Tag: kesombongan

  • Meremehkan Orang Lain



    Jakarta

    Manusia itu tidak boleh sombong karena yang berhak sombong hanya Allah SWT. tidak ada yang lain. Cukuplah Iblis menjadi pelajaran bagi hamba-hamba Allah SWT. akan bahayanya sifat sombong tersebut. Iblis tidak mau menaati perintah Allah SWT. untuk bersujud kepada Nabi Adam AS. karena sombong, meremehkan dan merasa lebih baik daripada Adam AS.

    Rasulullah SAW. bersabda : “Tidak akan masuk surga orang yang ada kesombongan walau sebesar zarah di dalam hatinya.” Seorang laki-laki bertanya, “Sesungguhnya semua orang senang bajunya bagus, sandalnya bagus, apakah itu kesombongan?” Beliau menjawab, “Sesungguhnya Allah Maha Indah dan mencintai keindahan. Sombong adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia” (HR Muslim).


    Ini penting bahwa orang yang sombong itu menolak kebenaran dan merendahkan manusia. Orang yang bersikap seperti ini tentu akan dijauhi oleh para sahabatnya dan akan terkucil dalam komunitasnya. Ajaran Islam yang luhur melarang seseorang berlaku sombong karena yang berhak memiliki sifat sombong hanya Allah SWT. Dia berfirman dalam sebuah hadis qudsi,”Sifat sombong adalah selendangku dan keagungan adalah busanaku. Barangsiapa yang merebut salah satunya dariku, maka akan Aku lemparkan dia ke neraka Jahanam.” (HR Ibnu Majah).

    Orang yang menolak kebenaran itu dalam diskusi maupun berdebat, biasanya semua orang yang tidak sesuai dengan dirinya dianggap berseberangan dan ia musuhi. Sejatinya ada kaum seperti itu selalu menolak kebenaran meskipun berulang diberitahu. Hal ini sebagaimana firman-Nya dalam surah Yasin ayat 9 yang terjemahannya, “Kami memasang penghalang di hadapan mereka dan di belakang mereka, sehingga Kami menutupi (pandangan) mereka. Mereka pun tidak dapat melihat.”

    Makna ayat di atas adalah : Telah digambarkan pula bahwa orang-orang yang tidak beriman itu memandang baik perbuatan jahat yang mereka kerjakan. Hal demikian menyebabkan mereka menjadi sombong, sehingga mereka enggan mengikuti ajaran rasul. Pikirannya tertutup dari kebenaran, dari apa yang dapat mendatangkan manfaat.

    Oleh karena itu, tidak ada yang bisa mereka pahami kecuali apa yang telah diwariskan dari nenek moyang mereka. Ringkasnya, mereka selalu berada dalam penjara kebodohan, seolah-olah hati mereka dipisahkan oleh dinding, sehingga mereka tidak bisa berpikir dan merenungkan dalil-dalil kebenaran ajaran yang dibawa rasul. Ada pula yang mengartikan dinding yang menghalangi itu dengan hijab; hingga berarti Allah SWT. menjadikan hijab yang menghalangi orang-orang musyrik untuk menyakiti Rasul. Sedang mata yang tertutup diartikan, mereka tidak bisa mengindra dengan baik sesuatu yang dilihatnya, dan tidak satu pun petunjuk yang dapat meluruskan pikiran mereka.

    Betapa ruginya jika seseorang muslim telah diuji dengan ditutupi ( diberi hijab ) sehingga meskipun matanya melihat, tetapi hatinya tetap keruh dan tiada bisa menangkap makna yang dilihatnya.

    Biasanya dalam kehidupan sehari-hari dia menjadi orang yang “merasa” paling benar hingga tidak mengindahkan opini orang lain. Itulah termasuk penyakit hati yang seharusnya kita jauhi.

    Jika diamati pada group-group medsos, akan muncul orang-orang yang berkarakter seperti ini. Bagaimana kita menyikapinya ? Tentu tidak perlu terbawa arus emosi untuk menjadi seperti itu, hindari dan jauhi ketika sudah tidak mempan diberitahu dengan lembut maupun terbuka. Berdo’alah pada Sang Pencipta agar hijab yang menutup mata hatinya untuk disingkapkan.

    Dalam pandangan Islam, Bani Israil, meskipun mengetahui akan datangnya utusan terakhir (Nabi Muhammad SAW), banyak yang mengingkari dan menolak kerasulan beliau. Ini karena ketidaktawaran sebagian besar dari mereka untuk menerima kebenaran, meskipun telah mengetahui tanda-tanda dan bukti-bukti kebenaran Islam.

    Hal ini dijelaskan dalam firman-Nya surah al-Baqarah ayat 83 yang terjemahannya, “Ingatlah) ketika Kami mengambil perjanjian dari Bani Israil, “Janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin. Selain itu, bertutur katalah yang baik kepada manusia, laksanakanlah shalat, dan tunaikanlah zakat.” Akan tetapi, kamu berpaling (mengingkarinya), kecuali sebagian kecil darimu, dan kamu (masih menjadi) pembangkang.”

    Ayat ini menjelaskan bahwa Allah SWT. telah mengambil perjanjian dari Bani Israil untuk tidak menyembah selain-Nya dan berbuat baik kepada sesama, namun mayoritas mereka mengingkari perjanjian tersebut.Para pengingkar selalu meremehkan orang lain, ini menjadi ciri-cirinya. Sikap meremehkan orang lain itu muncul dari dalam dirinya sebagai orang yang berderajat tinggi. Kebanggaan diri ini mengarah sikap ujub, padahal sikap jelas dilarang.

    Perasaan diri berderajat tinggi itu menjadikan dia sia-sia hidupnya. Ketinggian derajat yang menjadi ukuran di dunia seperti kepandaian, harta, kekuasaan maupun ketenaran. Semua itu tidaklah menjadi ukuran saat manusia dihisab karena timbangan amal perbuatan baik yang membawamu pada keselamatan. Semoga kita semua dalam lindungan-Nya, agar hidup dalam keselamatan di dunia dan di akhirat.

    Aunur Rofiq

    Penulis adalah Pendiri Himpunan Pengusaha Santri Indonesia

    Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggung jawab penulis. (Terima kasih – Redaksi)

    (erd/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Kesombongan Para Pemuja Ilmu Pengetahuan



    Jakarta

    Sebagaimana dalam firman-Nya pada surah al-Mujadalah ayat 11 yang artinya, “Allah akan meninggikan derajat orang yang berilmu di antara kalian dan orang yang dikaruniai ilmu beberapa derajat.”

    Maka kedudukan orang yang berilmu 700 derajat lebih tinggi daripada orang beriman tetapi tidak berilmu (menurut Ibnu Abbas RA) dan jarak untuk menempuh dua derajat mencapai lima ratus tahun perjalanan. Fath al-Mushali berkata, “Bukankah orang yang sakit kalau tidak diberi makan, minum, atau obat akan mati?”

    Mereka menjawab,” Ya, benar.”
    “Begitu juga hati manusia, kalau tidak diberi hikmah dan ilmu selama tiga hari, ia pasti mati.”


    Keterbatasan ilmu yang dimiliki seseorang adalah keniscayaan, tiada yang bisa klaim terhadap keahliannya kecuali dengan ijin-Nya. Apakah seorang yang berilmu tinggi dapat membuat telor? Tentu jawabnya, ” Ya bisa.” Sama halnya membuat biji-bijian tanaman. Namun jika kita bertanya lagi, “Apakah telor dan biji-bijian yang telah dibuat bisa dikembang biakan?” Maka jawabannya, ” Tidak bisa.” Kenapa?

    Inilah menunjukkan keterbatasan ilmu tadi dibandingkan ilmu Allah SWT sebagai pencipta kehidupan dunia dan akhirat. Ruh adalah wewenang-Nya, manusia tidak akan sampai. Kita hanya menerima atas ketetapan-Nya dan ridha.

    Namun demikian, seseorang yang berkemampuan dan berilmu bisa lalai tatkala ia membanggakan keilmuannya dan berkelompok serta meyakini bahwa ilmu pengetahuan merupakan kunci alam semesta. Mereka bisa mengelola sebagian isi alam semesta seperti manusia bisa menambang kekayaan alam, menciptakan sesuatu yang mempunyai nilai tambah tinggi dan bidang industri yang menghasilkan aneka produk. Mereka anggap bahwa kunci dari semua itu hanyalah ilmu pengetahuan yang mereka miliki.

    Dalam hal ini mereka lalai akan peran Allah SWT yang telah menundukkan semua itu untuk kemaslahatan hambanya. Ingatlah bahwa Allah SWT Sang Pencipta dan Maha Kuasa sebagaimana firman-Nya dalam surah ar-Rum ayat 54 yang terjemahannya, “Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa.”

    Ayat di atas bermakna menjelaskan bahwa manusia itu saat masih bayi berada dalam kondisi lemah, bahkan sebelum itu mereka dalam ketiadaan. Allah-lah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, yakni pada masa bayi. Kemudian Dia menjadikan kamu setelah keadaan lemah itu menjadi kuat dan berdaya, yakni pada masa dewasa, sehingga kamu dapat melakukan banyak hal, kemudian Dia menjadikan kamu setelah kuat dan berdaya itu lemah kembali dan beruban, yakni masa tua. Demikianlah, Dia akan terus menciptakan apa yang Dia kehendaki, antara lain menciptakanmu dari lemah menjadi kuat dan sebaliknya. Dan Dia Maha Mengetahui atas segala pengaturan ciptaan-Nya, Mahakuasa atas segala sesuatu yang Dia kehendaki, termasuk membangkitkanmu kembali dari kematian.

    Titik akhir lemahnya kekuatan seseorang adalah kematian. Hal ini merupakan puncak kelemahan yang telah Allah SWT tetapkan untuk manusia. Kematian terkadang datang pada akhir tangga kelemahan, saat tua renta. Terkadang kematian datang pada saat seseorang masih muda dan kuat (puncak kekuatan). Kedua kematian ini termasuk dalam sunnatullah. Allah SWT berfirman dalam surah Yasin ayat 68 yang terjemahannya,”Siapa yang Kami panjangkan umurnya niscaya Kami balik proses penciptaannya (dari kuat menuju lemah). Maka, apakah mereka tidak mengerti?

    Makna ayat di atas adalah: Dan ingatlah wahai anak cucu Adam, barang siapa Kami panjangkan umurnya niscaya Kami kembalikan dia kepada awal kejadiannya. Pada saat itu dia kembali lemah dan kurang akal, layaknya anak kecil, sehingga tidak kuat lagi melakukan ibadah yang berat. Maka, mengapa mereka tidak mengerti dan memanfaatkan kesempatan selagi muda?

    Manusia hanya boleh menggunakan hak kebebasannya di hadapan manusia lain yang berinteraksi dengannya. Kebebasan itu ada pada dirinya namun tidak boleh mengurangi atau merusak penghambaannya pada Allah SWT. Bahkan dengan penghambaan-Nya maka ia akan terlindungi kebebasannya dari perampasan atau pengurangan. Seseorang yang meyakini dirinya milik Allah SWT tidak akan membiarkan orang lain mengatur atau memaksanya untuk mengikuti atau melakukan sesuatu. Penghambaan ini adalah bukti/pengakuan adanya Sang Pencipta yang Maha Kuasa. Oleh sebab itu, tidaklah perlu menunjukkan kesombongan karena menguasai ilmu pengetahuan. Tahukah bahwa kemampuan berilmu itu merupakan pemberian-Nya.

    Sebagai contoh bahwa setiap orang akan kedatangan masa tua, kemampuan fisik yang semakin menurun, berbagai macam penyakit mulai berdatangan, kemampuan akal untuk mengingat menurun dan kadang menjadi pikun. Apakah penguasaan ilmu pengetahuan bisa mengatasi penuaan? Jawabannya, “Tidak.” Ekstremnya apakah mampu menunda atau sama sekali membatalkan kematian? Jawabannya sama.

    Bagi sebagian orang yang meyakini bahwa ilmu pengetahuan merupakan segala kehidupan ini, maka sia-sialah mereka dan masuk golongan yang merugi. Mereka lalai atas beberapa kejadian seperti: tidak bisa menghindari dari kebodohan setelah sebelumnya berilmu, mengontrol lupa sebelumnya bisa mengingat, menolak stres setelah fresh, gila setelah berakal. Ingatlah bahwa semua kepandaian yang manusia miliki statusnya adalah pinjaman bukan hak milik. Saatnya diminta kembali tatkala ia wafat.

    Jika benar bahwa ilmu pengetahuan adalah kunci pembuka atau alat untuk memudahkan segala yang susah dan solusi dari semua yang mustahil, maka seharusnya ilmu itu dari dulu bisa mengatasi permasalahan uban, membebaskan manusia dari penuaan dan menghindarkan manusia dari ajal yang datang. Sesungguhnya ilmu pengetahuan itu diberikan Allah SWT sebagai wasilah untuk memudahkan makhluk dalam membuka rahasia alam semesta.

    Jadi, yakinlah bahwa kemampuan menyerap ilmu pengetahuan merupakan karunia Allah SWT kepada manusia. Maka taatilah perintah dan jauhi larangan-Nya. Semoga Allah SWT memberikan keteguhan iman agar selalu ingat sebagai hamba-Mu.

    Aunur Rofiq

    Ketua DPP PPP periode 2020-2025
    Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggung jawab penulis. (Terima kasih – Redaksi)

    (kri/kri)



    Sumber : www.detik.com