Tag: JP Morgan

  • Prediksi BTC Pada Bulan-bulan Berikutnya Versi JPMorgan

    Ketertarikan investor terhadap Bitcoin diprediksi akan menekan harga emas dalam jangka panjang. Menurut ahli strategi, JPMorgan yang dipimpin oleh Nikolas Panigirtzoglou pada Selasa (8/12/2020) mengatakan harga BTC condong ke sisi bawah, sementara emas terlihat lebih positif.

    Namun, kabar baiknya pergerakan harga BTC dalam jangka menengah dan panjang memiliki arah yang berlawanan.

    Baca Juga: CEO BlackRock: Bitcoin Bisa Menjadi Aset Global

    “Bitcoin adalah investasi yang baru mulai dilirik oleh investor institusi, sedangkan investasi emas memang sudah sangat maju.”

    “Jika prediksi pergerakan BTC itu benar dalam jangka menengah dan panjang, harga emas akan mengalami hambatan aliran struktural selama beberapa tahun mendatang,” pungkas JPMorgan.

    Para ahli strategi JPMorgan, mencatat bahwa dalam dua bulan terakhir, kepercayaan Bitcoin manajer aset digital Grayscale melihat arus masuk hampir $2 miliar, sementara ETF emas melihat arus keluar lebih dari $7 miliar.

    Walaupun begitu, investor institusi yang merupakan keluarga kaya raya tercatat masih lebih banyak memiliki emas dibanding Bitcoin, hal ini diungkapkan oleh JPMorgan.

    Bagi investor, investasi tradisional seperti emas masih dianggap sebagai “safe haven”, sementara Bitcoin yang merupakan media investasi baru akan mendapatkan keuntungan dari semakin banyak investor institusi yang melirik mata uang digital ini.

    Para ahli strategi JPMorgan, mengatakan bahwa nilai intrinsik Bitcoin akan naik secara signifikan selama beberapa bulan mendatang karena aktivitas penambangan meningkat. Menurut pengamatan JPMorgan, nilai intrinsik Bitcoin saat ini $11.000 – $12.000. Bila dibandingkan dengan harga pasar saat ini yang sekitar $18.200.

    Baca Juga: Bull di bawah Kendali, Harga Bitcoin Pulih Kembali

    Sebelumnya, selisih antara nilai intrinsik dan harga pasar begitu lebar. Aktivitas penambangan akan meningkat dan menjadi lebih sulit dan mahal.

    Namun hal ini belum terjadi saat ini, sebagian terjadi gegara gangguan pada aktivitas penambangan dari pasokan listrik karena topan dan curah hujan tinggi di Tiongkok. Saat kondisi sudah mulai normal kembali, aktivitas penambangan akan meningkat dan nilai intrinsik Bitcoin pun demikian.

    “Kami memperkirakan bahwa peningkatan 70% dalam kesulitan, semuanya sama, akan melihat nilai intrinsik mendekati harga pasar saat ini.”

    “Meskipun ini adalah peningkatan yang besar, peningkatan dengan besaran serupa juga pernah terjadi pada akhir 2017 dan pertengahan 2019. Ini berarti kami berpikir kemungkinan besar bagian yang lebih besar dari penutupan akhirnya dari kesenjangan antara harga pasar dan biaya produksi bisa datang dari yang terakhir daripada di rentang waktu akhir 2017 dan pertengahan 2019 lalu.

    sumber.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • JP Morgan Percaya Bursa Kripto Terpusat Akan Tetap Dominan

    JP Morgan menyatakan keyakinan mereka bahwa exchange atau bursa kripto terpusat akan tetap dominan di masa mendatang. Pernyataan ini diketahui bocor ke media dari catatan yang ditujukan kepada pelanggan mereka.

    Terlepas dari peristiwa beberapa bulan terakhir yang mengguncang pasar, JP Morgan yakin bahwa peralihan ke bursa terdesentralisasi tidak akan terjadi dalam waktu dekat.

    Dengan FTX jatuh ke dalam kebangkrutan, banyak pelanggan yang mempertanyakan umur dari bursa kripto terpusat di market. Namun, JP Morgan telah meyakinkan mereka bahwa transisi apa pun dari bursa kripto terpusat tidak akan terjadi untuk waktu yang lama.

    JP Morgan Tegaskan Dominasi Bursa Kripto Terpusat

    Ilustrasi investasi di bursa kripto.
    Ilustrasi investasi di bursa kripto.

    Baca juga: NGOBRAS Season 2: Bahas Potensi Bullish Dogecoin dan MobileCoin

    Jatuhnya FTX tidak seperti perusahaan kripto mana pun yang pernah dialami di industri aset digital ini. FTX menjadi salah satu platform bursa kripto terbesar di planet ini bangkrut yang hancur dalam semalam.

    Selain itu, skandal dan penularan keruntuhan FTX menginfeksi sebagian besar industri yang lebih jauh. Peristiwa FTX ini menyebabkan banyak orang mengakui kejatuhan bursa kripto yang akan datang dari platform exchange terpusat.

    Selain itu, banyak ahli percaya bahwa jawaban atas skandal yang disebabkan oleh FTX bukanlah pada regulasi, tetapi pada kebangkitan dan penerimaan DeFi dan platform bursa kripto terdesentralisasi.

    Pandangan Negatif DeFi

    Coindesk melaporkan ada banyak yang memandang Decentralized Exchange (DEX) memiliki kecepatan transaksi yang lebih lambat, pengumpulan aset dan fitur yang cenderung membatasi partisipasi institusional. Selain itu, DEX juga menunjuk pada risiko yang melekat sebagai pencegah besar terhadap potensi kenaikannya.

    Ilustrasi DeFi (decentralized finance) jadi revolusi layanan keuangan
    Ilustrasi DeFi (decentralized finance) jadi revolusi layanan keuangan.

    Baca juga: Perusahaan Kripto BlockFi Ajukan Bangkrut Imbas FTX Runtuh

    Sebuah laporan dari Coindesk menunjuk ke catatan klien dari JP Morgan menyatakan manajemen, tata kelola, dan audit protokol DeFi tanpa terlalu banyak mengorbankan keamanan dan sentralisasi merupakan tantangan besar.

    Namun, tidak dapat disangkal bahwa popularitas pertukaran terdesentralisasi telah tumbuh sejak kejatuhan FTX.

    Data DefiLlama menunjukkan volume perdagangan naik 68%. Selain itu, mencapai US$ 97,22 miliar pada bulan Oktober saja. Selain itu, Ada peningkatan kelayakan dalam platform pertukaran terdesentralisasi seperti DexGuru, dYdX, dan Uniswap.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • JP Morgan Resmi Daftarkan Merek Dagang untuk Layanan Wallet Kripto

    JP Morgan telah mendaftarkan merek dagang untuk wallet atau dompet digital dan layanan pemrosesan aset kripto terkait. Merek dagang tidak secara eksklusif berlaku untuk kripto, tetapi juga dapat diterapkan pada layanan keuangan lainnya.

    Menurut pengajuan ke U.S. Patent and Trademark Office, JP Morgan mengajukan merek dagang untuk “JP Morgan Wallet” pada Juli 2020. Kemudian, pengajuan akhirnya disetujui pada 15 November 2022.

    Dokumen merek dagang menunjukkan bahwa itu dapat diterapkan pada layanan online, termasuk pemrosesan pembayaran aset kripto, transfer elektronik dan pertukaran mata uang virtual.

    Merek dagang tidak secara eksklusif berlaku untuk layanan kripto. Ini juga dapat diterapkan untuk layanan keuangan lainnya, termasuk rekening giro virtual, pembayaran Automated Clearing House (ACH), pemrosesan cek elektronik, dan pembayaran tagihan.

    Terobosan JP Morgan

    menyimpan aset kripto di wallet kripto
    lustrasi crypto wallet.

    Baca juga: Genesis Terancam Bangkrut Potensi Kirim Bitcoin ke Titik Rendah Baru

    Meskipun JP Morgan belum menerapkan merek dagang ke crypto wallet yang lengkap, ia telah membuat beberapa terobosan ke dalam industri blockchain selama beberapa bulan terakhir.

    Pada tanggal 2 November, perusahaan melakukan pertukaran mata uang internasional menggunakan blockchain Polygon. Transaksi tersebut dilakukan dengan dua bank asal Singapura, DBS Bank dan SBI Digital Asset Holdings.

    Selain itu, JP Morgan bermitra dengan Visa pada 11 Oktober lalu. Kemitraan tersebut bertujuan untuk mengintegrasikan produk blockchain JP Morgans Liink dengan jaringan B2B Connect Visa.

    Kuat di Industri Kripto

    JP Morgan juga diketahui telah melakukan transaksi on-chain yang melibatkan penyelesaian aset BlackRock, membuka ruang di dunia virtual Decentraland berbasis blockchain, dan mengomentari The Merge Ethereum baru-baru ini.

    Raksasa perbankan terus mengoperasikan berbagai lini produk terkait aset kripto, termasuk jaringan blockchain Onyx dan stablecoin pribadinya, JPM Coin.

    Perkembangan tersebut, meski tidak terkait langsung dengan berita hari ini, akan menempatkan bank pada posisi yang kuat untuk memperluas layanan kripto di bawah merek dompet barunya.

    Baca juga: Bappebti Tinjau Ulang Daftar Aset Kripto Legal di Indonesia



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • JP Morgan dan SEC Bahas Migrasi Pasar Modal ke Blockchain

    Salah satu bank terbesar di Amerika Serikat, JP Morgan Chase, baru-baru ini mengadakan pertemuan dengan Crypto Task Force di SEC.

    Pertemuan ini dirancang untuk membahas potensi adanya migrasi pasar modal tradisional ke blockchain publik.

    Fokus Diskusi: Alat Modal Apa yang Layak Dipindahkan?

    Tiga eksekutif JP Morgan: Scott Lucas (Head of Digital Asset Markets), Justin Cohen (Global Head of Equity Derivatives Development), dan Aaron Iovine (Global Head of Digital Asset Regulatory Policy), menggali instrumen apa yang bisa dipindah on‑chain dan bagaimana memitigasi risiko serta memanfaatkan manfaat teknisnya.

    Topik utama mencakup:

    • Perubahan model operasional dalam penggunaan blockchain publik.
    • Risiko keamanan dan kepatuhan regulasi.
    • Manfaat seperti kecepatan settlement, efisiensi biaya, dan transparansi on‑chain.

    Baca Juga: JP Morgan Percaya Bursa Kripto Terpusat Akan Tetap Dominan

    Pilot JPMD: Uji Coba Token Deposit di Base

    JP Morgan meluncurkan uji coba token deposit bernama JPMD, setara token fiat dolar yang diterbitkan di Base, jaringan layer‑2 dari Coinbase.

    • Token deposit ini diharapkan digunakan oleh klien institusi Coinbase setelah uji coba beberapa bulan selesai.
    • Token deposit seperti JPMD dinilai lebih unggul dibanding stablecoin karena tersangkut sistem cadangan fraksional bank yang sudah diatur, membuatnya scalable dan aman bagi bank.

    JPMD Bukan Stablecoin, Tapi Alternatif

    JPMorgan menegaskan bahwa JPMD bukanlah stablecoin dalam arti populer, melainkan token representasi langsung dari deposit bank yang termuat ke blockchain atau “superior alternative to stablecoins” menurut eksekutifnya.

    Dengan model ini, deposit on‑chain bisa dipakai untuk transaksi lintas batas dan transaksi smart contract tanpa harus melewati stablecoin eksternal, sehingga langsung terintegrasi dengan sistem perbankan tradisional.

    Potensi Bisnis & Regulasi

    • JPMorgan tengah mencari competitive angle untuk produk ini, termasuk mendorong digital financing dan digital debt services yang lebih efisien.
    • SEC pun memperoleh pemahaman mendalam terkait implikasi regulasi jika operasi pasar modal tradisional berubah bentuk ke on-chain, sebuah langkah awal menuju pengawasan dan tata kelola blockchain .

    Dampak Ekosistem & Masa Depan Tokenisasi Aset

    Langkah ini masuk dalam tren tokenisasi dunia nyata:

    • Demos seperti JPMD, digital fiat deposit, menjadi jembatan antara sistem tradisional & digital.
    • Tema tokenisasi bahkan semakin populer: dari obligasi on‑chain di Swiss hingga utang digital dan ekuitas token di berbagai negara.
    • Jika berhasil diperluas, tokenisasi ini bisa membuka pasar modal global yang jauh lebih efisien dan likuid.

    Wawasan & Strategi

    Elemen Impliksasi
    Regulasi SEC mendapat gambaran awal; kemungkinan definisi “security” dan pengawasan on‑chain makin konkret.
    Teknologi Token deposit seperti JPMD memungkinkan distribusi dan settlement lebih cepat & aman.
    Bisnis Perbankan Produk seperti digital debt dan repo dapat diproses langsung di blockchain dengan biaya lebih rendah.
    Pasar Modal Tokenisasi dapat membawa aset tradisional ke ekosistem DeFi dan digital, membuka peluang baru.

    Baca Juga: Ripple dan SEC Ajukan Mosi Bersama, Upaya Akhiri Gugatan XRP

    Pertemuan antara JP Morgan dan SEC menandai fase baru dalam transformasi pasar modal klasik ke blockchain publik.

    Dengan pilot seperti JPMD, bank ini menyelidiki potensi tokenisasi aset nyata dan menciptakan jembatan teknis-regulatif yang bisa mengarah ke adopsi global.

    Bagi institusi keuangan, perkembangan ini patut diwaspadai karena membentuk masa depan operasi perbankan, settlement, dan trading di era digital.


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut.

    Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • JP Morgan Luncurkan JPMD: Token Digital Deposit di Jaringan Base

    JP Morgan Chase terus bertransformasi. Kini, salah satu bank terbesar di Amerika Serikat itu semakin dalam menjelajahi dunia blockchain.

    Teraktual, JP Morgan meluncurkan token digital deposit bernama JPMD, yang beroperasi di public blockchain Base dari Coinbase.

    Apa Itu JPMD?

    • JPMD adalah token yang mewakili deposit dolar AS secara langsung di blockchain menggunakan teknologi tokenisasi deposit tradisional.
    • Dikeluarkan dalam fase pilot di Jaringan Base, token ini diperuntukkan bagi klien institusi yang masuk whitelist dan tersedia melalui wallet digital JPMorgan hingga pertukaran Coinbase.
    • Menurut Naveen Mallela, co-head blockchain JPMorgan, “Token deposit adalah alternatif yang lebih baik daripada stablecoin” karena langsung dijamin deposit bank dan memungkinkan settlement 24/7 serta akses instan ke ekosistem Ethereum.

    Perbedaan dengan Stablecoin & JPM Coin

    • Berbeda dengan stablecoin umum atau JPM Coin sebelumnya (token internal dalam ekosistem bank), JPMD adalah representasi langsung dari deposito fiat yang telah tersedia di rekening bank, sehingga mengurangi potensi risiko cadangan yang kurang jelas.
    • JPMD juga mencakup berbagai layanan: transfer digital, kliring, hingga payment processing, sementara stablecoin sering bergantung pada pondasi USD yang dikelola pihak ketiga.

    Baca Juga: JP Morgan dan SEC Diskusikan Opsi Pemindahan Pasar Modal Tradisional ke Blockchain

    Dampak untuk Ekosistem & Layanan Keuangan

    1. Integrasi cepat DeFi dan on‑chain settlement: Klien institusi kini bisa langsung memindahkan dana fiat mereka ke aplikasi blockchain sambil mempertahankan tagihan bank tradisional.
    2. Efisiensi biaya dan kecepatan: Tanpa roll‑back time konvensional, transaksi dana bisa diproses 24/7 di jaringan publik.
    3. Pemicu adopsi tokenisasi deposit: Sebagai “deposit token” pertama yang diujicobakan di public chain, JPMD membuka jalan bagi lembaga lain untuk segera mengeksplorasi solusi serupa.
    4. Dukungan regulasi: JPMorgan telah mengajukan trademark JPMD untuk layanan seperti trading aset digital dan crypto‑settlement, menandakan kesiapan produk ini secara regulatif.

    Dari Reddit (r/CryptoCurrency), warganet bereaksi dengan menunjukkan bahwa pasar melihat langkah JP Morgan sebagai strategi jitu dengan “menyebrang” ke dunia digital dengan basis institusional dan regulasi yang kuat.

    Prospek & Tantangan

    • Untuk institusi & FinTech: JPMD bisa jadi pembuka era baru dalam hal transisi instan antara dunia fiat dan blockchain, mempermudah transaksi internasional dan model finansial hybrid.
    • Regulasi & adopsi: Keberhasilan JPMD akan tergantung pada penerimaan regulator, integrasi dengan sistem payment perbankan, serta keberlanjutan pipeline on‑chain.
    • Peluang tokenisasi lanjut: JPMD bisa diikuti oleh token deposito dalam mata uang lain, token saham, obligasi, atau produk digitalisasi aset tradisional.

    Baca Juga: JP Morgan Percaya Bursa Kripto Terpusat Akan Tetap Dominan

    Peluncuran JPMD oleh JP Morgan merupakan langkah penting dalam evolusi keuangan, membawa deposit konvensional ke blockchain publik.

    Dengan sifatnya sebagai representasi Fiat 1:1, token ini menawarkan kecepatan, transparansi, dan kepastian hukum yang tidak dimiliki stablecoin tradisional.

    Bagi institusi keuangan, ini adalah jembatan baru antara dunia bank klasik dan sistem on‑chain. Rezoning ini dipantau ketat, baik dari sisi regulasi maupun efektivitas teknis.

    Jika JPMD berhasil, era tokenisasi massal aset tradisional di blockchain publik bisa segera terbuka.


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut.

    Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Bank-Bank Besar AS Bentuk Konsorsium Stablecoin Pembayaran

    Empat bank terbesar Amerika Serikat yang melibatkan JPMorgan Chase, Bank of America, Citigroup, dan Wells Fargo, dilaporkan tengah menjajaki proyek stablecoin bersama.

    Langkah ini dilakukan sebagai upaya untuk bersaing dengan platform aset digital yang semakin berkembang.

    Inisiatif ini bertujuan untuk memodernisasi sistem pembayaran dan memperkuat adopsi aset digital dalam infrastruktur perbankan tradisional.

    Baca Juga: JP Morgan Percaya Bursa Kripto Terpusat Akan Tetap Dominan

    Kolaborasi Strategis dalam Dunia Keuangan Digital

    Menurut laporan dari The Wall Street Journal, pembicaraan awal melibatkan entitas seperti Early Warning Services (EWS), yang mengoperasikan jaringan pembayaran peer-to-peer Zelle, dan The Clearing House (TCH), yang menangani pembayaran real-time antarbank.

    EWS dimiliki bersama oleh tujuh bank besar AS, termasuk JPMorgan Chase, Bank of America, dan Wells Fargo, sementara TCH dimiliki oleh dua lusin bank terbesar dunia.

    Proyek stablecoin ini masih dalam tahap eksplorasi awal dan belum ada keputusan final.

    Namun, langkah ini mencerminkan keseriusan bank-bank besar dalam merespons pertumbuhan pesat aset digital dan kebutuhan akan sistem pembayaran yang lebih efisien dan modern.

    Tujuan dan Manfaat Proyek Stablecoin

    Stablecoin adalah jenis mata uang kripto yang dirancang untuk mempertahankan nilai tetap, biasanya dipatok pada mata uang fiat seperti dolar AS.

    Mereka digunakan secara luas oleh para pedagang kripto untuk memindahkan dana antar token. Dengan meluncurkan stablecoin bersama, bank-bank ini berharap dapat:

    • Meningkatkan Efisiensi Pembayaran: Mempercepat transaksi lintas batas dan rutin dengan biaya lebih rendah.
    • Memperluas Akses Keuangan: Memberikan alternatif pembayaran digital yang aman dan mudah diakses oleh masyarakat luas.
    • Mempertahankan Daya Saing: Bersaing dengan platform aset digital dan teknologi keuangan baru yang menawarkan layanan serupa.

    Tantangan Regulasi dan Dukungan Politik

    Meskipun proyek ini menjanjikan, tantangan regulasi tetap menjadi perhatian utama. Saat ini, RUU Guiding and Establishing National Innovation for US Stablecoins Act (GENIUS Act) sedang dibahas di Senat AS.

    RUU ini bertujuan untuk menetapkan kerangka kerja bagi penerbitan stablecoin oleh bank dan nonbank.

    Jika disahkan, undang-undang ini dapat memberikan kejelasan hukum yang dibutuhkan untuk meluncurkan stablecoin secara resmi.

    Selain itu, dukungan politik terhadap aset digital semakin meningkat. Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump telah menyatakan dukungannya terhadap kripto, dengan tujuan mempromosikan adopsi arus utama dan meningkatkan dominasi dolar AS secara global.

    Langkah-Langkah Awal oleh Bank-Bank Besar

    Beberapa bank telah mengambil langkah awal dalam mengadopsi teknologi blockchain dan aset digital:

    • JPMorgan Chase: Meluncurkan JPM Coin, yang digunakan untuk menyelesaikan transaksi antar klien institusional dalam jaringan internal bank.
    • Wells Fargo: Mengembangkan dan menguji coba Wells Fargo Digital Cash, stablecoin yang dirancang untuk penyelesaian internal dan pembayaran lintas batas dalam jaringan global bank.

    Langkah-langkah ini menunjukkan kesiapan bank-bank besar untuk mengintegrasikan teknologi baru demi meningkatkan layanan dan efisiensi operasional.

    Baca Juga: Société Générale Rilis Stablecoin Dolar Pertama di Ethereum

    Kolaborasi antara bank-bank besar AS dalam merancang stablecoin bersama menandai langkah signifikan dalam evolusi sistem keuangan digital.

    Dengan memanfaatkan teknologi blockchain, mereka berupaya menciptakan sistem pembayaran yang lebih cepat, efisien, dan inklusif.

    Namun, keberhasilan proyek ini sangat bergantung pada kejelasan regulasi dan dukungan politik yang memadai.

    Jika berhasil, inisiatif ini dapat memperkuat posisi bank-bank tradisional dalam era digital dan memberikan alternatif yang kompetitif terhadap platform aset digital yang sudah ada.


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut.

    Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • JP Morgan dan Coinbase: Kripto Lebih Mudah dengan Kartu Kredit

    JP Morgan Chase, bank terbesar di Amerika Serikat, resmi mengumumkan kerja sama dengan platform kripto Coinbase.

    Mulai musim gugur 2025, pemegang kartu kredit Chase dapat langsung membeli aset kripto di Coinbase.

    Kolaborasi ini menjadi langkah yang menandai titik balik bagi penerimaan kripto oleh lembaga keuangan mainstream.

    Fitur Utama Kerja Sama Ini

    1. Pembelian Crypto via Kartu Kredit Chase
      Nasabah Chase dapat menggunakan kartu kreditnya untuk mendanai akun Coinbase dan membeli cryptocurrency dengan mudah tanpa perlu transfer bank terpisah. Kerjasama ini akan diluncurkan pada musim gugur 2025.
    2. Tukar Poin Reward Chase ke Crypto Mulai 2026
      Mulai tahun depan, nasabah bisa menautkan akun Chase langsung ke Coinbase dan mengonversi poin Chase Ultimate Rewards menjadi USDC, stablecoin yang terikat ke dolar AS. Setiap 100 poin setara $1 crypto (USDC).
    3. Integrasi Bank‑to‑Wallet
      Melalui integrasi API yang aman, Chase dan Coinbase memungkinkan tautan langsung antara akun bank Chase dan dompet Coinbase, mempermudah proses pembelian dan keamanan transaksi.

    Baca Juga: Pionir! JP Morgan Beri Pinjaman Dengan Jaminan Bitcoin dan Ethereum

    Tonggak Sejarah Baru

    • Bank Pertama yang Memudahkan Pembelian Crypto Pakai Kartu Kredit
      JPMorgan menjadi pelopor di antara bank besar AS yang memberikan opsi ini yang memberi sinyal bahwa kripto semakin diterima dalam layanan keuangan arus utama.
    • Potensi Ekspansi 80 Juta Nasabah
      Akses langsung ke basis nasabah Chase memungkinkan Coinbase menjangkau lebih banyak pengguna tanpa melalui perantara pihak ketiga yang biasanya menambah friksi seperti biaya dan kompleksitas.
    • Regulasi Kripto yang Semakin Menjanjikan
      Langkah ini datang seiring Regulasi yang semakin jelas di AS, seperti melalui inisiatif pemerintahan Trump dan SEC yang menghadirkan kerangka hukum lebih ramah bagi aset digital.

    Dampak ke Saham dan Ekuitas

    Pasca pengumuman kerjasama ini, saham Coinbase melonjak sekitar 3% di sesi pra-bursa, membalikan tren penurunan selama tujuh hari sebelumnya.

    Nilai pasar Coinbase kini mencapai sekitar $95 miliar, dan dipastikan masuk ke dalam indeks S&P 500. JP Morgan juga mencatat kenaikan sekitar 0,5% pada sahamnya.

    Namun dalam laporan laba Q2 2025 baru-baru ini, Coinbase gagal memenuhi ekspektasi di banyak metrik: pendapatan transaksi turun, revenue institusi melemah, dan biaya operasional membengkak.

    Saham sempat anjlok 16,7% setelah publikasi hasil. Meskipun demikian, ekspansi layanan melalui kemitraan seperti ini diyakini mampu menjadi katalis pemulihan harga saham ke depan.

    Tantangan dan Peringatan

    • Pengaturan Transaksi Kartu Kredit
      Beberapa pengguna Reddit mencatat bahwa pembelian kripto dengan kartu kredit kemungkinan dikategorikan sebagai cash advance, yang sering kena fee dan bunga lebih tinggi, sehingga perlu diperhatikan penggunaannya.
    • Ketergantungan Regulasi Aman dan Stabil
      Transformasi keuangan yang aman bagi publik membutuhkan kepastian regulasi. PNC Bank, contohnya, juga menjalin kerja sama serupa sebelumnya—semua ini menuntut aturan jelas agar tidak ada risiko hukum di masa depan.
    • Risiko Volatilitas Aset
      Meskipun stablecoin seperti USDC menawarkan kestabilan nilai, risiko volatil masih besar saat membeli aset kripto volatile. Nasabah perlu berhati-hati dan memahami bahwa reward poin dapat menjadi leverage jika tidak dikelola dengan baik.

    Pandangan Masa Depan

    Kerja sama JP Morgan–Coinbase membuka pintu bagi integrasi lebih dalam antara layanan keuangan tradisional dan aset digital.

    Dengan memudahkan pembelian kripto dan memanfaatkan poin kartu kredit sebagai alat investasi modern, inisiatif ini bisa memicu adopsi kripto skala besar.

    Investor dan pengamat industri menilai langkah ini sebagai titik balik penting. JP Morgan tidak hanya memperluas inklusi keuangan, tetapi juga menjadi jembatan antara tradfi dan kripto melalui produk yang aman dan identitas brand tepercaya.

    Baca Juga: AERO Naik 40%: Dorongan Coinbase dan Permintaan Tinggi

    Fitur Periode
    Beli crypto via kartu kredit Chase Musim Gugur 2025
    Tautkan akun bank ke Coinbase Mulai 2026
    Tukar reward poin Chase ke USDC Mulai 2026 (100 poin = $1)
    Dampak terhadap saham Coinbase +3%, JPM +0.5%

    Dengan langkah pionir ini, JP Morgan dan Coinbase membawa blockchain satu langkah lebih dekat ke mainstream finansial.

    Integrasi ini bukan hanya soal teknologi, tetapi strategi besar untuk memperluas akses aset digital secara aman dan fleksibel bagi jutaan pengguna.


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut.

    Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Pionir! JP Morgan Beri Pinjaman Dengan Jaminan Bitcoin dan Ethereum

    Dalam langkah yang mengejutkan namun sekaligus menandai perubahan besar dalam lanskap keuangan global, JP Morgan Chase dikabarkan tengah mempersiapkan skema pinjaman yang dijamin langsung oleh aset kripto milik klien seperti Bitcoin dan Ethereum.

    Program inovatif ini diperkirakan akan mulai diluncurkan pada tahun 2026 dan menegaskan betapa dalamnya dunia perbankan tradisional mulai mengintegrasikan teknologi blockchain dan aset digital.

    Dari ETF ke Bitcoin Murni: Evolusi Kredit Berbasis Kripto

    Saat ini, JP Morgan memang sudah memperbolehkan kliennya meminjam dana dengan jaminan produk investasi kripto seperti ETF Bitcoin milik BlackRock (iShares Bitcoin Trust).

    Namun, terobosan baru ini akan melangkah lebih jauh: klien bisa langsung menggunakan Bitcoin atau Ethereum yang mereka miliki sebagai jaminan pinjaman tunai, tanpa harus melalui instrumen derivatif seperti ETF.

    Langkah ini menandai pergeseran signifikan dari sekadar ‘mengizinkan’ kripto, menuju bentuk penerimaan yang lebih substansial dan konkret dalam sistem keuangan konvensional.

    Pergerakan harga Ethereum (ETH/USDT) pada Rabu, 23 Juli 2025. Sumber: Tokocrypto.
    Pergerakan harga Ethereum (ETH/USDT) pada Rabu, 23 Juli 2025. Sumber: Tokocrypto.

    Baca Juga: JP Morgan dan SEC Bahas Migrasi Pasar Modal ke Blockchain

    Lembaga Tradisional Masuk Era Kripto

    Keputusan JPMorgan ini bukanlah insiden tunggal. Bank-bank besar AS seperti Goldman Sachs dan Citibank juga mulai mengadopsi pendekatan hybrid terhadap aset digital.

    Kombinasi antara regulasi yang mulai bersahabat dan permintaan tinggi dari nasabah kelas atas dan institusi menjadi pendorong utama tren ini.

    Jamie Dimon, CEO JP Morgan, yang sebelumnya dikenal sebagai salah satu kritikus paling vokal terhadap Bitcoin, bahkan pernah menyebutnya sebagai “penipuan”, kini mulai melunak.

    Ia mengakui bahwa meskipun banknya tidak akan menyimpan Bitcoin di neraca keuangan (on-balance sheet), mereka tetap akan memfasilitasi klien yang ingin mengakses dan memanfaatkan kripto secara legal dan aman.

    Keamanan dan Penitipan: Kunci Utama di Balik Layanan Ini

    Untuk menghindari risiko tinggi seperti kebangkrutan klien, penyitaan aset digital, atau tantangan teknis dalam menjaga keamanan wallet, JP Morgan tidak akan menyimpan aset digital secara langsung.

    Sebagai gantinya, mereka akan menggandeng pihak ketiga seperti Coinbase sebagai kustodian terpercaya yang bertugas menjaga aset digital klien.

    Pendekatan ini sejalan dengan model yang sudah mulai banyak digunakan oleh platform institusional seperti Fidelity Digital Assets dan Bakkt.

    Pergerakan harga Bitcoin (BTC/USDT) pada Rabu, 23 Juli 2025. Sumber: Tokocrypto.
    Pergerakan harga Bitcoin (BTC/USDT) pada Rabu, 23 Juli 2025. Sumber: Tokocrypto.

    Apa Artinya Bagi Masa Depan Kripto?

    Keputusan JPMorgan membuka layanan pinjaman dengan jaminan kripto merupakan validasi besar terhadap legitimasi aset digital, khususnya di mata lembaga keuangan dan investor konservatif. Beberapa implikasi pentingnya antara lain:

    • Likuiditas yang lebih besar bagi pemilik kripto besar (whale) yang tidak ingin menjual aset mereka, tapi tetap butuh akses ke modal tunai.
    • Penurunan volatilitas pasar, karena pemilik kripto kini punya opsi lain selain harus menjual saat butuh dana.
    • Potensi peningkatan permintaan terhadap BTC dan ETH sebagai aset produktif, bukan sekadar spekulatif.

    Risiko yang Tetap Ada

    Meski menjanjikan, pendekatan ini tentu memiliki tantangan.

    Nilai jaminan kripto yang sangat volatil bisa mengharuskan margin call atau likuidasi paksa. Selain itu, penggunaan kustodian pihak ketiga menimbulkan risiko terhadap keamanan dan transparansi.

    Namun, dengan kontrol ketat dan mitra penyimpanan yang mapan seperti Coinbase, JPMorgan diyakini mampu mengelola risiko-risiko tersebut secara profesional.

    Baca Juga: JP Morgan Percaya Bursa Kripto Terpusat Akan Tetap Dominan

    Dunia keuangan global tengah berubah, dan pengumuman JP Morgan ini hanyalah puncak dari gunung es.

    Ketika bank sebesar JP Morgan mulai mengintegrasikan kripto ke dalam layanan pinjamannya, artinya masa depan aset digital bukan lagi “jika”, tapi “kapan”.

    Apakah ini tanda bahwa kripto akan menjadi bagian permanen dari ekosistem keuangan global? Jika raksasa Wall Street saja mulai bermain, Anda mungkin ingin mempertimbangkan kembali posisi Anda di dunia kripto.


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut.

    Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Geger! JPMorgan Terbitkan Surat Utang AS Pertama di Blockchain Solana

    JPMorgan kembali mencetak sejarah di dunia keuangan global. Bank terbesar di Amerika Serikat itu sukses mengeksekusi transaksi penerbitan commercial paper AS yang ditokenisasi sepenuhnya di blockchain publik Solana, sebuah langkah yang menandai integrasi nyata antara keuangan tradisional (TradFi) dan teknologi blockchain.

    Transaksi bersejarah ini diumumkan pada 11 Desember 2025, dengan afiliasi Galaxy Digital Holdings LP bertindak sebagai penerbit surat utang jangka pendek tersebut. Ini menjadi salah satu contoh paling awal dari utang korporasi AS yang diterbitkan, diproses, dan diselesaikan sepenuhnya secara on-chain.

    JPMorgan Kenalkan USCP token

    Dalam transaksi ini, JPMorgan memperkenalkan USCP token, instrumen utang jangka pendek berbasis Solana yang mereplikasi mekanisme commercial paper konvensional dalam format digital. Seluruh proses penerbitan dan penebusan dilakukan menggunakan USDC, stablecoin milik Circle, sehingga memungkinkan penggalangan dana yang sepenuhnya native di blockchain.

    Dilaporkan Ethnews, investor dalam transaksi tersebut adalah Coinbase dan Franklin Templeton, dua institusi besar yang membeli commercial paper tokenisasi tersebut. Coinbase juga berperan sebagai penyedia layanan kustodi, termasuk pengelolaan private key dan infrastruktur dompet digital untuk memastikan keamanan aset tingkat institusional.

    Baca juga: Bitcoin Diserbu! JP Morgan & Konglomerat Global Kunci 1,05 Juta BTC

    Kolaborasi ini melibatkan sejumlah pemain utama lintas sektor, antara lain:

    • JPMorgan sebagai arranger sekaligus pencipta USCP token
    • Afiliasi Galaxy Digital sebagai penerbit surat utang
    • Coinbase dan Franklin Templeton sebagai investor
    • Coinbase sebagai kustodian aset digital

    Keterlibatan bank besar, perusahaan kripto, dan manajer aset global ini mencerminkan meningkatnya kepercayaan institusi terhadap blockchain publik sebagai infrastruktur pasar keuangan nyata.

    Transaksi Commercial Paper AS Pertama

    Bagi Galaxy Digital, penerbitan ini merupakan transaksi commercial paper AS pertamanya, sekaligus membuka jalur pembiayaan jangka pendek yang lebih efisien. Sementara bagi JPMorgan, kesepakatan ini menunjukkan bahwa aktivitas perbankan inti, seperti strukturisasi dan likuiditas, dapat dijalankan di blockchain publik tanpa mengorbankan standar regulasi dan operasional.

    Langkah ini juga menegaskan perubahan besar dalam strategi institusi keuangan global. Tokenisasi tidak lagi sekadar uji coba, melainkan telah menjadi alat operasional di pasar modal. Eksekusi instrumen utang di blockchain publik, yang sebelumnya dianggap terlalu ambisius, kini mulai menjadi kenyataan.

    Dengan semakin populernya tokenisasi obligasi negara, dana pasar uang, dan commercial paper, penerbitan USCP oleh JPMorgan berpotensi dikenang sebagai titik balik penting, saat pasar kredit institusional mulai beralih dari sistem tradisional menuju jaringan blockchain yang lebih transparan, terprogram, dan dapat diakses secara global.

    Baca juga: JP Morgan dan Coinbase: Kripto Lebih Mudah dengan Kartu Kredit


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli

    Tokocrypto berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.





    Sumber : news.tokocrypto.com

  • JPMorgan Siap Terima Bitcoin dan Ethereum Jadi Agunan Pinjaman

    Dunia keuangan tradisional dan aset digital kembali berpotongan. Raksasa perbankan asal Amerika Serikat, JPMorgan Chase & Co., dikabarkan akan mengizinkan klien institusionalnya menggunakan Bitcoin (BTC) dan Ether (ETH) sebagai agunan untuk pinjaman sebelum akhir tahun ini.

    Langkah strategis ini menandai babak baru integrasi kripto ke dalam sistem keuangan Wall Street yang selama ini dikenal konservatif.

    Baca Juga: Pionir! JP Morgan Beri Pinjaman Dengan Jaminan Bitcoin dan Ethereum

    Langkah Bersejarah untuk Wall Street

    Program baru ini akan menggunakan penyedia kustodian eksternal untuk menyimpan aset kripto yang dijaminkan oleh para klien.

    Artinya, lembaga keuangan besar kini dapat menggunakan kepemilikan Bitcoin dan Ethereum mereka sebagai jaminan untuk mendapatkan likuiditas, tanpa harus menjual aset digital tersebut.

    Sebelumnya, JPMorgan sudah mengambil langkah awal dengan menerima ETF berbasis kripto sebagai bentuk jaminan dalam beberapa transaksi pembiayaan.

    Namun, kebijakan terbaru ini memperluas jangkauan hingga ke aset kripto itu sendiri, bukan hanya instrumen turunannya.

    Kebijakan tersebut diharapkan dapat membuka peluang baru bagi perusahaan investasi, hedge fund, dan lembaga keuangan yang memiliki eksposur besar terhadap aset digital namun membutuhkan akses pembiayaan tanpa mengorbankan kepemilikan jangka panjangnya.

    Dari Skeptis Menjadi Progresif

    Langkah ini menjadi sorotan tajam di kalangan analis, mengingat CEO JPMorgan, Jamie Dimon, selama bertahun-tahun dikenal sebagai salah satu kritikus paling keras terhadap Bitcoin.

    Ia bahkan sempat menyebut kripto sebagai “penipuan” pada 2017. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, JPMorgan perlahan mengubah pendekatannya.

    Bank ini telah meluncurkan JPM Coin, sistem blockchain internal untuk transaksi antarbank, serta memperluas layanannya dalam aset digital melalui divisi Onyx.

    Dengan menerima Bitcoin dan Ethereum sebagai agunan, JPMorgan secara efektif mengakui nilai ekonomi dan fungsionalitas kripto dalam ekosistem keuangan modern.

    Banyak pihak melihat langkah ini sebagai sinyal bahwa institusi keuangan besar kini tidak lagi bisa mengabaikan peran aset digital dalam pengelolaan modal global.

    Dampak bagi Pasar Kripto dan Lembaga Keuangan

    Kebijakan JPMorgan ini berpotensi menjadi catalyst positif bagi pasar kripto, khususnya untuk Bitcoin dan Ethereum.

    Langkah tersebut memberikan legitimasi tambahan bagi kedua aset digital terbesar dunia itu, sekaligus memperkuat kepercayaan investor institusional terhadap stabilitas dan keamanannya.

    Selain itu, keputusan ini bisa mempercepat adopsi skema pinjaman berbasis kripto (crypto-backed lending) di sektor keuangan tradisional.

    Selama ini, model semacam itu lebih banyak dijalankan oleh perusahaan fintech dan platform DeFi seperti Aave, MakerDAO, dan BlockFi.

    Kini, dengan masuknya nama besar seperti JPMorgan, konsep tersebut berpotensi menjadi mainstream di kalangan lembaga keuangan global.

    Analis memperkirakan bahwa langkah JPMorgan akan meningkatkan likuiditas pasar kripto, karena institusi tidak perlu lagi menjual aset digital mereka untuk memenuhi kebutuhan dana jangka pendek.

    Hal ini juga dapat mengurangi tekanan jual di pasar, yang sering menjadi pemicu volatilitas ekstrem pada harga Bitcoin dan Ethereum.

    Baca Juga: Pionir! JP Morgan Beri Pinjaman Dengan Jaminan Bitcoin dan Ethereum

    Titik Balik Kolaborasi TradFi dan Kripto

    Kebijakan JPMorgan Chase untuk menerima Bitcoin dan Ethereum sebagai agunan pinjaman menandai pergeseran paradigma besar di sektor keuangan global.

    Dari lembaga yang dulu skeptis terhadap kripto, kini JPMorgan justru menjadi pionir di antara bank-bank besar dunia dalam mengintegrasikan aset digital ke dalam sistem pembiayaan tradisional.

    Jika langkah ini berjalan sukses, bukan tidak mungkin bank-bank besar lainnya seperti Goldman Sachs, Citigroup, atau Morgan Stanley akan mengikuti jejak serupa.

    Integrasi antara keuangan tradisional (TradFi) dan aset digital pun semakin nyata — menjadikan tahun 2025 sebagai momentum penting dalam perjalanan adopsi kripto secara institusional.


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli

    Tokocrypto Berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan.



    Sumber : news.tokocrypto.com