Tag: kampung halaman

  • Lebih Baik Lampu Nyala atau Mati Saat Ditinggal Mudik?



    Jakarta

    Saat mudik ke kampung halaman pasti tidak menghabiskan waktu sehari dua hari. Apalagi jika jaraknya jauh dan periode libur lebaran masih terasa lama. Sehingga meninggalkan rumah saat mudik membutuhkan waktu yang tidak sebentar.

    Sayangnya, banyak kekhawatiran muncul karena meninggalkan rumah dengan waktu yang cukup lama. Salah satunya terkait penerangan di rumah. Banyak dari kita bingung apakah sebaiknya lampu di rumah dimatikan atau dibiarkan menyala ketika ditinggal mudik?

    Mengutip pernyataan dari Kepala Polisi Kota Mount Airy, North Carolina, yakni Dale Watson, bahwa lampu di rumah harus tetap dinyalakan saat berpergian. Sebab, hal ini untuk menghindari kejahatan selama mudik.


    “Hal-hal yang tidak menyenangkan cenderung muncul dalam kegelapan,” ujar Watson, dilansir dari situs Southern Living.

    Untuk mencegah tindakan kejahatan, tambahkan lampu luar yang menghadap ke tempat tinggal kamu. Watson juga menyarankan sebaiknya semak-semak dipangkas agar mudah terlihat. Semakin banyak penerangan maka akan semakin baik.

    Namun, tidak ada jumlah yang pasti mengenai lampu rumah yang wajib dinyalakan saat pergi mudik. Menyalakan lampu akan memberi kesan rumah yang aktif dan berpenghuni. “Nyalakan lampu sebanyak yang kamu mampu,” kata Watson.

    Menyalakan lampu saat mudik juga sebetulnya berlawanan dengan ajaran menghemat listrik untuk menjaga efisiensi energi. Maka, Watson menyarankan untuk memprioritaskan ruang tertentu yang wajib diberikan pencahayaan.

    “Pertama, saya ingin lampu beranda rumah menyala, kemudian area dapur dan kamar mandi. Jadi, dapat dilihat setiap titik dari satu sumber cahaya ke sumber cahaya lainnya,” kata Watson.

    (das/das)



    Sumber : www.detik.com

  • Saksi Bisu Banjir Besar di Kampung Halaman Jokowi Tahun 1966



    Solo

    Solo, kampung halaman mantan presiden Jokowi ternyata pernah dilanda banjir besar pada tahun 1966. Saksi bisu peristiwa itu ada di sebuah bangunan gereja.

    Berdiri sejak 1832, Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat (GPIB) Penabur Solo menjadi saksi bisu terjadinya banjir besar di Kota Solo 1966.

    Bangunan yang masih berdiri kokoh itu baru saja ditetapkan sebagai cagar budaya oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Solo.


    Sekretaris Panitia Pembangunan Perbaikan Atap Gereja, Neftali Saekoko, mengatakan GPIB dulunya dibangun era Belanda. Di mana saat itu, lantaran tentara Belanda yang biasanya beribadah di Benteng Vastenburg.

    “Kenapa gereja ini dibangun, ketika itu tentara Belanda yang sebelumnya gereja di dalam Benteng Vastenburg merasa sudah aman dengan kondisi sekitar, sehingga buatlah gereja ini,” katanya ditemui awak media di GPIB, Jalan Jendral Sudirman, Solo, Jumat (6/12).

    Dirinya menyebut, dulunya GPIB mempunyai nama De Protestansche Kerk in Nederlandsch Indie atau Gereja Protestan di Indonesia. Gereja tersebut dulunya hanya diperuntukkan bagi tentara Belanda dan keluarga. Namun seiring berjalannya waktu, GPIB dibuka untuk masyarakat umum.

    “Untuk yang ditujukan di sini adalah tentara Belanda kolonial dan keluarga yang bertempat tinggal di Benteng Vastenburg, mereka dipersiapkan bergereja di sini. Tahun berjalan, masyarakat sekitar ikut bergereja di sini,” jelasnya.

    Menurutnya, selain jemaat GPIB, jemaat yang di Gereja Purbayan yang merupakan Gereja Katolik menggunakan tempat di GPIB. Ia menyebut, Gereja Purbayan baru berdiri sekira tahun 1910

    “Jemaat dari Gereja Purbayan juga pernah beribadah di sini, mereka pinjam gereja untuk ibadah. Kenapa dibangun, karena tentara Belanda sudah merasa aman di luar. Maka dibuat gereja ini untuk beribadah,” bebernya.

    Ia mengatakan, GPIB mengalami perubahan bentuk karena terkena banjir besar pada 1966 di Kota Solo. Sehingga merusak bagian besar bagian yang ada di depan.

    “Dulu tidak seperti ini, kenapa ini berubah karena terjadi banjir besar pada tahun 1966 di Kota Solo, itu yang merusakkan besar bagian depan gereja ini,” ungkapnya.

    Bahkan, kata Neftali, kursi-kursi besar yang ada di gereja tersebut ikut hanyut hingga ke Pasar Gede. Sedangkan jarak gereja dengan Pasar Gede 300 meter.

    “Bahkan kursi besar hanyut sampai tugu jam pasar Gede. Sehingga yang depan Gereja tidak asli lagi, yang asli hanya bagian belakang serta ubinnya masih asli,” bebernya.

    “Dari mimbar ke belakang itu masih asli, restorasi sudah kita lakukan 1902 dan 1904. Terakhir 1978 yang dilakukan sendiri,” lanjutnya.

    Dirinya mengaku tidak tahu apakah ada barang yang hanyut saat banjir besar tahun 1966 itu.

    “Kalau itu belum tahu ada yang terbawa atau tidak. Yang jelas kursi itu hanyut sampai tugu jam Pasar Gede,” terangnya.

    Selain itu yang masih menjadi saksi banjir besar di Kota Solo yakni lonceng di GPIB. Menurutnya, lonceng tersebut sebelumnya berada di depan Gereja.

    “Lonceng itu menurut sejarah dibuat dua unit. Satu ada di sini dan satu ada di Jakarta atau di mana. Sejak awal berdiri, dulu berada di samping, tapi dirubah lonceng berada di menara gereja,” ucapnya.

    “Lonceng itu dibunyikan setiap mau ibadah, sebagai bentuk panggilan untuk beribadah, jam 8 pagi setiap hari Minggu,” lanjutnya.

    Menjadi gereja tertua di Solo, ia mengaku jemaat yang bergabung kebanyakan juga sudah berusia senja alias sudah sepuh-sepuh.

    “Jemaat dari mana saja dipersilakan, tapi kalau yang sudah di sini 125 hingga 150 kepala keluarga. Karena gereja tua, jemaat juga sudah sepuh-sepuh, biasanya satu kepala keluarga satu orang, misal tinggal bapaknya saja, tinggal ibunya saja,” pungkasnya.

    ——-

    Artikel ini telah naik di detikJateng.

    (wsw/wsw)



    Sumber : travel.detik.com

  • Bacaan Doa Tiba di Kampung Halaman Lengkap dengan Artinya



    Jakarta

    Sudah menjadi salah satu tradisi, apabila menjelang Lebaran tiba maka para muslim akan berbondong-bondong untuk mudik. Dalam hal ini, Rasulullah SAW menganjurkan untuk membaca doa ketika tiba di kampung halaman.

    Menurut Nasaruddin Umar dalam buku Kontemplasi Ramadan, mudik bagaikan sebuah kelengkapan pada Hari Raya Idul Fitri. Tujuan utama mudik ialah untuk bersilaturahmi dengan orang tua dan sanak keluarga yang berada di kampung halaman.

    Tidak hanya itu, bahkan ada beberapa yang mudik ke kampung halaman untuk berziarah ke makam orang tua. Mudik ke kampung halaman ini diwarnai dengan kegiatan silaturahmi atau semacam reuni dengan keluarga terdekat dan teman-teman sepermainan di masa kecil.


    Sesampainya di kampung halaman sebagai umat Islam kita dianjurkan untuk membaca doa tiba di kampung halaman. Doa ini termuat dalam hadits tentang safar.

    Doa Tiba di Kampung Halaman

    Merujuk pada buku Doa & Dzikir Umrah Amisya: Kumpulan Doa dan Dzikir Ibadah Umrah berikut bacaan doa tiba di kampung halaman:

    اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي نَصَرَنِي بِقَضَاءِ نُسُكِي وَحَفَظَنِيْ مِنْ وَعْتَاءِ السَّفَرِ حَتَّى أعُوْدَ إِلَى أَهْلِ . اَللهُمَّ بَارِكْ فِي حَيَاتِي بَعْدَ الْعُمْرَةِ وَاجْعَلْنِي مِنَ الصَّالِحِيْنَ.

    Arab latin: Alhamdulillaahil ladzzii nasharanii bi qadhaa’I nusukii wa hafadzanii min wa’tsaa’is safari hattaa a’uuda ilaa ahlii. Allaahummaa baarik fii hayaatii ba’dal umrati waj’alnii minash shaalihiin

    Artinya: “Segala puji bagi Allah yang telah memberikan pertolongan kepadaku untuk melaksanakan ibadah dan telah menjaga diriku dari kesulitan bepergian sehingga aku dapat kembali lagi. Ya Allah, berkatilah dalam hidupku setelah melaksanakan umrah dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang saleh.”

    Umat Islam juga dianjurkan untuk membaca doa begitu mulai memasuki kampung halaman. Mengutip Kitab Al-Fiqhu al-Islamiyyuu wa Adilatuhu karya Wahbah az-Zuhaili doa ketika melihat perbatasan kampung halaman,

    باسْمِ اللَّهِ اللَّهُمَّ إنِّي أسألُكَ خَيْرَها وَخَيْرَ أهلها وَخَيْرَ ما فِيها وأعُوذُ بِكَ مِنْ شَرّها وَشَرّ أهلها وَشَرّ مَا فِيهَا

    Bismillâh allâhumma innî as-aluka khaira hâdzihi-s-sûqi wa khaira mâ fîhâ wa a’ûdzubika min syarrihâ wa syarri mâ fîhâ. Allâhumma innî a’ûdzubika an ushîba fîhâ yamînan fâjiratan au shafqatan khâsiratan

    Artinya: “Ya Allah, aku memohon Engkau memberiku kebaikan negeri ini, kebaikan penduduknya, dan kebaikan apa saja yang ada di dalamnya; dan aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan negeri ini, kejahatan penduduknya, serta kejahatan apa pun yang ada di dalamnya.”

    Sementara itu Ali Manshur di dalam buku Untaian Mutiara Doa Solusi Problematika Umat: Bersumber dari Al-Qur’an dan Al-Hadits, menjelaskan hadits yang terkait dengan kembali bepergian dan melihat kampung halaman. Hadits ini dikeluarkan Imam Muslim dalam Shahih-nya.

    وَحَدَّثَنِي زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ: حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ عُلَيَّةَ، عَنْ يَحْيَ بْنِ إِسْحَاقَ قَالَ: قَالَ أَنَسُ بْنُ مَالِكِ: أَقْبَلْنَا مَعَ النَّبِيِّ ﷺ أَنَا وَأَبُوْ طَلْحَةَ وَصَفِيَّةُ رَدِيْفَتُهُ عَلَى نَاقَتِهِ، حَتَّى إِذَا كُنَّا بِظَهْرِ الْمَدِينَةِ، قَالَ: «آيبُوْنَ تَائِبُوْنَ عَابِدُونَ لِرَبِّنَا حَامِدُونَ». فَلَمْ يَزَلْ ذَالِكَ حَتَّى قَدِمْنَا الْمَدِينَةَ.

    Artinya: “Dan Zuhair bin Harb telah menceritakan padaku: Ismail bin Ulayyah telah menceritakan kepada kami: Dari Yahya bin Ishaq, ia berkata: Anas bin Malik berkata: Kami bersama Nabi Muhammad SAW, sata dan Abu Thalhah dan Shafiyyah menunggang untanya, sehingga ketika kami melihat Madinah, beliau berdoa: “Kami kembali dengan bertaubat, beribadah dan memuji kepada Tuhan kami.” Maka demikian itu berlangsung sampai kami memasuki Madinah.”

    Di dalam Kitab Al-Adzkar karya Imam Nawawi menjelaskan mengenai kewajiban sebagai seorang muslim untuk berdoa dan berzikir kepada Allah SWT.

    Hal ini diriwayatkan dalam Kitab At-Tirmidzi, dari Abdullah bin Busr RA seorang sahabat dari Nabi Muhammad SAW dia mengatakan bahwa seorang laki-laki berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aturan-aturan Islam telah banyak bagiku. Karena itu, beritahukan kepadaku sesuatu yang bisa menjadi peganganku,” Beliau berkata, “Hendaknya lidahmu senantiasa basah karena berzikir kepada Allah SWT.”

    Bukan hanya itu, diriwayatkan dalam Kitab At-Tirmidzi, dari Abu Sa’id Al Khudri RA, dia mengatakan bahwa Rasulullah SAW ditanya, “Manakah ibadah yang paling utama derajatnya di sisi Allah SWT pada hari kiamat?” Beliau menjawab, “Orang-orang yang banyak berzikir kepada Allah SWT.” Aku bertanya lagi, “Wahai Rasulullah SAW, bagaimana dengan orang yang berperang di jalan Allah SWT?” Beliau menjawab, “Kalaulah dia menebas dengan pedangnya terhadap orang-orang kafir dan musyrik hingga pedang tersebut patah dan dilumuri darah, maka orang-orang yang banyak berzikir kepada Allah SWT lebih utama derajatnya dibandingkan dengannya.”

    (kri/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Doa di Kampung Halaman, Dibaca Sebagai Ucapan Syukur


    Jakarta

    Bagi para perantau, melihat kampung halaman dan sanak keluarga adalah kebahagiaan yang tak terbendung. Sebagai ungkapan syukur, seorang muslim bisa mengamalkan doa.

    Idul Fitri menjadi momen untuk kumpul keluarga di kampung halaman. Saling berkunjung untuk silaturahmi seolah menjadi tradisi yang sudah mendarah daging.

    Kebahagiaan Hari Raya harus diungkapkan dengan syukur karena semua terjadi atas kehendak dan nikmat dari Allah SWT. Oleh karenanya seorang muslim dianjurkan untuk berdoa saat tiba di kampung halaman sebagai bentuk ucapan syukur.


    Dalam Al-Qur’an surat Ibrahim ayat 7, Allah SWT memerintahkan hamba-Nya untuk bersyukur. Dengan syukur, Allah SWT akan tambahkan nikmatnya.

    Allah SWT berfirman,

    وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ ٧

    Artinya: “(Ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku benar-benar sangat keras.”

    Dalam hadits dari Anas bin Malik RA, Rasulullah SAW bersabda,

    “Tidaklah Allah memberikan nikmat kepada seorang hamba kemudian ia mengatakan, ‘Alhamdulillah’ melainkan apa yang ia berikan itu lebih baik daripada yang ia ambil.” (HR Ibnu Majah)

    Doa ketika Tiba di Kampung Halaman

    Ungkapan syukur bisa dipanjatkan ketika tiba dengan selamat di kampung halaman.

    Mengutip buku Aku Datang Memenuhi Panggilan-Mu: Panduan Doa dan Ibadah oleh Freddy Rangkuti dan Siti Haniah menjelaskan, sesampainya di kampung halaman, seorang muslim dianjurkan melaksanakan salat sunah 2 rakaat sebagai tanda syukur telah kembali dengan selamat. Salat ini disunnahkan untuk didirikan di masjid yang berada di dekat rumah.

    Setelah selesai salat 2 rakaat, hendaklah mengucapkan doa.

    Doa ini diajarkan Rasulullah SAW kepada para sahabat agar kampung halaman itu memberikan keberkahan bagi penduduknya. Berikut bacaan doa Rasulullah SAW ketika melihat kampung halaman.

    Doa ini disebutkan oleh Imam An-Nawawi dalam karyanya Al-Adzkar.

    اَللَّهُمَّ اجْعَلْ لَنَا بِهَا قَرَارًا وَرِزْقًا حَسَنًا

    Arab Latin: Allâhummaj’al lanâ bihâ qarârâ, wa rizqan hasanâ

    Artinya, “Tuhanku, jadikan kampung ini tempat tinggal kami dan jadikan desa ini sebagai rezeki yang baik.”

    Kemudian bisa dilanjutkan dengan doa berikut z sebagaimana dijelaskan dalam buku Doa & Dzikir Umrah Amisya: Kumpulan Doa dan Dzikir Ibadah Umrah,

    اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي نَصَرَنِي بِقَضَاءِ نُسُكِي وَحَفَظَنِيْ مِنْ وَعْتَاءِ السَّفَرِ حَتَّى أعُوْدَ إِلَى أَهْلِ . اَللهُمَّ بَارِكْ فِي حَيَاتِي بَعْدَ الْعُمْرَةِ وَاجْعَلْنِي مِنَ الصَّالِحِيْنَ.

    Arab latin: Alhamdulillaahil ladzzii nasharanii bi qadhaa’I nusukii wa hafadzanii min wa’tsaa’is safari hattaa a’uuda ilaa ahlii. Allaahummaa baarik fii hayaatii ba’dal umrati waj’alnii minash shaalihiin

    Artinya: “Segala puji bagi Allah yang telah memberikan pertolongan kepadaku untuk melaksanakan ibadah dan telah menjaga diriku dari kesulitan bepergian sehingga aku dapat kembali lagi. Ya Allah, berkatilah dalam hidupku setelah melaksanakan umrah dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang saleh.”

    Umat Islam juga dianjurkan untuk membaca doa begitu mulai memasuki kampung halaman. Mengutip Kitab Al-Fiqhu al-Islamiyyuu wa Adilatuhu karya Wahbah az-Zuhaili doa ketika melihat perbatasan kampung halaman,

    باسْمِ اللَّهِ اللَّهُمَّ إنِّي أسألُكَ خَيْرَها وَخَيْرَ أهلها وَخَيْرَ ما فِيها وأعُوذُ بِكَ مِنْ شَرّها وَشَرّ أهلها وَشَرّ مَا فِيهَا

    Arab Latin: Bismillâh allâhumma innî as-aluka khaira hâdzihi-s-sûqi wa khaira mâ fîhâ wa a’ûdzubika min syarrihâ wa syarri mâ fîhâ. Allâhumma innî a’ûdzubika an ushîba fîhâ yamînan fâjiratan au shafqatan khâsiratan

    Artinya: “Ya Allah, aku memohon Engkau memberiku kebaikan negeri ini, kebaikan penduduknya, dan kebaikan apa saja yang ada di dalamnya; dan aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan negeri ini, kejahatan penduduknya, serta kejahatan apa pun yang ada di dalamnya.”

    Demikian beberapa bacaan doa yang bisa dipanjatkan ketika tiba di kampung halaman. Semoga nikmat Allah SWT tercurah kepada seluruh hamba-Nya.

    (dvs/erd)



    Sumber : www.detik.com