Tag: jatuh

  • Ternyata Ini Alasan Orang Barat Ogah Pakai Kloset Jongkok!



    Jakarta

    Terdapat dua jenis kloset yakni kloset jongkok dan duduk. Namun jika kamu perhatikan, jenis kloset yang banyak dipakai adalah kloset duduk, terutama di negara-negara di Eropa dan Amerika. Lantas, apa alasan kloset jongkok jarang ditemui di sana?

    Dilansir situs Jialifu Cubicle, ada beberapa alasan mengapa orang barat jarang menggunakan kloset jongkok, begini penjelasannya.

    1. Kloset Jongkok Dinilai Tak Higienis

    Kloset jongkok yang tidak memiliki penutup di atasnya, membuat orang barat khawatir saat menyiram atau buang air, ada cipratan air yang mengenai pakaian atau lantai kamar mandi. Mereka melihat bentuk kloset jongkok tidak higienis.


    Selain itu, mereka melihat postur jongkok tidak nyaman. Mereka takut tergelincir saat menggunakannya, apalagi tubuh orang-orang barat rata-rata lebih besar dari orang-orang Asia.

    2. Khawatir Ada Barang Bawaan Jatuh

    Alasan selanjutnya mengapa jarang ditemui kloset jongkok di negara-negara Eropa dan Amerika adalah keamanannya. Biasanya mereka menyimpan barang-barang di kantong celana, seperti ponsel dan dompet. Mereka khawatir barang bawaan mereka bisa terjatuh ke dalam kloset ketika mereka jongkok.

    3. Sulit Berdiri Setelah Jongkok

    Selain posisinya yang sulit bagi mereka, ketika berdiri juga mereka merasa kesulitan. Mereka khawatir setelah berjongkok lama, kaki terasa mati rasa (kesemutan). Dengan memakai kloset duduk, mereka bisa melakukan aktivitas lainnya seperti membaca buku, bermain ponsel, dan lainnya dengan lebih aman.

    Punya pertanyaan soal rumah, tanah atau properti lain? detikProperti bisa bantu jawabin. Pertanyaan bisa berkaitan dengan hukum, konstruksi, jual beli, pembiayaan, interior, eksterior atau permasalahan rumah lainnya.

    Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini

    (aqi/das)



    Sumber : www.detik.com

  • Tips Menyiram Tanaman Agar Tidak Menjadi Sarang Nyamuk


    Jakarta

    Tanaman perlu disiram agar tumbuh dengan subur, baik di dalam maupun pekarangan rumah. Namun, menyiram tanaman terkadang menyisakan genangan air, sehingga rawan jadi sarang nyamuk.

    Nyamuk biasanya berkembang biak di genangan air. Genangan tersebut bisa terbentuk pada daun, pot, dan lubang.

    Oleh karena itu, penghuni rumah perlu lebih berhati-hati ketika menyiram tanaman. Pastikan tidak ada genangan air yang dapat dimanfaatkan nyamuk.


    Bagaimana cara menyiram tanaman tanpa membentuk sarang nyamuk? Simak penjelasannya berikut ini.

    Cara Mencegah Sarang Nyamuk Saat Siram Tanaman

    Inilah tips menyiram tanaman agar tidak menjadi sarang nyamuk, dikutip dari National Parks Board, Minggu (27/7/2025).

    1. Buang Genangan Air di Pot

    Setelah menyiram tanaman di pot, air suka tergenang pada alas pot. Pastikan untuk membuang air tersebut dan menggosok alasnya secara berkala untuk menghilangkan telur nyamuk.

    2. Bersihkan Genangan Air di Pekarangan

    Genangan air juga bisa terbentuk setelah menyiram pekarangan rumah. Air dapat terkumpul di berbagai tempat, misalnya pot, ember, drainase, dan tanaman. Periksa area yang dapat mengumpulkan air, lalu bersihkan agar tidak menjadi sarang nyamuk.

    3. Gemburkan Tanah

    Sebelum menyiram tanaman, sebaiknya gemburkan media tanahnya agar air dapat meresap ke bawah. Permukaan tanah yang padat ketika kering mencegah penyerapan air.

    Jika tidak terserap, air malah menggenang dan tidak sampai ke akar tanaman. Gunakan garpu atau sekop untuk menggemburkan tanah secara berkala.

    4. Bersihkan Daun Jatuh

    Daun-daun yang berjatuhan di pot atau pekarangan rumah bisa menjadi tempat berkumpulnya air. Pastikan untuk membersihkan daun yang jatuh sebelum menyiram tanaman atau pekarangan.

    5. Siram Air

    Penghuni bisa sering menyiram air bersih ke area yang tergenang air di sekitar tanaman. Langkah ini akan menggantikan air yang terkumpul dan membuang telur serta jentik nyamuk.

    Itulah cara mencegah terbentuknya sarang nyamuk ketika menyiram tanaman. Semoga membantu!

    Punya pertanyaan soal rumah, tanah atau properti lain? detikProperti bisa bantu jawabin. Pertanyaan bisa berkaitan dengan hukum, konstruksi, jual beli, pembiayaan, interior, eksterior atau permasalahan rumah lainnya.

    Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini

    (dhw/dhw)



    Sumber : www.detik.com

  • Meteor Jatuh Bisa Sebabkan Tsunami? Ini Kata Ahli Geologi UGM



    Jakarta

    Sebuah meteor berdiameter sekitar 3-5 meter terpantau melintas di langit Cirebon, Jawa Barat, pada Selasa (7/10). Fenomena langka ini sontak memancing rasa ingin tahu publik, apa yang akan terjadi jika benda langit semacam itu benar-benar jatuh ke wilayah Indonesia?

    Secara astronomis, Indonesia memang berada di kawasan strategis di sekitar garis ekuator, jalur yang kerap dilintasi oleh sejumlah asteroid dan meteoroid kecil. Kondisi ini, ditambah dengan prediksi adanya asteroid yang diperkirakan melintasi orbit Bumi pada tahun 2032, membuat banyak pihak mulai menaruh perhatian pada benda dari luar angkasa tersebut.


    Dosen Teknik Geologi Universitas Gadjah Mada, Dr. Nugroho Imam Setiawan, menuturkan kejatuhan meteor dapat membawa dampak positif maupun negatif. Di sisi negatif, jatuhnya meteor berpotensi menyebabkan tsunami. Tumbukan asteroid berukuran besar yang jatuh ke laut berpotensi memicu gelombang tsunami akibat energi yang dilepaskan ke permukaan air.

    Namun, Nugroho menegaskan kemungkinan terjadinya skenario tersebut sangat kecil. Bumi memiliki sistem pertahanan alami berupa lapisan atmosfer yang berfungsi memperlambat dan mengurangi ukuran benda langit yang memasuki orbitnya. Akibatnya, sebagian besar meteor terbakar habis sebelum mencapai permukaan tanah.

    Namun, apabila jatuhan meteor tetap terjadi, maka diharapkan tidak menimbulkan dampak yang besar. “Tentu saja potensi jatuhan meteorit itu masih ada karena kita memiliki asteroid yang ada di sekitar bumi,” ujarnya dalam laman UGM dikutip Kamis (16/10/2025).

    Dampak Positif Jatuhnya Meteor

    Jatuhan meteor juga bisa menjadi berkah terutama dalam bidang ilmiah. Melalui meteorit, ilmuwan dapat mengetahui informasi batuan dari tata surya dan yang ada di sekitar Bumi, komposisi batuan, dan kandungannya.

    “Kita jadi tahu komposisi batuan yang ada di sekitar bumi, umur dari meteorit bisa menjadi informasi umur bumi, kemudian kita juga bisa mengetahui bagaimana sistem tata surya yang terjadi, serta memanfaatkan kandungan dari meteorit tersebut,” jelasnya.

    Untuk memastikan keaslian kandungan dalam meteorit tersebut, ilmuwan harus menggunakan cara khusus dalam pengambilannya. Sampel meteorit lebih banyak diambil dari kutub selatan, karena disana permukaan dari Benua Antartika sebagian besar tertutupi salju, sehingga ketika ada benda langit yang warnanya lebih gelap bisa terlihat dengan jelas.

    “Semakin cepat mengambil sampel dari masa jatuhnya itu semakin baik, kalau semakin lama meteorit sudah bercampur dengan tanah, dan lapuk tentu akan mengurangi keaslian meteorit tersebut,” ujarnya.

    Nugroho menambahkan, salah satu kandungan organik yang ditemukan di dalam meteorit adalah asam amino. Namun, asam amino juga bisa menghilang sebelum sampai di Bumi.

    “Ketika meteorit memiliki pori untuk menyimpan asam amino, dia akan lebih aman tetapi kalau tidak berpori dan asam amino hanya terselubung di bagian luar, tidak akan survive lagi ketika jatuh di bumi,” tambahnya.

    (nir/pal)



    Sumber : www.detik.com