Tag: karya seni digital

  • Masa depan NFT dan Peluang Besar yang Menjanjikan

    Belakangan ini, NFT selalu saja menjadi buah bibir, entah itu di media sosial maupun melalui pemberitaan. NFT dianggap sebagai sebuah metode investasi masa depan. Benarkah demikian? Selain itu, bagaimana perkembangan dan masa depan NFT nantinya, termasuk di Indonesia? Mari simak pembahasannya berikut ini!

    Membahas soal masa depan NFT tak akan lengkap tanpa membahas sejarahnya. NFT pertama yang terlacak di dunia adalah “Quantum” yang diciptakan Kevin McCoy pada 2014 dan dipresentasikan pada konferensi Seven on Seven New Museum, New York. Saat itu, NFT dianggap sebagai sebuah teknologi untuk monetisasi grafik.

     masa depan NFT - Kevin McCoy

    NFT Pertama di Dunia, “Quantum” (2014) oleh Kevin McCoy

    Sejak saat itu, NFT terus berkembang. Pada 2015, proyek NFT pertama yang bernama Etheria diluncurkan. Meski begitu, NFT baru benar-benar terdengar oleh publik pada akhir tahun 2017 saat proyek CryptoKitties viral. CryptoKitties merupakan proyek NFT berbasis online game atau NFT game. Dalam game tersebut, para pemain bisa bertukar kucing dalam dunia virtual.

    Popularitas NFT mencapai puncaknya pada tahun 2021, diawali dengan seniman digital ternama yaitu Beeple yang merilis NFT art pertamanya dengan judul “Everyday: The First 5000 Days”. Berkat popularitasnya tersebut, blockchain yang menjadi buku besar’ bagi NFT pun makin pesat perkembangannya hingga melahirkan tiga raksasa, yaitu Ethereum, Flow, dan Tezos. Kini, NFT menjadi alat untuk memperdagangkan aset digital, terutama yang berhubungan dengan seni atau NFT art.

    Baca juga: Wajib Tahu! Inilah Ragam Jenis NFT yang Diperjualbelikan

    Apakah NFT Art Menguntungkan Seniman?

    Apakah NFT Art Menguntungkan Seniman?Seperti yang telah disebutkan pada poin sebelumnya, NFT kini digunakan sebagai alat komodifikasi aset digital yang berhubungan dengan seni. Lalu, apakah dengan begitu seniman akan diuntungkan dengan adanya NFT?

    Jawabannya, ya. NFT membuka peluang bagi para seniman termasuk digital artist untuk menjual karyanya secara langsung. Selain itu, NFT juga memberikan esensi penting karya seni, yaitu orisinalitas. Aset digital yang dijual dengan NFT tidak bisa digandakan karena sudah tersimpan dalam blockchain.

    Akan tetapi, bukankah karya digital dapat di-copy dan diunduh siapa saja? Nah, di sinilah letak keunikan NFT. Meski suatu karya bisa diperbanyak, tapi yang bisa dianggap orisinil hanya ada satu di dunia, dikarenakan dalam karya tersebut telah dipatenkan sebuah kode unik yang membuat karya tersebut otentik. Ibarat lukisan “The Starry Night” milik Van Gogh yang sudah direplikasi dan bahkan diubah medianya berulang kali, yang bisa dikatakan asli adalah tetap yang tersimpan di Museum of Modern Art.

    Masa Depan NFT di Sektor Lain

    Lalu, bagaimana dengan masa depan NFT? Benarkah NFT juga akan merambah ke sektor lain? 

    Selain digital art, kini NFT sudah mulai diterapkan pada beberapa hal lain, seperti musik dan bahkan interaksi sosial. Sebab, kepemilikan NFT sangat unik. Di satu sisi, NFT bisa memberikan kuasa kepada kolektor atas objek yang diciptakan oleh kreator. Namun, di sisi lain, kepemilikan tersebut juga terbatas. Berikut adalah beberapa rencana penerapan NFT pada beberapa sektor lain, beserta gambaran masa depannya.

    1.NFT dalam Real Estate

    NFT dalam Real EstateSelama ini, industri real estate dianggap sebagai sebuah investasi yang menjanjikan dan minim risiko. Namun, jika melihat situasi saat ini, sektor real estate rasanya sudah memasuki masa saturasi. Dapat dilihat dengan semakin sedikitnya luas tanah yang bisa dibangun dan risiko penipuan semakin besar. Dengan demikian, migrasi ke NFT bisa menjadi solusi.

    Dengan memindahkan sertifikat bangunan atau kontrak pembangunan real estate ke NFT dan menyimpannya dalam blockchain, investor bisa meminimalisir risiko penipuan. Di masa depan, bukan tidak mungkin lagi jika sertifikat bangunan konvensional akan berubah menjadi sebuah aset digital  yang tersimpan dalam blockchain.

    2. Kehidupan Sosial

    Sektor berikutnya yang berpotensi merasakan efek NFT adalah kehidupan sosial manusia. Bagaimana bisa? Saat ini, sudah terdapat  perusahaan yang mulai tertarik untuk menciptakan ‘dunia alternatif’ melalui Metaverse, gagasan milik pendiri Facebook yaitu Mark Zuckerberg. 

    Metaverse merupakan sebuah dunia virtual yang penggunaannya diharapkan bisa mendekati pengalaman di dunia nyata. Pasalnya, Metaverse akan memanfaatkan kelima teknologi yaitu media sosial, game online, Augmented Reality (AR), Virtual Reality (VR), hingga kripto. 

    Dalam Metaverse, Anda bisa menciptakan “‘kehidupan baru’”, berinteraksi dengan orang lain secara virtual tetapi dengan rasa yang nyata, hingga mengeksplor dunia baru tersebut. 

    Dikarenakan akan memanfaatkan teknologi kripto, Metaverse sendiri dinilai bisa mendorong penggunaan NFT ke jumlah yang lebih masif. 

    Jika penggunaan NFT diibaratkan dalam Metaverse, nantinya NFT akan berperan sebagai aset di dunia nyata. Seperti misalnya, untuk membeli avatar di Metaverse, Anda bisa menjual NFT art. Selain itu, nda juga dapat mengajak teman virtual untuk mendengarkan NFT music bersama-sama di rumah virtual.

    Dari sini, bisa disimpulkan bahwa popularitas NFT masih akan terus berjalan, lho. Bahkan, bisa dibilang baru dimulai. Ingin menjadi bagian dari perkembangan masa depan NFT di Indonesia? Tidak sulit, kok, Anda bisa bergabung sebagai Official Partner (kreator) dan juga Creator (kolektor) di TokoMall. Ayo daftarkan diri Anda di TokoMall sekarang juga!



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Inilah 4 Mural Artists yang Berhasil Menjual Karyanya Sebagai NFT

    Istilah ‘mural’ tidak jarang menimbulkan konotasi negatif. Padahal, mural merupakan jenis karya seni, lho, dan tidak semua berkaitan dengan vandalisme. Para mural artists juga memiliki keterampilan khusus dalam menggambar, tidak kalah dengan seniman rupa. Terbukti dengan banyak di antara mereka yang sudah mulai berkiprah di dunia NFT dan berhasil meraup banyak dari penjualan karya seninya. Penasaran siapa saja?

    Eits, sebelum itu, mari kita bahas mengenai mural secara umum terlebih dulu. Yuk, baca terus artikel ini!

    Apa Itu Mural?

    Mengutip situs Imural, mural adalah sebuah karya seni berupa gambar atau lukisan yang memanfaatkan media yang luas dan ‘terlihat’, seperti pada dinding, tembok, hingga tidak sedikit pula yang melakukannya di atas jalanan. Seniman di balik mural biasanya disebut dengan mural artists. Sudah banyak seniman mural yang terkenal di dunia, seperti Banksy, Lady Pink, dan masih banyak lagi.

    Mural sendiri masuk ke dalam golongan street art, di mana umumnya karya seni ini dibuat sesuai dengan hukum alias legal, meskipun sebenarnya peraturannya tetap bergantung pada masing-masing negara. Selain itu, mural juga lebih memungkinkan para seniman untuk mendapatkan bayaran atas karya seni miliknya tersebut. 

    Sebagai contoh, kini mural sudah berkembang tidak hanya digambar di dinding bangunan bagian luar saja, tetapi juga bagian dalam dari bangunan atau ruangan. Sudah banyak bisnis dari berbagai sektor yang menggunakan jasa mural artists untuk meramaikan ruangan miliknya. Selain itu, seniman mural juga sudah banyak yang ikut merambah ke seni digital.

    Perbedaan Mural dan Graffiti

    Perbedaan Mural dan Graffiti

    Dikarenakan menggunakan media yang sama dengan graffiti, masih banyak yang belum mengetahui bahwa mural sebenarnya berbeda dengan graffiti. Dilansir dari situs Columbia Edu, seni graffiti sudah ada sebelum munculnya street art dan mural. Namun, keduanya memang saling berkaitan karena inspirasi gaya seni mural juga tak lepas dari graffiti.

    Perbedaan lainnya adalah dalam pendekatannya. Jika mural lebih terstruktur dan mengutamakan gambar, maka graffiti lebih mengambil pendekatan teks sebagai ekspresi langsung dari masyarakat. Hal inilah yang membuat graffiti memiliki pengaruh besar dalam perkembangan budaya. Mayoritas graffiti juga digambar secara bebas dan tidak selalu memiliki makna yang jelas, bergantung pada keinginan pembuatnya.

    Partisipasi Street Art dalam NFT Melalui Mural

    Seiring perkembangan teknologi terlebih blockchain, banyak seniman yang memperluas jangkauannya, salah satunya dengan menjual karya seni miliknya lewat NFT. Tidak hanya seniman rupa hingga visual saja, tetapi juga sudah mulai banyak street artist yang ikut terjun ke NFT, lho! Hal ini menunjukkan bahwa adopsi seni terhadap NFT sebenarnya bersifat tidak terbatas.

    Baca juga: Atasi Era Digital dengan Digitalisasi Karya Seni 2 Dimensi

    Migrasi street art ke NFT ini tentunya diawali dengan banyaknya mural artists ternama yang menjual mural miliknya ke dalam NFT. Jadi, dilakukan digitalisasi karya seni untuk kemudian menerbitkannya ke dalam NFT. Umumnya, para seniman menaruh karya seni tersebut dalam sebuah lelang. Hal ini tentunya menambah daftar adopsi NFT oleh seni konvensional, dalam hal ini adalah street art.

    4 Mural Artists yang Menjual Karyanya Menjadi NFT

    Nah, berikut ini terdapat 4 seniman mural Artists yang menjual karyanya menjadi NFT:

    1. Loro Masnah (Another Flex on the Wall)

    Pada Oktober lalu, seorang seniman mural asal Kolombia bernama Loro Masnah bersama timnya menggambar mural di tembok di Williamsburg, berupa replikasi dari koleksi NFT ternama yang telah terjual sebelumnya. Proses penggambaran mural ini tentunya bisa terjadi setelah mendapatkan izin dari para pemilik gedung juga kolektor NFT.

    The wall

    “Street Cool Cat “The Beast” 2665” oleh Another Flex on the Wall

    Masnah membuka kesempatan bagi para kolektor untuk mendapatkan jatah karya seni mural di atas tembok tersebut, dengan cara membeli koleksi NFT spesialnya yang diberi nama “Another Flex on the Wall” terlebih dulu. Beberapa koleksi NFT yang berhasil di-recreate oleh Masnah, antara lain “Cool Cat “The Beast” 2665” dan “Board Ape “CryptoPainter” #768”.

    2. Pascal Boyart

    Seniman mural yang satu ini awalnya dikenal dengan muralnya yang bertajuk “Liberty Leading the People”. Tidak hanya di atas tembok saja, ia kemudian mengubah karya seni tersebut ke dalam versi digital dan di-mint menjadi NFT. 

    Nft project

    “Contemplations of the Red Jester” oleh Pascal Boyart

    Tidak sampai situ saja, Boyart juga menjual versi digital dari muralnya yang lain ke dalam bentuk NFT yang bertajuk “Contemplations of the Red Jester”. NFT tersebut berhasil terjual di harga USD 112.000 pada akhir Februari lalu. Hingga saat ini, Boyart sudah mendigitalisasi lebih dari 10 mural miliknya menjadi NFT.

    3. Jason Peterson

    Seniman yang satu ini sebenarnya merupakan seorang fotografer asal Amerika Serikat, tetapi berhasil berkolaborasi dengan seniman Tubszilla dalam menggambar sebuah mural dengan konsep potret dari Kanye West. Untuk mengapresiasi jutaan pengunjung yang telah mendatangi lokasi mural di West Loop Chicago, Peterson akhirnya memutuskan untuk menjadikan mural tersebut menjadi NFT.

    Mural NFT art street

    “41°53’07.9″N 87°39’04.9″W Mural NFT” oleh Jason Peterson

    Hal unik dari NFT ini adalah Peterson juga menyediakan QR code pada mural, yang jika di-scan maka akan muncul siapa saja para pemilik dari NFT tersebut. NFT ini berhasil dilelang pada bulan Oktober lalu dan terjual di harga 1512 AVAX atau sekitar 119.296 USD (harga fluktuatif).

    4. Austin Zucchini-Fowler

    Pada Maret lalu, seniman mural Austin Zucchini-Fowler meluncurkan NFT berupa versi digital dari mural miliknya yang sangat terkenal, bertajuk “Healthcare Hero”. Mural yang terletak di Colfax Avenue ini mengisahkan perjuangan tenaga kesehatan dalam melawan pandemi COVID-19.

    Mural digital

    “Healthcare Hero” oleh Austin Zucchini-Fowler

    Zucchini-Fowler kemudian menjadikan mural tersebut ke dalam versi digital dan melelangnya sebagai NFT. Pelelangan ini berlangsung mulai tanggal 31 Maret hingga 12 April 2021 lalu. Hingga kini, Zucchini-Fowler telah merilis banyak NFT yang merupakan versi digital dari mural miliknya.

    Ternyata, partisipasi para mural artists terhadap blockchain khususnya NFT sudah mulai meningkat. Hal ini membuktikan bahwa NFT tidak terbatas hanya untuk seniman rupa saja, tetapi seniman lain juga bisa ikut serta menjual karya seninya dalam bentuk digital. Bagi Anda yang tertarik dengan NFT, segera daftarkan diri Anda sebagai Official Partner (Kreator) dan juga Creator (Kolektor) di TokoMall!



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Berikut Ini Alasan Banyak Orang Mengoleksi Karya Seni Digital NFT

    Beberapa waktu belakangan ini publik diramaikan oleh kehadiran karya seni digital kripto atau NFT art. Mudahnya, NFT atau Non Fungible Token ini dapat diartikan sebagai sebuah token yang tidak bisa tergantikan maupun dibuat ulang. NFT art sendiri bisa dipahami sebagai karya seni digital yang sudah melalui proses tokenisasi di blockchain dan memiliki kode unik tersendiri yang menandai bahwa karya seni tersebut terjamin keasliannya. 

    Kehadiran NFT art seakan membawa angin segar bagi para seniman yang mengalami kebuntuan karena tak bisa melangsungkan pameran secara langsung dikarenakan pandemi COVID-19. Seiring makin banyaknya seniman yang berpindah haluan untuk tokenisasi karya seni mereka menjadi sebuah NFT art, para kolektor pun turut meramaikan ekosistem ini.

    Alasan NFT Art cocok untuk investasi jangka panjang

    Lantas, apakah yang menyebabkan kolektor pun seakan turut meramaikan ekosistem NFT art? Tentu saja alasan untuk investasi pun diyakini oleh para kolektor selain hanya untuk mengoleksinya. 

    Berikut kami hadirkan beberapa alasan mengapa NFT art cocok digunakan sebagai investasi jangka panjang Anda: 

    1. NFT Art Punya Value yang Tinggi

    Layaknya seperti yang terjadi pada karya seni konvensional, para kolektor tentunya akan memilih sebuah karya yang mereka anggap memiliki value yang tinggi. Nah, hal ini tentunya terjadi pula pada NFT art. Value yang tinggi ini bisa dilihat dari beberapa faktor, misalnya nilai historis atau bisa dari ketenaran kreator yang membuat NFT art tersebut. 

    Mari kita ambil contoh dengan NFT termahal Everydays: The First 500 Days milik “Beeple” Winkelmann seorang seniman digital terkenal. Karena ia sudah memiliki popularitas dan tentunya kredibilitas di kalangannya, tak ayal membuat orang memperebutkan untuk memiliki karyanya. Tak tanggung-tanggung, karya dari Winkelmann ini terjual seharga US$69.3 atau setara Rp 1,009 triliun di rumah lelang seni Christie’s, lho!

    2. Kualitas Karya yang Tidak Diragukan Lagi

    Alasan seorang kolektor dalam memilih karya seni yang ingin dikoleksinya pastinya tak lepas dari kualitas dari karya itu sendiri. Karya yang memiliki value yang tinggi tentunya membutuhkan proses yang panjang dalam pembuatannya. 

    Proses ketika menghasilkan NFT art yang tak mudah inilah yang juga mempengaruhi harga yang ada. Nah, mahalnya harga yang dipengaruhi dari kualitas karya dan value yang ada itulah yang menjadikan NFT art sangat diminati para kolektor. 

    3. Memiliki Potensi di Masa Depan

    Makin banyaknya investor aset kripto tentunya mempengaruhi semakin mahalnya harga-harga dari koin yang ada. Selain itu, ditambah meluasnya adaptasi aset kripto di berbagai lini tentunya menjadikan NFT art memiliki potensi yang baik di masa depan. 

    Mari kita ambil contoh dari NFT pertama “Crypto Kitty”, NFT gambar kucing yang senilai 600 ETH ini menjadi cikal bakal kepopuleran NFT di tahun 2017 silam. Di tahun itu, harga NFT tersebut hanyalah senilai sekitar US$170 ribu. Tak tanggung-tanggung, jika menggunakan rate ETH saat ini harganya mampu mencapai US$ 2,3 juta atau setara hampir 30 miliar! Fantastis, kan

    Cara Mudah Beli Nft Art Di Tokomall untuk Investasi Jangka Panjang

    Kini, Anda tak perlu bersusah payah mencari marketplace terpercaya untuk melihat dan membeli koleksi NFT art dari creators yang ada di Indonesia! TokoMall dari Tokocrypto hadir untuk memudahkan Anda dalam membeli NFT art-nya.

    Caranya mudah, Anda tinggal mengunjungi https://mall.tokoscape.com/  dan klik User pada bar dan halaman Log In akan muncul. Oh iya, sebelumnya pastikan Anda telah mempunyai wallet terlebih dahulu di Metamask. Setelah Anda berhasil menghubungkan wallet milik Anda, maka akan muncul pilihan role dan pilih Kolektor. Isi form profil Anda dan selesaikan registrasi. 

    Setelah berhasil, Anda bisa langsung berselancar untuk melihat-lihat hasil karya dari creators di Indonesia. Yuk, daftarkan diri Anda dan segera koleksi karya seni digital kripto sebagai salah satu sarana investasi Anda sekarang juga!



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Apa itu NFT Art dan 4 Faktor NFT Art Banyak Dibeli

    Saat ini, banyak beredar NFT dengan harga begitu tinggi hingga miliaran Rupiah. Meskipun mungkin terlihat non-affordable, nyatanya tetap saja ada pembelinya. Salah satu contohnya adalah fenomena Ghozali Everyday pada awal Januari 2022 lalu. Meskipun floor price-nya di awal rendah, setelah harganya menjulang masih banyak yang berburu NFT tersebut. Lalu, mengapa NFT art begitu populer hingga meraup nominal selangit? Simak ulasannya berikut ini!

    Sekilas Mengenai Apa Itu NFT Art

    Jadi, NFT art adalah salah satu jenis NFT yang diperjualbelikan berupa suatu karya seni, bisa lukisan, seni visual, ilustrasi, hingga foto. Kegiatan jual-beli NFT tersebut dilakukan menggunakan aset kripto, misalnya Bitcoin (BTC) atau Ethereum (ETH). Namun, berbeda dari benda atau aset lain, NFT memiliki nilai jual yang tidak sepadan.

    NFT biasanya berupa aset digital yang mewakili dunia nyata, meliputi seni, musik, game item, dan lain-lain. Salah satu yang banyak diperjualbelikan adalah seni, yang lebih dikenal dengan NFT art.  

    Baca juga: Apa Itu NFT Art? Yuk Kenali Istilah dan Manfaatnya

    Selain Ghozali, seorang seniman digital bernama Pak berhasil menjual NFT yang dinamai “The Merge” seharga 91,8 juta Dolar AS atau sekitar Rp1,31 triliun! Berkat nilai jualnya tersebut, “The Merge” menduduki peringkat pertama NFT termahal yang pernah terjual sepanjang tahun 2021, mengalahkan “EVERYDAYS: The First 5000 Days” milik Beeple yang terjual seharga 69,3 juta dolar AS atau setara Rp991 miliar.

    tampilan nifty gateway

    Nah, nominal yang selangit bukan tanpa alasan. NFT hadir untuk membuat suatu kreasi digital menjadi karya yang orisinal dan diperjualbelikan secara terbatas. 

    Sesuai hukum ekonomi, ketika suatu barang tergolong langka, maka permintaan akan naik, sehingga harga barang pun ikut naik. Hal ini memicu orang-orang untuk berambisi memiliki suatu karya seni yang benar-benar asli dari karya digital tersebut.

    Ketika membeli sebuah kreasi digital berupa NFT, Anda tidak mendapatkan barang tersebut, melainkan sertifikat autentikasi bawaannya. 

    Sertifikat autentikasi bernama “digital bragging rights” ini tercatat di blockchain sebagai bukti validasi kepemilikan, dan kolektor NFT menghargai sertifikat ini lebih dari barang itu sendiri. Itulah yang menjadi daya tarik sehingga menyebabkan banyak orang kini berbondong-bondong membeli NFT art.

    4 Faktor Penyebab Suatu NFT Art Banyak Dibeli

    illustrasi token nft

    Jika dilihat dari histori transaksinya selama ini, berikut ini adalah empat faktor yang menyebabkan suatu NFT art banyak diburu dan dibeli oleh banyak orang.

    1. Konten dan seniman di baliknya yang trustworthy

    Alasan utama yang menjadikan NFT art kerap menarik hati banyak kolektornya adalah berkat konten NFT itu sendiri. Sebab, dengan NFT, para kreator bisa dengan bebas berkarya dan menemukan audiensnya masing-masing, tidak terpaku pada satu jenis aliran seni saja. Sesaat suatu NFT memiliki nilai keunikan tersendiri, maka akan banyak kolektor yang tertarik. Konten dari NFT art juga tidak terbatas hanya pada lukisan dan ilustrasi saja, tetapi juga bisa foto, kolase, dan lainnya.

    Selain itu, seniman alias kreator yang berada di baliknya pun bisa menjadi faktor suatu NFT banyak dibeli. Seperti halnya yang terjadi pada pasar seni konvensional, di mana semakin dikenal luas seorang seniman, maka semakin tinggi pula value yang dimilikinya. Keberadaan seniman di baliknya itulah yang semakin membuat NFT tersebut trustworthy untuk dibeli. 

    2. Jumlahnya hanya ada 1 di dunia 

    Jika membahas di pasar seni konvensional, karya seni biasanya hanya ada satu yang asli dan lainnya merupakan salinan. Karya asli dapat diidentifikasi berdasarkan data reproduksinya, sedangkan karya salinan banyak digandakan dan diperjualbelikan dengan bebas. Hal ini menyebabkan harga barang dari karya yang asli justru menurun, karena orang bisa mendapatkan karya salinan yang persis sama dengan harga yang jauh lebih murah.

    Sementara itu, NFT art menghadirkan karya dalam bentuk digital, sehingga wujudnya berupa file data. Dengan wujud tersebut, justru proses penggandaan akan jauh lebih mudah. Lalu, apa yang membuat NFT berbeda dengan karya seni konvensional? 

    Disini diterapkan fungsi kepemilikan yang terletak pada sertifikat autentikasi bawaannya, bukan pada karyanya. Dengan ‘hak milik’ yang jelas validitasnya inilah orang akan cenderung berambisi untuk memilikinya, tidak peduli banyak orang yang kemudian menduplikasinya karena tetap ia lah sang pemilik asli dari karya seni tersebut. 

    Selain itu, tiap NFT yang diterbitkan pun hanya terdapat 1 keping saja, alias tidak ada yang sama di dunia. Hal itu juga yang mendorong banyak orang untuk memilikinya.

    3. Bersifat original dan transparan

    Segala aktivitas transaksi dalam dunia digital memang rawan anonim, meski begitu semuanya tetap dapat terlacak karena sifatnya yang transparan. NFT art selalu dapat dijamin orisinalitasnya karena adanya transparansi tersebut. Seluruh aktivitas transaksi blockchain sepenuhnya tersedia untuk umum, sehingga para kolektor bisa melihat siapakah pemilik dari suatu NFT art saat ini beserta histori transaksinya. 

    Meski begitu, tetap penting bagi para kolektor untuk melakukan riset terhadap proyek NFT, ya, sebab tidak sedikit pula para kreator yang melakukan aktivitas copy minting atau menggunakan karya seni orang lain yang sudah ada untuk dijadikan NFT.

    4. Dapat dijadikan instrumen investasi 

    Baru-baru ini, NFT telah memasuki luxury market dengan aktivitasnya yang semakin merambah ke produk-produk mewah mengutip Futurity. Hal ini pun ditandai dengan banyaknya brand mewah ternama yang terus ikut mengadopsi NFT, seperti Louis Vuitton, Givenchy, dan masih banyak lagi. 

    Oleh sebab itu, kini, NFT sudah dianggap sebagai barang mewah yang ada di dunia digital, sehingga banyak orang yang memburunya. 

    Berdasarkan hal ini, bagi orang-orang yang menggemari barang mewah, NFT dapat dijadikan sebagai instrumen investasi, karena NFT dianggap punya potensi untuk menjadi lebih besar lagi nilainya di masa depan, apalagi jika diterbitkan oleh seniman yang trustworthy dan konten yang unik dan menarik, berbeda dari aliran seni kebanyakan.
    Sekarang, apakah Anda sudah tertarik untuk menjelajahi dunia NFT art? Yuk, mulai eksplorasi di TokoMall! Sebagai salah satu pionir marketplace NFT di Indonesia, Anda bisa membeli dan juga menjual NFT milik Anda, lho! Segera daftarkan diri Anda di TokoMall dan gabung komunitas NFT TokoMall di Telegram dan juga Discord!



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Panduan untuk Pemula yang Ingin Terjun ke Dunia NFT

    Seiring booming-nya NFT swafoto milik Ghozali berapa waktu belakangan ini membuat banyak orang yang ingin terjun ke dunia NFT. Sayangnya, tak semua orang bersikap bijak. Padahal NFT untuk pemula bukanlah hal yang mudah karena dibutuhkan keseriusan dalam mempelajari teknologi dan seluk-beluk blockchain serta NFT. 

    Di tengah hingar-bingarnya pemberitaan Ghozali yang berhasil menjual NFT-nya di OpenSea tersebut, muncul beberapa kasus di mana terdapat oknum yang tidak menggunakan platform NFT dengan benar. Salah satunya, terdapat orang yang mengunggah foto swafoto orang lain bersama KTP-nya. 

    foto ktp nft yang viral

    Source: Tweet from Crypto Fess

    Lantas, apa yang harus dilakukan oleh seorang pemula? Baca terus artikel ini, yuk!

    Apa itu NFT? 

    NFT atau non-fungible token adalah aset kripto yang unik karena tidak bisa dipertukarkan dengan aset lainnya. Berbeda dengan aset kripto lainnya yang bisa dipertukarkan dengan nilai yang jelas karena tak ada perhitungan yang pasti untuk menentukan nilai dari suatu NFT. 

    NFT tak serta merta booming begitu saja di 2 tahun terakhir. Melansir “The History of Non-Fungible Tokens” yang ditulis oleh Andrew Steinwold, NFT bermula dari Colored Coins pada tahun 2012. Colored Coins ini adalah teknologi dalam blockchain

    Blockchain ini bisa digambarkan seperti buku besar digital yang di mana berfungsi untuk mencatat dan menyimpan data, mencatat setiap data yang terhubung di tiap transaksi, maupun mengautentikasi sertifikat keaslian untuk setiap item NFT. Bentuknya pun bisa bermacam-macam dan berbentuk benda koleksi digital. Misalnya lukisan, foto, karya seni keramik, lagu, album, avatar game, hingga tiket konser! 

    Nah, NFT ini dimanfaatkan oleh kreator untuk memamerkan atau menjual karyanya di marketplace seperti OpenSea atau TokoMall. Terlepas dari jenis karya seninya, setidaknya NFT menghadirkan angin segar dan cara baru bagi kreator. Terlebih 2 tahun ini keterbatasan akibat Pandemi COVID-19 dapat kita rasakan, terutama bagi seniman yang harus memamerkan atau menjual karyanya secara langsung. 

    Baca juga: Cara Mudah Membuat NFT dan Rekomendasi Platform untuk Pemula

    4 Hal yang Harus Diperhatikan oleh Kreator Pemula 

    1. NFT adalah Proses yang Panjang

    Melahirkan karya NFT yang bernilai dan dapat terjual tidaklah dilakukan hanya sehari dua hari saja. Terlepas dari pembuatan artwork yang memang tak sebentar, kreator sebaiknya menjalani proses awal ketika terjun ke dunia NFT. 

    Setidaknya ada beberapa hal yang harus dipahami oleh para pemula sebelum membeli atau mempelajari NFT. Dimulai dengan belajar dari centralized dan decentralized dari aset kripto itu sendiri,  barulah kemudian konsep serta masa depan dari  NFT itu sendiri.

    Belum lagi ngulik dan pemilihan marketplace mana yang cocok bagi Anda pun perlu waktu. Setelah artwork selesai, kreator harus melalui proses minting atau proses mengunggah artwork tersebut ke dalam sistem blockchain. Mudahnya sih meng-NFT-kan karya. 

    Tak sampai situ, ada proses shilling atau promosi juga perlu kreator lalui sampai karya tersebut terjual. Dan, ya! Tentunya proses ini berjalan panjang dan membutuhkan waktu yang tidak sebentar.

    2. Butuh Promosi

    contoh nft untuk pemula

    Selayaknya karya seni biasa yang butuh promosi, koleksi NFT pun juga. Promosi NFT bisa dilakukan dengan berbagai cara. Anda bisa melakukannya di social media, situs resmi, atau juga di komunitas. Ini dilakukan agar NFT Anda memiliki kredibilitas dan dapat dipercaya oleh pembeli. 

    3. Tak Semua Karya Bisa Terjual Cepat

    Kendati Anda sudah mengupload banyak NFT di marketplace, bukan berarti dapat terjual dengan cepat. Balik lagi, proses promosi yang ada juga turut mendukung. Ini kembali lagi pada timing bertemunya antara Anda dengan si calon pembeli. Dan kita semua sepakat, tidak ada yang tahu pasti kapan waktunya, kan?

    4. Selektif dalam Menjual Karya

    Setidaknya ada 3 pilar yang harus Anda pahami ketika membuat karya NFT. Rarity atau kelangkaan, utility atau value tambahan yang ditawarkan Anda ke kolektor, dan community atau ketertarikan yang sama dari banyak individu ketika menghasilkan value

    Dilansir dari CNBC Indonesia, terdapat beberapa orang yang menjual barang dagangan seperti ayam, pakaian, hingga perabotan mereka di OpenSea layaknya sebuah marketplace e-commerce. Tentu hal ini bukanlah hal yang bijak untuk kita ulangi kembali. Nyatanya karya yang akan Anda hasilkan tentunya akan membangun branding dan persona diri Anda sendiri. Maka selektif dalam menjual karya yang ada haruslah dilakukan. 

    TokoMall, marketplace Indonesia hadir bagi NFT untuk pemula seperti Anda dan siapa saja yang ingin memamerkan karyanya. Yuk, kunjungi TokoMall dan komunitas resmi NFT TokoMall  sekarang juga!





    Sumber : news.tokocrypto.com