Tag: keraton yogyakarta

  • 15 Hotel Dekat Malioboro Terbaik dan Murah, Mulai dari Rp 280 Ribu-an


    Jakarta

    Malioboro merupakan salah satu ikon paling terkenal di Yogyakarta. Berada di jantung kota, Malioboro menawarkan beragam daya tarik, mulai dari pusat perbelanjaan, kuliner, dan budaya yang kaya.

    Tak heran, jika banyak wisatawan yang mencari hotel dekat Malioboro. Menginap di hotel berdekatan dengan kawasan Malioboro tak hanya strategis, tapi juga menawarkan pengalaman yang begitu berkesan.

    Hotel Dekat Malioboro

    Ada begitu banyak hotel yang dekat dengan kawasan Malioboro. Harga dan fasilitasnya pun beragam.


    1. Ibis Styles Yogyakarta

    • Lokasi: Jl. Dagen No.109, Sosromenduran, Gedong Tengen, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta.
    Hotel Ibis Styles Yogyakarta dekat Malioboro.Hotel Ibis Styles Yogyakarta dekat Malioboro. Foto: situs Ibis Style Yogyakarta.

    Ibis Style Yogyakarta berada di jantung kota Yogyakarta. Traveler hanya perlu jalan kaki lima menit untuk sampai ke hotel ini dari Jalan Malioboro.

    Menurut situs resminya, harga untuk kamar superior dengan satu queen size bed yaitu sekitar Rp 530.000 (belum termasuk pajak). Kamar berkapasitas 3 orang ini memiliki luas 23 m2 dengan fasilitas TV, pengering rambut, mini bar, brankas, hingga pembuat teh dan kopi.

    Pengunjung dapat menikmati pemandangan yang apik dari hotel ini. Beberapa fasilitas yang tersedia antara lain kolam renang , pusat kebugaran, bar, restoran, hingga area bermain anak

    2. D’Senopati Malioboro

    • Lokasi: Jl. Panembahan Senopati No.40, Prawirodirjan, Kecamatan Gondomanan, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta.
    Hotel D'Senopati Malioboro dekat Malioboro.Hotel D’Senopati Malioboro dekat Malioboro. Foto: situs D’Senopati Malioboro.

    D’Senopati Malioboro berlokasi tak jauh dari Monumen Nol Kilometer Yogyakarta. Hotel ini cocok untuk liburan keluarga karena memiliki kamar yang cukup luas.

    Ada kamar standar, superior dan deluxe. Mengutip salah satu situs agen travel, harga untuk kamar standarnya dengan luas 22 m2 mulai dari sekitar Rp 358.000 (termasuk pajak). Untuk traveler yang mau berlibur bersama keluarga bisa memesan superior roomnya dengan dua bed berkapasitas 4 orang.

    3. el Hotel Yogyakarta Malioboro

    • Lokasi: Jl. Dagen No.6, Sosromenduran, Malioboro, Yogyakarta.
    el Hotel Yogyakarta dekat Malioboro.el Hotel Yogyakarta dekat Malioboro. Foto: situs el Hotel Yogyakarta.

    el Hotel Malioboro hanya berjarak 20 meter ke Jalan Malioboro. Hotel bintang 4 ini mempunyai beberapa pilihan kamar, seperti superior room, deluxe room, deluxe premier room, suite room, dan executive suite room.

    Kamar superiornya bertema tradisional Yogyakarta dengan gaya yang elegan. Fasilitasnya mulai dari TV LED, kulkas, pembuat teh dan kopi, pengering rambut, hingga Wi-Fi. Mengutip situs resminya, untuk kamar superiornya dibanderol sekitar Rp 999.999 (termasuk pajak). Ada fasilitas kolam renang dan massage & reflexology yang bisa dinikmati pengunjung.

    4. Whiz Hotel Malioboro Yogyakarta

    • Lokasi: Jl. Dagen No.8, Sosromenduran, Gedong Tengen, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta.
    Whiz Hotel Malioboro.Whiz Hotel Malioboro. Foto: situs Whiz Hotel Malioboro.

    Berdekatan dengan Malioboro, Whiz Hotel menawarkan tarif yang terjangkau bagi para pengunjung. Ada pilihan standard room dan superior room, dan deluxe room.

    Harga untuk menginap di standard room yaitu sekitar Rp 400.000 (termasuk pajak) dengan fasilitas brankas, TV, kulkas mini, pembuat teh dan kopi, dan lain sebagiannya.

    5. Malyabhara Hotel

    • Lokasi: Jl. Malioboro No.52 – 58, Suryatmajan, Kecamatan Danurejan, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta.
    Hotel Malyabhara dekat Malioboro.Hotel Malyabhara dekat Malioboro. Foto: situs Hotel Malyabhara.

    Berada di jantung Malioboro, Malyabhara hotel tentu sangat strategis bagi kamu yang mau menginap tak jauh dari kawasan perbelanjaan di Jl. Malioboro. Nama Malyabhara sendiri diambil dari Jalan Malioboro.

    Ada berbagai pilihan kamar, mulai dari Superior Twin, Superior King, Deluxe Twin, Deluxe King, dan Executive. Kamar Superior Twinnya memiliki luas 24 meter persegi dengan fasilitas cukup lengkap, seperti brankas, fasilitas pembuat kopi dan teh, hair dryer, hingga TV LCD. Untuk menginap di kamar ini, traveler perlu merogoh kocek sekitar Rp 850.000 (termasuk pajak).

    6. Neo Hotel

    • Lokasi: Jl. Pasar Kembang No.21, Sosromenduran, Yogyakarta, Kota Yogyakarta.
    Neo Hotel dekat Malioboro.Neo Hotel dekat Malioboro. Foto: situs Neo Hotel Yogyakarta.

    Neo Hotel Malioboro berlokasi strategis tepat di depan Stasiun Tugu Yogyakarta. Tentunya, akses untuk ke kawasan Malioboro begitu mudah.

    Hotel ini mempunyai Lounge di rooftop, di mana pengunjung bisa melihat pemandangan dari atas. Fasilitasnya berupa kolam renang, kedai kopi, hingga binatu. Pilihan kamarnya berupa superior, deluxe, family, hingga junior suite.

    Harga untuk kamar superior mulai dari Rp 871.500 termasuk pajak. Kamar seluas 22 m2 tersebut memiliki fasilitas TV LED, brankas, minibar, hingga pembuat teh dan kopi.

    7. Prima In Hotel Malioboro

    • Lokasi: Jl. Gandekan Lor No.47, Pringgokusuman, Gedong Tengen, Kota Yogyakarta.
    Prima In Hotel dekat Malioboro.Prima In Hotel dekat Malioboro. Foto: situs Prima In Hotel Yogyakarta.

    Prima In Hotel Malioboro menjadi hotel selanjutnya yang berlokasi dekat dengan kawasan perbelanjaan Malioboro. Hotel berdesain mewah ini menawarkan beberapa pilihan kamar, mulai dari superior, cabanas, deluxe, executive, dan suite untuk keluarga.

    Kamar superiornya mempunyai area seluas 24 m2 dengan fasilitas AC, meja kerja, LED TV, pembuat teh dan kopi, minibar dengan camilan gratis, hingga balkon. Harga untuk kamar superiornya adalah sekitar Rp 400.000 termasuk pajak.

    8. Grand Hotel Malioboro

    • Lokasi: Jl. Dagen No.85, Sosromenduran, Gedong Tengen, Kota Yogyakarta.
    Grand Hotel Malioboro.Grand Hotel Malioboro. Foto: situs Grand Hotel Malioboro.

    Berada di kawasan Malioboro, hotel ini bisa diakses dengan jalan kaki dari stasiun Tugu. Pilihan kamarnya mulai dari Superior, Double, dan Executive.

    Kamar superior seluas 19 m2 ini, memiliki fasilitas AC, Pembuat kopi dan teh, hingga TV LCD. Harganya sekitar Rp 412.000 termasuk pajak.

    9. Jambuluwuk Malioboro Yogyakarta

    • Lokasi: Jl. Gajah Mada No.67, Purwokinanti, Pakualaman, Kota Yogyakarta.
    Jambuluwuk Hotel dekat Malioboro.Jambuluwuk Hotel dekat Malioboro. Foto: situs Jambuluwuk Hotel.

    Jambuluwuk Malioboro hanya beberapa langkah dari Keraton Yogyakarta. Pilihan kamarnya yaitu superior, deluxe.Adapun fasilitas yang ditawarkan dari hotel ini yaitu karaoke, tropical pool, playground dan toko suvenir.

    Dengan luas 25 m2, superior roomnya berdesain elegan dan nyaman. Beberapa fasilitas yang ditawarkan di antaranya lemari pakaian, AC, brankas, TV, dan pembuat teh dan kopi. Harga untuk menginap di kamar ini yaitu sekitar Rp 888.447 termasuk pajak.

    10. Patra Malioboro

    • Lokasi: Jl. Sosrowijayan No.35, Sosromenduran, Gedong Tengen, Kota Yogyakarta.
    Hotel Patra Malioboro.Hotel Patra Malioboro. Foto: situs Hotel Patra Malioboro.

    Patra Malioboro hanya berjarak 200 meter dari Jalan Malioboro. Hotel ini berlokasi dikelilingi bangunna bersejarah, tempat makan, dan pusat perbelanjaan batik.

    Menawarkan gaya klasik modern, Patra Malioboro mempunyai interior bergaya klasik modern. Fasilitasnya berupa kolam renang dan teras kota di mana pengunjung bisa menikmati pemandangan.

    Ada tiga tipe kamar, yaitu Deluxe, Deluxe Suite, dan Premier. Kamar deluxe roomnya seluas 20 m2 dengan TV LED, AC, hingga pembersih udara. Untuk menginap di kamar ini, harganya yaitu sekitar Rp 727.000 termasuk pajak.

    11. Top Hotel Malioboro Jogja

    • Lokasi:Jl. HOS Cokroaminoto No.145, Tegalrejo, Kecamatan Tegalrejo, Kota Yogyakarta.

    Top Hotel Malioboro Jogja menawarkan harga kamar yang cukup terjangkau. Jarak hotel ini juga cukup dekat dengan kawasan Malioboro.

    Pilihan kamarnya mulai dari superior, bisnis, dan deluxe. Kamar superiornya seluas 21m2 dengan fasilitas AC, pembuat kopi dan teh, dan TV. Harga untuk kamar ini yaitu mulai dari Rp 286.000 (termasuk pajak)

    12. Amaris Hotel Malioboro

    • Lokasi: Jl. Pajeksan No.10, Sosromenduran, Gedong Tengen, Kota Yogyakarta.

    Amaris Hotel Malioboro berada di area jalanan Malioboro. Dari hotel ini, pengunjung hanya memerlukan 10 menit untuk sampai ke Pasar Beringharjo dan area Keraton Yogyakarta.

    Amaris hotel menawarkan Smart Room Hollywood dan Smart Room Twin. Kamar ini dilengkapi dengan TV LCD dan Wifi gratis. Untuk menginap di kamar Smart Room Twinnya, pengunjung perlu membayar sekitar Rp 438.700 (termasuk pajak dan sarapan.)

    13. Emersia Hotel Malioboro

    • Lokasi: Jl. Gowongan Kidul No.34, Gowongan, Kecamatan Jetis, Kota Yogyakarta.

    Emersia Hotel Malioboro hanya berjarak 4 menit dari Jalan Malioboro, Stasiun Kereta Api, dan Monumen Tugu. Hotel bintang 3 ini berdesain modern dan tradisional.

    Untuk pilihan kamar, hotel ini mempunyai Superior dan Deluxe. Kamar superiornya ada dua pilihan, yaitu lantai dasar dengan pemandangan taman dan balkon serta lantai dua di mana ada kolam ikan. Fasilitas kamarnya mulai dari TV LED, pembuat kopi dan teh, AC, hingga Wifi. Harga untuk menginap di superior room ini adalah Rp 540.000.

    14. Ayaartta Hotel Malioboro

    • Lokasi: Jl. KH. Ahmad Dahlan No.123, Notoprajan, Ngampilan, Kota Yogyakarta.

    Ayaartta Hotel Malioboro memiliki kamar-kamar bergaya artistik. Hotel ini tentunya mudah dijangkau dari kawasan Malioboro.

    Ada pilihan kamar superior, deluxe premiere, deluxe premier balcony, family room, junior suite, dan premier suite. Kamar superiornya mempunyai 2 bed berukuran cukup besar. Mengutip salah satu situs agen travel, harga untuk menginap di kamar ini yaitu Rp 457.000 belum termasuk pajak.

    15. Khas Hotel Malioboro

    • Lokasi: Jl. Gadean No.3, Ngupasan, Kecamatan Gondomanan, Kota Yogyakarta.

    Khas Hotel Malioboro menawarkan penginapan yang ramah muslim. Jaraknya hanya 5 menit berjalan kaki ke Jalan Malioboro. Pilihan kamarnya superior, deluxe, dan suite.

    Superior roomnya bergaya minimalis modern. Dengan luas 19 m2, fasilitasnya mulai dari LCD TV, minibar, mukena+sajadah, Al qur;an, hingga fasilitas pembuat kopi & teh. Untuk menginap di kamar superior twin bed, pengunjung harus membayar sebesar Rp 477.375.

    Itulah sederet hotel dekat Malioboro dengan berbagai harga dan fasilitas. Harga yang tertera dapat berubah sesuai dengan tanggal penginapan yang dipilih dan kebijakan pengelola hotel.

    (row/row)



    Sumber : travel.detik.com

  • Ulasan Destinasi Bersejarah di Jogja, dari Benteng Vredeburg-Monjali



    Yogyakarta

    Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), seperti namanya kota ini begitu istimewa dan selalu punya cerita. Yogyakarta juga punya andil besar dalam kemerdekaan RI dengan bukti tinggalan sejarahnya.

    Berbagai situs bersejarah terkait perjuangan rakyat Indonesia mengusir penjajah masih terawat. Bahkan, kini ada museum untuk mengenang perjuangan itu.

    Bangunan atau tempat bersejarah bahkan dibuka sebagai tempat wisata. Mulai dari peninggalan keraton sampai penjajahan Belanda, wisata sejarah Jogja punya banyak pilihan.


    5 Wisata Sejarah Jogja

    1. Museum Benteng Vredeburg

    Museum Benteng Vredeburg, Jogja. Foto diunggah pada Selasa (10/10/2023).Museum Benteng Vredeburg, Jogja. (Anandio Januar-Novi Vianita/detikJogja)

    Lokasi: Jl. Margo Mulyo No.6, Ngupasan, Kec. Gondomanan, Kota Yogyakarta

    Buka: Setiap hari Selasa – Minggu (08.00 WIB – 15.00 WIB)

    Harga tiket masuk: Rp 2.000 (anak), Rp 3.000 (dewasa), dan Rp 10.000 (turis asing)

    Museum Benteng Vredeburg dibangun pada 1765 oleh pemerintah Belanda. Museum ini awalnya adalah benteng pertahanan dari serangan Kraton Yogyakarta.

    Di dalam museum ini, kamu akan menemukan sejumlah koleksi, seperti diorama yang menceritakan perjuangan rakyat pra-proklamasi, bangunan-bangunan peninggalan Belanda, serta benda-benda bersejarah lainnya yang sangat khas dengan budaya masa lalu.

    2. Situs Warungboto

    Situs Warungboto Jogja. Foto diambil Senin (3/9/2023).Situs Warungboto Jogja. (Anandio Januar/detikJogja)

    Lokasi: Jalan Veteran No. 77, Kalurahan Warungboto, Kêmantrèn Umbulharjo, Kota Yogyakarta.

    Buka: Setiap hari (08.00 WIB – 17.00 WIB)

    Harga tiket masuk: Gratis

    Situs Warungboto merupakan wisata sejarah yang memiliki banyak nama lain, yakni Umbul Warungboto, Pesanggrahan Warungboto, dan Pesanggrahan Rejowinangun. Banyaknya nama ini bisa jadi karena situs ini berada di dua kalurahan yang berbeda.

    Dikutip dari website resmi Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta, situs bersejarah ini dulunya dibangun oleh Sultan Hamengkubuwono II ketika beliau sedang menjadi putra mahkota pada periode 1765-1792. Selain menjadi tempat beristirahat, Pesanggrahan Rejowinangun juga merupakan sebuah benteng pertahanan dari sisi timur Keraton Ngayogyakarta.

    Pesanggrahan ini juga dilengkapi dengan taman, segaran, kolam, dan kebun di sisi timur. Sementara, di sisi barat merupakan kompleks bangunan berkamar dan dua kolam pemandian.

    3. Keraton Yogyakarta

    Keraton YogyakartaKeraton Yogyakarta (Pradita Utama/detikTravel)

    Lokasi: Jl. Rotowijayan Blok No. 1, Panembahan, Kecamatan Kraton, Kota Yogyakarta

    Buka: Setiap hari (08.30 WIB – 14.00 WIB)

    Harga tiket masuk: mulai dari Rp 5.000 – Rp 15.000 per orang.

    Salah satu wisata sejarah di Jogja yang wajib kamu kunjungi tentu saja Keraton Yogyakarta. Tempat wisata sekaligus salah satu ikon kota ini memiliki nama asli Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Hingga kini, istana ini masih dihuni oleh para keturunan raja-raja Yogyakarta.

    Tidak hanya melihat bangunan bersejarah saja, kamu juga bisa menyaksikan berbagai pertunjukan atau upacara adat yang masih sering dilakukan oleh pihak keraton. Jika masuk ke dalam, kamu juga akan menemukan barang-barang pusaka peninggalan zaman dulu.

    Barang-barang pusaka tersebut misalnya seperti kereta kencana, keris, tombak, ampilan, panji-panji, pelana kuda, dan regalia. Tak heran, lokasi ini juga sudah diakui oleh UNESCO sebagai salah satu situs warisan dunia.

    4. Taman Sari Keraton Yogyakarta

    Wisatawan berfoto di halaman Tamansari Yogyakarta, Sabtu (26/6/2021). Raja Keraton Yogyakarta, Sri Sultan HB X menutup sementara wisata milik Keraton Yogyakarta antara lain Museum Kereta Keraton, Kompleks Pagelaran, Keben/Kompleks Kedhaton (Museum Keraton), Tamansari, serta Puralaya Imogiri dan Kotagede selama satu pekan mulai Sabtu (26/6) hingga Jumat (2/7) untuk menekan penyebaran COVID-19. ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko/rwa.Wisatawan berfoto di halaman Tamansari Yogyakarta, Sabtu (26/6/2021). (Antara Foto/Andreas Fitri Atmoko)

    Lokasi: Patehan, Kecamatan Kraton, Kota Yogyakarta

    Buka: Setiap hari (09.00 WIB – 15.00 WIB)

    Harga tiket masuk: Rp 5.000 per orang.

    Wisata sejarah di Jogja lainnya yang wajib kamu kunjungi adalah Kampung Wisata Taman Sari. Bangunan yang sudah ada sejak abad ke-17 ini dibangun pada masa kesultanan Hamengkubuwono I dengan lama waktu pengerjaan sekitar 9 tahun (1758 hingga 1765).

    Dulunya, bangunan ini memiliki luas awal 10 hektar dengan 57 bangunan, yang terdiri dari kompleks kolam pemandian, pulau buatan, danau buatan, jembatan gantung, taman, lorong bawah tanah, kanal air, serta beberapa gedung dengan beragam arsitektur.

    Kini, salah satu bangunan yang masih tersisa dan bisa kamu nikmati adalah masjid bawah tanah. Masjid yang sangat populer di kalangan wisatawan ini sukses menjadi spot favorit untuk mengabadikan momen liburan yang menyenangkan.

    5. Monumen Yogya Kembali

    Pemasangan bendera raksasa di Monumen Yogya Kembali (Monjali), Rabu 29 Juni 2016Pemasangan bendera raksasa di Monumen Yogya Kembali (Monjali), Rabu 29 Juni 2016 (Sukma Indah P/detikcom)

    Lokasi: Jl. Ring Road Utara, Jongkang, Sariharjo, Ngaglik, Kabupaten Sleman

    Buka: Setiap hari Selasa – Minggu pukul 08.00 – 16.00 WIB.

    Harga tiket masuk: mulai dari Rp 10.000 – Rp 15.000 per orang.

    Museum ini mulai dibangun pada 29 Juni 1985 dan diresmikan pada 6 Juli 1989 oleh Presiden Soeharto.

    Museum ini didirikan dengan tujuan untuk memperingati peristiwa sejarah ditariknya tentara kolonial Belanda dari Ibu Kota Yogyakarta pada 29 Juni 1949, yang sekaligus juga menjadi penanda berfungsinya kembali Kota Yogyakarta sebagai Ibu Kota Republik Indonesia yang direbut dari penjajah Belanda.

    Gagasan awal pendirian Museum Monjali disampaikan oleh Kolonel Sugiarto dalam peringatan Yogya Kembali yang diselenggarakan pada 29 Juni 1983.

    Keunikan Museum Monjali terletak pada struktur bangunannya. Bangunan Monjali berbentuk kerucut yang terdiri dari 3 lantai. Bentuk bangunan yang unik ini sangat ikonik dan telah menjadi ciri khas dari Museum Monjali.

    Selain itu, keunikan lain dari Museum Monjali adalah bangunan induk museum yang dikelilingi oleh kolam ikan.

    (bnl/fem)



    Sumber : travel.detik.com

  • Peta Masalah Dunia Pesantren (1)



    Jakarta

    Pada masanya, pesantren adalah tonggak penting dalam dunia pendidikan dan pembentukan karakter di Nusantara. Sekarang, kita dihadapkan pada pertanyaan besar: Apakah pesantren mampu menyesuaikan diri dengan kebutuhan era modern tanpa kehilangan jati dirinya? Inilah titik mula dari upaya memahami dan mengatasi persoalan mendasar yang dihadapi pesantren hari ini.

    Tema utama pesantren saat ini, dan sekaligus permasalahan utamanya, adalah bagaimana institusi pendidikan ini bertransformasi dari model tradisional menuju integrasi dengan sistem global modern. Untuk membahas urusan ini lebih lanjut, kita tampaknya perlu terlebih dulu menjernihkan cara pandang kita. Salah satu yang perlu dikritisi adalah pandangan bahwa pesantren dimarginalisasi secara sengaja oleh negara. Pemikiran seperti ini mengandung bias seolah-olah pesantren sudah “mengutangi” negara dan sekarang menagih pengakuan.

    Faktanya, marginalisasi pesantren bukanlah sesuatu yang sepenuhnya disengaja. Hal ini lebih merupakan dampak dari proses transformasi peradaban menuju konstruksi modern. Kita tahu bahwa pesantren, sebagai lembaga pendidikan tradisional yang kita pelihara hingga sekarang, tumbuh dari tradisi lokal yang khas Nusantara. Model seperti ini tidak ditemukan di belahan dunia Islam lainnya, seperti Timur Tengah, Persia, Asia Selatan, atau Afrika. Pesantren betul- betul merupakan produk budaya lokal Nusantara yang lahir dari struktur sosial, budaya, dan politik yang unik di wilayah ini.


    Sebelum era kolonial, pesantren merupakan satu-satunya lembaga pendidikan yang ada tersedia. Ia menjadi pusat pembelajaran bagi berbagai lapisan masyarakat, menjadi tempat tujuan bagi siapa saja untuk mendapatkan pendidikan akademik dan intelektual. Bahkan anak-anak bangsawan dan putra raja dari seluruh Nusantara menimba ilmu di pesantren.

    Namun, ketika masyarakat tradisional Nusantara mulai bersentuhan dengan kekuatan kolonial Eropa, pesantren, bersama elemen tradisional lainnya, perlahan-lahan tergeser. Struktur sosial dan budaya tradisional digantikan oleh konstruksi modern yang diperkenalkan oleh kolonialisme. Bukan hanya pesantren yang mengalami hal ini, tetapi juga lembaga tradisional seperti keraton.

    Proses ini membuat pesantren terlihat lambat dalam beradaptasi ke dalam sistem modern. Salah satu alasannya adalah resistensi pesantren terhadap apa pun yang berasal dari kekuatan kolonial. Pada masa penjajahan, pesantren-pesantren, bersama elemen lain dari masyarakat pribumi,

    berperan aktif dalam melawan apa saja yang diperkenalkan oleh pemerintahan kolonial. Gerakan seperti Taman Siswa di Yogyakarta, yang dipelopori oleh Ki Hajar Dewantara, merupakan contoh nyata perlawanan terhadap sistem pendidikan kolonial.

    Keraton Yogyakarta juga mengambil inisiatif serupa dengan mengirim seorang santri bernama Muhammad Darwis ke Mekkah untuk belajar modernisasi pendidikan dari Syekh Khatib al- Minangkabawi. Sepulangnya, Darwis, yang kemudian dikenal sebagai Haji Ahmad Dahlan, mendirikan Muhammadiyah untuk mendorong modernisasi pendidikan dengan tetap mempertahankan konten lokal, sehingga tidak harus hanyut ke dalam konten yang disediakan oleh kolonial.
    Memahami konteks kesejarahan ini membantu kita melihat problematika pesantren sebagai bagian dari proses transformasi yang kompleks. Langkah ke depan memerlukan upaya untuk menjembatani tradisi pesantren dengan tuntutan zaman modern tanpa kehilangan akar budaya lokalnya.

    Transformasi Pesantren: Realitas dalam Konteks Globalisasi

    Salah satu ciri khas pesantren sejak masa kolonial adalah etos perlawanan terhadap sistem modern yang diperkenalkan oleh kekuatan kolonial. Meskipun perlawanan ini berlangsung lama, pada akhirnya, pesantren tidak mampu sepenuhnya menghindari dampak dominasi kekuasaan kolonial, yang memiliki sumber daya besar.

    Sekolah modern seperti Muhammadiyah, misalnya, awalnya hanya mengadopsi struktur formal pendidikan modern dengan tetap mempertahankan konten lokal yang dirancang oleh para aktivisnya. Namun, seiring waktu, sistem pendidikan Muhammadiyah menjadi bagian dari sistem pendidikan nasional yang bercorak modern sepenuhnya. Di sisi lain, pesantren tradisional lebih memilih untuk sepenuhnya menolak sistem pendidikan kolonial. Pada masa kakek saya, misalnya, bersekolah di sekolah Belanda adalah sesuatu yang aib. Akibatnya, kalangan pesantren tradisional tertinggal dalam pendidikan formal.

    Hingga 1945, anak-anak pesantren tradisional hampir tidak ada yang bersekolah. Sementara itu, dari kalangan lain, tokoh seperti Sumitro Djojohadikusumo-ayah Presiden Prabowo-sudah meraih gelar doktor ekonomi dari universitas di Amerika. Kondisi ini menciptakan kesenjangan besar dalam pendidikan formal antara pesantren dan kelompok masyarakat lainnya.

    Baru pada tahun 1960-an, anak-anak dari pesantren tradisional mulai mengenyam pendidikan formal dengan susah payah. Namun, mereka tetap menghadapi kendala, termasuk warisan mentalitas yang sulit sepenuhnya beradaptasi dengan sistem modern. Kiai Ali Maksum,

    misalnya, seorang intelektual pesantren terkemuka, mengaku tidak kerasan mengajar di IAIN, semata-mata karena setiap hari harus berangkat ke kampus mengenakan celana panjang.

    Kalangan pesantren baru mulai menghasilkan lulusan sarjana pada pertengahan tahun 1970-an- sarjana lulusan IAIN. Sebelumnya, hanya sedikit sekali orang NU yang mencapai gelar sarjana, sementara kalangan modernis sudah lebih dahulu menempati ruang akademik dan intelektual.

    Ini beberapa hal yang menurut saya perlu menjadi bagian dari perspektif untuk memahami masalah pesantren dengan lebih jernih. Kita harus berhati-hati agar tidak salah arah, karena jika kita tidak jernih dalam merumuskan masalah dan salah arah ini terus berlanjut, penyelesaiannya akan semakin jauh dari akar masalah. Hanya karena kita bangga terhadap pesantren, tidak berarti bahwa pesantren harus otomatis dianggap sebagai solusi alternatif dalam segala hal. Dunia sudah berubah, dan kita berada di era globalisasi. Tidak ada pilihan lain selain mengintegrasikan diri ke dalam sistem global. Kita melihat Arab Saudi melakukannya. Mereka menyadari bahwa tidak ada jalan lain kecuali menyesuaikan diri dengan sistem global. Pesantren pun perlu memikirkan posisinya dalam konteks global ini.

    Transformasi dari model tradisional menuju integrasi ke dalam sistem global yang modern inilah akar dari banyak keluhan yang kita dengar, yang kemudian melahirkan tuntutan-tuntutan afirmasi dan pengakuan. Kita mendengar keluhan bahwa lulusan pesantren sulit diterima di perguruan tinggi negeri. Lalu muncul Undang-Undang Pesantren, sebuah produk yang dipicu oleh desakan pesantren untuk meminta afirmasi, menuntut pengakuan, dan menagih janji pemerintah. Sampai-sampai ada kebijakan penerimaan mahasiswa fakultas kedokteran tanpa tes bagi hafiz Quran. Ini jelas tidak relevan, dan hal-hal semacam ini lahir dari cara berpikir yang tidak menyentuh akar masalah-pada kekeliruan membaca peta masalah.

    Persoalannya bukan pada afirmasi, melainkan pada bagaimana sistem tradisional dapat diintegrasikan ke dalam sistem modern. Suka atau tidak, kita harus memikirkan bagaimana pesantren bisa menyelaraskan praktik tradisionalnya dengan tuntutan sistem pendidikan modern. Ini mencakup tidak hanya sistem pendidikan nasional, tetapi juga sistem global yang semakin terstandar dengan ukuran-ukuran internasional, seperti World University Rankings (WUR) dan lain sebagainya. Globalisasi, bagaimanapun, telah membawa sistem pendidikan ke arah yang mengutamakan standar global, bukan sekadar relevansi lokal.

    Transformasi pesantren ke dalam sistem modern tentu membawa konsekuensi logis: ada hal-hal yang bisa didapatkan sebagai insentif integrasi, namun ada juga yang harus dilepaskan atau direlakan hilang. Tantangan utamanya adalah menentukan mana yang harus dipertahankan, dan bagaimana pesantren bisa berintegrasi dengan sistem modern tanpa kehilangan jati diri dan memperoleh manfaat darinya.

    Masalah utama pesantren hari ini adalah bagaimana proses transformasi itu dilakukan. Ada masalah-masalah sampingan, misalnya represi politik di masa Orde Baru. Meski itu pernah terjadi, masalah utamanya tetap pada integrasi sistem pendidikan pesantren ke dalam sistem global. Ini memerlukan visi yang jelas dan pendekatan yang strategis, agar pesantren dapat terus berkembang tanpa kehilangan identitasnya dalam menjawab tantangan zaman.

    KH. Yahya Cholil Staquf
    Penulis adalah Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama

    Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggung jawab penulis. (Terima kasih – Redaksi)

    (erd/erd)



    Sumber : www.detik.com