Tag: jogja

  • Patrice Evra Datang ke Jakarta, Promosi Sepakbola Jalanan 3X3


    Jakarta

    Spirit sepakbola jalanan 3X3 sedang berlangsung di Cilandak Square, Jakarta. Untuk menambah semarak, legenda Manchester United Patrice Evra turut hadir.

    Chief Strategic & Operations Offside Corp Kunto Wiyoga menjelaskan bahwa pihaknya menggelar LigaKita Festival untuk mempromosikan sepakbola menyenangkan. Menurutnya, iklim sepakbola Indonesia cukup cocok dengan sepakbola jalanan.

    Minimnya jumlah lapangan dan pemain, tidak menjadi isu buat sepakbola jalanan. Cukup tiga pemain dalam satu tim, pertandingan sepakbola sudah bisa dijalankan.


    “Inisiasi kami adalah menciptakan turnamen soccer cage, mau mengangkat kultur sepakbola jalanan yang berbasis kandang. Jadi bisa dimainkan kapan saja dan di mana saja,” kata Kunto di Cilandak Square, Sabtu (8/11/2025).

    “Jadi ini eksibisi yang pertama 3×3. Intinya ada 1×1 juga, sekarang komunitas. Besok sore akan ada 6 content creator, termasuk juga Patrice Evra yang mau main lawan content creator di Indonesia,” ujarnya menambahkan.

    Sepakbola 3x3Foto: Muhammad Robbani/detikSport

    Dijelaskan Kunto, saat ini Evra sudah ada di Indonesia, dan bahkan sudah jalan-jalan di Jakarta sejak kemarin, Jumat (7/11). Kemudian acara akan dilanjutkan besok, Minggu (9/11), pagi, yang merupakan acara puncak dari berupa Simpati Clash of Stars.

    Acara puncak ini akan diikuti para peserta dari lima kota sebelumnya yang terpilih. Sebanyak lima orang anak berkesempatan berlatih bersama sama Evra di Stadion Asiop, Arcici, Cempaka Putih.

    “Rencananya kami membuat acara ini tiap tahun, ini kali pertama buat Offside Corp dan rangkaian event ini boleh dibilang trial. Insyaallah tahun depan akan mendatangkan pemain internasional lagi, mungkin sekitar 2-3 pemain dengan rangkaian acara yang sama; coaching clinic, clash of stars, nanti menarik anak-anak lagi ke Jakarta,” tutur Kunto.

    “Kemudian akan ada seperti ini lagi turnamen jalanan. Tapi kami akan sebar ke lebih kurang 8-11 kota tahun depan. Ini adalah inisiasi kami untuk membentuk sebuah intelectual property yang berbasis entertainment. Jadi kalau bicara tujuan kami punya tujuan secara komersial, pasti, secara jangka panjang mau naikkan sepakbola Indonesia dari grassroot, 3×3 yang spriritnya karena makin sedikit lapangan bola di Indonesia,” ucapnya.

    “Tidak perlu 11 pemain, tidak perlu 5 pemain, main sendirian lalu tarik dua teman. Jadi main di mana saja dan kapan saja bisa. Kami punya program coaching clinic yang tujuan jangka panjang kami mau punya silabus, meski belum tahu apakah bisa terkoneksi dengan federasi (PSSI),” katanya lagi.

    “Tapi setidaknya kemarin salah satu pelatih kolaborasi di Jogja ada Coach Indra Sjafri, beliau kasih banyak masukkan; program jangka pendek, menengah, panjang. Karena target usia 8-12, sepakbola menyenangkan sehingga diharapkan bisa menciptakan materi yang enak buat mereka,” tutupnya.

    (mro/aff)



    Sumber : sport.detik.com

  • Piknik di Pantai-Kulineran di Pasar



    Yogyakarta

    Tahun Baru 2025 sudah di depan mata. Traveler yang ingin menghabiskannya di Yogyakarta simak ide liburan tahun baru berikut ini:

    Yogyakarta memiliki banyak pilihan liburan seru yang bisa dilakukan tanpa harus meninggalkan kota. Dari menikmati alam hingga mengeksplorasi budaya.

    Selain itu, ada berbagai aktivitas menarik yang bisa mengisi waktu liburan traveler.


    Berikut sederet ide liburan tahun baru di Yogyakarta yang menarik:

    1. Wisata Edukasi di Kebun Binatang

    Liburan yang menyenangkan dan edukatif sering kali menjadi pilihan terbaik bagi keluarga, terutama yang membawa anak-anak. Mengunjungi kebun binatang bukan hanya menawarkan pengalaman menyaksikan hewan-hewan yang menarik, tetapi juga memberikan kesempatan untuk belajar tentang berbagai jenis hewan.

    Di Jogja, Anda bisa mengunjungi Gembira Loka Zoo, sebuah kebun binatang yang memiliki koleksi satwa dari berbagai belahan dunia. Selain itu, Suraloka Interactive Zoo juga bisa menjadi alternatif yang menawarkan suasana yang berbeda.

    2. Berkeliling Taman

    Bagi yang ingin menikmati udara segar dan suasana hijau, mengunjungi taman kota adalah pilihan yang tepat. Di taman kota, traveler bisa berjalan-jalan santai, bersepeda, atau sekadar duduk menikmati pemandangan.

    Aktivitas ini memberikan kesempatan untuk melepaskan penat setelah rutinitas yang padat. Wisdom Park UGM, bisa menjadi pilihan yang tepat bagi traveler untuk melakukan aktivitas ini. Suasananya yang sangat asri dan teduh cocok untuk traveler yang ingin melakukan aktivitas outdoor namun tetap santai.

    3. Wisata Budaya di Museum

    Museum Benteng VredeburgMuseum Benteng Vredeburg (dok. IHA)

    Jika traveler tertarik mengenal lebih dalam tentang sejarah dan budaya lokal, mengunjungi museum bisa menjadi pilihan yang menyenangkan. Di museum, traveler tidak hanya akan mendapatkan pengetahuan baru, tetapi juga menikmati atmosfer yang lebih tenang dan reflektif.

    Museum Sonobudoyo, yang menyajikan koleksi seni dan budaya Jawa, adalah tempat yang sempurna bagi detikers yang ingin lebih mengenal warisan budaya Jogja. Selain itu, detikers juga bisa mengunjungi Museum Benteng Vredeburg atau Museum Sandi yang terletak strategis di tengah kota.

    4. Staycation di Hotel

    Tidak semua liburan harus menghabiskan waktu di luar kota. Staycation atau menginap di hotel lokal bisa menjadi alternatif yang menarik. detikers bisa menikmati fasilitas hotel, bersantai, dan menikmati waktu bersama keluarga tanpa harus bepergian jauh.

    Beberapa hotel di Jogja menawarkan nuansa lawas yang kental, seperti The Phoenix Hotel, yang memiliki arsitektur kolonial yang indah, atau Hotel Tentrem yang menggabungkan kemewahan modern dengan sentuhan tradisional mungkin akan menjadi sensasi baru untuk detikers saat staycation.

    5. Piknik di Pantai

    Bagi traveler yang ingin liburan santai namun tetap menikmati alam terbuka, piknik di pantai atau danau bisa menjadi pilihan yang menyegarkan. Jogja memiliki beberapa pantai dan danau yang indah untuk dijadikan tempat piknik.

    Contohnya seperti Pantai Parangtritis yang terkenal dengan pasir hitamnya dan pantai-pantai di Gunungkidul seperti Pantai Ngetun dan Wediombo. Nikmati suasana tenang sambil menikmati makanan ringan atau sekadar menikmati alam.

    6. Jelajahi Kuliner Khas Jogja

    Suasana di Pasar Beringharjo, Jogja, Selasa (26/12/2023).Suasana di Pasar Beringharjo, Jogja (Adji G Rinepta/detikJogja)

    Liburan Tahun Baru juga bisa menjadi kesempatan untuk mengeksplorasi kuliner lokal yang menggugah selera. Jogja dikenal dengan berbagai hidangan lezat yang sayang untuk dilewatkan.

    Traveler bisa mengunjungi pasar tradisional untuk mencicipi makanan khas, atau menjelajahi tempat makan yang populer di kota ini. Pasar Beringharjo, Pasar Kotagede dan Pasar Ngasem adalah tiga contoh rekomendasi tempat yang sempurna untuk berburu makanan lokal.

    Ada gudeg, bakpia, dan aneka jajanan tradisional khas Jogja yang bisa dicoba traveler. Bagi traveler yang ingin berburu makanan dan jajanan otentik khas Jogja, maka pilihan ini cukup menarik untuk dimasukkan dalam rencana liburan.

    ——-

    Artikel ini telah naik di detikJogja.

    (wsw/fem)

    Sumber : travel.detik.com

    Alhamdulillah wisata mobil اللهم صل على رسول الله محمد
    ilustrasi gambar : unsplash.com / Thomas Tucker
  • Sarsa, Dulu Jualan Alat Lukis, Kini Ruang Kreatif dan Healing Gen Z



    Yogyakarta

    Sarsa Creative Space hype di kalangan Gen Z Yogyakarta. Dulu, ternyata Sarsa adalah produk lukis yang dijual lewat media sosial.

    Ruang kreatif Sarsa di Nglengkong, Sukoharjo, Kecamatan Ngaglik, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), disebut-sebut sebagai tempat ideal untuk meredakan stress lewat kegiatan seni. Sarsa diinisiasi oleh Firza Ayubi dan Dian Agustina.

    Firza menyebut masih kuliah ketika merintis Sarsa. Dulu, Sarsa tidak memiliki kedai dengan view sawah nan menenangkan seperti sekarang,


    “Dulu Covid 19 sekitar tahun 2020 ga bisa keluar, harus di rumah aja. Kepikiran gimana kalau kita bikin semacam stress release, tanpa keluar rumah. Akhirnya bikin paket lukis, ada kanvas, kuas dan cat, lalu dipack. Awalnya nawarin by Whatsapp dan Instagram ke temen-temen,” Kata Firza dalam perbincangan dengan detikTravel, Senin (10/6/2024).

    Ketika pandemi mulai berangsur menuju new normal, Sarsa mulai aktif ikut kegiatan offline. Mulai dari event kampus hingga bazar. Akhirnya Sarsa mulai dikenal oleh pasar. Sejak itulah muncul permintaan untuk mengadakan workshop.

    “Banyak yang minta workshop dalam 1 tempat. akhirnya ada workshop by order 10-15 orang per rombongan,” kata Firza.

    Sarsa Creative Space di Sleman, YogyakartaSarsa Creative Space di Sleman, Yogyakarta (Arawinda Dea Alisia/detikcom)

    Tiga tahun Sarsa aktif menjual lukisan, akhirnya di tahun 2023 berdirilah rumah kreatif Sarsa. Didorong oleh keresahan untuk membuat tempat nongkrong anti-mainstream, Firza memilih bangunan Jogja di tengah sawah itu.

    Konsep yang coba diusung adalah healing dan stress release yang kembali ke alam. Firza ingin setiap pengunjung yang datang dapat melupakan penatnya dan meluruhkannya pada kegiatan seni. Sarsa kemudian menambah beberapa fasilitas seperti penyediaan jajanan jadul yang bisa bikin traveler bernostalgia. Juga gratis secangkir teh yang bisa diseduh sendiri setiap pembelian.

    Sarsa Creative Space di Sleman, YogyakartaSarsa Creative Space di Sleman, Yogyakarta (Arawinda Dea Alisia/detikcom)

    Awalnya hanya lukis, kini sudah mulai merambah pada kegiatan lainnya seperti meronce, menyusun micro block, hingga membuat clay. Firza menyebut bahkan mulai muncul banyak tawaran kerjasama barang untuk masuk ke Sarsa, seperti resin, batik, dan lainnya. Namun, Firza mengungkap ada tiga kriteria utama dalam pemilihan kegiatan di Sarsa.

    “Bisa digunakan orang awam. Estimasi waktunya tiga jam mengerjakan sesuatu dan selesai. Dan terakhir affordable. jadi kalau melenceng dari 3 itu agak dipikir ulang,” kata Firza.

    Sarsa sempat membuka cabang keduanya di salah satu gerai di Sleman City Hall, Jogja. Namun kini telah tutup karena dirasa telah melenceng dari konsep awalnya yang kembali ke alam.

    Meski bukan menjadi satu-satunya ruang kreatif di Jogja, transaksi di Sarsa bisa mencapai 50 transaksi setiap hari. Bahkan, di hari libur angkanya dapat naik hingga 2-3 kali lipat.

    “Yang kita jual experience, karena kalau produk pasti banyak. Kamu dateng, sama temen-temen atau sendirian, liat sawah, denger gemercik air, ada effortnya ke sana karena jauh,” kata Firza.

    (fem/fem)

    Sumber : travel.detik.com

    Alhamdulillah wisata mobil اللهم صل على رسول الله محمد
    ilustrasi gambar : unsplash.com / Thomas Tucker
  • Jelajah Lorong Waktu di Diorama Arsip Jogja



    Yogyakarta

    Diorama Arsip Jogja menyodorkan wisata edukasi interaktif. Sama sekali tidak membosankan.

    Di sini, traveler seolah diseret masuk menembus lorong waktu sejarah empat abad. Durasinya seperti menyaksikan film-film di bioskop atau Netflix, yakni selama 90 menit.

    Di sini traveler diajak berkeliling langsung oleh tour guide melintasi 18 ruangan. Masing-masing ruangan merepresentasikan setiap era, mulai dari Panembahan Senopati hingga Keistimewaan Yogyakarta. Keunikannya, setiap ruangan tersedia visualisasi konten yang interaktif dengan durasi 5 hingga 10 menit. Traveler juga bisa memanfaatkan fitur AR (Augmented Reality) yang tersambung dengan aplikasi khusus yang akan dipandu oleh tour guide yang ada.


    “Yang menarik perhatian pengunjung paling banyak ada di ruang delapan, di lokomotif perubahan. Karena nanti kita, istilahnya kontennya kita berada di dalam kereta menuju moderenisasi Jogjakarta,” ungkap Ginza (26), salah satu pemandu saat ditemui tim detikTravel, Rabu (21/2/2024).

    Menariknya, di sini traveler hanya bisa datang di jam-jam tertentu sesuai sesi yang telah ditentukan. Selain itu, untuk dapat masuk ke Diorama Arsip Jogja traveler wajib melakukan reservasi melalui website arsipjogja.id atau nomor whatsapp resmi yang dapat dilihat di akun instagram @dioramarsipjogja.

    Diorama Arsip Jogja, YogyakartaDiorama Arsip Jogja, Yogyakarta (Arawinda Dea Alisia/detikcom)

    Tidak hanya diajak untuk mengingat sejarah kerajaan, traveler juga akan melihat kilas balik dahsyatnya erupsi Gunung merapi tahun 2010 silam. Juga asal muasal lahirnya Yogyakarta sebagai kota yang erat dengan pendidikan, pariwisata, dan kebudayaannya. Tentunya, diorama ini tidak melarang pengunjungnya untuk berswafoto ria, selagi masih dalam batas aman dari koleksi.

    “Unik banget sih ini, di sini walaupun museum tapi kita ga ngantuk karena tiap ruangannya ada visualisasi dan dijelasin komplit juga sama pemandunya jadi belajarnya nggak bosen,” kata Dila, salah satu pengunjung Diorama Arsip Jogja, Rabu (21/2/2024).

    Sejak beroperasi pada tahun 2022, Diorama Arsip Jogja kini mulai viral kembali di media sosial karena menawarkan experience yang seru dengan harga cukup terjangkau. Penasaran dengan detail lokasi, jam operasional, harga tiket, dan cara reservasinya?

    Yuk, simak ulasan dari detikTravel.

    Lokasi, Harga Tiket, dan Jam Operasional Diorama Arsip Jogja

    Diorama Arsip Jogja, YogyakartaDiorama Arsip Jogja, Yogyakarta (Arawinda Dea Alisia/detikcom)

    Diorama Arsip Jogja berlokasi di Jalan Wonocatur, Kecamatan Banguntapan, Kabupaten Bantul. Lokasi tepatnya adalah di Gedung Depo Arsip Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah Istimewa Yogyakarta.

    Untuk menuju ke sini, traveler hanya membutuhkan waktu tempuh sekitar 20 menit menggunakan kendaraan pribadi dari Stasiun Tugu Yogyakarta.

    Bagi traveler yang ingin menggunakan transportasi umum dapat memilih transjogja jurusan Bandara Adi Sucipto dan berhenti di pemberhentian bus depan Perpustakaan Grhatama Pustaka.

    Mulai 2 Januari 2024, Diorama Arsip Jogja dikenai tarif retribusi disesuaikan dengan kategori yang ada. Berikut daftar lengkapnya :

    1. Pelajar/mahasiswa : Rp 20.000 per orang
    2. Masyarakat umum : Rp 30.000 per orang
    3. Wisatawan asing : Rp 100.000 per orang
    4. Pembuatan liputan/vlog/ konten Youtube : Rp 250.000 per sesi
    5. Paket Outing Class : bayar seharga 23 tiket untuk 25 pengunjung

    Tarif tersebut untuk satu sesi selama 90 menit, sudah termasuk dengan tour guide. Setiap sesi hanya dibatasi sejumlah 25 orang saja. Diorama Arsip Jogja beroperasi dari hari Selasa hingga Minggu dengan total 10 sesi setiap hari nya.

    Berikut jadwal lengkap hariannya :

    Sesi Pagi

    1. Sesi 1 : 09.00 – 10.30
    2. Sesi 2 : 09.20 – 10.50
    3. Sesi 3 : 09.40 – 11.10
    4. Sesi 4 : 10.00 – 11.30
    5. Sesi 5 : 10.20 – 11.50

    Sesi Siang

    1. Sesi 1 : 13.00 – 14.30
    2. Sesi 2 : 13.20 – 14.50
    3. Sesi 3 : 13.40 – 15.10
    4. Sesi 4 : 14.00 – 15.30
    5. Sesi 5 : 14.20 – 15.50

    Diorama Arsip Jogja bisa menjadi salah satu ide kencan menarik bersama teman, keluarga, atau pasangan tatkala menghabiskan waktu di Jogja. Berkunjung ke Jogja tapi bingung sama sejarahnya? Rugi dong jika melewatkan Diorama Arsip Jogja.

    (fem/fem)

    Sumber : travel.detik.com

    Alhamdulillah wisata mobil اللهم صل على رسول الله محمد
    ilustrasi gambar : unsplash.com / Thomas Tucker
  • Toko Roti Jakarta, tapi Lokasinya di Jogja, Umurnya Nyaris 1 Abad



    Jogja

    Ada sebuah toko roti legendaris yang bisa dikunjungi traveler di Yogyakarta. Namanya Toko Roti Jakarta. Usianya nyaris 100 tahun. Bagaimana kisahnya?

    Toko Roti Jakarta adalah salah satu toko roti legendaris di Yogyakarta. Toko ini sudah buka sejak tahun 1924 atau hampir 100 tahun. Terhitung sudah empat generasi lamanya, toko roti ini mampu bertahan.

    General Manager Toko Roti Jakarta, Andreas Purwanto (30) mengatakan, Toko Roti Jakarta saat ini dikelola oleh generasi keempat.


    “Saya generasi keempat di toko ini. Toko ini sudah ada dari 1924,” katanya saat ditemui detikJogja di tokonya di daerah Poncowinatan, Jetis, Yogyakarta.

    Sebelum Toko Roti Jakarta, Toko Ini Bernama Weltevreden

    Toko Roti Jakarta dahulu bernama Weltevreden, yang merujuk pada nama sebuah kota di Jatinegara, Jakarta Timur. Namun, sejak Indonesia merdeka berganti nama menjadi Toko Roti Jakarta, karena pada saat itu terdapat larangan memakai nama dengan unsur Belanda.

    Alasan mengambil nama yang mengandung unsur Jakarta ini karena dulu pemilik generasi pertama, yaitu Nio sempat belajar membuat roti di Jakarta.

    “Yang buka pertama kan eyang buyut ya, berarti generasi pertama. Eyang buyut dulu namanya masih pake ejaan lama ya, Ibu Nio. Karena waktu itu di Jogja kan belum banyak toko roti tahun itu. Eyang buyut belajarnya di Jakarta, belajar roti di Jakarta terus pindah balik ke Jogja,” jelas Andreas.

    Sepanjang berdiri. Toko Roti Jakarta telah berpindah lokasi selama beberapa kali. Lokasi pertama toko ini dulu berada di daerah Dagen, Malioboro.

    Kemudian di tahun 1970-an berpindah ke Poncowinatan. Alasannya saat itu toko sedang direnovasi, maka toko pindah lagi ke daerah Jlagran, yang saat ini menjadi pusat Toko Roti Jakarta.

    Meski usianya sudah nyaris 1 abad, tapi Toko Roti Jakarta sudah tidak mempertahankan cara maupun alat jadul. Mereka sudah menggunakan cara-cara modern.

    Salah satu produk legend dari Toko Roti Jakarta adalah Roti Ontbijtkoek pernah menjuarai kejuaraan nasional yang diselenggarakan oleh Blue Band di tahun 2017. Roti ini bersaing dengan lebih dari 5.000 bakery pada waktu itu.

    “Itu yang juara nasional (tahun) 2017 Blue Band Master, (setiap roti) ada keunikan sendiri-sendiri. Kalau ini luarnya ada asinnya karena kita pakai butter dalamnya manis, tapi bolu nggak terlalu yang enek. Namanya Roti Ontbijtkoek,” ucap Andreas.

    Ontbijtkoek merupakan roti khas Belanda yang umum dikonsumsi sebagai sarapan. Secara literal, roti ini berarti breakfast cake atau kue sarapan.

    Roti ini sendiri dibuat dengan rempah-rempah seperti kayu manis, bunga lawang, kapulaga, jahe, pala cengkeh, dan vanili. Roti ini pun menjadi ciri khas dari Toko Roti Jakarta.

    ——

    Artikel ini telah naik di detikJogja.

    (wsw/wsw)



    Sumber : travel.detik.com

  • Baron Techno Park, Wisata Edukasi Punya Jam Matahari



    Gunungkidul

    Gunungkidul memiliki wisata edukasi yang berada tidak jauh dari area wisata pantai, yaitu Baron Techno Park. Jaraknya hanya sekitar 10 menit perjalanan dari Pantai Baron.

    Baron Techno Park merupakan kawasan pengembangan energi terbarukan, pengunjung bisa melihat solar panel, menara kincir angin, dan pembibitan tanaman. Tempat ini berdiri pada tahun 2009 dengan dana hibah dari NORAD Norwegia.

    Meskipun telah cukup lama berdiri, kawasan wisata ini masih tergolong sepi pengunjung. Padahal untuk masuk ke sini pengunjung tidak akan dikenakan tiket masuk.


    Baron Techno Park terletak di Kanigoro, Kecamatan Saptosari, Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta. Kawasan ini dibuka setiap hari Jam 09.00 – 17.00 WIB. Butuh waktu kurang lebih 1,5 jam untuk sampai ke sini jika berangkat dari pusat kota Jogja.

    Daya tarik utama dari Baron Techno Park adalah Jam Matahari, kebanyakan pengunjung di sini datang untuk melihat monumen unik tersebut.

    “Kan ini katanya tempat penelitian energi alternatif gitu ya tapi suka sih dibuka buat wisata juga, yang jelas bisa lihat Jam Mataharinya ini. Pemandangannya paling mantap daripada di pantai aja,” kata Darmi, pengunjung Baron Techno Park.

    Saat masuk ke kawasan ini, akan ada petugas yang mengarahkan dan mengantar ke tempat Jam Matahari. Pengunjung harus berjalan sedikit di jalan setapak dan puluhan anak tangga untuk sampai di Jam Matahari.

    Baron Techno Park, Gunungkidul, YogyakartaBaron Techno Park, Gunungkidul, Yogyakarta (Lintia Elsi)

    Jam Matahari merupakan sebuah tugu yang dibangun miring dengan lingkaran jam yang bertuliskan angka Romawi. Untuk mengetahui jam, maka bisa melihat di angka berapa arah bayangan tugu terlihat.

    Pada area Jam Matahari ini lah, pengunjung akan disuguhkan panorama laut biru membentang, ombak yang menabrak tebing karang, tumpukan batu-batu karang, dan pohon-pohon rimbun di sekitarnya.

    Jam Matahari ini dikelilingi dengan pagar pendek dengan rerumputan hijau di sampingnya. Pengunjung juga bisa melihat menara kincir angin dan menara mercusuar Pantai Baron dari Jam Matahari ini.

    Jam Matahari Baron Techno Park ini sangat cocok dikunjungi di sore hari, dengan menikmati hembusan angin sejuk dan sunset yang berpadu dengan ketenangan lautan luas.

    (fem/fem)



    Sumber : travel.detik.com

  • Masjid Ini Dulu Khusus untuk Bangsawan Jogja, Kini buat Rakyat Jelata



    Jogja

    Di zaman dahulu, Masjid Sela di Kraton Jogja dikhususkan untuk para bangsawan. Namun sekarang, rakyat jelata pun bisa menggunakannya.

    Masjid yang berada di Kelurahan Panembahan, Kemantren Kraton ini merupakan salah satu masjid tertua di Jogja. Berstatus ‘kagungan ndalem’, masjid ini dibangun pada era Raja Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat pertama yaitu Sri Sultan Hamengku Buwono I.

    Jika diamati, arsitektur bangunan masjid menyerupai bangunan Tamansari dan Keraton Jogja. Tercermin dari atap dan juga tembok tebal yang masih asli sejak pertama kali dibangun. Bahkan ketebalan tembok masjid mencapai 75 centimeter.


    “Masjid Sela aslinya namanya Masjid Watu, kalau di kromo inggil jadi Sela, tapi ada juga sebut Masjid Batu kalau bahasa Indonesia. Dibangun zaman Sri Sultan Hamengku Buwono I dilanjutkan Sri Sultan Hamengku Buwono II. Bersamaan dengan pembangunan Keraton Jogjakarta,” jelas marbot Masjid Selo, Sunarwiyadi ditemui di Masjid Sela Jogja, Senin (18/3) lalu.

    Sejarah Masjid Sela, lanjutnya, berada di dalam kompleks Ndalem atau kediaman Pangeran. Tepatnya Pangeran yang kemudian akan bertakhta sebagai raja di Keraton Jogja. Kala itu, Masjid Sela digunakan sebagai tempat ibadah salat para pangeran dan bangsawan.

    “Itulah mengapa masjid ini istilahnya panepen atau masjid khusus karena memang untuk keluarga bangsawan. Kalau jemaah umum ada sendiri di utara masjid, sekitar 200 meter,” katanya.

    Seiring berjalannya waktu, masjid ini sempat tak digunakan oleh para pangeran. Sunarwiyadi menuturkan, Masjid Sela sempat tidak digunakan dalam kurun waktu antara puluhan hingga ratusan tahun.

    Penyebab masjid itu tidak digunakan adalah para pangeran hijrah ke bangunan utama keraton yang saat ini berada.

    Masjid Sela Yogyakarta, Sabtu (3/6/2017).Masjid Sela Foto: Edzan Raharjo

    Pada saat tak digunakan, fungsi masjid juga berubah menjadi tempat menyimpan keranda jenazah. Pada akhirnya, warga memberanikan diri bersurat ke keraton untuk meminta izin menggunakan Masjid Selo sebagai tempat ibadah.

    “Tahun 1965 beberapa tokoh masyarakat melihat ada masjid kecil tidak digunakan, lalu kirim surat ke Keraton mohon izin gunakan, lalu diizinkan. Kena dinggo, tapi ora kena diowah-owah (boleh dipakai tapi tidak boleh diubah), balasannya sederhana,” kisahnya.

    Oleh masyarakat, masjid lalu dibersihkan dan keranda jenazah dipindahkan. Selang waktu, akhirnya Masjid Selo kembali difungsikan menjadi tempat ibadah salat. Bangunan inti masjid bisa menampung hingga sekitar 30 jemaah.

    Sunarwiyadi memastikan bangunan Masjid Sela masih asli. Renovasi hanya dilakukan di bagian lantai yang awalnya memakai semen batu merah dengan alas kepang dan tikar.

    “Lalu sekarang sudah direnovasi dan menggunakan keramik,” ujarnya.

    Terkait desain masjid, Sunarwiyadi mengaku sempat mendapat cerita ada campur tangan arsitek asal Portugis. Sosok ini pula yang turut mendesain bangunan Keraton Jogja dan Tamansari. Terbukti dari sejumlah kesamaan detail bangunan.

    Walau dikerjakan arsitek Portugis, namun Masjid Selo tetap mengusung kearifan lokal. Ditunjukkan dengan pintu masuk bangunan yang pendek sehingga jamaah harus menunduk saat akan masuk ke masjid.

    “Bangunan inti masih asli yang tengah. Kalau kiri kanan bangunan tambahan. Dulu kolam itu sumber airnya dari sungai Winongo. Sekarang sudah tidak ada, tapi salurannya masih ada cuma tidak dipakai lagi,” katanya.

    Untuk bangunan inti memiliki luas 6 meter X 8 meter. Dalam kondisi normal bisa menampung hingga 30 jamaah. Sementara dengan bangunan tambahan bisa mencapai 150 jamaah.

    Terkait agenda Ramadan 2024, diisi dengan beragam agenda. Mulai dari berbagi takjil, TPA anak hingga tadarus. Penyelenggaraan salat tarawih juga menggunakan bangunan inti. Selain itu juga ada dua bangunan tambahan di sisi kanan dan kiri masjid.

    “Agenda Ramadan itu habis Isya, tarawih lalu tadarus dua kelompok. Ada ibu-ibu dan bapak-bapak di tengah sini, terpisah. Lalu untuk iktikaf itu di 10 hari terakhir,” ujarnya.

    ——

    Artikel ini telah naik di detikJogja.

    (wsw/wsw)



    Sumber : travel.detik.com

  • Sabana Tersembunyi di Pantai Baros, Ijo-ijonya Menyegarkan Mata



    Yogyakarta

    Sabana Pantai Baros yang berlokasi di Bantul, Yogyakarta kini sedang hijau-hijaunya. Padang rumput yang mengarah langsung ke Sungai Opak itu menjadi lokasi yang pas untuk berpiknik atau mendirikan tenda.

    Butuh waktu sekitar satu jam dari pusat jantung kota Jogja menuju lokasi itu. Aksesnya mudah, namun harus melewati jalan setapak dengan kiri kanan kebun warga yang belum beraspal. Traveler yang hendak datang ke lokasi ini bisa menggunakan kendaraan motor maupun mobil. Pada aplikasi maps cukup ketikkan Sabana Pantai Baros.

    Setibanya di area parkir, traveler cukup membayar sebesar Rp 2.000, kemudian berjalan sebentar sekitar 100 meter menuju area sabana. Sepanjang jalan, traveler akan menjumpai banyak burung kuntul bertengger di atas pohon. Pohon tersebut menjadi habitat alami burung yang masih satu spesies dengan bangau.


    “Itu (burung kuntul) emang habitatnya disini, dulu burung migran trus beranak pinak akhirnya jadi banyak di sini,” kata Burham, penjaga Sabana dan Camping Ground Pantai Baros.

    Burung Kuntul setiap hari menghiasi pemandangan Pantai Baros. Pada sekitar Maret jumlahnya lebih banyak karena kedatangan burung migrasi lainnya.

    Cukup dengan mata telanjang traveler bisa menikmati keindahan ratusan burung kuntul dari area Sabana Pantai Baros. Jika ingin mengabadikannya, siapkan kamera drone untuk bisa melihatnya lebih jelas dari atas.

    Memasuki area sabana, traveler akan disambut dengan sepetak warung milik Burham. Di sini traveler akan dikenai biaya masuk sebesar Rp 3.000 per orang. Kemudian, berjalan sebentar melintasi jembatan kayu yang sudah sedikit lapuk.

    “Iya ini masih swadaya pribadi, pengelolanya saya sendiri juga. Ditarik tiket masuk karena butuh dana untuk kebersihan, perawatan jembatan, apalagi kalo abis banjir gitu banyak sampah, saya sendiri yang bersihkan,” kata Burham

    Sejauh mata memandang terhampar padang rumput yang menghijau. Di depannya langsung mengarah ke Sungai Opak. Lokasi ini kerap digunakan sebagai camping ground oleh wisatawan, atau sekadar berpiknik ria. Traveler juga bisa berenang di tepian sungai.

    Aktivitas lain yang dapat dilakukan di sini adalah memancing alam liar. Saat dikunjungi detikTravel, banyak pemancing yang sedang bersantai menunggu kailnya dimakan para penghuni Sungai Opak.

    Tak jauh dari area sabana, terdapat konservasi hutan magrove. Hutan itulah menjadi pagar alami untuk mencegah abrasi pantai. Biasanya beberapa komunitas maupun mahasiswa kerap mengadakan kegiatan tanam magrove pada area tersebut.

    Burham menuturkan, meski tak seramai pantai selatan lainnya, Baros memiliki ciri khasnya sendiri yang berdampingan dengan Sungai Opak. Area nya yang masih sedikit tersembunyi juga sangat cocok dinikmati oleh traveler yang ingin mencari ketenangan.

    (fem/fem)



    Sumber : travel.detik.com

  • Cek Harga Tiket dan Jam Buka Taman Aviary Ibarbo Park Jogja



    Yogyakarta

    Ibarbo Park di Yogyakarta menonjolkan taman aviari sebagai spot wisata. Berikut harga tiket dan jam operasional, serta spot wisata yang dimiliki.

    Dengan puluhan satwa yang ada di dalamnya, Ibarbo Park menjadi destinasi pas bagi para traveler yang ingin berinteraksi langsung dengan satwa. Di sana traveler dapat menyaksikan langsung pertunjukan spekta animal yang menampilkan para satwa yang telah dilatih khusus.

    Pengelola mengunggulkan taman aviari atau kandang besar untuk burung untuk menarik minat pengunjung. Di sini juga tersedia playground, restoran, dan pusat oleh-oleh.


    Berikut tentang Ibarbo Park Jogja:

    Daya Tarik Ibarbo Park

    1. Pertunjukan Spekta Animal

    Setiap sore tepatnya pukul 15.00 WIB akan ditampilkan pertunjukan para satwa yang telah dilatih khusus oleh instrukturnya. Terlihat beberapa hewan seperti berang-berang, burung Kakak Tua, musang, dan burung lainnya menampilkan atraksinya.

    2. Ibarbo Aviary

    Berinteraksi dengan burung khususnya bagi anak-anak yang berani mengulurkan tangannya sebagai tempat bertengger beberapa jenis burung seperti burung kakak tua. Ibarbo menyajikan ratusan jenis burung yang dapat dengan bebas disaksikan oleh pengunjung serta sejumlah spot foto estetik.

    3. Mini Zoo

    Tidak hanya burung, ada pula hewan lain seperti kelinci, rusa, monyet, hingga kura-kura yang bisa disaksikan di Ibarbo Park. Pengunjung dapat dengan bebas melihatnya.

    4. Restoran

    Puas melihat satwa, traveler dapat beristirahat sebentar sambil menyantap makanan di area resto. Di sini dapat ditemukan beberapa menu seperti tongseng, mie goreng, ayam rempah, dan lainnya. Areanya yang luas diklaim mampu menampung hingga 1000 orang.

    5. Area Playground

    Selain berinteraksi dengan satwa, Ibarbo Park juga menyediakan area bermain bagi anak-anak. Terdapat wahana mandi bola yang terdapat di dalam area restonya dengan membeli tiket terusan.

    6. Pusat Oleh-Oleh

    Kurang lengkap rasanya jika berlibur tidak membawa serta buah tangan. Di Ibarbo tersedia toko oleh-oleh dengan pilihan beragam yang menawarkan oleh-oleh khas Jogja. Seperti kain batik, bakpia, hingga kerajinan cinderamata.

    Jam Operasional Ibarbo Park

    Buka Setiap hari dengan dua jenis jam operasional, yaitu
    Mini zoo 09.00-18.00
    Toko Oleh-oleh 09.00-22.00 WIB

    Lokasi

    Jika ditempuh dari Stasiun Tugu Yogyakarta membutuhkan waktu sekitar 30 menit perjalanan melewati Jalan Ring Road Utara. Lokasi tepatnya ada di Jalan Magelang No.Km 14, Jetis, Caturharjo, Kec. Sleman, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.

    Harga Tiket

    Harga Tiket masuk Ibarbo Park ada di Rp 30.000 dengan biaya parkir mulai dari Rp 2.000 hingga Rp 5.000

    Berikut rincian harga untuk tiket wahana lainnya
    Wahana Kereta Rp 15.000
    Pakan Hewan Rp 10.000
    Mandi Bola Rp 30.000

    (fem/fem)



    Sumber : travel.detik.com

  • Gamplong Studio Alam, Lokasi Syuting Film Ternama Juga Tempat Wisata di Jogja



    Yogyakarta

    Gamplong Studio Alam milik Hanung Bramantyo adalah tempat syuting sekaligus destinasi wisata di Yogyakarta. Berbeda dengan wisata pada umumnya, Gamplong Studio Alam memiliki bangunan semi permanen yang dapat berubah kapanpun sesuai project yang sedang dikerjakan.

    Dengan luas 2,3 hektar, Gamplong Studio Alam telah melahirkan puluhan karya ternama. Di antaranya adalah Film Sultan Agung, Bumi Manusia, Satria Dewa: Gatotkaca, Habibie & Ainun, Trinil, Mekah I’m Coming, dan project milik sutradara Hanung Bramantyo lainnya. Tidak hanya itu, di sini juga dapat digunakan untuk project film oleh sutradara lain, project iklan, bahkan video klip.

    “Tujuan awalnya sama Pak Hanung hanya untuk dibikin buat studio film, karena kan di Indonesia sendiri studio film yang berbasis alam belum ada nih, kebanyakan indoor dan yang di Batam itu,” kata Hafiz, pengelola Gamplong Studio Alam.


    Uniknya, untuk masuk ke destinasi ini pengunjung hanya ditarik biaya sukarela untuk operasional perawatan. Tiket wahana untuk spot tertentu seperti Kereta St.Soerabaja-Gambir, Hasri Ainun Habibie, Galeri Antiques, Rumah Annelis, dan Komplek Horror dijual terpisah dengan harga satuan Rp 10.000 per wahana.

    “Tiket wahana tidak wajib, boleh beli dan boleh milih. Sifatnya opsional. Nah, dilema kita untuk saat ini, itu kadang orang merasa terjebak, loh ini seikhlasnya kok bayar lagi,” Kata Hafiz.

    Tujuan diberlakukannya sistem tersebut agar Gamplong Studio Alam dapat menjadi destinasi wisata yang dinikmati semua kalangan. Tidak perlu membayar mahal jika memang tidak mampu. Gamplong Studio Alam tetap bisa dinikmati dengan berfoto-foto dari luar bangunan yang membutuhkan tiket terusan.

    Traveler yang menginginkan trip yang ditemani tour guide, bisa memesannya terlebih dahulu sebelum datang ke lokasi dengan menghubungi nomor admin di +627823682000. Selain itu, lokasi ini juga menjadi lokasi pemotretan pre-wedding favorit karena latarnya yang bermacam-macam dan cenderung bertema klasik.

    Untuk itu, bagi traveler yang ingin berkegiatan khusus seperti pemotretan atau membawa kamera profesional diharapkan untuk lapor pada petugas dan membayar permid card seharga Rp 10.000.

    Magnet utama destinasi ini adalah pamor dari project film yang digarap di sana. Dituturkan oleh Hafiz, setiap kali karya baru akhirnya tayang, Gamplong Studio Alam ikut terdampak dengan arus pengunjung yang semakin giat berdatangan.

    ” Jadi selalu ada pembeda ketika ada project film baru. Jadi itu yang mungkin membuat mereka yang udah pernah kesini kembali untuk kesini lagi,” Kata Hafiz.

    Lewat kesuksesan film Bumi Manusia di tahun 2019, akhirnya pengelola memutuskan untuk membuat Gamplong Studio Alam sebagai salah satu destinasi wisata di Desa Wisata Gamplong. Pembangunan dimulai sejak tahun 2018 akhir hingga sekarang terus melakukan pembenahan dan penambahan spot baru.

    “Nah, ternyata itu setiap hari selama proses syuting (Bumi Manusia), ya mungkin karena faktor Iqbaal Ramadhan juga, nah itu banyak yang nonton, banyak yang datang ke sini. Terus akhirnya kan sama masyarakat sekitar kepikiran kalau di wisatakan saja sekalian gimana,” Kata Hafiz.

    Tanah Gamplong Studio Alam ini dulunya digunakan sebagai lahan kebun pohon tebu untuk pabrik salah satu merek gula. Kemudian setelah menemui akhir kontrak, oleh Hanung Bramantyo disewa menjadi Studio Alam. Oleh masyarakat sekitar dimanfaatkan sebagai tempat wisata.

    “Kalau tanah milik kas desa, kalau di Jogja masih milik Kesultanan, Tanah Sultan. Jadi gabisa di beli tapi bisa dimanfaatkan. Istilahnya dikaryakan. Jadi kami sewa ke pihak Kelurahan,” kata Hafiz.

    Pasca covid-19, Gamplong semakin berbenah diri mengatasi vakumnya wisata akibat pandemi. Saat ini, pengunjung yang datang ke Gamplong Studio Alam mencapai 1500 hingga 2000 orang setiap minggunya. Pengunjung yang datang beragam, mulai dari warga lokal Jogja, siswa karyawisata, hingga perkumpulan desa dari provinsi seberang.

    “Sangat terdampak (covid) lumayan struggle, tapi untungnya kan, karena pengelolanya itukan dari 98% dari orang Gamplong, jadi pas waktu Covid-19 itu kita kayak gotong royong bekerja keras, untuk membenahi meskipun tidak ada income selama setahun itu penuh,” kata Hafiz.

    Ya, kendati kepemilikan wisata itu adalah Hanung Bramantyo, namun hampir 98 persen operasionalnya dikelola oleh warga setempat. Sebagai Desa Wisata Gamplong yang terkenal dengan kerajinan tangannya, hal tersebut dikolaborasikan dengan baik.

    Melalui pantauan detikTravel terlihat terdapat tiga ruko yang berdiri di area parkir menjajakan cenderamata kerajinan tangan khas Gamplong.

    (fem/fem)



    Sumber : travel.detik.com