Tag: kacang merah

  • 5 Manfaat Kacang Merah Beserta Efek Sampingnya Jika Tidak Diolah dengan Benar


    Jakarta

    Kacang merah termasuk salah satu kacang-kacangan yang dapat diolah menjadi berbagai makanan. Mulai dari sayur, tumisan, bubur, kue, isian roti, sampai aneka es.

    Terlepas dari olahannya yang beragam, kacang merah ternyata bagus untuk kesehatan. Jenis kacang ini mengandung sejumlah nutrisi yang baik bagi tubuh dan organ-organ penting di dalamnya.

    Penasaran? Cari tahu nutrisi hingga manfaat kacang merah bagi kesehatan pada uraian berikut.


    Kandungan Kacang Merah

    Dilansir Healthline, kacang merah terdiri dari karbohidrat dan serat yang tinggi. Jenis kacang ini juga merupakan sumber protein yang baik. Untuk 100 g kacang merah rebus mengandung nutrisi, meliputi:

    • Energi: 127 kal
    • Air: 67%
    • Karbohidrat: 22,8 g
    • Serat: 6,4 g
    • Protein: 8,7 g
    • Gula: 0,3 g
    • Lemak: 0,5 g

    Kacang merah juga kaya akan berbagai vitamin dan mineral, seperti molibdenum, folat, zat besi, tembaga, mangan, kalium, serta vitamin K.

    Manfaat Kacang Merah

    Dengan sejumlah nutrisi yang dikandungnya, kacang merah memiliki sejumlah manfaat bagi kesehatan tubuh dan organ. Berikut beberapa manfaat kacang merah:

    1. Meningkatkan Kesehatan Usus

    Kacang merah mengandung serat yang tinggi. Selain itu, kacang ini juga menyimpan serat tidak larut yakni alfa-galaktosida dan pati resisten dalam jumlah besar.

    Pati resisten dan alfa-galaktosida mampu berfungsi sebagai prebiotik. Prebiotik bergerak melalui saluran pencernaan untuk mencapai usus besar, di mana prebiotik ini difermentasi oleh bakteri baik.

    Proses fermentasi kemudian menghasilkan butirat, asetat, dan propionat yang bisa meningkatkan kesehatan usus besar.

    2. Bantu Turunkan Berat Badan

    Pati resisten yang dikandung kacang merah dapat berperan dalam manajemen berat badan. Serat dan protein tinggi yang disimpannya juga bisa mengurangi pencernaan karbohidrat, sehingga bantu menurunkan berat badan.

    3. Mengontrol Gula Darah

    Kacang merah kaya akan protein, serat, dan karbohidrat yang dilepaskan secara perlahan. Karena kandungannya tersebut, kacang ini efektif untuk menjaga kadar gula darah yang sehat.

    Kacang merah memiliki skor GI yang rendah. Yang artinya, kenaikan gula darah akan rendah dan lebih bertahap setelah memakan kacang ini. Dengan kadar gula darah yang terkontrol, maka akan menurunkan risiko terkena berbagai penyakit kronis.

    4. Mencegah Kanker Usus Besar

    Kacang-kacangan disebut mengandung sejumlah nutrisi dan serat yang bersifat antikanker.

    Serat yang dimiliki kacang merah seperti pati resisten dan alfa-galaktosida tidak tercerna sampai ke usus besar. Serat tersebut difermentasi oleh bakteri baik yang menghasilkan pembentukan asam lemak rantai (SCFA).

    SCFA seperti butirat dapat meningkatkan kesehatan usus besar sehingga menurunkan risiko kanker usus besar.

    5. Meningkatkan Kesehatan Jantung

    Kacang-kacangan termasuk kacang merah merupakan salah satu sumber protein nabati terkaya. Jika kacang ini dikonsumsi sebagai pengganti daging atau sumber protein lain yang tinggi kolesterol, maka dapat berdampak positif bagi kesehatan jantung.

    Ini karena kolesterol yang terkandung dalam daging atau sumber protein lain mampu meningkatkan risiko penyakit jantung. Oleh sebab itu, mengurangi kolesterol salah satunya dengan konsumsi kacang merah baik bagi jantung.

    Selain itu, kacang merah juga menyimpan kandungan lemak dan lemak jenuh yang sedikit lebih rendah dari jenis kacang lain. Sehingga kacang merah bisa jadi opsi untuk meningkatkan kesehatan organ jantung.

    Efek Samping Kacang Merah

    Tak hanya mengandung sejumlah manfaat, kacang merah juga memiliki efek samping bila dikonsumsi mentah atau tidak dimasak dengan baik. Berikut efek samping kacang merah:

    1. Diare dan Muntah-muntah

    Kacang merah mentah mengandung protein beracun dalam jumlah tinggi yang disebut phytohaemagglutinin. Jika mengkonsumsi kacang ini secara mentah atau melalui proses masak yang tidak benar, akan menyebabkan keracunan dengan gejala diare dan muntah-muntah.

    2. Perut Kembung

    Pada beberapa orang, kacang merah mampu menyebabkan perut kembung hingga diare karena serat tidak larut atau alfa-galaktosida yang dikandungnya. Serat ini juga dapat memperburuk gejala sindrom iritasi usus besar.

    Tapi, alfa-galaktosida bisa dihilangkan sebagian dengan cara merendam kacang merah dalam air dan memasaknya dengan benar.

    Cara Mengolah Kacang Merah

    Agar dapat memberi manfaat bagi kesehatan dan bukan malah memberi efek samping, kacang merah harus dimasak dengan benar dan tidak dikonsumsi secara mentah.

    Cara mengolah yang baik sebelum mengkonsumsinya, yakni dengan merendam kacang merah dalam air setidaknya selama 5 jam dan merebusnya pada suhu 100°C selama setidaknya 10 menit.

    Dengan proses pengolahan demikian, racun dan senyawa berbahaya yang terdapat di dalam kacang merah bisa hilang. Sehingga kacang merah menjadi aman, tidak lagi berbahaya, dan memberikan manfaat jika dikonsumsi.

    Itu dia penjelasan mengenai kacang merah, mulai dari kandungan nutrisi hingga efek samping yang dimilikinya.

    (fds/fds)



    Sumber : food.detik.com

  • Hari Gini Nggak Doyan Sayur? Sumbatan Usus Juga Bisa Terjadi karena Kurang Serat Lho


    Jakarta

    Konsumsi serat penduduk Indonesia masih tergolong rendah. Hal ini dapat dilihat dari rendahnya kebiasaan makan buah dan sayur. Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023 menunjukkan bahwa sekitar 96,7 persen penduduk belum memenuhi anjuran konsumsi sayur dan buah setiap hari. Pola makan yang lebih banyak mengutamakan nasi, lauk tinggi lemak, serta minuman manis membuat tubuh kekurangan komponen penting yang seharusnya membantu menjaga fungsi pencernaan.

    Serat adalah zat penyusun makanan nabati yang tidak dicerna oleh tubuh secara langsung. Meski tidak dicerna, serat punya peran besar dalam menjaga ritme usus. Serat membantu mempertahankan bentuk feses, menjaga pergerakan usus agar tetap teratur, serta mendukung keseimbangan bakteri baik yang dibutuhkan tubuh. Jika Asupan serat rendah dan berlangsung dalam jangka panjang, pergerakan feses di usus menjadi lambat, sehingga air yang terkandung di feses terus-menerus diserap oleh usus mengakibatkan feses menjadi keras. Kondisi ini dapat memicu sembelit berulang.

    Sembelit yang berlangsung lama tidak hanya membuat perut tidak nyaman. Dalam beberapa kasus, feses yang mengeras dapat membentuk massa/gumpalan padat yang disebut fekaloma. Gumpalan ini dapat menghambat aliran makanan dan gas di dalam usus. Jika saluran benar-benar tersumbat, kondisi ini dapat berkembang menjadi obstruksi usus. Gejalanya meliputi perut kembung, nyeri hebat, mual, muntah, hingga tidak bisa buang gas maupun buang air besar. Obstruksi usus merupakan kondisi yang perlu penanganan medis segera.


    Serat Penting Agar Pencernaan Optimal

    Serat terbagi menjadi dua jenis yaitu serat larut dan serat tidak larut. Serat larut menyerap air dan membentuk gel, yang membantu membuat proses pencernaan berjalan lebih teratur dan lembut. Sedangkan serat tidak larut berfungsi menambah volume feses sehingga merangsang gerakan usus. Kedua jenis serat ini bekerja saling melengkapi dalam menjaga kesehatan pencernaan.

    Penelitian dalam Jurnal Nutrients tahun 2013 menjelaskan bahwa serat bekerja dengan menahan air di dalam saluran cerna sehingga feses lebih lunak dan volumenya tetap ideal. Kondisi ini membantu usus bergerak dengan ritme yang teratur. Waktu transit yang stabil membuat sisa makanan tidak menumpuk dan mengeras. Dengan begitu, risiko sembelit berat yang dapat berkembang menjadi penyumbatan usus dapat dicegah.

    Waspadai Sembelit Terus-Menerus

    Sembelit yang muncul sesekali memang bisa hilang dengan memperbaiki asupan cairan dan makanan berserat. Namun perlu diperhatikan dengan serius ketika sembelit terjadi berulang atau berlangsung dalam jangka panjang.

    Sebuah publikasi penelitian di Jurnal Clinical Case Reports tahun 2023, dilaporkan kasus obstruksi usus yang dipicu oleh konstipasi kronis yang tidak diatasi. Kondisi ini terjadi karena feses yang mengeras dapat menghambat jalur keluarnya sisa makanan di usus. Ketika aliran tersumbat, tekanan dalam usus meningkat, memicu nyeri perut hebat, kembung berlebihan, mual, muntah, hingga tidak dapat buang angin maupun buang air besar.

    Selain itu, gerakan usus yang lambat dapat mengubah keseimbangan bakteri di dalamnya. Lapisan usus yang mengalami iritasi dan peradangan akan menjadi lebih sensitif dan rentan terhadap gangguan. Dalam kondisi tertentu, gangguan ini dapat berkontribusi pada peningkatan risiko obstruksi.

    Kelompok Rentan

    Beberapa kelompok lebih rentan mengalami gangguan pencernaan terkait serat yang rendah, seperti:

    • Lansia
    • Orang yang kurang minum air
    • Orang yang sering menahan buang air besar
    • Orang dengan riwayat operasi perut
    • Orang dengan pola makan rendah serat dalam waktu lama

    Untuk kelompok ini, menjaga pola makan seimbang menjadi langkah pencegahan yang sangat penting.

    Sumber Serat yang Mudah Ditemukan Sehari-hari

    Kebutuhan serat harian berkisar 20 sampai 37 gram berdasarkan Angka Kebutuhan Gizi sesuai usia dalam Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 28 Tahun 2019. Pemenuhan serat bisa dimulai dengan membiasakan mengonsumsi makanan yang mudah ditemui seperti:

    • Pepaya, pir, apel, pisang
    • Bayam, brokoli, kangkung, sawi
    • Kacang merah, kacang hijau, kacang tanah
    • Singkong, talas, dan ubi

    Penuhi kebutuhan serat setiap hari dan porsi sesuai dengan pedoman gizi seimbang. Konsumsi serat secara tiba-tiba dalam jumlah besar juga dapat memicu gas dan kembung.

    (mal/up)



    Sumber : health.detik.com

  • Hari Gini Nggak Doyan Sayur? Sumbatan Usus Juga Bisa Terjadi karena Kurang Serat Lho


    Jakarta

    Konsumsi serat penduduk Indonesia masih tergolong rendah. Hal ini dapat dilihat dari rendahnya kebiasaan makan buah dan sayur. Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023 menunjukkan bahwa sekitar 96,7 persen penduduk belum memenuhi anjuran konsumsi sayur dan buah setiap hari. Pola makan yang lebih banyak mengutamakan nasi, lauk tinggi lemak, serta minuman manis membuat tubuh kekurangan komponen penting yang seharusnya membantu menjaga fungsi pencernaan.

    Serat adalah zat penyusun makanan nabati yang tidak dicerna oleh tubuh secara langsung. Meski tidak dicerna, serat punya peran besar dalam menjaga ritme usus. Serat membantu mempertahankan bentuk feses, menjaga pergerakan usus agar tetap teratur, serta mendukung keseimbangan bakteri baik yang dibutuhkan tubuh. Jika Asupan serat rendah dan berlangsung dalam jangka panjang, pergerakan feses di usus menjadi lambat, sehingga air yang terkandung di feses terus-menerus diserap oleh usus mengakibatkan feses menjadi keras. Kondisi ini dapat memicu sembelit berulang.

    Sembelit yang berlangsung lama tidak hanya membuat perut tidak nyaman. Dalam beberapa kasus, feses yang mengeras dapat membentuk massa/gumpalan padat yang disebut fekaloma. Gumpalan ini dapat menghambat aliran makanan dan gas di dalam usus. Jika saluran benar-benar tersumbat, kondisi ini dapat berkembang menjadi obstruksi usus. Gejalanya meliputi perut kembung, nyeri hebat, mual, muntah, hingga tidak bisa buang gas maupun buang air besar. Obstruksi usus merupakan kondisi yang perlu penanganan medis segera.


    Serat Penting Agar Pencernaan Optimal

    Serat terbagi menjadi dua jenis yaitu serat larut dan serat tidak larut. Serat larut menyerap air dan membentuk gel, yang membantu membuat proses pencernaan berjalan lebih teratur dan lembut. Sedangkan serat tidak larut berfungsi menambah volume feses sehingga merangsang gerakan usus. Kedua jenis serat ini bekerja saling melengkapi dalam menjaga kesehatan pencernaan.

    Penelitian dalam Jurnal Nutrients tahun 2013 menjelaskan bahwa serat bekerja dengan menahan air di dalam saluran cerna sehingga feses lebih lunak dan volumenya tetap ideal. Kondisi ini membantu usus bergerak dengan ritme yang teratur. Waktu transit yang stabil membuat sisa makanan tidak menumpuk dan mengeras. Dengan begitu, risiko sembelit berat yang dapat berkembang menjadi penyumbatan usus dapat dicegah.

    Waspadai Sembelit Terus-Menerus

    Sembelit yang muncul sesekali memang bisa hilang dengan memperbaiki asupan cairan dan makanan berserat. Namun perlu diperhatikan dengan serius ketika sembelit terjadi berulang atau berlangsung dalam jangka panjang.

    Sebuah publikasi penelitian di Jurnal Clinical Case Reports tahun 2023, dilaporkan kasus obstruksi usus yang dipicu oleh konstipasi kronis yang tidak diatasi. Kondisi ini terjadi karena feses yang mengeras dapat menghambat jalur keluarnya sisa makanan di usus. Ketika aliran tersumbat, tekanan dalam usus meningkat, memicu nyeri perut hebat, kembung berlebihan, mual, muntah, hingga tidak dapat buang angin maupun buang air besar.

    Selain itu, gerakan usus yang lambat dapat mengubah keseimbangan bakteri di dalamnya. Lapisan usus yang mengalami iritasi dan peradangan akan menjadi lebih sensitif dan rentan terhadap gangguan. Dalam kondisi tertentu, gangguan ini dapat berkontribusi pada peningkatan risiko obstruksi.

    Kelompok Rentan

    Beberapa kelompok lebih rentan mengalami gangguan pencernaan terkait serat yang rendah, seperti:

    • Lansia
    • Orang yang kurang minum air
    • Orang yang sering menahan buang air besar
    • Orang dengan riwayat operasi perut
    • Orang dengan pola makan rendah serat dalam waktu lama

    Untuk kelompok ini, menjaga pola makan seimbang menjadi langkah pencegahan yang sangat penting.

    Sumber Serat yang Mudah Ditemukan Sehari-hari

    Kebutuhan serat harian berkisar 20 sampai 37 gram berdasarkan Angka Kebutuhan Gizi sesuai usia dalam Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 28 Tahun 2019. Pemenuhan serat bisa dimulai dengan membiasakan mengonsumsi makanan yang mudah ditemui seperti:

    • Pepaya, pir, apel, pisang
    • Bayam, brokoli, kangkung, sawi
    • Kacang merah, kacang hijau, kacang tanah
    • Singkong, talas, dan ubi

    Penuhi kebutuhan serat setiap hari dan porsi sesuai dengan pedoman gizi seimbang. Konsumsi serat secara tiba-tiba dalam jumlah besar juga dapat memicu gas dan kembung.

    (mal/up)



    Sumber : health.detik.com