Tag: kecelakaan

  • Pelajaran dari Kecelakaan Maut Avanza Overload, Penumpang Wajib Pakai Seatbelt



    Jakarta

    Sebuah mobil Toyota Avanza mengalami kecelakaan maut di Tol Pekanbaru-Bangkinang, Kampar, Riau. Mobil berpelat nomor BM 1596 LM itu terbalik akibat pecah ban. Dilaporkan, mobil mengangkut penumpang melebihi kapasitas maksimal.

    Sebagai mobil MPV, Toyota Avanza hanya memiliki kapasitas muat tujuh orang. Namun dikutip detikSumut, mobil ini dimuat 11 orang, termasuk anak-anak. Kecelakaan itu mengakibatkan satu dari 11 penumpang yang ada di dalam mobil tewas.

    Kasat Lantas Polres Kampar AKP Viola menyebut mobil itu over kapasitas karena diisi 11 penumpang. Selain orang dewasa, di mobil tersebut juga ada anak-anak.


    “Empat (orang di jok) tengah, tiga belakang termasuk dua anak umur 2 dan umur 3 tahun dipangku, dua depan,” jelasnya.

    Dari kacamata keselamatan berkendara, mengangkut penumpang melebihi kapasitas maksimal jelas tidak aman. Kelebihan muatan ini membuat handling sopir tidak terkendali. Setir goyang sedikit saja mobil pasti oleng.

    “Ini yang banyak diremehkan para pemilik kendaraan. Isi muatan atau barang sesuai dengan kemampuan unit dan ban. Semakin berat muatan semakin besar hilangnya keseimbangan kendaraan apalagi harus stop and go, menikung ngerem bahkan kalau ada muatan yang diletakkan tidak seimbang di dalamnya. Nah jumlah penumpang nih sering juga diabaikan. Kabin kendaraan bukan koper yang bisa dimuat barang dengan padat-padatan. Penumpang harus duduk nyaman sesuai jumlah safety belt. Karena sekalipun duduk harus ada ruang bergerak saat mobil bermanuver salah satunya mengantisipasi saat mobil selip,” kata praktisi keselamatan berkendara sekaligus Director Training Safety Defensive Consultant Indonesia (SDCI), Sony Susmana, kepada detikOto, Minggu (24/12/2023).

    Penggunaan safety belt untuk semua penghuni mobil juga menjadi kewajiban. Dengan memakai safety belt, ketika mobil terguling seperti kejadian Avanza ini maka badan tidak terlempar ke sana ke mari sehingga meminimalisir dampak fatal.

    “Safety belt itu fitur pengaman yang utama. Memang tidak menjamin keselamatan, tapi paling tidak mengurangi risiko cedera. Tapi nggak manfaat juga pakai safety belt kalau ternyata ada beberapa orang yang nggak pakai, justru saat mobil terguling yang nggak pakai safety belt akan mencederai yang pakai safety belt. Nah pakai safety belt jangan cuma diklik buckle-nya aja tapi shoulder belt-nya harus dipastikan rapat ke badan,” jelas Sony.

    Mengangkut penumpang melebihi kapasitas kendaraan juga mempengaruhi kinerja ban. Bahkan, jumlah penumpang yang melebihi kapasitas dapat menyebabkan ban pecah.

    “Pastinya. Karena ban ada aturan maksimal load-nya yang tidak boleh diabaikan,” ucap Sony.

    (rgr/mhg)



    Sumber : oto.detik.com

  • Belajar dari Kecelakaan Maut Pajero, Ngebut dan Ban Pecah Kombinasi Mematikan



    Jakarta

    Pajero Sport yang dikendarai salah satu caleg DPRD Kabupaten Ogan Ilir mengalami kecelakaan. Caleg DPRD dari PPP itu meninggal dunia karena kecelakaan tersebut.

    Peristiwa kecelakaan itu terjadi di Tol Palembang-Indralaya (Palindra) di Ogan Ilir (OI), Sumatera Selatan. Dilaporkan detikSumbagsel, sopir Pajero itu tewas usai terpental dan terkapar di badan jalan.

    Mobil diduga melaju dengan kecepatan tinggi. Tiba-tiba mobil mengalami pecah ban belakang. Akhirnya sopir hilang kendali dan mobil tersebut menabrak pembatasan jalan bagian kanan.


    “Diduga mobil itu ngebut dan pecah ban bagian belakang kemudian hilang kendali dan menabrak median masih yang berada di tengah jalan (sisi kanan pengendara),” kata Kanit PJR Ditlantas Polda Sumsel ruas Tol Palindra, Iptu Rudi Suwarman.

    Praktisi keselamatan berkendara sekaligus Director Training Safety Defensive Consultant Indonesia (SDCI) Sony Susmana mengatakan ban pecah memang membuat pengendara sulit mengendalikan laju mobil. Apalagi kalau mobil tengah dipacu di kecepatan tinggi.

    “Ban kendaraan pecah dan kendaraan masih bisa dikontrol itu di kecepatan maksimal 60 km/jam. Di atas itu rata-rata berujung kecelakaan,” kata Sony kepada detikOto, Minggu (7/1/2024).

    Bukan tanpa alasan, Sony pernah melakukan simulasi di lingkungan tertutup. Menurutnya, ketika ban mobil pecah di atas 80 km/jam, mobil cenderung sulit dikendalikan.

    “Tahun 1994-2008 saya tugas di Sirkuit Sentul (Sentul Safety Driving). Materi yang berulang-ulang saya praktikkan adalah Tire Blowup (simulasi ban pecah). Itu pun saya tetap nggak bisa kontrol jika simulasi pecah ban dan kecepatan kendaraan di atas 80 km/jam,” sebut Sony.

    Kecelakaan akibat ban pecah juga beberapa kali membuat mobil terguling. Menurut Sony, mobil bisa terguling saat ban pecah karena benturan atau setelah ban pecah rem diinjak sehingga sudut mobil berubah kemudian rem langsung dilepas.

    “Tetapi ada tindakan yang mungkin bisa meminimalisir risiko bahaya. Pertama tahan setir ke arah tujuan. Kedua, lepaskan kaki dari pedal-pedal yang ada di bawah. Kenapa?
    Pedal rem diinjak maka mobil melintir, pedal gas diinjak maka arah mobil liar. Pedal kopling (mobil manual) diinjak maka free wheel (tidak ada perlambatan). Pindah gear ke rendah buang-buang waktu,” jelasnya.

    Sony juga menyoroti kondisi pengemudi yang terlempar keluar dari mobil. Dia meyakini sopir tersebut kemungkinan tidak pakai sabuk pengaman.

    “Kalau dia pakai safety belt, kecil kemungkinan terlempar keluar dari kabin,” sebutnya.

    (rgr/mhg)



    Sumber : oto.detik.com

  • Pelajaran dari Mobil SUV Terguling Setelah Nyalip di Bahu Jalan



    Jakarta

    Viral di media sosial mobil berjenis SUV terguling setelah ngebut di bahu jalan. Ini pelajaran pentingnya agar kecelakaan serupa tidak terulang lagi.

    Video detik-detik mobil terguling di jalan tol akibat menyalip dari bahu jalan diunggah akun Instagram @lensa_berita_jakarta. Dilaporkan, peristiwa itu terjadi pada akhir pekan kemarin di Tol Tangerang arah Jakarta.

    Dalam video yang viral itu tampak dua mobil sedang melaju kencang di bahu jalan. Mereka melaju lebih cepat daripada kendaraan lain di lajur biasa.


    Mobil berkelir hitam, yang diduga merupakan Toyota Harrier, melaju kencang dengan jarak yang sangat dekat dengan kendaraan putih di depannya. Tiba-tiba di depannya lagi ada sedan yang berada di bahu jalan.

    Kendaraan putih mampu menghindar. Tapi nahas, karena melaju dengan kecepatan tinggi di bahu jalan ditambah jarak yang sangat dekat, mobil hitam tak bisa menghindar dan menabrak sedan yang tengah berada di bahu jalan. Sejurus kemudian, mobil hitam itu terguling.

    Menurut praktisi keselamatan berkendara yang juga Director Training Safety Defensive Consultant Indonesia (SDCI), Sony Susmana, pelajaran penting dari kejadian ini adalah jangan menjadikan bahu jalan untuk kebut-kebutan. Ditegaskan, bahu jalan hanya untuk keadaan darurat.

    “Mereka-mereka yang lewat bahu jalan hanya tinggal tunggu waktu kecelakaan kok. Bukan karena mereka nggak trampil, tapi memang tidak punya pengetahuan tentang bahu jalan yang sempit, licin karena berdebu, berbeda layer bahkan mengagetkan pengemudi yang ada di lajur kiri,” kata Sony kepada detikOto, Selasa (27/2/2024).

    Menurut Sony, masih banyak pengendara yang memanfaatkan bahu jalan untuk menghindari kemacetan. Mereka mengabaikan keselamatan hanya pikiran sesaat karena lebih cepat dan tidak kena macet.

    Padahal, semakin kencang kendaraan melaju di bahu jalan, maka semakin besar ruang toleransi yang dibutuhkan. Di sisi lain, ruang di bahu jalan sangat sempit.

    “Risikonya bisa menyerempet kendaraan di sampingnya,” ucap Sony.

    Selain itu, lanjut Sony, melaju di bahu jalan juga mudah hilang keseimbangan. Sebab, rata-rata bahu jalan licin dan layer yang berbeda-beda.

    “Risikonya selip dan menabrak kendaraan di sekitarnya atau bahkan melintir,” ucapnya.

    Sony menyebut, kendaraan yang lewat bahu jalan dengan badan jalan memiliki perbedaan kecepatan yang signifikan. Dengan kondisi itu, kata Sony, tidak semua pengemudi siap menghadapinya. “Risikonya kaget dan menimbulkan emosi,” sebutnya.

    Selain itu, Sony juga menyoroti pengendara yang berhenti di bahu jalan. Memang saat kondisi darurat mobil bisa berhenti sementara di bahu jalan, tapi ada aturan yang harus dipenuhi agar tidak ditabrak dari belakang.

    “Hidupkan lampu hazard dan pasang segitiga pengaman di belakang sepanjang dua kali panjang mobil atau lihat sikonnya. Dan jangan juga melakukan perbaikan kendaraan yang rusak di bahu jalan,” katanya.

    (rgr/din)



    Sumber : oto.detik.com

  • Pelajaran dari Porsche Tabrak Livina di Tol Kejapanan



    Jakarta

    Mobil sport Porsche 911 Carrera S dengan nomor polisi B 333 LKA terlibat kecelakaan di Tol Kejapanan ke Sidoarjo. Porsche itu menabrak Nissan Grand Livina.

    Tidak ada korban jiwa dalam kecelakaan ini. Namun dilaporkan, satu orang luka berat.

    Dikutip detikJatim, Kanit PJR Jatim II AKP Puguh Winarno mengatakan kecelakaan tersebut terjadi pada Minggu (17/3) sekitar pukul 12.10 WIB. Porsche diketahui dikendarai Nissan Katama Angkasa warga Dukuh Pakis Surabaya. Sedangkan Nissan Grand Livina warna abu-abu metalik Nopol L 1496 ACY dikemudikan Rudy Andrianto bersama keluarganya.


    Dalam kecelakaan itu, sopir Porsche hanya mengalami luka ringan. Sedangkan istri Rudi pengemudi Grand Livina, Ani Trihandayani, luka berat di bagian leher.

    Puguh menambahkan kecelakaan tersebut terjadi lantaran pengemudi Porsche ugal-ugalan. Mobil sport itu tak terkendali dan menabrak mobil Nissan Grand Livina di depannya.

    “Pengemudi mobil sport Porsche Carrera kurang antisipasi ada kendaraan di depannya sehingga terjadi tabrak belakang,” tandas Puguh.

    Pelajaran dari kejadian ini, bahwa mengendarai mobil sport tak bisa asal kebut-kebutan. Perlu diketahui, cara mengemudikan mobil sport itu berbeda dengan mobil lain.

    “Karakter mobil sport itu berbeda dengan kendaraan lain, dan nuansa membawa mobil sport itu berbeda dari melihat, mendengar, itu degup jantung luar biasa,” kata pendiri dan instruktur Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC) Jusri Pulubuhu beberapa waktu lalu.

    “Ada faktor psikis, baunya, dentuman suara knalpot ini akan memunculkan hormon endorfin. Begitu kita di dalam, sensasi yang namanya adrenalin naik. Ketika endorfin dibarengi adrenalin, maka logika sudah tidak main,” jelasnya.

    Pengemudi mobil sport harus mengenal karakter mobil sebelum turun ke jalan. Jusri mengatakan bekal dasar yang harus dimiliki pengemudi mobil sport ada tiga hal yakni mengetahui semburan tenaga, pengereman, dan performa handling.

    Pengemudi juga harus memiliki soft skill, hal ini bisa diartikan kemampuan membaca potensi bahaya, mengukur jarak, menjaga kecepatan, mengatur jadwal istirahat selama perjalanan, dan lainnya.

    “Harusnya kita sudah bisa menyimpulkan, kecelakaan di supercar bukan soal di masalah technical, bukan kendaraan yang super,” kata dia.

    “Lebih banyak terkait soft skill, melahirkan pola pikir kehati-hatian. Perilaku waspada, tertib, empati,” sambungnya lagi.

    (rgr/mhg)



    Sumber : oto.detik.com

  • Pelajaran dari Mobil Lewat Bahu Jalan Tabrak Avanza sampai Melintir



    Jakarta

    Di media sosial viral video detik-detik Avanza putih melintir hingga masuk parit tol setelah ditabrak mobil yang melewati bahu jalan. Mobil itu ngebut di bahu jalan yang menyempit dan menginjak marka chevron. Ini pelajaran pentingnya!

    Mobil yang lewat bahu jalan itu melaju dengan kecepatan tinggi dan menabrak Avanza putih yang berjalan di lajur kiri. Salah satu akun TikTok yang menggunggah momen itu adalah @motostat.tv. Tabrak lari itu terekam dashcam mobil pengguna Tol Sidoarjo. Sesuai dengan waktu yang tertera di video, tabrak lari itu terjadi pada Jumat (7/6), pukul 17.27 WIB.

    Dikutip detikJatim, Kanit PJR Jatim II AKP Puguh Winarno menyebut kecelakaan itu terjadi di Tol Sidoarjo-Waru KM 748.400. Puguh membenarkan telah terjadi aksi tabrak lari.


    “Telah terjadi kecelakaan tabrak lari di jalan tol Sidoarjo arah Waru. Sebuah mobil Avanza ditabrak mobil dari belakang yang tidak diketahui jenis dan nopolnya,” kata Puguh.

    Puguh menjelaskan, peristiwa itu berawal saat Avanza dengan kecepatan sedang dari arah Sidoarjo ke Waru. Namun tiba-tiba ada sebuah mobil yang tidak diketahui jenis dan nopolnya menyalip dari bahu jalan dengan kecepatan tinggi.

    “Mobil yang tidak diketahui jenis dan nopolnya menabrak dari belakang mobil Avanza. Akibat tabrakan itu mobil Avanza hingga putar balik dan masuk ke parit,” jelas Pugguh.

    Jika dilihat lebih jelas, mobil yang menabrak Avanza itu melaju di bahu jalan yang menyempit. Bahu jalan menyempit ditandai dengan marka chevron yang seharusnya tidak dilintasi kendaraan.

    @motosat.tv Overspeed, Bahu Jalan dan Tabrak Lari Belajarlah Untuk Taat Batas Maximal Kecepatan #nyetirditol #belajarnyetirditol #belajarnyetirmobil #tutorialmengemuditanjakan #tutorialmengemudipemula #tutorialmengemudimobil #tutorialmengemudimanual #tutorialmengemudi #nyetirmobil #belajarmobilpemula #belajarnyetirmobilmanual #belajarmengemudiuntukpemula #belajarnyetir #kecelakaantol ♬ suara asli – Motosat_tv

    “Marka chevron fungsinya sebagai area transisi dan pengarah jalan. Ketika pengemudi melihat marka chevron yang harus dilakukan mengurangi kecepatan dan meningkatkan kewaspadaan, karena rata-rata marka itu berada di persimpangan. Marka ini licin saat dilewati dalam kondisi hujan. Kemudian acap kali membuat kemacetan jika tidak tertib dengan melanggarnya. Yang paling sering terjadi adalah tabrakan,” kata praktisi keselamatan berkendara yang juga Director Training Safety Defensive Consultant Indonesia (SDCI), Sony Susmana, kepada detikOto, Minggu (9/6/2024).

    Sony mengatakan ini merupakan efek bola salju dari pelanggaran bahu jalan. Menurutnya, banyak masyarakat yang mendahului dari bahu jalan karena contoh buruk dari sebagian oknum.

    “Ayolah kita belajar dari hal-hal yang benar dan skip yang salah-salah. Jangan jadi pemicu dan penyebab kecelakaan. Contoh, janganlah lewat bahu apalagi mau nyalip, itu berisiko tinggi kecelakaan, selain sempit, licin, beda leveling dan rata-rata kendaraan yang ada di lajur itu slow speed atau berhenti,” ujar Sony.

    “Mau buru-buru silakan tetapi ada etika, aturan dan kaedah-kaedah keselamatan yang harus ditaati. Jadi jika ada korban akibat kesalahan pelaku sebaiknya berhenti untuk bertanggung jawab,” kata Sony.

    Bahu jalan yang cenderung sempit seharusnya digunakan hanya untuk keadaan darurat. Sony menegaskan, siapa pun yang memanfaatkan bahu jalan untuk melaju apalagi ngebut, tinggal tunggu waktu untuk mengalami kecelakaan.

    “Bukan karena mereka nggak trampil, tapi memang tidak punya pengetahuan tentang bahu jalan yang sempit, licin karena berdebu, berbeda layer bahkan mengagetkan pengemudi yang ada di lajur kiri,” kata Sony.

    Menurut Sony, masih banyak pengendara yang memanfaatkan bahu jalan untuk menghindari kemacetan. Mereka mengabaikan keselamatan hanya pikiran sesaat karena lebih cepat dan tidak kena macet. Padahal, semakin kencang kendaraan melaju di bahu jalan, maka semakin besar ruang toleransi yang dibutuhkan. Di sisi lain, ruang di bahu jalan sangat sempit.

    “Risikonya bisa menyerempet kendaraan di sampingnya,” ucap Sony.

    Selain itu, lanjut Sony, melaju di bahu jalan juga mudah hilang keseimbangan. Sebab, rata-rata bahu jalan licin dan memiliki layer yang berbeda-beda.

    “Risikonya selip dan menabrak kendaraan di sekitarnya atau bahkan melintir,” ucapnya.

    Sony menyebut, kendaraan yang lewat bahu jalan dengan badan jalan memiliki perbedaan kecepatan yang signifikan. Dengan kondisi itu, kata Sony, tidak semua pengemudi siap menghadapinya. “Risikonya kaget dan menimbulkan emosi,” sebutnya.

    (rgr/mhg)





    Sumber : oto.detik.com

  • Pelajaran dari OB Tabrak Showroom gara-gara Salah Injak Pedal Mobil



    Jakarta

    Di media sosial viral sebuah mobil menabrak showroom di Palembang. Mobil yang menabrak itu dikendarai oleh seorang Office Boy (OB) bernama Abdul Majid (37) yang berniat memindahkan mobil untuk membersihkan kaca showroom.

    Abdul mengaku berniat memindahkan mobil itu untuk mempermudah dirinya membersihkan kaca showroom. Namun, ia salah menginjak pedal mobil manual milik PT Honda Union Palembang, yang terletak di Jalan Ahmad Yani, Kelurahan 9/10 Ulu, Kecamatan Seberang Ulu I, itu.

    “Saya mau bersihkan kaca showroom. Karena rawan kena mobil, jadi saya inisiatif pindahkan. Ternyata salah injak pedal,” ungkap Abdul dikutip detikSumbagsel.


    Abdul mengakui waktu itu tak meminta izin ke pihak manajemen karena hanya berniat memindahkan mobil sedikit. Sayangnya ia tak sengaja menginjak pedal gas sehingga mobil melaju dan menabrak kaca showroom.

    “Saya bisa bawa mobil. Tapi memang selama dua tahun kerja di sini, tidak pernah (memindahkan mobil). Niatnya injak rem, malah injak gas,” terangnya.

    Warga Lorong Swadaya, Jalan Puncak Sekuning Palembang tersebut mengungkapkan permintaan maafnya terhadap perusahaan dan konsumen yang ada saat kejadian.

    “Saya pribadi mohon maaf kepada perusahaan dan pelanggan yang terganggu. Ini murni kelalaian saya. Alhamdulillah tidak ada yang menjadi korban,” imbuhnya.

    Dalam video yang beredar, tampak bagian depan mobil Honda Brio ringsek. Mobil tersebut terlihat berasal dari luar dan menembus masuk ke ruang tunggu showroom.

    Mobil tersebut berhenti setelah menabrak tiang pondasi dan menyebabkan kaca salah satu sisi showroom pecah berserakan. Tampak juga banyak pelanggan yang sedang berada di lokasi. Beberapa bangku tunggu berwarna merah juga terlihat tertabrak.

    Kecelakaan akibat salah injak pedal sudah sering kali terjadi. Niat menginjak rem, pengemudinya justru menekan pedal gas yang membuat mobil meluncur deras hingga menabrak objek di depannya.

    Praktisi keselamatan berkendara yang juga Director Training Safety Defensive Consultant Indonesia (SDCI), Sony Susmana, menyebut sebelum berkendara sebaiknya pengemudi mengenali dan memahami cara kerja dan operasional sebuah kendaraan.

    “Khususnya salah injak pedal bisa dipelajari di awal, mana pedal dan fungsinya serta risiko-risikonya. Seperti, menginjak pedal gas harus dalam posisi duduk siap, posisi tumit ada di depan pedal dan menginjak pedal gasnya harus smooth serta clear area,” jelas Sony kepada detikcom, belum lama ini.

    Sony menekankan, posisi tumit harusnya berada sejajar dengan pedal rem. Jika tumit berada sejajar dengan pedal gas, maka kaki pengemudi akan kesulitan mengoreksi ke pedal rem di saat kaget atau tiba-tiba harus mengerem.

    “Lebih baik ngeremnya sempurna dan ngegasnya nggak sempurna daripada sebaliknya,” sebutnya.

    Terakhir, Sony mewanti-wanti agar pengemudi selalu menempatkan tumitnya di lantai mobil sementara yang beroperasi menginjak pedal hanya kaki bagian ujung depan. “Iya, tumit sebagai tumpuan. Nggak boleh gantung,” katanya.

    (rgr/din)



    Sumber : oto.detik.com

  • Ternyata Bekas Kuil yang Dirobohkan



    Medan

    Draco Waterpark sudah lama terbengkalai. Dulu, wahana air di Medan ini pernah populer pada tahun 2013. Namun sekarang, berubah jadi terbengkalai dan angker.

    Wahana Draco Waterpark ini berlokasi di Jalan Mongonsidi, Kecamatan Medan Polonia, Medan. Berdasarkan pantauan di lokasi, hanya tersisa semak belukar di balik gedung eks Hermes Plaza. Tidak ada puing-puing sisa bangunan waterpark tersebut.

    Desas-desus cerita mistis eks Draco Waterpark ramai beredar di masyarakat. Konon, waterpark ini sempat memakan korban seorang pegawai yang meninggal akibat kecelakaan kerja di sana.


    “Udah tutup lah sekitar lima tahunan lebih lagi. Dulu itu ada yang meninggal pegawai di situ gara-gara mau menyelamatkan kalung pengunjung, dia yang merasa bertanggung jawab namun dia tersedot mesin pembuat gelombang. Dari situ mulai berkurang pengunjung di situ,” ungkap warga setempat Amel, Kamis (18/7/2024).

    Warga setempat menilai waterpark tersebut menjadi angker lantaran dahulu ada kuil umat Hindu yang dirobohkan di sekitar bangunan Hermes Plaza.

    “Dulu ada kuil yang dirobohkan dekat parkiran belakang Hermes, katanya ada juga yang bilang gara-gara dirobohkan itu jadi angker wahananya itu,” ujarnya.

    Beberapa warga menyebut pernah mendengar pengalaman mistis seperti mendengar suara-suara aneh dan juga penampakan misterius.

    “Ada yang pernah dengar suara aneh samar-samar terus ada yang pernah lihat bayangan yang buat takut pengunjung,” kata Amel.

    Kenangan Indah Warga Medan di Draco Waterpark

    Namun begitu, banyak warga Medan yang memiliki kenangan indah saat berkunjung ke Draco Waterpark.

    “Dulu pernah masuk waktu tahun 2012-an, seru sekali ajak anak-anak main wahana tapi ya harga lumayan ya Rp 100 ribuan per orang. Jadi paling cuma sekali dua kali lah ke sana,” kata warga Medan, Indah mengenang momen tersebut.

    Sementara itu, sejarawan Azis Rizky Lubis mengakui bahwa benar adanya kuil yang dirobohkan dalam pembangunan Draco Waterpark ini. Tak hanya itu, tragedi meninggalnya pegawai di Draco Waterpark ini turut membuat masyarakat enggan untuk berkunjung ke wahana tersebut.

    “Robohnya kuil itu kemungkinan penyuaraan masyarakat hindu tidak terlalu ditanggapi serius padahal begitu banyak masyarakat etnis Hindu yang bermukim di situ. Kalau ada kaitannya mistis dengan kuil yang dirobohkan juga beredar di masyarakat. Apalagi dengan adanya kasus meninggal pegawai di sana membuat penurunan pengunjung,” kata Azis.

    Tak hanya waterpark, Azis menyebut banyak kasus-kasus mistis yang terjadi di Hermes Plaza.

    “Suasana mencekam ini tak hanya di wahana airnya saja tapi misalnya dari arena permainan di malnya yang sempat mencekam, jadi ya terdengar angker dari tanggapan masyarakat begitu,” pungkasnya.

    ——-

    Artikel ini telah naik di detikSumut.

    (wsw/wsw)



    Sumber : travel.detik.com

  • OB Tabrak Showroom Gegara Salah Injak Pedal Mobil, Begini Posisi Kaki yang Benar



    Jakarta

    Viral di media sosial mobil yang menabrak showroom di Palembang. Ternyata, mobil itu hendak dipindahkan oleh seorang Office Boy (OB) yang sedang membersihkan kaca showroom

    Abdul Majid, OB yang mengendarai mobil tersebut, mengaku berniat memindahkan mobil itu untuk mempermudah dirinya membersihkan kaca showroom. Namun, ia salah menginjak pedal mobil manual milik PT Honda Union Palembang, yang terletak di Jalan Ahmad Yani, Kelurahan 9/10 Ulu, Kecamatan Seberang Ulu I, itu.

    “Saya mau bersihkan kaca showroom. Karena rawan kena mobil, jadi saya inisiatif pindahkan. Ternyata salah injak pedal,” ungkap Abdul dikutip detikSumbagsel.


    Abdul mengakui waktu itu tak meminta izin ke pihak manajemen karena hanya berniat memindahkan mobil sedikit. Sayangnya ia tak sengaja menginjak pedal gas sehingga mobil melaju dan menabrak kaca showroom.

    “Saya bisa bawa mobil. Tapi memang selama dua tahun kerja di sini, tidak pernah (memindahkan mobil). Niatnya injak rem, malah injak gas,” terangnya.

    Warga Lorong Swadaya, Jalan Puncak Sekuning Palembang tersebut mengungkapkan permintaan maafnya terhadap perusahaan dan konsumen yang ada saat kejadian.

    “Saya pribadi mohon maaf kepada perusahaan dan pelanggan yang terganggu. Ini murni kelalaian saya. Alhamdulillah tidak ada yang menjadi korban,” imbuhnya.

    Agar tak salah injak pedal lagi, pengendara harus paham soal posisi kaki saat nyetir yang benar. Praktisi keselamatan berkendara yang juga istruktur dan pendiri Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC), Jusri Pulubuhu, menjelaskan posisi kaki yang tepat saat mengemudi. Posisi kaki kanan adalah tumit bertumpu di lantai mobil. Untuk berpindah dari pedal gas ke pedal rem, cukup menggeser ujung kaki ke pedal rem, sementara tumit tetap di lantai.

    “Kaki kanan itu bertumpu pada tumit, waktu kita mau injak pedal rem, tinggal diubah saja kemiringannya sehingga tumit kita tetap bertumpu di floor. Karena kalau kaki kanan kita angkat full untuk menginjak rem, nanti akan over pressure bahkan roda depan akan mengunci (karena tekanan berlebih pada pedal rem),” kata Jusri.

    Director Training Safety Defensive Consultant Indonesia (SDCI), Sony Susmana, menyebut sebelum berkendara sebaiknya pengemudi mengenali dan memahami cara kerja dan operasional sebuah kendaraan.

    “Khususnya salah injak pedal bisa dipelajari di awal, mana pedal dan fungsinya serta risiko-risikonya. Seperti, menginjak pedal gas harus dalam posisi duduk siap, posisi tumit ada di depan pedal dan menginjak pedal gasnya harus smooth serta clear area,” jelas Sony.

    Sony menekankan, posisi tumit harusnya berada sejajar dengan pedal rem. Jika tumit berada sejajar dengan pedal gas, maka kaki pengemudi akan kesulitan mengoreksi ke pedal rem di saat kaget atau tiba-tiba harus mengerem.

    “Lebih baik ngeremnya sempurna dan ngegasnya nggak sempurna daripada sebaliknya,” sebutnya.

    (rgr/din)



    Sumber : oto.detik.com

  • Catat Ya! Bawa Mobil Apa pun Ada Risikonya, Perhatikan Ini kalau Mau Selamat



    Jakarta

    Berkendara di jalan raya dengan berbagai karakter pengguna jalan dan kendaraannya tetap memiliki potensi bahaya. Mengendarai kendaraan jenis dan merek apa pun, pengendara tetap memiliki ancaman bahaya kalau tidak menerapkan kaidah keselamatan.

    Instruktur safety driving di Rifat Drive Labs (RDL) dan Road Safety Commission Ikatan Motor Indonesia (IMI) Erreza Hardian mengatakan, apa pun jenis atau merek kendaraannya pengemudi kendaraan pasti memiliki risiko. Untuk itu, pengendara harus bisa mengantisipasinya agar tetap selamat di jalan raya tanpa harus menjadi korban kecelakaan fatal, apalagi sampai meninggal dunia di jalan.

    “Pasti sudah pandai mengemudi entah di mana dan bagaimana caranya. Tetapi ketika memutuskan untuk menjadi pengemudi ber-SIM, maka tidak lepas dari tanggung jawab hukum untuk menjaga keselamatan diri dan orang lain serta lingkungan jalan,” kata Reza kepada detikOto, Selasa (25/6/2024).


    Agar selamat di jalan raya, menurut Reza, ketika berada di jalan sebaiknya pengemudi mengantisipasi tiga penyebab kecelakaan, yaitu manusia, kendaraan, dan lingkungan.

    “Lingkungan jalan tidak bisa kita kendalikan karena sudah seperti ini keadaan lalu lintas di negeri tercinta ini. Jadi tinggal kendaraan dan manusia, terutama kita sebagai pengemudi dan pengguna jalan,” ucap Reza.

    Pengemudi harus mengenali kendaraan yang dibawa. Semua kendaraan, apa pun merek, jenis maupun tipenya pasti ada bahayanya. Makanya setiap pengendara harus memiliki surat izin mengemudi dan persyaratannya pun tinggi.

    “Tentunya juga para insinyur dan pemegang merek sudah melakukan konsep luar biasa. Tidak mungkin (sebuah kendaraan) ada di pasaran kalau itu tidak bisa dikendalikan risikonya. Pengendalian risiko itu pasti akan bisa menyelamatkan manusia baik pengemudi ataupun pengguna jalan lainnnya, apalagi penumpang. Apa pun bahaya dari lingkungan jalan, akan tetap selamat dengan limitasi kendaraan dan ini harus dipahami sebagai pengendalian risiko dengan tujuan keselamatan,” jelasnya.

    Ujung-ujungnya tetap di tangan manusianya sebagai pengemudi. Pengemudi harus bisa mengenali keterampilan dan kompetensi diri sendiri. “Dan tidak perlu membandingkan dengan orang lain karena jelas ada perbedaan,” katanya.

    “Pola berpikir, respon dan tingkat pengetahuan kita berbeda-beda. Limitasinya adalah pengendalian dengan merujuk ke UULAJ (Undang-Undang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan) dan aturan baku. Semua untuk selamat dari bahaya di jalan,” pungkas Reza.

    (rgr/din)



    Sumber : oto.detik.com

  • Sering Terjadi Celaka, Ini Tips Berkendara di Perumahan



    Jakarta

    Kecelakaan di kawasan perumahan sudah beberapa kali terjadi. Ini tips berkendara untuk menghindari kecelakaan di kawasan pemukiman.

    Kecelakaan fatal yang melibatkan mobil di kawasan perumahan sudah beberapa kali terjadi. Belum lama ini, ada anak balita yang terlindas Toyota Fortuner di dekat rumahnya. Kecelakaan seperti itu bukan pertama kali terjadi. Sebelumnya ada beberapa kejadian mirip yang melibatkan mobil berukuran besar dan melindas anak kecil.

    “Berbeda dengan jalan raya yang memiliki rambu dan marka jalan lebih lengkap, jalan di area perumahan biasanya lebih kecil serta minim rambu dan marka. Ditambah, adanya potensi masalah tambahan seperti anak bermain di jalan, hewan peliharaan, pedagang keliling, mobil parkir, dan aktivitas lain yang wajib diperhatikan,” jelas Nur Imansyah Tara, Marketing Division Head Auto2000 dalam siaran persnya.


    Untuk menghindari hal tersebut, ada beberapa hal yang harus diperhatikan. Berikut tips berkendara di kawasan perumahan.

    1. Jangan Ngebut

    Jangan pernah memacu mobil meskipun jalan sepi atau Anda penghuni kompleks tersebut. Ada potensi bahaya seperti anak kecil atau hewan tiba-tiba lari ke jalan. Atur kecepatan berkisar 5-10 km/jam terutama jika jalan kurang lebar dan rawan kecelakaan.

    2. Hati-hati Banyak Gangguan

    Jalan dalam lingkungan perumahan memiliki banyak gangguan yang bisa memicu kecelakaan. Seperti polisi tidur atau persimpangan jalan. Bisa pula keluar-masuk orang atau kendaraan lain dari rumah yang wajib dipantau sepanjang jalan. Kendaraan kecil seperti gerobak tukang sayur juga dapat menghalangi jalan.

    3. Hati-hati Ketika Manuver

    Karena melihat jalan sepi, banyak pengemudi yang tidak memperhatikan situasi, khususnya di persimpangan jalan. Ada pula yang main belok saja dengan sudut tajam yang dapat berbahaya jika dari arah berlawanan ada anak kecil atau kendaraan lain. Berhenti sejenak di persimpangan jalan untuk memastikan situasi aman dan lakukan manuver belok yang normal sesuai aturan lalu lintas.

    Ketika akan belok di jalan yang sempit dan ramai, buka jendela supaya lebih jelas melihat. Tidak ada salahnya mengeluarkan kepala untuk memastikan tidak ada anak kecil di lajur yang akan dilewati. Jangan ragu keluar mobil untuk memastikan situasi aman dan memberikan arahan kepada anak-anak supaya menjauh dari mobil.

    4. Kurangi Kecepatan saat Melihat Anak Kecil

    Meskipun bukan di tengah jalan, segera kurangi kecepatan jika melihat ada anak kecil sedang bermain. Saking asyiknya bermain, mereka bisa berlari ke tengah jalan yang sangat berbahaya andai kamu gagal mengantisipasinya.

    5. Waspada Blind Spot Mobil

    Blindspot sangat mungkin dialami sekalipun mengendarai mobil sedan. Apalagi kalau sedang manuver belok di jalan yang lebarnya terbatas. Khususnya kalau ternyata mobil yang dipakai berukuran besar sehingga menambah area blind spot.

    6. Jaga Jarak Aman

    Senatiasa menjaga jarak aman menjadi salah satu kunci menjaga keamanan di jalan. Misalnya saat kamu ingin mendahului anak yang sedang bermain sepeda. Jangan terlalu dekat saat mengikutinya supaya ada ruang manuver ketika tiba-tiba arah sepeda berubah, atau membunyikan klakson agar si anak menyadari keberadaan mobil. Tetap jaga jarak aman pula ketika akan mendahului gerobak dan kendaraan lain yang melaju pelan di jalan perumahan.

    7. Hargai Warga Sekitar

    Kurangi kecepatan jika melihat ada warga sedang beraktivitas di depan rumahnya. Selain menjaga keselamatan, langkah ini juga untuk mencegah debu berterbangan atau cipratan genangan air, yang akan mengganggu orang lain. Selain itu juga untuk menghormati warga tersebut.

    8. Lupakan Bermain Ponsel

    Jangan bermain ponsel karena bahaya mengintai. Bisa jadi saat memegang ponsel, kamu tidak menyadari ada anak kecil di sekitar dan berujung celaka.

    (dry/din)



    Sumber : oto.detik.com