Tag: kesehatan janin

  • Menteri Pembangunan Keluarga Bicara Susahnya Turunkan Stunting RI, Ini Penyebabnya


    Jakarta

    Stunting masih menjadi salah satu persoalan kesehatan yang disorot di Indonesia. Stunting merupakan sebuah kondisi gagal tumbuh pada anak disebabkan oleh kekurangan gizi kronis dalam 1.000 hari pertama kehidupan.

    Tidak hanya berdampak pada berat, tinggi badan anak, serta risiko lebih rentan penyakit, stunting juga berefek buruk pada perkembangan kognitif. Kondisi ini yang akhirnya memengaruhi kemampuan belajar, berpikir, hingga kecerdasan anak. Hal ini yang akhirnya membuat stunting menjadi salah satu fokus kerja dari pemerintah.

    Prevalensi stunting di Indonesia sebenarnya menunjukkan tren penurunan. Tercatat pada tahun 2018 kasus stunting berada di angka 30,8 persen turun menjadi 24,4 persen pada tahun 2021, 21,6 persen pada tahun 2022, dan pada tahun 2023 menjadi 21,5 persen.


    Meski begitu, prevalensi stunting di Indonesia masih termasuk tinggi apabila dibandingkan dengan negara-negara lain seperti Thailand di angka 10 persen dan Vietnam 19 persen.

    Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Mendukbangga) Wihaji menuturkan ada sejumlah faktor yang membuat persoalan stunting di Indonesia masih cukup tinggi. Beberapa di antaranya adalah masih kurangnya asupan gizi, kurangnya air bersih di daerah tertentu, kurangnya edukasi, hingga masih banyak hunian tak layak huni dan belum memiliki sistem sanitasi.

    Wihaji berpendapat kebanyakan dari faktor tersebut sangat berkaitan dengan kondisi ekonomi masyarakat pada saat ini.

    “Ekonomi itu faktor utamanya kenapa dia tidak punya jamban. Kenapa dia tidak punya air bersih, itu dari lingkungan, kemudian kenapa juga kurang mengerti, ya karena masih kurang edukasi juga,” ujar Wihaji ketika ditemui awak media di Kab Karawang, Jawa Barat, Rabu (4/12/2024).

    Wihaji menuturkan edukasi pada masyarakat juga masih menjadi PR (pekerjaan rumah) yang besar untuk segala pihak dalam mengatasi masalah stunting. Masih ada banyak kebiasaan ibu hamil yang sebenarnya dapat memengaruhi kesehatan janin, namun masih saja dilakukan.

    Salah satu yang disoroti misalnya adalah kebiasaan nyirih atau mengunyah sirih di beberapa daerah tertentu yang masih dilakukan oleh ibu hamil.

    Menurutnya kebiasaan ini dapat memengaruhi kondisi janin yang akhirnya dapat meningkatkan risiko stunting. Terlebih kebiasaan ini biasanya juga dilakukan dengan menambahkan zat-zat lain yang bisa saja berisiko pada janin.

    “Itu termasuk kultur yang perlu diedukasi, itu salah satu contohnya, beberapa daerah itu masih ada,” sambungnya.

    Wihaji lebih lanjut mengatakan pihaknya saat ini akan melakukan pendekatan berbasis data dalam penanganan stunting secara by name by address. Ia menuturkan saat ini tercatat ada sekitar 8,7 juta keluarga berisiko stunting di Indonesia.

    Menurutnya, kini pihak Kemendukbangga tinggal fokus bekerja bersama kementerian terkait untuk mencapai hal tersebut. Ia yakin secara bertahap nantinya angka stunting akan perlahan menurun sesuai dengan instruksi dari Presiden Prabowo Subianto.

    “Kita mau cicil pelan-pelan. Perintah Pak Presiden, sudah jangan banyak diskusi, jangan banyak seminar, jangan banyak lokakarya, turun ke lapangan langsung selesaikan masalahnya,” ujar Wihaji.

    “Kerja sama antar kementerian juga akan lebih fokus karena perintah Pak Presiden. Jangan sampai nanti ada tumpang tindih program antar kementerian. Mulai saat ini dirapihkan, saya yakin nantinya akan tertangani dengan baik,” tandasnya.

    (avk/suc)

    Sumber : health.detik.com

    Alhamdulillah sehat wal afiyat اللهم صل على رسول الله محمد
    Source  : unsplash.com / Jonas Kakaroto
  • Ibu Hamil Tetap Doyan Ngopi, Aman Nggak ya Buat Janin?


    Jakarta

    Konsumsi kopi berlebihan perlu diwaspadai terkait efek samping yang ditimbulkan. Misalnya pada ibu hamil yang bisa menyebabkan risiko kesehatan serius pada janin.

    Konsumsi kafein selama masa kehamilan kerap menjadi topik yang banyak diperbincangkan, terutama karena risiko yang dapat meningkat seiring bertambahnya usia kehamilan.

    Meski sebagian besar ibu hamil sudah mengetahui pantangan selama masa kehamilan seperti menghindari alkohol, merokok, atau konsumsi makanan mentah, tapi bahaya kafein pada ibu hamil kerap luput dari perhatian. Padahal hasil sejumlah penelitian menunjukkan konsumsi kafein dalam jumlah tinggi bisa berdampak serius terhadap kesehatan janin.


    young attractive asian woman who drink coffeeKonsumsi kopi berlebihan pada ibu hamil perlu diwaspadai terkait efek samping yang ditimbulkan. Foto: iStock

    Dilansir dari Stylist UK (03/08/2025), berdasarkan pedoman dari Layanan Kesehatan Nasional Inggris (NHS), ibu hamil disarankan untuk membatasi asupan kafein maksimal 200 miligram per hari. Jumlah ini setara dengan 2 cangkir kopi instan, 1 cangkir kopi saring (140 mg), atau 3 cangkir teh.

    Minuman ringan seperti minuman bersoda dan makanan yang mengandung cokelat juga memiliki kafein, meski dalam jumlah yang lebih kecil. Maka dari itu penting bagi ibu hamil untuk memperhitungkan keseluruhan asupan dari berbagai sumber.

    Terlalu banyak konsumsi kafein saat hamil rupanya bisa berdampak serius pada perkembangan janin. Beberapa risiko yang bisa muncul antara lain berat badan bayi yang rendah saat lahir. Lalu pertumbuhan janin yang terhambat sampai meningkatnya risiko keguguran.

    Hal ini karena kafein bisa menyempitkan pembuluh darah di rahim dan plasenta, yang akhirnya mengurangi aliran darah ke bayi. Bahkan ada penelitian yang menyebut konsumsi kafein berlebih bisa meningkatkan risiko bayi lahir mati (stillbirth).

    Tak hanya itu, efeknya juga bisa terasa dalam jangka panjang. Misalnya, anak-anak yang ibunya sering minum kafein saat hamil cenderung punya tinggi badan yang lebih pendek saat mereka berusia 4-8 tahun.

    Pregnant woman touching her belly sitting on the bed in bedroomIlustrasi Hamil Besar. Foto: Getty Images/iStockphoto/N_Saroach

    Menjelang akhir kehamilan, tubuh ibu hamil akan semakin lambat memproses kadar kafein. Kalau di trimester pertama kafein bisa hilang dari tubuh dalam waktu sekitar lima jam, di trimester ketiga waktu ini bisa molor hingga 18 jam. Artinya kafein menetap lebih lama di tubuh dan bisa meningkatkan risiko pada janin, terutama jika dikonsumsi berlebihan.

    Para ahli menyarankan sebaiknya ibu hamil mulai mengurangi asupan kafein sejak awal kehamilan. Bahkan kalau bisa dihindari sama sekali. Kopi tanpa kafein atau minuman herbal bisa jadi alternatif yang lebih ramah untuk ibu hamil.

    Sebagian dokter memang masih memperbolehkan satu cangkir kopi sehari. Tapi intinya, ibu hamil tetap harus bijak dan tahu batasan jika mengonsumsi kopi atau minuman lainnya yang mengandung kafein.

    Kalau tubuh terasa lelah, daripada mengandalkan kopi lebih baik coba istirahat sebentar atau tidur siang. Dengan memahami risikonya dan lebih hati-hati dalam memilih minuman, ibu hamil bisa tetap sehat sambil menjaga pertumbuhan si kecil tetap optimal di sepanjang kehamilan.

    (sob/adr)

    Sumber : food.detik.com

    Alhamdulillah Makanan Minuman Sehat Di JumatBerkah.Com اللهم صل على محمد
    Source : unsplash.com / Eater Collective