Tag: kuliner pasar baru jakarta

  • Gurih Menyegarkan! Bakso Yong Tau Fu di Pasar Baru Sejak 1998


    Jakarta

    Tidak hanya bakmi, di Pasar Baru juga ada kedai bakso ala Singapura yang punya pilihan menarik. Kelezatannya tidak perlu diragukan karena sudah terkenal sejak 1998!

    Banyak kuliner menarik yang bisa ditemui di kawasan Pasar Baru Jakarta dan sekitarnya. Pilihannya beragam, mulai dari kuliner tradisional hingga kuliner kekinian.

    Sejumlah kuliner di Pasar Baru juga ada yang kelezatannya terkenal sejak dulu. Salah satunya kedai bakso di dalam Pasar Atom Pasar Baru.


    Pondok Bakso Loncat merupakan salah satu kedai bakso legendaris di Pasar Baru, yang sudah mulai berjualan sejak tahun 1998.

    Menu yang ditawarkan di kedai ini sangat menarik, karena bukan seperti bakso khas Indonesia yang semangkuknya hanya terdiri dari bakso, mie, bihun, dan tahu.

    Namun, di sini mereka menawarkan bakso yong tau fu ala Singapura. Semangkuknya bisa dilengkapi dengan berbagai jenis bakso dan topping pelengkap lainnya.

    Sistem pemesanannya juga prasmanan, sehingga pengunjung bisa mengambil berbagai macam bakso sesuai selera.

    DetikFood menyambangi Pondok Bakso Loncat untuk mencicipi bakso di sini sekaligus merasakan sensasinya. Kami juga sempat berbincang dengan pemilik kedai yang saat ini sudah masuk ke generasi ke-3.

    1. Berjualan sejak 1998

    Pondok Bakso LoncatPondok Bakso Loncat sudah berjualan sejak tahun 1998. Foto: Detikcom / Atiqa Rana

    Meskipun makanan yang ditawarkan tampak seperti bakso kekinian, tetapi Pondok Bakso Loncat termasuk ke dalam kuliner legendaris di Pasar Baru.

    Sebenarnya mereka sudah mulai berjualan sejak tahun 1996, tetapi dulunya bukan jualan bakso seperti ini.

    Menurut pemilik, Christianto, mereka mengawali bisnis kulinernya dengan jualan nasi rames. Barulah tahun 1998, mulai menawarkan hidangan bakso yong tau fu, tetapi memang pilihannya belum banyak seperti saat ini.

    Sejak awal beroperasi sampai sekarang Pondok Bakso Loncat pun masih ramai dipadati pengunjung. Bahkan, tidak sedikit pelanggan setia datang dan makan di tempat ini.

    DetikFood bertemu pelanggan bernama ibu Ria dari Bogor yang rupanya sudah menjadi pelanggan setia sejak lama. Kebetulan saat itu ia sedang berada di Jakarta, sehingga sekaligus mampir ke kedai bakso favorit di Pasar Baru.

    “Waktu gadis kan tinggal di Jakarta, jadi bakso ini memang sudah langganan,” jelasnya,

    Menurut Ria, bakso di tempat ini punya rasa konsisten sejak dulu, Ria juga sangat menyarankan untuk mencoba bakso ikan dan tahu isi disini karena menurutnya sangat lezat.

    “Rasanya sama sejak dulu, dan kalau ke sini wajib coba bakso ikan dan tahu isi,” ujar Ria.

    2. Ada lebih dari 20 jenis bakso

    Pondok Bakso LoncatTerdapat lebih dari 20 jenis bakso yang ditawarkan oleh Pondok Bakso Loncat. Foto: Detikcom / Atiqa Rana

    Berbeda dari bakso tradisional pada umumnya, di tempat ini pengunjung bisa mencoba bakso yong tau fu ala Singapura.

    “Kami memang menawarkan semacam bakso Singapura lah. Jadi orang pilih mau apa aja, nanti kita rebusin, kita kasih sayur, dan bumbu,” jelas Christianto

    Pondok Bakso LoncatBaksonya bisa dipilih sendiri sesuai dengan selera. Foto: Detikcom / Atiqa Rana

    Terdapat 20 lebih jenis bakso yang bisa dipilih sesuai selera. Pilihannya mulai dari bakso urat, bakso biasa, bakso gepeng, otak-otak singapura, crab stick, bahkan, topping premium seperti teripang juga tersedia disini.

    Beberapa pilihan bakso di kedai ini juga diproduksi sendiri, sehingga kualitasnya selalu terjaga.

    Penasaran dengan rasa bakso yong tau fu di sini? bisa dibaca pada halaman selanjutnya!

    3. Kenikmatan kaldu tulang ayam kampung

    Pondok Bakso LoncatBegini tampilan mangkuk bakso yang kami pesan. Foto: Detikcom / Atiqa Rana

    Ketika detikfood sampai sekitar 11.30 WIB, Pondok Bakso Loncat sudah ramai dipadati pengunjung.

    Kami mencicipi bakso andalan mereka, seperti bakso ikan dan tahu isi. Usai memilih, pegawai bertanya apakah baksonya mau dilengkapi dengan mie, bihun, atau nasi.

    Setelah itu kami diarahkan ke meja yang kosong untuk menunggu sampai bakso selesai direbus. Nantinya ketika sudah siap, akan langsung diantar ke meja.

    DetikFood memesan dua mangkuk bakso dengan isian yang berbeda. Mie pelengkapnya juga berbeda, satu mangkuk dilengkapi kwetiau dan satu lagi mie kuning.

    Kurang lebih 15 menit bakso akhirnya disajikan ke meja. Karena isian yang kami pilih cukup banyak, sehingga mangkuknya pun terlihat sangat penuh.

    Namun, tampak menggiurkan karena ada tambahan sayuran sawi hijau dan sawi putih juga yang membuat tampilan mangkuk ini menjadi segar.

    Untuk mangkuk pertama, diisi kwetiau (Rp 10.000), bakso urat (Rp 12.000), bakso gepeng (Rp 9.000), bakso ikan (Rp 12.000), otak-otak ikan (Rp 12.000), kepiting cangkang (Rp 10.000), dan tahu isi (Rp 12.000).

    Pondok Bakso LoncatBegini tampilan mangkuk kedua. Baksonya disajikan dengan kuah bening. Foto: Detikcom / Atiqa Rana

    Mangkuk kedua kurang lebih isiannya serupa, tetapi kami memilih dilengkapi dengan mie kuning (Rp 15.000), ada juga udang gulung (Rp 12.000), otak-otak udang (Rp 12.000), dan empia (Rp 12.000).

    Dari tampilannya sudah sangat berbeda dengan bakso sapi tradisional. Begitu juga dengan kuahnya. Bakso pada umumnya punya kuah kaldu sapi yang berminyak, tetapi kuah bakso di sini sangat bening.

    Meskipun terlihat bening, tetapi saat diseruput, rasanya tidak hambar. Kuahnya gurih dengan rasa kaldu dan sentuhan bawang putih yang ringan.

    Menurut Christianto, kuah yang mereka pakai terbuat dari tulang ayam kampung. Mereka meraciknya dengan bumbu tambahan lainnya.

    Tanpa perlu ditambah sambal atau racikan lain, kuahnya juga sudah punya rasa yang enak dan pas. Namun, kalau mau agak pedas, kami sarankan tambah acar cabe ijo.

    Bakso uratnya punya ukuran yang tidak begtu besar, dengan urat yang masih halus. Bakso gepeng dan bakso biasanya pun punya tekstur garing tetapi masih kenyal.

    Bakso ikannya tidak boleh dilewatkan karena tekstur awalnya sedikit garing tetapi saat dikunyah, berubah menjadi sangat kenyal. Tahu isinya juga kenyal dengan isian yang padat. Beberapa otak-otak dan bakso lainnya juga punya rasa yang enak, tidak amis, dan segar.

    4. Mie ayam jamur tak kalah enak

    Pondok Bakso LoncatMie ayam jamur di Pondok Bakso Loncat juga tidak kalah enak. Foto: Detikcom / Atiqa Rana

    Selain bakso, Pondok Bakso Loncat juga punya menu makanan lain, seperti mie ayam jamur, nasi goreng, capcay, sapo tahu, ikan kakap, ikan bawal, dan masih banyak lagi.

    Kami tertarik memesan mie ayam jamurnya yang juga jadi favorit di sini. Semangkuk mie ayam (Rp 35.000), dilengkapi dengan topping ayam, jamur, pangsit, dan kuah kaldu secara terpisah.

    Porsi mienya cukup besar dengan bentuk mie yang agak keriting dan pipih. Soal rasa, ternyata gurih sedap yang diimbangi dengan sedikit sekali sentuhan manis. Ayamnya juga dimasak dengan bumbu kecap tetapi rasa manisnya sangat ringan, tidak begitu dominan.

    Jamur yang mereka pakai pun berbeda, karena menggunakan jamur shitake yang dipotong menjadi kecil-kecil. Rasa dan aroma jamur shitake yang khas memberi sentuhan rasa baru pada mie ayam tersebut.

    Dimakan begitu saja mie ayamnya sudah sedap dengan perpaduan rasa yang pas. Namun, jika kamu ingin lebih gurih dan tekstur mie yang agak basah, bisa ditambah kuah kaldunya.

    (aqr/adr)



    Sumber : food.detik.com

  • Hidden Gem! Ayam dan Bebek Goreng Serundeng Bumbu Bali di Dalam Gang


    Jakarta

    Di Jalan Pintu Air Pasar Baru ada warung makan hidden gem yang lokasinya di dalam gang. Mereka menawarkan ayam dan bebek goreng serundeng dengan bumbu Bali spesial!

    Tempat makan di Pasar Baru Jakarta tidak sebatas di dalam jalanan utama Pasar Baru atau di Pasar Atom saja, tetapi juga di area sekitarnya seperti di Jalan Pintu Air.

    Di jalanan ini, kamu bisa menemukan tempat makan ayam dan bebek goreng yang unik. Mereka tidak memakai bumbu hitam ala Madura, tetapi menggunakan racikan bumbu khas Bali.


    Tidak hanya bumbu Balinya yang spesial, tetapi serundeng hingga sambalnya juga terkenal bikin pelanggan ketagihan.

    Meskipun tempatnya ‘tersembunyi’, tetapi warung makan ini ramai dipadati pelanggan. Kebanyakan yang datang juga orang-orang perkantoran yang bekerja di sekitar kawasan Pasar Baru.

    Penasaran dengan kelezatan nasi ayam dan bebek goreng ini, detikFood ikut mencobanya. Kami memesan nasi ayam, bebek, dengan sate-satenya yang komplet. Kami juga sempat berbincang dengan pemiliknya yang punya kisah menarik di balik warung makannya ini.

    1. Berawal dari hobi makan bebek

    Warung Ayam dan Bebek Goreng Bang AndiWarung ini menawarkan hidangan ayam dan bebek goreng serundeng yang pakai bumbu Bali spesial. Foto: Detikcom / Atiqa Rana

    Warung ini merupakan usaha Andi. Dahulu ia kerja di bidang yang berbeda dari sekarang. Sampai suatu saat Andi merasa sangat jenuh dengan pekerjaannya, lalu memutuskan untuk usaha ini.

    Warung makan ini pun ia dirikan pada tahun 2011. Awalnya Andi hanya menawarkan hidangan bebek goreng saja, tidak ada ayam dan sate-satean lengkap seperti sekarang.

    Ide usahanya ini juga muncul akibat rasa hobi. Andi mengaku hobi makan bebek dan sering berkeliling makan bebek.

    Suatu hari ia makan bebek di Indramayu, Jawa Barat dan menemukan warung makan itu menawarkan bebek pedas. Dari situ ia pun memiliki ide untuk buka usaha nasi bebek.

    “Dari situ akhirnya saya buka usaha nasi bebek, tapi saya gak mau disamakan dengan nasi bebek Madura. Akhirnya coba bikin nasi bebek bumbu Bali.” ujarnya.

    2. Lokasinya di dalam gang

    Warung Ayam dan Bebek Goreng Bang AndiWarung makannya memang tidak begitu kelihatan dar luar karena lokasinya ada di dalam gang seperti ini. Foto: Detikcom / Atiqa Rana

    Warung Ayam Bebek Serundeng Bang Andi lokasinya cukup tersembunyi karena memang berada di dalam gang jalan Pintu Air Pasar Baru.

    Tidak jauh dari area masuk Jalan Pintu Air kamu bisa menemukan tempat makan yang bentuknya tidak seperti warung atau restoran pada umumnya. Bahkan, tidak ada plang atau papan nama sebagai pertanda.

    Namun, tidak perlu khawatir salah tempat karena lokasinya tepat di depan gang. Kalau sudah bisa melihat pelanggan makan di pinggir jalan atau kompor-kompor berjejer, di situlah keberadaan ayam bebek serundeng ini.

    Warung makannya memang tidak luas, hanya menempati gang kecil pinggir jalan. Awalnya, mereka juga tidak berencana untuk membuka area dine-in di gang tersebut.

    Area gang cuma dijadikan dapur untuk memasak. Sedangkan mereka menjualnya pakai gerobakan di depan Hotel Classic. Namun, setelah beberapa bulan jualan, mereka mendapat banyak peminat dari karyawan yang berlalu lalang di depan gang tersebut.

    Andi, pemilik warung mengungkap, banyak karyawan yang meminta agar mereka membuka layanan makan di area gang tersebut. Akhirnya Andi inisiatif untuk membuka layanan makan langsung di tempat.

    Seiring berjalannya waktu, menurut Andi, pengunjung yang datang pun lebih ramai di gang daripada di gerobakan depan Hotel Classic.

    Area makannya memang kecil, hanya ada satu mejja panjang menempel di dinding gang, dan 2 atau 3 meja di depan gang. Kurang lebih hanya bisa ditempati oleh 10 orang.

    Mereka buka Senin-Sabtu, minggu dan tanggal merah tutup. Buka mulai pukul 10.30 – 16.00. Namun, mereka buka lagi gerobakan di depan hotel Classic mulai pukul 16.30 – 21.00 WIB.

    3. Bumbu Bali yang jadi daya tarik

    Warung Ayam dan Bebek Goreng Bang AndiKeunikan dari ayam dan bebek goreng di tempat ini yaitu penambahan bumbu Bali seperti ini. Foto: Detikcom / Atiqa Rana

    Meskipun lokasinya tersembunyi, tetapi warung ayam dan bebek ini rupanya memiliki banyak penggemar. Sebab, ayam dan bebek goreng yang mereka tawarkan dimasak dengan bumbu Bali.

    Andi punya saudara orang Bali, mereka akhirnya saling berbagi ide terkait bumbu tersebut.

    “Saya punya saudara orang Bali. Terus saya tanya kalau mau diadakan bumbu, kalau misalnya dia punya resep masakan Bali saya pengen dijadiin bumbu bisa gak. Akhirnya saya dikasih resepnya dan jadi bumbu Bali ini,” jelas Andi kepada detikFood (05/06/24).

    Warung Ayam dan Bebek Goreng Bang AndiSelain bumbu Bali, di sini juga menyediakan serundeng yang spesial. Foto: Detikcom / Atiqa Rana

    Bumbu Balinya juga sengaja tidak dibuat pedas karena menurut Andi tidak semua pelanggan suka masakan pedas.

    Selain bumbu Bali, hal yang banyak digemari pelanggan di sini yaitu serundeng. Andi mengaku serundengnya dibuat dengan kelapa yang benar-benar tua sehingga hasilnya lebih gurih.

    Omzet hingga kenikmatan ayam dan bebek gorengnya bisa dilihat pada halaman selanjutnya!

    4. Raih omzet Rp 40 juta per bulan

    Warung Ayam dan Bebek Goreng Bang AndiDalam satu bulan, jika ramai, penjualannya bisa mendapat omzet sampai Rp 40 juta. Foto: Detikcom / Atiqa Rana

    Keunikan dan kelezatan ayam dan bebek goreng membuat warung makan milik Andi selalu ramai pembeli.

    Andi mengaku setiap hari bisa menghabiskan sekitar 20 ekor untuk potongan ayam besar dan 15 ekor untuk ayam potongan kecil. Sedangkan bebeknya bisa habis 15 ekor per hari.

    Soal omzet, Andi mengaku jika warung nya sedang ramai, bisa menyentuh angka Rp 35 sampai Rp 40 juta. Sebenarnya omzet ini lebih kecil dibandingkan sebelum pandemi. Namun, sudah cukup lumayan meningkat dibandingkan kondisi ketika pandemi melanda.

    “Dulu itu lebih besar lagi karena lebih rame. Pandemi merosot banget, dari ayam 30 dan bebek 15, jadi ayam 5 bebek cuma 3. Jatoh banget kan,” jelas Andi.

    Setelah pandemi redup, usahanya mulai naik kembali tetapi tetap tidak bisa seperti sebelum pandemi. Andi pun merasa terbantu oleh konten kreator, meskipun keadaannya belum bisa membalikkan keadaan seperti dulu.

    5. Nikmatnya nasi ayam dan bebek goreng serundeng bumbu Bali

    Warung Ayam dan Bebek Goreng Bang AndiBegini tampilan ayam goreng serundeng bumbu Bali yang ditawarkan oleh warung makan tersebut. Foto: Detikcom / Atiqa Rana

    Detikfood memesan dua porsi nasi ayam goreng dan bebek goreng yang dilengkapi dengan sate usus goreng dan perkedel.

    Untuk ayam, mereka punya dua pilihan potongan, yaitu potongan besar dan potongan kecil. Harga untuk nasi dengan sepotong ayam kecil dibanderol (Rp 16.000) dan ayam besar (Rp 21.000).

    Untuk saat ini, ayam yang digunakan adalah ayam broiler. Kalau ada pengunjung yang request ayam kampung, barulah mereka menyiapkannya dengan ayam kampung.

    “Untuk saat ini sih pake ayam broiler. Tapi kalau ada yang pesen ayam kampung baru kita gorengin ayam kampung,” ujar Andi.

    Setelah memesan, ayam yang sudah diungkep dengan bumbu kuning ini kemudian digoreng langsung. Disajikan dengan nasi, sambal bawang dan sambal ijo, serundeng, dan bumbu bali.

    Rasa ayam gorengnya seperti ayam goreng pada umumnya. Namun, digoreng sampai tingkat kematangan yang pas. Ayamnya baru terasa berbeda ketika dimakan dengan bumbu Bali, serundeng, dan sambal.

    Warung Ayam dan Bebek Goreng Bang AndiKalau ini hidangan bebek gorengnya yang juga tidak kalah enak. Foto: Detikcom / Atiqa Rana

    Bumbu Balinya memang tidak pedas, tetapi terasa aroma dan rasa rempah-rempahan, seperti kencur dan kunyitnya cukup terasa. Meskipun memang sentuhan rasa rempahnya sangat ringan. Adapun sedikit sentuhan pedas dari bumbu Bali itu.

    Untuk serundengnya punya butiran halus dan garing. Rasa kelapanya juga tidak begitu kuat, tetapi ada sentuhan rasa manis gurih yang datang dari serundeng tersebut.

    Bebek gorengnya tidak kalah enak karena memang dimarinasi dengan bumbu Bali, baru digoreng. Mereka hanya punya satu potongan bebek yang dibanderol dengan harga Rp 20.000 sudah termasuk nasi.

    Warung Ayam dan Bebek Goreng Bang AndiNasi ayam dan bebeknya pun dilengkapi dengan sambal bawang merah dan sambal ijo. Foto: Detikcom / Atiqa Rana

    Tekstur dagingnya lembut dan kenyal. Bebeknya tidak mau amis dan bumbu Balinya meresap sampai ke dalam daging.

    Sate ususnya juga garing dan tidak bau. Begitupun dengan perkedelnya yang punya rasa kentang cukup kuat, teksturnya lembut, dengan rasa gurih yang pas.

    Kalau baru buka, menu-menu pelengkap lainnya masih komplet, mulai dari bakwan jagung, tahu, tempe, perkedel, sate usus, sate ati ampela, sate ceker, dan masih banyak lagi.

    (aqr/adr)



    Sumber : food.detik.com

  • Sejak Tahun 80-an, Roti Sobek di Bakery Pasar Baru Ini Jadi Favorit


    Jakarta

    Di dalam Pasar Atom Pasar Baru, ada bakery kecil yang menawarkan beragam jenis roti. Disebut-sebut menunya sudah eksis sejak mereka buka tahun 1980-an.

    Pasar Baru tidak hanya menjadi pusat perbelanjaan, tetapi sejak dulu kawasan ini juga sudah dikelilingi dengan berbagai macam kuliner menarik.

    Sejumlah kuliner legendaris juga masih bisa ditemui di sini. Salah satunya adalah Bistro Bakery, bakery legendaris yang sudah ada sejak tahun 1980-an.


    Bistro Bakery merupakan bakery kecil legendaris yang lokasinya berada di dalam Pasar Metro Atom Plaza, Pasar Baru. Lokasi tepatnya ada di sekitar Food Court lantai dasar atau GF, bersebelahan dengan kedai Pondok Bakso Loncat.

    Toko rotinya memang kecil, tetapi selalu ramai pengunjung. Ketika kami menyambangi pada hari Rabu (05/06/2024) sekitar pukul 11.30, terlihat gerainya sudah diantre pembeli.

    Kami pun ikut mengatre dan membeli roti spesial yang ditawarkan Bistro Bakery. Bistro Bakery punya pilihan roti paling favorit, berupa roti sobek yang bentuknya bulat.

    Bistro BakeryBistro Bakery merupakan salah satu bakery legendaris di Pasar Baru. Foto: Detikcom / Atiqa Rana

    Menurut pegawai di sana, roti ini paling banyak dicari orang. Biasanya juga disebut dengan roti mahkota atau roti matahari karena bentuknya.

    Terdapat beberapa varian rasa roti sobek, tetapi favoritnya adalah roti sobek 5 rasa. Isiannya terdiri dari coklat, keju, vanilla, srikaya, kopi, dan coklat kacang. Satu roti sobek berbentuk bulat ini dibanderol dengan harga Rp 18.000.

    Beruntung ketika kami sampai di Bistro Bakery, stok roti sobek tersebut masih ada. Sebab, tidak lama kemudian stok roti sobek habis dan pelanggan perlu menunggu sampai roti yang baru matang.

    Bistro BakeryBistro Bakery menawarkan beberapa jenis roti tapi favoritnya adalah roti sobek. Foto: Detikcom / Atiqa Rana

    Bistro Bakery terus membuat roti dari pagi sampai tutup, pukul 19.00 WIB. Namun, tetap stoknya tidak selalu ada. Kalau memang sedang habis, pelanggan perlu menunggu roti selanjutnya.

    Kami mencoba dua jenis roti favorit di sini, yaitu roti sobek 5 rasa dan rasa coklat keju. Keduanya sama-sama dibanderol dengan harga Rp 18.000.

    Tidak seperti roti sobek pada umumnya yang berbentuk loaf panjang, tetapi di sini bentuknya bulat. Saat kami beli, kondisi rotinya masih sedikit hangat. Keduanya juga punya bentuk dan ukuran sama, hanya isiannya berbeda.

    Bistro BakeryBegini tampilan dua jenis roti sobek yang kami pesan di Bistro Bakery. Foto: Detikcom / Atiqa Rana

    Ketika dipotek, tekstur rotinya sangat lembut dan sedikit berserat. Adonan rotinya pun sudah punya rasa manis susu yang ringan. Rotinya juga memiliki sentuhan aroma mentega.

    Untuk roti 5 rasa, meski namanya 5 rasa, tetapi mereka datang dengan 8 potongan. Ada beberapa potongan yang punya rasa sama.

    Dimulai dari coklat yang hampir memadati adonan roti. Tekstur coklatnya seperti pasta coklat yang agak kering, dengan rasa manis yang pas.

    Untuk roti cokelat kacang, kacang nya seperti sudah dihancurkan dan menyatu dengan coklat. Rasa kacangnya lebih dominan, dengan sentuhan aroma smokey seperti kacang yang sudah disangrai.

    Jika suka yang manis, kamu akan menyukai varian vanilla. Vanillanya berbentuk vla yang teksturnya cukup pekat. Rasanya manis, dengan aroma essence yang kuat.

    Bistro BakeryBegini tekstur dan isian roti sobek varian coklat kejunya. Foto: Detikcom / Atiqa Rana

    Varian srikaya tidak boleh dilewatkan karena selai srikayanya punya rasa manis legit yang pas. Untuk varian kopi, rasa kopinya cukup kuat dengan sentuhan pahit yang tercap di lidah. Varian kopi cocok bagi mereka yang tidak begitu suka manis.

    Sedangkan kejunya menurut kami tidak begitu spesial. Diisi dengan parutan keju cukup banyak dan rasanya perpaduan antara manis dari roti dan gurih keju.

    Untuk varian roti sobek keju coklatnya diisi dengan parutan keju dan coklat yang sudah dicampur. Coklatnya lebih mendominasi baik dari tingkat kepadatan maupun rasanya. Namun, tetap terasa sentuhan rasa gurih dari keju. Kalau memang suka rasa keju coklat, bisa membeli varian ini.

    Selain roti sobek, mereka juga punya varian roti kesed isi keju separo, coklat separo, roti satuan yang isi nya ada coklat, kelapa, coklat keju, pisang coklat, pisang keju, dan masih banyak lagi. Harga roti-rotinya dibanderol mulai dari Rp 9.000 an saja.

    Kami cukup puas dengan rasa roti jadul di tempat ini. Sebab, punya adonan lembut dan rasa manis yang pas. Menurut pengalaman kami, meski roti baru dimakan beberapa hari setelah dibeli, teksturnya juga masih sangat lembut dan enak dimakan. Tertarik coba?

    (aqr/adr)



    Sumber : food.detik.com