Tag: jamaah

  • Umat Islam Terbagi 73 Golongan, Hanya 1 yang Disebut Selamat


    Jakarta

    Umat Islam disebut akan terbagi menjadi 73 golongan pada akhir zaman. Dari jumlah tersebut, dikatakan hanya satu golongan yang bakal selamat.

    Terpecahnya umat Islam dalam puluhan golongan tersebut dikatakan dalam hadits yang berasal dari Abu Hurairah RA. Ia mendengarnya dari Rasulullah SAW. Berikut bunyinya,

    عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اِفْتَرَقَ الْيَهُوْدُ عَلَى إِحْدَى أَوْ ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً، وَتَفَرَّقَتِ النَّصَارَى عَلَى إِحْدَى أَوْ ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِيْ عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً.


    Artinya: “Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, ‘Kaum Yahudi telah terpecah menjadi tujuh puluh satu (71) golongan atau tujuh puluh dua (72) golongan, dan kaum Nasrani telah terpecah menjadi tujuh puluh satu (71) atau tujuh puluh dua (72) golongan, dan umatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga (73) golongan.” (HR At-Tirmidzi dan ia mengatakannya hasan shahih)

    Satu Golongan Umat Nabi yang Selamat

    Dalam kitab Sunan At-Tirmidzi juga terdapat riwayat serupa yang statusnya hasan dengan redaksi lebih panjang. Pada riwayat ini turut diterangkan satu golongan umat nabi yang bakal selamat kelak di akhir zaman.

    Riwayat ini berasal dari Mahmud bin Ghailan, dari Abu Dawud al-Hafari, dari Sufyan ats-Tsauri, dari Abdurrahman bin Ziyad al-Afriqi, dari Abdillah bin Yazid, dari Abdillah bin Amr yang mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda,

    “Sungguh akan terjadi pada umatku apa yang telah terjadi pada bani Israil, tanpa ada perbedaan sama sekali. Sampai-sampai jika ada seseorang di antara mereka berzina dengan ibunya secara terang-terangan, maka di antara umatku ada juga orang yang berbuat demikian. Bani Israil akan terpecah menjadi tujuh puluh dua golongan, dan umatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga aliran, semuanya masuk neraka, kecuali satu golongan.”

    Para sahabat bertanya, “Siapakah golongan itu, wahai Rasulullah?”

    Rasulullah SAW menjawab, “(Yaitu) mereka yang mengikuti tuntunanku dan para sahabatku.”

    Terkait hadits tersebut, Imam at-Tirmidzi mengatakan itu adalah hadits yang lebih jelas dan statusnya (hasan) gharib.

    Dalam kitab An Nihayah karya Ibnu Katsir yang diterjemahkan Anshori Umar Sitanggal dan Imron Hasan, terdapat hadits yang menyebut golongan umat Nabi Muhammad SAW yang selamat itu adalah jamaah. Rasulullah SAW bersabda,

    افْتَرَقَتِ الْيَهُودُ عَلَى إِحْدَى وَسَبْعِينَ فِرْقَةً فَوَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ وَسَبْعُونَ فِي النَّارِ وَافْتَرَقَتِ النَّصَارَى عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً فَإِحْدَى وَسَبْعُونَ فِي النَّارِ وَوَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَتَفْتَرِقَنَّ أُمَّتِي عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً وَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ وَثِنْتَانِ وَسَبْعُونَ فِي النَّارِ قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ هُمْ قَالَ الْجَمَاعَةُ

    Artinya: “Kaum Yahudi telah terpecah menjadi tujuh puluh satu golongan. Satu golongan di antaranya masuk surga, dan tujuh puluh lainnya masuk neraka. Kaum Nasrani telah terpecah menjadi tujuh puluh dua golongan. Tujuh puluh satu di antaranya masuk neraka, dan hanya satu golongan yang masuk surga. Demi Allah Yang Menggenggam jiwaku, sesungguhnya umatku benar-benar akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan. Satu golongan di antaranya masuk surga, dan tujuh puluh dua lainnya masuk neraka. Seseorang bertanya, ‘Ya Rasul Allah, siapakah yang masuk surga itu, menurut Anda?’ Beliau menjawab, ‘Jamaah’.” (HR Ibnu Majah dari ‘Auf bin Malik RA)

    Ibnu Katsir mengatakan hadits tersebut hanya diriwayatkan Ibnu Majah sendiri dengan isnad la ba’sa bih. Ibnu Katsir memasukkan hadits ini dalam pembahasan huru-hara penyebab perpecahan umat, yang selamat hanyalah orang yang bergabung dengan jamaah.

    Pada pembahasan berikutnya, muhaddits (ahli hadits) itu memaparkan hadits riwayat Hudzaifah yang bertanya, “Kalau mereka tidak memiliki pemimpin maupun jamaah?” Maka beliau menjawab, “Maka tinggalkan semua golongan itu, sekalipun kamu harus menggigit pangkal pohon, sehingga maut datang menjemputmu, sedang kamu tetap seperti itu.”

    Kemudian dalam hadits shahih juga dikatakan, “Islam bermula merupakan sesuatu yang asing dan akan kembali menjadi asing seperti semula.”

    Ibnu Katsir tidak menafsirkan maksud hadits-hadits yang ia paparkan itu.

    Dalam Ensiklopedia Tasawuf Imam Al-Ghazali karya M. Abdul Mujieb dkk terdapat sedikit penjelasan terkait “jamaah” yang disebut dalam hadits terpecahnya umat Nabi Muhammad SAW dalam 73 golongan. Dikatakan, paham Ahl As-Sunah wa al-Jamaah adalah paham kaum muslimin sejak era Rasulullah SAW.

    Wallahu a’lam.

    (kri/rah)



    Sumber : www.detik.com

  • Hanya 1 dari 73 Golongan Umat Nabi yang Akan Selamat, Ini Alasannya


    Jakarta

    Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa umat Nabi Muhammad SAW akan terbagi menjadi 73 golongan (firqoh). Namun, hanya 1 di antaranya yang selamat dari ancaman siksa neraka.

    Imam Turmudzi, Abu Dawud dan Ibnu Majah, dalam kitab Sunan-nya meriwayatkan hadits tentang penggolongan umat Islam menjadi 73 golongan.

    Terpecahnya umat Islam ke dalam 73 golongan, salah satunya termaktub dalam hadits riwayat Imam At-Tirmidzi berikut:


    عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللَّهِ صلى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: افْتَرَقَ الْيَهُودُ عَلَى إِحْدَى أَوْ ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً، وَتَفَرَّقَتِ النَّصَارَى عَلَى إِحْدَى أَوْ ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِي عَلَى ثَلَاثَ وسبعين فرقة كلها في النار إلا واحدة ، قالوا : ومَن هم يا رسول الله ؟ قال : هم الذي أنا عليه وأصحابي

    Artinya:
    “Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah SAW telah bersabda, ‘Kaum Yahudi telah terpecah menjadi 71 golongan atau 72 golongan, dan kaum Nasrani telah terpecah menjadi 71 atau 72 golongan, dan umatku akan terpecah menjadi 73 golongan. Semuanya akan masuk neraka kecuali satu golongan.’”

    Golongan yang Selamat

    Dari 73 golongan tersebut, satu golongan yang selamat adalah golongan orang yang mengikuti ajaran Rasulullah SAW dan para sahabat (Jama’ah).

    Sebagaimana lanjutan hadits sebelumnya, para sahabat bertanya, “siapakah satu golongan itu?”

    Rasulullah SAW kemudian menjawab, “(Yaitu) siapa saja yang berada di atas apa (ajaran) yang diriku dan (juga) para sahabatku pernah berpegang pada (ajaran) itu.”

    Pandangan Ulama

    Dalam Hadza al-Habib Muhammad Rasulullah Ya Muhibb, Abu Bakar Jabir Al-Jazairi mengatakan prediksi Rasulullah SAW tentang terpecahnya umat Islam ke 73 golongan itu benar adanya.

    Menurut para ulama, golongan umat Nabi Muhammad SAW yang selamat maksud dalam hadits adalah golongan ahlu sunnah wal jamaah.

    Sebagaimana disebut dalam buku Teologi Islam Klasik dan Kontemporer karya Achmad Muhibin Zuhri. Dalam hal ini, Ibnu Abbas RA berkata:

    “Pada hari yang di waktu itu ada wajah yang putih berseri, dan ada pula wajah yang hitam muram. Adapun orang-orang yang hitam muram mukanya (kepada mereka dikatakan): ‘Kenapa kamu kafir sesudah kamu beriman? Karena itu rasakanlah azab disebabkan kekafiranmu itu.’ (QS Ali Imran: 106) Adapun orang yang putih wajahnya mereka adalah Ahlu sunnah wal Jama’ah, orang yang hitam wajahnya mereka adalah Ahlul Bid’ah dan sesat.”

    Di sisi lain, Imam al-Ghazali dalam salah satu kitabnya betajuk Faishal al-Tafriqah baina al-Islam wa al-Zandaqah menyebutkan dua pendapat, yang salah satunya berlawanan.

    Ia menyebut, bahwa umat yang 73 golongan akan selamat kecuali satu saja yang masuk neraka, yakni kaum kafir zindiq atau kaum yang tidak mempercayai keberadaan Rasulullah SAW.

    Respon para ulama kalam terhadap hadits tentang penggolongan umat Islam menjadi 73 golongan ternyata tidak sama. Dilansir laman Islam NU, setidaknya ada 3 respon dari para ulama yakni:

    1. Hadits-hadits tersebut digunakan sebagai pijakan yang nilainya cukup kuat, untuk menggolongkan umat Islam menjadi 73 firqa, serta di antaranya hanya satu golongan yang selamat dari neraka, yakni Ahlussunnah wal Jama’ah. Kelompok tersebut antara lain Imam Abdul Qahir al-Baghdadi (Al-Farq bainal-Firaq), Imam Abu al-Muzhaffar al-Isfarayini (at-Tabshir fid Din), Abu al-Ma’ali Muhammad Husain al-‘Alawi (Bayan al-Adyan), Adludin Abdurrahman al-Aiji (al-Aqa’id al-Adliyah) dan Muhammad bin Abdulkarim asy-Syahrastani (al-Milal wan Nihal). Ibn Taimiyyah dalam Majmu’ Fatawa (vol-3) menilai bahwa hadits tersebut bisa diakui kesahihannya.
    2. Hadits-hadits tersebut tidak digunakan sebagai rujukan penggolongan umat Islam, namun juga tidak dinyatakan penolakannya atas hadits tersebut. Di antara kelompok ini yaitu Imam Abu al-Hasan Ali bin Isma’il al-Asy’ari (Maqalatul Islamiyyin wa ikhtilaful Mushollin) dan Imam Abu Abdillah Fakhruddin ar-Razi (I’tiqadat firaqil Muslimin wal Musyrikin). Kedua pakar ilmu kalam ini telah menulis karya ilmiahnya, tanpa menyebut-nyebut hadits-hadits mengenai Iftiraq al-Ummah tersebut. Padahal al-Asy’ari disebut sebagai pelopor Ahlussunnah wal Jama’ah.
    3. Hadits Iftiraqul Ummah tersebut dinilai sebagai hadits dla’if (lemah). Hal ini membuatnya tidak bisa dijadikan rujukan. Di antara mereka adalah Ali bin Ahmad bin Hazm adh-Dhahiri, (Ibn Hazm, al-Fishal fil-Milal wal-Ahwa’ wan-Nihal).

    Wallahu a’lam.

    (khq/fds)



    Sumber : www.detik.com

  • Doa dan Tata Cara Sholat Hajat, Amalkan agar Keinginan Terkabul


    Jakarta

    Doa dan tata cara sholat hajat bisa diamalkan muslim ketika memohon sesuatu kepada Allah SWT. Sebagaimana diketahui, sholat hajat adalah ibadah sunnah yang pelaksanaannya tercantum dalam hadits Rasulullah SAW.

    “Siapa yang berwudhu dan menyempurnakannya, kemudian shalat dua rakaat dengan sempurna, maka Allah akan memberikan apa yang ia minta, cepat atau lambat.” (HR Ahmad dari Abu Darda’)

    Menukil dari buku Dahsyatnya Shalat Sunnah karya Maulana Ahmad, sholat hajat dikerjakan saat muslim memiliki hajat tertentu, baik itu kepada Allah SWT maupun kepada sesama manusia. Berlaku juga untuk urusan duniawi ataupun ukhrawi.


    Hukum pelaksanaan sholat hajat adalah sunnah muakkad yang artinya sangat dianjurkan. Jumlah rakaat sholat hajat dua sampai dua belas rakaat yang mana dikerjakan dengan salam setiap dua rakaat.

    Doa Sholat Hajat

    Doa sholat hajat diamalkan setelah selesai sholat. Diterangkan dalam buku Panduan Sholat Wajib & Sunnah Sepanjang Masa Rasulullah SAW oleh Ustaz Arif Rahman, sebelum membaca doa sholat hajat hendaknya berzikir dan beristighfar sebanyak 100 kali. Berikut bacaannya,

    Astaghfirullahal ‘azhim rabbi min kulli dzanbin wa atubu ilaih

    Artinya: “Aku memohon ampun kepada Allah Yang Maha Agung dari setiap dosa dan aku bertobat kepada-Nya.”

    Setelah itu, lantunkan sholawat kepada Rasulullah SAW dengan jumlah minimal 100 kali. Berikut bunyi sholawat yang bisa dibaca,

    اَللّهُمَّ صَلِّ عَلى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلاةَ الرِّضا وَارْضَ عَنْ اَصْحَابِه رِضَاءَ الرِّضا

    Allahumma shalli ‘ala Sayyidina Muhammadin shalatar-ridha wardha’an ashhabihir riddhar-ridha

    Artinya: “Wahai Tuhanku, limpahkan kesejahteraan kepada junjungan kami, Nabi Muhammad SAW, kesejahteraan yang diridai, dan ridailah sahabat-sahabat beliau semuanya.”

    Lalu, dilanjut dengan doa berikut:

    لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ الحَلِيْمُ الكَرِيْمُ ، سُبْحَانَ اللهِ رَبِّ العَرْشِ العَظِيْم ، الحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ ، أَسْأَلُكَ مُوْجِبَاتِ رَحْمَتِكَ ، وَعَزَائِمَ مَغْفِرَتِكَ ، وَالغَنِيْمَةَ مِنْ كُلِّ بِرٍّ ، وَالسَّلَامَةَ مِنْ كُلِّ إِثْمٍ ، لَا تَدَعْ لِي ذَنْبًا إِلَّا غَفَرْتَهُ ، وَلَا هَمًّا إِلَّا فَرَّجْتَهُ ، وَلَا حَاجَةً هِيَ لَكَ رِضًا إِلَّا قَضَيْتَهَا يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

    La ilaha illallahul halimul karim. Subhanallahi rabbil ‘arsyil karimil ‘azhim. Alhamdulillahi rabbil ‘alamin. As’aluka mujibati rahmatik, wa ‘aza’ima maghfiratik, wal ghanimata min kulli birrin, was salamata min kulli itsmin. La tada’ li dzanban illa ghafartah, wa la hamman illa farrajtah, wa la hajatan hiya laka ridhan illa qadhaitaha ya arhamar rahimin.

    Artinya: “Tidak ada Tuhan melainkan Allah yang Maha Lembut dan Maha Penyantun, Mahasuci Allah Tuhan Pemelihara Arsy’ yang Mahaagung. Segala puji bagi Allah Tuhan seru sekalian alam. Kepada-Mu-lah aku memohon sesuatu yang mewajibkan rahmat-Mu dan sesuatu yang mendatangkan ampunan-Mu, serta memperoleh keuntungan pada tiap-tiap kebaikan dan keselamatan dari segala dosa. Janganlah Engkau biarkan dosa pada diriku melainkan Engkau ampuni, dan tidak ada suatu kesulitan melainkan Engkau memberi jalan keluar, dan tidak pula suatu hajat/keinginan yang mendapat kerelaan-Mu melainkan Engkau kabulkan. Wahai Tuhan yang Maha Pengasih dan Penyayang.” (HR Tirmidzi dan Ibnu Abu Aufa)

    Jika sudah, sampaikan hajat kepada Allah SWT dengan khusyuk sambil bersujud. Ketika melakukannya, perbanyak bacaan berikut:

    لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ

    La ilaha illa anta subhanaka inni kuntu minazh-zhalimin

    Artinya: “Tiada Tuhan yang patut disembah melainkan hanya Engkau, Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku ini adalah dari golongan orang-orang yang berbuat aniaya.”

    Tata Cara Sholat Hajat

    Berikut tata cara sholat hajat yang dapat dikerjakan muslim seperti dikutip dari buku Shalat Tahajud dan Shalat Hajat susunan Mahmud asy-Syafrowi,

    • Membaca niat sholat hajat dua rakaat dengan lafaz berikut,

      اُصَلِّى سُنَّةَ الْحَاجَةِ رَكْعَتَيْنِ لِلهِ تَعَالَى

      Ushollii sunnatal haajati rok’aataini lillahi ta’ala.

      Artinya: “Aku berniat sholat hajat sunnah hajat dua raka’at karena Allah Ta’ala.”

    • Takbiratul ihram
    • Membaca doa iftitah
    • Membaca ta’awudz
    • Membaca surah Al-Fatihah
    • Membaca surah pendek, dianjurkan surah Al-Kafirun dan surah Al-Ikhlas satu kali
    • I’tidal dan tuma’ninah
    • Sujud dengan membaca tasbih sebanyak tiga kali
    • Lanjutkan rakaat kedua seperti cara di atas
    • Akhiri dengan salam

    Kapan Waktu untuk Sholat Hajat?

    Mengacu pada sumber yang sama, tidak ada ketentuan mengenai waktu sholat hajat. Jadi, muslim bisa mengamalkannya pada siang maupun malam selama tidak pada waktu yang terlarang.

    Meski demikian, waktu yang lebih utama untuk menunaikan sholat hajat adalah malam hari tepatnya pada sepertiga malam akhir. Sebab, momen itu tergolong mustajab untuk memanjatkan doa kepada Allah SWT.

    Dari Abu Hurairah RA, Nabi Muhammad SAW bersabda:

    “Tuhan kita azza wajalla tiap malam turun ke langit dunia pada sepertiga malam yang terakhir, pada saat itu Dia berfirman, “Barangsiapa yang berdoa kepada-Ku, pasti Aku ijabahkan, barangsiapa yang memohon kepada-Ku pasti Aku beri, dan barangsiapa yang meminta ampun kepada-Ku pasti aku ampuni.” (HR Jamaah dan Abu Hurairah)

    (aeb/inf)



    Sumber : www.detik.com

  • Bagaimana Cara Memimpin Yasin dan Tahlil? Ini Urutannya Lengkap dengan Doa


    Jakarta

    Tahlilan adalah tradisi yang lekat dalam masyarakat muslim Indonesia sebagai bentuk penghormatan dan doa bagi mereka yang telah meninggal dunia.

    Dalam pelaksanaannya, tahlilan biasanya dipimpin oleh seseorang yang memahami bacaan tahlil atau dikenal dengan istilah pemimpin tahlil. Peran pemimpin tahlil ini sangat penting karena ia bertugas memandu jalannya acara agar sesuai dengan adab dan nilai-nilai agama.

    Mengutip dari buku Tahlilan-Hadiyuwandzikir dan Ziarah Kubur karya Sutejo Ibnu Pakar, pemimpin tahlil biasanya ditunjuk oleh keluarga ahli waris karena memiliki ilmu agama yang cukup, suara lantang dan jelas, serta kepribadian yang baik, sehingga dapat membawa suasana khusyuk dalam acara tersebut.


    Seorang pemimpin tahlil tidak hanya bertugas melafalkan bacaan, tetapi juga memiliki tanggung jawab untuk mengarahkan jamaah agar bersama-sama mengirimkan doa terbaik bagi almarhum. Oleh karena itu, penting untuk memahami tata cara memimpin Yasin dan tahlil yang benar, mulai dari tawasul hingga doa penutup.

    Cara Memimpin Yasin dan Tahlil

    Memimpin Yasin dan tahlil perlu Anda lakukan dengan tertib dan penuh kekhusyukan. Simak urutannya berikut ini.

    1. Membuka acara dengan kata pengantar yang menjelaskan niat dan tujuan tahlil untuk siapa.
    2. Mengajak jamaah untuk mengucapkan tawasul kepada Nabi, Rasul, sahabat, wali, syuhada, orang saleh, serta Syekh Abdul Qodir Al Jailani.
    3. Melanjutkan bacaan para jamaah dengan mengirimkan tawasul kepada orang-orang yang telah meninggal, seperti orang tua, keluarga, dan khusus untuk arwah yang membutuhkan doa.
    4. Memimpin jamaah untuk membaca surah Yasin dari awal hingga akhir.
    5. Mengarahkan jamaah agar membaca Surah Al-Ikhlas sebanyak tiga kali dengan khusyuk.
    6. Mengarahkan jamaah untuk melafalkan bacaan tahlil dan takbir bersama-sama.
    7. Mengajak jamaah membaca Surah Al-Falaq sebanyak tiga kali.
    8. Mengarahkan jamaah untuk mengulang bacaan tahlil dan takbir.
    9. Mengajak jamaah untuk melantunkan Surah An-Nas sebanyak tiga kali.
    10. Mengarahkan jamaah agar kembali melafalkan bacaan tahlil dan takbir dengan khusyuk.
    11. Mengajak jamaah membaca Surah Al-Fatihah dengan niat tulus untuk mendapatkan rahmat Allah SWT.
    12. Mengarahkan jamaah membaca ayat 1-5 dari Surah Al-Baqarah secara bersama-sama.
    13. Melanjutkan bacaan dengan mengajak jamaah membaca ayat 163 dari Surah Al-Baqarah.
    14. Mengajak jamaah melantunkan Ayat Kursi sebagai bentuk doa dan permohonan perlindungan Allah SWT.
    15. Mengarahkan jamaah membaca ayat 284-286 dari Surah Al-Baqarah.
    16. Mengajak jamaah untuk memohon rahmat Allah SWT dan keselamatan bagi Ahlul Bait melalui doa yang dipanjatkan.
    17. Mengajak jamaah melafalkan istighfar sebanyak tiga kali untuk memohon ampunan Allah SWT.
    18. Mengarahkan jamaah untuk merenungkan keutamaan bacaan tahlil dalam kehidupan sehari-hari.
    19. Memimpin jamaah melafalkan bacaan tahlil sebanyak 33 kali bersama-sama.
    20. Mengajak jamaah membaca dua kalimat syahadat dengan penuh keyakinan.
    21. Mengajak jamaah melantunkan sholawat Nabi dengan cinta dan penghormatan.
    22. Mengarahkan jamaah untuk melafalkan tasbih sebanyak sepuluh kali sebagai bentuk dzikir.
    23. Memimpin jamaah untuk melanjutkan dengan pembacaan sholawat Nabi kembali.
    24. Mengajak jamaah membaca ayat 56 dari Surah Al-Ahzab dengan penuh khidmat.
    25. Memimpin jamaah membaca kembali Surah Al-Fatihah.
    26. Mengajak jamaah membaca doa setelah bacaan tahlil dengan ikhlas dan khusyuk.
    27. Mengarahkan jamaah untuk kembali melantunkan Surah Al-Fatihah sebagai bagian dari penutupan.
    28. Mengajak jamaah menutup acara dengan membaca doa penutup tahlil

    Contoh Bacaan Tahlil Lengkap dengan Arab, Latin, dan Artinya

    Bagi Anda yang ingin mempelajari bacaan Tahlil, berikut ini kami sajikan contoh bacaan Tahlil lengkap dengan teks Arab, transliterasi latin, dan artinya, agar lebih mudah dipahami dan diamalkan.

    لَااِلَهَ اِلَّا اللهُ

    Latin: Laa ilaaha illallaah

    Artinya: “Tiada tuhan selain Allah.”

    Doa Tahlil

    Setelah menyelesaikan seluruh susunan bacaan Yasin dan tahlil sebelumnya, disunnahkan untuk membaca doa penutup tahlil berikut ini.

    وَاعْفُ عَنَّا يَا كَرِيْمُ (2X)

    بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ ارْحَمْنَا. اَللَّهُمَّ بِحَقِّ الفَاتِحَةِ وَبِسِرِّ الفَاتِحَةِ وَبِكَرَامَةِ الفَاتِحَةِ، يَا فَارِجَ الهَمِّ يَا كَاشِفَ الغَمِّ يَا مَنْ لِعَبْدِهِ يَغْفِرُ وَيَرْحَمُ، اَللَّهُمَّ اغْفِرْ ذُنُوْبَنَا وَاسْتُرْ عُيُوْبَنَا وَفَرِّجْ هُمُوْمَنَا وَاكْشِفْ غُمُوْمَنَا وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، دَعْوَاهُمْ فِيْهَا سُبْحَانَكَ اَللَّهُمَّ وَتَحِيَّتُهُمْ فِيْهَا سَلَامٌ، وَآخِرُ دَعْوَاهُمْ أَنِ الْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَلَمِيْنَ

    Wa’fu ‘annā yā Karīm (2X)

    Bi rahmatika yā Arhamar Rāhimīn irhamnā. Allāhumma bi haqqil-Fātihah wa bi sirril-Fātihah wa bi karāmati Fātihah, yā Fārijal hamm yā Kāshifal gham yā man li ‘abdihi yaghfiru wa yarham. Allāhumma aghfir dhunūbanā wa-stur ‘uyūbanā wa farrij humūmanā wa-kshif ghumūmanā wa aslih dhāta bayninā, da’wāhum fīhā subhānaka Allāhumma wa tahiyyatuhum fīhā salām, wa ākhiru da’wāhum anil hamdu lillāhi Rabbil ‘ālamīn.

    Maafkanlah kami wahai Tuhan yang Maha Pemurah (2 kali).

    Dengan kasih sayang-Mu wahai zat yang paling pengasih, kasihanilah kami. Ya Allah, berkat hakikat, rahasia, dan kemuliaan Surah Al-Fatihah, wahai Tuhan pemberi jalan dari kebingungan, pembuka jalan dari kebimbangan, wahai Tuhan yang pengampun dan penyayang hamba-Nya, ya Allah ampunilah dosa kami, tutuplah aib kami, berikan jalan atas kebingungan kami, bukakanlah jalan atas kebimbangan kami, dan damaikanlah perseteruan di antara kami. Doa mereka (ahli surga) di dalamnya adalah “Maha suci Engkau ya Allah.” Penghormatan mereka di dalamnya adalah salam. Akhir doa mereka adalah “Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.”

    (inf/inf)



    Sumber : www.detik.com

  • Doa di Antara Khutbah Jumat Terakhir Bulan Rajab, Ini Bacaannya


    Jakarta

    Ibadah salat Jumat tidak terlepas dari khutbah. Setidaknya ada dua khutbah dalam salat Jumat, biasanya di antara khutbah pertama dan kedua dianjurkan untuk membaca doa. Lalu, seperti apa doa di antara khutbah Jumat terakhir bulan Rajab?

    Menukil dari Buku Panduan Khutbah Jum’at untuk Pemula oleh Irfan Maulana, khutbah adalah seni pembicaran kepada khalayak yang di dalamnya terdapat suatu pesan. Hakikat dari khutbah yaitu wasiat untuk bertakwa kepada khalayak, baik bentuknya janji kesenangan maupun ancaman kesengsaraan. Dalam Islam, khutbah disampaikan dengan rukun yang diatur syariat.

    Pelaksanaan dua khutbah Jumat sendiri merujuk pada hadits dari Abdullah bin Umar RA yang berkata:


    “Nabi SAW dahulu berkhutbah dua kali dan duduk antara keduanya.” (HR Bukhari)

    Jumat hari ini (24/1) adalah Jumat terakhir bulan Rajab 1446 H. Penanggalan ini merujuk pada Kalender Hijriah Indonesia 2025 yang diterbitkan Kemenag RI.

    Doa di Antara Khutbah Jumat Terakhir Bulan Rajab

    Waktu di antara dua khutbah Jumat termasuk momen mustajab untuk berdoa. Dijelaskan dalam buku Akidah Akhlak tulisan Harjan Syuhada dan Fida’ Abdillah, pada waktu itu muslim dianjurkan untuk berdoa karena permohonannya mudah terkabul.

    Disebutkan pula dalam kitab al-Fatawi-al-Fiqhiyyah al-Kubra oleh Ibnu Hajar Al Haitami, dilansir NU Online, muslim dianjurkan untuk berdoa di antara khutbah Jumat. Sebab, doa pada waktu tersebut akan diijabah. Berikut bunyi keterangannya,

    “Dan dapat diambil kesimpulan dari statemen al-Qadli Husain bahwa sunnah bagi hadirin jamaah Jumat adalah menyibukan diri dengan berdoa saat duduknya khatib di antara dua khutbah, sebab telah dinyatakan bahwa berdoa pada waktu tersebut diijabah. Saat mereka berdoa, yang lebih utama adalah dibaca dengan pelan, sebab membaca dengan keras dapat mengganggu jamaah Jumat yang lain dan karena membaca dengan suara pelan adalah cara yang lebih utama dalam berdoa kecuali terdapat kondisi baru datang yang menuntut dibaca dengan keras.”

    Selain itu, Buya Yahya melalui kanal YouTube Al-Bahjah TV menyampaikan bahwa anjuran tersebut memang benar adanya. Doa yang dibaca bisa apa saja, namun para ulama menyarankan untuk membaca Sayyidul Istighfar.

    “Dianjurkan di antara dua khutbah itu berdoa apa saja, karena itu saat dikabulnya doa. Namun, sebagian ulama menyarankan untuk membaca doa Sayyidul Istighfar,” katanya, dilihat detikHikmah pada Kamis (23/1/2025).

    Doa Sayyidul Istighfar yang Dibaca di Antara Dua Khutbah

    Berikut bacaan Sayyidul Istighfar yang dikutip dari buku Dahsyatnya Keajaiban Istighfar bagi Orang-orang Sibuk karya Syekh Maulana Arabi.

    اَللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّيْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ، خَلَقْتَنِيْ وَأَنَا عَبْدُكَ، وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ، أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ، أَبُوْءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ، وَأَبُوْءُ بِذَنْبِيْ فَاغْفِرْ لِيْ فَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ

    Arab latin: Allahumma anta rabbii laa ilaaha illaa anta khalaqtanii wa anna ‘abduka wa anaa ‘alaa ‘ahdika wa wa’dika. Mastatha’tu a’uudzu bika min syarri maa shana’tu abuu u laka bini’ matika ‘alayya wa abuu-u bidzanbii faghfir lii fa innahu laa yagfirudz dzunuuba illa anta

    Artinya: “Hai Tuhanku, Engkau Tuhanku. Tiada tuhan yang disembah selain Engkau. Engkau yang menciptakanku. Aku adalah hamba-Mu. Aku berada dalam perintah iman sesuai perjanjian-Mu sebatas kemampuanku. Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan yang kuperbuat. Kepada-Mu, aku mengakui segala nikmat-Mu padaku. Aku mengakui dosaku. Maka itu ampunilah dosaku. Sungguh tiada yang mengampuni dosa selain Engkau.” (HR Bukhari)

    (aeb/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Wafatnya Rasulullah SAW, Peristiwa Penuh Duka dalam Sejarah Islam


    Jakarta

    Rasulullah SAW adalah sosok teladan bagi umat Islam, sebagai nabi terakhir yang membawa wahyu dan petunjuk hidup dari Allah SWT.

    Kehilangan ini tidak hanya dirasakan oleh para sahabat dan pengikutnya, tetapi juga meninggalkan dampak yang luas bagi seluruh umat manusia. Berikut adalah kisah wafatnya Rasulullah SAW.

    Kisah Wafatnya Rasulullah SAW

    Wafatnya Rasulullah SAW pada tanggal 12 Rabiul Awal tahun 11 H, menandakan berakhirnya periode kenabian dan menyisakan warisan ajaran Islam hingga saat ini.


    Wasiat Rasulullah SAW saat Melaksanakan Haji Wada’

    Diceritakan dalam buku Sejarah & Kebudayaan Islam Periode Klasik karya Faisal Ismail, pada tahun tahun 10 H atau 32 M, Rasulullah SAW melaksanakan ibadah haji yang terkenal dalam sejarah Islam sebagai haji Wada’, bersama kaum muslimin yang berjumlah sekitar seratus ribu orang.

    Di hadapan ribuan jamaah haji itu, Rasulullah SAW mengucapkan pidato penting yang mempunyai arti bagi kaum muslimin, yang tidak hanya pada waktu itu, tetapi bagi kaum muslimin sesudahnya, kini, dan yang akan datang. Pidato yang diberikan Rasulullah SAW ini seperti menunjukkan adanya wasiat didalamnya.

    “Wahai manusia, dengarkanlah perkataanku ini. Aku tidak dapat memastikan apakah aku akan dapat bertemu lagi atau tidak dengan kamu sekalian di tempat seperti ini sesudah tahun ini. Wahai manusia, sesungguhnya kamu haram menumpahkan darah, dan haram mengganggu hartamu, kecuali ada hak. Riba semuanya telah dibatalkan, kamu hanya berhak atas uang pokok. Dengan demikian, kamu tidak menganiaya dan tidak pula teraniaya. Penumpahan darah yang dilakukan di masa Jahiliah tidak ada diyat (denda)-nya lagi. Sesungguhnya setan telah putus asa untuk disembah di muka bumi, akan tetapi ia masih menginginkan yang lain dari itu. Sebab itu, awaslah selalu terhadapnya. Wahai manusia, Tuhanmu hanyalah satu, dan asalmu dari tanah. Orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa. Orang Arab tidak ada kelebihan atas orang non Arab, dan orang non Arab pun tidak ada pula kelebihannya atas orang Arab, kecuali karena takwanya.”

    Rasulullah SAW Sempat Sakit Sebelum Meninggal Dunia

    Sekitar tiga bulan setelah menunaikan haji Wada’ itu, Rasulullah SAW mengalami demam yang berat hingga tidak mampu keluar untuk menjadi imam salat. Beliau menyuruh Abu Bakar RA untuk menggantikannya menjadi imam.

    Kaum Muslimin saat itu cemas terhadap penyakit yang diderita Rasulullah SAW. Pada suatu hari, Rasulullah SAW dijemput oleh paman beliau, Abbas dan Ali bin Abi Thalib, untuk keluar menemui kaum muslimin yang sedang berkerumun di masjid dengan sorotan wajah sedih yang ikut merasakan penyakit beliau.

    Rasulullah SAW duduk di mimbar, tepatnya pada anak tangga pertama, yang dikerumuni oleh kaum muslimin Anshar dan Muhajirin, dan beliau pun menyampaikan sebuah amanat,

    “Wahai manusia, aku mendengar kamu sekalian cemas kalau nabimu meninggal dunia. Pernahkah ada seorang nabi yang dapat hidup selama-lamanya? Kalau ada, aku juga akan dapat hidup selama-lamanya. Aku akan menemui Allah, dan kamu akan menyusulku.”

    Dalam buku Kisah Manusia Paling Mulia di Dunia karya Neti S, dijelaskan bahwa Rasulullah SAW sakit selama 13 atau 14 hari. Beliau sempat mengerjakan salat bersama para sahabat dalam keadaan sakit selama 11 hari.

    Penyakit yang diderita Rasulullah SAW semakin lama semakin berat, dan beliau meminta untuk berada di rumah Aisyah pada hari-hari terakhirnya.

    Kemudian dua hari atau sehari sebelum wafat, beliau keluar untuk menunaikan salat Dzuhur dan minta didudukkan di samping Abu Bakar.

    Rasulullah SAW juga memerdekakan budak-budaknya, bersedekah dengan enam atau tujuh dinar yang beliau miliki, dan memberikan senjata-senjatanya kepada kaum muslimin.

    Menjelang wafat, Rasulullah SAW menyampaikan wasiatnya. Beliau berkata bahwa “laknat Allah atas orang-orang Yahudi dan Nasrani yang menjadikan kuburan nabi-nabi mereka sebagai masjid.”

    Beliau juga berkata, “Jagalah shalat! Jagalah shalat! Jangan sekali-kali telantarkan budak-budak kalian.” Wasiat tersebut diulang-ulang hingga beberapa kali.

    Reaksi Para Sahabat saat Rasulullah SAW Wafat

    Pada hari Senin tanggal 12 Rabiul Awal tahun 11 H, tepatnya pada tanggal 8 Juni 632 M, Rasulullah SAW berpulang ke Rahmatullah di usianya yang menginjak 63 tahun.

    Merujuk kembali pada buku Sejarah & Kebudayaan Islam Periode Klasik, berita wafatnya Rasulullah SAW diterima di kalangan sebagian kaum muslimin dengan keraguan dan seakan-akan mereka tidak percaya jika hal itu terjadi.

    Umar bin Khattab pun berdiri di depan umum sambil mengatakan:

    “Ada orang mengatakan bahwa Muhammad telah wafat. Sesungguhnya, demi Allah, beliau tidak wafat, hanya pergi menghadap Allah, sebagaimana Nabi Musa pun pergi menghadap Allah. Demi Allah, Nabi Muhammad SAW akan kembali.”

    Setelah itu, Abu Bakar segera masuk ke kamar Rasulullah SAW untuk menjenguk beliau. Dan terlihat oleh Abu Bakar, beliau sedang terbaring wajahnya yang ditutupi oleh kain, kemudian Abu Bakar pun membuka kain penutup wajah beliau, sambil berkata:

    “Alangkah baiknya engkau di waktu hidup dan di waktu mati. Jika seandainya engkau tidak melarang kami menangis, akan kami curahkan seluruh air mata kami.”

    Kemudian Abu Bakar keluar, mendatangi orang-orang yang sedang berkerumun, mencoba menenangkan mereka dan menghilangkan kebingungan yang mereka rasakan dengan mengatakan di hadapan mereka,

    “Wahai manusia, barang siapa memuja Muhammad, Muhammad telah mati. Tetapi siapa yang memuja Allah, Allah hidup selama-lamanya, tiada mati-matinya.”

    Abu Bakar juga membacakan ayat Al-Qur’an untuk memperingatkan semua orang, yang tercantum dalam surah Ali Imran ayat 144,

    وَمَا مُحَمَّدٌ اِلَّا رَسُوْلٌۚ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُۗ اَفَا۟ىِٕنْ مَّاتَ اَوْ قُتِلَ انْقَلَبْتُمْ عَلٰٓى اَعْقَابِكُمْۗ وَمَنْ يَّنْقَلِبْ عَلٰى عَقِبَيْهِ فَلَنْ يَّضُرَّ اللّٰهَ شَيْـًٔاۗ وَسَيَجْزِى اللّٰهُ الشّٰكِرِيْنَ ۝١٤٤

    Arab Latin: wa mâ muḫammadun illâ rasûl, qad khalat ming qablihir-rusul, a fa im mâta au qutilangqalabtum ‘alâ a’qâbikum, wa may yangqalib ‘alâ ‘aqibaihi fa lay yadlurrallâha syai’â, wa sayajzillâhusy-syâkirîn

    Artinya: Muhammad itu hanyalah seorang rasul, telah berlalu beberapa orang rasul sebelumnya. Sekiranya Muhammad itu mati atau dibunuh orang, apakah kamu akan kembali menjadi kafır (murtad). Barang siapa kembali menjadi kafır, ia tidak akan mendatangkan bahaya kepada Tuhan sedikit pun.”

    Mendengar pernyataan dari Abu Bakar yang tegas ini, umat Islam yang sedang berkerumun itu menjadi sadar dan menerima bahwa Rasulullah SAW memang telah wafat.

    Saat itu, banyak orang yang berkumpul untuk menyalatkan beliau. Rasulullah SAW dimakamkan, dengan diantar dan disaksikan oleh kaum muslimin yang melepasnya ke tempat peristirahatan terakhir dalam suasana damai, menghadap Allah SWT.

    Kepemimpinan Umat Islam pasca Wafatnya Rasulullah SAW

    Mengutip buku Mencintai Keluarga Nabi Muhammad SAW yang ditulis oleh Nur Laelatul Barokah, sepeninggalan Rasulullah SAW, kepemimpinan umat Islam dilanjutkan oleh Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar Bin Khattab, Utsman bin Affan dan Ali Bin Abi Thalib. Mereka dikenal dengan nama Khulafaur Rasyidin.

    Berbeda dengan Abu Bakar, Umar dan Utsman, Ali Bin Abi Thalib dilantik menjadi Amirul Mukminin atau pemimpin umat Islam di depan umum. Hal ini merupakan permintaan Ali Bin Abi Thalib sebagai bukti bahwa dia ditunjuk oleh semua golongan kaum muslim.

    (inf/inf)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Wafatnya Nabi Zakaria AS dan Wasiat Darinya


    Jakarta

    Nabi Zakaria AS adalah sosok yang bertakwa sekaligus seorang yang sabar. Ia adalah ayah dari Nabi Yahya AS sekaligus pemimpin Bani Israil.

    Ada dua riwayat yang menceritakan tentang peristiwa wafatnya Nabi Zakaria AS. Satu riwayat menyebutkan bahwa Nabi Zakaria AS meninggal dalam keadaan tubuh terbelah namun riwayat lainnya menyebutkan Nabi Zakaria AS meninggal dalam keadaan wajar.

    Mengutip buku Hikmah Kisah Nabi dan Rasul karya Ridwan Abdullah, Nabi Zakaria AS adalah ayah dari Nabi Yahya AS. Sebelum sang istri melahirkan Nabi Yahya AS, Nabi Zakaria sangat mendambakan anak yang kelak akan menjadi pewarisnya.


    Dengan penuh kesabaran, Nabi Zakaria AS berdoa pada siang dan malam agar Allah SWT mengabulkan doanya dan memberikan keturunan kepadanya. Kelak putra Zakaria AS ini yang akan memimpin Bani Israil.

    Kisah Wafatnya Nabi Zakariya AS

    Merujuk buku Kisah Para Nabi karya Ibnu Katsir, terdapat riwayat yang berbeda dari Wahab bin Munabbih, apakah Nabi Zakariya AS wafat secara wajar ataukah beliau wafat terbunuh.

    Berkaitan dengan hal ini, terdapat dua riwayat, yaitu: Pertama, riwayat yang berasal dari Abdul Mun’in bin Idris bin Sinan. Ia meriwayatkan dari ayahnya, dari Wahab bin Munabbih, ia berkata: ‘Zakariya melarikan diri dari kaumnya. Kemudian beliau masuk ke dalam pohon. Lalu kaumnya mendekati pohon tersebut dengan membawa gergaji dan menggergaji pohon itu. Ketika gergaji mengenai tulang rusuk beliau, Allah menurunkan wahyu kepadanya: Jika engkau tidak bisa menenangkan diri saat menahan rasa sakit, niscaya Aku akan membalikkan bumi dan segala yang ada di permukaannya.’ Oleh sebab itu, Zakariya menenangkan diri saat menahan rasa sakitnya, hingga tubuhnya terbelah menjadi dua.”

    Ishaq bin Bisyr meriwayatkan dari Idris bin Sinan, dari Wahab, ia berkata bahwa yang wafat dengan kondisi tubuh terbelah di dalam pohon adalah Sya’ya sedangkan Nabi Zakariya AS wafat secara wajar. Wallahu a’lam.

    Wasiat Nabi Zakariya AS

    Imam Ahmad berkata, “Affan menceritakan kepada kami, Abu Khalaf Musa nin Khalaf telah memberitahu kami, Yahya bin Abi Katsir menceritakan kepada kami, dari Zaid bin Salam, dari kakeknya, Mamthur, dari al-Harits al-Asy’ari bahwa Nabi bersabda: ‘Sesungguhnya, Allah memberi perintah kepada Yahya bin Zakariya dengan lima perintah untuk dikerjakan dan memerintahkan kepada Bani Israil agar mereka mengerjakannya. Namun, Yahya terkesan lambat untuk merealisasikan perintah itu sehingga Isa berkata kepadanya: “Sesungguhnya, engkau telah diberi tugas untuk segera melaksanakan lima perintah dan menyampaikannya kepada Bani Israil untuk melaksanakannya juga, tetapi engkau terkesan lambat dalam merespon perintah itu. Oleh sebab itu, engkau sendiri yang akan menyampaikannya ataukah aku perlu turun tangan untuk menyampaikannya?”

    Yahya menjawab:”Wahai saudaraku, sesungguhnya aku khawatir, engkau menyebabkan aku disiksa duluan atau membuat diriku disambar petir.’ Kemudian, Yahya bin Zakariya segera mengumpulkan Bani Israil di Baitul Maqdis, sehingga tempat itu dipenuhi kerumunan manusia. Kemudian, Yahya duduk menempati podium kehormatan. Beliau mengawali pidatonya dengan memuji dan menyanjung Allah SWT. Setelah itu, beliau berkata, “Sesungguhnya, Allah Azza wa Jalla telah memberikan tugas kepadaku untuk melaksanakan lima perintah. Allah telah memerintahkan kepadaku dan kepada kalian semua untuk melaksanakan lima perintah tersebut:

    Pertama: Allah memerintahkan kalian semua agar menyembah-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Perumpamaan tentang hal ini adalah adalah seperti orang yang membeli hamba sahaya dengan hartanya yang benar-benar murni, baik berupa uang maupun emas. Kemudian, hamba tersebut bekerja dan mengabdi pada orang lain sebagai tuannya. Siapakah di antara kalian yang senang jika hamba sahayanya bekerja seperti itu? Sesungguhnya, Allah menciptakan kalian semua dan memberi rezeki kepada kalian, agar kalian hanya menyembah kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun.

    Kedua: Allah memerintahkan kalian semua untuk mengerjakan salat. Sesungguhnya, Allah menghadapkan wajah-Nya kepada seorang hamba, selama hamba itu tidak berpaling dari-Nya. Ketika kalian mengerjakan salat, janganlah kalian berpaling dari-Nya.

    Ketiga: Allah memerintahkan kalian semua untuk berpuasa. Perumpamaan tentang hal ini adalah seperti orang yang membawa botol minyak kasturi di tengah-tengah kerumunan orang banyak, sehingga semua orang mencium aromanya yang harum semerbak. Sesungguhnya, bau (aroma) mulut orang yang sedang berpuasa itu lebih harum dari aroma misik.

    Keempat: Allah memerintahkan kalian untuk bersedekah. Perumpamaan tentang hal ini adalah seperti orang yang ditawan oleh musuh. Ia diikat dan dibelenggu tangannya ke belakang lehernya oleh musuh. Kemudian ia berkata:’Apakah aku boleh menebus diriku dari kalian (wahai musuhku)? Lalu ia menebus dirinya dengan tebusan barang yang sedikit atau barnyak sehingga ia terbebas dari cengkeraman musuhnya.

    Kelima: Allah Azza wa Jalla memerintahkan kalian banyak berzikir kepada-Nya. Perumpamaan tentang hal ini adalah seperti seseorang yang sedang dikejar-kejar musuh yang telah mengetahui jejaknya, sehingga ia hampir ditangkap oleh musuh yang sangat berbahaya itu. Tiba-tiba ia mendapatkan sebuah benteng yang sangat kokoh lalu ia memasukinya sehingga ia terlindung di dalam bentengitu dari kejaran musuh yang sangat berbahaya. Sesungguhnya, zikir merupakan benteng yang sangat tangguh hingga setan pun tidak akan mampu membobolnya selama ia berzikir kepada Allah “

    Perawi berkata, “Rasulullah juga bersabda: ‘Aku juga memerintahkan lima hal kepada kalian semua sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah kepada diriku, yaitu berjamaah, mendengarkan, taat, hijrah, dan berjihad di jalan Allah. Siapa yang keluar dari jamaah walau hanya sejengkal, berarti ia telah melepaskan ikatan Islam di lehernya, kecuali ia kembali lagi. Siapa yang berdoa dengan doa jahiliyah, berarti ia telah mencampakkan dirinya sendiri ke Neraka Jahanam.”

    Wallahu ‘alam

    (dvs/lus)



    Sumber : www.detik.com