun langsung trending di medsos.

    Netizen merespons dengan berbagai komentar kocak. Mereka juga menanyakan siapa yang mengajarkan kalimat itu kepada Speed?

    5. Uluwatu

    Sat di Bali, salah satu tempat yang dituju Speed adalah menonton tari kecak di Uluwatu. Tak hanya menonton, Speed juga ikut menari dan melenggak-lenggok dengan gerakan ala kadarnya bersama seniman yang sedang tampil.

    Soraakn penonton pun meramaikan penampilan Speed. Apalagi saat Speed dan Hanoman memparodikan selebrasi ala CR7.

    6. Monkey Forest Ubud

    Momen monyet curi mikrofon IShowSpeed.Momen monyet curi mikrofon IShowSpeed di Monkey Forest Ubud (YouTube/IShowSpeed)

    Berkunjung ke Monkey Forest Ubud, Speed juga berselfie dan berfoto dengan monyet liar di sana. Saking lucunya, foto selfie Speed dengan monyet pun tersebar dan jadi bulanan lelucon netizen.

    Saat di sana, mikrofon Speed sempat dibawa kabur oleh para monyet. Setelah pencarian dan mencoba melacak, Speed terpaksa merelakan mikrofonnya hilang.

    7. Pasar Seni Ubud

    Saat di Pasar Seni Ubud, Speed membeli jersey Cristiano Ronaldo. Saat berkeliling Speed pun ditawari souvenir spesial berbentuk penis. Dia pun kaget dan bertanya fungsi dari benda khas dari Bali ini. Kemudian pedagang mengatakan jika itu adalah pembuka botol.

    8. Naik ayunan raksasa di Ubud

    Selama di Bali, Speed terlihat berkunjung ke beberapa tempat menarik. Salah satunya adalah ayunan raksasa yang lokasinya berada di pinggir tebing Ubud. Aksi kocaknya pun terlihat saat ayunan diayun lebih keras dan tinggi. Speed pun berteriak-teriak “santai.. santai..”.

    (sym/fem)



    Sumber : travel.detik.com

  • Gereja Ayam Pasar Baru Tempat Ibadah Kelas Menengah-Bawah di Era Kolonial Belanda



    Jakarta

    Di era kolonial Belanda, warga kelas menengah dan bawah pemeluk protestan tidak leluasa beribadah. Salah satu gereja yang membuka pintu untuk kelompok itu adalah Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat (GPIB Pniel) atau ‘Gereja Ayam’.

    Sekretaris Pengurus ‘Gereja Ayam’, Yosie, menjelaskan kepada detikTravel, Kamis (29/8/2024) gereja itu dulu merupakan kapel kecil. Kapel itu dibangun pada tahun 1900.

    “Dulu gereja itu di zaman Belanda untuk golongan menengah ke atas di Gereja Immanuel yang di depan (Stasiun) Gambir itu untuk golongan menengah ke atas. Tapi kalau untuk golongan menengah ke bawah itu ya di sini,” kata Yosie.


    Seiring berjalannya waktu, jemaat yang beribadah di kapel itu semakin banyak. Kapel tersebut kemudian digeser, dari yang awalnya berada di area belakang gereja, kini ke tempat saat ini berdiri di Jalan Samanhudi No.12, Jakarta Pusat.

    “Mulanya ini nggak di sini, letaknya di belakang gedung ini mulanya hanya sebuah kapel. Tapi karena makin lama makin banyak orangnya jadi pindah ke sini dibuatnya 1913,” kata Yosie.

    Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat (GPIB Pniel) atau 'Gereja Ayam' di Pasar Baru, Jakarta PusatGereja Protestan di Indonesia bagian Barat (GPIB Pniel) atau ‘Gereja Ayam’ di Pasar Baru, Jakarta Pusat (Muhammad Lugas Pribady/detikcom)

    Bangunan gereja yang bergaya campuran Italia dan Portugis ini disebut Neo Romani yang dibangun oleh arsitek Belanda bernama Ed Cuypers dan Hulswit. Penamaan ‘Gereja Ayam’ sendiri tercetus dari sebutan masyarakat sekitar, karena di atas gereja ini terdapat ornamen berbentuk ayam.

    Yosie mengatakan ornamen tersebut merupakan alat penunjuk arah angin yang dirancang pada saat itu. Sayangnya, penunjuk arah angin berbentuk ayam ini sudah tidak berfungsi lagi. Kini ornamen ayam tersebut sudah menjadi ikon gereja ini.

    Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat (GPIB Pniel) atau 'Gereja Ayam' di Pasar Baru, Jakarta PusatGereja Protestan di Indonesia bagian Barat (GPIB Pniel) atau ‘Gereja Ayam’ di Pasar Baru, Jakarta Pusat (Muhammad Lugas Pribady/detikcom)

    “Ini dikenalnya dengan ‘Gereja Ayam’ itu kan kita di atas itu ada ayam. Zaman dahulu ayam itu dipergunakan sebagai alat penunjuk arah mata angin, tapi di dalam lingkungan masyarakat sekitar sini karena lihat ada ayam di atas situ jadi dikenal ini dengan ‘Gereja Ayam’,” kata Yosie.

    Peninggalan-peninggalan masa lampau di ‘Gereja Ayam’ ini masih terjaga, bahkan bangku-bangku di dalam gereja masih bangku dari tahun 1913. Terdapat pula Alkitab berbahasa Belanda pemberian ratu Belanda, Sophian Fredrika Mathilda pada tahun 1855.

    Adapun bejana baptis yang sudah berumur lebih dari 300 tahun. Tampak bangun dari luar pun tak ada yang berubah signifikan dari pertama dibangun, ‘Gereja Ayam’ juga sudah ditetapkan menjadi cagar budaya pada tahun 2015.

    (iah/iah)



    Sumber : travel.detik.com

  • Saat Davy Linggar dan Andra Matin Duet di Pameran ROH Project



    Jakarta

    Seniman Davy Linggar menggelar pameran temporer di galeri ROH Project. Yang bikin istimewa, pameran itu merupakan kolaborasinya dengan arsitek ternama, Andra Matin.

    Davy memamerkan 40 lukisan karyanya dalam pameran bertajuk ‘View Finder’ yang merupakan seri dari ‘Following Mother Nature #1-12’ di galeri yang beralamat di Jalan Surabaya No. 66, Jakarta Pusat. Karya-karya Davy merupakan dari hasil-hasil jepretan kameranya dengan objek tangan yang bersatu, kemudian dicurahkannya dalam lukisan.

    detikTravel berkunjung ke pameran itu pada Jumat (27/9/2024). Di dalam galeri itu ramai pengunjung yang menikmati karya sekaligus berfoto dengan instalasi rumah karya Andra Matin dan juga lukisan dari Davy Linggar.


    Salah satu staf galeri ROH Project, yang tidak mau disebutkan namanya, menceritakan kepada detikTravel terkait pameran yang tengah digelar sejak 25 September hingga 27 Oktober ini.

    “Jadi ‘View Finder’ ini diambil dari terminologi fotografi jadi bisa kita bilang ini kaya jendela bidik kaya lagi ngeker gitu, ini jendela bidik yang ada pada kamera yang fungsinya untuk melihat objek yang akan difoto. Nah ini pameran tunggal yang kedua, pameran yang pertama Mas Davy itu temanya ‘ISO’ jadi ada kaitannya,” ujarnya.

    Ia juga mengatakan banyak orang-orang yang juga mengenal Davy Langgar dari dunia fotografi. Namun, kini berawal dari objek hasil kameranya itu Davy memindahkan ke dalam kanvas dengan kuas dan beragam warna.

    “Nah ‘View Finder’ itu sebenarnya dia mau melihat hal-hal yang ada di sekitar Mas Davy-nya sendiri, kalau kita lihat kenapa objek-objeknya banyak tangan dengan background yang berbeda. Jadi sebenarnya kenapa tangan, bisa dijelasin juga dengan seandainya dia punya keinginan yang nggak mungkin terwujud tanpa ada tangan-tangan yang melakukannya,” kata staf itu.

    Lukisan-lukisan itu berpadu dengan instalasi rumah karya Andra Matin. Mereka berteman erat.

    Staf itu menjelaskan bahwa Andra Matin membuat instalasi bangunan rumah karena dia memang seorang arsitek. Dan, Davy merupakan seniman yang lebih sering mengerjakan karya di rumah daripada di studio yang dimilikinya.

    “Ketika Mas Aang (sapaan karib Andra Martin) tahu Mas Davy mau pameran, dia bersukarela untuk mau bikinin instalasi rumah ini. Nah, mungkin yang jadi pertanyaan kenapa bentuknya rumah. Jadi, memang Mas Andra kan arsitek ya dan kenapa rumah, kalau kata Mas Davy sendiri karena banyak hal-hal yang ia kerjakan khususnya karya-karya yang ada di ruang pamer ini banyak dikerjakan di rumah,” kata dia.

    Pengunjung tampaknya amat terkesan dengan instalasi rumah itu. Mereka menjadikannya sebagai objek mereka untuk berfoto.

    Salah satu pengunjung bernama Fadli menceritakan kesannya saat berada di pameran Davy Linggar ini. Baginya karya-karya lukisan Davy, walaupun objeknya sama tetapi memiliki makna yang berbeda.

    “Kalau menurut saya satu hal yang bentuknya sama atau orang ya tapi punya sifat yang berbeda-beda, jadi mencerminkan itu,” kata Fadli.

    “Nah kalau ini lebih seru lagi sih (instalasi rumah) kalau dari luar kan kaya biasa aja, tapi pas kita masuk kan ada jalurnya gitu. Nah, itu jadi kaya lagi ada di suatu tempat di mana gitu seru aja,” kata dia.

    Jika ingin berkunjung ke galeri ROH Project ini pengunjung tak perlu mengeluarkan biaya, untuk operasional galeri buka mulai hari Rabu hingga Minggu. Dari Rabu hingga Jumat, galeri buka sejak pukul 13.00 hingga 19.00 WIB dan Sabtu dan Minggu pukul 11.00 hingga 19.00 WIB.

    (fem/fem)



    Sumber : travel.detik.com

  • Eksplorasi Sejarah di Pasar Baru, Cek 4 Bangunan Ikonik di Sana


    Jakarta

    Pasar Baru bisa menjadi pilihan untuk mengisi waktu luang buat traveler di Jakarta. Ada apa saja ya?

    Ternyata di pusat perbelanjaan tradisional yang legendaris di Jalan Pasar Baru, Kelurahan Pasar Baru, Kecamatan Sawah Besar, Jakarta Pusat itu tersimpan banyak cerita menarik tentang masa kejayaannya sebagai salah satu pusat perdagangan tertua di Jakarta.

    Traveler bisa merasakan nuansa kolonial yang masih terasa kental sambil menelusuri bangunan-bangunan bersejarah, toko-toko tua yang telah berdiri sejak zaman Belanda. Selain itu, jejak-jejak penting yang mencerminkan perjalanan ekonomi, budaya, dan kehidupan sosial kota ini dari masa ke masa.


    Setidaknya terdapat empat bangunan bersejarah di kawasan Pasar Baru yang ditetapkan oleh Anies Baswedan, di antaranya ialah Vihara Sin Tek Bio, Toko Tio Tek Hong, bangunan Toko Kompak dan bangunan Lembaga Biologi Molekuler Eijkman.

    Berikut empat bangunan bersejarah di Pasar Baru:

    1. Vihara Sin Tek Bio

    Umat Konghucu Berdatangan Kelenteng Sin Tek BioUmat Konghucu Berdatangan Kelenteng Sin Tek Bio (Tsarina Maharani/detikcom)

    Vihara Sin Tek Bio dengan nama Vihara Dharma Jaya merupakan salah satu vihara yang menjadi bagian dari sejarah di Jakarta diperkirakan sejak 1698. Terletak di kawasan Pasar Baru, Jakarta Pusat, wihara itu menjadi saksi bisu perjalanan waktu dan perkembangan masyarakat Tionghoa di Indonesia, khususnya Ibu Kota.

    Vihara Sin Tek Bio menjadi pusat spiritual sekaligus simbol penting bagi masyarakat Tionghoa yang telah lama mendiami kawasan tersebut. Di dalam vihara ini, terdapat beberapa altar pemujaan yang dihiasi dengan beberapa patung dewa-dewa dan leluhur, menambah suasana sakral dan penuh khidmat di setiap sudut ruangan.

    Wihara ini didominasi oleh nuansa merah yang melambangkan keberuntungan dan kebahagiaan, sementara lilin-lilin besar yang terus menyala memenuhi ruangan utama, menyebarkan cahaya hangat dan menciptakan atmosfer spiritual yang mendalam, di mana umat datang untuk berdoa, memohon berkah, dan mencari ketenangan batin.

    “Banyak jemaat datang dari mana-mana, jika nanti masuk banyak sekali dewa-dewanya karena disumbangkan dari si jemaat-jemaat itu. Tapi, setiap klenteng itu punya dewa utama. Nah, dewa utama di sini yang diangkat sebagai tuan rumahnya. Ini adalah dewa bumi, kenapa dewa bumi, karena ada hubungan dengan pendiri-pendirinya adalah petani karena petani mereka berdoa ke dewa bumi supaya subur,” kata Farid Mardhiyanto, cofounder Jakarta Good Guide, pada Sabtu (5/10/2024).

    “Altar utama itu yang di tengah. Biasanya kalau jemaat sembahyang, pertama di altar itu untuk menaruh dupa, kemudian itu yang kedua yang altar utamanya si tuan rumahnya. Itu wajib. Kemudian, barulah mereka berkeliling untuk milih dewa Kwan Im, dewa kesehatan, dewa jodoh kah, keberuntungan kah dan sebagainya,” Farid menambahkan.

    Walaupun Pasar Baru kini dipadati oleh gedung-gedung, toko-toko yang menjual barang-barang dan elektronik, serta kafe kontemporer Vihara Sin Tek Bio tetap mempertahankan kesederhanaan dan keagungannya. Banyak orang yang mengunjungi vihara ini bukan hanya untuk beribadah, tetapi juga untuk merasakan sentuhan sejarah di setiap sudut vihara.

    2. Toko Tio Tek Hong

    Toko Tio Tek Hong ditetapkan melalui Kepgub Nomor 239 tahun 2022 dan diperkirakan sudah ada sejak 1900. Toko Tio Tek Hong didirikan oleh Tio Tek Hong, seorang pengusaha Tionghoa yang inovatif.

    Pada saat itu, Batavia sedang berkembang sebagai pusat perdagangan yang ramai, dengan pengaruh kolonial Belanda yang kuat. termasuk Tio Tek Hong memanfaatkan peluang untuk membuka usaha yang melayani kebutuhan masyarakat luas.

    “Nah toko Tio Tek Hong pertama didirikan oleh beliau, gedung itu berubah menjadi toko populer. Dulu adalah toko Tio Tek Hong. Dia jual yang pertama alat kelontong sampe kemudian akhirnya beliau menjual chronograph, dan juga gramofon, dan piringan hitam,” kata Farid.

    “Kemudian, pada 1940-an gedung itu dijual karena Tio Tek Hong mulai turun gara-gara krisis ekonomi. Akhirnya, beliau mulai menjual tokonya, terus kemudian balik nama. Tokonya dibeli oleh perusahaan rekaman dan di situlah tempat direkam pertama kalinya lagu Indonesia Raya. Jadi lagu Indonesia Raya direkam ke piringan hitam untuk pertama kalinya di rekaman toko populer ini. Namun, kepemilikan bukan Tio Tek Hong lagi,” ujar Farid.

    3. Toko Kompak

    Bangunan bersejarah itu didirikan di kawasan Jalan Pasar Baru, No 18A, Jakarta Pusat. Selain sejarah, bangunan itu memiliki daya tarik arsitektur yang kuat.

    Bangunan itu dikenal dengan nama Sin Siong Bouw, kemudian diganti menjadi Toko Kompak akibat kebijakan pelarangan nama Tionghoa. Bangunan itu merupakan contoh arsitektur China selatan asli dengan interior warna merah.

    Dikutip dari banner dipajang di besi Toko Kompak, bangunan itu didirikan pada abad ke-19, bahkan lebih tua dari Pasar Baru. Toko ini dahulu merupakan kediaman Majoor der Chinezen keempat Batavia yaitu (Tio Tek Ho).

    4. Bangunan Lembaga Biologi Molekuler Eijkman

    Dikutip dari buku ‘Eksperimen Keji Kedokteran Penjajahan Jepang: Tragedi Lembaga Eijkman dan Vaksin Mut Romusha 1944-1945’ ditulis oleh J. Kevin Baird & Sangkot Marzuki pertama kali didirikan pada tahun 1888. Pendirinya merupakan peneliti dari Belanda yang populer pada saat itu yaitu Christiaan Eijkman.

    Bangunan Lembaga Eijkman terletak di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, memiliki nilai sejarah yang tinggi. Bangunan berarsitektur kolonial ini awalnya lembaga ini berfokus pada penelitian penyakit tropis seperti malaria, beri-beri, dan kolera.

    Temuan penting Eijkman mengenai penyebab dan pencegahan penyakit beri-beri hingga soal asal-usul manusia Indonesia. Memberikan beberapa sumbangsih penelitian di bidang biologi dan kedokteran.

    Selama pandemi COVID-19, LBM Eijkman memainkan peran penting dalam penelitian terkait virus covid-19 dengan pengembangan vaksin Merah Putih. Namun, pada 2022, lembaga ini mengalami restrukturisasi, dan fungsinya digabungkan ke dalam Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yaitu ketua BRIN Dr Laksana Tri Handoko, M.Sc.

    (fem/fem)



    Sumber : travel.detik.com

  • Tiga Tempat Bersejarah Lahirnya Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928


    Jakarta

    Ikrar Sumpah Pemuda yang lahir pada 28 Oktober 1928 menjadi bagian dari perjuangan bangsa Indonesia untuk menumbuhkan semangat persatuan melawan kolonialisme. Ikrar ini merupakan rumusan hasil Kongres Pemuda II yang diselenggarakan di tiga tempat berbeda.

    Kongres Pemuda II diketahui dibagi menjadi tiga kali rapat, yang masing-masingnya digelar di lokasi berbeda di Jakarta. Di mana saja itu?

    3 Lokasi Bersejarah Lahirnya Sumpah Pemuda

    Mengutip buku Sejarah Pergerakan Nasional oleh Fajriudin Muttaqin dan Wahyu Iryana, berikut tempat bersejarah lahirnya Sumpah Pemuda


    1. Gedung Katholieke Jongenlingen Bond (KJB)

    Sidang pertama Kongres Pemuda II dilangsungkan pada Sabtu, 27 Oktober 1928 silam. Lokasi rapatnya digelar di Gedung Katholieke Jongenlingen Bond (KJB), Waterlooplein Noord. Kini, gedung yang terletak di kawasan Lapangan Banteng tersebut difungsikan sebagai Sekolah Santa Ursula.

    Kala itu, rapat dibuka oleh ketua kongres yaitu Sugondo Djojopospito dengan menjelaskan sejarah pergerakan bangsa Indonesia. Mulai dari kemunculan organisasi Budi Utomo hingga perkumpulan pemuda yang bersifat kedaerahan, seperti Jong Java, Jong Sumatranen Bond, Jong Celebes, dan Jong Ambon.

    2. Gedung Oost Java Bioscoop

    Tempat sidang kedua pada 28 Oktober 1928 yaitu Gedung Oost Java Bioscoop, Koningsplein Noord. Isi rapatnya membahas soal pendidikan Indonesia yang masih harus diperbaiki dan memiliki sistem tersendiri.

    Gedung tersebut dahulu lokasinya berada di Jalan Medan Merdeka Utara atau sekitaran Istana Negara dan Mahkamah Agung. Sayangnya, gedung bersejarah ini sekarang sudah tidak berdiri lagi.

    3. Gedung Indonesische Clubgebouw

    Lokasi ketiga pertemuan Kongres Pemuda II adalah Gedung Indonesische Clubgebouw. Di sidang terakhir ini, hasil rumusan yang berupa ikrar Sumpah Pemuda diumumkan.

    Gedung Indonesische Clubgebouw terletak di Jalan Kramat Raya Nomor 106, Jakarta Pusat. Kini gedungnya dialihfungsikan menjadi Museum Sumpah Pemuda.

    Dilansir situs Kemdikbud, gedung tersebut ditetapkan sebagai cagar budaya pada 10 Januari 1972. Gedung Indonesische Clubgebouw diberi pemugaran dan diresmikan pada 20 Mei 1973 sebagai Gedung Sumpah Pemuda.

    Hingga akhirnya, gedung tersebut ditetapkan sebagai Museum Sumpah Pemuda pada 7 Februari 1983 yang dikelola oleh Direktorat Jenderal Kebudayaan, di bawah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

    Di museum ini, traveler dapat melihat berbagai koleksi bersejarah yang berkaitan dengan lahirnya ikrar Sumpah Pemuda. Mulai dari catatan hasil Kongres Pemuda, Monumen Persatuan Pemuda, hingga patung para tokoh perumus ikrar ini. Biola milik WR Soepratman yang digunakan untuk memainkan lagu Indonesia Raya pertama kalinya saat penutupan Kongres Pemuda II juga dapat dilihat di sana.

    Jika tertarik berkunjung ke Museum Sumpah Pemuda, detikers dapat datang di hari Selasa-Minggu dari jam 08.00-16.00 WIB. Tiket masuknya juga sangat terjangkau, Rp 5.000 untuk dewasa dan Rp 3.000 untuk anak-anak.

    (azn/row)



    Sumber : travel.detik.com

  • 10 Tempat Staycation di Jakarta dengan View City Light yang Keren


    Jakarta

    Staycation merupakan salah satu cara yang dilakukan banyak orang untuk melepas penat. Pada umumnya, staycation dilakukan dengan menginap semalam saja di hotel.

    Apa saja yang dilakukan saat staycation? Mulai dari streaming film, berenang, gym, atau memesan makanan yang kamu suka. Selain itu, ada juga yang ingin menikmati pemandangan kota di malam hari atau disebut city light.

    Nah, ada sejumlah hotel di Jakarta yang menawarkan pemandangan kota di malam hari yang keren. Penasaran? Simak ulasannya dalam artikel ini.


    Tempat Staycation di Jakarta dengan View City Light

    Jakarta memang dipenuhi oleh gedung-gedung pencakar langit, terutama di kawasan Sudirman, Kuningan, hingga SCBD. Agar bisa menikmati pemandangan city light Jakarta dengan puas, sebaiknya pilih tempat staycation yang berada di pusat kota dan pilih kamar di lantai atas.

    Nah, bagi travelers yang ingin staycation di hotel dengan view city light terbaik, berikut beberapa hotelnya yang telah dirangkum tim detikTravel:

    1. Harris Suites FX Sudirman

    Tempat staycation di Jakarta dengan view city light terkeren.Foto: Situs resmi Harris Suites FX Sudirman

    Rekomendasi yang pertama ada Harris Suites FX Sudirman. Hotel ini kerap menjadi pilihan banyak orang yang ingin staycation sambil menikmati view city light, sebab lokasinya berada di pusat kota sehingga memudahkan untuk melihat pemandangan gedung-gedung di malam hari.

    • Lokasi: Jalan Jenderal Sudirman, Pintu Satu Senayan, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan
    • Rating: 8,6/10
    • Harga: mulai dari Rp 1,1 jutaan per malam.

    2. Pan Pacific Jakarta

    Tempat staycation di Jakarta dengan view city light terkeren.Foto: Situs resmi Pan Pacific

    Punya budget lebih untuk staycation semalaman? Pan Pacific bisa menjadi opsi menarik. Lokasi hotelnya yang berada di pusat kota dijamin membuat travelers puas melihat pemandangan Jakarta di malam hari.

    • Lokasi: Luminary Tower, Jalan MH Thamrin No 10, Jakarta Pusat
    • Rating: 9,7/10
    • Harga: mulai dari Rp 2,9 jutaan per malam.

    3. W Home Benhil

    Buat travelers yang punya budget terbatas, W Home Benhil bisa menjadi pilihan terbaik untuk staycation sambil menikmati pemandangan kota Jakarta. Walau kamu tak bisa melihat pemandangan kota dari dalam kamar, tapi tersedia area rooftop lengkap dengan cafe untuk menikmati view city light Jakarta.

    • Lokasi: Jalan Bendungan Jatiluhur No 60, Bendungan Hilir, Jakarta Pusat
    • Rating: 8,8/10
    • Harga: mulai dari Rp 320 ribuan per malam.

    4. Shangri-La Jakarta

    Tempat staycation di Jakarta dengan view city light terkeren.Foto: Situs resmi Shangri-La

    Rekomendasi tempat staycation di Jakarta dengan view city light selanjutnya adalah Shangri-La. Hotel yang satu ini sudah terkenal dengan pelayanannya yang sangat baik, sehingga travelers akan puas meski hanya menginap semalam.

    • Lokasi: Jalan Jenderal Sudirman Kavling 1, Tanah Abang, Jakarta Pusat
    • Rating: 9/10
    • Harga: mulai dari Rp 2,2 jutaan per malam.

    5. Hotel Mulia Senayan

    Tempat staycation di Jakarta dengan view city light terkeren.Foto: Situs resmi Hotel Mulia Senayan

    Hotel bintang lima ini sudah terkenal akan pelayanannya yang sangat baik. Selain itu, Hotel Mulia Senayan juga menawarkan view city light Jakarta yang ciamik dari dalam kamar. Bahkan, kamu bisa melihat Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) jika memesan kamar hotel yang mengarah langsung ke sana.

    • Lokasi: Jalan Asia Afrika, Jakarta Pusat
    • Rating: 8,8/10
    • Harga: mulai dari Rp 2,8 jutaan per malam.

    6. Manhattan Hotel Jakarta

    Jika kamu ingin staycation di kawasan yang dekat dengan pertokoan dan mal, Manhattan Hotel Jakarta bisa menjadi pilihan terbaik. Selain itu, kamu bisa menikmati view city light Jakarta dari dalam kamar atau kolam renang outdoor yang terletak di lantai atas.

    • Lokasi: Jalan Prof Dr Satrio, Kuningan, Jakarta Selatan
    • Rating: 8,3/10
    • Harga: mulai dari Rp 1 jutaan per malam.

    7. The Langham Jakarta

    Tempat staycation di Jakarta dengan view city light terkeren.Foto: Situs resmi The Langham

    Ingin menikmati view city light Jakarta sambil merasakan tidur di kamar hotel bintang lima? The Langham jawabannya. Memang, harga kamar per malamnya termasuk salah satu yang termahal, tetapi travelers dijamin puas dengan pelayanannya.

    • Lokasi: District 8 SCBD, Jakarta Pusat
    • Rating: 9,1/10
    • Harga: mulai dari Rp 2,8 jutaan per malam.

    8. Fairmont Jakarta

    Tak jauh dari Hotel Mulia Senayan, terdapat sebuah hotel bintang lima yang juga menawarkan view city light Jakarta terbaik, yakni Fairmont. Salah satu pemandangan paling ciamik dari hotel ini adalah mengarah langsung ke lapangan Senayan Golf Club.

    • Lokasi: Jalan Asia Afrika No 8, Jakarta Pusat
    • Rating: 8,9/10
    • Harga: mulai dari Rp 3,4 jutaan per malam.

    9. The Westin

    Tempat staycation di Jakarta dengan view city light terkeren.Foto: Situs resmi The Westin

    Hotel yang satu ini juga terkenal akan pemandangan city light Jakarta. Selain menikmati view dari dalam kamar, cobalah untuk melihat pemandangan Jakarta dari restoran yang berada di lantai atas, dijamin bikin travelers terpukau!

    • Lokasi: Jalan H.R Rasuna Said, Setiabudi, Jakarta Selatan
    • Rating: 8,9/10
    • Harga: mulai dari Rp 2,4 jutaan per malam.

    10. Raffles Jakarta

    Tempat staycation di Jakarta dengan view city light terkeren.Foto: Situs resmi Raffles Jakarta

    Satu lagi tempat staycation yang menawarkan view city light di Jakarta, yakni Raffles hotel. Tak hanya menikmati pemandangan dari dalam kamar, kamu juga bisa melihat pemandangan gedung pencakar langit dari area restoran dan bar.

    • Lokasi: Ciputra World, Jalan Prof Dr Satrio, Kuningan, Jakarta Selatan
    • Rating: 9/10
    • Harga: mulai dari Rp 3,1 jutaan per malam.

    Itu dia daftar tempat staycation di Jakarta dengan view city light. So, tertarik menginap di hotel mana travelers?

    (ilf/row)



    Sumber : travel.detik.com