Tag: jantung berdebar

  • Dilema Secangkir Kopi Tiap Pagi, Ada Bahaya di Balik Manfaat Sehatnya


    Jakarta

    Bagi banyak orang, secangkir kopi di pagi hari bukan cuma minuman, tapi ritual kecil yang bikin hidup terasa “dimulai”. Rasanya belum benar-benar bangun sebelum mencium aroma kopi dari gelas, apalagi bagi yang harus berlarian dengan waktu berangkat kerja.

    Di kantor, kopi jadi teman setia di antara banyaknya deadline. Di rumah, jadi alasan sederhana untuk ngobrol atau santai. Di kafe, jadi simbol gaya hidup kekinian. Tak heran kalau sebagian orang merasa aneh, bahkan pusing, kalau belum ngopi seharian.

    Tapi di balik rutinitas itu, muncul pertanyaan yang sering bikin galau: apakah aman minum kopi setiap hari? Atau jangan-jangan, kebiasaan ini malah diam-diam memunculkan risiko bagi jantung, tekanan darah, atau lambung?


    Beberapa orang mengaku merasa lebih fokus dan bersemangat setelah ngopi, tapi ada juga yang justru berdebar, sulit tidur, atau asam lambungnya naik. Jadi, bagaimana sebenarnya pandangan ilmiah soal ngopi tiap hari?

    Manfaat Minum Kopi bagi Tubuh

    Kopi bukan hanya soal kafein. Dalam secangkir kopi hitam tanpa gula terkandung lebih dari 1.000 senyawa bioaktif, termasuk polifenol dan antioksidan kuat seperti asam klorogenat. Zat ini membantu melawan radikal bebas dan menurunkan risiko penyakit kronis.

    Sebuah studi dari The American Journal of Cardiology tahun 2023 menemukan bahwa orang yang minum kopi 2-3 cangkir per hari memiliki risiko 10-15 persen lebih rendah terhadap penyakit jantung dibanding yang tidak minum sama sekali. Efek ini berlaku untuk kopi tanpa tambahan gula atau krim berlebihan.

    Sementara itu, studi dalam Nutrients Journal tahun 2023 menyebutkan bahwa minum kopi secara moderat bisa meningkatkan sensitivitas insulin dan membantu menurunkan risiko diabetes tipe 2. Kandungan kafein juga menstimulasi sistem saraf pusat, meningkatkan fokus, daya ingat, dan suasana hati karena memicu pelepasan dopamin dan serotonin yaitu dua hormon yang berperan besar dalam rasa bahagia.

    Berisiko Kalau Berlebihan

    Meski banyak manfaatnya, terlalu banyak minum kopi bisa jadi bumerang. Kafein memang membuat tubuh lebih “terjaga”, tapi jika berlebihan, efeknya bisa memicu jantung berdebar, cemas, atau sulit tidur.

    Menurut JAMA Network Open (2022), asupan kafein di atas 400 mg per hari atau setara 3 sampai 4 cangkir kopi dapat meningkatkan tekanan darah dan memengaruhi kualitas tidur pada individu yang sensitif. Beberapa orang juga memiliki variasi gen CYP1A2, yang membuat metabolisme kafein mereka lebih lambat, sehingga efeknya bertahan lebih lama di tubuh.

    Hal lain yang sering dilupakan adalah tambahan gula, sirup, dan krim yang sering dipakai dalam kopi kekinian. Satu gelas kopi kekinian bisa mengandung lebih dari 200 kalori dan 40 gram gula. Jika dikonsumsi setiap hari, kebiasaan ini justru meningkatkan risiko obesitas dan diabetes, bukan manfaat kesehatan.

    Waktu Terbaik untuk Minum Kopi

    Kapan waktu yang ideal untuk menikmati kopi juga penting diperhatikan. Banyak orang langsung menyeruput kopi setelah bangun tidur, padahal di saat itu kadar hormon kortisol yang membantu tubuh tetap bertenaga.

    Riset dalam Chronobiology International tahun 2025 menyarankan waktu terbaik untuk minum kopi adalah antara pukul 09.30 hingga 11.30 pagi. Pada rentang waktu ini, kadar kortisol mulai turun sehingga efek kafein lebih optimal tanpa mengganggu ritme alami tubuh.

    Sebaiknya hindari minum kopi setelah pukul tiga sore, karena kafein bisa bertahan hingga delapan jam dalam tubuh. Kalau diminum terlalu malam, kualitas tidur dapat terganggu tanpa disadari.

    Tips Agar Minum Kopi Tetap Sehat

    Agar terhindar dari efek negatif, perhatikan beberapa hal berikut saat minum kopi.

    • Batasi 1-3 cangkir per hari. Jumlah ini cukup untuk mendapatkan manfaatnya tanpa efek samping.
    • Pilih kopi hitam tanpa gula. Jika ingin rasa manis, gunakan sedikit madu atau susu rendah lemak.
    • Jangan minum saat perut kosong. Kafein bisa meningkatkan produksi asam lambung dan memicu nyeri ulu hati.
    • Perhatikan reaksi tubuh. Kalau jantung berdebar, pusing, atau sulit tidur, berarti tubuhmu sensitif terhadap kafein sehingga disarankan untuk coba kurangi porsinya.

    Bagi sebagian orang, minum kopi bukan sekadar rutinitas, tapi juga momen istirahat sejenak di tengah padatnya aktivitas. Selama diminum dengan bijak, kopi tetap bisa jadi teman yang menyehatkan, bukan sumber masalah.

    (mal/up)



    Sumber : health.detik.com

  • Kenapa Makanan Basi Keluar Lendir? Kenali Juga Tanda Bahaya Lainnya


    Jakarta

    Hingga September 2025, tercatat 6.517 kasus keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG). Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin dalam rapat kerja bersama DPR-RI Komisi IX mengusulkan Upaya Kesehatan Sekolah (UKS) untuk membantu mengawasi keamanan dalam program Makanan Bergizi (MBG).

    Selain itu, Menkes juga usulkan mata pelajaran wajib dalam kurikulum sekolah mengenai keamanan pangan dan gizi. Menurutnya, usulan ini adalah upaya agar anak sekolah memahami makanan yang disajikan dalam program MBG masih layak dikonsumsi atau tidak.

    Meski biasanya makanan yang sudah dimasak aman dikonsumsi, makanan yang disimpan terlalu lama atau tidak sesuai standar penyimpanan makanan akan memberi kesempatan terjadinya kontaminasi bakteri atau rentan basi. Karena itu, menurut Menkes penting untuk tahu ciri-ciri makanan yang sudah tidak layak konsumsi.


    Beberapa ciri makanan tidak layak konsumsi yang bisa dikenali antara lain sebagai berikut.

    Bau dan Rasa Berubah

    Indra penciuman dan perasa menjadi cara paling cepat untuk mendeteksi keamanan makanan yang akan dikonsumsi. Nasi basi akan beraroma asam yang menusuk, sayur bening yang rusak akan berbau masam, sementara lauk bersantan cenderung langu atau tengik.

    Perubahan ini terjadi karena pertumbuhan bakteri pembusuk. Misalnya, Bacillus cereus yang sering muncul pada nasi menghasilkan asam organik saat memecah pati, sehingga muncul aroma kecut. Begitu pula pada sayur berkuah, bakteri fermentatif memecah kandungan karbohidrat sayuran menjadi asam, membuat rasanya berubah. Minyak dalam santan yang teroksidasi juga menghasilkan bau tengik.

    Menurut penelitian yang terbit di Jurnal Foods (2025), senyawa volatil hasil metabolisme mikroba inilah yang memunculkan bau dan rasa tak sedap, meski secara kasat mata makanan kadang masih terlihat normal.

    Tekstur Tidak Normal

    Perubahan tekstur pada makanan juga dapat mengindikasikan makanan tidak layak. Nasi yang pulen bisa berubah menjadi kering, menggumpal, bahkan berlendir jika sudah basi. Pada sayur berkuah, kuah yang semula jernih bisa menjadi kental atau berbusa. Lauk bersantan biasanya mengalami pecah santan, yaitu minyak terpisah dan terlihat mengambang di permukaan.

    Penyebabnya bisa datang dari tiga faktor yaitu aktivitas mikroba, enzim alami makanan yang masih aktif meski sudah dimasak, serta suhu penyimpanan yang tidak tepat. Kombinasi faktor ini mempercepat kerusakan makanan matang, bahkan sebelum ada tanda lain seperti bau menyengat.

    Warna Berubah

    Warna juga bisa menjadi indikator. Sayur bening yang biasanya jernih bisa berubah keruh, sop ayam yang cerah bisa menjadi keabu-abuan, dan lauk bersantan bisa tampak cokelat kusam.

    Menurut penelitian yang dipublikasikan di International Journal of Food Science & Technology tahun 2024, perubahan warna ini umumnya dipicu oleh oksidasi lemak, pemecahan pigmen alami bahan makanan, serta pertumbuhan mikroba. Pada santan misalnya, oksidasi membuat warnanya berubah gelap, sementara aktivitas bakteri pada sayur bisa membuat kuahnya menjadi keruh.

    Tidak Selalu Gampang Dikenali

    Namun perlu diingat, tidak semua makanan matang yang terkontaminasi akan menunjukkan tanda-tanda perubahan. Ada kalanya makanan tetap tampak normal, tapi sebenarnya berbahaya.

    Contohnya, nasi goreng atau mie goreng yang disimpan di suhu ruang bisa terkontaminasi Staphylococcus aureus, meski bau dan rasanya masih sama. Lauk berkuah juga bisa mengandung Salmonella atau E. coli tanpa perubahan fisik yang jelas.

    Selain bakteri, ada pula risiko dari histamin. Pada lauk berbahan ikan laut seperti tongkol atau cakalang, bakteri tertentu bisa memecah histidin menjadi histamin. Masalahnya, histamin bisa bertahan meski ikan sudah dimasak. Akibatnya, makanan tampak normal namun bisa memicu gejala keracunan seperti wajah memerah, sakit kepala, mual, hingga diare. Comprehensive Reviews in Food Science and Food Safety (2020) menyebut fenomena ini sebagai scombroid poisoning, yang kerap luput terdeteksi.

    Dampak Mengonsumsi Makanan Tidak Layak

    Mengonsumsi makanan matang yang sebenarnya sudah tidak layak bisa memicu berbagai masalah kesehatan. Gejalanya bisa muncul cepat, beberapa jam setelah makan, atau tertunda hingga sehari kemudian, tergantung jenis mikroba maupun toksin yang terbentuk.

    1. Gangguan saluran cerna

    Gejala paling umum adalah mual, muntah, sakit perut, hingga diare. Bacillus cereus pada nasi basi, misalnya, dikenal memicu muntah dan diare akibat toksin yang tahan panas.

    2. Keracunan bakteri berbahaya

    Jika makanan terkontaminasi Salmonella atau E. coli, gejalanya bisa lebih berat, seperti demam, kram perut, diare berdarah, bahkan dehidrasi parah. Kondisi ini butuh penanganan medis cepat, terutama pada anak-anak.

    3. Reaksi mirip alergi

    Pada ikan yang menghasilkan histamin, gejala muncul menyerupai alergi: wajah dan tubuh memerah, sakit kepala, jantung berdebar, hingga rasa panas di kulit. Kondisi ini dikenal sebagai scombroid poisoning, yang sering tidak disadari karena makanan terlihat normal.

    (mal/up)



    Sumber : health.detik.com

  • Kenapa Makanan Basi Keluar Lendir? Kenali Juga Tanda Bahaya Lainnya


    Jakarta

    Hingga September 2025, tercatat 6.517 kasus keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG). Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin dalam rapat kerja bersama DPR-RI Komisi IX mengusulkan Upaya Kesehatan Sekolah (UKS) untuk membantu mengawasi keamanan dalam program Makanan Bergizi (MBG).

    Selain itu, Menkes juga usulkan mata pelajaran wajib dalam kurikulum sekolah mengenai keamanan pangan dan gizi. Menurutnya, usulan ini adalah upaya agar anak sekolah memahami makanan yang disajikan dalam program MBG masih layak dikonsumsi atau tidak.

    Meski biasanya makanan yang sudah dimasak aman dikonsumsi, makanan yang disimpan terlalu lama atau tidak sesuai standar penyimpanan makanan akan memberi kesempatan terjadinya kontaminasi bakteri atau rentan basi. Karena itu, menurut Menkes penting untuk tahu ciri-ciri makanan yang sudah tidak layak konsumsi.


    Beberapa ciri makanan tidak layak konsumsi yang bisa dikenali antara lain sebagai berikut.

    Bau dan Rasa Berubah

    Indra penciuman dan perasa menjadi cara paling cepat untuk mendeteksi keamanan makanan yang akan dikonsumsi. Nasi basi akan beraroma asam yang menusuk, sayur bening yang rusak akan berbau masam, sementara lauk bersantan cenderung langu atau tengik.

    Perubahan ini terjadi karena pertumbuhan bakteri pembusuk. Misalnya, Bacillus cereus yang sering muncul pada nasi menghasilkan asam organik saat memecah pati, sehingga muncul aroma kecut. Begitu pula pada sayur berkuah, bakteri fermentatif memecah kandungan karbohidrat sayuran menjadi asam, membuat rasanya berubah. Minyak dalam santan yang teroksidasi juga menghasilkan bau tengik.

    Menurut penelitian yang terbit di Jurnal Foods (2025), senyawa volatil hasil metabolisme mikroba inilah yang memunculkan bau dan rasa tak sedap, meski secara kasat mata makanan kadang masih terlihat normal.

    Tekstur Tidak Normal

    Perubahan tekstur pada makanan juga dapat mengindikasikan makanan tidak layak. Nasi yang pulen bisa berubah menjadi kering, menggumpal, bahkan berlendir jika sudah basi. Pada sayur berkuah, kuah yang semula jernih bisa menjadi kental atau berbusa. Lauk bersantan biasanya mengalami pecah santan, yaitu minyak terpisah dan terlihat mengambang di permukaan.

    Penyebabnya bisa datang dari tiga faktor yaitu aktivitas mikroba, enzim alami makanan yang masih aktif meski sudah dimasak, serta suhu penyimpanan yang tidak tepat. Kombinasi faktor ini mempercepat kerusakan makanan matang, bahkan sebelum ada tanda lain seperti bau menyengat.

    Warna Berubah

    Warna juga bisa menjadi indikator. Sayur bening yang biasanya jernih bisa berubah keruh, sop ayam yang cerah bisa menjadi keabu-abuan, dan lauk bersantan bisa tampak cokelat kusam.

    Menurut penelitian yang dipublikasikan di International Journal of Food Science & Technology tahun 2024, perubahan warna ini umumnya dipicu oleh oksidasi lemak, pemecahan pigmen alami bahan makanan, serta pertumbuhan mikroba. Pada santan misalnya, oksidasi membuat warnanya berubah gelap, sementara aktivitas bakteri pada sayur bisa membuat kuahnya menjadi keruh.

    Tidak Selalu Gampang Dikenali

    Namun perlu diingat, tidak semua makanan matang yang terkontaminasi akan menunjukkan tanda-tanda perubahan. Ada kalanya makanan tetap tampak normal, tapi sebenarnya berbahaya.

    Contohnya, nasi goreng atau mie goreng yang disimpan di suhu ruang bisa terkontaminasi Staphylococcus aureus, meski bau dan rasanya masih sama. Lauk berkuah juga bisa mengandung Salmonella atau E. coli tanpa perubahan fisik yang jelas.

    Selain bakteri, ada pula risiko dari histamin. Pada lauk berbahan ikan laut seperti tongkol atau cakalang, bakteri tertentu bisa memecah histidin menjadi histamin. Masalahnya, histamin bisa bertahan meski ikan sudah dimasak. Akibatnya, makanan tampak normal namun bisa memicu gejala keracunan seperti wajah memerah, sakit kepala, mual, hingga diare. Comprehensive Reviews in Food Science and Food Safety (2020) menyebut fenomena ini sebagai scombroid poisoning, yang kerap luput terdeteksi.

    Dampak Mengonsumsi Makanan Tidak Layak

    Mengonsumsi makanan matang yang sebenarnya sudah tidak layak bisa memicu berbagai masalah kesehatan. Gejalanya bisa muncul cepat, beberapa jam setelah makan, atau tertunda hingga sehari kemudian, tergantung jenis mikroba maupun toksin yang terbentuk.

    1. Gangguan saluran cerna

    Gejala paling umum adalah mual, muntah, sakit perut, hingga diare. Bacillus cereus pada nasi basi, misalnya, dikenal memicu muntah dan diare akibat toksin yang tahan panas.

    2. Keracunan bakteri berbahaya

    Jika makanan terkontaminasi Salmonella atau E. coli, gejalanya bisa lebih berat, seperti demam, kram perut, diare berdarah, bahkan dehidrasi parah. Kondisi ini butuh penanganan medis cepat, terutama pada anak-anak.

    3. Reaksi mirip alergi

    Pada ikan yang menghasilkan histamin, gejala muncul menyerupai alergi: wajah dan tubuh memerah, sakit kepala, jantung berdebar, hingga rasa panas di kulit. Kondisi ini dikenal sebagai scombroid poisoning, yang sering tidak disadari karena makanan terlihat normal.

    (mal/up)



    Sumber : health.detik.com

  • Anemia Berat gara-gara Matcha, Mungkinkah? Sebuah Pengingat untuk Gen-Z


    Jakarta

    Matcha memang tengah banyak digemari, khususnya di kalangan Gen-Z. Rasanya yang khas, bisa dikreasikan dalam bentuk latte, dessert, hingga camilan, membuat matcha semakin mudah ditemui di kafe-kafe maupun gerai minuman. Popularitasnya juga didorong oleh citra matcha sebagai minuman sehat dengan manfaat untuk jantung, energi, hingga kulit.

    Namun, tidak semua orang cocok mengkonsumsi matcha. Seorang wanita asal Maryland, Amerika Serikat, harus dirawat di rumah sakit setelah kecintaannya pada matcha justru menyebabkan ia menderita anemia berat.

    Wanita berusia 28 tahun, bernama Lynn Shazeen, sejak bulan Mei rutin minum matcha karena percaya manfaatnya baik untuk jantung dan energi tubuh. Sayangnya, beberapa bulan kemudian ia mulai mengalami gejala kelelahan, gatal, hingga sering kedinginan. Hasil pemeriksaan dokter menunjukkan Shazeen mengalami anemia berat, yang diduga semakin diperparah oleh kebiasaan minumnya.


    Efek Minum Matcha Berlebihan

    Meski matcha punya manfaat bagi kesehatan, mengkonsumsinya secara berlebihan juga dapat menimbulkan efek samping pada tubuh. Kandungan tanin/katekin di dalam matcha bisa menghambat penyerapan zat besi, sehingga berisiko memicu anemia, terutama jika dikonsumsi tiap hari dan berlebihan. Pernyataan ini terbukti di dalam Journal of Nutrition Science.

    Dikutip dari Newsweek, seorang pakar kedokteran keluarga Dr Parth Bhavsar menegaskan kandungan tersebut dapat mengikat zat besi yang terkandung di dalam makanan.

    “Matcha adalah teh hijau bubuk yang mengandung polifenol, yang pada dasarnya mengikat zat besi di usus dan menghambat penyerapannya,” jelas Dr Bhavsar.

    Selain itu, masih menurut Dr Bhavsar, kandungan kafein yang ada di dalam matcha saat diminum berlebihan, efeknya bisa menimbulkan gangguan tidur, cemas, jantung berdebar, hingga sakit perut. Pada sebagian orang, matcha berlebihan juga bisa menyebabkan sakit kepala atau rasa gelisah, bahkan menyebabkan alergi.

    Batas Aman Konsumsi Matcha

    Meski kaya manfaat, matcha memang sebaiknya tidak diminum berlebihan. Menurut para ahli gizi, konsumsi matcha idealnya dibatasi satu sampai dua cangkir per hari, atau sekitar dua sampai empat gram bubuk matcha. Jumlah ini sudah cukup untuk mendapatkan manfaat antioksidan tanpa mengganggu penyerapan zat besi dalam tubuh.

    Ketika matcha tidak diminum berlebihan, maka akan memberikan efek kesehatan yang luar biasa. Dikutip dari Health Shots manfaat kesehatan saat mengkonsumsi matcha antara lain mengatasi radikal bebas penyebab stres oksidatif, mendukung saluran cerna yang sehat, menurunkan berat badan dengan meningkatkan metabolisme, meningkatkan fokus, dan detoksifikasi racun dalam tubuh.

    Penyebab Lain Lynn Shazeen Terkena Anemia

    Menurut pengakuannya, Lynn Shazeen hanya mengkonsumsi matcha dua sampai tiga kali seminggu, yang seharusnya tidak tiap hari mengonsumsi matcha. Tidak disebutkan berapa banyak tiap kali minum matcha, sehingga ada kemungkinan faktor lain yang menyebabkan dia menderita anemia berat.

    Beberapa kemungkinan penyebabnya antara lain:

    • Kurang asupan sumber zat besi dari makanan, misalnya jarang mengkonsumsi daging merah, hati, bayam, atau kacang-kacangan.
    • Minum matcha berdekatan dengan waktu makan juga dapat mempengaruhi penyerapan kandungan zat besi yang ada di dalam makanan yang baru saja dikonsumsi.

    Shazeen memiliki kebiasaan minum minuman sumber anti-inflamasi setiap hari untuk detoksifikasi, terlihat di video-video yang dia bagikan di akun media sosialnya. Minuman anti-inflamasi biasanya mengandung polifenol dan menurut beberapa penelitian polifenol dapat mengganggu penyerapan zat besi, sehingga ada kemungkinan minuman yang bertujuan sebagai detoksifikasi tubuh tersebut mengandung zat atau senyawa yang juga menghambat penyerapan zat besi.

    Shazeen termasuk ke dalam kelompok usia wanita subur, sehingga berisiko lebih tinggi mengalami anemia. Ada kemungkinan dia mengalami menstruasi berat, yang bisa mengurangi cadangan zat besi lebih cepat. Di antaranya:

    • Kurangnya asupan vitamin pendukung, seperti vitamin B12 dan folat yang penting untuk pembentukan sel darah merah.
    • Riwayat medis tertentu, seperti gangguan pencernaan (misalnya gastritis, celiac disease, atau infeksi) yang menghambat penyerapan zat besi.

    Riwayat pemeriksaan darah yang dia bagikan di dalam video di akun tiktok miliknya menunjukkan kadar iron saturation dan kadar hemoglobin miliknya sebelum minum matcha masing-masing 23 (normal: 20-45) dan 12,8 (normal: 12-15,5). Dilihat dari data tersebut, Shazeen memang dinilai tidak anemia, tetapi kadar iron saturation dan hemoglobin-nya mendekati kategori angka yang rendah.

    Matcha Tetap Aman Asal…

    Meski pengalaman Shazeen cukup mengejutkan, konsumsi matcha sebenarnya relatif aman bagi orang sehat. Kuncinya adalah memperhatikan jumlah dan waktu minum:

    • Hindari minum matcha berdekatan dengan waktu makan
    • Kombinasikan dengan makanan kaya zat besi (daging merah, bayam, kacang-kacangan)
    • Tambahkan sumber vitamin C (jeruk, stroberi, tomat) untuk membantu meningkatkan penyerapan zat besi
    • Tidak berlebihan, cukup satu sampai dua cangkir per hari

    Dengan cara ini, manfaat matcha sebagai minuman sehat tetap bisa didapatkan tanpa menimbulkan efek buruk bagi kesehatan tubuh.

    (mal/up)



    Sumber : health.detik.com

  • Anemia Berat gara-gara Matcha, Mungkinkah? Sebuah Pengingat untuk Gen-Z


    Jakarta

    Matcha memang tengah banyak digemari, khususnya di kalangan Gen-Z. Rasanya yang khas, bisa dikreasikan dalam bentuk latte, dessert, hingga camilan, membuat matcha semakin mudah ditemui di kafe-kafe maupun gerai minuman. Popularitasnya juga didorong oleh citra matcha sebagai minuman sehat dengan manfaat untuk jantung, energi, hingga kulit.

    Namun, tidak semua orang cocok mengkonsumsi matcha. Seorang wanita asal Maryland, Amerika Serikat, harus dirawat di rumah sakit setelah kecintaannya pada matcha justru menyebabkan ia menderita anemia berat.

    Wanita berusia 28 tahun, bernama Lynn Shazeen, sejak bulan Mei rutin minum matcha karena percaya manfaatnya baik untuk jantung dan energi tubuh. Sayangnya, beberapa bulan kemudian ia mulai mengalami gejala kelelahan, gatal, hingga sering kedinginan. Hasil pemeriksaan dokter menunjukkan Shazeen mengalami anemia berat, yang diduga semakin diperparah oleh kebiasaan minumnya.


    Efek Minum Matcha Berlebihan

    Meski matcha punya manfaat bagi kesehatan, mengkonsumsinya secara berlebihan juga dapat menimbulkan efek samping pada tubuh. Kandungan tanin/katekin di dalam matcha bisa menghambat penyerapan zat besi, sehingga berisiko memicu anemia, terutama jika dikonsumsi tiap hari dan berlebihan. Pernyataan ini terbukti di dalam Journal of Nutrition Science.

    Dikutip dari Newsweek, seorang pakar kedokteran keluarga Dr Parth Bhavsar menegaskan kandungan tersebut dapat mengikat zat besi yang terkandung di dalam makanan.

    “Matcha adalah teh hijau bubuk yang mengandung polifenol, yang pada dasarnya mengikat zat besi di usus dan menghambat penyerapannya,” jelas Dr Bhavsar.

    Selain itu, masih menurut Dr Bhavsar, kandungan kafein yang ada di dalam matcha saat diminum berlebihan, efeknya bisa menimbulkan gangguan tidur, cemas, jantung berdebar, hingga sakit perut. Pada sebagian orang, matcha berlebihan juga bisa menyebabkan sakit kepala atau rasa gelisah, bahkan menyebabkan alergi.

    Batas Aman Konsumsi Matcha

    Meski kaya manfaat, matcha memang sebaiknya tidak diminum berlebihan. Menurut para ahli gizi, konsumsi matcha idealnya dibatasi satu sampai dua cangkir per hari, atau sekitar dua sampai empat gram bubuk matcha. Jumlah ini sudah cukup untuk mendapatkan manfaat antioksidan tanpa mengganggu penyerapan zat besi dalam tubuh.

    Ketika matcha tidak diminum berlebihan, maka akan memberikan efek kesehatan yang luar biasa. Dikutip dari Health Shots manfaat kesehatan saat mengkonsumsi matcha antara lain mengatasi radikal bebas penyebab stres oksidatif, mendukung saluran cerna yang sehat, menurunkan berat badan dengan meningkatkan metabolisme, meningkatkan fokus, dan detoksifikasi racun dalam tubuh.

    Penyebab Lain Lynn Shazeen Terkena Anemia

    Menurut pengakuannya, Lynn Shazeen hanya mengkonsumsi matcha dua sampai tiga kali seminggu, yang seharusnya tidak tiap hari mengonsumsi matcha. Tidak disebutkan berapa banyak tiap kali minum matcha, sehingga ada kemungkinan faktor lain yang menyebabkan dia menderita anemia berat.

    Beberapa kemungkinan penyebabnya antara lain:

    • Kurang asupan sumber zat besi dari makanan, misalnya jarang mengkonsumsi daging merah, hati, bayam, atau kacang-kacangan.
    • Minum matcha berdekatan dengan waktu makan juga dapat mempengaruhi penyerapan kandungan zat besi yang ada di dalam makanan yang baru saja dikonsumsi.

    Shazeen memiliki kebiasaan minum minuman sumber anti-inflamasi setiap hari untuk detoksifikasi, terlihat di video-video yang dia bagikan di akun media sosialnya. Minuman anti-inflamasi biasanya mengandung polifenol dan menurut beberapa penelitian polifenol dapat mengganggu penyerapan zat besi, sehingga ada kemungkinan minuman yang bertujuan sebagai detoksifikasi tubuh tersebut mengandung zat atau senyawa yang juga menghambat penyerapan zat besi.

    Shazeen termasuk ke dalam kelompok usia wanita subur, sehingga berisiko lebih tinggi mengalami anemia. Ada kemungkinan dia mengalami menstruasi berat, yang bisa mengurangi cadangan zat besi lebih cepat. Di antaranya:

    • Kurangnya asupan vitamin pendukung, seperti vitamin B12 dan folat yang penting untuk pembentukan sel darah merah.
    • Riwayat medis tertentu, seperti gangguan pencernaan (misalnya gastritis, celiac disease, atau infeksi) yang menghambat penyerapan zat besi.

    Riwayat pemeriksaan darah yang dia bagikan di dalam video di akun tiktok miliknya menunjukkan kadar iron saturation dan kadar hemoglobin miliknya sebelum minum matcha masing-masing 23 (normal: 20-45) dan 12,8 (normal: 12-15,5). Dilihat dari data tersebut, Shazeen memang dinilai tidak anemia, tetapi kadar iron saturation dan hemoglobin-nya mendekati kategori angka yang rendah.

    Matcha Tetap Aman Asal…

    Meski pengalaman Shazeen cukup mengejutkan, konsumsi matcha sebenarnya relatif aman bagi orang sehat. Kuncinya adalah memperhatikan jumlah dan waktu minum:

    • Hindari minum matcha berdekatan dengan waktu makan
    • Kombinasikan dengan makanan kaya zat besi (daging merah, bayam, kacang-kacangan)
    • Tambahkan sumber vitamin C (jeruk, stroberi, tomat) untuk membantu meningkatkan penyerapan zat besi
    • Tidak berlebihan, cukup satu sampai dua cangkir per hari

    Dengan cara ini, manfaat matcha sebagai minuman sehat tetap bisa didapatkan tanpa menimbulkan efek buruk bagi kesehatan tubuh.

    (mal/up)



    Sumber : health.detik.com

  • Kopi Tidak Menyebabkan Jantung Berdebar, Ini Kata Peneliti


    Jakarta

    Kafein pada kopi bisa menyebabkan jantung berdebar atau yang disebut palpitasi. Namun, ada sebuah penelitian yang menemukan fakta sebaliknya. Ini kata peneliti!

    Kandungan kafein pada kopi dapat memberikan berbagai macam efek. Jika diminum berlebihan, maka bisa menyebabkan palpitasi atau kondisi jantung berdebar hingga menimbulkan rasa cemas.

    Itu karena kafein akan diserap ke dalam aliran darah dan mencapai jantung. Kemudian, kafein akan merangsang produksi hormon adrenalin yang berperan untuk meningkatkan detak jantung.


    Kondisi tersebut sering terjadi pada peminum kopi. Namun, sebuah penelitian menghilangkan ketakutan tersebut dengan temuannya yang membuktikan bahwa kopi tidak menyebabkan jantung berdebar.

    Dikutip dari CNBC NEWS (27/01) berikut penjelasannya:

    1. Kopi menurunkan risiko jantung berdebar

    kopi jamurIlustrasi biji kopi Foto: Getty Images/Jiggo_thekop

    Sebuah penelitian yang diterbitkan di JAMA Internal Medicine telah menganalisis pada 386.000 orang lebih selama periode 3 tahun dan membandingkan dengan tingkat detak jantung.

    Spesialis Aritmia sekaligus seorang Profesor di Divisi Kardiologi di University of California San Francisco, Dr Gregory Marcus, mengatakan bahwa setiap tambahan secangkir kopi yang dikonsumsi dikaitkan dengan risiko 3% lebih rendah mengalami jantung berdebar.

    Menurut analisis genetiknya, peneliti tidak menemukan hubungan yang signifikan antara gangguan metabolisme kopi dan risiko palpitasi.

    2. Pandangan yang berbeda

    Menurut Dr Marcus, temuan bahwa kopi dapat menyebabkan jantung berdebar lahir dari penelitian yang lebih tua, termasuk penelitian yang sepenuhnya berfokus pada dokter pria.

    “Saat ini sains memiliki pandangan yang berbeda. Faktanya, tinjauan terhadap 201 meta-analisis menemukan bahwa konsumsi kopi dalam jumlah sedang kemungkinan lebih bermanfaat daripada berbahaya bagi kesehatan,” tuturnya.

    Ia mengatakan bahwa kemungkinan manfaat kesehatan dari kafein dan kopi khususnya telah muncul, seperti pengurangan kanker, diabetes, penyakit kardiovaskular, dan kematian.

    Penjelasan lebih lanjut ada di halaman selanjutnya.

    3. Tidak ada kaitan kafein dan jantung berdebar

    Penelitian Terbaru Sebut Minum Kopi Bisa Melindungi Kesehatan JantungIlustrasi kopi hitam. Foto: Ilustrasi iStock

    Dengan analisis yang dilakukan Dr Marcus dapat menyimpulkan bahwa secara umum, mengonsumsi produk berkafein, seperti kopi, teh, dan cokelat tidak dikaitkan dengan peningkatan aritmia atau detak jantung.

    “Tetapi itu tidak menentukan jumlah tertentu per hari. Peminum kopi mempunyai tingkat penyakit arteri koroner yang lebih rendah,” ujar Dr Marcus lebih lanjut.

    Menurutnya, orang yang merasakan jantung berdebar atau gejala lain akibat kopi dan teh mungkin mereka justru mengurangi konsumsinya. Namun, ia juga mencatat bahwa ini adalah temuan lain yang mendukung konsumsi dalam jumlah sedang.

    4. Batasan minum kopi

    Kopi dikenal sebagai minuman yang menyehatkan. Kafein dan senyawa penting pada kopi dapat menurunkan risiko diabetes tipe 2, kardiovaskular, hingga kematian.

    Namun, tentunya itu dapat dirasakan jika diminum dalam porsi normal dan tidak berlebihan. Menurut Dr Marcus, batasannya sekitar 5 cangkir dalam sehari dan anak-anak tidak boleh minum terlalu banyak kafein.

    “Kafein dalam dosis tinggi bisa berakibat fatal. The Food and Drug Administration telah memperingatkan efek dari terlalu banyak mengasup kafein,” tutup Dr Marcus.

    (raf/odi)



    Sumber : food.detik.com