Tag: ka

  • 4 Bagian Ka’bah yang Terbuat dari Emas, Ini Letak dan Fungsinya


    Jakarta

    Ka’bah yang menjadi kiblat umat Islam di seluruh dunia menyimpan sejarah arsitektur dan kemegahan luar biasa. Seiring waktu, Ka’bah telah mengalami beberapa renovasi dan penyempurnaan, termasuk penambahan elemen-elemen berharga. Salah satu yang menarik perhatian adalah adanya bagian-bagian Ka’bah yang terbuat dari emas.

    Penggunaan emas pada Ka’bah bukanlah untuk kemewahan semata, melainkan sebagai bentuk penghormatan dan kemuliaan terhadap Baitullah.


    Dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 125, Allah SWT berfirman,

    وَإِذْ جَعَلْنَا ٱلْبَيْتَ مَثَابَةً لِّلنَّاسِ وَأَمْنًا وَٱتَّخِذُوا۟ مِن مَّقَامِ إِبْرَٰهِۦمَ مُصَلًّى ۖ وَعَهِدْنَآ إِلَىٰٓ إِبْرَٰهِۦمَ وَإِسْمَٰعِيلَ أَن طَهِّرَا بَيْتِىَ لِلطَّآئِفِينَ وَٱلْعَٰكِفِينَ وَٱلرُّكَّعِ ٱلسُّجُودِ

    Artinya: Dan (ingatlah), ketika Kami menjadikan rumah itu (Baitullah) tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman. Dan jadikanlah sebahagian maqam Ibrahim tempat shalat. Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail: “Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang thawaf, yang i’tikaf, yang ruku’ dan yang sujud”.

    Bagian Ka’bah yang Terbuat dari Emas

    1. Pintu Ka’bah

    Dikutip dari buku Ka’bah Rahasia Kiblat Dunia karya Muhammad Abdul Hamid Asy-Syarqawi, pintu Ka’bah menjadi salah satu elemen yang paling mencolok karena dilapisi dengan emas murni.

    Awalnya, saat dibangun oleh Nabi Ibrahim AS, Ka’bah memiliki dua pintu: satu di sisi timur dan satu di sisi barat. Kedua pintu ini menyentuh tanah. Fungsi pintu timur sebagai jalur masuk dan pintu barat sebagai jalur keluar.

    Namun, pada masa Quraisy, sebelum kenabian Rasulullah SAW, pintu barat ditutup dalam proses renovasi. Hingga kini, yang tersisa hanyalah satu pintu di sisi timur.

    Pada masa Raja Khalid bin Abdul Aziz, pintu Ka’bah dipercantik dan dilapisi emas murni dalam proyek renovasi besar yang selesai pada tahun 1979. Lapisan emas ini memiliki berat sekitar 280 kilogram. Selain itu, kaligrafi dan ornamen-ornamen yang menghiasi pintu Ka’bah juga terbuat dari emas murni, menambah nilai estetika dan kehormatan pintu tersebut.

    2. Mizab Ar-Rahman

    Mizab ar-Rahman adalah talang air yang menempel di bagian atas Ka’bah, tepatnya di sisi utara, yang mengarah ke Hijir Ismail. Talang ini berfungsi untuk mengalirkan air hujan dari atap Ka’bah.

    Tempat di bawah talang air ini dikenal sebagai salah satu tempat mustajab untuk berdoa.

    Dalam buku Sejarah Ka’bah: Kisah Rumah Suci yang Tak Lapuk Dimakan Zaman, Prof. Dr.Ali Husni al-Kharbuthli menjelaskan ukuran Mizab ini mencapai 2,53 meter panjangnya, dengan 58 cm tertanam ke dinding Ka’bah.

    Bagian talang yang menonjol ke luar sepanjang 1,95 meter, dengan tinggi 23 cm dan lebar 26 cm. Talang ini dibuat dari kayu jati yang kuat, lalu seluruh permukaannya dilapisi emas 99,9 persen. Ornamen-ornamen di bagian atasnya juga menggunakan emas murni, menjadikannya sebagai perpaduan antara fungsionalitas dan kemuliaan.

    3. Kiswah Ka’bah

    Kiswah adalah kain hitam megah yang menutupi seluruh permukaan Ka’bah. Dibuat dari sutra berkualitas tinggi, kiswah menjadi simbol keagungan dan kemuliaan rumah Allah SWT. Setiap tahunnya, kiswah diganti dalam sebuah prosesi khusus di Makkah.

    H. Brilly El-Rasheed dalam bukunya yang berjudul Al-Bait: Misteri Sejarah Ka’bah dan Hilangnya Di Akhir Zaman menjelaskan ukuran keseluruhan kiswah adalah 14 meter tinggi dan 47 meter panjang, dengan berat mencapai 650 kilogram. Yang menjadikan kiswah istimewa adalah hiasan kaligrafi ayat-ayat Al-Qur’an yang disulam dengan benang emas dan perak secara manual oleh para pengrajin terlatih.

    Dibutuhkan sekitar 120 kilogram benang emas dan 100 kilogram benang perak untuk menyelesaikan seluruh kaligrafi pada kiswah. Karena kemewahan dan proses pembuatannya yang detail, kiswah Ka’bah sering disebut dengan nama Al-Barqa, yang berarti “kilauan”.

    4. Kunci Ka’bah

    Kunci Ka’bah juga merupakan bagian penting dari bangunan suci ini yang mengandung unsur emas. Kunci tersebut digunakan untuk membuka pintu Ka’bah, yang hanya dibuka dua kali dalam setahun, yaitu pada bulan Syaban dan Muharram, untuk proses pembersihan bagian dalam Ka’bah.

    Kunci ini memiliki panjang 35 cm, dibuat dari logam nikel, dan dilapisi emas 18 karat. Saat ini, kunci Ka’bah dipegang dan dijaga oleh keluarga Al-Syaibi, yang telah memegang amanah tersebut sejak zaman Nabi Muhammad SAW. Tokoh yang memegang kunci Ka’bah saat ini adalah Syeikh Saleh bin Zain Al-Abidin Al-Syaibi.

    Penggunaan emas pada bagian-bagian tertentu dari Ka’bah bukanlah untuk menunjukkan kemewahan duniawi, tetapi sebagai simbol kemuliaan dan penghormatan terhadap tempat paling suci dalam Islam. Ka’bah bukan sekadar bangunan fisik, melainkan pusat ibadah dan simbol tauhid yang menjadi tujuan sholat umat Islam di seluruh dunia.

    (dvs/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Menag Ajak Muslim Sakralkan Masjid, Jangan Tumpahkan Kekecewaan di Tempat Maksiat



    Jakarta

    Menteri Agama Nasaruddin Umar mengingatkan pentingnya peran masjid sebagai pusat spiritual bagi umat Islam. Ia menekankan, hati manusia akan gersang tanpa adanya tempat-tempat suci, termasuk masjid.

    Hal itu disampaikan Nasaruddin saat menghadiri acara Zikir Kebangsaan dan Ikrar Bela Negara yang digelar Jatma Aswaja di Masjid Istiqlal, Jakarta, Minggu (10/08/2025) malam.


    Dalam sambutannya, Nasaruddin mengibaratkan masjid sebagai ‘rumah Allah’ yang memiliki keistimewaan luar biasa. Ia bahkan membandingkan keutamaannya dengan Ka’bah.

    “Kita membutuhkan Ka’bah karena di situ adalah pusat yang sangat sakral. 100 ribu kali lebih utama kalau kita salat di hadapannya,” ujar Nasaruddin.

    “27 kali lebih banyak pahalanya kalau kita salat berjamaah di masjid daripada sendirian di rumah,” lanjutnya.

    Menurut Nasaruddin, sakralnya sebuah tempat ibadah tidak hanya berlaku bagi umat Islam, tetapi juga bagi semua agama. Oleh karena itu, ia mengajak umat Islam untuk mensakralkan masjid sebagai pusat ibadah dan penyelesaian masalah.

    “Mari kita mensakralkan masjid ini. Tahiyat masjid sebelum duduk itu satu bukti kita akan mensakralkan masjid ini,” jelasnya.

    Nasaruddin juga mengajak umat Islam untuk menjadikan masjid sebagai tempat menumpahkan segala kekecewaan dan masalah hidup. Ia mengingatkan, mencari jalan keluar di tempat maksiat justru hanya akan menambah penderitaan.

    “Jangan menumpahkan di tempat-tempat maksiat, itu akan semakin menyiksa dirinya sendiri. Mari kita luapkan di dalam masjid, di rumah Allah SWT. ini,” pesannya.

    “Jangan menyelesaikan sendiri persoalan kita. Mari kita hadapkan diri kita di hadapan Allah, terutama di masjid,” imbuhnya.

    Di akhir sambutannya, Nasaruddin menegaskan bahwa masjid adalah tempat yang “tembus langit,” di mana setiap doa yang dipanjatkan memiliki peluang besar untuk dikabulkan. Ia meyakini, setelah beribadah dan berdoa di masjid, umat akan merasa lega dan beban hidupnya diringankan.

    “Insyaallah apapun yang kita akan mohon kepada Allah, itu akan dikabulkan,” pungkasnya.

    Seperti diketahui, acara zikir kebangsaan ini dihadiri oleh 50 ribu jamaah dari berbagai kota di Nusantara. Sekretaris Jenderal Jatma Aswaja, KH. Helmy Faishal Zaini, menyebut momentum ini bukan sekadar perayaan, melainkan penguatan komitmen nasionalisme yang berakar pada nilai-nilai
    agama.

    “Tak bisa dipisahkan antara nasionalisme dan agama. Cinta Tanah Air itu bagian dari perintah agama. Di Masjid bersejarah ini, simbol toleransi, kita menyaksikan sejarah baru: ikrar bela negara yang diikuti lintas agama,” ujar Helmy.

    (hnh/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Kapan Batas Waktu Membaca Surah Al Kahfi pada Hari Jumat?


    Jakarta

    Membaca surah Al Kahfi pada hari Jumat dinilai memiliki keutamaan yang luar biasa. Anjuran ini bahkan disebutkan dalam hadits Rasulullah SAW.

    Beliau bersabda,

    “Barang siapa yang membaca surah Al Kahfi pada hari Jumat, dia akan disinari cahaya di antara dua Jumat.” (HR Hakim)


    Sebagaimana diketahui, Al Kahfi merupakan surah Makkiyah yang terdiri dari 110 ayat. Dalam Al-Qur’an, surah Al Kahfi berada di urutan mushaf ke-18.

    Lantas, kapan batas waktu membaca surah Al Kahfi pada hari Jumat?

    Batas Waktu Membaca Surah Al Kahfi pada Jumat

    Mengutip buku Aktivasi Mukjizat Hari Jumat yang ditulis Rizem Aizid, surah Al Kahfi dapat dibaca sejak malam Jumat. Tepatnya pada hari Kamis setelah terbenamnya matahari atau ba’da Maghrib hingga Jumat setelah Ashar.

    Anjuran membaca pada malam Jumat disebutkan dalam hadits dari Abu Said al Khudri RA. Nabi SAW bersabda,

    “Barang siapa yang membaca surah Al Kahfi pada malam Jumat, dia akan disinari cahaya antara dirinya dan Ka’bah.” (HR Ad Darimi)

    Selain itu, hadits anjuran membaca surah Al Kahfi pada hari Jumat merujuk pada riwayat yang berasal dari Hakim. Berdasarkan kedua hadits itu, surah Al Kahfi dapat dibaca selama 24 jam pada hari Jumat sebagaimana diterangkan dalam buku Kita Terkadang Lupa oleh Munifah Ahmad Bagis.

    Selain itu, Al Munawi dalam keterangan Al Hafidz Ibnu Hajar pada kitab Al-‘Amali mengatakan sebagai berikut,

    “Anjuran membaca surah Al Kahfi ada di beberapa riwayat, ada yang menyatakan hari Jumat, dalam riwayat lain malam Jumat. Bisa kita kompromikan bahwa waktu yang dimaksud adalah siang dan malam Jumat.”

    Kemudian, dianjurkan pula membaca surah Al Kahfi pada hari Jumat atau di malam harinya. Hal ini, menurut Al Munawi, ditegaskan oleh Asy-Syafi’i.

    Manfaat Mengamalkan Surah Al Kahfi ketika Jumat

    Berikut sejumlah manfaat yang dapat diraih muslim dari mengamalkan surah Al Kahfi seperti dikutip dari buku Misteri Ashabul Kahfi: Menguak Kebenaran 7 Sosok Pemuda yang Tertidur Selama 309 Tahun yang ditulis Yanuar Arifin.

    1. Menenangkan hati dan membuat jiwa tenteram
    2. Terlindung dari fitnah Dajjal pada akhir zaman
    3. Diterangi di antara dua Jumat

    Wallahu a’lam.

    (aeb/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Tak Hanya Panas, Ini Azab Neraka yang Sangat Dingin dan Menyiksa



    Jakarta

    Biasanya, neraka digambarkan sebagai tempat yang sangat panas. Namun, ada juga neraka dengan suhu sangat dingin. Maksud dari dingin di sini bukan berarti sejuk, melainkan dingin yang menyiksa.

    Menukil dari kitab Al Umm oleh Imam Syafi’i yang ditahqiq dan takhrij Dr Rif’at Fauzi Abdul Muththalib terbitan Pustaka Azzam, terkait neraka dengan suhu dingin disebutkan dalam sebuah hadits dari Abu Hurairah RA.


    Rasulullah SAW bersabda,

    “Jika panas menyengat, maka tangguhkanlah salat hingga cuaca agak dingin, sebab sengatan panas berasal dari tiupan neraka Jahannam. Neraka mengadu kepada Tuhannya untuk berkata, “Wahai Tuhanku, sebagian dariku memakan sebagian yang lain.” Lalu Dia (Allah) mengizinkannya untuk bernafas dua kali setiap tahun, yaitu satu nafas di musim dingin dan satu nafas lagi di musim panas.

    Jadi, panas paling menyengat yang kalian rasakan adalah berasal dari panasnya neraka Jahannam, dan dingin paling menyengat yang kalian rasakan adalah berasal dari zamharir (dingin yang berlebihan)nya.” (HR Bukhari)

    Selain itu diterangkan dalam Latha ‘If Al Ma’arif Fi Ma Li Mawasim Al-‘Am Min Al-Wazha ‘If susunan Al Imam Al Hanbali terjemahan Mastur Ihram dan Abidun Zuhri, dinginnya neraka Zamharir membuat tulang seseorang remuk hingga terdengar suara hancurnya.

    Dari Mujahid berkata, “Mereka lari ke Zamharir. Namun ketika mereka telah tiba di sana, tulang-tulang remuk hingga terdengar suara gemeretaknya.”

    Lalu, dari Ka’ab juga menyebut hawa dari neraka Zamharir merontokkan tulang. Dia berkata,

    “Sesungguhnya di neraka Jahannam ada hawa dingin, yaitu zamharir. Hawa dingin ini bisa merontokkan tulang sehingga mereka meminta tolong dengan panasnya neraka Jahannam.”

    Ada juga riwayat dari Abdul Malik yang berasal dari Umair bahwa saking dinginnya neraka Zamharir, para penghuni neraka bisa terbunuh dengan hawa dingin yang dirasakan dari sana.

    “Saya mendengar kabar bahwa penghuni neraka meminta kepada penjaganya untuk membawa mereka keluar ke sisi-sisi neraka, lalu mereka pun dibawa keluar. Namun mereka terbunuh oleh dingin dan zamharir hingga mereka kembali ke neraka dan memasukinya dari hawa dingin yang mereka rasakan.”

    Naudzubillah min zaalik.

    (aeb/inf)



    Sumber : www.detik.com

  • Sejarah Kelahiran Nabi Muhammad SAW pada Bulan Rabiul Awal


    Jakarta

    Nabi Muhammad SAW lahir pada Rabiul Awal, bulan ke-3 dalam kalender Hijriah. Sejarah kelahiran Nabi Muhammad SAW diceritakan dalam sejumlah tarikh dan sirah nabawiyah.

    Kelahiran Nabi Muhammad SAW terjadi setelah peristiwa pasukan bergajah yang dipimpin Raja Abrahah berupaya menghancurkan Ka’bah. Oleh karena itu, tahun kelahiran Nabi SAW disebut Tahun Gajah.


    Nabi Muhammad SAW adalah putra Abdullah bin Abdul Muthalib dan Aminah binti Wahb. Menurut Ibnu Hazm al-Andalusi dalam Jawami As-Sirah An-Nabawiyah yang diterjemahkan Indi Aunullah, nasab shahih Nabi Muhammad SAW berakhir pada Adnan. Adnan adalah keturunan Nabi Ismail AS.

    Nama Rasulullah SAW adalah Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib (namanya Syaibah al-Hamd) bin Hasyim (namanya Amr) bin Abdu Manaf (namanya al-Mughirah) bin Qushay (namanya Zaid) bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Lu’ay bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin an-Nadhr bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar bin Nizar bin Ma’ad bin Adnan.

    Sejarah Kelahiran Nabi Muhammad SAW

    Menurut Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad SAW yang ditulis Moenawar Chalil, sekitar dua atau tiga bulan setelah pernikahan Abdullah dan Aminah, Abdullah pergi ke Syam untuk berdagang. Aminah saat itu sudah mengandung.

    Dalam perjalanan pulang dari Syam, Abdullah jatuh sakit. Dia terpaksa tinggal di Yatsrib (Madinah) di rumah seorang Quraisy dari bani Ady, sementara rombongan sudah kembali ke Makkah.

    Abdul Muthalib kemudian minta anak tertuanya, Harits, untuk menjenguk adiknya di Yatsrib. Setibanya di sana, Abdullah sudah meninggal dunia dan dimakamkan di sana beberapa hari lalu.

    Ketika itu, usia Nabi Muhammad SAW sekitar tiga bulan dalam kandungan sang ibu. Setelah genap sembilan bulan, tepat pada waktu subuh, Nabi Muhammad SAW lahir dengan selamat di rumah ibunya, di kampung bani Hasyim di Makkah. Riwayat lain menyebut Nabi SAW lahir di rumah Abu Thalib.

    Para ulama berbeda pendapat terkait tanggal kelahiran Nabi Muhammad SAW. Beberapa sejarawan menyebut Nabi SAW lahir pada tanggal 2, 8, 10, 12, 17, dan 18 Rabiul Awal. Namun, pendapat populer menyebut Nabi Muhammad SAW lahir pada Senin, 12 Rabiul Awal.

    Aminah kemudian mengutus seseorang untuk memberi tahu Abdul Muthalib akan kelahiran cucunya. Abdul Muthalib yang kala itu sedang tawaf di Ka’bah gembira mendengar kelahiran Nabi Muhammad SAW dan bergegas ke rumah Aminah.

    Ada riwayat yang menyebut Abdul Muthalib langsung memeluk dan menggendong Nabi Muhammad SAW untuk dibawa ke Ka’bah. Abdul Muthalib kemudian masuk Ka’bah, berdiri, dan berdoa menyampaikan syukurnya kepada Allah SWT. Setelah itu, dia keluar dan menyerahkan Nabi Muhammad SAW ke Aminah.

    Sesuai adat masyarakat Arab khususnya di Makkah, bayi yang baru lahir akan disusukan kepada orang lain. Biasanya ibu susu ini tinggal di dusun orang Badwi, jauh dari kota. Nabi Muhammad SAW pun disusukan kepada perempuan bernama Tsuwaibah selama beberapa hari. Kemudian disusukan dan diasuh oleh Halimah binti Abu Zuaib, yang juga dikenal sebagai Halimah as-Sa’diyah.

    (kri/inf)



    Sumber : www.detik.com

  • 3 Peristiwa Penting di Bulan Rabiul Awal dalam Sejarah Islam


    Jakarta

    Rabiul Awal merupakan bulan ketiga dalam kalender Hijriah yang memiliki kedudukan istimewa bagi umat Islam. Banyak peristiwa penting dalam sejarah Islam terjadi pada bulan ini, terutama yang berkaitan dengan Nabi Muhammad SAW.

    Tidak mengherankan bila umat Islam di seluruh dunia menaruh perhatian khusus pada Rabiul Awal, karena di dalamnya terdapat peristiwa kelahiran, hijrah, hingga wafatnya Rasulullah SAW.

    Mengutip buku Mengenal Nama Bulan dalam Kalender Hijriyah karya Ida Fitri Shohibah, Rabiul Awal berawal dari kata Rabi’ yang artinya musim bunga dan kata Awal yang artinya pertama. Bulan Rabiul Awal adalah bulan saat bermulanya musim bunga bagi tanaman.


    Peristiwa Penting di Bulan Rabiul Awal

    1. Kelahiran Nabi Muhammad SAW

    Dikutip dari buku Sejarah Lengkap Rasulullah Jilid 1 yang ditulis Prof. Dr. Ali Muhammad Ash-Shallabi, peristiwa paling agung yang terjadi di bulan Rabiul Awal adalah kelahiran Nabi Muhammad SAW.

    Beliau lahir pada tanggal 12 Rabiul Awal tahun Gajah (570 Masehi) di Kota Makkah. Tahun tersebut dikenal sebagai ‘Amul Fil (Tahun Gajah) karena bertepatan dengan peristiwa penyerangan Ka’bah oleh pasukan bergajah pimpinan Abrahah.

    Kelahiran Nabi Muhammad SAW menjadi anugerah besar bagi seluruh alam, sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an:

    وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ

    Artinya: “Dan tidaklah Kami mengutus engkau (Muhammad) melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.” (QS. Al-Anbiya: 107)

    2. Hijrah Nabi Muhammad SAW ke Madinah

    Rabiul Awal menjadi saksi perjalanan hijrah Rasulullah SAW dari Makkah ke Madinah. Setelah mendapat tekanan berat di Makkah, Rasulullah hijrah bersama para sahabat menuju Madinah. Peristiwa ini menjadi titik balik dalam sejarah Islam, sebab di Madinah Islam berkembang pesat, berdiri masyarakat muslim yang kuat, dan lahirnya tatanan kehidupan Islami.

    Dalam perjalanan hijrah, Rasulullah sempat bersembunyi di Gua Tsur bersama Abu Bakar Ash-Shiddiq selama tiga hari. Peristiwa ini diabadikan dalam Al-Qur’an:

    إِذْ يَقُولُ لِصَاحِبِهِ لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا

    “Ketika dia (Nabi) berkata kepada sahabatnya: Janganlah engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.” (QS. At-Taubah: 40)

    3. Wafatnya Nabi Muhammad SAW

    Selain kelahiran dan hijrah, bulan Rabiul Awal juga menjadi bulan duka bagi umat Islam. Pada tanggal 12 Rabiul Awal tahun 11 H, Rasulullah SAW wafat di Madinah pada usia 63 tahun.

    Faisal Ismail dalam bukunya yang berjudul Sejarah & Kebudayaan Islam Periode Klasik, kisah wafatnya Rasulullah SAW merupakan ujian besar bagi kaum muslimin. Banyak sahabat yang tidak percaya dan terpukul. Namun, Abu Bakar Ash-Shiddiq meneguhkan hati mereka dengan ucapannya yang masyhur:

    “Barangsiapa yang menyembah Muhammad, maka ketahuilah Muhammad telah wafat. Barangsiapa yang menyembah Allah, maka sesungguhnya Allah Maha Hidup dan tidak akan pernah mati.”

    Peristiwa wafatnya Rasulullah SAW menegaskan bahwa Islam bukan bergantung pada sosok pribadi, melainkan pada ajaran Allah SWT yang abadi.

    (dvs/inf)



    Sumber : www.detik.com

  • Silsilah Nabi Muhammad SAW dari Sisi Ayah dan Ibu


    Jakarta

    Nabi Muhammad SAW adalah manusia paling mulia yang pernah hidup di muka bumi. Kemuliaan beliau bukan hanya karena diangkat sebagai Rasul terakhir, tetapi juga karena berasal dari keturunan yang bersih, terhormat, dan dijaga dari hal-hal tercela.

    Mengutip buku Sejarah Keteladanan Nabi Muhammad SAW: Memahami Kemuliaan Rasulullah Berdasarkan Tafsir Mukjizat Al-Qur’an karya Yoli Hemdi, soal keturunan merupakan hal yang penting bagi bangsa Arab. Bahkan mereka mampu mengingat dengan baik silsilah nenek moyang.


    Dalam hadits dari Abi Ammar bin Syaddad, ia mendengar Watsilah bin Asqa’ mengatakan mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah SWT telah memilih Kianah dari keturunan Nabi Ismail dan memilih Quraisy dari keturunan Kinanah dan memilih bani Hasyim dari keturunan Quraisy dan memilihku dari keturunan bani Hasyim.”

    Silsilah dari Pihak Ayah

    Menurut buku Sejarah Terlengkap Nabi Muhammad SAW: Dari Sebelum Masa Kenabian hingga Sesudahnya karya Abdurrahman bin Abdul Karim, Nabi Muhammad SAW lahir dari keluarga besar bani Hasyim. Klan ini didirikan oleh Hasyim bin Abdi Manaf, buyut Nabi SAW yang dikenal sebagai tokoh terhormat.

    Berikut silsilah dari garis ayah beliau:

    Abdullah bin Abdul Muthalib
    Ayah Nabi adalah Abdullah, seorang pemuda Quraisy yang terkenal karena parasnya yang tampan, akhlak mulia, dan kehormatan. Abdullah wafat di Madinah ketika Nabi SAW masih dalam kandungan, sehingga beliau lahir dalam keadaan yatim.

    Abdul Muthalib bin Hasyim
    Kakek Nabi, Abdul Muthalib, adalah pemimpin Quraisy yang sangat dihormati. Beliau dikenal karena berhasil menggali kembali sumur zamzam yang hilang dan keberaniannya mempertahankan Ka’bah dari serangan pasukan bergajah pimpinan Abrahah (peristiwa Tahun Gajah).

    Hasyim bin Abdi Manaf
    Buyut Nabi, Hasyim bin Abdi Manaf, adalah pendiri bani Hasyim. Ia dikenal dermawan, sering memberi makan orang miskin dan musafir. Hasyim pula yang memulai tradisi perjalanan dagang Quraisy ke Syam dan Yaman. Nama aslinya adalah ‘Amr, namun dijuluki Hasyim karena kebiasaannya menghancurkan roti untuk dibuat tsarid (makanan berkuah).

    Abdi Manaf bin Qushay
    Abdi Manaf adalah ayah dari Hasyim. Ia merupakan tokoh Quraisy yang sangat terpandang, memegang peranan penting dalam urusan Ka’bah, serta dihormati karena kepemimpinannya.

    Qushay bin Kilab
    Qushay adalah tokoh penting dalam sejarah Quraisy. Dialah yang menyatukan kabilah Quraisy di Makkah, mengambil alih pengelolaan Ka’bah, dan mendirikan Darun Nadwah, tempat musyawarah suku Quraisy.

    Jika ditelusuri lebih jauh, nasab Nabi Muhammad SAW dari jalur ayah bersambung hingga kepada Nabi Ismail AS, putra Nabi Ibrahim AS. Rangkaian nasab tersebut antara lain:

    Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib bin Hasyim bin Abdi Manaf bin Qushay bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Luay bin Ghalib bin Ilyas bin Mudhar bin Nizar bin Ma’d bin Adnan hingga Ismail AS bin Ibrahim AS.

    Adnan diyakini sebagai keturunan Nabi Ismail AS, meskipun silsilah antara Adnan dan Ismail tidak terekam secara rinci.

    Silsilah dari Pihak Ibu

    Dikutip dari buku Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad karya Moenawar Khalil, nasab Nabi Muhammad SAW dari pihak ibu juga berasal dari Quraisy, tepatnya bani Zuhrah.

    Aminah binti Wahab, ibunda Nabi Muhammad SAW adalah seorang wanita yang berakhlak tinggi dan kesunyiannya sangat dihormati di kabilahnya. Silsilahnya adalah:

    Aminah binti Wahab bin Abdi Manaf bin Zuhrah bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Luay bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin Nadhar bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar bin Nizar bin Ma’ad bin Adnan.

    Dari jalur ini, terlihat bahwa nasab Nabi SAW dari pihak ibu bertemu dengan pihak ayah pada Kilab bin Murrah. Dari Kilab lahirlah dua keturunan, yakni Qushay (yang menurunkan Abdullah, ayah Nabi) dan Zuhrah (yang menurunkan Aminah, ibu Nabi).

    Berikut beberapa tokoh penting dari jalur ibu Nabi:

    Aminah binti Wahab
    Ibu Nabi Muhammad SAW adalah Aminah, wanita terhormat dari bani Zuhrah. Ia dikenal lembut, santun, dan berakhlak baik. Aminah wafat saat Nabi masih berusia enam tahun, dalam perjalanan pulang dari Madinah ke Makkah, dan dimakamkan di Abwa’.

    Wahab bin Abdi Manaf
    Kakek Nabi dari pihak ibu adalah Wahab bin Abdi Manaf, seorang tokoh terpandang dari bani Zuhrah. Ia memiliki kedudukan terhormat di tengah masyarakat Quraisy.

    Abdi Manaf bin Zuhrah
    Leluhur dari jalur ibu Nabi adalah Abdi Manaf bin Zuhrah, pendiri bani Zuhrah, yang dikenal sebagai sosok terpandang dan dihormati di Makkah.

    Garis keturunan Nabi Muhammad SAW baik dari pihak ayah maupun ibu sama-sama bersambung pada suku Quraisy, suku paling mulia di Makkah. Dari pihak ayah, beliau berasal dari bani Hasyim, klan terhormat yang memegang peranan penting dalam urusan Ka’bah. Dari pihak ibu, beliau berasal dari bani Zuhrah, yang juga termasuk bagian terhormat dari Quraisy.

    (dvs/kri)



    Sumber : www.detik.com