Tag: kacang

  • Cara Diet Viral 90-30-50 Turun 8 Kg dalam 2 Bulan, Body Goals Tak Wacana Lagi

    Jakarta

    Seorang ahli gizi di Philadelphia viral setelah menciptakan metode diet 90-30-50. Pola makan ini disebut-sebut bisa menurunkan 8 kg dalam 2 bulan tanpa menyiksa.

    “Saya mengembangkan metode diet 90-30-50 setelah mengalami sendiri perjuangan saya dengan penurunan berat badan selama dua tahun, meskipun menganut filosofi konvensional ‘makan lebih sedikit, lebih banyak bergerak’,” kata pencetus diet itu sekaligus ahli gizi Courtney Kassis kepada Womens Health.

    Kata Kassis, rencana makan 90-30-50 meningkatkan keseimbangan gula darah, pengaturan hormon, mengurangi peradangan, dan secara keseluruhan, meningkatkan kesehatan metabolisme.


    Cara Diet 90-30-50

    Kassis menjelaskan metode diet ini berfokus pada mengonsumsi setidaknya 90 gram protein, 30 gram serat dan 50 gram lemak tak jenuh selama dua bulan penuh. Menjalani pola makan ini membuat Kassis berhasil turun setidaknya 8 kg dalam dua bulan pertama.

    “Bersama-sama, nutrisi ini menjaga metabolisme tetap tinggi, mengurangi keinginan makan, dan mendukung kesehatan metabolisme secara keseluruhan,” katanya.

    Namun dia berpesan tidak semua orang akan mendapatkan hasil yang sama. Diet bisa cocok untuk satu orang namun efeknya berbeda pada individu yang lain.

    Metode ini dirancang untuk siapa saja yang ingin meningkatkan kesehatan dan merasa lebih baik, baik menghadapi tantangan dalam manajemen berat badan, kesehatan metabolisme, atau kondisi kronis.

    Contoh makanan yang sesuai dengan rencana tersebut meliputi:

    Protein: ayam, daging sapi, telur, yoghurt tanpa tambahan gula, keju

    Serat: sayuran berdaun hijau, brokoli, kembang kol, biji chia, kacang almond, buncis

    Lemak sehat: kacang-kacangan dan selai kacang, biji-bijian, alpukat, minyak zaitun

    (kna/kna)

    Sumber : health.detik.com

    Alhamdulillah sehat wal afiyat اللهم صل على رسول الله محمد
    Source  : unsplash.com / Jonas Kakaroto
  • Cara Ini Ampuh Kurangi Porsi Makan Tanpa Merasa Lapar, Cocok Buat yang Lagi Diet

    Jakarta

    Banyak orang mencari cara untuk menjaga pola makan yang sehat, terutama dalam upaya mengelola berat badan atau meningkatkan kesehatan. Beberapa strategi sederhana dan praktis dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari untuk membantu mencapai tujuan ini.

    Mulai dari memilih porsi makanan hingga melatih kesadaran saat makan, langkah-langkah berikut dapat menjadi solusi yang efektif. Berikut adalah tips mengurangi porsi makan tanpa rasa lapar, dikutip dari Healthline.

    1. Isi Setengah Piring dengan Sayuran

    Sayuran mengandung banyak air dan serat yang mengenyangkan, namun rendah kalori.


    Mengganti setengah dari porsi pati atau protein dengan sayuran non-tepung memungkinkan konsumsi makanan dalam jumlah yang sama sambil mengurangi asupan kalori. Penelitian menunjukkan bahwa jumlah makanan yang dikonsumsi memengaruhi rasa kenyang.

    Dalam sebuah studi, peserta diberikan jumlah pasta yang sama tetapi dengan variasi proporsi sayuran. Hasilnya, peserta mengonsumsi kalori lebih sedikit saat porsi sayuran lebih banyak tanpa menyadarinya.

    2. Konsumsi Protein

    Penelitian menunjukkan bahwa protein memberikan rasa kenyang lebih lama dibandingkan karbohidrat atau lemak.

    Sebuah studi pada 2012 menemukan bahwa makanan dengan 20-30 persen kalori dari protein membuat peserta merasa kenyang lebih lama dibandingkan makanan dengan kandungan protein lebih rendah.

    Memanfaatkan sifat protein ini dapat dilakukan dengan mengonsumsinya di setiap waktu makan atau camilan. Pilih sumber protein rendah lemak seperti telur, unggas tanpa kulit, produk susu, ikan, atau makanan laut.

    Sumber protein nabati seperti kacang-kacangan, tahu, dan selai kacang juga bisa menjadi pilihan alternatif.

    3. Pilih Air Putih saat Makan

    Mengonsumsi minuman berkalori tinggi seperti soda atau jus tidak membuat kenyang tetapi menambah kalori ekstra. Pada orang dewasa, minum air putih sebelum makan dapat membantu mengurangi asupan makanan.

    Sebuah penelitian menunjukkan bahwa orang dewasa yang minum sekitar dua gelas air sebelum sarapan mengonsumsi 13 persen kalori lebih sedikit ketika makan dibandingkan mereka yang tidak.

    Meski efek ini kurang terlihat pada usia muda, mengganti minuman manis dengan air tetap efektif untuk mengurangi asupan kalori secara keseluruhan. Minumlah air putih atau minuman tanpa kalori lain untuk memenuhi kebutuhan cairan tanpa menambah kalori.

    4. Awali dengan Sup Sayuran atau Salad

    Mengawali makan dengan sup atau salad bisa membantu mengurangi total asupan kalori.

    Sebuah studi menunjukkan bahwa peserta yang makan sup sebelum hidangan utama mengonsumsi 20 persen lebih sedikit kalori dibandingkan yang langsung makan hidangan utama.

    Hal serupa ditemukan pada salad. Salad kecil sebelum makan pasta mengurangi asupan kalori hingga 7 persen, sementara salad besar mengurangi hingga 12 persen.

    Sup dan salad yang kaya serat dan air dapat membantu membatasi konsumsi kalori berikutnya. Namun, perhatikan penggunaan saus salad yang dapat menambah kalori.

    5. Gunakan Piring dan Garpu Lebih Kecil

    Ukuran piring dan alat makan dapat memengaruhi jumlah makanan yang dikonsumsi. Penelitian menunjukkan bahwa piring cenderung diisi sekitar 70 persen penuh, terlepas dari ukurannya.

    Menggunakan piring kecil membuat porsi makanan terlihat lebih besar sehingga dapat membantu mengurangi asupan. Penelitian juga menemukan bahwa penggunaan sendok besar mendorong konsumsi lebih banyak, sedangkan menggunakan garpu kecil membantu mengurangi asupan makanan.

    Manfaatkan ilusi ini untuk mendukung pola makan yang lebih sehat.

    6. Latih Kesadaran saat Makan

    Kebiasaan makan sambil terganggu, seperti menonton televisi, dapat meningkatkan konsumsi makanan. Sebaliknya, makan dengan penuh kesadaran membantu lebih peka terhadap rasa kenyang dan lapar.

    Mindfulness membantu membedakan rasa lapar fisik dan emosional. Saat merasa ingin makan, refleksi apakah benar-benar lapar atau hanya bosan atau terpengaruh emosi lain. Strategi seperti berjalan, olahraga ringan, atau membuat jurnal dapat membantu mengelola kebiasaan makan emosional.

    Sediakan waktu khusus untuk makan, nikmati setiap rasa, dan fokus pada sinyal tubuh.

    7. Tambahkan Bumbu ke Makanan

    Menggunakan bumbu seperti cabai dapat membantu mengurangi nafsu makan. Capsaicin, senyawa aktif dalam cabai, terbukti menurunkan rasa lapar dan meningkatkan pengendalian asupan kalori.

    Dalam sebuah penelitian, partisipan yang makan cabai merah pedas mengonsumsi 190 kalori lebih sedikit saat makan berikutnya. Selain cabai, jahe juga memiliki efek serupa. Studi pada pria dengan berat badan berlebih menunjukkan konsumsi teh jahe saat sarapan membantu mengurangi rasa lapar.

    Tambahkan bumbu alami ke dalam makanan untuk mendukung pengendalian nafsu makan dengan cara yang sederhana.

    (kna/kna)

    Sumber : health.detik.com

    Alhamdulillah sehat wal afiyat اللهم صل على رسول الله محمد
    Source  : unsplash.com / Jonas Kakaroto
  • Wanita di Belitung Pangkas BB 16 Kg dalam 3 Bulan, Begini Diet yang Dijalani


    Jakarta

    Melakukan diet yang benar dan konsisten, serta memilih program yang cocok untuk tubuh tentu akan sangat efektif dalam menurunkan berat badan. Bahkan, mungkin tanpa disadari, berat badan sudah turun cukup banyak dalam waktu yang terbilang singkat.

    Hal ini yang dirasakan oleh Putri Perona (22) perempuan dari Provinsi Bangka Belitung. Dirinya tidak menyangka bahwa baju-baju yang sebelumnya terlihat ‘jelek’ saat dia kenakan, hingga membuatnya badmood, kini terlihat pas dan memunculkan rasa percaya diri.

    Hanya dalam kurun waktu tiga bulan, tepatnya pada 8 Desember 2024 hingga 6 Maret 2025, Putri telah memangkas berat badan sebanyak 16 kg.


    “Sebenarnya niat diet itu udah dari lama banget ada, tapi selalu disangkal sama rasa pesimis, ngerasa kalau nggak bakalan pernah bisa konsisten, soalnya aku ngerasa belum ada alasan dan motivasi yang kuat,” kata Putri saat dihubungi detikcom, Jumat (7/3/2025).

    Sama seperti kebanyakan orang, Putri juga sempat gagal dalam proses awal-awal dirinya melakukan diet. Banyak faktor menurutnya, salah satunya adalah tidak tahan untuk makan di waktu-waktu yang seharusnya tidak diperbolehkan.

    Putri sadar bahwa kondisi obesitas tersebut berdampak buruk pada kesehatannya, terutama pada wajah yang mulai muncul jerawat dan bruntusan. Beruntung, saat dirinya bermain media sosial, dia menemukan program diet Intermittent Fasting (IF).

    “Di awal diet cobaannya tuh bukan soal nahan lapar, tapi tentang respons orang-orang pas aku bilang aku diet dan bilang kalau jam makan aku nggak kayak dulu,” katanya.

    “Ada juga yang ngasih komentar, ‘Alah dikira diet gampang apa, kamu dapatin badan kaya kita aja belum tentu bisa (posisinya dia juga gendut, tapi lebih gendut aku) apalagi jadi kurus kaya orang-orang,” sambungnya.

    Putri awalnya memilih diet IF dengan metode 16/8, atau membagi waktu menjadi 16 jam puasa dan 8 jam jendela makan. Namun, karena berat badannya dirasa tak turun dengan signifikan, dirinya mengubahnya menjadi 20/4 atau 20 jam puasa dan 4 jam jendela makan.

    “Diet IF sebenernya bisa makan apa aja, tapi aku menghindari makanan berminyak, contohnya aku masak tempe tapi dipanggang, telur direbus, kalaupun ada masakan yang harus pake minyak, minyaknya dikit banget,” kata Putri.

    “Sama aku ngurangin banget minum manis, dulu minum es teh itu tiap hari bisa bergelas-gelas, sekarang cukup air putih aja, kalau lagi kepengen minuman berasa ya aku minum minuman dalam kemasan,” lanjut dia.

    Tidak hanya menjaga pola makan, Putri juga aktif bergerak untuk membantu dirinya mengurangi lemak. Dirinya memilih olahraga kardio, angkat beban, dan rutin berjalan kaki. Pasalnya, olahraga ini menurutnya efektif dalam membantu menurunkan berat badan.

    Menurut Putri, program diet IF ini memang banyak digemari oleh mereka yang ingin menurunkan berat badan dalam waktu yang terbilang singkat. Namun, memang tidak sedikit para pejuang diet yang melakukan kesalahan, sehingga programnya tidak berjalan dengan maksimal.

    “Biasanya kegoda sama nafsu makan, terus susah menyesuaikan sama kegiatan lainnya. Kalian boleh makan apapun, tapi ingat porsinya dan jangan terlalu sering. Kalau sudah masuk jam puasa IF, jangan makan apapun bahkan satu biji kacang,” katanya.

    “Soalnya di jam puasa itulah lemak kita terbakar. Banyakin minum juga dan pandai-pandai memilih jam jendela makannya biar gak lemas,” tutupnya.

    (dpy/kna)

    Sumber : health.detik.com

    Alhamdulillah sehat wal afiyat اللهم صل على رسول الله محمد
    image : unsplash.com / Jonas Weckschmied
  • Cocok untuk Pejuang Diet, Ini 5 Kebiasaan Pagi yang Bikin Badan Cepat Kurus

    Jakarta

    Menjaga pola makan dan rutin berolahraga merupakan dua kunci utama untuk menurunkan berat badan. Namun, ada sejumlah cara lain yang dapat dilakukan untuk mendukung penurunan berat badan yang lebih optimal.

    Salah satunya dengan menerapkan kebiasaan pagi yang baik. Sebagian orang percaya pagi hari merupakan waktu terbaik untuk melakukan hal-hal yang mendukung penurunan berat badan, seperti berolahraga dan lain sebagainya.

    Lantas, apa saja kebiasaan pagi yang dapat membantu menurunkan berat badan? Dikutip dari WebMD, berikut ulasannya.


    1. Minum Air Putih

    Satu atau dua gelas air putih sebelum sarapan dapat memberikan manfaat yang besar terhadap penurunan berat badan. Meski tidak mengandung kalori, air dapat memberikan sedikit rasa kenyang, sehingga membantu mengendalikan nafsu makan di pagi hari.

    Air juga merangsang metabolisme untuk membantu membakar kalori.

    2. Berolahraga Sebelum Sarapan

    Melakukan olahraga ringan saat perut kosong dapat memberikan hasil yang lebih baik dibandingkan berolahraga setelah sarapan. Sebab, sesi olahraga sebelum sarapan dapat membantu tubuh membakar lebih banyak lemak sebagai sumber energi.

    3. Makan Sarapan Tinggi Protein

    Protein dapat membantu menurunkan berat badan dengan meningkatkan rasa kenyang dan menekan nafsu makan. Ini karena tubuh membutuhkan waktu lebih lama memecah protein dibandingkan nutrisi lainnya.

    Pilihlah sarapan yang kaya protein, seperti telur, roti gandum, yogurt Greek, selai kacang, dan buah beri.

    4. Berjemur di Bawah Sinar Matahari

    Sedikit sinar matahari di pagi hari dapat membantu tubuh membakar lebih banyak lemak. Penelitian menunjukkan seseorang yang berjemur di pagi hari cenderung memiliki indeks massa tubuh yang lebih rendah, atau tubuh yang lebih ramping, dibandingkan mereka yang berjemur di waktu lain.

    5. Latih Mindfulness

    Mindfulness atau kesadaran penuh dapat membantu seseorang mengadopsi gaya hidup sehat yang mendukung penurunan berat badan.

    Misalnya, mereka yang mempraktikkan mindfulness akan fokus makan tanpa gangguan gadget atau televisi. Beberapa penelitian menunjukkan orang yang makan sambil menonton televisi atau bermain gadget cenderung mengonsumsi lebih banyak makanan karena mereka tidak memerhatikan jumlah makanan yang sudah dikonsumsi.

    (ath/kna)

    Sumber : health.detik.com

    Alhamdulillah sehat wal afiyat اللهم صل على رسول الله محمد
    image : unsplash.com / Jonas Weckschmied
  • Tips Diet Wanita yang Sukses Pangkas BB 45 Kg Tanpa Obat, Bisa Ditiru!

    Jakarta

    Georgina Bailey (31) berhasil menemukan cara diet alami yang membantunya menurunkan berat badan secara signifikan. Dalam 18 bulan, Bailey sukses memangkas berat badan hingga 45 kg.

    Dikutip dari Times of India, berat badan awal Bailey adalah 114 kg, kini saat berdiri di atas timbangan, dirinya akan melihat angka 69 kg. Georgina melaporkan bahwa momen kesadarannya adalah ketika ia menyadari bahwa berat badannya memiliki dampak besar pada kehidupan sehari-hari. Ia terus-menerus merasa lelah. Sendi-sendinya terasa nyeri, dan ia merasa tidak nyaman.

    Bukan dengan diet ekstrem, Bailey mengaku memiliki formula ajaib alami untuk proses dietnya. Apa saja ‘rahasia’ diet dari Bailey?


    1. Konsumsi Protein Tanpa Lemak

    Banyak orang menganggap diet adalah tentang makan lebih sedikit. Namun, rutinitas Bailey berbeda. Ia melakukan perubahan cerdas, yakni memahami peran protein.

    Alih-alih mengonsumsi protein tinggi lemak, Bailey memilih makanan tinggi protein rendah lemak seperti dada ayam, ikan putih, dan udang. Protein tanpa lemak memungkinkan porsi yang lebih besar tanpa takut melebihi target kalori.

    2. Makanan Sederhana tapi Berprotein Tinggi

    Bailey rutin berbagi resep melalui Instagram miliknya @georginabaileyfit seperti nasi goreng udang, yang mengandung 28 gram protein dengan 512 kalori.

    Makanan ini dibuat dengan bahan sehari-hari seperti nasi, kacang polong, udang, kecap, dan pasta miso, serta selesai dalam waktu kurang dari 10 menit.

    3. Rutin Berolahraga

    Konsistensi merupakan faktor penting dari sebuah proses penurunan berat badan. Salah satunya adalah rutin berolahraga.

    Bailey tidak langsung melakukan latihan ekstrem seperti angkat beban. Ia memulainya dengan jogging perlahan, hingga akhirnya bisa mengikuti full marathon.

    4. Menikmati Prosesnya

    Salah satu tantangan dalam penurunan berat badan adalah mengubah pola pikir seseorang. Hal inilah yang menjadi kunci apakah seseorang akan lanjut atau berhenti di tengah jalan.

    Bailey mengaku dirinya menikmati setiap proses yang dilalui. Di akhir 18 bulan, ia tidak hanya menurunkan berat badan, tapi jatuh cinta di setiap upaya agar tubuhnya tetap bugar dan sehat.

    (dpy/kna)

    Sumber : health.detik.com

    Alhamdulillah sehat wal afiyat اللهم صل على رسول الله محمد
    image : unsplash.com / Jonas Weckschmied
  • Kenapa Pernyataan ‘Tak Perlu Ahli Gizi’ Berbahaya?


    Jakarta

    Pernyataan Wakil Ketua DPR RI Cucun Ahmad Syamsurijal menyebut bahwa program Makan Bergizi Gratis (MBG) bisa berjalan tanpa ahli gizi menuai kekecewaan dan banyak komentar dari para netizen khususnya ahli gizi di Indonesia. Template balasan cerita di instagram yang berisi “Pray For Ahli Gizi Indonesia” pun sudah diunggah 28,5 ribu kali.

    Dalam sebuah forum diskusi di Acara Konsolidasi SPPG MBG se-Kabupaten Bandung, ia bahkan menyinggung kemungkinan “mengubah undang-undang” dan menegaskan bahwa anak SMA fresh graduate sekalipun bisa menjalankan tugas ahli gizi di SPPG setelah sertifikasi tiga bulan. Ucapannya memicu reaksi luas, bukan karena sensasional, tetapi karena menyentuh area yang berdampak langsung pada kesehatan jutaan anak Indonesia.

    Program MBG bukan bisnis warung makan. Ini program nasional yang menyasar anak-anak dikelompok usia yang rentan, sedang bertumbuh, dan mudah terdampak oleh kesalahan intervensi gizi. Ketika ada pandangan yang meremehkan peran ahli gizi, publik perlu memahami apa yang sebenarnya dipertaruhkan.


    MBG Bukan Program Makan Gratis, Tapi Intervensi Gizi Nasional

    Tujuan MBG tertuang jelas dalam dokumen Keputusan Kepala Badan Gizi Nasional Republik Indonesia Nomor 63 Tahun 2025:

    • Meningkatkan kualitas sumber daya manusia.
    • Mewujudkan kesejahteraan umum.
    • Mencerdaskan kehidupan bangsa.

    Dengan tujuan sebesar ini, MBG tidak bisa diperlakukan seperti sekadar “program mengenyangkan perut”. MBG adalah intervensi gizi yang dirancang untuk memperbaiki status gizi, mendukung tumbuh kembang, mempertahankan daya tahan tubuh, serta membentuk kapasitas belajar anak secara optimal.

    Negara-negara maju yang sudah lama menerapkan program yang sama dengan MBG, seperti Jepang yang sudah lama memahami hal ini. Makanan sekolah bukan sekedar mengenyangkan saja, tapi sebagai bagian inti dari strategi pembangunan SDM. Tidak ada satupun dari mereka yang menjalankan program pangan sekolah tanpa melibatkan ahli gizi. Jepang menganggap keamanan pangan dan kualitas gizi anak sekolah adalah isu yang sangat serius.

    Karena itu, wajar publik mempertanyakan ketika ada pejabat yang menyatakan bahwa ahli gizi “tidak diperlukan”.

    Gizi punya efek jangka pendek dan jangka panjang. Kekurangan energi pada jam belajar membuat konsentrasi kabur. Asupan protein yang tidak sesuai memengaruhi perkembangan massa otot, kecerdasan, hingga imunitas. Rasio makronutrien yang timpang bisa membuat anak mudah cemas, sulit fokus, dan lesu. Di sisi lain, menu yang terlalu padat energi tetapi miskin zat gizi dapat mendorong kenaikan berat badan yang tidak sehat. Semuanya saling berkait, dan semuanya menuntut kompetensi profesional.

    Karena itu, ketika tujuan nasional menargetkan kualitas manusia, maka yang harus dikendalikan bukan sekadar keberadaan makanan di atas piring. Yang harus dikendalikan adalah mutu gizi, keamanan pangan, kecukupan asupan, standar porsi, dan risiko klinis. Di titik inilah peran ahli gizi menjadi krusial.

    Dikasih Pelatihan 3 Bulan, SMA Fresh Graduate Bisa Jadi Ahli Gizi?

    “Nanti tinggal Ibu Kadinkes melatih orang, bila perlu di sini (kabupaten) punya anak-anak yang fresh graduate, anak SMA cerdas-cerdas, dilatih tiga bulan, kasih sertifikasi, saya siapkan BNSP untuk sertifikasi, tidak perlu seperti kalian yang sombong seperti ini,” ucap Cucun.

    Tanggung jawab utama ahli gizi yang dicari MBG:

    • Pengembangan Menu: Merancang dan mengembangkan menu untuk menciptakan hidangan yang lezat dan bergizi seimbang.
    • Labelisasi Nutrisi: Melakukan perhitungan dan penyusunan label nutrisi untuk produk makanan.
    • Konsultasi Gizi: Memberikan konsultasi atau informasi gizi kepada pihak terkait (internal/eksternal).
    • Pelatihan & Edukasi: Melaksanakan pelatihan dan edukasi mengenai prinsip-prinsip dasar gizi dan penanganan makanan yang aman (Food Safety).
    • Pengawasan Kualitas (Quality Control): Bertanggung jawab atas pengawasan kualitas makanan yang diproduksi secara keseluruhan.
    • Kepatuhan Peraturan: Memastikan kepatuhan terhadap regulasi dan peraturan terkait labelisasi nutrisi dan aspek kesehatan pangan.
    • Monitoring & Evaluasi: Melakukan monitoring dan evaluasi kinerja karyawan, khususnya pada bagian persiapan, pengolahan, dan pemorsian makanan.
    • Quality Control Pangan: Melakukan kontrol kualitas akhir (QC) terhadap makanan yang telah diproduksi
    • Pengawasan Sampel Makanan: Bertanggung jawab dalam pengawasan dan pencatatan sampel makanan yang diproduksi setiap hari.

    Semua itu tidak dapat digantikan oleh siapapun dengan pelatihan singkat. Hal tersebut bukanlah tugas yang dapat ditangani dengan sepele tanpa kompetensi formal dan profesional hanya karena dianggap mengganggu jalannya program.

    Ahli Gizi merupakan profesi yang membutuhkan kompetensi dan pendidikan khusus, sesuai dengan Undang-undang Nomor 17 Tahun 2023, sama seperti Dokter, Apoteker, Psikolog, dan Tenaga kesehatan lainnya. Ahli gizi tidak diartikan sekedar jabatan atau pekerjaan yang bisa diklaim siapa saja karena punya standar kompetensi, kode etik, dan regulasi profesi yang telah diakui dalam sistem kesehatan nasional. Ahli gizi memiliki standar profesi, tanggung jawab, dan peran fundamental dalam kesehatan masyarakat Indonesia.

    Kenapa Ucapan “Tidak Perlu Ahli Gizi” Berbahaya?

    Ucapan tersebut berbahaya bukan hanya karena meremehkan profesi, tetapi karena:

    1. Menghilangkan kontrol ilmiah terhadap program skala nasional

    MBG akan diberikan kepada jutaan anak setiap hari. Tanpa kontrol gizi, menu bisa tidak seimbang, porsi terlalu sedikit atau terlalu besar, dan kandungan mikronutrien penting seperti zat besi atau zinc bisa tidak terpenuhi.

    2. Memicu risiko klinis pada kelompok rentan

    Anak-anak adalah kelompok yang paling rentan terdampak. Dampaknya bisa berupa:

    • Tumbuh kembang terhambat. Menu tanpa perhitungan protein bisa mengganggu perkembangan otak dan otot.
    • Obesitas dini. Energi yang terlalu tinggi tanpa proporsi serat dan mikronutrien bisa menaikkan berat badan secara cepat.
    • Porsi yang tidak sesuai. Anak usia 7 tahun berbeda kebutuhan gizinya dengan anak usia 17 tahun.
    • Alergi yang tidak terpantau. Anak dengan alergi susu, kacang, atau intoleransi laktosa butuh pemantauan khusus.
    • Keracunan makanan. Kontaminasi bakteri yang sering muncul ketika penyelenggaraan makanan yang besar tidak diawasi standar higiennya.

    Anak adalah kelompok dengan risiko klinis tinggi. Kesalahan perhitungan gizi hari ini bisa terlihat efeknya bertahun-tahun ke depan. Karena itu, ketika ada wacana menepikan ahli gizi, pertanyaannya sederhana: apakah negara siap menanggung konsekuensinya?

    3. Mendorong kebijakan tanpa dasar ilmiah

    Lebih berbahaya lagi ketika muncul wacana perubahan undang-undang yang hanya perlu ketokan palu “kita tidak perlu ahli gizi, tidak perlu PERSAGI, yang diperlukan adalah satu tenaga yang mengawasi gizi”. Undang-undang dibuat berdasarkan standar kesehatan dan disiplin ilmu. Mengubahnya hanya agar program bisa berjalan tanpa profesional adalah langkah mundur dalam perlindungan masa depan bangsa.

    4. Membuka peluang pemborosan anggaran negara

    Komposisi menu yang salah dapat membuat anak tetap kekurangan nutrisi meskipun negara sudah mengeluarkan biaya besar. Program akan berjalan, tetapi manfaat tidak tercapai. Akhirnya uang habis, tapi kualitas SDM tidak berubah.

    Alasan Kelangkaan Ahli Gizi SPPG

    Dalam diskusi publik baru-baru ini, Ketua Badan Gizi Nasional (BGN) menyatakan bahwa Satuan Penanganan Program Gizi (SPPG) mengalami kesulitan dalam mencari ahli gizi.

    Namun, anggapan ini patut dikritisi: kenyataannya, lulusan gizi di Indonesia sangat banyak. Menurut liputan media, ada 131 kampus yang menyelenggarakan program sarjana gizi, 41 kampus vokasi gizi, serta 12 kampus penyelenggara profesi dietisien. Jumlah lulusan gizi tahun 2024 berdasarkan Badan Pusat Statistik (BPS) sebanyak 34.553 orang.

    Dengan basis lulusan gizi yang besar, klaim “ahli gizi langka” untuk SPPG seharusnya tidak hanya dilihat dari kuantitas, tetapi juga dari kualitas penempatan dan beban kerja. Banyak ahli gizi yang bekerja di SPPG mengeluhkan:

    • Beban kerja overwork dan overtime. Tiap SPPG hanya ada satu ahli gizi yang ditugaskan menanggung jawabi ribuan porsi di banyak wilayah atau sekolah, lembur untuk merancang menu, melakukan pemantauan gizi, dan laporan rutin.
    • Peran hanya sebagai “syarat formalitas”. Beberapa mitra pelaksana program hanya melihat keberadaan ahli gizi sebagai persyaratan birokrasi, bukan sebagai mitra strategis dalam merancang menu dan pengaturan gizi yang benar-benar sesuai standar. Akibatnya, ahli gizi sulit menjalankan fungsinya secara penuh, seperti menyesuaikan menu gizi berdasarkan data status gizi anak, tanpa intervensi mitra yang kurang memahami aspek ilmiah nutrisi.
    • Hak gaji ahli gizi tidak diberikan tepat waktu. Banyak ahli gizi yang mengeluhkan bahwa gaji tidak diberikan tepat waktu dan seringkali di rapel.

    Hal-hal di atas menunjukkan bahwa masalahnya bukan “kelangkaan ahli gizi”, melainkan sistem penempatan dan pemanfaatan ahli gizi dalam SPPG yang belum optimal.

    Solusi dan Evaluasi Kebijakan

    Untuk memperbaiki kondisi ini, berikut rekomendasi yang seharusnya menjadi bagian dari evaluasi program MBG dan SPPG:

    1. Tambahkan jumlah ahli gizi di setiap SPPG + sistem shifting

    Dengan menambah tenaga ahli gizi per SPPG dan menerapkan sistem kerja bergantian (shifting), beban kerja bisa didistribusikan lebih seimbang. Ahli gizi tidak lagi terbebani lembur terus-menerus dan bisa fokus melakukan fungsi inti seperti perencanaan gizi, pemantauan status gizi anak, dan evaluasi menu.

    Ahli gizi harus diberi otoritas untuk merancang menu MBG sesuai standar gizi tanpa intervensi yang merusak dari mitra non-gizi. Mereka perlu menjadi pengambil keputusan dalam komposisi menu (karbohidrat, protein, mikronutrien), porsi, frekuensi, dan penyesuaian jika status gizi anak berubah. Dengan ini, program tidak hanya “sekedar kenyang”, tetapi benar-benar intervensi gizi yang berbasis data dan ilmu.

    3. Evaluasi reguler dan profesionalisasi peran gizi di SPPG

    Pemerintah dan BGN harus mengevaluasi struktur kerja SPPG secara berkala: apakah rasio ahli gizi terhadap sekolah memadai, apakah tugas mereka terfokus sebagai penyedia menu saja atau juga sebagai pengawas kesehatan gizi, dan apakah mekanisme pelaporan dan akuntabilitas dijalankan dengan transparan. Evaluasi ini harus mendorong profesionalisasi ahli gizi sebagai mitra strategis, bukan pegawai “formalitas”.

    4. Perbaiki sistem perekrutan dan distribusi lulusan gizi

    Karena lulusan gizi banyak, pemerintah perlu membuat kebijakan penempatan yang lebih proaktif, misalnya via kerja sama dengan universitas atau Persatuan Ahli Gizi Indonesia (PERSAGI), insentif bagi ahli gizi yang bekerja di SPPG di daerah, dan jalur karir yang jelas.

    (up/mal)

    Sumber : health.detik.com

    Image : unsplash.com / Demi DeHerrera
  • Dikukus atau Direbus? Manfaatnya Beda Lho, Jangan Salah Pilih

    Jakarta

    Tren sarapan sehat belakangan ini diwarnai menu rebus-rebusan dan kukusan, yang mudah sekali ditemukan setiap pagi di sekitar area perkantoran. Ada bagusnya sih, minimal lebih sehat dibanding sarapan gorengan.

    Selain lebih sehat, sarapan rebusan dan kukusan juga murah meriah. Mulai dari harga Rp 2 ribu per potong, hingga paketan seharga Rp 10-20 ribu, sudah bisa buat ganjal perut hingga waktunya makan siang.

    Menunya beragam, seperti ubi, pisang kepok, singkong, labu kuning, jagung, edamame, telur, dan beberapa sayuran lain. Ada yang direbus, ada yang dikukus.


    Nah ada yang tahu nggak, bedanya dikukus sama direbus? Kita bahas satu persatu yuk.

    Dikukus

    Ini nih yang populer dengan istilah ‘kukusan’ belakangan ini. Prinsipnya, bahan makanan dipanaskan dengan uap atau steam dalam wadah tertentu yang disebut kukusan.

    Makanan yang dikukus cenderung lebih mudah diterima lambung di pagi hari. Kandungan serat alaminya tetap terjaga sehingga rasa kenyang dapat bertahan cukup lama. Penggunaan bumbu yang digunakan sangat minim, menyajikan rasa asli dari bahan alami lebih terasa.

    Selain itu, proses memasaknya relatif singkat dan sederhana. Cukup menyiapkan bahan, menaruhnya di kukusan dengan air di bawahnya, dipanaskan lalu ditunggu beberapa menit. Ini membuat menu kukusan cocok untuk orang yang waktunya mepet di pagi hari, seperti mahasiswa dan pekerja.

    Mengukus membuat makanan matang perlahan tanpa bersentuhan dengan air. Ini membantu menjaga warna, rasa, mineral, dan vitamin tetap bertahan. Ubi kukus rasanya lebih manis, labu terasa lebih harum, dan pisang kepok kukus punya rasa yang enak tanpa perlu tambahan apa pun.

    Saat ini, jajanan kukusan juga semakin mudah ditemui, terutama di sekitar stasiun KRL. Booth kecil yang menjual ubi, singkong, jagung, edamame, hingga telur banyak muncul pada jam-jam berangkat kerja atau sekolah. Hal ini membuat sarapan sehat tetap bisa dilakukan meski tidak sempat memasak di rumah.

    Direbus

    Merebus membuat bahan makanan terendam di air panas. Pada sayuran, terutama yang kaya vitamin C dan vitamin B, sebagian nutrisinya bisa ikut larut ke dalam air rebusannya. Itu sebabnya sayur rebus kadang warnanya memudar dan rasanya lebih hambar.

    Metode rebus bukan berarti lebih tidak sehat karena hal tersebut. Pada bahan seperti singkong, jagung, telur, dan kacang-kacangan, perebusan justru menjadi metode yang paling cocok. Ketika makanan dipanaskan dalam air, sebagian antinutrisi seperti fitat menurun karena ikut larut dalam air, sehingga mineral di dalamnya bisa lebih mudah diserap tubuh.

    Perebusan juga melunakkan serat keras yang ada di bahan makanan, membuat makanan lebih mudah dicerna tanpa harus terlalu lama di lambung. Khusus singkong, perebusan juga penting untuk keamanan karena membantu menurunkan senyawa sianogenik yang berpotensi menjadi sianida.

    Jika ingin vitamin yang larut air tetap bisa dikonsumsi, air rebusannya bisa ikut diminum atau dijadikan kuah. Ini terutama berlaku pada sayuran dan umbi yang direbus, karena sebagian nutrisinya memang berpindah ke dalam air saat proses pemasakan.

    Apa itu Zat Antinutrisi?

    Beberapa bahan pangan seperti singkong, jagung, dan kacang-kacangan mengandung senyawa alami yang disebut antinutrisi. Zat ini tidak berbahaya dalam jumlah kecil, tetapi bisa menghambat penyerapan gizi tertentu bila bahan tidak dimasak dengan benar.

    Pada kacang-kacangan dan jagung, ada kandungan fitat yang dapat mengikat mineral seperti zat besi dan kalsium. Proses perebusan membantu melarutkan sebagian fitat ke air, sehingga mineral di dalam bahan tersebut lebih mudah diserap tubuh. Penelitian yang terbit di International Journal of Food Science & Technology tahun 2021 menunjukkan bahwa perebusan dapat menurunkan kadar fitat pada kacang hingga lebih dari 95 persen.

    Khusus pada singkong, terdapat senyawa glikosida sianogenik yang dapat melepaskan sianida bila tidak dimasak sempurna. Perebusan dengan air mendidih menjadi cara paling efektif untuk menurunkan kadar senyawa ini secara signifikan, karena sebagian besar senyawa sianogenik akan larut ke air rebusan. Penelitian terbaru dalam Food and Energy Security tahun 2024 menunjukkan bahwa perebusan mampu menurunkan kadar sianida lebih besar dibandingkan dengan pengukusan.

    Mana yang Lebih Sehat?

    Sebenarnya, keduanya sama-sama sehat kok. Baik kukusan maupun rebusan adalah metode memasak yang tidak membutuhkan tambahan minyak atau mentega, sehingga asupan lemak tetap terkontrol. Ini membuat keduanya cocok sebagai pilihan sarapan sehat yang terasa lebih ringan untuk tubuh.

    Perbedaannya ada pada kandungan nutrisi yang berubah. Mengukus cenderung lebih baik dalam mempertahankan vitamin yang sensitif terhadap panas, sehingga pas digunakan untuk meminimalkan zat gizi yang hilang. Sementara merebus lebih efektif untuk bahan yang seratnya lebih keras, seperti singkong, jagung, dan kacang-kacangan, karena membantu melunakkan teksturnya dan membuat nutrisinya lebih mudah dicerna.

    Jadi tidak hanya soal memilih mana metode yang lebih unggul, tetapi menyesuaikan cara memasak dengan bahan yang digunakan dan waktu memasak yang tersedia. Selama tidak ada penambahan minyak berlebih, keduanya sudah termasuk metode memasak yang baik dan mendukung sarapan yang sehat.

    (mal/up)



    Sumber : health.detik.com

  • Jangan Karbo Semua! Pesan Dokter, Rebusan-Kukusan Nutrisinya Tetap Harus Seimbang


    Jakarta

    Makanan rebus dan kukus belakangan jadi andalan bagi banyak orang yang ingin hidup lebih sehat. Meski demikian, Spesialis Gizi Klinik dr Ardian Sandhi Pramesti, SpGK, mengingatkan tetap penting untuk menambahkan sumber nutrisi lain, seperti protein dan sayuran, agar kebutuhan gizi harian tetap terpenuhi secara seimbang.

    “Menu rebusan dan kukusan yang tampaknya dominan karbohidrat kompleks yang memang baik sebagai sumber energi, tapi kurang seimbang jika tanpa tambahan sumber lainnya,” ucapnya saat dihubungi detikcom, Rabu (12/11/2025).

    “Agar optimal, fokus pada variasi bahan untuk hindari kebosanan dan pastikan nutrisi lengkap. Perhatikan porsi: jangan berlebihan karena meski sehat, karbohidrat berlebih bisa naikkan berat badan atau gula darah,” lanjutnya.


    dr Ardian menjelaskan untuk mendapatkan nutrisi yang lebih lengkap, masyarakat dapat mengikuti pedoman “Isi Piringku” dari Kementerian Kesehatan RI. Komposisinya terdiri dari 1/3 piring karbohidrat (misalnya umbi-umbian rebus), 1/3 piring protein, serta 1/2 piring sayur dan buah. Ia pun menyarankan beberapa kombinasi berikut:

    • Tambah protein: Telur rebus (1-2 butir untuk 12 gram protein dan rendah kalori), tahu atau tempe kukus, ikan kukus (seperti pepes tanpa minyak), atau kacang rebus (edamame, kacang tanah). Ini untuk bangun dan menjaga massa otot serta menjaga imunitas.
    • Tambah sayur dan buah: Sayur rebus seperti bayam, wortel, atau brokoli untuk vitamin dan serat tambahan. Buah segar seperti pepaya atau apel untuk antioksidan.
    • Lemak sehat: Sedikit kacang atau alpukat jika perlu.

    Contoh menu seimbang: Ubi rebus + telur rebus + bayam kukus + pisang. Ini bisa penuhi sekitar 300-500 kkal sarapan dengan gizi lengkap, termasuk protein untuk perbaikan sel dan serat untuk kesehatan usus juga mengenyangkan dan memberikan energi yang lama hingga siang.

    (suc/up)



    Sumber : health.detik.com

  • Lagi Tren Sarapan Rebus-rebusan dan Kukusan, Benarkah Lebih Sehat? Cek Faktanya di Sini


    Jakarta

    Jika biasanya nasi uduk dan lontong sayur mendominasi menu sarapan para pekerja kantoran, belakangan muncul tren baru. Sarapan rebus-rebusan dan kukusan makin diminati, dan disebut lebih sehat.

    Tren ini bisa teramati di beberapa stasiun Kereta Rel Listrik (KRL) Commuter Line yang menjadi persinggahan para pekerja yang hendak berangkat ke kantor di pusat kota Jakarta. Tak sulit menemukan booth atau lapak yang menjual ubi, jagung manis, hingga kacang-kacangan yang diolah dengan simpel yakni direbus ataupun dikukus.

    Beberapa menu yang mudah ditemukan, berikut kandungan gizinya, antara lain:


    1. Ubi kuning

    Ubi kuning memiliki serat yang cukup tinggi, membantu menjaga kenyang cukup lama tanpa menimbulkan lonjakan gula darah terlalu cepat. Ubi kuning punya rasa manis alami dan tekstur lembut yang bikin nyaman di perut.

    Berdasarkan Tabel Komposisi Pangan Indonesia (TKPI) tahun 2017, ubi jalar kuning kukus mengandung sekitar 100 kkal energi, 0,7 gram protein, 0,3 gram lemak, dan 23,8 gram karbohidrat per 100 gram. Warna kuning-oranyenya menandakan kandungan beta-karoten yang berperan sebagai antioksidan pendukung kesehatan kulit dan daya tahan tubuh.

    2. Pisang Kepok

    Pisang kepok kukus punya rasa manis yang lembut dan tekstur yang padat. Per 100 gram pisang kepok mengandung 120 kkal energi, 1,2 gram protein, 0,3 gram lemak, dan 28 gram karbohidrat.

    Kandungan kalium di dalamnya juga mendukung keseimbangan cairan tubuh dan kerja otot, termasuk otot jantung.

    3. Singkong

    Singkong dikenal sebagai sumber karbohidrat kompleks dengan serat larut. Singkong kukus cocok untuk yang butuh sarapan murah dan mengenyangkan.

    Singkong kukus mengandung 153 kkal energi, 1,2 gram protein, 0,3 gram lemak, dan 36,4 gram karbohidrat per 100 gram.

    4. Labu kuning

    Labu kuning memberi rasa manis yang lembut serta warna cerah yang menggugah selera. Ini termasuk makanan rendah kalori yang kaya serat dan beta-karoten (antioksidan pendukung kesehatan mata dan kulit).

    Labu kuning mengandung kurang lebih 122 kkal energi, 1,2 gram protein, 0,3 gram lemak, dan 4,6 gram karbohidrat per 100 gram.

    5. Jagung manis

    Jagung manis memberi keseimbangan antara rasa dan energi. Kandungan karbohidratnya cukup untuk memompa tenaga, tanpa terlalu berat. Jagung mengandung sekitar 154 kkal energi, 3,8 gram protein, 3,5 gram lemak, dan 28,4 gram karbohidrat per 100 gram. Jagung juga mengandung vitamin B kompleks yang berperan dalam produksi energi dan fungsi saraf. Kandungan lutein dan zeaxanthin dalam jagung berkontribusi terhadap kesehatan mata.

    6. Kacang tanah

    Kacang tanah kukus menawarkan rasa gurih alami dan merupakan sumber lemak sehat dan protein. Ini membantu menahan lapar lebih lama karena pencernaannya cenderung lebih lambat.

    Kacang tanah kukus mengandung 220 kkal energi, 10,6 gram protein, 18 gram lemak, dan 8 gram karbohidrat per 100 gram.

    7. Edamame

    Edamame adalah kacang kedelai muda yang mengandung protein nabati yang tinggi. Selain itu, edamame kaya isoflavone, antioksidan yang mendukung regulasi hormon dan keseimbangan metabolisme.

    Edamame mengandung sekitar 189 kkal energi, 20,2 gram protein, 8,2 gram lemak, dan 12,7 gram karbohidrat per 100 gram. Edamame cocok untuk membantu daya fokus dan stabilitas gula darah di pagi hari.

    8. Telur

    Telur membuat menu kukusan jadi lebih seimbang. Mudah dicerna, tetapi tetap memberikan protein berkualitas tinggi yang membantu menjaga rasa kenyang.

    Berdasarkan TKPI, telur ayam mengandung sekitar 70 kkal energi, 7 gram protein, 5 gram lemak, dan 0,7 gram karbohidrat per 100 gram.

    Kenapa Tren Sarapan Rebus-rebusan dan Kukusan Diminati?

    Dalam bentuk potongan-potongan kecil, menu sarapan rebus-rebusan dan kukusan terasa ringan, tetapi tetap membuat bertenaga. Banyak yang merasa tubuh lebih fokus saat bekerja jika tidak memulai hari dengan makanan berminyak atau berbumbu berat.

    Menu kukusan ini menjadi opsi yang menarik karena dapat membantu menjaga energi tetap stabil hingga menjelang siang tanpa memicu rasa mengantuk atau begah karena adanya kandungan serat yang tinggi di dalamnya. Pola sarapan seperti ini sesuai dengan kebutuhan energi untuk memulai pekerjaan di pagi hari dan butuh makanan yang praktis untuk dikonsumsi sebelum perjalanan atau sesampainya di tempat kerja.

    Tren sarapan rebus-rebusan dan kukusan di kalangan Gen-ZTren sarapan rebus-rebusan dan kukusan di kalangan Gen-Z. Foto: Sarah Octaviani Alam/detikHealth

    Praktis dan Mudah Ditemukan

    Karena lagi tren, menu rebus-rebusan dan kukusan mudah sekali ditemukan di berbagai tempat. Penjual kukusan yang banyak ditemui di sekitar stasiun umumnya anak muda dengan booth sederhana yang rapi dan mudah dikenali. Mereka menjual dalam waktu yang sangat tepat yaitu pagi hari, sebelum jam masuk kantor. Sistem jualnya cepat, tinggal pilih beberapa item, bayar, bawa, dan bisa langsung dimakan sambil berjalan atau saat menunggu kereta.

    Harga yang fleksibel membuat pembeli tidak merasa terbebani. Cukup ambil tiga sampai empat jenis kukusan, sudah bisa jadi sarapan yang memenuhi kebutuhan gizi di pagi hari. Sarapan yang praktis jadi nilai tambah dan solusi yang sangat baik bagi agar tetap sarapan. Tidak perlu duduk lama, tidak ribet, dan tidak berisiko menunda perjalanan ke kantor.

    Lebih Sehat Dibanding Goreng-gorengan

    Dibanding goreng-gorengan, baik rebus-rebusan maupun kukusan secara umum memang lebih sehat karena diolah tanpa minyak tambahan. Teksturnya lembut dan mudah dicerna, sehingga cocok untuk lambung yang baru aktif setelah bangun tidur. Banyak pembeli mengatakan bahwa sarapan kukusan membuat perut terasa nyaman dan kenyang lebih lama. Ini membantu menjaga energi tetap stabil sampai mendekati waktu makan siang, serta tidak ada lonjakan gula darah yang mendadak. Sarapan juga tidak membuat tubuh terasa lemas atau mengantuk.

    Untuk beberapa jenis makanan, kukusan dapat mempertahankan kandungan vitamin yang larut air seperti vitamin B dan C yang mudah hilang saat dimasak dengan air maupun minyak.

    Komposisi Juga Menentukan

    Namun demikian, beralih ke menu rebus-rebusan dan kukusan tidak serta merta membuat diet jadi lebih sehat. Kuncinya ada di variasi, karena jika komposisinya sejenis maka nutrisinya mungkin tidak seimbang. Misalnya jika memilih ubi dan kentang saja, maka kandungan karbohidratnya yang sama-sama tinggi akan memberikan asupan energi yang berlebih.

    Setidaknya harus ada sumber protein nabati dan hewani pada menu pilihan kukusan. Karena semakin beragam pilihan kukusan yang dipilih, semakin beragam pula vitamin, mineral, serat, dan antioksidan yang masuk ke tubuh.

    Perkiraan energi berdasarkan porsi yang umum dijual:

    • Jagung = 1 potong ± 50 g = ± 77 kkal
    • Ubi kuning = 1 buah sedang ± 100 g = ± 100 kkal
    • Singkong = 1 potong kecil ± 50 g = ± 153 kkal
    • Pisang kepok = 1 buah ± 100 g = ± 120 kkal
    • Labu kuning = 1 potong ± 60 g = ± 73,2 kkal
    • Edamame = ± 50 g = ± 94,5 kkal
    • Kacang tanah = ± 50 g = ± 26 kkal
    • Telur = 1 butir = ± 75 kkal
    Jajanan kukusan kini kembali diminati. Makanan yang dikukus juga punya sejumlah manfaat dibandingkan metode lain seperti digoreng.Salah satu lapak penjual menu rebus-rebusan dan kukusan. Foto: Andhika Prasetia

    Kebutuhan energi harian rata-rata orang dewasa sekitar 2.200 kkal, dan sarapan idealnya memenuhi 20% dari kebutuhan tersebut, yaitu sekitar 440 kkal. Dengan begitu, sarapan kukusan bisa tetap dikonsumsi tetapi tidak melebihi, sehingga menghindari asupan energi yang berlebih dan mendukung kesehatan tubuh.

    Contoh menu kukusan gizi seimbang/beragam tanpa melebihi asupan energi yang berlebih:

    • Ubi kuning 1 buah sedang (100 kkal)
    • Edamame 50 g (94,5 kkal)
    • Telur 1 butir (75 kkal)
    • Pisang kepok kukus 1 buah (120 kkal)

    Total energinya 389 kkal. Pilihan menu kukusan bisa disesuaikan sesuai dengan selera masing-masing dengan melihat kandungan energi di atas sebagai acuan.

    (mal/up)



    Sumber : health.detik.com

  • Kukusan Lagi Ngetren, Jadi Pilihan Sarapan Sehat Biar Nggak Gorengan Melulu


    Jakarta

    Tak salah bila generasi Z atau Gen Z dianggap lebih memprioritaskan kesehatannya. Hal ini bisa terlihat dari tren kukusan-rebusan yang lagi viral di media sosial dan diburu kaum muda sebagai alternatif sarapan sehat.

    Salah satu penjual kukusan, Alaibi (21), bercerita baru berjualan dua minggu di sekitar Stasiun Sudirman, Jakarta Pusat. Meski begitu, dagangannya banyak diminati pembeli.

    “Cuma (jualan) tiap pagi, dari jam 6 sampai 9 pagi. Alhamdulillah selalu habis sih kak,” ujar Alaibi saat ditemui detikcom, Rabu (12/11/2025).

    Sebelumnya, semua makanan yang dijual sudah direbus terlebih dahulu di rumah hingga matang. Saat berada di lokasi berjualan, Alaibi dan rekannya hanya menyusun kembali bahan-bahan tersebut di dalam kukusan alumunium agar tetap hangat.


    Menu yang ditawarkan cukup beragam, mulai dari ubi, singkong, kentang, jagung, talas, pisang, kacang, labu kuning, hingga telur. Untuk satu paket dijual Rp 10.000 dengan tiga pilihan bebas.

    “Kombinasi yang paling sering dibeli itu ubi, jagung, dan singkong,” tuturnya.

    Tren ini ternyata disambut baik para pembeli, terutama pekerja kantoran yang mencari sarapan. Salah satunya Grace (27), yang mengaku hampir setiap hari membeli makanan kukusan di tempat Alaibi.

    “Tiap hari beli sih aku, Rp 10.000 kan sepaketnya. Yang biasa aku beli itu singkong, ubi, sama pisang,” kata Grace.

    Pembeli lain, Lia (24), juga menjadikan makanan kukusan sebagai menu sarapan. Ia menyebut makanan seperti itu cocok untuk menjaga pola makan sehat, seperti jagung, ubi, dan singkong.

    “Sekalian juga kan buat defisit kalori. Jadi sehat juga ngurangin makan gorengan dan sudah kenyang,” sambungnya.

    Meski belum terbiasa, beberapa pembeli lain tertarik mencoba makanan kukusan karena tren ini sedang ramai. Siska (23) misalnya, ia membeli ubi dan singkong kukusan ini untuk pertama kalinya karena memang kurang terbiasa dengan makanan yang direbus atau dikukus.

    “Karena lagi viral nyoba saja deh sekalian lewat, beli ubi-ubian sama singkong. Rasanya enak sih, cuma aku kurang terbiasa saja jadi cuma bisa rasain manis saja dari ubinya,” pungkasnya.

    (sao/kna)



    Sumber : health.detik.com