Tag: kucing

  • Singa Vs Harimau, Siapa yang Akan Menang?



    Jakarta

    Singa dan Harimau dikenal sebagai predator yang mengerikan di alam liar. Tak jarang, mereka sering bersaing menjadi puncak predator meski tidak hidup di wilayah yang sama.

    Sebagian besar singa, hidup di wilayah Afrika, sedangkan harimau berada di Asia. Singa dan harimau yang berbagi habitat, hanya bisa ditemukan di sebagian kecil wilayah India dan Timur Tengah.

    Ini kenapa, jika alam liar, hampir tidak bisa menemukan singa dan harimau bertarung secara langsung.


    Fisik Singa Vs Harimau

    Secara fisik, keduanya merupakan jenis kucing terbesar di dunia. Keduanya memiliki warna yang berbeda dengan singa dominan coklat pasir dan kadang ada bulu hitamnya, sedangkan harimau memiliki ciri putih oranye dengan garis hitam.

    Panjang singa bisa mencapai 208 cm dan berat bisa mencapai 225 kg. Sementara harimau lebih unggul dengan panjang bisa mencapai 390 cm dan berat 300 kg, demikian dilansir dari AZ Animals.

    Jadi bisa dikatakan, secara fisik, harimau lebih unggul karena rata-rata memiliki tubuh yang lebih besar dari singa. Meski begitu, singa dan harimau sama-sama dikenal sebagai predator yang agresif dan berbahaya.

    Secara sifat, harimau cenderung hewan yang hidup menyendiri. Berbeda dengan singa yang dikenal sebagai hewan yang berkelompok dan membentuk kawanan.

    Di alam liar, singa betina justru yang banyak melakukan perburuan. Dalam kawanan, biasanya terdiri dari satu singa jantan dewasa dengan banyak betina dan anakan singa.

    Di sisi lain, harimau sejak muda membangun wilayahnya sendiri hingga dewasa. Mereka terbiasa berburu dan mempertahankan wilayahnya sendiri.

    Jika Bertarung, Siapa yang Akan Menang antara Singa Vs Harimau?

    Sejauh ini, belum ada laporan mengenai pertarungan langsung antara singa dan harimau. Namun, ada beberapa laporan tentang pertarungan singa dan harimau di penangkaran.

    Pada 1914, misalnya, di Kebun Binatang Bronx, New York City, singa dan harimau dilaporkan mengalami pertarungan. Meski dilaporkan pertarungan tidak berlangsung lama, tapi punggung singa mengalami patah karena harimau.

    Pertarungan lain pernah terjadi di Binatang Ankara pada 2010. Diketahui, harimau sempat memasuki kandang singa dan berakhir dengan pertarungan.

    Namun, pertarungan tidak berlangsung lama, dengan satu serangan harimau yang melukai leher singa sangat parah. Berdasarkan kedua pertarungan yang pernah dilaporkan, harimau unggul dalam menyerang singa.

    Secara umum, harimau memegang keunggulan atas singa, salah satunya karena ukuran dan kekuatan. Jika di alam liar, mungkin akan berbeda karena singa datang berkelompok, sedangkan harimau sendirian.

    (faz/nah)



    Sumber : www.detik.com

  • Kucing Kencing di Rumah? Ini Cara Menghilangkan Najis dan Bau Sekaligus


    Jakarta

    Kucing adalah hewan yang sangat disukai dalam Islam. Rasulullah SAW sendiri dikenal sangat menyayangi kucing. Namun demikian, kotoran kucing, baik itu tinja maupun air kencingnya, tetap dikategorikan sebagai najis.

    Umat Islam wajib mengetahui cara membersihkan najis kotoran kucing agar dapat menjaga kesucian tempat tinggal dan sahnya ibadah, terutama sholat.

    Dikutip dari buku Fiqhul Islam: Belajar Fikih Mazhab Syafi’I Untuk Pemula karya Imam Syafi’i, najis adalah istilah dalam agama Islam yang berarti sesuatu yang kotor, menjijikan dan hanya dapat dihilangkan dengan mensucikan diri dari najis dan mencuci sesuatu yang terkena najis.


    Jenis Najis

    Najis terbagi menjadi 3 bagian, yaitu hadas mughallazah, mukhaffafah dan mutawassitah. Ketiganya adalah golongan najis yang dibedakan sesuai tingkatannya.

    1. Najis Mughallazah

    Najis ini merupakan najis berat, yang termasuk ke dalamnya adalah anjing, babi, dan binatang yang lahir dari persilangan antara anjing dan babi, atau keturunan silang dengan hewan lain yang suci.

    2. Najis Mutawassithah

    Najis jenis ini merupakan najis tingkat sedang, terdapat 15 macam yang masuk ke dalam kategori sedang, di antaranya:

    – Setiap benda cair yang memabukkan (arak atau minuman keras).

    – Air kencing selain kencing bayi laki-laki di bawah dua tahun yang belum makan apa-apa selain air susu ibu.

    – Madzi, yaitu cairan berwarna putih agak pekat yang keluar dari kemaluan.

    – Wadi, yaitu cairan putih, keruh, dan kental yang keluar dari kemaluan.

    – Tinja atau kotoran manusia.

    – Kotoran hewan, baik yang bisa dimakan dagingnya atau tidak.

    – Air luka yang berubah baunya.

    – Nanah, baik kental atau cair.

    – Darah, baik darah manusia atau lainnya, selain hati dan limpa.

    – Air empedu.

    – Muntahan, yakni benda yang keluar dari perut ketika muntah.

    – Kunyahan hewan yang dikeluarkan dari perutnya.

    – Air susu hewan yang tidak bisa dimakan dagingnya. Sedangkan air susu manusia dihukumi suci, kecuali jika keluar dari anak perempuan yang belum mencapai umur baligh (9 tahun), maka dihukumi najis.

    – Semua bagian tubuh dari bangkai, kecuali bangkai belalang, ikan, dan jenazah manusia. Yang dimaksud bangkai dalam istilah fikih adalah hewan yang mati tanpa melalui sembelihan secara syara’ seperti mati sendiri, terjepit, ditabrak kendaraan, atau lainnya.

    – Organ hewan yang dipotong/terpotong ketika masih hidup (kecuali bulu atau rambut hewan yang boleh dimakan dagingnya).

    3. Najis Mukhaffafah

    Najis ini termasuk jenis yang ringan. Beberapa yang masuk ke dalam kategori ringan adalah:

    Kencing bayi laki-laki yang belum makan apa-apa selain ASI dan belum mencapai umur 2 tahun.

    Hukum Najis Kotoran Kucing

    Merujuk buku Ensiklopedia Fikih Indonesia 3: Taharah karya Ahmad Sarwat, Lc., menurut mayoritas ulama mazhab (terutama Syafi’i, Maliki, dan Hanbali), kotoran kucing termasuk najis mutawassithah (najis sedang), karena berasal dari hewan yang tidak halal dimakan dan najisnya bersifat ainiyyah atau berwujud jelas dan terlihat.

    Dalam hadits, Rasulullah SAW bersabda tentang kucing:

    “Kucing itu tidak najis. Ia adalah hewan yang sering berkeliling di sekitarmu.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, dan An-Nasa’i)

    Namun yang dimaksud dalam hadits ini adalah tubuh kucing dan liurnya yang bersih, bukan kotorannya. Kotoran tetap najis sebagaimana najis hewan pada umumnya.

    Cara Menghilangkan Najis Kotoran Kucing

    Untuk membersihkan najis kotoran kucing, ada dua hal yang perlu diperhatikan:

    Jika Najis Mengenai Lantai atau Tanah

    1. Buang kotorannya terlebih dahulu.

    Gunakan tisu, lap atau sarung tangan untuk mengambil tinja atau mengelap air kencing.

    2. Bersihkan sisa najis.

    Siram dengan air hingga tidak ada bekas warna, bau, dan rasa.

    3. Gunakan sabun jika perlu.

    Apabila najis menempel kuat atau berbau tajam, gunakan sabun dan air mengalir agar lebih bersih.

    Dalam Kitab: Al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu karya Dr. Wahbah Az-Zuhaili, disebutkan, “Menghilangkan najis cukup dengan air yang mengalir dan hilangnya sifat najis (warna, bau, rasa).”

    Jika Najis Mengenai Pakaian atau Barang

    1. Pisahkan pakaian yang terkena najis dan jangan mencampurnya dengan pakaian lain saat mencuci.

    2. Cuci bagian yang terkena najis terlebih dahulu. Basahi dengan air dan gosok hingga bersih.

    3. Pastikan hilang warna, bau, dan rasa. Jika masih ada salah satu dari tiga sifat najis tersebut, cucilah kembali.

    (dvs/lus)



    Sumber : www.detik.com