Tag: laksana tri handoko

  • Kepala BRIN Janji Gaji Periset RI Setara dengan Malaysia agar Tak Ogah Pulang


    Jakarta

    Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Laksana Tri Handoko mengatakan pihaknya akan memastikan talenta ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) Indonesia akan diberi penghasilan yang setidaknya setara dengan talenta iptek negara tetangga, Malaysia.

    “Kita akan memastikan bahwa putra-putri terbaik kita bisa mendapat gaji, penghasilan, take home pay yang saya tidak bicara terbaik, tapi minimal setara, comparable dengan yang di Malaysia,” kata Handoko pada acara Anugerah Talenta Unggul Habibie Prize 2024 di Gedung BJ Habibie BRIN, Jakarta, Senin (11/11/2024).

    Handoko mengatakan janji tersebut merupakan bagian dari memastikan Indonesia memberi opsi pada putra-putri terbaiknya untuk berkiprah sesuai kepakaran di negaranya sendiri.


    “Kita tidak ingin, kita tidak memaksa semua orang bekerja di negara ini, itu adalah hak dan semua orang bisa berkontribusi dari manapun. Tetapi, negara ini tidak boleh tidak memberikan opsi (bagi) putra-putri terbaik kita kesempatan. Dan tidak ada alasan untuk tidak bisa berkiprah sesuai bidang kepakaran dan passion-nya di negara kita,” katanya.

    Infrastruktur dan Hibah

    Terkait kesempatan riset dan inovasi di dalam negeri, ia menjelaskan negara melalui BRIN menyelenggarakan infrastruktur, skema mobilitas periset, dan skema hibah riset.

    Handoko menjelaskan pihaknya tidak memberikan infrastruktur bagi talenta iptek RI, tetapi akses pada infrastruktur yang sudah ada. Sedangkan skema hibah riset bersifat kompetisi.

    “Itu yang membedakan skema yang ada di kami dan Kemendikti Saintek (Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi) saat ini. Karena di Kemendikti Saintek masih ada program yang bersifat afirmasi, kelembagaan. Tetapi di BRIN, semuanya harus kompetisi murni,” ucapnya.

    “Itu untuk memastikan kita dapat memberikan opsi sehingga tidak boleh ada alasan putra-putri terbaik kita itu tidak pulang, misalnya, ke Indonesia karena tidak ada kesempatan dan seterusnya,” sambung Handoko.

    Peluang Mendapat Pendanaan

    Handoko mengatakan hibah riset BRIN berdasarkan pada penilaian proposal riset dan rekam jejak, termasuk di antaranya yakni publikasi yang bereputasi.

    “Yang memberikan penilaian dan yang kami lihat penilaiannya itu dari pihak ketiga, dari komunitas globalnya. Jadi kita tidak pernah melakukan penilaian sendiri, tetapi pada pihak ketiga yang paham ilmu Bapak-Ibu sekalian,” ucapnya.

    “Publikasi bereputasi global, penghargaan tertinggi, itu bukan tujuan, tetapi adalah alat ukur, indikator, dan kontrol kualitas untuk QC bahwa apa yang sudah dilakukan itu memenuhi standar dan juga norma komunitas global,” sambung Handoko.

    Sebelumnya, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendikti Saintek) Satryo Soemantri Brodjonegoro mengatakan penerima beasiswa LPDP tak wajib pulang ke Tanah Air jika memperoleh izin dan tidak terikat ikatan dinas. Contohnya adalah alumni beasiswa LPDP yang bekerja di lembaga internasional mewakili Indonesia, seperti PBB, IMF, dan IDF.

    Berdasarkan aturan LPDP, alumni beasiswa LPDP juga dapat mengurus izin tidak pulang ke Indonesia jika magang di lembaga internasional paling lambat 3 bulan sejak tanggal lulus dan paling lama berdurasi 2 tahun.

    Satryo mengatakan penerima beasiswa LPDP tidak wajib pulang ke Tanah Air salah satunya karena kurangnya lahan pekerjaan yang cocok dengan mereka sepulangnya ke Tanah Air. Sementara itu, pemerintah juga masih kekurangan dana untuk mengatasi masalah ini.

    “Kalau yang orang bebas (tanpa ikatan dinas), dia belajar, kemudian kalau pulang, dia mungkin belum ada pekerjaan di sini. Pemerintah nggak mungkin juga mendanai mereka kan. Ya, hanya bisa kasih beasiswa,” ucapnya usai rapat kerja dengan Komisi X DPR di Kompleks DPR, Jakarta, Rabu (6/11/2024).

    (twu/nah)

    Sumber : www.detik.com

    Alhamdulillah buku Belajar di Sekolah اللهم صل على رسول الله محمد
    ilustrasi gambar : unsplash.com / element5
  • Peraih Habibie Prize 2024 Dukung Penerima Beasiswa LPDP Pulang: Berkarya dalam Negeri


    Jakarta

    Sejumlah peraih penghargaan Habibie Prize 2024 mendukung agar penerima beasiswa LPDP pulang dan berkarya di Tanah Air. Mereka yakni pakar kebijakan pendidikan Prof Anita Lie MA EdD dan pakar rekayasa nanomaterial Prof Brian Yuliarto ST MEng PhD.

    Anita menuturkan, penerima beasiswa LPDP dapat memanfaatkan kesempatan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan, meriset, dan berinovasi dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), pemerintah, dan institusi lain setelah kembali pulang ke Tanah Air.

    “Dari Kepala BRIN sudah ada tadi dibuka kesempatan-kesempatan agar lulusan LPDP itu bisa kembali pulang, supaya bisa berkontribusi,” ucapnya pada detikEdu usai menerima penghargaan Habibie Prize 2024 Bidang Ilmu Sosial, Ekonomi, Politik, dan Hukum di Auditorium Sumitro Djojohadikusumo, Gedung BJ Habibie, BRIN, Jakarta, Senin (11/11/2024).


    Pertimbangan Gaji

    Terkait komparasi gaji di dalam dan dalam negeri, Guru Besar Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya ini menuturkan penerima beasiswa LPDP pada dasarnya juga perlu mempertimbangkan aspek kepuasan batin dan hal-hal nonkeuangan.

    “Gaji besar di luar negeri, biaya hidup juga tinggi. Living cost juga tinggi. Kalau di Indonesia, ada hal-hal yang nggak bisa diukur dengan uang, ya. Kalau kembali, kita bekerja juga untuk kepuasan batin juga, agar bisa berkontribusi untuk bangsa,” ucapnya.

    Fasilitas Penelitian

    Anita mengakui fasilitas atau peralatan riset di dalam negeri bisa jadi tidak semuanya tercukupi di dalam negeri. Di sisi lain, ia mengingatkan agar hal ini perlu disampaikan agar bisa diatasi di dalam negeri ataupun lewat kolaborasi dengan luar negeri.

    “Nah, itu ya bisa memberi masukan, mungkin bisa kerja sama-kerja sama dengan luar negeri ya,” ucapnya.

    Contoh di Bidang Rekayasa Nanomaterial

    Penerima Habibie Prize 2024 Bidang Ilmu Rekayasa Prof Brian Yuliarto ST MEng PhD mengatakan, untuk bidang rekayasa nanomaterial, ia menilai peralatan riset di Indonesia sudah sama dengan yang di luar negeri. Kendalanya yakni jumlah peralatan yang jauh lebih sedikit dari jumlah periset sehingga waktu antre jadi panjang.

    “Karena pengguna kita banyak sekali dan jumlah alat juga tidak sebanyak di luar negeri, sehingga mungkin butuh waktu lebih untuk menunggu bisa menggunakan alat-alat itu. Tetapi, tetap kita bisa lakukan sebenarnya, ya,” ucapnya pada detikEdu pada kesempatan yang sama.

    Soal gaji, Brian menilai tiap orang dapat memiliki standar berbeda. Di sisi lain, ia mengamini bahwa tantangan periset Indonesia relatif lebih tinggi dari aspek nonpenelitiannya sendiri seperti di atas. Untuk itu, ia menilai bekal pengalaman di luar negeri memungkinkan talenta iptek yang pulang ke Tanah Air bisa menghadapi tantangan tersebut.

    “Saya yakin justru setelah dikirim ke luar negeri, teman-teman kita, para anak-anak muda itu bisa mencari jalan-jalan keluar ya, untuk mengatasi keterbatasan, sehingga kita (Indonesia) bisa maju juga seperti di kampus luar negeri, meskipun kita lakukan riset di Indonesia,” ucapnya.

    Janji Kepala BRIN Soal Pulang dan Berkarya di Indonesia

    Sebelumnya Kepala BRIN Laksana Tri Handoko mengatakan lima peraih Anugerah Talenta Unggul Habibie Prize 2024 dapat memberi inspirasi dan teladan bahwa putra-putri iptek Indonesia bisa berkiprah di dalam negeri.

    “Bahwa di Indonesia pun kita bisa berkiprah, berkontribusi, menyumbangkan pengetahuan, dan pada akhirnya memberikan dampak ekonomi berbasis pengetahuan untuk Indonesia maju ke depan,” pada pidato pemberian penghargaan.

    Untuk memastikan talenta iptek Indonesia mau berkarya di dalam negeri seusai kepakarannya, Handoko mengatakan pihaknya akan memastikan talenta ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) Indonesia akan diberi penghasilan yang setidaknya setara dengan peneliti negara tetangga, Malaysia.

    “Kita akan memastikan bahwa putra-putri terbaik kita bisa mendapat gaji, penghasilan, take home pay yang saya tidak bicara terbaik, tapi minimal setara, comparable dengan yang di Malaysia,” ucapnya.

    “Kita tidak ingin, kita tidak memaksa semua orang bekerja di negara ini, itu adalah hak dan semua orang bisa berkontribusi dari manapun. Tetapi, negara ini tidak boleh tidak memberikan opsi (bagi) putra-putri terbaik kita kesempatan. Dan tidak ada alasan untuk tidak bisa berkiprah sesuai bidang kepakaran dan passion-nya di negara kita,” sambung Handoko.

    Di samping gaji, ia mengatakan negara melalui BRIN memberikan akses infrastruktur, skema mobilitas periset, dan skema hibah riset kompetitif. Pendanaan riset diperoleh berdasarkan hasil penilaian atas substansi proposal riset dan rekam jejak, seperti publikasi di jurnal bereputasi.

    “Yang memberikan penilaian dan yang kami lihat penilaiannya itu dari pihak ketiga, dari komunitas globalnya. Jadi kita tidak pernah melakukan penilaian sendiri, tetapi pada pihak ketiga yang paham ilmu Bapak-Ibu sekalian,” ucapnya.

    “Publikasi bereputasi global, penghargaan tertinggi, itu bukan tujuan, tetapi adalah alat ukur, indikator, dan kontrol kualitas untuk QC bahwa apa yang sudah dilakukan itu memenuhi standar dan juga norma komunitas global,” kata Handoko.

    Sebelumnya, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendikti Saintek) Satryo Soemantri Brodjonegoro mengatakan penerima beasiswa LPDP tak wajib pulang ke Tanah Air jika memperoleh izin dan tidak terikat ikatan dinas. Salah satunya karena kurangnya lahan pekerjaan yang cocok dengan mereka sepulangnya ke Tanah Air. Sementara itu, pemerintah juga masih kekurangan dana untuk mengatasi masalah ini.

    “Kalau yang orang bebas (tanpa ikatan dinas), dia belajar, kemudian kalau pulang, dia mungkin belum ada pekerjaan di sini. Pemerintah nggak mungkin juga mendanai mereka kan. Ya, hanya bisa kasih beasiswa,” ucapnya usai rapat kerja dengan Komisi X DPR di Kompleks DPR, Jakarta, Rabu (6/11/2024).

    Berdasarkan aturan LPDP, penerima beasiswa LPDP yang tidak wajib pulang tersebut antara lain alumni beasiswa LPDP yang bekerja di lembaga internasional mewakili Indonesia, seperti PBB, IMF, dan IDF. Calon pemagang di lembaga internasional paling lambat 3 bulan sejak tanggal lulus dengan durasi maksimal 2 tahun juga bisa mengurus izin tidak langsung pulang ke Tanah Air paling lambat 90 hari usai tanggal lulus.

    (twu/nah)

    Sumber : www.detik.com

    Alhamdulillah buku Belajar di Sekolah اللهم صل على رسول الله محمد
    ilustrasi gambar : unsplash.com / element5
  • BRIN-Baznas Buka Beasiswa Riset 2024 untuk Mahasiswa S1-S3, Kuota 150 Orang



    Jakarta

    Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Republik Indonesia menggandeng Badan Inovasi Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) meluncurkan Beasiswa Riset Baznas 2024 di Gedung Baznas RI, Jakarta, Selasa (26/8/2024).

    Beasiswa ini akan disalurkan kepada mahasiswa S1, S2, dan S3. Penerima bisa memanfaatkan bantuan dana dari Baznas untuk menyelesaikan riset tugas akhir berupa skripsi hingga tesis.

    Selain itu, beasiswa juga berlaku bagi tim/kelompok/instansi/lembaga yang ingin melakukan riset. Kuota Beasiswa Riset Baznas 2024 tersedia bagi 150 penerima.


    Rinciannya untuk 55 mahasiswa S3, 55 mahasiswa S2, 50 mahasiswa S1 dan 5 kelompok/lembaga/tim riset. Ketua Baznas RI, Noor Achmad berharap beasiswa bisa digunakan semaksimal mungkin oleh para penerimanya.

    “Kami berharap kerja sama ini tidak hanya membantu para mustahik saat ini, tetapi juga memberikan mereka kemampuan untuk membantu orang lain di masa depan,” ungkap Noor dilansir dari laman Baznas RI, Rabu (28/8/2024).

    Terbuka untuk Umum dan Periset Zakat-Wakaf

    Skema Beasiswa Baznas 2024 terbagi jadi dua, yakni untuk Kategori Umum dan Manajemen Zakat dan Wakaf (Mazawa). Lewat beasiswa ini juga Baznas tengah mendorong riset terkait zakat.

    Sehingga diharapkan, para periset terpilih nantinya dapat memberikan solusi atas permasalahan mustahik di Indonesia. Noor berharap para mahasiswa penerima beasiswa dapat melakukan riset soal hal tersebut.

    “Melalui beasiswa riset ini diharapkan bisa melahirkan peneliti yang bisa menciptakan inovasi tata kelola zakat melalui riset dan kajian yang dilakukannya sehingga dapat terwujud berbagai program kemanusiaan yang bisa tepat sasaran dan membawa kebermanfaatan untuk mustahik,” ujar Noor.

    Menurut Noor, zakat merupakan salah satu solusi dalam menangani permasalahan nasional. Khususnya dalam memberantas kemiskinan yang cukup ekstrem.

    “Insya Allah, kami abdikan apa yang kami miliki untuk masyarakat miskin/mustahik. Mudah-mudahan mereka bisa menolong kita setidaknya di akhirat,” tambahnya.

    Adapun Kepala BRIN, Laksana Tri Handoko mengatakan beasiswa riset ini relevan dengan manajemen talenta nasional BRIN. Terutamanya, dapat membantu para anak muda untuk menjadi periset.

    “Kami siap mendukung dan memfasilitasi masyarakat, terutama dalam bidang riset, sehingga semua pihak bisa maju bersama,” kata Tri.

    Sebagai informasi tambahan, Baznas RI sejak tahun 2018 sampai kini telah menyalurkan dana senilai Rp 10 miliar untuk beasiswa dan bantuan riset.
    Ditambahkan oleh Pimpinan Baznas RI Bidang Pendistribusian dan Pendayagunaan, Saidah Sakwan, program beasiswa ini ditujukan juga untuk mewujudkan investasi terhadap generasi emas tahun 2045.

    “Ini adalah bentuk komitmen bagaimana zakat dapat menjadi bagian dari solusi kebangsaan dan meletakkan fondasi peradaban. Dari tahun ke tahun, anggaran untuk program ini terus meningkat seiring dengan meningkatnya kebutuhan dan kualitas penelitian tentang tata kelola zakat dan sektor lainnya,” jelas Saidah.

    Untuk informasi pendaftaran, detikers bisa terus pantau website resmi Baznas RI yakni https://baznas.go.id atau Instagram-nya yakni @beasiswabaznasri.

    (cyu/nwk)



    Sumber : www.detik.com

  • Kebut Teknologi Nuklir, BRIN Sebut Akan Ada Beasiswa LPDP


    Jakarta

    Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Laksana Tri Handoko mengatakan sejumlah rencana untuk mengebut pemajuan teknologi nuklir di Indonesia. Termasuk di antaranya pemberian beasiswa untuk mendukung talenta nuklir RI.

    “Jadi dengan demikian, kami berharap bisa mengejar ketertinggalan kita di teknologi nuklir secara umum dalam waktu sesingkat-singkatnya,” ucapnya dalam penganugerahan tokoh nuklir Siwabessy Award dan GA Siwabessy Memorial Lecture oleh BRIN di Gedung BJ Habibie BRIN, Jakarta, Kamis (5/12/2024).

    Rencana Kebut Teknologi Nuklir RI

    Revitalisasi Reaktor Nuklir GA Siwabessy

    Handoko menjelaskan, saat ini BRIN menyediakan dua platform kolaborasi nuklir. Masing-masing khusus untuk bidang reaktor dan akselerator.


    Salah satunya untuk revitalisasi reaktor riset GA Siwabessy di Serpong, Tangerang Selatan, Banten.

    “Akan kami fokuskan sekaligus produksi radioisotop dan radiofarmaka di Indonesia,” ucapnya.

    Kerja Sama Teknologi buat PTLN

    Ia menyatakan pihaknya juga berencana menjalankan pengembangan bersama (joint development) teknologi reaktor untuk energi pada pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) dengan menggandeng mitra mancanegara.

    “Saat ini dalam proses negosiasi,” kata Handoko.

    Ajak Warga Kampus Ikut Program

    Ia berharap skema-skema di atas dapat mendorong talenta nuklir RI, termasuk yang beraktivitas di perguruan tinggi, dapat turut bergabung dan memiliki platform tersebut.

    “Ini sesuatu yang tidak mungkin dilakukan universitas karena terlalu besar dan membutuhkan komitmen jangka panjang, dan full time researcher yang harus day-by-day ada di situ,” ucapnya.

    Beasiswa LPDP dan Program S2-S3

    Mengebut pertumbuhan talenta RI bidang nuklir, ia menambahkan lulusan S1 akan dapat mengikuti program S2-S3 berbasis penelitian di platform teknologi nuklir BRIN. Di samping itu, pihaknya juga menggandeng Lembaga Pengelola Dana Pendidikan untuk menyediakan beasiswa LPDP targeted bidang teknologi nuklir.

    “Nanti bagaimana mahasiswa dari ITB, UGM, Itera, dan seterusnya, bagaimana mereka bisa terlibat di situ, mereka bisa langsung menjadi S2-S3. Sebagian kita kirim dengan targeted scholarship yang dari LPDP juga, karena salah satu fokusnya adalah teknologi nuklir,” ucapnya.

    (twu/nah)



    Sumber : www.detik.com

  • Eksplorasi Sejarah di Pasar Baru, Cek 4 Bangunan Ikonik di Sana


    Jakarta

    Pasar Baru bisa menjadi pilihan untuk mengisi waktu luang buat traveler di Jakarta. Ada apa saja ya?

    Ternyata di pusat perbelanjaan tradisional yang legendaris di Jalan Pasar Baru, Kelurahan Pasar Baru, Kecamatan Sawah Besar, Jakarta Pusat itu tersimpan banyak cerita menarik tentang masa kejayaannya sebagai salah satu pusat perdagangan tertua di Jakarta.

    Traveler bisa merasakan nuansa kolonial yang masih terasa kental sambil menelusuri bangunan-bangunan bersejarah, toko-toko tua yang telah berdiri sejak zaman Belanda. Selain itu, jejak-jejak penting yang mencerminkan perjalanan ekonomi, budaya, dan kehidupan sosial kota ini dari masa ke masa.


    Setidaknya terdapat empat bangunan bersejarah di kawasan Pasar Baru yang ditetapkan oleh Anies Baswedan, di antaranya ialah Vihara Sin Tek Bio, Toko Tio Tek Hong, bangunan Toko Kompak dan bangunan Lembaga Biologi Molekuler Eijkman.

    Berikut empat bangunan bersejarah di Pasar Baru:

    1. Vihara Sin Tek Bio

    Umat Konghucu Berdatangan Kelenteng Sin Tek BioUmat Konghucu Berdatangan Kelenteng Sin Tek Bio (Tsarina Maharani/detikcom)

    Vihara Sin Tek Bio dengan nama Vihara Dharma Jaya merupakan salah satu vihara yang menjadi bagian dari sejarah di Jakarta diperkirakan sejak 1698. Terletak di kawasan Pasar Baru, Jakarta Pusat, wihara itu menjadi saksi bisu perjalanan waktu dan perkembangan masyarakat Tionghoa di Indonesia, khususnya Ibu Kota.

    Vihara Sin Tek Bio menjadi pusat spiritual sekaligus simbol penting bagi masyarakat Tionghoa yang telah lama mendiami kawasan tersebut. Di dalam vihara ini, terdapat beberapa altar pemujaan yang dihiasi dengan beberapa patung dewa-dewa dan leluhur, menambah suasana sakral dan penuh khidmat di setiap sudut ruangan.

    Wihara ini didominasi oleh nuansa merah yang melambangkan keberuntungan dan kebahagiaan, sementara lilin-lilin besar yang terus menyala memenuhi ruangan utama, menyebarkan cahaya hangat dan menciptakan atmosfer spiritual yang mendalam, di mana umat datang untuk berdoa, memohon berkah, dan mencari ketenangan batin.

    “Banyak jemaat datang dari mana-mana, jika nanti masuk banyak sekali dewa-dewanya karena disumbangkan dari si jemaat-jemaat itu. Tapi, setiap klenteng itu punya dewa utama. Nah, dewa utama di sini yang diangkat sebagai tuan rumahnya. Ini adalah dewa bumi, kenapa dewa bumi, karena ada hubungan dengan pendiri-pendirinya adalah petani karena petani mereka berdoa ke dewa bumi supaya subur,” kata Farid Mardhiyanto, cofounder Jakarta Good Guide, pada Sabtu (5/10/2024).

    “Altar utama itu yang di tengah. Biasanya kalau jemaat sembahyang, pertama di altar itu untuk menaruh dupa, kemudian itu yang kedua yang altar utamanya si tuan rumahnya. Itu wajib. Kemudian, barulah mereka berkeliling untuk milih dewa Kwan Im, dewa kesehatan, dewa jodoh kah, keberuntungan kah dan sebagainya,” Farid menambahkan.

    Walaupun Pasar Baru kini dipadati oleh gedung-gedung, toko-toko yang menjual barang-barang dan elektronik, serta kafe kontemporer Vihara Sin Tek Bio tetap mempertahankan kesederhanaan dan keagungannya. Banyak orang yang mengunjungi vihara ini bukan hanya untuk beribadah, tetapi juga untuk merasakan sentuhan sejarah di setiap sudut vihara.

    2. Toko Tio Tek Hong

    Toko Tio Tek Hong ditetapkan melalui Kepgub Nomor 239 tahun 2022 dan diperkirakan sudah ada sejak 1900. Toko Tio Tek Hong didirikan oleh Tio Tek Hong, seorang pengusaha Tionghoa yang inovatif.

    Pada saat itu, Batavia sedang berkembang sebagai pusat perdagangan yang ramai, dengan pengaruh kolonial Belanda yang kuat. termasuk Tio Tek Hong memanfaatkan peluang untuk membuka usaha yang melayani kebutuhan masyarakat luas.

    “Nah toko Tio Tek Hong pertama didirikan oleh beliau, gedung itu berubah menjadi toko populer. Dulu adalah toko Tio Tek Hong. Dia jual yang pertama alat kelontong sampe kemudian akhirnya beliau menjual chronograph, dan juga gramofon, dan piringan hitam,” kata Farid.

    “Kemudian, pada 1940-an gedung itu dijual karena Tio Tek Hong mulai turun gara-gara krisis ekonomi. Akhirnya, beliau mulai menjual tokonya, terus kemudian balik nama. Tokonya dibeli oleh perusahaan rekaman dan di situlah tempat direkam pertama kalinya lagu Indonesia Raya. Jadi lagu Indonesia Raya direkam ke piringan hitam untuk pertama kalinya di rekaman toko populer ini. Namun, kepemilikan bukan Tio Tek Hong lagi,” ujar Farid.

    3. Toko Kompak

    Bangunan bersejarah itu didirikan di kawasan Jalan Pasar Baru, No 18A, Jakarta Pusat. Selain sejarah, bangunan itu memiliki daya tarik arsitektur yang kuat.

    Bangunan itu dikenal dengan nama Sin Siong Bouw, kemudian diganti menjadi Toko Kompak akibat kebijakan pelarangan nama Tionghoa. Bangunan itu merupakan contoh arsitektur China selatan asli dengan interior warna merah.

    Dikutip dari banner dipajang di besi Toko Kompak, bangunan itu didirikan pada abad ke-19, bahkan lebih tua dari Pasar Baru. Toko ini dahulu merupakan kediaman Majoor der Chinezen keempat Batavia yaitu (Tio Tek Ho).

    4. Bangunan Lembaga Biologi Molekuler Eijkman

    Dikutip dari buku ‘Eksperimen Keji Kedokteran Penjajahan Jepang: Tragedi Lembaga Eijkman dan Vaksin Mut Romusha 1944-1945’ ditulis oleh J. Kevin Baird & Sangkot Marzuki pertama kali didirikan pada tahun 1888. Pendirinya merupakan peneliti dari Belanda yang populer pada saat itu yaitu Christiaan Eijkman.

    Bangunan Lembaga Eijkman terletak di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, memiliki nilai sejarah yang tinggi. Bangunan berarsitektur kolonial ini awalnya lembaga ini berfokus pada penelitian penyakit tropis seperti malaria, beri-beri, dan kolera.

    Temuan penting Eijkman mengenai penyebab dan pencegahan penyakit beri-beri hingga soal asal-usul manusia Indonesia. Memberikan beberapa sumbangsih penelitian di bidang biologi dan kedokteran.

    Selama pandemi COVID-19, LBM Eijkman memainkan peran penting dalam penelitian terkait virus covid-19 dengan pengembangan vaksin Merah Putih. Namun, pada 2022, lembaga ini mengalami restrukturisasi, dan fungsinya digabungkan ke dalam Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yaitu ketua BRIN Dr Laksana Tri Handoko, M.Sc.

    (fem/fem)



    Sumber : travel.detik.com