Tag: kebaikan

  • Doa ketika Hujan, Panjatkan Sebagai Bentuk Syukur Atas Nikmat Allah SWT



    Jakarta

    Hujan adalah nikmat dari Allah SWT yang diturunkan dari langit untuk makhluk di bumi. Sebagai bentuk syukur sekaligus untuk memohon perlindungan, umat Islam dianjurkan untuk membaca doa ketika hujan.

    Hujan menjadi sumber kehidupan, sebagaimana Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an surat Al-Anbiya ayat 30,

    أَوَلَمْ يَرَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوٓا۟ أَنَّ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ كَانَتَا رَتْقًا فَفَتَقْنَٰهُمَا ۖ وَجَعَلْنَا مِنَ ٱلْمَآءِ كُلَّ شَىْءٍ حَىٍّ ۖ أَفَلَا يُؤْمِنُونَ


    Artinya: Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?

    Dalam hadits dari Sahl bin Sa’d, ia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda,

    ثِنْتَانِ مَا تُرَدَّانِ الدُّعَاءُ عِنْدَ النِّدَاءِوَ تَحْتَ المَطَرِ

    Artinya: Dua doa yang tidak akan ditolak, doa ketika adzan dan doa ketika ketika turunnya hujan.

    Doa saat Hujan

    1. Doa saat Hujan

    Ketika turun hujan, umat Islam bisa membaca doa berikut,

    اللَّهُمَّ اجْعَلْهُ صَيِّبًا نَافِعًا

    Arab latin: Allahummaj’alhu shayyiban naafi’an.

    Artinya: “Ya Allah, jadikanlah hujan ini bermanfaat.”

    2. Doa saat Hujan Lebat

    Saat hujan turun lebat, bisa mengamalkan doa berikut,

    اللَّهُمّ حَوَالَيْنَا وَلَا عَلَيْنَا,اللَّهُمَّ عَلَى الْآكَامِ وَالْجِبَالِ وَالظِّرَابِ وَبُطُونِ الْأَوْدِيَةِ وَمَنَابِتِ الشَّجَرِ

    Arab latin: Allahumma haawalaina wa laa ‘alaina. Allahumma ‘alal aakami wal jibaali, wazh zhiroobi, wa buthunil awdiyati, wa manaabitisy syajari.

    Artinya: “Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami, bukan untuk merusak kami. Ya Allah, turunkan lah hujan ke dataran tinggi, gunung-gunung, bukit-bukit, perut lembah, dan tempat tumbuhnya pepohonan.”

    3. Doa saat Hujan Disertai Petir

    Ketika hujan disertai petir, umat Islam bisa membaca doa berikut sebanyak tiga kali,

    سُبْحانَ الَّذي يُسَبِّحُ الرَّعْدُ بِحَمْدِهِ وَالمَلائِكَةُ مِنْ خِيفَتِهِ

    Arab latin: Subhaanal ladzii yusabbihur ra’du bihamdihii wal malaa-ikatu min khiifatih.’

    Artinya: “Mahasuci Allah, Yang petir bertasbih dengan memuji kepada-Nya, dan para malaikat takut kepada-Nya.”

    Anjuran doa saat melihat petir berasal dari Abdullah bin Zubair RA, Rasulullah SAW bersabda:

    “Mahasuci Zat, yang petir selalu membaca tasbih dengan memuji-Nya dan juga para malaikat pun bertasbih memuji-Nya karena takut kepada-Nya”. Kemudian ia berkata, ‘Sesungguhnya ini adalah peringatan yang sangat keras dari Allah kepada para penghuni bumi, yaitu ancaman turunnya petir, banjir, dan sebagainya. Doa ini dikutip dari surah Ar-Ra’d ayat 13″. (HR Malik)

    4. Doa saat Hujan Disertai Angin Kencang

    اَللهُمَّ إِنِّيْ أَسْئَلُكَ خَيْرَهَا وَخَيْرَ مَا فِيْهَا وَخَيْرَمَا اُرْسِلَتْ بِهِ وَاَعُوْذُبِكَ مِنْ شَرِّهَا وَشَرِّمَا فِيْهَا وَشَرِّمَا اُرْسِلَتْ بِهِ

    Arab latin: Allaahumma innii as-aluka khoirohaa wa khoiro maa fiihaa wa khoiro maa ursilat bih. Wa-a’uudzubika min syarrihaa wa syarri maa fiihaa wa khoiro maa ursilat bih

    Artinya: “Ya Allah, saya memohon kepada-Mu kebaikan angin ini, kebaikan yang ada di dalamnya, dan kebaikan yang Engkau kirim bersamanya. Dan saya berlindung kepada-Mu dari kejahatan angin ini, kejahatan yang ada di dalamnya, dan kejahatan yang Engkau kirim bersamanya,”

    5. Doa setelah Turun Hujan

    Doa syukur setelah turun hujan bisa diamalkan sebagai bentuk syukur atas nikmat dari Allah SWT.

    مُطِرْنَا بِفَضْلِ اللَّهِ وَرَحْمَتِهِ

    Arab latin: Muthirnaa bi-fadhlillaahi wa rahmatih.

    Artinya: “Kita diberi hujan karena karunia dan rahmat Allah.”

    (dvs/lus)



    Sumber : www.detik.com

  • Arti Ungkapan Alhamdulillah Ala Kulli Hal, Tulisan Arab dan Waktu Membacanya


    Jakarta

    Sering kali kita menghadapi situasi yang tidak sesuai harapan. Di saat seperti ini, penting untuk mengingat ungkapan Alhamdulillahi ‘ala kulli hal. Apa sebenarnya maksud dari kalimat tersebut?

    Alhamdulillahi ‘ala kulli hal adalah ungkapan syukur yang menunjukkan kepasrahan dan keridhaan seorang hamba terhadap segala ketetapan Allah.

    Tulisan Arab Alhamdulillah Ala Kulli Hal dan Artinya

    الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ


    Arab latin: Alhamdulillahi ‘ala kulli hal

    Artinya: Segala puji bagi Allah atas setiap keadaan.

    Berdasarkan buku Jangan Hancur karena Keadaan (Dunia Takkan Berhenti Berputar hanya karena Kamu Tidak Baik-Baik Saja) karya Fitri Handayani menjelaskan bahwa ungkapan Alhamdulillah ala kulli hal adalah ucapan yang diajarkan untuk diucapkan ketika kita menghadapi hal-hal yang tidak sesuai dengan keinginan kita.

    Meskipun situasi tersebut sulit atau tidak sesuai harapan, kita harus tetap bersyukur dan menerima takdir Allah dengan ikhlas.

    Sebagaimana hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda:

    “Orang yang selalu bersyukur atas nikmat yang diberikan oleh Allah SWT sama dengan orang yang berpuasa.” (HR Ibnu Majah)

    Hadits ini menunjukkan betapa besar keutamaan sikap syukur dalam Islam. Rasulullah SAW menggambarkan orang yang senantiasa bersyukur atas nikmat Allah memiliki derajat yang sama dengan orang yang berpuasa.

    Hal ini menegaskan bahwa bersyukur bukan hanya sekadar ucapan, tetapi juga bentuk ibadah yang memiliki nilai tinggi di sisi Allah.

    Waktu Terbaik Mengucapkan Alhamdulillah Ala Kulli Hal

    Setiap hari, barangkali ada di antara kita yang sering mengalami hal-hal yang tidak sesuai dengan harapan. Terkadang, rencana yang kita buat malah tidak berjalan seperti yang diinginkan.

    Namun, kita bisa belajar dari setiap kejadian dan percaya bahwa ada kebaikan di baliknya. Ketika lelah atau kecewa datang, kita harus tetap bersyukur dan mengingat bahwa segala yang terjadi adalah bagian dari rencana Allah.

    Inilah saat yang tepat untuk mengucapkan “Alhamdulillah Ala Kulli Hal,” karena kita yakin bahwa semua yang terjadi adalah yang terbaik dari-Nya.

    Perbedaannya dengan Alhamdulillah Bini’matihi Tatimmush Shalihaat

    Dari Aisyah RA, kebiasaan Rasulullah SAW ketika menyaksikan hal-hal yang beliau sukai adalah mengucapkan, “Bi ni’matihi tatimmus shalihat.” Sedangkan jika beliau menyaksikan hal-hal yang tidak menyenangkan, beliau mengucapkan, “Alhamdulillah ‘ala kulli hal” (HR Ibnu Majah), yang dikutip dari buku Ingatlah Allah, Allah akan Mengingatmu susunan D.A. Akhyar.

    Kedua kalimat ini menunjukkan sikap syukur Rasulullah SAW terhadap segala keadaan. “Bi ni’matihi tatimmus shalihat” digunakan untuk mengungkapkan rasa syukur atas nikmat dan kebaikan, sementara “Alhamdulillah ‘ala kulli hal” digunakan untuk tetap bersyukur meskipun dalam kondisi yang tidak menyenangkan.

    Ucapan-ucapan ini mengajarkan kita untuk senantiasa mengingat Allah dan bersyukur, baik dalam keadaan yang menyenangkan maupun yang penuh ujian.

    (inf/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Mengenal Mushab bin Umair, Sahabat Rasulullah yang Punya Senyum Menawan



    Jakarta

    Ada beberapa sahabat Rasulullah SAW yang memiliki ciri khas unik, seperti salah satunya Mushab bin Umair. Mushab dikenal sebagai sosok yang murah senyum.

    Mengutip buku Agar Cinta Bersemi Indah karya M. Fauzil Adhim dijelaskan Mushab berasal dari keluarga terpandang suku Quraisy. Ia berasal dari keluarga yang kaya sehingga hidupnya diliputi kemewahan.

    Setelah masuk Islam, Mushab meninggalkan kehidupan mewahnya. Mushab hidup dengan sederhana namun keimanan dan akhlaknya yang tumbuh semakin kaya.


    Mushab bin Umair memiliki gelar Mushab al-Khair yang artinya Mushab yang baik. Kebaikan bukan hanya terpancar dari tingkah lakunya tetapi juga dari senyumnya yang teduh dan menawan.

    Di awal penyebaran Islam, senyuman Mushab banyak berjasa dalam meluluhkan hati orang-orang musyrik yang memusuhi. Ia menarik banyak orang, termasuk para pemimpin bangsa Arab, bukan dengan kerasnya sikap dan kasarnya ucapan. Ia menaklukkan hati orang-orang melalui senyuman yang hangat dan santun setiap kali memperkenalkan ajaran Islam.

    Usaid bin Hudair Masuk Islam setelah Bertemu Mushab

    Suatu ketika, Mushab mendatangi satu kabilah untuk mengajak masuk Islam. Pemimpin mereka adalah Usaid bin Hudair dan Sa’ad bin Mu’adz, mereka musyrikin yang sangat berpengaruh.

    Ketika mengetahui Mushab al-Khair datang bersama As’ad bin Jurarah, Sa’ad bin Mu’adz segera menyuruh Usaid bin Hudair untuk menemui kedua sahabat ini agar tidak mempengaruhi keyakinan orang-orang yang ada dalam kepemimpinannya. Dengan tombak yang siap dihunjamkan, Usaid bin Hudair menemui Mushab.

    Bukan untuk mengajaknya berbicara secara santun dari hati ke hati, tetapi dengan memaki dan hampir-hampir menyakiti kalau saja tidak ada As’ad bin Jurarah. Sebab, sekalipun mereka sangat membenci keislaman As’ad, tetapi mereka menaruh hormat kepada keluarga As’ad bin Jurarah.

    Usaid bin Hudair menanti Mushab dengan mata memerah menahan amarah. Begitu Mushab tiba, ia langsung memaki-maki dengan perkataan yang menyakitkan. Akan tetapi, Mushab menanggapinya dengan senyuman hangat. Tanpa menahan kemarahannya, Usaid berkata, “Mau apa kalian datang kepada kami lalu menipu orang-orang bodoh di antara kami. Pergilah kalau kalian masih memerlukan napas kalian!!!”

    Mushab bin Umair berkata, tetap dengan tersenyum ramah, “Bagaimana kalau engkau duduk sebentar. Kita berbincang-bincang sejenak. Kalau engkau senang, terimalah. Kalau engkau tidak senang, engkau dijauhkan dari apa yang tidak engkau senangi.”

    Berhadapan dengan kata-kata Mushab yang santun dan senyumannya yang tulus, hati Usaid bin Hudair luluh. Ia berkata, “Engkau benar.” Ia lalu meletakkan tombak di tanah.

    Sejenak kemudian, Mushab bin Umair menerangkan Islam dengan kata-kata yang terpilih dan senyuman penuh kasih. Ia bacakan Al-Qur’an kepada Usaid bin Hudair. Ketika melihat Usaid mendengarkan dengan penuh perhatian, ia berkata, “Demi Allah, aku sudah melihat di wajahmu keislaman sebelum aku berbicara.”

    Usaid bin Hudair tertegun. Ia berkata, “Alangkah indahnya perkataanmu itu. Kalau ada orang yang berkeinginan masuk Islam, bagaimanakah caranya?”

    “Engkau mandi, bersuci, bersihkan pakaianmu, kemudian ucapkan kalimat syahadat. Sesudah itu, engkau shalat,” kata Mushab bin Umair dan As’adbin Jurarah.

    Mereka baru saja menjinakkan hati Usaid bin Hudair dengan senyuman, keramahan, dan kata-kata terpilih. Yang awalnya keras memusuhi, berubah menjadi ketundukan berkat sikap yang santun dan keinginan yang kuat untuk mengajak manusia pada kebenaran.

    Sesudah menyatakan keislamannya, Usaid bin Hudair menunjukkan kepada Mushab al-Khair dan As’ad bin Jurarah agar mengajak Sa’ad bin Mu’adz kepada Islam sebab dialah pemimpin yang paling disegani. Kalau Sa’ad bin Mu’adz dapat tersentuh hatinya, niscaya orang-orang yang ada di belakangnya semua akan mengikuti Islam.

    Singkat cerita, mereka akhirnya menyentuh hati Saʻad bin Mu’adz dengan lembutnya perkataan, tulusnya senyuman, dan kuatnya keinginan untuk mengajak manusia kepada kebenaran. Sa’ad bin Mu’adz menyatakan keislamannya, kemudian diikuti oleh seluruh kaumnya. Kelak, mereka inilah yang menjadi jalan masuknya hidayah Allah kepada hati orang-orang Anshar.

    Wallahu ‘alam.

    (dvs/inf)



    Sumber : www.detik.com