Tag: kebugaran fisik

  • Lari Sebelum atau Setelah Sarapan, Mana yang Lebih Baik untuk Tubuh?


    Jakarta

    Lari dan sarapan merupakan dua aktivitas yang dapat membuat tubuh menjadi segar dan bersemangat untuk menjalani aktivitas seharian. Selain itu, keduanya juga dapat meningkatkan produktivitas dan membantu kita jauh lebih fokus.

    Namun pertanyaannya, apakah sebaiknya lari dilakukan sebelum atau sesudah sarapan?

    Beberapa orang memilih untuk sarapan terlebih dahulu sebelum berlari untuk menghindari masalah seperti sakit perut atau lemas. Namun, sebagian lainnya merasa baik-baik saja jika melakukan lari pagi sebelum sarapan.


    Mengutip dari detikHealth, olahraga dan pemenuhan nutrisi merupakan dua aspek penting yang saling berpengaruh. Studi menunjukkan bahwa respon tubuh terhadap olahraga berbeda-beda tergantung apakah seseorang sudah makan atau belum.

    Sarapan sebelum lari penting untuk dilakukan namun juga bisa diabaikan tergantung intensitas larinya. Tubuh manusia tetap membutuhkan energi untuk melakukan berbagai aktivitas fisik.

    Bagi detikers yang tetap ingin sarapan sebelum lari pagi, maka sebaiknya dapat memilih makanan yang tepat untuk menjaga stamina tubuh.

    Berikut beberapa rekomendasi jenis makanan yang dapat dimakan sebelum mulai lari pagi:

    1. Putih telur
      Bagian putih dalam telur mengandung kalium, magnesium, kalsium, hingga vitamin yang bermanfaat bagi tubuh. Selain itu, putih telur juga kaya akan protein sehingga detikers dapat menjalani lari tanpa harus merasa kelaparan atau malah kenyang berlebihan.
    2. Pisang
      Salah satu buah yang bisa dikonsumsi sebelum lari yaitu pisang. Buah yang kaya akan potasium ini memiliki kandungan yang mudah dicerna dan dapat memperkuat stamina namun tetap membuat tubuh terasa ringan.
    3. Dada ayam
      Makanan kaya akan protein lainnya yaitu dada ayam. Daging pada dada ayam mengandung 27 gram protein dan vitamin B6, sehingga sangat cocok meningkatkan daya tahan tubuh.
    4. Roti panggang
      Roti panggang mengandung karbohidrat yang dapat mengembalikan energi yang digunakan saat berlari. Dengan begitu, detikers tidak akan merasa cepat lelah.
    5. Oatmeal
      Oatmeal merupakan makanan berbahan dasar gandum yang kaya akan serat dan karbohidrat. Saat sarapan dengan oatmeal, tubuh akan mencerna karbohidrat sehingga gula darah akan tetap stabil selama berlari.

    Demikianlah jawaban terkait pernyataan apakah sebaiknya sarapan atau tidak sebelum berolahraga lari pagi. Semoga dapat membantu ya, detikers!

    Artikel ini ditulis oleh Salamah Harahap, peserta magang di detikcom.

    (krs/krs)

    Sumber : sport.detik.com

    Alhamdulillah lapangan olahraga اللهم صل على رسول الله محمد
    ilustrasi gambar : unsplash.com / sandro schuh
  • Yoga in the City untuk Kampanye Hidup Sehat


    Jakarta

    Ada banyak cara untuk mengampanyekan hidup sehat di era modern saat ini. Salah satunya lewat Yoga in the City, apa itu?

    Yoga in the City adalah salah satu perayaan tahunan yang hadir sejak 2023, digagas oleh Evolution Wellness yang membawahi tiga brand pusat kebugaran ternama di Indonesia.

    Acara ini digelar untuk merayakan World Wellness Weekend, sebuah gerakan global yang dirayakan di lebih dari 150 negara. Di Indonesia sendiri, ada tiga acara.


    Selain Yoga in the City yang digelar di Jakarta, ada juga Yoga in the Park di Bandung dan Surabaya, serta festival kebugaran yakni Fitness for Fame di Yogyakarta, Semarang, dan Bali.

    Untuk tahun ini, Yoga in the City digelar di pinggir pantai Ancol, Minggu (21/9) dengan dihadiri lebih dari 250 peserta, menjadikannya salah satu event yoga terbesar di Jakarta.

    Tidak hanya rangkaian gerakan yoga, peserta juga merasakan pengalaman sound healing yang menghadirkan relaksasi tubuh dan pikiran. Sesi yoga di tepi pantai saat matahari terbenam semakin menambah ketenangan, menciptakan momen yoga yang lebih intim dan penuh makna.

    Di saat bersamaan, Yoga in the Park juga digelar di Bumi Surabaya City Resort Surabaya 20 September, yang diikuti lebih dari 100 peserta. Selanjutnya, Yoga in the Park hadir di InterContinental Bandung, juga dengan 100 peserta yang antusias mengikuti sesi yoga outdoor.

    Lalu, Fitness for Fame yang digelar di Yogyakarta, Semarang, dan Bali, menghadirkan beragam aktivitas kebugaran seperti BodyCombat, Core Motion (cardio dance), Saltar (trampoline), hingga Hyrox yang menggabungkan keseruan, energi, dan komunitas dalam satu perayaan kebugaran yang inklusif.

    “Melalui rangkaian acara ini, kami ingin meningkatkan kesadaran masyarakat sekaligus mengajak lebih banyak orang untuk memulai, menjaga konsistensi, dan menginspirasi lingkungan sekitarnya melalui aktivitas olahraga. Dengan begitu, setiap individu dapat merasakan peningkatan kualitas hidup, baik dari sisi kesehatan, kebugaran fisik, maupun kesejahteraan mental,” ujar Triesca Ariesandy selaku Head of Fitness Celebrity Fitness, Fitness First Indonesia dan GoFit Indonesia dalam rilis kepada detikSport.

    Untuk mengikuti perkembangan World Wellness Weekend, dapat mengunjungi akun instagram @celebrityfitnessindonesia dan @fitnessfirst_id.

    (mrp/pur)



    Sumber : sport.detik.com

  • Dokter Ungkap Cara Melakukan ‘Japanese Walking’ agar Manfaatnya Maksimal


    Jakarta

    Salah satu tren kebugaran terbaru yang tengah populer di media sosial adalah ‘Japanese walking’, yaitu rutinitas berjalan kaki selama 30 menit dengan mengombinasikan jalan santai dan jalan cepat secara bergantian.

    Japanese walking tergolong latihan yang singkat, mudah diakses, dan tidak membutuhkan fasilitas khusus seperti keanggotaan gym atau peralatan mahal. Cukup keluar rumah dan mulai berjalan, siapa pun bisa melakukannya.

    “Yang saya sukai dari Japanese walking adalah semua orang bisa melakukannya,” ujar dr Irvin Sulapas, dokter spesialis kedokteran olahraga sekaligus profesor di UTHealth Houston, dikutip CNN.


    “Kamu tidak perlu melakukan olahraga intensitas tinggi yang membuat tubuh pegal dan lelah untuk mendapatkan manfaat bagi kesehatan.”

    Latihan ini pertama kali dikembangkan oleh peneliti Jepang lebih dari 20 tahun lalu, dengan tujuan untuk meningkatkan kebugaran fisik pada orang paruh baya dan lansia, sekaligus membantu mencegah penyakit terkait gaya hidup seperti diabetes dan obesitas.

    Penelitian terbaru yang dipublikasikan pada tahun 2025 menunjukkan lansia yang rutin menjalani latihan Japanese walking selama lima bulan mengalami peningkatan signifikan pada tekanan darah istirahat, kekuatan otot tungkai bawah, serta VO₂ max, indikator utama kebugaran jantung dan daya tahan aerobik.

    Temuan ini diyakini menjadi salah satu pemicu meningkatnya popularitas Japanese walking dalam beberapa waktu terakhir.

    Menurut dr Sergiu Darabant, dokter spesialis jantung di Miami Cardiac & Vascular Institute, bagian dari Baptist Health South Florida, latihan jalan cepat dengan interval intensitas tinggi, seperti Japanese walking, terbukti memberikan manfaat besar bagi kesehatan jantung dan kebugaran secara keseluruhan.

    “Namun, jalan kaki ala Jepang menarik bagi banyak orang karena menawarkan akses untuk berolahraga dari gaya hidup yang kurang gerak,” kata dr Darabant.

    “Tidak mengintimidasi.”

    Cara Memulai Japanese Walking

    Dalam studi tahun 2007, para peneliti menginstruksikan peserta untuk bergantian antara tiga menit jalan cepat dengan intensitas sekitar 70 persen dari kapasitas aerobik puncak (setara dengan intensitas sedang hingga tinggi), lalu tiga menit jalan lebih lambat dengan intensitas sekitar 40 persen, yang termasuk kategori ringan. Pola ini dilakukan selama setidaknya 30 menit, empat hari dalam seminggu.

    Rekomendasi tersebut masih relevan hingga kini. Namun, dr Darabant menyarankan agar latihan ini dilakukan lima kali seminggu. Dengan begitu, seseorang dapat mencapai 150 menit aktivitas aerobik intensitas sedang per minggu, sesuai anjuran dari American Heart Association (AHA).

    Bagaimana mengetahui apakah kecepatan jalan sudah cukup cepat? Menurut dr Darabant, cukup berjalan secepat mungkin tanpa sampai berlari.

    “Umumnya, jalan cepat dianggap sekitar 6,5 km per jam, meskipun setiap orang berbeda,” kata Sulapas. 6,5 km per jam setara dengan kecepatan 15 menit per km.

    Seperti halnya olahraga lain, keamanan tetap menjadi hal utama. Sebelum mencoba Japanese walking, sebaiknya konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter, dan hentikan segera jika muncul rasa nyeri.

    Latihan ini juga bisa dilakukan di dalam ruangan menggunakan treadmill, terutama jika kondisi jalan di luar tidak mendukung, misalnya licin, tidak rata, atau kurang aman.

    “Jika menggunakan treadmill, atur kemiringannya pada 1-2 persen,” saran dr Sulapas.

    Kemiringan ini paling mendekati tingkat resistensi alami saat berjalan di luar ruangan.”

    Namun, jika memungkinkan, melakukan Japanese walking di luar ruangan, terutama di alam terbuka, menjadi pilihan terbaik,

    “Berinteraksi langsung dengan alam memberikan manfaat 100 persen. Tidak hanya meningkatkan kebugaran fisik, tetapi juga membantu menenangkan pikiran, mengurangi kecemasan, dan memperkuat koneksi dengan lingkungan sekitar,” kata dr Darabant.

    (suc/suc)



    Sumber : health.detik.com