Tag: kupang

  • Reminder Beasiswa Kuliah Van Deventer-Maas Indonesia Ditutup 10 Maret, Buruan Daftar!



    Jakarta

    Beasiswa Van Deventer-Maas Indonesia akan segera menutup pendaftaran pada 10 Maret 2025. Adapun beasiswa ini dibuka untuk mahasiswa jenjang D3, D4, dan S1.

    Melansir dari laman resminya, Beasiswa VanDeventer-Maas Indonesia merupakan beasiswa pendidikan tinggi untuk meneruskan studi hingga lulus bagi mahasiswa dari kalangan ekonomi kurang. Selain itu, beasiswa ini juga hanya dibuka bagi mahasiswa dari 33 kampus mitra.

    Daftar Kampus Mitra Beasiswa Beasiswa Van Deventer-Maas Indonesia 2025

    Berikut kampus mitra Beasiswa Van Deventer-Maas Indonesia 2025:


    Universitas Gadjah Mada (UGM)

    Universitas Negeri Medan (Unimed)

    IPB University

    Universitas Sumatera Utara (USU)

    Universitas Padjadjaran (Unpad)

    Universitas Negeri Padang (UNP)

    Universitas Negeri Semarang (Unnes)

    Universitas Andalas (Unand)

    Universitas Airlangga (Unair)

    Universitas Nusa Cendana (Undana)

    Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW)

    Universitas Kristen Artha Wacana (UKAW)

    Universitas Hasanuddin (Unhas)

    Universitas Pattimura (Unpatti)

    Universitas Lambung Mangkurat (Unlam)

    Universitas Wijaya Kusuma Surabaya (UWKS)

    Universitas Atma Jaya Makassar (UAJM)

    Universitas Tanjungpura (Untan)

    Universitas Sam Ratulangi (Unsrat)

    Institut Teknologi Bandung (ITB)

    Institut Teknologi Sepuluh November (ITS)

    Universitas Katolik De La Salle (Usalle)

    Universitas Katolik Soegijapranata (Usoegi)

    Universitas Flores (Unflor)

    Universitas Bung Hatta(UBH)

    Universitas Hang Tuah (UHT)

    Universitas Katolik Widya Mandira (Unwira)

    STIKOM Uyelindo, Kupang

    Universitas Sanatha Dharma (USD)

    Universitas Kristen Indonesia Maluku (UKIM)

    Universitas Negeri Gorontalo (UNG)

    Universitas Kristen Wira Wacana (Unwina)

    Universitas Islam Indonesia Yogyakarta (UII)

    Universitas Palangka Raya (UPR)

    Universitas Cokroaminoto Palopo (UNCP)

    Komponen Beasiswa Van Deventer-Maas Indonesia 2025

    Beasiswa Van Deventer-Maas Indonesia meliputi:

    Uang saku Rp 800 ribu per bulan, dikirimkan ke rekening mahasiswa masing-masing

    Bonus TOEFL (jika melaksanakan, satu kali)

    Bonus ujian kelulusan

    Program peningkatan kapasitas diri Van Deventer-Maas Indonesia bagi mahasiswa terpilih

    Beasiswa diberikan pada semester 2-6 bagi mahasiswa S1/D4 dan semester 2-4 bagi mahasiswa D3. Beasiswa dapat tidak diberikan periode tersebut jika:

    IPK mahasiswa turun menjadi di bawah 3.00

    Cuti kuliah

    Tanpa konfirmasi penerima beasiswa atau tanpa kabar dalam periode tertentu

    Syarat Beasiswa Beasiswa Van Deventer-Maas Indonesia 2025

    Mahasiswa S1/D4 semester 2-6 atau mahasiswa D3 semester 2-4

    Usia tidak lebih dari 27 tahun

    Terbatas secara ekonomi, dibuktikan dengan surat keterangan tidak mampu dan/atau surat rekomendasi terkait kondisi keuangan yang diterbitkan oleh pihak perguruan tinggi

    IPK tidak kurang dari 3.00

    Aktif berorganisasi atau berkomunitas sosial

    Diutamakan mahir berbahasa Inggris

    Tidak menerima beasiswa lainnya.

    Syarat Bidang Studi Beasiswa Van Deventer-Maas Indonesia 2025

    Pelamar disyaratkan berasal dari bidang studi:

    Akuntansi

    Agrikultur

    Perikanan

    Peternakan

    Arsitektur

    Seni dan budaya

    Seni dan desain

    Biologi

    Kimia

    Komunikasi

    Ilmu ekonomi

    Pendidikan

    Teknik

    Bahasa Inggris

    Manajemen keuangan

    Kehutanan

    Geografi

    Sosiologi

    Antropologi

    Kesehatan/kedokteran

    Sejarah

    Teknologi/teknologi telekomunikasi

    Manajemen

    Matematika

    Fisika

    Statistik

    Hukum

    Ilmu Politik

    Syarat Dokumen Beasiswa Van Deventer-Maas Indonesia 2025

    Yayasan Van Deventer-Maas Indonesia 2025 tidak mensyaratkan dokumen di awal masa pendaftaran. Namun, mahasiswa bisa menyiapkannya dari sekarang. Berikut dokumen persyaratannya:

    Surat keterangan tidak mampu (SKTM) dari kelurahan atau surat rekomendasi perguruan tinggi dari rektor/dekan/kepala prodi yang menyatakan kondisi perekonomian keluarga asal mahasiswa bersangkutan

    Transkrip akademik terakhir dengan IPK minimal 3.00

    Dokumen pendapatan atau slip gaji orang tua minimal 2 bulan terakhir jika bekerja di institusi atau kantor swasta.

    Dokumen pernyataan pendapatan orang tua/wali jika berwirausaha, dibubuhi meterai Rp 10 ribu dan ditandatangani, serta dilegalisasi kelurahan.

    Salinan KTP dan KTM

    Salinan Kartu Keluarga (KK)

    Salinan halaman pertama buku tabungan yang memuat nomor rekening mahasiswa (hanya untuk mahasiswa yang terpilih)

    Bukti tagihan listrik minimal 2 bulan terakhir atau electricity. Jika tidak ada, sertakan surat pernyataan besar tagihan listrik/tidak memakai listrik yang ditandatangani dan dicap pihak kelurahan

    Esai sepanjang minimal 1,5 halaman A4 dengan font palatino linotype ukuran 11, spasi 1, yang menerangkan tentang:

    – Mahasiswa sendiri, termasuk keluarga, studi, kegiatan sosial

    – Pengetahuan tentang Van Deventer-Maas Indonesia

    – Alasan Van Deventer-Maas Indonesia harus memilih kamu sebagai penerima beasiswa

    – Manfaat beasiswa ini bagi kamu jika terpilih sebagai grantee

    – Hal yang akan dilakukan untuk sekitar setelah menerima beasiswa.

    Dokumen di atas akan dikirimkan oleh perguruan tinggi mahasiswa yang bersangkutan ke kantor Yayasan van Deventer-Maas Indonesia di Yogyakarta untuk diseleksi. Apabila terpilih, mahasiswa dan kampus (mewakili YVDMI) akan meneken kontrak beasiswa.

    Informasi lebih lanjut mengenai Beasiswa Van Deventer-Maas Indonesia 2025 dapat dicek melalui https://vandeventermaas.or.id dan akun Instagram @yvdmi. Jangan sampai terlewat, ya!

    (nir/nah)

    `;
    constructor() {
    super()
    this.attachShadow({ mode: “open” })
    this.shadowRoot.innerHTML = TentangPenulis.html
    }

    async connectedCallback() {

    if (elementType === ‘single’) return false;

    const { default: Swiper } = await import(
    “https://cdn.jsdelivr.net/npm/swiper@11/swiper-bundle.min.mjs”
    );
    this.SwiperClass = Swiper;
    const swiperContainer = this.shadowRoot.querySelector(‘.mySwiper’);
    new this.SwiperClass(swiperContainer, {
    slidesPerView: 1,
    spaceBetween: 18,
    navigation: {
    nextEl: this.shadowRoot.querySelector(“.swiper-button-next”),
    prevEl: this.shadowRoot.querySelector(“.swiper-button-prev”),
    },
    pagination: {
    el: this.shadowRoot.querySelector(“.swiper-pagination”),
    clickable: true,
    },
    });
    }
    }
    customElements.define(elementTemplate, TentangPenulis)

    Sumber : www.detik.com

    Alhamdulillah buku Belajar di Sekolah اللهم صل على رسول الله محمد
    ilustrasi gambar : unsplash.com / susan q yin
  • 2 Meriam Bekas Perang Dunia II di Kupang yang Kini jadi Cagar Budaya



    Kupang

    Berwisata ke Kupang, traveler bisa melihat dua buah meriam peninggalan Perang Dunia II masih berdiri kokoh. Sejarahnya, meriam itu merupakan peninggalan dari tentara Kerajaan Inggris.

    Dua meriam ini telah ditetapkan sebagai cagar budaya berdasarkan Undang-Undang (UU) Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya. Dua meriam ini juga dilindungi dengan cara dipagar.

    “Bukti sejarah meriam ini ada dua unit. Meriam masih berdiri kokoh pada dua (tempat) yang kini berada di dalam pemukiman warga di Jalan Karya Kencana II, Kelurahan Kelapa Lima,” ujar penjaga Cagar Budaya Meriam PD II Rafael Nyale, Minggu (4/2/2024).


    Kata Rafael, berdasarkan cerita para orang tua, dua unit meriam itu ditempatkan oleh tentara Inggris untuk melawan tentara Jepang pada 1942. Sebagai bukti, terdapat cap kepemilikan dari Kerajaan Inggris pada bagian bodi meriam dengan tahun pembuatan pada 1908.

    Lokasi penempatan dua meriam bukanlah wilayah permukiman kala Perang Dunia II. Tempat itu menjadi lokasi bagi tentara Inggris untuk memantau pergerakan tentara Jepang yang akan muncul melalui jalur laut.

    “Saat itu belum ada pemukiman penduduk sehingga pergerakan tentara Jepang dipantau dari ketinggian, dan jika musuh muncul maka akan langsung diserang dengan menggunakan dua meriam tersebut,” jelas Rafael.

    Namun dua meriam itu akhirnya tidak digunakan oleh tentara Inggris karena jalur perang dialihkan ke Timor Raya dari Babau hingga Oesao. Dua meriam itu kemudian ditinggalkan di lokasi.

    “Dua meriam ini tidak digunakan untuk perang kemudian ditinggalkan begitu saja hingga Indonesia merdeka. Dan sampai sekarang pemerintah menetapkan sebagai cagar budaya,” terang Rafael.

    Dua meriam milik tentara Inggris itu kini diberi nama Cagar Budaya Meriam PD II. Lokasi meriam saat ini menjadi media belajar dan penelitian dari berbagai kalangan, baik pelajar, mahasiswa, hingga ahli sejarah.

    “Kami membuka ruang bagi siapa saja yang ingin mengetahui sejarah dari Meriam PD II, bukan sekedar besi tua, melainkan bukti sejarah jejak penjajah di wilayah Kota Kupang.” tegas Rafael.

    Artikel ini telah tayang di detikbali

    (sym/sym)



    Sumber : travel.detik.com

  • Percaya Tidak, Ada Rumah 159 Tahun Warisan Tionghoa di Kupang



    Kupang

    Di Kupang, ada satu rumah yang sangat bersejarah. Usianya sudah 159 Tahun. Pemiliknya adalah warga keturunan Tionghoa. Seperti apa wujudnya?

    Rumah Abu keluarga Siang Lay, adalah salah satu bangunan bersejarah di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT). Rumah ini didirikan oleh leluhur keluarga Tionghoa tersebut pada masa Perang Dunia Kedua.

    Bangunan tersebut terletak di Kelurahan Lahi Lai Bissi Kopan (LLBK), Kecamatan Kota Lama, Kota Kupang. Ornamen penghias bangunan itu masih sangat indah dan terawat.


    Pada bagian temboknya, terpampang nama-nama leluhur marga Lay yang dituliskan dalam bahasa Mandarin. Rumah itu sendiri usianya kini sudah 159 tahun.

    Salah satu menantu keluarga Lay, Fery Ngahu (53), menuturkan, Rumah Abu Siang Lay didirikan pada tahun 1865. Menurutnya, Rumah Abu ini merupakan penanda etnis Tionghoa berada di Kota Kupang jauh sebelum Indonesia merdeka.

    “Jadi, pada 1865, keturunan orang Tionghoa sudah memiliki tempat persembahyangan seperti Siang Cung dan Siang Lay. Tapi kalau keberadaan yang masih utuh dan terawat dengan baik hanya Rumah Abu Siang Lay,” tutur Fery, akhir pekan lalu.

    Menurut Fery, leluhurnya mendirikan bangunan yang kokoh itu tanpa menggunakan beton. Mereka mengetahui hal itu ketika merenovasi plesteran pada bagian tembok Rumah Abu Siang Lay.

    Rumah Abu Siang Lay dibangun hanya menggunakan batu yang diambil dari laut lalu dipotong menyerupai bata.

    “Itu yang kami temukan di bagian temboknya. Jadi ada dua lapisan batu potong di bagian sudutnya yang dipasang silang, sehingga itu sangat kokoh,” kata Fery.

    Sementara pada bagian atap, Rumah Abu Siang Lay awalnya menggunakan sirap, kemudian diganti asbes, dan terakhir memakai seng.

    Pernah Direnovasi Beberapa Kali

    Keturunan marga Lay pun berupaya mempertahankan bentuk asli bangunan bersejarah tersebut. Meski begitu, beberapa bagian bangunan sempat direnovasi, sehingga masih terawat sampai sekarang.

    “Sudah beberapa kali direnovasi, tapi tidak mengubah bentuk asli sejak awal didirikan,” jelasnya.

    Menurut cerita dari tetua marga Lay, bangunan ini sempat mengalami kerusakan di bagian atap dan tembok akibat bom Perang Dunia II di Kota Kupang. Rumah Abu Siang Lay kemudian direnovasi.

    “Orang tua kami saat itu langsung memperbaikinya,” terangnya.

    Bangunan bersejarah itu sudah melahirkan 20 keturunan dari marga Lay yang tersebar hampir di semua kabupaten NTT. Sebagai bagian dari keluarga Lay, Fery pun mengaku bangga.

    “Sehingga itu merupakan suatu kebanggaan tersendiri bagi rumpun keluarga Lay. Kami bangga karena keberadaan rumah doa ini merupakan peninggalan bersejarah yang ada di sini dan masih terawat,” bebernya.

    Kini, Rumah Abu Siang Lay dijadikan sebagai tempat persembahyangan khusus keluarga Lay. Saat Hari Raya Imlek, anak keturunan mereka pun berdatangan. Bangunan itu juga menjadi tempat silaturahmi dan reunian setiap 10 tahun.

    ——-

    Artikel ini telah naik di detikBali.

    (wsw/wsw)



    Sumber : travel.detik.com