Tag: jombang

  • Dari Singapura hingga Jerman, Ratusan Pelari Ramaikan Ijen Trail Run 2025


    Jakarta

    Banyuwangi Ijen Green Trail Run 2025 sukses digelar pada 6-7 September dengan menghadirkan 378 pelari dari dalam dan luar negeri. Ajang yang masuk kalender Asia Trail Master ini menyuguhkan kombinasi tantangan fisik dan panorama Geopark Gunung Ijen.

    Selain Indonesia, ajang ini juga diikuti oleh peserta dari berbagai negara seperti Singapura, Jepang, China, Malaysia, Vietnam, Brunei Darussalam, Filipina, Mesir, Prancis, Belanda, hingga Jerman yang terbagi dalam empat kategori, yakni 8 km, 14 km, 25 km, dan 50 km.

    Salah satu peserta, Thimo Kilberth (51) asal Jerman, berhasil menjadi juara pertama kategori master men 25 km. Ia mengaku terpesona dengan jalur lari yang ditawarkan Banyuwangi.


    “Lintasannya berat, tapi sangat indah. Apalagi saat naik ke kawah Ijen. Semuanya luar biasa,” terang Thimo dalam keterangan tertulis, Minggu (7/9/2025).

    Menurutnya, pengalaman berlari di Banyuwangi sangat berbeda dibandingkan event serupa di negara lain. Fenomena Blue Fire Kawah Ijen serta jalur Gunung Ranti menjadi daya tarik unik yang sulit ditemui di tempat lain. Kesan positif juga datang dari Akhmad Nizar, pelari asal Jember yang keluar sebagai juara umum kategori 50 km men.

    “Treknya sangat menantang, komplit lewat Gunung Ranti dan Ijen. Wisatanya juga makin bagus dan ramai,” ungkapnya.

    Sementara itu, Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani yang hadir langsung untuk menyerahkan hadiah menilai ajang ini tak sekadar olahraga, tapi juga bagian dari promosi sport tourism.

    “Jalur yang dilewati masuk dalam site Geopark Ijen. Kami ingin menghadirkan pengalaman baru bagi wisatawan sekaligus menguatkan branding Banyuwangi yang menekankan kekuatan alam, budaya, dan keberlanjutan,” ujarnya.

    Berikut daftar juara Ijen Green Trail Run 2025:

    • Kategori 50 KM (Men): 1. Akhmad Nizar (Jember), 2. Enjelius Barung (Flores), 3. Nobou Mori (Jepang)
    • Kategori 50 KM (Women): 1. Dian Pradina (Bali), 2. Wong Yin Hong (Singapura), 3. Fauziah (Palu)
    • Kategori 25 KM (Umum Men): 1. Wildan Yusuf (Banyuwangi), 2. Ikmal Manggala (Malang), 3. I Rahmad Faisal (Blitar)
    • Kategori 25 KM (Umum Women): 1. Nur Anisa (Banyuwangi), 2. Citra Aprilia (Bali)
    • Kategori 25 KM (Master Men): 1. Thimo Kilberth (Jerman), 2. Laurent Roeykens (Belgia), 3. I Rifki (Surabaya)
    • Kategori 25 KM (Master Women): 1. Eni Mardijanti (Sleman), 2. Liesdawati (Makassar), 3. Liga Wiratama (Surabaya)
    • Kategori 14 KM (Men): 1. Mohammad Ikhwan (Banyuwangi), 2. Wawang Aruanda (Banyuwangi), 3. Muhammad Diov (Samarinda)
    • Kategori 14 KM (Women): 1. Bintan Pratiwi (Malang), 2. Andinna Martadinova (Depok), 3. Yuka Kanai (Jepang)
    • Kategori 8 KM (Men): 1. Muhamad Ardy (Blitar), 2. Akhmad Nizar (Bontang), 3. Muhammad Rifky (Surabaya)
    • Kategori 8 KM (Women): 1. Isaura Nur Saidah (Banyuwangi), 2. Fidyan Magfirotunnisa (Jombang), 3. Valencia Ichwandi (Bondowoso).

    (akn/ega)

    Sumber : sport.detik.com

    Alhamdulillah lapangan olahraga اللهم صل على رسول الله محمد
    ilustrasi gambar : unsplash.com / sandro schuh
  • Wajah Baru Museum Islam Indonesia KH Hasyim Asy’ari yang Modern



    Jombang

    Museum Islam Indonesia KH Hasyim Asy’ari (MINHA) mempunyai wajah baru yang lebih segar dan modern. Seperti apa penampakan terbarunya?

    Terletak di dalam kawasan pondok pesantren dan wisata ziarah Makam Gus Dur di Jombang, Jawa Timur, MINHA tidak hanya berfungsi sebagai museum yang menyajikan perjalanan sejarah Islam di Indonesia. MINHA juga menjadi sebuah pusat pembelajaran yang mengangkat nilai-nilai toleransi keberagaman budaya Nusantara.

    Penanggung Jawab MINHA, Wicaksono Dwi Nugroho, mengatakan MINHA memegang peran penting dalam pelestarian tiga era signifikan dalam sejarah Islam di Indonesia.


    “Tiga era itu yaitu era masuknya Islam ke Nusantara, era perjuangan kemerdekaan, serta era pemikiran kebangsaan dari tokoh-tokoh Islam di Indonesia,” kata Wicaksono dalam keterangannya dan dikutip Senin (19/2/2024).

    Museum Islam Indonesia KH Hasyim Asy'ariMuseum Islam Indonesia KH Hasyim Asy’ari Foto: (dok. BLU MCB)

    Melalui program Resolusi Jihad dan Bulan Gus Dur, MINHA berupaya untuk mengangkat nilai-nilai semangat kebangsaan dalam perspektif toleransi terhadap keberagaman Nusantara.

    “Nilai-nilai tersebut diharapkan dapat terus digali dan diangkat dalam kontribusinya dalam memperkaya khasanah perjalanan dan perkembangan sejarah dan budaya Indonesia,” dia menambahkan.

    MINHA telah melakukan penyempurnaan pada ruang pamer dua tokoh besar Islam di Indonesia, yaitu KH. Hasyim Asy’ari dan Gus Dur. Wajah barunya kini sudah bisa dinikmati wisatawan.

    “Ruang pamer KH. Hasyim Asy’ari kini menampilkan informasi tentang kiprahnya beserta koleksi asli dan informasi tentang Fatwa Jihad yang relevan dengan sejarah pertempuran 10 November di Surabaya. Sementara ruang pamer Presiden RI ke 4 KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dibuat sebagai informasi bagi para peziarah untuk mengetahui lebih lanjut sisi humanis dari figur Gus Dur,” ujar Wicaksono.

    (wsw/fem)



    Sumber : travel.detik.com

  • Tahukah Kamu, Pegunungan Anjasmoro Punya 40 Puncak, tapi Tak Boleh Didaki



    Mojokerto

    Anjasmoro merupakan pegunungan yang berada di Jawa Timur. Tahukah kamu jika pegunungan ini memiliki 40 puncak, tapi tidak boleh didaki oleh para pendaki.

    Pegunungan Anjasmoro terdiri dari gunung-gunung dalam satu gugusan. Pegunungan ini memiliki sejumlah fakta menarik yang mungkin belum banyak orang tahu.

    Gunung setinggi 2.282 meter di atas permukaan laut (mdpl) ini masuk ke dalam lima wilayah kabupaten dan kota, yaitu Kabupaten Jombang, Kediri, Mojokerto, Malang, dan Kota Batu.


    Lokasi Gunung Anjasmoro masih satu klaster dengan Gunung Argowayang dan berdekatan dengan Gunung Arjuno-Welirang. Berikut fakta-fakta tentang gunung Anjasmoro:

    1. Tidak Boleh Didaki

    Gunung Anjasmoro memiliki kawasan hutan dipterokarp bukit, hutan dipterokarp atas, hutan montane, dan hutan ericaceous atau hutan gunung. Pepohonan di gunung ini sangat lebat dan vegetasinya masih alami.

    Pada 1992, Kementerian Kehutanan menetapkan pegunungan Anjasmoro sebagai kawasan konservasi. Di mana, Gunung Anjasmoro masuk ke dalam kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Raden Soerjo yang berada di bawah Dinas Kehutanan Jawa Timur.

    Di gunung Anjasmoro tidak boleh ada aktivitas pendakian. Tahura Raden Soerjo menutup pendakian gunung ini. Bahkan, pendakian di sini memang tidak pernah dibuka sejak zaman dahulu.

    2. Jalur Pendakiannya Ekstrem

    Selain karena masuk kawasan konservasi, jalur pendakian di gunung Anjasmoro juga masih sangat asing. Meski ada beberapa jalur pendakian, namun medannya ekstrem, super licin, masih asri, dan sepi pendaki.

    Masih belum banyak penanda yang jelas di setiap titik sepanjang pendakian gunung Anjasmoro. Ditambah lagi, jalur pendakian yang harus menerobos semak-semak dalam dan basah.

    Topografi gunung Anjasmoro yang curam dan terjal juga membahayakan keselamatan pendaki. Itulah alasan mengapa pendakian di gunung Anjasmoro dilarang.

    3. Punya 40 Puncak

    Gunung Anjasmoro memiliki 40 puncak. Puncaknya pun belum banyak yang menaklukkan, karena memang gunung ini tidak boleh didaki. Puluhan puncak itu terbagi dalam tiga kota dengan titik tertingginya masing-masing.

    Di antaranya, ada Top Anjasmoro, Gunung Biru yang berada di ketinggian 2.277 mdpl. Puncak ini terletak di Kota Batu, dengan jalur pendakian via Cangar, Pabrik Jamur. Lalu di Mojokerto ada Puncak Kukusan.

    Puncak ini ada di ketinggian 1.950 mdpl dengan jalur pendakian melalui Nawangan dan Rejosari. Selanjutnya, Puncak Cemorosewu di Jombang yang berada 1.800 mdpl dengan jalur pendakian via Carangwulung, Wonosalam.

    ——-

    Artikel ini telah naik di detikJatim.

    (wsw/wsw)



    Sumber : travel.detik.com

  • Harga Tiket, Jam Buka, dan Aktivitas Seru


    Jakarta

    Di Jombang, Jawa Timur, kamu bisa nongkrong sekaligus makan di tengah sungai yang berada di bawah pepohonan rindang lho. Tepatnya di kawasan Wisata Sumber Biru.

    Kafe sungai menjadi ikon dari Wisata Sumber Biru. Pengunjung ramai datang ke sana karena ingin merasakan sensasi unik makan di sungai itu. Lokasinya yang terletak di tengah hutan rimbun pun menawarkan panorama alam asri dan suasana tenang yang pas untuk healing tipis-tipis.

    Makin penasaran dengan tempat makan berkonsep alam ini? Temukan info selengkapnya mengenai Wisata Sumber Biru Jombang di bawah.


    Aktivitas Seru di Sumber Biru Wonosalam

    Sejumlah kegiatan seru yang dapat traveler lakukan di Sumber Biru Jombang, yaitu:

    1. Nongkrong di Tengah Sungai

    Di kawasan wisata ini terdapat banyak warung yang dikelola oleh penduduk lokal. Sejumlah kedai ini menawarkan menu yang beragam, mulai dari nasi goreng, penyetan, bakso, tahu tek, pop mie, teh tarik, hingga kopi khas wilayah setempat. Harga menunya termasuk terjangkau ya.

    Setelah memesan hidangan, kamu dapat mencari spot untuk makan. Tempat duduk di tengah sungai merupakan yang paling banyak dicari karena pengunjung tentunya ingin merasakan pengalaman makan yang unik tersebut.

    Traveler dapat melepas alas kaki dan duduk di atas bangku yang tersedia di tengah sungai dengan kaki terendam di air. Airnya bersih jernih serta arusnya tidak terlalu deras. Kamu perlu ekstra hati-hati karena dasar sungai dipenuhi bebatuan kecil.

    2. Piknik di Bawah Pohon

    Tempat duduk di aliran sungai selalu diburu para pengunjung. Karena itu, sebagian pengunjung lain tidak kebagian tempat di sana. Tapi tenang, sebenarnya kamu bisa kok menyantap makanan sembari nongkrong di spot mana saja. Traveler dapat menggelar tikar untuk duduk seperti sedang piknik di pinggir sungai atau bawah pohon teduh.

    3. Makan Durian

    Wonosalam dikenal sebagai wilayah penghasil durian di Jombang, Jawa Timur. Di tempat wisata ini, kamu dapat menikmati lezatnya buah durian lokal yang tiada banding. Soal harga tentunya traveler tidak perlu merogoh kocek terlalu dalam.

    4. Berenang di Kolam

    Di objek wisata ini juga terdapat kolam renang. Kolamnya hanya satu dan tidak berukuran besar. Tapi kolam ini cocok banget kalau mau merasakan sensasi berenang di tengah hutan dengan suasana yang sejuk nan menyegarkan.

    5. Berfoto di Alam Terbuka

    Berada di alam terbuka dengan pemandangan asri tentu saja tidak boleh lupa untuk berfoto. Viewnya yang alami terawat ini bisa banget dijadikan background foto yang menawan. Kamu dapat berfoto atau berselfie ria di tengah aliran sungai saat makan, di tepi sungai ketika bermain air, atau di banyak spot bagus yang tersebar di Wisata Sumber Biru Jombang ini.

    Wisata Sumber Biru beralamatkan di Dusun Wonotirto, Desa Wonomerto, Kecamatan Wonosalam, Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Letaknya berada di kaki Gunung Anjasmoro, karena itu objek wisata ini sangat kental dengan hawa sejuk pegunungan.

    Dari Alun-Alun Jombang, lokasi tempat wisata ini berjarak sekitar 33 km. Traveler dapat menjangkaunya dengan mobil atau motor melalui Jalan Anjasmoro lanjut ke Jalan Raya Mojowarno. Kalau masih bingung, bisa cek rutenya di online maps ya.

    Mendekati lokasi, akses jalan cukup berliku-liku dan curam tapi medannya telah diperbagus oleh pemerintah setempat. Lebar jalan juga terbilang kecil yang muat satu kendaraan. Jadi, pastikan kendaraanmu dalam kondisi prima.

    Waktu Operasional Sumber Biru Wonosalam

    Wisata Sumber Biru Jombang buka setiap hari dari jam 08.00-17.00. Traveler dapat berkunjung ke sini pada pagi hari. Selain karena udara paginya masih sangat sejuk, kamu bisa mendapatkan tempat duduk di tengah sungai.

    Hal ini lantaran pengunjung semakin banyak berdatangan menjelang siang. Sehingga nantinya mungkin kamu tidak dapat duduk di spot ikoniknya itu.

    Harga Tiket Masuk Sumber Biru Wonosalam

    Untuk masuk ke kawasan Wisata Sumber Biru dikenakan tiket. Harga tiket masuknya sebesar Rp 5.000-10.000. Pengunjung yang menggunakan kendaraan dikenakan biaya parkir sekitar Rp 3.000 (motor) dan Rp 10.000 (mobil).

    Nah, itu tadi info lokasi, jam buka, hingga harga tiket masuk Wisata Sumber Biru Wonosalam, Jombang, Jawa Timur. Jadi, apakah traveler tertarik berkunjung ke sini?

    (row/fem)



    Sumber : travel.detik.com

  • Kisah Masjid Kuno di Klaten yang Tetap Setia Memakai Jam Matahari



    Klaten

    Ada sebuah masjid kuno di Klaten, Jawa Tengah yang masih setia memakai jam matahari, meski zaman sudah modern. Bagaimana kisahnya?

    Di Dusun Kadirejo, Desa Kadirejo, Kecamatan Karanganom, Klaten ada sebuah masjid yang bersejarah. Masjid Al-Mujahidin namanya.

    Masjid yang didirikan sejak abad 18 itu masih mempertahankan penggunaan jam matahari atau jam bencet sampai sekarang.


    Jam matahari bentuknya tidak seperti jam modern yang menggunakan mesin. Benda yang disebut jam matahari hanya berupa sebuah tugu tembok di sisi selatan halaman masjid yang luas.

    Tugu dengan tinggi sekitar satu meter itu di atasnya ditancapkan sebatang besi. Di lantai di bawah besi diberi garis simetris dengan beberapa goresan penanda kemiringan matahari.

    Meskipun jam matahari itu masih berdiri, di teras masjid juga terdapat dua jam kotak kayu dengan lonceng. Di dalam masjid juga tersedia jam digital modern.

    Masjid Al Mujahidin dan jam mataharinya di Desa Kadirejo, Kecamatan Karanganom, Klaten, Kamis (13/3/2025).Masjid Al Mujahidin dan jam mataharinya di Desa Kadirejo, Kecamatan Karanganom, Klaten Foto: Achmad Hussein Syauqi/detikJateng

    Lantai Masjid Al-Mujahidin tingginya sekitar 1,5 meter dari tanah. Ruang utama masjid ditopang empat tiang kayu jati utuh berbentuk silinder. Di kanan dan kirinya digunakan untuk ruang pawestren (tempat salat wanita).

    Juga terdapat sebuah bedug kulit sapi berdiameter sekitar satu meter berangka tahun 1954 dan papan kayu jam waktu salat yang bertuliskan tahun 1952.

    “Untuk beduk saat ini sudah tidak dipakai, panggilan azan dengan pengeras suara. Untuk jam bencet atau jam matahari masih dipakai tapi cuma waktu zuhur saja,” kata jamaah masjid, Muti’ulabi (64), Kamis (13/3/2025).

    Menurut Muti’ul, dulu di sisi selatan, depan, dan utara masjid itu terdapat kolam untuk bersuci.

    “Dulu ada sendang mubeng (melingkar) tapi sak niki pun diurug (sekarang sudah ditimbun). Jerone telung meter (kedalaman 3 meter),” tutur Muti’ul.

    BACAJUGA:

    Sugeng (70) jamaah lain mengatakan dirinya tidak mengetahui kapan masjid didirikan. Tapi sejak kakek-neneknya masjid itu sudah ada.

    “Dari dulu zaman Mbah saya sudah ada. Ini pernah direhab dua kali, karena pernah dibakar sekitar tahun 1950-an, tapi direhab lagi,” ungkap Sugeng.

    Menurut Sugeng, dari beberapa peninggalan, hanya jam matahari yang masih dipakai. Bedug sudah tidak pernah digunakan.

    Bedug mboten dingge, jam bencet tasih (bedug tidak dipakai tapi jam matahari masih digunakan) ya hanya untuk duhur,” katanya.

    “Sini masih sering digunakan untuk ziarah, dari Gresik, Jombang, Pantura. Di makam barat masjid ada makam Kiai Ahmad, Kiai Muda dan lainnya,” imbuh Sugeng.

    Sesepuh Dusun Kadirejo Hasyim Fatah (85) menceritakan masjid aslinya didirikan Kiai Ahmad yang merupakan ulama pondok. Didirikan sekitar tahun 1850 Masehi.

    “Di sini dulu kan pondok pesantren ngaji kitab kuning, pimpinannya Kiai Ahmad. Didirikan masjid sekitar tahun 1800-an, kalau tidak salah 1850 Masehi,” tutur Hasyim kepada detikJateng di rumah tepat di samping halaman masjid.

    Kiai Ahmad, sebut Hasyim, merupakan pengembara dan menjadi keluarga cucu mantu Mbah Kiai Reso Pawiro atau R Ng Reso Pawiro Karanganom. Kiai Ahmad merupakan tokoh thoriqoh Syadziliyah.

    “Mbah Kiai Ahmad itu Kiai thoriqoh, thoriqoh Syadziliyah. Jadi masih sering untuk ziarah jika bulan Syawal, dari Jombang dan Jawa Timuran banyak,” ungkap Hasyim yang masih memiliki garis keluarga dengan Kiai Ahmad.

    Masjid lama, kata Hasyim, bangunannya tidak sebesar sekarang dan atapnya dulu masih sirap (kayu). Masjid aslinya kemudian dibakar saat konflik 1949.

    “Ini masjid kedua, yang asli dibakar tahun 1949 saat konflik politik militer (pejuang Islam dan komunis) setelah kemerdekaan. Saya lihat dengan mata kepala sendiri dibakar karena sudah umur sekitar 8 tahun, pondok yang dibakar dua, dulu dituduh bedug untuk menyimpan senjata,” lanjut Hasyim.

    Menurut Hasyim, setelah dibakar kemudian masjid direhab tahun 1952-1953. Yang tersisa sejak dulu hanya jam bencet atau jam matahari di halamannya.

    “Jam bencet itu lama, ya sebelum dibakar sudah ada, saya kecil sudah ada karena ada kiai pondok sini dulu ada ahli falaq. Masih digunakan untuk menentukan waktu zuhur,” jelas Hasyim.

    ———

    Artikel ini telah naik di detikJateng.

    (wsw/wsw)



    Sumber : travel.detik.com

  • Rayakan Hari Santri dengan Pameran dan Festival Kaligrafi Islam 2025, Catat Tanggalnya



    Jakarta

    Dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional 2025, Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Jombang melalui Pesantren Kaligrafi SAKAL bekerja sama dengan PC JQH NU Jombang menggelar ajang besar bertajuk Pameran dan Festival Kaligrafi Islam 2025. Kegiatan ini akan berlangsung pada 19-26 Oktober 2025 di Museum Islam Indonesia KH. Hasyim Asy’ari Tebuireng Jombang (MINHA), dengan mengusung tema “The Sacred Art: Jejak Wahyu & Identitas.”

    Seni Kaligrafi sebagai Cermin Cinta kepada Al-Qur’an

    Festival ini bukan sekadar ajang seni, tetapi juga wujud nyata perpaduan antara spiritualitas, budaya, dan keindahan seni Islam yang tumbuh subur di lingkungan pesantren. Melalui kegiatan ini, panitia berupaya memperkuat posisi kaligrafi Islam sebagai media dakwah dan pendidikan yang tidak hanya menampilkan keindahan visual, tetapi juga menyampaikan nilai-nilai keagamaan yang mendalam.


    Dalam keterangan tertulis yang diterima detikHikmah, Minggu (19/10/2025) Ketua Panitia, Fathur Rohman, menyampaikan bahwa kaligrafi adalah bentuk pengabdian dan cinta kepada Al-Qur’an.

    “Kaligrafi bukan sekadar tulisan indah, tetapi juga ekspresi cinta kepada wahyu Allah. Melalui festival ini, kami ingin memperkenalkan karya para santri dan seniman pesantren ke ranah nasional bahkan internasional,” ujarnya.

    Rangkaian Kegiatan

    Festival yang berlangsung selama sepekan ini akan diisi dengan beragam kegiatan edukatif dan inspiratif, melibatkan santri, guru, seniman, hingga masyarakat umum. Berikut rangkaian acaranya:

    • Minggu, 19 Oktober 2025: Lomba Lukis Kaligrafi Islam tingkat SD/MI dan TPQ se-Jombang.
    • Rabu, 22 Oktober 2025: Pembukaan resmi Pameran dan Festival Kaligrafi Islam 2025.
    • Kamis, 23 Oktober 2025: Dialog Seni dan Budaya Islam.
    • Jumat, 24 Oktober 2025: Workshop Kaligrafi dan Tahsin Kitabah bagi guru TPQ, pesantren, dan madrasah.
    • Sabtu, 25 Oktober 2025: Seminar Kaligrafi Internasional dengan narasumber dari luar negeri.
    • Minggu, 26 Oktober 2025: Pengumuman pemenang lomba dan penutupan acara.

    Selain itu, mulai 22 hingga 26 Oktober 2025, akan digelar Pameran Kaligrafi Islam yang menampilkan karya para maestro nasional dan internasional. Pameran ini menjadi ruang bagi publik untuk menikmati keindahan huruf Arab yang digores dengan penuh makna dan kedalaman spiritual.

    Festival ini juga menjadi bukti bahwa pesantren bukan hanya tempat menimba ilmu agama, melainkan juga ruang kreatif yang mampu melahirkan karya seni bernilai tinggi. Di tengah derasnya arus modernisasi digital, para santri menunjukkan bahwa seni kaligrafi tetap relevan sebagai bahasa universal dakwah Islam yang indah, beradab, dan penuh makna.

    Kegiatan ini sekaligus mempertegas posisi Jombang sebagai Kota Santri dan pusat peradaban seni Islam. Melalui karya para santri dan kaligrafer pesantren, nilai spiritualitas, budaya, dan estetika berpadu menjadi satu, menghadirkan wajah Islam yang damai, berbudaya, dan penuh keindahan.

    Pameran dan Festival Kaligrafi Islam 2025 bukan hanya menjadi ajang apresiasi seni, tetapi juga wadah untuk menumbuhkan kembali kecintaan terhadap Al-Qur’an melalui karya kreatif para santri. Keindahan huruf Arab yang tertulis dengan penuh makna menjadi simbol bagaimana iman, ilmu, dan seni dapat menyatu dalam satu ekspresi yang menggetarkan hati.

    (dvs/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Cucu KH Hasyim Asy’ari Pimpin Badan Penyelanggara Haji, Ini Profilnya


    Jakarta

    Presiden Prabowo Subianto melantik KH Moch. Irfan Yusuf (Gus Irfan) sebagai Kepala Badan Penyelenggara Haji. Pelantikan dilakukan di Istana Negara, Jakarta hari ini.

    “Kiai Haji Moch Irfan Yusuf sebagai Kepala Badan Penyelenggara Haji,” kata Deputi Bidang Administrasi Aparatur Kemensetneg RI Nanik Purwanti saat membacakan surat keputusan pengangkatan seperti dilansir dari YouTube Sekretariat Presiden, Selasa (22/10/2024).

    Gus Irfan akan didampingi Dahnil Anzar Simanjuntak sebagai wakilnya di Badan Penyelenggara Haji.


    Gus Irfan diketahui merupakan cucu KH Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama (NU). Berikut profil lengkapnya.

    Profil KH Moch. Irfan Yusuf, Kepala Badan Penyelenggara Haji

    KH Moch. Irfan Yusuf yang akrab disapa Gus Irfan adalah putra dari KH Yusuf Hasim, anak KH Hasyim Asy’ari. Ia lahir di Jombang, 62 tahun lalu.

    Gus Irfan adalah alumni SMPP Jombang (sekarang SMAN 2 Jombang). Ia kemudian melanjutkan pendidikan S1 di Universitas Brawijaya dan lulus pada 1985. Setelah itu, ia melanjutkan pendidikan S2 di universitas yang sama.

    Di Jombang, Gus Irfan aktif di pondok pesantren. Pda 1989, ia mengemban amanah sebagai Sekretaris Umum di Pondok Pesantren Tebuireng. Ia juga pernah menjadi pengasuh Pesantren Al-Farros Tebuireng pada 2006.

    Sembari aktif di ponpes, Gus Irfan mengajar di AKPER Widyagama Malang pada 2013-2016. Dua tahun berikutnya, pada 2018, ia sempat dipanggil untuk menjadi Juru Bicara Prabowo-Sandiaga Uno. Ia diperhitungkan Timses Prabowo karena posisinya di Lembaga Perekonomian NU (LPNU). Gus Irfan menduduki posisi strategis di LPNU sebagai wakil ketua.

    Profil Gus Irfan selengkapnya baca di sini.

    (kri/lus)



    Sumber : www.detik.com