Tag: jumat

  • 5 Amalan Sebelum Sholat Jumat, Laki-laki Muslim Wajib Tahu!



    Jakarta

    Ada amalan yang bisa dikerjakan sebelum melaksanakan sholat Jumat. Amalan ini sebagaimana dilakukan dan dicontohkan Rasulullah SAW semasa hidupnya.

    Amalan sebelum sholat Jum’at ini bisa dikerjakan laki-laki muslim sebelum berangkat ke masjid untuk menunaikan kewajiban sholat Jum’at.

    Mengutip buku Super Berkah Shalat Jumat: Menggali dan Meraih Keutamaan dan Keberkahan di Hari Paling Istimewa karya Firdaus Wajdi dijelaskan, Rasulullah SAW rutin melakukan beberapa hal sebelum melaksanakan sholat Jum’at. Hal-hal tersebut secara lahiriah berhubungan erat dengan kebersihan jasmani.


    Dalam ajaran Islam, kaum muslimin memang diperintahkan untuk senantiasa memperhatikan aspek kebersihan.

    Dari Aisyah, Rasulullah SAW bersabda, “Islam adalah agama yang bersih. Maka, jagalah kebersihan karena tidak akan masuk ke dalam surga kecuali orang yang bersih.” (HR. Ath Thabrani)

    Amalan Sebelum Sholat Jum’at

    Berikut beberapa amalan yang bisa dikerjakan sebelum berangkat sholat Jumat:

    1. Mandi

    Ada banyak hadits Rasulullah SAW yang menerangkan perintah mandi sebelum melaksanakan sholat Jumat. Salah satunya yang diriwayatkan dari Abdullah bin Umar, Rasulullah SAW bersabda, “Jika salah satu dari kalian melaksanakan sholat Jumat maka hendaknya ia mandi terlebih dahulu.” (HR Bukhari)

    Dalam hadits lain, dari Abdullah bin Abi Qatadah ra bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Orang yang mandi pada hari Jumat maka ia berada dalam kesucian sampai Jumat berikutnya.” (HR Al Hakim)

    Mandi sebelum sholat Jumat juga menjadi amalan penghapus dosa. Dari Abu Umamah, Nabi Muhammad SAW bersabda, “Mandi pada hari Jumat itu dapat mencerabut kesalahan hingga ke akar rambut.” (HR Ath Thabrani)

    2. Bersiwak

    Bersiwak menjadi amalan sunnah sebelum sholat Jumat. Rasulullah SAW memerintahkan umatnya untuk selalu menjaga kebersihan mulut.

    Dari Aisyah ra. Nabi Muhammad bersabda, “Siwak itu dapat membersihkan mulut dan membuat senang Allah.” (HR An Nasa’i)

    Dalam hadits lain, dari Abu Sa’id Al Khudri, sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda, “Mandi pada hari Jumat adalah keharusan bagi orang yang sudah balig, dan hendaknya bersiwak dan memakai wewangian semampunya.” (HR Muslim)

    3. Mengenakan Pakaian Terbaik

    Amalan sunnah selanjutnya adalah mengenakan pakaian yang terbaik. Pakaian yang baik mencerminkan kemuliaan orang yang mengenakannya. Pakaian juga mencerminkan kemuliaan momen dan orang yang ditemui di momen tersebut.

    Sholat Jumat merupakan Hari Raya bagi umat Islam. tentu hari ini menjadi momen yang mulia.

    Dari Abu Sa’id Al Khudri, Rasulullah SAW bersabda, “Orang yang telah balig hendaknya mandi di hari Jumat dan mengenakan salah satu pakaian terbaik yang ia miliki. Jika ia memiliki minyak wangi maka oleskanlah.” (HR Ahmad)

    Maksud dari pakaian terbaik ini bukanlah baju yang baru dan mewah tetapi baju yang menutup aurat, bersih, tidak terbuat dari sutra, tidak mencolok, tidak bergambar, dan dianjurkan berwarna putih.

    Dari Ibnu Abbas, Rasulullah SAW bersabda, “Pakailah pakaian yang berwarna putih. Sesungguhnya itu adalah sebaik-baik pakaian yang kalian gunakan. Dan kafankanlah orang yang meninggal dengan pakaian putih.” (HR At Tirmidzi)

    4. Memakai wewangian dan mengoleskan minyak rambut

    Amalan lain sebelum sholat Jumat adalah memakai wewangian dan mengoleskan minyak rambut.

    Dari Az Zuhri Thawus berkata, aku bertanya pada Ibnu Abbas mereka mengatakan bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Mandilah kalian jika hendak menunaikan sholat Jumat dan basuhlah kepala kalian walaupun kalian tidak sedang junub, dan pakailah wewangian.”(HR Al Bukhari)

    Dalam hadits lain, dari Ibnu Abbas, Rasulullah SAW bersabda, “Wahai manusia, hendaklah di hari ini (Jumat) kalian mandi. Pakailah minyak wangi dan minyak rambut terbaik yang kalian miliki.” (HR Al Hakim)

    5. Memotong kuku dan mencukur kumis

    Anggota tubuh yang dianjurkan untuk dirapikan sebelum melaksanakan sholat Jumat adalah kuku dan kumis. Rasulullah SAW menganjurkan untuk memotong kuku dan mencukur kumis sebelum sholat Jumat.

    Dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW memotong kukunya dan mencukur kumisnya pada hari Jumat sebelum berangkat sholat. (HR Al Baihaqi)

    Itulah beberapa amalan yang dapat dilakukan sebelum berangkat sholat Jumat.

    (dvs/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Doa Jumat Berkah, Mustajab Dibaca Sore Hari Setelah Ashar


    Jakarta

    Bagi umat Islam, Jumat merupakan hari yang istimewa. Jumat juga menjadi waktu yang tepat untuk berdoa, terutama di pagi dan sore hari.

    Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW menjelaskan tentang keutamaan berdoa saat Jumat sore. Rasulullah SAW bersabda,

    يَوْمُ الْجُمُعَةِ اثْنَتَا عَشْرَةَ سَاعَةً لاَ يُوجَدُ فِيهَا عَبْدٌ مُسْلِمٌ يَسْأَلُ اللهَ شَيْئًا إِلاَّ آتَاهُ إِيَّاهُ فَالْتَمِسُوهَا آخِرَ سَاعَةٍ بَعْدَ الْعَصْرِ


    Artinya: Pada hari Jumat terdapat dua belas jam (pada siang hari), di antara waktu itu ada waktu yang tidak ada seorang hamba muslim pun memohon sesuatu kepada Allah melainkan Dia akan mengabulkan permintaannya. Oleh karena itu, carilah ia di akhir waktu setelah ‘Ashar.’ (HR. Abu Dawud)

    Hadits ini secara eksplisit menyebutkan waktu sore di hari Jumat menjadi momen yang tepat untuk memanjatkan doa.

    Jumat juga merupakan hari yang baik, di mana Allah SWT menetapkan beberapa takdir. Jumat juga menjadi hari terbaik diantara hari-hari lainnya.

    Dari Abu Hurairah RA bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Sebaik-baik hari yang terbit matahari padanya adalah hari Jumat. Pada hari itulah Adam diciptakan, di waktu ini pula ia dimasukan ke dalam surga dan waktu itu juga ia dikeluarkan dari surga. Kiamat pun tidak akan terjadi kecuali pada hari Jumat.” (HR Muslimn, Abu Daud, dan Nasa’i disahkan oleh Turmudzi)

    Mengutip buku Rahasia & Keutamaan Hari Jumat oleh Komarudin Ibnu Mikam dijelaskan bahwa hadits tersebut menegaskan Jumat dijadikan momentum yang tidak biasa.

    Pada buku Panduan Amalan Hari Jumat, Mahmudin mengutip perkataan Ali Al-Qari yang menjelaskan, “Dan kemungkinan keagungan hari Jumat atas dua hari raya (Idul Fitri dan Idul Adha) adalah dengan memperhitungkan bahwa ia adalah hari ibadah sedangkan keduanya adalah hari bahagia dan gembira.”

    Imam Ibnu Qayyim berkata, “Allah SWT menjadikan bagi setiap penganut agama suatu hari di mana mereka meluangkan pada hari itu untuk beribadah dan mereka mengosongkan dari berbagai kesibukan dunia. Maka hari Jumat adalah hari ibadah. Ia di antara hari-hari yang lainnya adalah seperti bulan Ramadhan dengan bulan-bulan lainnya. Dan saat ijabah di dalamnya sama seperti lailatul qadar pada bulan Ramadhan.”

    Jumat Waktu Mustajab untuk Berdoa

    Sebagaimana telah dijelaskan melalui hadits Rasulullah SAW, Imam Ahmad menegaskan bahwa Jumat menjadi waktu mustajab untuk berdoa dan waktu itu adalah ba’da Ashar,

    قال الإمام أحمد : أكثر الأحاديث في الساعة التي تُرجى فيها إجابة الدعوة : أنها بعد صلاة العصر ، وتُرجى بعد زوال الشمس . ونقله عنه الترمذي

    “Kebanyakan hadits mengenai waktu yang diharapkan terkabulnya doa adalah ba’da Ashar dan setelah matahari bergeser (waktu shalat Jumat).” [Lihat Fatwa Sual Wal Jawab no.112165]

    Doa Jumat Berkah Setelah Ashar

    Dalam Kitab Syuabul Iman dan Kitab Nurul Lum’ah terdapat bacaan doa yang bisa dipanjatkan selepas salat Ashar di hari Jumat. Doa ini bisa dibaca untuk mengharapkan keberkahan sekaligus memohon perlindungan Allah SWT.

    اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لا إِلَهَ إِلا أَنْتَ خَلَقْتَنِي ، وَأَنَا عَبْدُكَ وَابْنُ أَمَتِكَ ، وَفِي قَبْضَتِكَ ، وَناصِيَتِي بِيَدِكَ ، أَمْسَيْتُ عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ ، أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ أَبُوءُ بِنِعْمَتِكَ ، وَأَبُوءُ بِذَنْبِي ، فَاغْفِرْ لِي ذُنُوبِي إِنَّهُ لا يَغْفِرُ الذُّنُوبُ إِلا أَنْتَ

    Arab latin: Allahumma Anta Rabbi laa ilaaha illa Anta khalaqtani, wa ana abduka wabnu amatika wafi qabdhotika wa nasiyati bi yadika. Amsaitu ala ahdika wa wa’dika mastatho’tu a’udzu bika min syarri ma shona’tu. Abu’u bi ni’matika wa abu’u bidzanbi faghfirly dzunubi. Innahu la yaghfirudz dzunuba illa Anta.

    Artinya: “Ya Allah, Engkau Tuhanku, tidak ada tuhan yang aku sembah kecuali Engkau yang telah menciptakanku. Menciptakanku sebagai hambamu dan anak dari hamba sahayamu. Hidupku ada dalam genggaman-Mu. Aku hidup atas janji dan ancaman-Mu. Selama aku bisa, aku berlindung kepada-Mu dari kejelekan yang telah aku perbuat,. Aku telah menyia-nyiakan nikmatmu. Dan aku berbuat dosa. Maka ampunilah dosaku. Sesungguhnya tidak ada yang bisa mengampuni dosa kecuali Engkau.”

    Merangkum arsip detikHikmah, sebagaimana dikutip dari buku Agar Hidup Selalu Berkah karya Habib Syarief Muhammad Alaydrus, berikut doa yang dapat dibaca saat Jumat.

    1. Doa Jumat Berkah

    أدام الله لكم بركة الجمعة دهوراً، وألبسكم من تقواه نوراً، جمعة مباركة

    Arab latin: Adamallahu lakum barakatal Jumat duhuran, wa albasakum min taqwahu nuron, jumatan mubarakah

    Artinya : “Semoga Allah SWT memberikan berkah kepada kalimat pada hari Jumat ini, serta Allah mengenakan cahaya dari kesalehan hari ini, Jumat yang diberkahi.”

    2. Doa Memohon Rezeki yang Berkah

    الَّلهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيمَا رَزَقْتَنَا، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

    Arab latin: Allahumma barik lana fi ma razaqtana wa qina adza bannar.

    Artinya: “Ya Allah, berikan kami berkah pada rezeki yang telah Engkau berikan dan peliharalah kamu dari siksa neraka,”

    3. Doa Keselamatan Dunia dan Akhirat

    اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ، اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي دِيْنِيْ وَدُنْيَايَ وَأَهْلِيْ وَمَالِيْ اللَّهُمَّ اسْتُرْ عَوْرَاتِى وَآمِنْ رَوْعَاتِى. اَللَّهُمَّ احْفَظْنِيْ مِنْ بَيْنِ يَدَيَّ، وَمِنْ خَلْفِيْ، وَعَنْ يَمِيْنِيْ وَعَنْ شِمَالِيْ، وَمِنْ فَوْقِيْ، وَأَعُوْذُ بِعَظَمَتِكَ أَنْ أُغْتَالَ مِنْ تَحْتِيْ

    Arab latin: Allahumma innii as-alukal ‘afwa wal ‘aafiyah fid dunyaa wal aakhiroh. Allahumma innii as-alukal ‘afwa wal ‘aafiyah fii diinii wa dun-yaya wa ahlii wa maalii. Allahumas-tur ‘awrootii wa aamin row’aatii. Allahummahfazh-nii mim bayni yadayya wa min kholfii wa ‘an yamiinii wa ‘an syimaalii wa min fawqii wa a’udzu bi ‘azhomatik an ughtala min tahtii

    Artinya: “Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kebajikan dan keselamatan di dunia dan akhirat. Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kebajikan dan keselamatan dalam agama, dunia, keluarga dan hartaku. Ya Allah, tutupilah auratku (aib dan sesuatu yang tidak layak dilihat orang) dan tenteramkanlah aku dari rasa takut. Ya Allah, peliharalah aku dari muka, belakang, kanan, kiri dan atasku. Aku berlindung dengan kebesaran-Mu, agar aku tidak disambar dari bawahku (oleh ular atau tenggelam dalam bumi dan lain-lain yang membuat aku jatuh).” (HR Abu Dawud dan Ibnu Majah, Shahih Ibnu Majah)

    Demikian beberapa doa yang bisa dibaca di hari Jumat pada sore hari. Yuk amalkan agar menjadi berkah!

    (dvs/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Doa dan Dzikir setelah Sholat Qobliyah Dzuhur


    Jakarta

    Ada sejumlah sholat sunnah rawatib atau pengiring sholat wajib yang bisa dikerjakan muslim. Salah satunya sholat qobliyah Dzuhur yang dilanjutkan dengan membaca doa dan dzikir.

    Sholat qobliyah Dzuhur adalah sholat sunnah yang dikerjakan sebelum sholat Dzuhur. Diterangkan dalam buku Ahkam Ash-Sholah karya Syaikh Ali Raghib yang diterjemahkan Abdillah al-Faqih dan M. al-Mu’tashim Billah, dalil sholat tersebut bersandar pada hadits dari Ibnu Umar RA,

    صَلَّيْتُ مَعَ النَّبِيِّ ﷺ سَجْدَتَيْنِ قَبْلَ الظُّهْرِ وَسَجْدَتَيْنِ بَعْدَهَا وَسَجْدَتَيْنِ بَعَدَ الْمَغْرِبِ وَسَجْدَتَيْنِ بَعْدَ الْعِشَاءِ وَ سَجْدَتَيْنِ بَعْدَ الْجُمُعَةِ


    Artinya: “Aku pernah sholat bersama Rasulullah SAW sebelum Dzuhur dua kali sujud (dua rakaat) dan dua kali sujud sesudahnya; dua kali sujud sesudah Maghrib; dua kali sujud sesudah Isya; serta dua kali setelah sholat Jumat.” (HR Bukhari, Muslim, dan Ahmad)

    Doa setelah Sholat Qobliyah Dzuhur

    Sholat qobliyah Dzuhur bisa dilanjutkan dengan memanjatkan doa dan dzikir sembari menunggu iqamah. Menurut sebuah hadits, waktu antara adzan dan iqamah termasuk mustajab.

    Diriwayatkan dari Anas bin Malik RA, Rasulullah SAW bersabda, “Doa tidak akan ditolak di antara adzan dan iqamah.” (HR Abu Dawud, an-Nasa’i, dan at-Tirmidzi)

    Dikutip dari Buku Kumpulan Do’a Sehari-hari terbitan Kementerian Agama RI, doa setelah sholat qobliyah Dzuhur hampir sama seperti doa setelah sholat wajib yakni:

    1. Membaca Istighfar 3 Kali

    أَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيمِ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ وَأَتُوْبُ إِلَيْه

    Artinya: “Aku memohon ampunan kepada Allah yang Maha Agung, yang tiada Tuhan selain Dia, Maha Hidup, Maha Kuasa, dan kepada-Nya aku bertaubat.”

    2. Membaca Tahlil 10 Kali

    لا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ, لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِي وَيُمِيتُ وَهُوَ عَلَي كُلِّ شَيْءٍ قَدِير

    Artinya: “Tiada tuhan selain Allah yang Esa, tiada sekutu bagi-Nya miliknya kerajaan dan pujian, (Ia) pula yang menghidupkan dan mematikan. Dan Dia Maha kuasa atas segala sesuatu.”

    3. Mohon Perlindungan dari Api Neraka 3 Kali

    اللَّهُمَّ أَجِرْنَا مِنَ النَّارِ

    Artinya: “Ya allah, jauhkan kami dari api neraka.”

    4. Mohon Keselamatan

    اللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلَامُ وَمِنْكَ السَّلَامُ وَإِلَيْكَ يَعُودُ السَّلامُ فَحَيِّنَا رَبَّنَا بِالسَّلَامِ وَأَدْخِلْنَا الْجَنَّةَ دَارَ السَّلَامِ تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ يَاذَا الْجَلالِ وَالإِكْرَامِ.

    Artinya: “Ya Allah, Engkau sumber keselamatan dan dari pada-Mulah datangnya keselamatan dan kepada-Mu kembalinya keselamatan. Maka hidupkanlah kami wahai Tuhan, dengan selamat sejahtera dan masukkanlah kami ke dalam surga negeri keselamatan. Maha banyak anugerahMu dan Maha Tinggi Engkau Wahai Tuhan yang memiliki keagungan dan kehormatan.”

    5. Doa Berserah kepada Allah

    اللَّهُمَّ لأَمَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ وَلَا مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ وَلَا رَادَّ لِمَا قَضَيْتَ وَلَا يَنْفَعُ ذَ ی الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ

    Artinya: “Ya Allah tidak ada yang mencegah apa yang Engkau berikan dan tidak ada yang bisa memberi apa yang Engkau cegah, dan tidak ada yang bisa menolak ketetapanmu. Tidak berguna kekayaan dan kemulian itu bagi pemiliknya. Hanya dari-Mu kekayaan dan kemulian.”

    6. Mohon Mohon Pertolongan Jadi Hamba yang Syukur

    اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

    Artinya: “Ya Allah…Bantulah aku untuk senantiasa berdzikir dan bersyukur kepadaMu, serta selalu beribadah dengan baik kepadamu.”

    7. Tasbih, Tahmid, Takbir 33 Kali

    سُبْحَانَ اللهِ

    Artinya: “Maha Suci Allah.”

    وَالْحَمْدُ لِلَّهِ

    Artinya: “Segala puji bagi Allah.”

    الله أَكْبَرُ

    Artinya: “Allah Maha Besar.”

    Bacaan doa dan dzikir setelah qobliyah Dzuhur tersebut dapat dilafalkan dengan tenang dan khusyuk.

    Keutamaan Sholat Qobliyah Dzuhur

    Dijelaskan dalam kitab Fikih Sunnah Jilid 1 karya Sayyid Sabiq, sholat rawatib memiliki sejumlah keutamaan. Salah satunya, Allah SWT akan membukakan pintu-pintu langit.

    Hal tersebut bersandar pada riwayat dari Abu Ayyub al-Anshary, bahwasanya dia (Rasulullah) mengerjakan sholat empat rakaat sebelum Dzuhur. Saat dia (Rasulullah) ditanya, “Apakah engkau selalu mengerjakan sholat sunnah ini?” Dia menjawab, aku melihat Rasulullah SAW mengerjakannya, dan ketika aku bertanya, beliau bersabda, “Saat itu adalah saat ketika pintu-pintu langit dibuka. Oleh karena itu, aku ingin amal kebaikanku dinaikkan (ke langit) pada saat itu.” (HR Ahmad)

    (kri/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Pohon Kurma yang Menangis pada Hari Jumat, Kenapa?



    Jakarta

    Semasa Rasulullah SAW masih berdakwah, banyak sekali kisah yang menarik untuk kita dengarkan dan ambil pelajarannya. Salah satunya adalah sebuah kisah pohon kurma yang menangis pada hari Jumat.

    Kisah ini diabadikan dalam salah satu riwayat dari Jabir bin Abdullah RA. Mengutip Mukhtashar Shahih al-Bukhari oleh Imam Zainuddin az Zubaidi, Jabir berkata,

    “Apabila Rasulullah khutbah, beliau biasa berdiri di bawah pohon kurma. Ketika sebuah mimbar disediakan untuk beliau, kami mendengar pohon kurma itu menangis seperti tangisan unta betina yang hamil maka beliau turun dari mimbar dan mengelus pohon tersebut.” (HR Bukhari)


    Kisah Pohon Kurma Menangis pada Hari Jumat

    Kisah ini dapat diawali dengan menengok kembali tugas dan pekerjaan Rasulullah SAW sesudah berhijrah dari Makkah ke Madinah. Mengutip tulisan Ustaz Dr. Miftahur Rahman El-Banjary dalam buku Cinta Seribu Dirham Merajut Kerinduan kepada Rasulullah Al-Musthafa. Pekerjaan pertama Rasulullah SAW sesampainya di Madinah adalah membangun masjid.

    Masjid itu diberi nama Masjid Nabawi yang didirikan tepat dimana unta Rasulullah berhenti. Tanah tempat unta itu berhenti adalah miliki anak yatim bersaudara.

    Selanjutnya, diketahui bahwa tanah yang telah dibeli tersebut berbentuk seperti bujur sangkar dengan luas hanya sekitar 1.060 meter persegi. Masjid yang didirikan pada awal masa itu pun sangat sederhana, hanya berupa tanah lapang yang dikelilingi tembok tanah liat menyerupai lingkaran.

    Saat masjid ini sudah beroperasi, Rasulullah SAW seringkali melakukan dakwah dengan berdiri menghadap ke arah jamaah. Beliau berdiri di bagian masjid paling depan dengan bersandar pada satu batang pohon kurma, di bagian kanan yang sekarang kita kenal sebagai mihrab nabi.

    Ketika jumlah jemaah semakin bertambah banyak, orang-orang berdesakan memenuhi masjid. Mereka yang duduk di barisan belakang atau paling jauh dari Rasulullah SAW tidak bisa melihat wajah beliau.

    Para sahabat saat itu juga kasihan melihat Rasulullah SAW yang kelelahan jika berdiri terlalu lama saat berdakwah. Sebagian sahabat ada yang mengusulkan untuk membuat mimbar khusus bagi Rasulullah.

    Di atas mimbar itu, Rasulullah akan dapat sesekali duduk beristirahat atau bahkan menyampaikan khutbahnya sambil duduk. Di samping itu pula, para sahabat yang berada di posisi paling belakang tetap bisa menyaksikan wajah Rasulullah SAW. Nabi Muhammad SAW kemudian menyetujuinya.

    Pada suatu hari Jumat ketika mimbar yang dibuat khusus untuk Rasulullah selesai, Beliau keluar dari pintu kamarnya. Beliau berjalan menuju mimbar dengan melewati sebuah pohon kurma itu.

    Ketika Rasulullah SAW menaiki mimbar untuk berkhutbah, seketika para sahabat yang hadir di masjid itu mendengar bunyi rintihan memelas seperti menangis. Bahkan, debu-debu dari tembok masjid itu berguguran.

    Suara tangisan itu terdengar semakin lama semakin kencang. Para sahabat yang mencari sumber suara tangisan itu merasa semakin kebingungan.

    Rasulullah SAW kemudian turun dari mimbar dan mendekati pohon kurma yang sering beliau gunakan sebagai sandaran. Beliau meletakkan tangannya yang mulia pada batang pohon kurma itu kemudian mengusap dan memeluknya.

    Atas izin Allah SWT, perlahan-perlahan suara tangisan tersedu sedu itu perlahan mereda. Belum terjawab rasa penasaran dalam diri para sahabat yang hadir, Rasulullah SAW pun mengajak berbicara kepada pohon kurma itu.

    Rasulullah berkata, “Maukah kamu aku pindahkan ke kebun kamu semula, berbuah dan memberikan makanan kepada kaum mukminin atau aku pindahkan kamu ke surga, setiap akar kamu menjadi minuman dari minuman-minuman di surga, lalu para penghuni surga menikmati buah kurmamu.”

    Pohon kurma tanpa keraguan memilih pilihan yang kedua. Kemudian Rasulullah SAW bersabda, “Af’al insya Allah! Demi Allah, yang jiwaku berada di dalam genggaman-Nya, jika tidak aku tenangkan dia, niscaya dia akan terus merintih hingga hari kiamat karena kerinduannya kepadaku.”

    Dalam redaksi lain, mengutip Syaikh Abu Bakar Jabir Al Jazairi dalam Hadza al Habib Muhammad Rasulullah Ya Muhibb, diceritakan bahwa Rasulullah SAW pernah terlihat berbicara dengan sebatang pohon kurma. Kemudian, wanita dari Anshar berkata kepada beliau,

    “Wahai Rasulullah, aku memiliki anak seorang tukang kayu. Bolehkah aku menyuruhnya membuatkan mimbar untuk engkau dari pohon itu untuk berkhutbah?”

    Rasulullah menjawab, “Ya, boleh.” Maka si tukang kayu membuatkan beliau mimbar dari pohon kurma tersebut.

    Pada suatu Jumat, Rasulullah SAW sudah mulai berkhutbah di atas mimbar, bukan lagi di atas potongan pohon kurma seperti pada masa awal pendirian masjid. Tiba-tiba batang kurma yang dijadikan mimbar itu menangis seperti tangis seorang bayi.

    Rasulullah SAW berkata, “Batang pohon ini menangis karena merasa telah dilupakan.” demikian diterjemahkan Iman Firdaus dalam buku My Beloved Prophet.

    Dalam riwayat Bukhari dikatakan, “Batang kurma tersebut berteriak seperti teriakan seorang bayi. Rasulullah lalu turun dari mimbar itu dan memeluknya, sementara mimbar dari pohon kurma itu terus menangis. Rasulullah berkata, “Pohon kurma ini menangis karena mendengar zikir diucapkan di atasnya.”

    Menurut Syaikh Abu Bakar, pohon kurma tersebut menangis karena mendengar zikir Rasulullah SAW dan sedih karena berpisah dengan Beliau yang selalu berkhutbah di atasnya. Padahal pohon kurma tersebut merupakan benda mati yang tak memiliki roh dan akal.

    Hal ini, kata Syaikh Abu Bakar, menjadi tanda dan bukti yang menunjukkan kenabian Muhammad SAW dan kebenaran risalahnya. Dan hal ini juga merupakan mukjizat besar yang hanya dimiliki oleh Rasulullah SAW.

    Ibnu Hajar dalam pendapat yang dikutip Imam An Nawawi melalui Syarah Riyadush Shalihin Jilid 3 menambahkan, hadits tentang kisah pohon kurma yang menangis tersebut menjadi bukti bahwa Allah SWT terkadang memberi nalar pada benda mati bak seekor hewan bahkan seperti seekor hewan yang mulia. Wallahu’alam.

    (rah/rah)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Zuhudnya Abu Bakar Ash-Shiddiq, Serahkan Seluruh Hartanya untuk Amal



    Jakarta

    Abu Bakar Ash-Shiddiq bukan hanya dikenal sebagai sahabat Rasulullah SAW yang setia, bijaksana dan tegas. Ia juga sosok zahid, seorang yang meninggalkan kesenangan dunia untuk tujuan akhirat.

    Tidak banyak orang yang bisa tegas mengambil sikap zuhud karena gemerlap dunia tak jarang menjadi godaan.

    Dalam buku Tasawuf untuk Kita Semua karya M. Fethullah Gulen dijelaskan zuhud adalah meninggalkan kenikmatan dunia dan melawan kecenderungan jasmani. Di kalangan kebanyakan sufi, zuhud dikenal sebagai menjauhi kenikmatan dunia, menghabiskan umur dengan menjalani kehidupan yang sederhana sambil menjadikan takwa sebagai dasar dari kehidupan.


    Dalam artian lain, zuhud adalah meninggalkan ketenangan dunia yang fana, demi meraih kebahagiaan akhirat yang kekal. Seorang yang melakoni hidup dengan zuhud disebut sebagai “az-zâhid” (pelaku zuhud).

    Abu Bakar Ash-Shiddiq adalah seorang sahabat Rasulullah SAW yang dikenal sebagai zahid.

    Merangkum buku Kisah Hidup Abu Bakar Ash-Shiddiq yang ditulis oleh Mustafa Murrad dijelaskan bahwa Abu Bakar telah menalak dunia dengan talak tiga, talak yang tidak ada rujuk padanya.

    Sebagai bukti zuhudnya, Abu Bakar tidak meninggalkan harta pusaka bahkan satu dirham atau satu dinar pun. Sebelum wafat ia telah menyerahkan seluruh hartanya ke Baitul Mal.

    Suatu hari Salman al-Farisi RA menemui Abu Bakar RA, ia menceritakan keadaan dirinya, lalu berkata, “Wahai Khalifah Rasulullah, nasihatilah aku.”

    Abu Bakar RA berkata, “Sesungguhnya Allah telah membukakan pintu dunia bagimu. Jangan mengambil darinya kecuali seperlunya. Ketahuilah, orang yang salat Subuh namun hatinya mencela Allah maka Allah akan menenggelamkannya dalam celaannya itu dan kelak akan menjebloskannya ke dalam siksa neraka.”

    Sebuah riwayat menuturkan betapa Abu Bakar selalu zuhud dari dunia, bahkan ketika para sahabat lain berlarian menyambut dunia. Ia tetap bertahan mendengarkan khutbah Jumat yang disampaikan oleh Nabi SAW dan sama sekali tidak memperhatikan rombongan pedagang yang datang pada saat itu ke Madinah. Sementara itu, sebagian sahabat serabutan berlari menyambut kedatangan rombongan pedagang itu.

    Jabir ibn Abdullah RA mengisahkan bahwa ketika Nabi SAW berkhutbah pada hari Jumat, datang sekelompok pedagang ke Madinah. Para sahabat berlarian menyambut rombongan itu sehingga yang tersisa di hadapan Nabi hanya dua belas orang.

    Pada saat itu turunlah ayat Al-Qur’an surah Al-Jumu’ah ayat 11,

    وَإِذَا رَأَوْا۟ تِجَٰرَةً أَوْ لَهْوًا ٱنفَضُّوٓا۟ إِلَيْهَا وَتَرَكُوكَ قَآئِمًا ۚ قُلْ مَا عِندَ ٱللَّهِ خَيْرٌ مِّنَ ٱللَّهْوِ وَمِنَ ٱلتِّجَٰرَةِ ۚ وَٱللَّهُ خَيْرُ ٱلرَّٰزِقِينَ

    Artinya: Dan apabila mereka melihat perniagaan atau permainan, mereka bubar untuk menuju kepadanya dan mereka tinggalkan kamu sedang berdiri (berkhotbah). Katakanlah: “Apa yang di sisi Allah lebih baik daripada permainan dan perniagaan”, dan Allah Sebaik-baik Pemberi rezeki

    Abu Bakar RA dan Umar ibn Khattab RA termasuk di antara dua belas orang yang bertahan mendengarkan khutbah Nabi SAW.

    Dan diriwayatkan bahwa suatu ketika Abu Bakar RA berkhutbah di hadapan orang-orang. Setelah memuji Allah, ia berkata, “Sungguh pintu-pintu dunia akan dibukakan untuk kalian sehingga kalian akan mendatangi berbagai pelosok bumi dan menikmati roti serta zaitun. Kalian akan membangun masjid-masjid di sana. Maka berhati-hatilah. Ingatlah, Allah mengetahui (langkah) kalian. Kalian tidak mendatanginya untuk main-main, tetapi semua itu dibangun untuk mengingat (Allah).”

    Demi Allah, benarlah Muawiyah RA ketika ia berkata, “Sesungguhnya dunia tidak pernah menginginkan Abu Bakar dan ia tidak pernah menginginkannya. Dunia menginginkan Umar namun ia tidak menginginkannya.”

    Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda, “Tidak seorang pun di sisiku yang mempunyai ‘buah tangan’ (oleh-oleh), kecuali aku telah membalasnya, selain Abu Bakar. Sesungguhnya Abu Bakar di sisiku mempunyai buah tangan yang Allah sendiri akan membalasnya kelak pada Hari Kiamat. Tidak ada harta seorang pun yang memberi manfaat kepadaku sebagaimana manfaat harta Abu Bakar. Seandainya aku boleh mengambil kekasih dari manusia, niscaya aku akan menjadikan Abu Bakar sebagai kekasih. Ketahuilah, sesungguhnya sandara kalian ini adalah kekasih Allah.” (HR At Tirmidzi)

    (dvs/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Hukum Sholat Jumat Bagi Perempuan, Bolehkah?



    Jakarta

    Hari Jumat merupakan hari yang penuh berkah bagi umat muslim. Pada hari ini, ada satu ibadah wajib yang harus dilaksanakan oleh laki-laki, yaitu sholat Jumat.

    Kewajiban ini tercantum dalam Al Quran dan juga dijelaskan dalam beberapa hadits. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an surat Al Jumu’ah ayat 9 sebagai berikut:

    يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِذَا نُودِىَ لِلصَّلَوٰةِ مِن يَوْمِ ٱلْجُمُعَةِ فَٱسْعَوْا۟ إِلَىٰ ذِكْرِ ٱللَّهِ وَذَرُوا۟ ٱلْبَيْعَ ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ


    Artinya: “Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan sholat Jumat, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli.”

    Adapun dalam buku Fiqih Praktis I yang ditulis oleh Muhammad Bagir disebutkan bahwa syarat melaksanakan sholat Jumat adalah setiap laki-laki muslim yang sudah baligh, berakal (tidak gila), mukim di kotanya, mampu (atau kuasa) pergi ke tempat diselenggarakan sholat Jumat, dan tidak mempunyai alasan (udzur) tertentu yang membolehkannya meninggalkan sholat tersebut.

    Lantas, bagaimana hukumnya jika sholat Jumat dilaksanakan oleh perempuan?

    Bolehkan Perempuan Ikut Sholat Jumat?

    Islam adalah agama yang penuh kasih sayang, Allah pun menjamin bahwa setiap kewajiban beribadah pasti diikuti oleh kemudahannya. Oleh karenanya, Islam tidak membebani umatnya untuk melakukan ibadah kecuali bagi yang mampu. Dalam hal ini, Islam memiliki kriteria yang mewajibkan seseorang untuk melaksanakan sholat Jumat.

    Dari Thariq bin Syihab, Rasulullah SAW bersabda: “Sholat Jumat itu dilaksanakan secara jamaah dan wajib hukumnya bagi seorang muslim selain hamba sahaya, perempuan, anak-anak, atau orang yang sakit,” (HR Abu Dawud).

    Kriteria utamanya adalah laki-laki. Namun, tidak berarti kaum perempuan tidak diperkenankan untuk melaksanakan sholat Jumat. Hanya saja, kaum perempuan lebih dianjurkan untuk sholat di rumah. Sebagaimana sabda Rasulullah yang dinukil dari buku Superberkah Shalat Jumat yang ditulis oleh Firdaus Wajdi dan Luthfi Arif berikut ini:

    Dari Ibnu ‘Umar RA, Rasulullah SAW bersabda: “Janganlah kalian mencegah para perempuan (yang berada dalam tanggung jawab) kalian untuk pergi ke masjid, tapi (sholat) di rumah-rumah mereka itu lebih baik lagi bagi mereka,” (HR Abu Dawud).

    Salah satu alasan mengapa perempuan lebih diutamakan sholat di rumah adalah karena sholat Jumat dilaksanakan secara berjamaah sehingga dikhawatirkan akan terjadi fitnah apabila antara laki-laki dan perempuan yang berjumlah banyak berkumpul dalam satu tempat.

    Namun, apabila hal tersebut diantisipasi seperti misalnya terdapat fasilitas khusus untuk perempuan yang ingin melaksanakan sholat Jumat, maka hal tersebut juga diperbolehkan dan sifatnya tidak wajib (maka terhitung sunnah).

    Sementara itu, perempuan yang sholat Jumat berjamaah bersama imam hukumnya sah dan tidak wajib sholat Dzuhur. Akan tetapi, bila ia tidak ingin sholat berjamaah, misalnya ingin sholat di rumah saja, maka perempuan tersebut harus melaksanakan sholat Dzuhur, bukan sholat Jumat. Hal ini dikarenakan sholat Dzuhur adalah sholat fardhu yang wajib dilaksanakan dan lebih utama bagi perempuan.

    Adapun bagi perempuan yang melaksanakan sholat Jumat berjamaah dengan sesama perempuan maka hukumnya tidak sah karena pada dasarnya pelaksanaan sholat Jumat bagi perempuan harus mengikuti tata cara pelaksanaan sholat Jumat bagi laki-laki. Sebab, pelaksanaan syiar agama melalui khutbah Jumat hanya dapat dilakukan oleh laki-laki.

    Perempuan Sholat Jumat di Masa Rasulullah

    Merangkum Buku Saku Dirasat Islamiyah yang disusun oleh KH Mahir M Soleh, dkk., Abu Malik Kamal bin as Sayyid Salim memberikan penjelasan jika para ulama sudah bersepakat jika perempuan muslim bisa mengikuti sholat Jumat di masjid sebagaimana yang dilakukan perempuan pada zaman Rasulullah.

    Hal ini dibuktikan dari penjelasan Ummu Hisyam binti Al Harits RA, beliau mengatakan, “Tidaklah aku hafal surat Qaf kecuali dari lisan Rasulullah SAW, beliau berkhutbah dengannya (membacanya) pada setiap hari Jumat.”

    Adapun perempuan yang diperbolehkan menghadiri sholat Jumat juga harus memenuhi kriteria tertentu, yakni tidak menimbulkan fitnah. Dalam kitab “Al-Majmu”, Imam an-Nawawi mengutip pendapat Syekh Al-Bandaniji yang memberi pernyataan jika disunnahkan bagi perempuan yang sudah tua untuk mengikuti sholat Jumat. Begitu pula perempuan yang telah diberi izin oleh suami.

    Sedangkan bagi perempuan yang masih muda dimakruhkan untuk mengikuti sholat Jumat bersama pria. Hal ini disebabkan karena pada umumnya perempuan yang masih muda dan cenderung gemar bersolek seringkali menimbulkan fitnah.

    Demikian penjelasan dari hukum sholat Jumat bagi perempuan. Semoga bermanfaat dan dapat memberikan pencerahan ya, Detikers!

    (dvs/dvs)



    Sumber : www.detik.com