Tag: karbala

  • Tradisi yang Pikat Ribuan Wisatawan



    Jakarta

    Setiap 10 Muharam, yang tahun ini bertepatan pada 6 Juli 2025, warga Kota Pariaman, Sumatera Barat menggelar Pesona Hoyak Tabuik Piaman.

    Di balik dentuman tambur dan riuh rendah keramaian, terdapat belasan pasang tangan terampil merakit kayu, bambu, rotan, dan pernak-pernik menjadi ornamen setinggi belasan meter.

    Tabuik adalah tradisi budaya dan keagamaan yang berasal dari Kota Pariaman, Sumatera Barat. Tradisi ini dilaksanakan oleh masyarakat setempat setiap 10 Muharam untuk memperingati Hari Asyura, yaitu hari wafatnya Imam Husain Bin Ali, cucu Nabi Muhammad SAW, dalam perang Karbala.


    Ornamen itu dibangun menyerupai burak. Burak diyakini umat muslim sebagai kendaraan Nabi Muhammad SAW saat Isra Miraj. Makhluk ini juga dipercaya membawa jasad cucu orang yang paling dimuliakan dalam islam yakni Husain Bin Ali yang mati dipenggal di Karbala oleh tentara Yazid Bin Muawiyah.

    Karena dikisahkan membawa jenazah cucu kesayangan Nabi, maka di atas makhluk bersayap dan berkepala manusia itu terdapat wadah yang difungsikan sebagai keranda.

    Foto udara puluhan ribu pengunjung menyaksikan tabuik dibuang ke laut di Pariaman, Sumatera Barat, Minggu (21/7/2024). Dua tabuik dihoyak dan dibuang ke laut dalam rangka memperingati Hari Asyura (10 Muharram) 1446 Hijriyah sekaligus masuk dalam Kharisma Event Nusantara (KEN) Kemenparekraf. ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra/foc.Foto udara puluhan ribu pengunjung menyaksikan tabuik dibuang ke laut di Pariaman, Sumatera Barat tahun lalu. Foto: ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra

    Siang dan malam dengan cekatan para pembuat Tabuik menyelesaikan setiap tahapan agar tabuik dengan berat ratusan kilogram itu dapat selesai sebelum 10 Muharam. Mereka membuat berbagai komponen mulai dari rangka, badan burak, sayap, ekor, keranda, payung hingga hiasan dan pernik yang tidak saja untuk keindahan namun memiliki makna dan filosofi tersendiri.

    Proses pembuatan yang panjang dan detail itu cerminan dari penghormatan dan kecintaan masyarakat terhadap tradisi yang berkembang di daerah itu semenjak abad ke-19 Masehi.

    Ornamen yang merupakan representasi simbolik dari kendaraan burung dan keranda cucu Nabi Muhammad SAW itu dibuat tidak saja satu, namun dua. Masing-masing dibuat oleh kelompok berbeda yaitu Tabuik Pasa dan Tabuik Subarang.

    Keduanya saling menampilkan karya terbaik pada puncak kegiatan yakni saat prosesi Hoyak Tabuik, dan tabuik dilarung ke laut pada 10 Muharam.

    Salah seorang perajin Tabuik Subarang, Ade Ratman (43), mengatakan dirinya sudah enam tahun membuat ornamen yang diangkat dan dihoyak (digoyang-goyang) oleh puluhan orang itu. Ilmu itu didapatkannya dari mengikuti orang-orang di kelompoknya saat membuat tabuik.

    Menurut pemuda yang berprofesi sebagai perajin dan penjual suvenir tabuik itu, kesulitan dalam menyelesaikan ornamen tersebut yaitu saat membentuk burak. Hal tersebut karena tidak ada cetakan dan standar ukuran sedangkan badan makhluk itu direpresentasikan berlekuk.

    Namun, kesulitan itu merupakan tantangan tersendiri karena bagian tersebutlah yang paling digemari oleh ribuan pasang mata. Sebab, orang ingin melihat representasi dari burung yang ditunggangi Nabi Muhammad SAW.

    Foto udara puluhan ribu pengunjung menyaksikan tabuik dibuang ke laut di Pariaman, Sumatera Barat, Minggu (21/7/2024). Dua tabuik dihoyak dan dibuang ke laut dalam rangka memperingati Hari Asyura (10 Muharram) 1446 Hijriyah sekaligus masuk dalam Kharisma Event Nusantara (KEN) Kemenparekraf. ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra/foc.Tradisi Tabuik Pariaman Foto: ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra

    Tidak hanya prosesi pelarungan tabuik, proses pembuatannya juga digemari oleh wisatawan. Biasanya tempat pembuatan tabuik akan banyak dikunjungi wisatawan pada malam hari.

    Salah seorang wisatawan asal Padang Pariaman Muhammad Ari mengatakan dirinya sengaja membawa kedua anak dan istrinya ke lokasi pembuatan tabuik untuk mengenalkan bagaimana ornamen itu dibuat.

    Ornamen yang kerap mereka lihat ketika melintasi salah satu persimpangan di Pariaman, Simpang Tabuik. Di persimpangan itu dibangun Tugu Tabuik dengan dihiasi lampu sehingga memancarkan cahaya saat malam.

    Melihat proses pembuatan tabuik tersebut juga dapat menjawab rasa penasaran Ari dan keluarga bagaimana ornamen yang menarik ribuan wisatawan hingga rela berdesakan hanya untuk menyaksikan tabuik dihoyak dan dilarung ke laut itu dibuat.

    Proses pembuatan ini juga ditawarkan oleh Pemerintah Kota Pariaman kepada wisatawan. Bahkan untuk menarik minat wisatawan menyaksikan kegiatan yang menguras energi, komunitas di daerah itu pernah menggelar kegiatan hiburan tradisional.

    Selain itu, Pemerintah Kota Pariaman juga meminta pengelola penginapan untuk menjaga kesiapan kamar selama proses pembuatan tabuik hingga dibuang ke laut.

    Tidak heran di lokasi pembuatannya, yaitu di rumah tabuik, terdapat sejumlah pedagang kaki lima yang memanfaatkan momen tersebut untuk mengais rezeki. Makanan dan minuman yang dijual tidak saja yang bersifat tradisional khas daerah namun juga makanan kekinian.

    Prosesi Hoyak Tabuik serta pembuangan Tabuik ke laut juga membutuhkan puluhan orang yang bekerja sama dengan kompak. Sebab, dengan kekompakan itulah ornamen seberat 300 kilogram itu dapat diangkat dan dihoyak sehingga memukau ribuan wisatawan yang menyaksikan agenda tahunan di daerah itu.

    Pemerintah Kota Pariaman bersama masyarakat menjadwalkan pelaksanaan Pesona Hoyak Tabuik Piaman pada tahun ini dimulai sejak 27 Juni hingga 6 Juli 2025. Menurut Wali Kota Pariaman Yota Balad, tabuik bukan hanya sekadar tontonan belaka. Lebih dari itu, tabuik merupakan warisan budaya turun temurun yang sudah berusia ratusan tahun dan harus terus dilestarikan.

    “Jangan hubung-hubungkan tabuik dengan agama. Ini adalah tradisi,” ujarnya seperti dilansir dari Antara.

    (ddn/ddn)



    Sumber : travel.detik.com

  • Makna, Ragam Perayaan, dan Nilai Budaya


    Jakarta

    Setiap tanggal 10 Muharram dalam kalender Hijriyah, umat Islam di seluruh dunia memperingati hari istimewa yang dikenal dengan sebutan Hari Asyura. Di Indonesia, 10 Muharram bukan sekadar momentum keagamaan, tetapi juga telah berkembang menjadi sebuah tradisi budaya yang sarat nilai sosial dan spiritual.

    Ragam tradisi yang hidup di tengah masyarakat Nusantara menunjukkan betapa kayanya khazanah Islam lokal yang berpadu dengan budaya daerah.

    Makna 10 Muharram dalam Islam

    Mengutip buku Ringkasan Fikih Sunnah Sayyid Sabiq karya Syaikh Sulaiman, hari Asyura atau 10 Muharram memiliki banyak keutamaan dalam Islam. Rasulullah SAW sangat menganjurkan umatnya untuk berpuasa di hari Asyura, sebagaimana sabda beliau:


    “Puasa pada hari Asyura dapat menghapus dosa setahun yang lalu.” (HR. Muslim)

    Tradisi 10 Muharram di Indonesia

    Berikut beberapa tradisi unik yang digelar di berbagai daerah di Indonesia dalam rangka memperingati 10 Muharram:

    1. Lebaran Anak Yatim (Idul Yatama)

    Di banyak daerah seperti Jawa Tengah, Yogyakarta, Jakarta, dan Banten, 10 Muharram dikenal sebagai Hari Raya Anak Yatim atau Lebaran Yatim.

    Tradisi ini merujuk pada sabda Nabi Muhammad SAW,

    “Barang siapa mengusap kepala anak yatim pada hari Asyura, Allah akan mengangkat derajatnya di surga sebanyak rambut yang diusap.”

    Diriwayatkan dalam beberapa kitab hadis walau statusnya dhaif, namun diamalkan dalam konteks sosial.

    Masyarakat memanfaatkan momen ini untuk menyantuni anak yatim, mengadakan pengajian dan doa bersama serta memberikan hadiah dan bingkisan.

    2. Bubur Asyura

    Dikutip dari buku 70 Tradisi Unik Suku Bangsa di Indonesia karya Fitri Haryani Nasution, di beberapa wilayah seperti Minangkabau, Aceh, dan Kalimantan Selatan, masyarakat membuat makanan khas bernama Bubur Asyura. Bubur ini terbuat dari berbagai macam bahan seperti beras, kacang-kacangan, santan, dan rempah-rempah.

    Tradisi ini diyakini sebagai simbol syukur atas keselamatan dan rezeki yang diberikan Allah. Pembuatan bubur dilakukan secara gotong royong di masjid atau mushala, lalu dibagikan kepada warga sekitar.

    Di Aceh, acara ini disebut “Kanji Asyura”.
    Di Sumatera Barat, dikenal sebagai “Bubur Syuro”.

    3. Tabuik (Pariaman, Sumatera Barat)

    Salah satu tradisi paling meriah dan ikonik dalam memperingati 10 Muharram di Indonesia adalah Tabuik di Pariaman, Sumatera Barat. Tradisi ini berasal dari warisan budaya Islam yang mengalami akulturasi dengan masyarakat Minangkabau.

    “Tabuik” merupakan prosesi arak-arakan menara berbentuk kuda bersayap yang disebut Buraq, menggambarkan peristiwa syahidnya Sayyidina Husain di Karbala. Tradisi ini mencerminkan rasa duka dan penghormatan terhadap cucu Nabi Muhammad SAW.

    4. Sedekah dan Zikir Bersama

    Di berbagai daerah, umat Islam mengisi malam 10 Muharram dengan kegiatan zikir bersama, pembacaan doa akhir tahun dan awal tahun Hijriyah, pengajian hingga shalawat dan tausiyah.

    Misalnya di Madura dan Banyuwangi, malam 10 Muharram dikenal dengan kegiatan bancaan yakni doa bersama sambil makan hidangan bersama di mushala atau rumah warga.

    5. Mandi Asyura

    Di beberapa wilayah seperti Bima (NTB) dan sebagian kawasan pesisir, ada tradisi mandi bersama di sungai atau laut pada pagi hari 10 Muharram. Masyarakat percaya bahwa mandi pada hari itu membawa keberkahan dan mensucikan diri dari dosa.

    Meskipun tidak ada dalil khusus yang mengajarkan mandi Asyura, namun selama tidak diyakini sebagai kewajiban syar’i dan dilakukan sebagai bagian dari budaya, maka para ulama membolehkan.

    Mayoritas ulama membolehkan tradisi-tradisi lokal selama tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip dasar syariat. Tradisi seperti menyantuni anak yatim, bersedekah, membuat bubur Asyura, atau mengadakan pengajian dinilai positif karena menguatkan solidaritas sosial, menumbuhkan kecintaan kepada Rasulullah dan keluarganya, serta menyemarakkan hari-hari Islam.

    Namun, jika tradisi disertai dengan keyakinan yang bertentangan dengan akidah, seperti meyakini bahwa 10 Muharram adalah hari sial, melakukan ratapan berlebihan (niyahah), atau membuat ritual baru yang dianggap ibadah wajib, maka hal itu harus dihindari.

    (dvs/inf)



    Sumber : www.detik.com