Tag: laut

  • Danau Gunung Tujuh, Kaldera Tertinggi di Asia Tenggara yang Menakjubkan



    Kerinci

    Danau Gunung Tujuh merupakan salah satu destinasi wisata alam menakjubkan yang wajib dikunjungi traveler jika datang ke Kabupaten Kerinci, Jambi.

    Jika datang ke destinasi wisata ini, maka traveler akan disuguhkan dengan pemandangan pagi yang begitu syahdu dan tenang. Kabut bak tembok putih perlahan-lahan pun membuka lanskap hijau danau kaldera tertinggi di Asia Tenggara ini.

    Pemandangan inilah yang dinikmati wisatawan Danau Gunung Tujuh setiap pagi. Danau Gunung Tujuh dikelilingi perbukitan hijau dan udara sejuk khas pegunungan.


    Danau ini berada di Desa Palompek, Kecamatan Gunung Tujuh, Kabupaten Kerinci, Jambi. Danau Gunung Tujuh memiliki ketinggian 1.950 meter di atas permukaan laut (mdpl), dengan panjang 4,5 kilometer dan lebar 3 kilometer.

    Sesuai namanya, danau ini dikelilingi tujuh gunung di antaranya, Gunung Hulu Tebo (2.525 mdpl), Gunung Hulu Sangir (2.330 mdpl), Gunung Madura Besi (2.418 mdpl), Gunung Lumut (2.350 mdpl), Gunung Selasih (2.230 mdpl), Gunung Jar Panggang (2.469 mdpl), dan Gunung Tujuh (2.735 mdpl).

    Danau Gunung Tujuh adalah danau yang tercipta karena proses letusan gunung api dari Gunung Tujuh. Letusan gunung tersebut menyebabkan terbentuknya sebuah kawah besar yang kemudian terisi oleh air hujan sehingga membentuk sebuah danau.

    Perjalanan menuju Gunung Tujuh dapat dilakukan melalui transportasi darat. Jika berangkat dari Kota Sungai Penuh, jaraknya kurang lebih satu jam untuk sampai ke Pos Registrasi Pendakian Gunung Tujuh di Desa Palompek, yang dikelola Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS).

    Trekking menuju danau memakan waktu sekitar dua-tiga jam dengan jalur yang cukup menantang. Wisatawan akan melewati tiga pos dengan jalur tanah yang basah dan akar-akaran yang terus menanjak.

    Wisatawan berfoto di pinggir Danau Gunung Tujuh dengan latar gunung yang mengelilinginyaWisatawan berfoto di pinggir Danau Gunung Tujuh Foto: (Foto: Dimas Sanjaya)

    Wisatawan akan melewati hutan tropis yang rimbun dengan pepohonan besar. Sesekali, suara monyet dan kicauan burung bersautan menambah kesan alami dalam perjalanan ini. Meski cukup melelahkan, udara sejuk dan segarnya alam membuat rasa letih sedikit terobati.

    Setiba di pos tiga atau pos terakhir, wisatawan akan turun sekitar 500 meter untuk menuju danau. Jalur turun menuju danau ini sedikit curam sehingga memerlukan kehati-hatian, apalagi jika jalur dalam keadaan basah setelah hujan.

    Akan tetapi di jalur ini, ada pegangan tali yang memagari jalur hingga ke bawah danau, sebagai pegangan untuk para wisatawan.

    Setibanya di bawah, panorama Danau Gunung Tujuh langsung menyambut dengan keindahannya yang memukau. Airnya yang jernih membentang luas dengan latar belakang perbukitan hijau yang mengelilingi danau.

    Di tepian danau, wisatawan dapat mendirikan tenda untuk nge-camp. Wisatawan juga bisa memilih pulang di hari yang sama atau yang dikenal dengan istilah pendakian tektok. Jika nge-camp, wisatawan dapat mengabadikan momen matahari terbit dan kabut yang menyingsing di danau tertinggi ini.

    Pengalaman ke Danau Gunung Tujuh memberikan kesan mendalam bagi banyak wisatawan. Salah satunya, Rifani (27), wisatawan dari Kota Jambi, mengaku terpesona dengan keindahan alamnya terutama suasana pagi harinya.

    “Saya sudah dua kali ke sini, yang pertama tektok dan yang kedua kali ini nge-camp. Perjalanan ke sini memang melelahkan, tapi begitu sampai, semua terbayar lunas,” katanya.

    Danau Gunung TujuhDanau Gunung Tujuh Foto: detik

    Hal senada dikatakan wisatawan dari Sumatera Utara, Aryo (30) yang mengaku Danau Gunung Tujuh cocok untuk melepas penat dari hiruk pikuk perkotaan karena suasananya yang tenang. Ini merupakan pengalaman pertamanya mendaki di Danau Gunung Tujuh.

    “Sebelumnya saya cuma lihat-lihat di media sosial saja, tapi akhirnya bisa sampai ke Danau Gunung Tujuh ini. Suasana dan pemandangan di sini benar-benar keren,” ujarnya.

    Sebagai destinasi wisata alam yang masih alami, Danau Gunung Tujuh membutuhkan kesadaran wisatawan untuk menjaga kebersihannya. Masih banyak ditemukan sampah baik di tepi danau maupun di jalur pendakian.

    “Sangat disayangkan masih banyak pendaki meninggalkan sampah, semoga ada aturan tegas dari pengelola terkait masalah sampah ini agar tidak mengganggu ekosistem di sekitar danau,” kata Aryo.

    Selain berkemah di tepian danau, wisatawan juga dapat menikmati alam dengan memancing, atau sekadar duduk menikmati udara segar sambil menyeruput kopi hangat.

    Beberapa wisatawan juga memilih menjelajahi danau Gunung Tujuh dengan perahu kayu atau sampan milik warga setempat.

    ——-

    Artikel ini telah naik di detikSumbagsel.

    (wsw/wsw)



    Sumber : travel.detik.com

  • Masjid Anti Mainstream di Pacitan, Bisa Ibadah dengan Pemandangan Laut



    Pacitan

    Di Pacitan, ada satu masjid yang anti mainstream. Masjid itu terapung di tepi laut. Traveler bisa beribadah sambil melihat pemandangan lautan.

    Masjid Apung Pacitan menawarkan pengalaman ibadah yang unik dengan latar pemandangan laut yang menakjubkan. Berdiri megah di atas perairan, masjid ini mengapung di bibir pantai, menciptakan suasana khusyuk yang berpadu dengan semilir angin laut.

    Tak hanya menjadi tempat beribadah, masjid ini menjadi destinasi wisata religi yang menarik. Pembangunan Masjid Apung Pacitan itu dimulai sejak tahun 2019 sebagai perwujudan gagasan Kyai Fuad Dimyati, atau yang akrab disapa Gus Fuad.


    Gus Fuad merupakan pengasuh Pondok Pesantren Tremas, salah satu pesantren tertua dan bersejarah di Pacitan. Masjid Apung Pacitan, yang juga dikenal sebagai Masjid Kemampul, berdiri megah di tepi Pantai Pancer Door, Kelurahan Ploso, Kecamatan/Kabupaten Pacitan.

    Lokasi masjid yang strategis memudahkan akses bagi para jemaah dan wisatawan, baik yang menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat.

    Fasilitas yang disediakan di Masjid Apung Pacitan cukup lengkap, mulai dari tempat parkir yang luas, toilet, dan tempat wudu. Untuk memasuki kawasan Masjid Apung Pacitan, pengunjung hanya perlu membayar karcis sebesar Rp 5.000.

    Bangunan Masjid Apung Pacitan mengusung konsep tradisional Jawa yang didominasi bambu dan kayu-kayu tradisional. Dilansir dari laman resmi Perguruan Islam Pondok Tremas, Masjid Kemampul memanfaatkan banyak tong atau drum-drum besar yang membantu masjid agar bisa mengapung.

    Masjid ini berfungsi sebagai tempat ibadah bagi umat Islam seperti pada umumnya. Namun, yang membedakannya adalah suasana unik yang ditawarkan. Berada di tepi pantai dengan pemandangan laut lepas, masjid ini menghadirkan pengalaman spiritual yang berbeda.

    Embusan angin laut dan deburan ombak yang terdengar di sekitar diharapkan dapat memberikan ketenangan, membantu para jemaah lebih khusyuk dalam melaksanakan salat. Waktu terbaik untuk mengunjungi Masjid Apung Pacitan adalah sore menjelang malam.

    Saat itu, pengunjung tidak hanya dapat menunaikan ibadah dengan suasana yang sejuk, tetapi juga menikmati keindahan matahari terbenam di tepi Pantai Pancer Door.

    Cahaya jingga yang memantul di permukaan laut menciptakan pemandangan yang menakjubkan, menambah ketenangan dan kekhus

    Kini, masjid ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah dan wisata religi bagi masyarakat setempat. Masjid Apung Pacitan juga menjadi magnet bagi wisatawan dari berbagai daerah yang ingin merasakan sensasi beribadah dengan lanskap alam yang menakjubkan.

    Keunikannya sebagai masjid yang berdiri di tepi laut menjadikannya salah satu ikon Pacitan, kabupaten yang dikenal dengan julukan Paradise of Java.

    Dengan perpaduan arsitektur khas dan panorama alam yang menawan, masjid ini semakin memperkaya pesona wisata bahari Pacitan.

    ——-

    Artikel ini telah naik di detikJatim.

    (wsw/wsw)



    Sumber : travel.detik.com

  • 5 Spot Ngabuburit Cantik di Pangandaran, Menunggu Buka Sambil Lihat Sunset



    Pangandaran

    Ngabuburit di Pangandaran, traveler bisa sambil berburu pemandangan sunset yang cantik. Berikut 5 tempat yang direkomendasikan:

    Pangandaran menawarkan beragam pilihan tempat seru untuk mengisi waktu ngabuburit selama bulan Ramadan. Selain berburu takjil, pengunjung juga bisa menikmati pemandangan indah dan berburu spot foto menarik di berbagai lokasi.

    Berikut 5 Rekomendasi Spot Ngabuburit Terbaik di Pangandaran:

    1. Taman Suarsih

    Taman Suarsih menjadi salah satu destinasi favorit warga Pangandaran saat ngabuburit. Berlokasi di Desa Wonoharjo, Kecamatan Pangandaran, taman ini hanya berjarak sekitar 1 kilometer dari Pantai Pangandaran.


    Daya tarik utama Taman Suarsih adalah pemandangan langsung menghadap laut dan menjadi salah satu tempat terbaik menikmati sunset. Taman ini juga dilengkapi fasilitas lengkap, seperti tempat duduk nyaman, spot foto kekinian, sky walk, hingga jogging track.

    Menariknya, pengunjung tidak dikenakan tiket masuk karena Taman Suarsih masih termasuk kawasan wisata Pantai Pangandaran. Selain bersantai, pengunjung bisa berburu foto instagramable dengan latar pantai yang memukau.

    2. Cikembulan Pass

    Cikembulan Pass yang berlokasi di Desa Cikembulan, Kecamatan Sidamulih, menjadi spot ngabuburit baru yang kian populer. Pengunjung bisa menikmati suasana pantai, bermain pasir, hingga berswafoto sembari menanti adzan Magrib.

    Lokasi ini semakin menarik karena panorama sunset yang memukau bisa disaksikan langsung dari area ini. Ditambah lagi, deretan pedagang takjil mulai buka sejak sore hari, memudahkan pengunjung berburu hidangan berbuka.

    “Paling ikonik di tempat ini yaitu patung bundaran Marlin dan tulisan Cikembulan Pass untuk swafoto,” kata seorang pengunjung. Menariknya, lokasi ini juga kerap digunakan untuk aktivitas senam atau zumba sore hari.

    3. Alun-alun Paamprokan

    Alun-alun Paamprokan yang terletak di Jalan Pamugaran, Desa Wonoharjo, Kecamatan Pangandaran, menjadi pusat aktivitas warga, khususnya saat Ramadan. Taman ini diresmikan langsung oleh Gubernur Jawa Barat saat itu, Ridwan Kamil.

    Area alun-alun yang luas memungkinkan warga melakukan beragam aktivitas, mulai dari berfoto di menara, bermain di taman anak, menggunakan fasilitas gym outdoor, hingga bermain skateboard di area yang tersedia.

    Bagi pengunjung yang ingin berburu takjil, di sekitar alun-alun sudah tersedia banyak penjual makanan yang mulai buka sejak sore hari. Waktu terbaik berkunjung ke Alun-alun Paamprokan biasanya antara pukul 16.00 WIB hingga 17.00 WIB.

    4. Jembatan Wiradinata Rangga Jipang

    Jembatan Wiradinata Rangga Jipang di jalur lintas pesisir Pantai Pangandaran kini menjadi salah satu pusat keramaian baru. Lokasinya sangat cocok dijadikan tempat ngabuburit sambil menikmati pemandangan sekitar.

    Di sekitar jembatan terdapat Danau Tanjung Cemara yang menghadirkan panorama indah saat sore hari. Bias cahaya matahari yang memantul di permukaan danau menciptakan pemandangan yang sangat instagramable dan cocok untuk berswafoto.

    Jembatan ini juga dekat dengan pusat jajanan takjil di sekitar Masjid Cikembulan, tepat di perempatan Jalan Raya Cijulang-Pangandaran, di samping Cafe Amora. Berbagai pilihan hidangan pembuka puasa tersedia dengan harga terjangkau.

    5. Taman Pesona Pangandaran (TPP)

    Taman Pesona Pangandaran atau TPP menjadi pilihan ngabuburit ramah keluarga, khususnya bagi ibu-ibu muda yang membawa anak-anak. Taman ini menawarkan beragam wahana permainan anak yang bisa dicoba selama menunggu waktu berbuka.

    Selain area bermain, TPP juga dikenal sebagai pusat kuliner dengan foodcourt yang menyediakan aneka makanan dan takjil. Pengunjung tidak perlu repot mencari makanan berbuka karena semua tersedia di satu tempat.

    Lokasi TPP berada di samping Pasar Pananjung, hanya sekitar 1 kilometer dari Pantai Pangandaran. Foodcourt di TPP mulai beroperasi sekitar pukul 16.30 WIB hingga 01.00 WIB dini hari, sehingga cocok untuk ngabuburit hingga kulineran malam.

    ——–

    Artikel ini telah naik di detikJabar.

    (wsw/wsw)



    Sumber : travel.detik.com

  • Pantai Pererenan Bali, Spot Terbaik untuk Surfing hingga Nonton Sunset


    Jakarta

    Bali memiliki sejumlah pantai yang terkenal dan menjadi favorit banyak turis, sebut saja Pantai Kuta, Pantai Seminyak, hingga Pantai Jimbaran. Namun, ada satu pantai di Pulau Dewata yang tak kalah menarik untuk dikunjungi, yakni Pantai Pererenan.

    Pantai yang satu ini terkenal memiliki ombak yang cukup besar dan konsisten, sehingga cocok untuk surfing. Maka dari itu, sejumlah turis asing lebih memilih datang ke Pantai Pererenan untuk berselancar.

    Selain itu, masih ada daya tarik lainnya dari Pantai Pererenan. Penasaran? Simak ulasan singkatnya dalam artikel ini.


    Daya Tarik Pantai Pererenan

    Pantai Pererenan yang terletak di kawasan Canggu, Badung, ini menjadi salah satu destinasi wisata yang cukup banyak dikunjungi turis. Mengutip laman resmi Pemerintah Kabupaten Badung, berikut sejumlah daya tarik dari Pantai Pererenan:

    1. Spot Surfing Favorit para Bule

    Daya tarik utama dari Pantai Pererenan yaitu sebagai tempat favorit para turis asing untuk berselancar. Sebab, ombaknya cukup besar dan konsisten sehingga mampu menarik para peselancar dari berbagai tingkatan, mulai dari pemula hingga yang sudah mahir.

    Pantai Pererenan di BaliFoto: Bonauli/detikcom

    Biasanya, para turis asing yang ingin berselancar di Pantai Pererenan datang secara berpasangan atau dalam kelompok. Beberapa di antaranya ada yang masih belajar sehingga didampingi pelatih surfing, tapi ada juga yang sudah jago sehingga langsung menuju ke laut.

    Komunitas surfing di Pantai Pererenan juga terus berkembang luas. Hal ini yang membuat semakin banyaknya wisatawan yang berkunjung ke Pantai Pererenan demi merasakan sensasi berselancar.

    2. Menikmati Sunset yang Indah

    Selain ombaknya yang konsisten, pantai Pererenan juga menawarkan pemandangan alam yang indah, terutama saat sore hari. Soalnya, travelers bisa menikmati sunset dari pinggir pantai.

    Biasanya, peselancar yang datang ke Pantai Pererenan tiba sekitar pukul 16.00. Setelah seru-seruan bermain surfing, para turis akan duduk di pantai sambil menyaksikan matahari terbenam.

    Kombinasi antara suara ombak, langit senja berwarna oranye, dan suasana yang tenang membuat betah berlama-lama di Pantai Pererenan. Jangan lupa mengabadikan momen tersebut dengan kamera HP, lalu diunggah ke media sosial.

    3. Menawarkan Pantai yang Tenang

    Berbeda dengan pantai-pantai mainstream di Bali seperti Pantai Kuta atau Pantai Jimbaran, kamu akan merasakan ketenangan setibanya di Pantai Pererenan. Sebab, pantai ini terbilang lebih private, sehingga menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang butuh ketenangan.

    Maka dari itu, banyak wisatawan yang menyebut Pantai Pererenan sebagai hidden gem di Bali. Soalnya, tak semua turis tahu tentang lokasi pantai ini.

    Tips Berlibur di Pantai Pererenan

    Tertarik untuk berkunjung ke Pantai Pererenan? Nah, ada sejumlah tips yang perlu travelers ketahui sebelum pergi ke sana. Berikut beberapa tipsnya yang dirangkum detikTravel:

    1. Datang sejak pagi jika ingin menikmati suasana pantai yang sepi dan tenang.
    2. Kamu bisa membawa papan surfing sendiri dari rumah atau sewa langsung di Pantai Pererenan.
    3. Jika datang saat sore, disarankan agar tidak lewat dari pukul 16.00. Hal ini agar kamu masih bisa berkeliling pantai sebelum waktunya untuk menikmati sunset di tepi pantai.
    4. Tersedia kafe dan restoran di sekitar Pantai Pererenan. Jadi, tak perlu khawatir kalau perut sudah lapar.
    5. Meski pasir pantainya hitam, tapi tetap bersih dan nyaman untuk dikunjungi.
    6. Kenakan pakaian yang nyaman dan terbaik versi kamu agar bisa berfoto-foto estetik di Pantai Pererenan.

    Bagi detikers yang ingin berkunjung ke Pantai Pererenan, kamu bisa menjangkaunya dengan mengendarai sepeda motor atau mobil. Lokasinya yang berada di Canggu membuat pantai ini tak begitu jauh bila ditempuh dari pusat Kota Denpasar.

    Dari pantauan di Google Maps, jarak dari Kota Denpasar menuju Pantai Pererenan sekitar 15 km. Jika mengendarai mobil, butuh waktu sekitar 1 jam perjalanan, sedangkan bila mengendarai motor waktu tempuhnya sekitar 40-50 menit.

    Demikian ulasan singkat mengenai Pantai Pererenan yang menjadi pantai hidden gem di Bali. Jadi, tertarik untuk liburan ke sana?

    (ilf/fds)



    Sumber : travel.detik.com

  • Menelusuri Jejak Sejarah dalam Destinasi Kuliner & Budaya di Batavia PIK



    Jakarta

    Pantai Indah Kapuk (PIK) menjadi salah satu daerah yang menghadirkan magnet tersendiri bagi wisatawan lokal dan mancanegara. Pasalnya, Kawasan tersebut memiliki perpaduan sejarah, budaya, kuliner, dan destinasi wisata yang cukup menarik.

    “Bagi pencinta kuliner, sejarah, dan budaya, Batavia PIK merupakan destinasi yang tak boleh dilewatkan. Terinspirasi dari kota pelabuhan Batavia tempo dulu di abad ke-18, kawasan ini menawarkan pengalaman unik yang memadukan keindahan arsitektur khas kolonial, atmosfer kota pelabuhan, serta sajian kuliner dan hiburan khas Nusantara,” tulis PIK dalam keterangan resmi, Sabtu (15/3/2025).

    Lebih dari sekedar destinasi wisata, Batavia PIK menghidupkan kembali kejayaan Batavia, yang dahulu dikenal sebagai ‘Queen of the East’ yaitu sebuah pusat perdagangan maritim yang mempertemukan berbagai bangsa dan budaya. Layaknya seperti Batavia di masa lampau, destinasi ini kini menjadi melting pot modern, di mana akulturasi budaya hadir dalam seni, hiburan, kuliner, dan arsitektur autentik.


    Tak hanya menawarkan nostalgia, Batavia PIK juga menghadirkan pengalaman imersif yang mengajak pengunjung menjelajahi sejarah melalui konsep interaktif dan inovatif sehingga dapat dinikmati oleh para wisatawan dari berbagai generasi, baik lokal maupun mancanegara.

    Menelusuri Jejak Sejarah dalam Destinasi Kuliner & Budaya di Batavia PIKMenelusuri Jejak Sejarah dalam Destinasi Kuliner & Budaya di Batavia PIK (Agung Sedayu)

    Alun-Alun Batavia: Pusat Festival dan Hiburan

    Sebagai jantung dari Batavia PIK, Alun-alun Batavia menjadi tempat berkumpulnya para pengunjung untuk menikmati berbagai event spesial. Dari bazar kerajinan lokal, kuliner, pertunjukan seni teater, hingga live music bernuansa keroncong.

    Lebih dari sekadar tempat hiburan, Alun-Alun Batavia juga menjadi panggung bagi para seniman kreatif Indonesia. Berbagai sanggar seni dan pertunjukan ternama seperti Jember Fashion Carnaval, Sanggar Tari Ayodya Pala, hingga Teater Mhyajo turut berkolaborasi menampilkan karya-karya yang mengangkat budaya lokal dengan sentuhan modern.

    Pasar Rakjat: Menikmati Nostalgia Lewat Kuliner dan Kerajinan Tradisional

    Batavia PIK juga tetap menjaga semangat lokal dengan menghadirkan Pasar Rakjat. Lebih dari sekadar tempat berbelanja, pasar ini menjadi wadah bagi UMKM Indonesia untuk berkembang dan memamerkan produk terbaik mereka, mulai dari kuliner khas, kerajinan tangan, hingga seni kreatif.

    Pada Maret 2025, Batavia PIK akan menyambut Sarinah, department store ikonik yang selama puluhan tahun dikenal sebagai rumah bagi produk-produk lokal unggulan. Kehadirannya akan semakin memperkaya pengalaman belanja di Batavia PIK, menghadirkan beragam karya anak bangsa, mulai dari tekstil, fesyen, hingga kerajinan tradisional.

    Jembatan Kota Intan dan Dermaga Taksi Air: Menghubungkan Tradisi dan Modernitas

    Salah satu daya tarik utama Batavia PIK adalah jembatan kayu yang menghubungkan fase pertama di Golf Island PIK dengan Batavia Pasar Rakjat di Riverwalk Island. Jembatan ini terinspirasi dari Jembatan Kota Intan yang legendaris, menghadirkan sentuhan arsitektur klasik yang pernah menghiasi Batavia tempo dulu.

    Menariknya, pengalaman di Batavia PIK semakin lengkap dengan kehadiran dermaga taksi air. Moda transportasi itu memungkinkan pengunjung menjelajahi kanal menggunakan perahu listrik.

    Menyusuri kawasan ini dari jalur air menghadirkan pengalaman baru dalam menikmati keindahan Batavia PIK, menjadikannya pilihan wisata unik bagi mereka yang ingin merasakan pengalaman berbeda.

    Menelusuri Jejak Sejarah dalam Destinasi Kuliner & Budaya di Batavia PIKMenelusuri Jejak Sejarah dalam Destinasi Kuliner & Budaya di Batavia PIK (Agung Sedayu)

    Kuliner Otentik dari Nusantara hingga Internasional

    Tak lengkap rasanya menjelajahi Batavia tanpa mencicipi kelezatan kulinernya. Batavia PIK menyuguhkan pengalaman bersantap yang menggugah selera dengan deretan tenant F&B yang menghidangkan berbagai masakan khas Nusantara dan internasional.

    Beberapa tenant ternama yang dapat dinikmati antara lain seperti Dewata by Monsieur Spoon yang menawarkan sentuhan kuliner Bali yang autentik, Sate & Seafood Senayan yang menyajikan sate dan hidangan laut khas Indonesia, Canton 168 yang merupakan pilihan tepat bagi pencinta masakan Kanton, Orasa’s yaitu restoran dengan menu khas Thailand, Saigon Ngon untuk menikmati cita rasa otentik Vietnam, dan Rumah Jajan Bu Nanik yang menyajikan jajanan legendaris khas Indonesia.

    Melalui berbagai menu yang beragam, Batavia PIK tentunya juga menjadi destinasi wajib bagi para pencinta kuliner.

    Kilau Ramadhan 1001 Malam: Menyambut Bulan Suci dengan Tradisi yang Megah

    Memasuki bulan Ramadan, Batavia PIK semakin semarak dengan ‘Kilau Ramadhan 1001 Malam Batavia’, sebuah festival kuliner dan hiburan yang menghadirkan suasana khas Timur Tengah dan Nusantara.

    Salah satu atraksi utama adalah buka puasa bersama Chef Muto, yang dikenal dengan atraksi kungfu cooking-nya. Pengunjung dapat menikmati hidangan istimewa sambil menyaksikan keahlian memasak yang menghibur.

    Tak hanya itu, rangkaian acara Ramadhan juga dimeriahkan oleh penampilan artis papan atas setiap akhir pekan, pertunjukan seni dari Jember Fashion Carnaval, serta live music dari Mustafa ‘DEBU’ yang membawa suasana syahdu di bulan suci.

    Menambah keistimewaan acara ini, kedutaan besar dari negara-negara ASEAN dan Maroko, serta Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, turut hadir untuk merayakan momen kebersamaan dalam semangat Ramadhan.

    Sebagai destinasi yang menggabungkan sejarah, budaya, dan gaya hidup modern, Batavia PIK menghadirkan pengalaman wisata yang tak hanya menghibur tetapi juga memperkaya wawasan. Dengan arsitektur klasik yang memukau, ragam kuliner autentik, serta berbagai acara dan atraksi menarik, kawasan ini menjadi tempat ideal bagi siapa saja yang ingin merasakan pesona Batavia tempo dulu dalam balutan modernitas.

    Baik bagi pencinta sejarah, penggemar kuliner, maupun wisatawan yang mencari pengalaman unik, Batavia PIK menawarkan perjalanan waktu yang tak terlupakan menghidupkan kembali kejayaan masa lalu dalam nuansa yang lebih hidup, berwarna, dan penuh cerita. Jangan lewatkan kesempatan untuk menjelajahi keindahan Batavia PIK dan menciptakan kenangan berharga di destinasi wisata yang kaya akan pesona dan budaya ini.

    (akd/akd)



    Sumber : travel.detik.com

  • Daya Tarik, Lokasi, hingga Tiket Masuknya


    Jakarta

    Pantai Jetis Cilacap menjadi salah satu destinasi wisata di ujung timur Cilacap. Terutama bagi wisatawan yang mau mencari suasana tenang dan pemandangan alam yang indah.

    Selain menawarkan keindahan alam, di sana traveler bisa melakukan berbagai aktivitas di sekitar pantai pasir hitam ini.

    Letak Pantai Jetis Cilacap

    Mengutip laman Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Jawa Tengah, Pantai Jetis Cilacap berlokasi di Desa Jetis, Kecamatan Nusawungu.


    Dari pusat kota Cilacap, jarak tempuh ke pantai ini berkisar sekitar 47 km atau dengan waktu tempuh 1 jam 15 menitan.

    Daya Tarik Pantai Jetis Cilacap

    Berikut adalah daya tarik dan aktivitas seru yang bisa dilakukan jika berwisata di Pantai Jetis Cilacap:

    1. Panorama Alam yang Cantik

    Pantai ini juga dihiasi dengan keberadaan perbukitan kapur memanjang yang ditutupi pepohonan hijau. Perpaduan antara air laut dan hijaunya pohon kelapa serta cemara di sekelilingnya tak boleh kamu lewatkan.

    Karena ada banyak pohon cemara disana, Pantai Jetis juga sering disebut sebagai Pantai Cemara Sewu.

    Kamu bisa menikmati panorama Pantai Jetis ini bisa dengan duduk santai, berjalan-jalan atau jogging saat menyusuri pantai. Tentunya akan ada suara ombak dan angin sepoi-sepoi yang menemanimu.

    Pantai Jetis buka selama 24 jam sehingga kamu bisa mengunjungi pantai ini kapanpun. Namun sebaiknya untuk berkunjung pada pagi ataupun sore hari, agar bisa lebih puas menyaksikan keindahan pemandangan yang ada.

    2. Berkeliling Pantai dengan Naik Kuda dan ATV

    Bagi yang ingin berkeliling pantai, traveler juga bisa menemukan penyewaan kuda. Selain kuda, ada juga penyewaan ATV yang bisa disewakan untuk anak-anak hingga orang dewasa.

    3. Kulineran

    Bagi pecinta kuliner seafood kamu bakal suka ke pantai ini. Karena di sekitar area pantai, kamu akan denba mudah menemukan warung makan yang berjajar.

    Mulai menu dari seafood, ketupat pecel, hingga mendoan Banyumas pun dijual di warung-warung si sana. Selain itu, traveler juga bisa milih langsung hasil tangkapan laut di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Congot.

    4. Bangunan Pemecah Ombak yang Jadi Spot Foto Menarik

    Beutiful wallpaper background of Jetis Beach Cilacap Central Java IndonesiaPantai Jetis Cilacap, Jawa Tengah (Getty Images/Ani Dwi Wahyuni)
    Beautiful background of Jetis Beach Cilacap Central Java with green hill and blue sky for wallpaperPantai Jetis Cilacap (Getty Images/Ani Dwi Wahyuni)

    Salah satu ciri khas di Pantai Jetis Cilacap adalah bangunan pemecah gelombang atau ombaknya (tetrapod). Meskipun berantakan, spot ini juga sering dijadikan spot foto para pengunjung yang datang.

    Tiket Masuk Pantai Jetis Cilacap

    Mengutip salah satu situs travel agency online, harga tiket masuk ke Pantai Jetis berkisar Rp 5.000 per orang. Sementara, untuk tarif parkir kendaraannya Rp 2.000 untuk motor dan mobil Rp 5.000. Jika traveler mau bersantai di pinggir pantai ada gazebo yang disewakan. Harga sewa gazebonya berkisar Rp 10.000.

    (khq/fds)



    Sumber : travel.detik.com

  • Cerita Mata Air Asin yang Diburu Warga Tasikmalaya buat Lebaran



    Tasikmalaya

    Menjelang Lebaran, sebuah sumber mata air dengan rasa asin banyak diburu oleh warga Tasikmalaya. Mereka menggunakan air asin itu untuk membuat ketupat.

    Penjualan air asin Tanjung di Kecamatan Kawalu, Kota Tasikmalaya mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Warga tasik mulai terlihat antre untuk membeli sumber mata air yang dijadikan bahan pembuatan ketupat tersebut.

    Mata air asin Tanjung ini merupakan salah satu keunikan yang ada di Tasikmalaya. Jika biasanya mata air punya rasa tawar, tapi sumber mata air Tanjung malah mengeluarkan air asin.


    Oleh masyarakat, air ini kerap dimanfaatkan untuk membuat ketupat. Selain bisa memberi rasa yang khas pada ketupat, air asin Tanjung ini juga dipercaya membuat ketupat lebih tahan lama dan bisa awet sampai seminggu.

    Kebiasaan ini sudah berlangsung sejak dulu dan membawa berkah bagi daerah setempat. Sejumlah warga terlihat sudah memadati Kampung Cukang, Kelurahan Tanjung, Kecamatan Kawalu, Kota Tasikmalaya, tempat di mana sumber air asin Tanjung ini berada.

    Ketua Pengelola air asin Tanjung, Iman Hermansyah (42) mengatakan pembeli air asin Tanjung mulai ramai sejak awal bulan Ramadan.

    “Dari tanggal 5 Ramadan sudah ramai masyarakat yang membeli air asin Tanjung untuk membuat ketupat Lebaran. Penjualan meningkat sekitar 60 persen dari hari-hari biasa,” kata Iman.

    Iman mengatakan mereka yang membeli air asin Tanjung untuk bahan pembuatan ketupat, tidak hanya datang dari wilayah Tasikmalaya saja, melainkan dari berbagai daerah.

    “Pembeli tidak hanya warga Tasikmalaya, dari luar seperti Ciamis, Banjar, Garut dan daerah lainnya juga ada,” kata Iman.

    Tak sedikit pula mereka yang datang, membeli dalam jumlah banyak dengan tujuan untuk dijual kembali.

    “Selain mereka membeli untuk membuat ketupat di rumah, ada juga mereka yang akan menjual lagi,” jelasnya.

    Harga jual air asin ini relatif murah, satu galon dijual dengan harga Rp 10 ribu saja.

    “Kalau jeriken biru yang 35 liter Rp 15 ribu, kalau galon Rp 10 ribu,” papar Iman.

    Hasilkan Ketupat dengan Rasa yang Khas

    Iman membenarkan membuat ketupat dengan air asin Tanjung akan memberikan cita rasa yang khas serta tekstur ketupat yang lebih kenyal dan tahan lama.

    “Air Tanjung itu keistimewaannya seperti ada pengawet alami. Rasa ketupat atau lontong jadi beda, agak kenyal juga. Terus ketupat kalau pakai air asin Tanjung bisa bertahan sampai 6 hari,” ujar Iman.

    Dia juga berharap penjualan di Lebaran kali ini akan semakin meningkat sehingga warga bisa mendapatkan cuan yang maksimal.

    Mata air unik yang memiliki rasa asin bernama Air Tanjung di Tasikmalaya.Mata air unik yang memiliki rasa asin bernama Air Tanjung di Tasikmalaya. Foto: Faizal Amiruddin/detikJabar

    “Biasanya semakin dekat Lebaran semakin membeludak, kalau stok banyak,” kata Iman.

    Sumber mata air unik ini dikelola oleh pihak RW dengan melibatkan warga. Setidaknya ada 21 warga yang dilibatkan dalam bisnis pemanfaatan Air Tanjung ini.

    Sehari ada 3 atau 4 orang yang jaga. Mereka bertugas melayani pembeli, menampung air dan lain-lain. Warga yang bekerja tentu dapat upah, sisanya disetor ke kas RW.

    Secara swadaya masyarakat mengelola air itu dengan cara menampungnya ke bak-bak penampungan. Kemudian dari bak dialirkan ke dua tangki air kapasitas 1000 liter.

    Air Tanjung memang perlu ditampung sebagai stok, karena volume mata air tidak besar. Penasaran dengan rasanya yang menurut warga asin, beberapa bulan lalu kami pernah mencoba mencicipi air Tanjung tersebut.

    Rasa asin memang ada, tapi tak terlalu kentara. Lidah justru merasakan gurih. Seperti air kelapa, tapi air kelapa tua yang hambar.

    Beberapa saat setelah menenggak, tenggorokan terasa kering seperti usai minum air laut. Begitu kira-kira rasa dari mata air unik ini.

    ——-

    Artikel ini telah naik di detikJabar.

    (wsw/wsw)



    Sumber : travel.detik.com

  • Pantai Watukarung, Spot Selancar Kelas Dunia di Pacitan


    Jakarta

    Ada sebuah pantai di Jawa Timur yang tidak hanya punya panorama elok, tetapi juga dikenal sebagai spot selancar terbaik. Ialah Pantai Watukarung di Pacitan yang memiliki ombak istimewa.

    Pantai ini juga disebut mirip Raja Ampat di Papua Barat. Bukan tanpa alasan, pesona pantainya memanjakan setiap mata yang memandang. Tempatnya asri dan punya kesan eksklusif karena belum terlalu ramai pengunjung.

    Penasaran dengan destinasi satu ini? Simak uraian Pantai Watukarung berikut.


    Pesona Pantai Watukarung

    Mengutip laman Disparbudpora Kab. Pacitan, Pantai Watukarung di Pacitan menyuguhkan lautan dengan air jernih kebiruan. Gulungan ombak cukup besar di sini khas pantai selatan Jawa, dengan tinggi bisa mencapai 4 meter.

    Karakter arah ombak di pantai ini unik yaitu ke sisi kanan dan kiri, dilansir pemberitaan detikJatim. Arah ombak seperti ini menawarkan tantangan besar. Karenanya, ombak ‘kelas dunia’ ini kerap menarik perhatian peselancar profesional lokal maupun mancanegara.

    Tak jauh dari bibir pantai terlihat beberapa batuan karang besar yang ditumbuhi kehijauan mengelilingi pesisir. Hal inilah yang menjadikan Pantai Watukarung disebut-sebut sebagai ‘Raja Ampatnya Jawa Timur’.

    panorama wisata alam Pantai Watukarung khas PacitanPanorama Pantai Watukarung di Pacitan Foto: Purwo Sumodiharjo

    Pantainya yang luas dengan garis pantai panjang dilengkapi pasir putih halus dan bersih. Cocok banget buat traveler yang suka menyusuri pantai dari ujung ke ujung.

    Di sebelah kanan pantai terdapat bukit dengan gardu pandang. Tersedia anak tangga jika tertarik menaiki dan menyaksikan pemandangan laut yang lebih menakjubkan dari ketinggian. Atas bukit juga menjadi spot yang oke untuk menikmati view matahari terbenam (sunset).

    Bebatuan karang akan muncul saat air lautnya agak surut. Akan banyak ditemukan juga bintang laut, bulu babi, siput laut, hingga ikan-ikan kecil yang berenang di antara batuan.

    Aktivitas di Pantai Watukarung

    Sejumlah aktivitas seru dapat traveler lakukan di Pantai Watukarung, berikut di antaranya:

    1. Berselancar

    Pantai WatukarungBerselancar di Pantai Watukarung Foto: Purwoto Sumodiharjo

    Jika hobi berselancar, kamu bisa mengendarai gulungan ombaknya dengan papan selancar. Pastikan sudah mahir berselancar atau ditemani profesional selama melakukan aktivitas ini. Sebab karakter ombak PantaiWatukarung yang unik menawarkan tantangan yang cukup berat.

    2. Bermain Air dan Pasir

    Ombaknya yang lumayan besar juga membuat pengunjung tidak cukup aman berenang di Pantai Watukarung. Disarankan untuk sekadar bermain air di tepian atau bermain pasir di pantai saja.

    Perhatikan langkah saat bermain air karena di bawah bibir pantainya dipenuhi bebatuan karang.

    3. Berfoto

    Pantai Watukarung termasuk pantai cantik di Pacitan. Sangat disayangkan jika traveler tidak mengabadikan potret panoramanya. Semua titik di pantai ini bisa dijadikan spot berfoto.

    4. Wisata Kuliner

    Tidak usah khawatir kelaparan saat berkunjung ke pantai ini. Terdapat banyak tempat makan yang bisa disinggahi. Warung-warung ini menyediakan aneka olahan seafood lezat dengan harga terjangkau.

    Pantai Watukarung pacitanView sunset di Pantai Watukarung, Pacitan Foto: Purwo Sumodiharjo

    Pantai Watukarung terletak di Pringkuku, Ketro, Watukarung, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur. Tempatnya cukup jauh dari pusat kota Pacitan, kurang lebih memakan waktu 1 jam untuk sampai di lokasi.

    Jalan menuju Pantai Watukarung sudah beraspal mulus. Namun traveler masih perlu berhati-hati karena lebar jalan agak sempit serta aksesnya masih banyak tikungan tajam dan jalanan curam. Meski begitu, akan ada orang yang membantu agar pengunjung dapat melewati aman.

    Pantai Watukarung hanya bisa diakses menggunakan kendaraan pribadi. Belum ada transportasi umum yang menjangkau tempat ini.

    Fasilitas Pantai Watukarung

    Pantai Watukarung menyediakan fasilitas memadai untuk pengunjung. Sudah tersedia toilet, kamar bilas, tempat sampah, area parkir, warung makan, hingga mushola.

    Ada banyak penginapan di sekeliling pantai jika tertarik bermalam di kawasan ini. Bisa pilih homestay, cottage, atau resort dengan harga sewa per malam yang bervariasi. Disarankan reservasi kamar jauh-jauh hari karena sering kali cepat penuh.

    Biaya tiket masuk Pantai Watukarung masih sangat terjangkau, cukup merogoh kocek Rp 10.000 per orang untuk bisa menikmati panorama Raja Ampatnya Jawa Timur ini. Pengunjung juga perlu membayar sekitar Rp 15.000 untuk tarif parkir.

    (azn/row)



    Sumber : travel.detik.com

  • 3 Terowongan Kereta Legendaris yang Bakal Hidup Lagi di Pangandaran



    Pangandaran

    Jalur kereta api Banjar-Pangandaran sepanjang 82 kilometer bakal dihidupkan lagi. Itu berarti, 3 terowongan kereta legendaris ini bakal bangkit lagi dari mati.

    Jika jalur ini kembali aktif, maka kereta api itu akan melintasi tiga terowongan bersejarah yaitu Terowongan Hendrik, Wilhelmina, dan Juliana.

    Ketiga terowongan tersebut tersebar di lokasi desa yang berbeda di wilayah Kabupaten Pangandaran. Meski telah berusia lebih dari seabad, struktur bangunan terowongan masih tampak kokoh. Namun, sejumlah bagian mulai menunjukkan kerusakan dan membutuhkan perbaikan.


    Kepala Bidang Budaya Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Pangandaran, Sugeng, menyebutkan Terowongan Hendrik berada di wilayah Desa Kalipucang, Wihelmina berada di Desa Bagolo, dan Juliana berada di Desa Pamotan, Kecamatan Kalipucang.

    “Karena usianya lebih dari 50 tahun,” kata dia.

    Berikut Profil 3 Terowongan yang Akan Dilewati Jalur KA Banjar-Pangandaran:

    1. Terowongan Hendrik

    Terowongan ini terletak di Desa Kalipucang dan membentang dari utara ke selatan. Panjangnya 106 meter dengan tinggi 5 meter dan lebar 4 meter. Mulut terowongan bagian selatan menggunakan konstruksi batu kali hingga setinggi 2,5 meter di sisi timur dan barat. Langit-langitnya berupa beton cor, dan masih terlihat bekas bekisting pengecoran.

    Terdapat saluran drainase di kedua sisi terowongan dengan lebar dan kedalaman masing-masing 20 cm. Terowongan ini dibangun menembus perbukitan berbatuan breksi.

    2. Terowongan Wilhelmina

    Inilah terowongan kereta api terpanjang di Indonesia, dengan panjang mencapai 1.116 meter. Terowongan ini berada di Desa Bagolo, Kecamatan Kalipucang. Lantainya berupa tanah yang telah mengeras dan dipenuhi batu koral.

    Kedua mulut terowongan menghadap timur laut dan barat daya. Mulut terowongan berukuran lebar 4 meter dan tinggi 4,5 meter. Karena bentuknya lurus, cahaya dari ujung lain terlihat dari pintu masuk.

    3. Terowongan Juliana

    Terowongan ini terletak di Desa Pamotan, Kecamatan Kalipucang, dan memiliki panjang 147 meter. Uniknya, terowongan ini berbelok di bagian tengah, sehingga ujungnya tidak dapat langsung terlihat dari pintu masuk.

    Mulut pertama menghadap ke selatan, sementara mulut kedua mengarah ke barat laut (330°). Struktur mulut terowongan berbentuk setengah lingkaran di bagian atas dan persegi di bagian bawah, dibangun dengan batu yang diplester halus.

    ——–

    Artikel ini telah naik di detikJabar.

    (wsw/wsw)



    Sumber : travel.detik.com

  • Ada yang Beracun dan Tidak Pernah Kering



    Cirebon

    Cirebon memiliki budaya yang kaya dan sejarah yang panjang. Di kota ini, ada 4 sumur keramat dengan kisah tersendiri. Ada yang beracun hingga tak pernah kering.

    Sumur keramat tersebut tersebar di keraton-keraton yang ada di Cirebon. Sampai sekarang, sumur-sumur ini masih didatangi peziarah dan diyakini memiliki khasiat.

    Berikut 4 Sumur di Cirebon yang Keramat:


    1. Sumur Upas: Sumur Beracun Peninggalan Abad 15

    Berbeda dengan sumur lainnya, Sumur Upas atau Sumur Soka yang berada di bawah pohon soka besar di Petilasan Keraton Dalem Agung Pakungwati kini ditutup dan tidak difungsikan karena diyakini mengandung racun.

    Kepala Bagian Informasi dan Pariwisata Keraton Kasepuhan Iman Sugiman, menyebutkan sumur ini dulunya digunakan untuk merendam senjata agar beracun saat melawan penjajah.

    Nama “Sumur Upas” berasal dari kata “upas” yang berarti racun. Uniknya, pohon soka tempat sumur ini berada dikenal langka karena bunganya tumbuh di dahan, bukan di pucuk daun seperti pohon soka pada umumnya.

    2. Sumur Ketandan: Saksi Pembuatan Terasi Cirebon

    Sumur Ketandan menjadi salah satu situs sejarah penting di Kota Cirebon yang menyimpan kisah perjuangan Pangeran Cakrabuana dalam menyebarkan agama Islam di pesisir utara Jawa.

    Terletak di bawah naungan pohon beringin besar yang telah berusia ratusan tahun, sumur ini hingga kini masih dijaga kesakralannya.

    Menurut juru kunci Sumur Ketandan, Raden Syarifuddin, air sumur ini diambil secara manual menggunakan ember tanpa bantuan pompa. Hal ini dilakukan agar kesucian dan kesakralan situs tetap terjaga. “Kalau pakai pompa, nanti jadi tidak sakral,” ujarnya.

    Syarifuddin menjelaskan, nama “Ketandan” berasal dari kata “Tanda”, yang berarti ciri-ciri. Dalam kisahnya, Pangeran Cakrabuana pernah menaruh “jalatunda” atau jaring di sekitar sumur setelah mencari ikan di laut Cirebon.

    Sumur ini dahulu digunakan untuk mencuci jala dan membuat terasi dari ikan rebon. Pada masa itu, lokasi sumur berada dekat pantai, sebagaimana halnya Masjid Pejlagrahan, yang juga merupakan peninggalan Pangeran Cakrabuana.

    Meskipun telah berusia ratusan tahun, air sumur ini tidak pernah kering. Masyarakat percaya bahwa airnya memiliki khasiat untuk penyembuhan dan pelindung dari sihir. Namun Syarifuddin mengingatkan, semua permohonan tetap harus ditujukan kepada Allah SWT.

    Pengunjung biasanya datang saat malam Jumat Kliwon, baik umat Muslim maupun non-Muslim. Mereka melakukan napak tilas sejarah dan memanfaatkan air sumur yang dianggap penuh berkah.

    3. Sumur Kejayaan: Sumur Keramat di Keraton Kasepuhan Cirebon

    Sumur Kejayaan merupakan salah satu sumur keramat yang terletak di area Petilasan Dalem Agung Pakungwati, komplek Keraton Kasepuhan Cirebon. Sumur ini diyakini sebagai tempat wudu bagi Pangeran Cakrabuana dan Sunan Gunung Jati.

    Menurut juru kunci, Mang Pardi (68), banyak pengunjung dari berbagai daerah, seperti Cirebon, Kuningan, Indramayu, Majalengka, hingga Jawa Tengah yang datang untuk berwudu, mandi, atau mengambil air sumur.

    Menariknya, meskipun kedalamannya hanya sekitar tiga meter, air sumur ini tidak pernah kering meski kemarau panjang, dan tidak meluber saat musim hujan.

    Mang Pardi mengatakan bahwa setiap pengunjung datang dengan tujuan berbeda, mulai dari kelancaran usaha hingga terkabulnya hajat. Namun, semua dikembalikan kepada kehendak Tuhan.

    Pengunjung yang ingin memasuki kawasan petilasan Dalem Agung Pakungwati dan Sumur Kejayaan wajib mematuhi sejumlah aturan. Antara lain, melepas alas kaki, tidak merokok, dan hanya laki-laki yang diperbolehkan masuk, dengan alasan kesucian tempat.

    4. Sumur Jala Tunda: Sumber Air Abadi

    Sumur Jala Tunda yang berada di sebelah Masjid Pejlagrahan, Kampung Grubugan, Kelurahan Kasepuhan, Kota Cirebon, juga merupakan peninggalan Pangeran Cakrabuana dari abad ke-14.

    Menurut Ketua DKM Masjid Pejlagrahan, Sulaeman, sumur ini dibuat untuk memudahkan nelayan berwudu sebelum salat. Sumur ini terdiri dari dua bagian: untuk laki-laki dan perempuan. Hingga kini, sumur ini tak pernah kering, meskipun kedalamannya hanya sekitar enam meter.

    Selain dimanfaatkan masyarakat setempat, banyak peziarah dari luar daerah yang mengambil air sumur karena diyakini memiliki khasiat tertentu.

    ——–

    Artikel ini telah naik di detikJabar.

    (wsw/wsw)



    Sumber : travel.detik.com