Tag: Lebaran

  • 3 Resep Lauk Ketupat Betawi yang Lezat dan Mudah Buatnya!

    Jakarta

    Menyajikan ketupat saat Lebaran adalah tradisi yang tak terpisahkan di Indonesia. Momen Lebaran tetap terasa spesial meskipun hanya menikmati ketupat dengan berbagai lauk di rumah.

    Tahukah kamu? Ketupat pertama kali diperkenalkan oleh Sunan Kalijaga pada abad ke-15 sebagai bagian dari penyebaran agama Islam di Pulau Jawa. Nama ‘ketupat’ sendiri berasal dari singkatan bahasa Jawa ‘ngaku lepat’, yang berarti mengakui kesalahan. Ada juga yang mengatakan bahwa ketupat berasal dari singkatan ‘laku papat’, merujuk pada empat tindakan.

    Ketupat akan terasa lebih lengkap dengan aneka lauk yang lezat. Setiap daerah di Indonesia memiliki cara unik dalam menyajikan ketupat Lebaran. Biasanya, mereka menggunakan sayur berkuah gurih yang lezat, serta melengkapi hidangan dengan lauk seperti opor, sambal goreng, rendang, hingga serundeng.


    Warga Betawi memiliki cara khas dalam menyajikan ketupat Lebaran. Ketupat disiram dengan sayur godog pepaya muda, bisa juga ditambahkan semur daging dan jengkol yang manis dan gurih.

    Masyarakat Betawi menikmati ketupat Lebaran dengan sayur godog pepaya muda, semur jengkol, semur daging, atau semur bandeng, serta sambal dan kerupuk sebagai pelengkap.

    3 Resep Sayur Ketupat Betawi yang Lezat

    Pada hidangan sayur pendamping ketupat, kamu bisa menyiapkan sayur gurih khas Betawi yang terbuat dari labu siam. Hidangan ini biasanya disajikan untuk keluarga dan tamu. Dikutip dari laman Vokasi Kemdikbud, Retno Multriarti selaku Pemimpin lembaga kursus dan pelatihan (LKP) bidang tata boga Citramas Jakarta Timur menjelaskan dari segi rasa, umumnya masakan khas Betawi dominan dengan rasa gurih dan sedikit pedas.

    Masakan Betawi juga banyak terpengaruh dari bangsa arab karena hampir semua masyarakat Betawi beragama Islam. Maka, rempah yang kerap digunakan yaitu kunyit, cabe, jinten, cengkeh, adas, kayu manis, dan pala. Jika kamu ingin mencoba salah satu lauk istimewa ketupat Lebaran Betawi, berikut tiga resepnya:

    1. Resep Sayur Godog Pepaya Muda

    Ciri khas sayur gurih Betawi memakai pepaya muda yang diserut kecil panjang. Dibumbui cabe dan kuah santan rasanya gurih enak. Biasanya, makanan ini menjadi hidangan saat Lebaran Idul Fitri.

    Saat memasak, pastikan pepaya muda yang dipakai adalah pepaya muda yang berwarna daging masih pucat, dengan tekstur yang masih keras. Jika tak sempat menyiapkan pepaya muda serut, kamu bisa membeli pepaya muda yang sudah diserut kecil memanjang di pasar tradisional. Kamu bisa tambahkan 250 ml santan kental untuk menciptakan rasa gurih yang enak.

    Sayur godog pepaya ini rasanya pedas gurih. Dengan cita rasa yang khas dan aroma yang menggugah selera, tak heran membuatnya banyak dinikmati oleh semua kalangan.

    Durasi Tingkat Kesulitan Porsi
    60 menit mudah 10
    Daerah Asal Masakan :Betawi
    Kategori Masakan : Sayur

    Bahan Bahan

    • 600 g pepaya muda, serut panjang
    • 3 sdm minyak sayur
    • 2 cm lengkuas
    • 2 lembar daun salam
    • 1.5 liter santan segar
    • 2 buah cabe merah, iris serong tipis
    • 10 buah cabe rawit merah
    • 1 sdm cabe merah bubuk
    • 100 g udang kupas kecil

    Bumbu halus:

    • 3 buah cabe merah besar, buang bijinya
    • 5 buah cabe merah keriting
    • 5 siung bawang putih
    • 3 butir bawang merah
    • 1 sdt terasi
    • 2 sdt garam

    Taburan:

    Cara Memasak:

    1. Taburi pepaya serut dengan sedikit garam lalu remas-remas hingga layu dan berair. Bilas air bersih lalu tiriskan hingga kering.
    2. Tumis Bumbu Halus hingga wangi.
    3. Tambahkan daun salam, lengkuas dan cabe bubuk, aduk hingga harum.
    4. Masukkan cabe merah dan cabe rawit, aduk sebentar.
    5. Tambahkan udang, aduk hingga kemerahan lalu angkat.
    6. Masukkan ke dalam panci.Tuangi santan, didihkan dengan api kecil.
    7. Masukkan pepaya muda rebus hingga hampir empuk.
    8. Rebus hingga seluruhnya lunak. Angkat.
    9. Sajikan dengan taburan bawang merah goreng.

    2. Resep Semur Jengkol

    Resep Semur Jengkol BetawiResep Semur Jengkol Betawi Foto: detikfood/odilia

    Jengkol juga jadi kuliner khas lebaran warga Betawi. Diolah dengan bumbu semur yang kental gurih dan manis rasanya lezat.

    Dalam setiap pertemuan acara keluarga masyarakat Betawi, semur jengkol adalah makanan yang harus tersedia sebagai pelengkap nasi. Semur jengkol khas Betawi pun tak sama seperti semur jengkol yang lain.

    Retno juga menyebut, semur jengkol Betawi lebih legit bumbunya dan lebih pekat. Selain itu, jengkolnya pun kurang berbau karena direbus terlebih dahulu dengan kopi, daun jambu, atau kapur sirih.

    Durasi Tingkat Kesulitan Porsi
    60 menit mudah 8
    Daerah Asal Masakan :Betawi
    Kategori Masakan : Sayur

    Bahan Bahan

    • 1 kg jengkol
    • 4 sdm minyak sayur
    • 5 cm kayu manis
    • 4 butir cengkeh
    • 3 lembar daun salam
    • 200 ml kecap manis
    • 500 ml air

    Haluskan:

    • 7 butir kemiri
    • 8 butir bawang merah
    • 5 siung bawang putih
    • 1/2 butir biji pala
    • 1 sdt merica bubuk
    • 2 sdt garam

    Taburan:

    Cara Memasak:

    1. Cuci jengkol hingga bersih. Didihkan air secukupnya dalam panci.
    2. Tambahkan 3 lembar daun salam, masukkan jengkol dan rebus hingga jengkol empuk.
    3. Angkat jengkol, tiriskan dan kupas. Pukul-pukul jengkol hingga agak memar.
    4. Tumis bumbu halus hingga wangi dan matang.
    5. Masukkan jengkol, aduk hingga tercampur rata dengan bumbu.
    6. Tuangkan air, tambahkan kecap manis, kayu manis, cengkeh dan daun salam.
    7. Beri kecap dan air lalu masak dengan api kecil hingga bumbu meresap dan kuah kental.
    8. Angkat dan sajikan dengan taburan bawang merah goreng.

    3. Resep Semur Daging Betawi

    semur dagingResep semur daging Betawi Foto: iStock/detikFood

    Semur daging dengan bumbu pekat yang gurih manis ini ditambah dengan telur. Kuahnya yang kental cocok dipadukan dengan sayur gurih yang pedas enak.

    Durasi Tingkat Kesulitan Porsi
    60 menit mudah 8
    Daerah Asal Masakan : Betawi
    Kategori Masakan :daging

    Bahan Bahan

    • 4 sdm minyak sayur
    • 3 cm kayu manis
    • 3 butir cengkeh
    • 2 lembar daun salam
    • 500 g daging sapi has luar atau lulur
    • 5 butir telur ayam rebus, kupas
    • 150 ml kecap manis
    • 500 ml air

    Haluskan:

    • 5 butir kemiri
    • 8 butir bawang merah
    • 5 siung bawang putih
    • 1/2 butir pala
    • 1 sdt merica bubuk
    • 2 sdt garam.

    Cara Memasak:

    1. Potong daging melintang serat 1,5 cm. Sisihkan.
    2. Tumis bumbu halus hingga wangi dan matang.
    3. Masukkan irisan daging, aduk hingga kaku dan berubah warna.
    4. Tuangi air, tambahkan kecap manis, kayu manis, cengkeh dan daun salam. Beri kecap dan air.
    5. Masak dengan api kecil hingga bumbu meresap dan daging hampir lunak.
    6. Masukkan kentang, masak kembali hingga kuah kental dan daging empuk. Angkat dan sajikan hangat.

    Nah, itulah tadi tiga resep sayur ketupat betawi yang lezat dan mudah buatnya. Selamat mencoba!

    Simak Video “Resep Kurma Cake dengan Siraman Toffee Sauce
    [Gambas:Video 20detik]
    (aau/fds)



    Sumber : food.detik.com

  • Wanti-wanti Dokter Gizi, Kesalahan Ini Bisa Bikin Gendut Usai Lebaran


    Jakarta

    Rayuan dari opor ayam dan rendang di Hari Raya Idul Fitri agaknya sulit untuk ditolak. Tidak sedikit yang termakan rayuannya dan memilih untuk los-losan mencicipi piring demi piring.

    Gurihnya kuah santan dari opor dan lembutnya daging sapi di rendang membuat seseorang kadang lupa diri. Tanpa disadari sudah habis lebih dari tiga piring dalam satu hari. Rasa takut akan berat badan naik pun datang bersamaan dengan perut yang kenyang.

    Tapi, apakah memang bisa berat badan tiba-tiba naik hanya karena los-losan makan di Hari Raya Idul Fitri yang hanya beberapa hari tersebut?


    Menjawab hal ini, spesialis gizi klinis dari Mayapada Hospital Kuningan, Jakarta Selatan, dr Oki Yonatan Oentiono, SpGK, PNS (Physician Nutrition Specialist) mengatakan bahwa ‘kalap’ saat Lebaran bisa memengaruhi berat badan seseorang.

    “Pengaruh kalau kalap. Kan makanan yang kita konsumsi itu ada beratnya, kalau dalam jumlah besar itu akan menambah ke berat badan kita, pasti itu,” kata dr Oki saat berbincang dengan detikcom, Jumat (7/3/2025).

    dr Oki menambahkan bahwa los-losan makan di Hari Raya Idul Fitri meskipun hanya beberapa hari saja, itu bisa merusak program diet selama satu bulan selama Ramadan.

    “Iya, kita ada penelitian di RSCM kira-kira selama bulan puasa seseorang bisa turun satu sampai dua kilogram. Nah, ketika respondennya dipanggil lagi dua minggu setelah puasa, itu berat badan mereka kembali lagi kayak sebelum puasa. Beberapa bahkan lebih tinggi,” katanya.

    Sebenarnya, opor ayam, rendang, atau makanan lain yang selalu ada di meja makan saat Lebaran bisa-bisa saja dinikmati tanpa takut akan berat badan naik.

    “Terutama di opor itu kan kalorinya banyak di kuah atau santannya. Jadi kuahnya jangan terlalu banyak, ayamnya dimakan nggak papa, kulitnya kalau bisa nggak dimakan,” kata dr Oki.

    “Karena kulit itu kan ada lemaknya. Terus kuahnya jangan terlalu banyak, apalagi sampai disruput. Kalau nasinya ya disesuaikan porsi biasanya lah,” tutupnya.

    (dpy/up)

    Sumber : health.detik.com

    Alhamdulillah sehat wal afiyat اللهم صل على رسول الله محمد
    image : unsplash.com / Jonas Weckschmied
  • Libur Lebaran, Apa Kabar Berat Badan?

    Jakarta

    Libur lebaran selalu diwarnai dengan berbagai sajian makan enak untuk merayakan kemenangan setelah sebulan penuh berpuasa. Biasanya, sajian yang menggugah selera sudah disiapkan.

    Meski sudah memasak makanan tersebut di rumah, seringkali keadaan memaksa kita untuk makan lagi ketika berkunjung silaturahmi ke rumah tetangga dan kerabat.

    Sehingga, naiknya berat badan sudah jadi momok tersendiri saat lebaran. Ditambah lagi, budaya silaturahmi dan liburan juga bisa membuat kita enggan untuk menginjakkan kaki ke gym atau sekedar berolahraga simpel.


    Cara Turunkan Berat Badan Setelah Lebaran:

    1. Mengonsumsi Makanan dengan Nutrisi Seimbang
    Dikutip detikFood, daripada mengurangi porsi makan atau makan hanya dua bahkan satu kali sehari, makanlah dengan jadwal seperti biasa namun dengan nutrisi yang seimbang. Makanan nutrisi seimbang adalah makanan yang mengandung protein, vitamin, karbohidrat, dan mineral.

    2. Makan Secara Perlahan
    Makanlah dengan perlahan ketika mengunyah makanan yang mengandung banyak minyak atau manis. Makan dengan perlahan dapat membantu mengenali sinyal tubuh ketika sudah kenyang dan agar tidak makan secara berlebihan.

    3. Minum Air Putih
    Selain menghindari tubuh dari dehidrasi, minum air putih merupakan salah satu cara menurunkan berat badan setelah Lebaran. minumlah dua gelas air putih setelah bangun tidur agar dapat membantu menguangi keinginan untuk makan terlalu banyak.

    Ketika meminum air putih yang cukup, maka tubuh akan terhidrasi dan pengeluaran energi saat istirahat akan meningkat dan bisa membakar kalori lebih cepat.

    4. Olahraga
    Olahraga memang sebuah kebutuhan bahkan ketika tidak sedang dalam masa penurunan berat badan sekalipun. Berolahraga dapat menjaga tubuh agar tetap bugar dan dapat membantu membakar lemak di dalam tubuh.

    Jika detikers bukan tipe orang yang gemar berolahraga, cukup rutin melakukan jogging atau sekadar berjalan-jalan pagi atau sore, bisa juga melakukan work out routine yang sederhana.

    5. Berpuasa
    Berpuasa memang sering dijadikan cara agar berat badan turun. Nah, detikers dapat melakukan puasa sunah seperti puasa Syawal atau bahkan mengqadha utang puasa di bulan Ramadan. Namun perlu diingat, harus tetap memperhatikan asupan nutrisi dan tetap berolahraga ya.

    6. Istirahat yang Cukup
    Selain menjaga pola makan dan berolahraga, istirahat yang cukup juga penting lho. Menurut situs Kemenkes, durasi istirahat yang ideal adalah selama 8 jam sehari. Selain itu juga dapat membantu memperbaiki pola tidur yang mungkin saja tidak teratur selama bulan Ramadan.

    Itulah sejumlah cara untuk melakukan menurunkan berat badan setelah Lebaran. Semoga bermanfaat ya detikres!

    Saksikan pembahasan lengkap hanya di program detikPagi edisi Jumat (04/04/2025). Nikmati terus menu sarapan informasi khas detikPagi secara langsung (live streaming) pada Senin-Jumat, pukul 08.00-11.00 WIB, di 20.detik.com, YouTube dan TikTok detikcom. Tidak hanya menyimak, detikers juga bisa berbagi ide, cerita, hingga membagikan pertanyaan lewat kolom live chat.

    “Detik Pagi, Jangan Tidur Lagi!”

    (vrs/vrs)

    Sumber : health.detik.com

    Alhamdulillah sehat wal afiyat اللهم صل على رسول الله محمد
    image : unsplash.com / Jonas Weckschmied
  • Kenapa Berat Badan Naik Pasca Lebaran? Ini Kemungkinan Penyebabnya


    Jakarta

    Setelah sukses menurunkan berat badan pasca berpuasa selama satu bulan penuh, tidak sedikit yang mengeluh berat badannya naik beberapa hari setelah Lebaran. Kok bisa ya?

    Kecenderungan berat badan naik pasca lebaran dipicu makan terlalu banyak di hari-hari sebelumnya. Penyebab berat badan naik setelah lebaran dipicu perubahan pola makan.

    “Siapa sih yang tidak mau selebrasi pada keadaan yang kemenangan, yang mutlak pada waktu kita menyelesaikan Ramadan? Ya, semua kepingin. Tapi, kita pasti akan ajarkan bagaimana caranya melakukan selebrasi dengan sehat,” ujar spesialis penyakit dalam dari Mayapada Hospital, dr Roy Panusunan Sibarani, SpPD-KEMD, FES saat berbincang dengan detikcom, Kamis (20/3/2025).


    Menjadikan Lebaran sebagai ajang ‘balas dendam’ juga bisa memicu kenaikan berat badan ini. Belum lagi sudah tidak ada batasan waktu makan, seperti saat berpuasa, yang membuat seseorang kalap makan.

    Makanan yang disajikan saat lebaran cenderung bersantan dan manis yang bisa memicu penumpukan lemak di dalam tubuh. Oleh karena itu tetap dianjurkan berolahraga di sela-sela waktu Lebaran.

    “We have responsibities to whatever we do. Jadi kalau kita memang mau makan banyak, kita mau selebrasi, kita mau pesta, kita mau senang-senang, harus ada bayarannya. Apa itu? Gerakan tubuh,” ucap dia.

    (kna/kna)

    Sumber : health.detik.com

    Alhamdulillah sehat wal afiyat اللهم صل على رسول الله محمد
    image : unsplash.com / Jonas Weckschmied
  • 5 Alasan Pengeluaran di Bulan Puasa Justru Membludak

    Jakarta

    Umat muslim yang berpuasa sebulan penuh Ramadhan menahan makan dan minum dari waktu fajar hingga matahari terbenam saat azan Maghrib. Waktu makan yang berkurang seharusnya membuat pengeluaran juga menurun.

    Namun fakta berbicara sebaliknya. Hasil kajian Febriyanto dkk (2019) memperlihatkan konsumsi rumah tangga justru meningkat selama bulan puasa, antara 10-30% hingga 100-150%. Kira-kira mengapa pengeluaran di bulan puasa malah membludak?

    Alasan Pengeluaran di Bulan Puasa Justru Bertambah

    Kebiasan lebih konsumtif hingga inflasi menjadi alasan mengapa pengeluaran di bulan Ramadhan justru makin boros dan bukannya menurun. Mengutip pemberitaan detikcom, berikut penjelasannya:


    1. Kalap saat Membeli Makanan

    Saat berpuasa di siang hari tak sedikit yang membayangkan ingin menyantap sejumlah makanan dan minuman untuk berbuka nanti. Setelah dibeli dan berbuka puasa, makanan yang dibeli ternyata lebih dari yang dibutuhkan karena kita sudah kenyang. Akhirnya, sisa makanan tidak termakan atau malah dibuang.

    Jika dihitung harian, nilai uangnya mungkin tidak seberapa. Namun jika hal tersebut terjadi setiap hari, total hitungan uang yang dikeluarkan ternyata besar juga. Padahal, sejumlah uang tersebut bisa digunakan untuk pengeluaran yang lain. Jadi, penting menghindari untuk beli hidangan buka puasa yang berlebihan.

    2. Acara Buka Bersama di Luar

    Tradisi buka bersama alias bukber pasti banyak diadakan selama bulan puasa. Bukber dengan teman sekolah hingga rekan kantor menjadi ajang silaturahmi sekaligus reuni.

    Acara bukber dilakukan di suatu tempat dan biasanya membutuhkan biaya untuk konsumsi buka puasa, sering kali biayanya patungan. Belum lagi perlu mengeluarkan biaya transportasi untuk menuju lokasi.

    Dengan banyaknya agenda bukber, pengeluaran pasti akan membengkak. Solusinya, detikers mungkin bisa mengusulkan tempat yang tidak terlalu mahal jika acaranya direncanakan bersama.

    3. Belanja Pakaian Baru

    Kebiasaan menggunakan pakaian baru saat Lebaran juga membuat pengeluaran meroket. Apalagi di bulan Ramadhan banyak sekali diskon dan penawaran lainnya yang diberikan toko-toko. Hal inilah yang membuat tergiur untuk beli pakaian meski tidak terlalu dibutuhkan.

    Karena itu, ada baiknya tidak membeli pakaian baru untuk Idul Fitri jika memiliki baju lama yang masih bagus.

    4. Tradisi Mudik

    Mudik alias pulang kampung termasuk tradisi lain yang paling ditunggu saat bulan puasa hingga momen Lebaran. Pergi ke rumah famili yang paling dituakan, berkumpul bersama sanak saudara, hingga membagikan amplop Lebaran.

    Pulang kampung tentunya membutuhkan pengeluaran yang tidak sedikit. Mulai dari biaya transportasi, kebutuhan selama di kampung, hingga amplop Lebaran. Oleh karena itulah, pengeluaran justru bertambah.

    5. Inflasi

    Mengutip situs BPS Sumatera Selatan, inflasi terjadi hampir setiap tahun menjelang bulan Ramadhan. Harga kebutuhan pokok merangkak naik karena meningkatnya permintaan barang oleh masyarakat. Hal ini juga yang membuat pengeluaran di bulan puasa lebih boros dibanding bulan-bulan lainnya.

    (azn/row)



    Sumber : finance.detik.com

  • Tips Kelola Duit THR Biar Nggak Menguap Begitu Saja


    Jakarta

    Para pekerja akan menerima tunjangan hari raya (THR) keagamaan sebesar satu bulan upah sesuai ketentuan pemerintah. THR tersebut cair paling lambat H-7 Lebaran sesuai perintah Presiden Prabowo Subianto.

    Nah setelah nanti mengantongi THR, dana yang diperoleh bukan untuk dihamburkan untuk sesuatu yang tidak prioritas. Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) memberikan tiga tips agar uang THR tidak menguap begitu saja.

    1. Jangan Langsung Belanja

    Hal pertama yang harus dilakukan adalah menghindari foya-foya dan langsung membelanjakan uang THR. Langsung kalap dan ingin segera berbelanja hanya akan membuat uang THR habis dengan cepat.


    “STOP! Jangan langsung foya-foya. THR datang tangan gatal langsung check out di marketplace? Santai dulu! Tunggu 2-3 hari sebelum belanja biar nggak kalap. Jangan sampai THR Rekanaker malah menghilang lebih cepat dari gebetan yang ghosting,” tulis Kemnaker di Instagramnya @kemnaker, Selasa (18/3/2025).

    Pekerja disarankan untuk menyimpan dulu uang THR selama 48 jam sebelum beli barang yang tidak terlalu mendesak. Disarankan juga untuk membuat wishlist, lalu urutkan barang-barang apa yang benar-benar perlu dibeli.
    % buat tabungan atau investasi kecil. Kalau nggak sekarang, kapan lagi? 30% tabungan darurat, 10% investasi ringan,” jelas Kemnaker.

    2. Atur Alokasi Prioritas

    Memprioritaskan kebutuhan dibanding keinginan juga perlu dilakukan pekerja. Jika sudah memegang THR, pekerja disarankan untuk mengurutkan prioritas penggunaan THR mulai dari bayar utang hingga kewajiban zakat.

    “Beli kebutuhan dulu, keinginan belakangan! THR itu bukan uang sulap, sekali swap langsung hilang! Biar nggak rugi urutin prioritas belanja,” tulis Kemnaker. Berikut rincian urutan penggunaaan THR yang disarankan Kemnaker:

    – Bayar utang
    – Kebutuhan lebaran seperti zakat, sedekah, keluarga
    – Sisihkan buat tabungan dan investasi
    – Baru deh treat yourself, tapi jangan kalap!

    “Kalau sudah habis duluan buat barang-barang impulsif, siap-siap lebaran makan mie instan!” tutur Kemnaker

    3. Sisihkan Buat Tabungan dan Investasi Kecil-kecilan

    Uang THR sebenarnya bisa menjadi penyelamat jika pengelolaannya dilakukan dengan benar. Pekerja dapat melakukan beberapa tips seperti menyisihkan sebagian dari uang THR untuk investasi atau mengalokasikannya untuk tabungan darurat.

    Masa depan butuh jaminan bukan cuma kenangan. Gaji habis buat keperluan sehari-hari? THR bisa jadi penyelamat! Coba sisihkan 30-40

    (ily/hns)



    Sumber : finance.detik.com

  • Berapa Angpau Lebaran untuk Keponakan dan Tetangga?

    Jakarta

    Angpau Lebaran adalah sebutan untuk sejumlah uang yang diberikan pada saudara dan kerabat saat Idul Fitri. Tradisi angpau Lebaran biasa diterapkan pada anak-anak atau remaja yang belum bekerja.

    Besaran angpau Lebaran biasanya bergantung pada kebijakan pemberi uang. Namun, pemberi biasanya ingin angpau Lebaran diberikan dalam jumlah yang tidak terlalu besar atau kecil.

    Berapa Angpau Lebaran untuk Keponakan dan Tetangga?

    Besarnya uang angpau bergantung pada beberapa faktor, misal usia kedekatan dengan pemberi. Semakin dekat keponakan dan tetangga pada pemberi, biasanya angpau makin besar.


    • Keponakan jauh: Rp 25 ribu hingga Rp 50 ribu.
    • Keponakan dekat: Rp 50 ribu hingga Rp 100 ribu.
    • Tetangga: Rp 2 ribu hingga Rp 20 ribu.

    Tentunya jumlah ini bisa disesuaikan dengan kemampuan finansial pemberi serta jumlah tetangga dan keponakan yang hendak diberi angpau. Jangan sampai tradisi angpau memberatkan pihak yang ingin memberi uang Lebaran.

    Tips Membagi Angpau Lebaran

    Bagi detikers yang masih bingung soal jumlah angpau Lebaran, tips dari penjelasan Perencana Keuangan dari Tatadana Consulting, Tejasari Asad, dan Perencana keuangan Andy Nugroho ini mungkin bisa membantu.

    1. Jumlah Terbesar untuk Orang Tua

    Pemberian kepada orang tua bisa dalam bentuk apa saja, salah satunya adalah uang. Jika memberikan uang untuk orang tua, tentu jumlahnya paling besar. Baru setelahnya bisa dibagi untuk keponakan dan lain-lain.

    “Pertama kita biasanya kasih orang tua, nah itu biasanya yang paling gede. Terus yang kedua siapa nih? misalnya kakak-adik sudah pada kerja ngapain dikasih? jadi kasih ke yang belum kerja, biasanya keponakan sih. Atau misalnya punya adik yang masih kecil belum kerja, mau dikasih boleh. Jadi berdasarkan level keluarga aja,” kata Teja berdasarkan catatan detikcom.

    2. Sesuaikan Kebiasaan di Kampung

    Soal nominal, sebetulnya tidak ada aturan yang mengikat. Hal ini bisa disesuaikan dengan kebiasaan di kampung. Sebab kebiasaan di kota besar bisa berbeda dengan di desa.

    “Misalnya kasih keponakan Rp 50 ribu pantes nggak? Tapi ternyata di kalau di kampung kasih Rp 5 ribu sudah cukup, kasih Rp 20 ribu sudah cukup, gimana tuh? Jadi tergantung situasi,” terang Teja.

    3. Beri Berdasarkan Usia dan Kedekatan

    Selanjutnya, detikers bisa memberikan angpau berdasarkan usia, misalnya dibedakan sesuai jenjang sekolah. Selain itu, juga dibedakan berdasarkan kedekatan, misalnya paling besar untuk anak sendiri, kemudian keponakan, sedangkan anak tetangga paling sedikit.

    “Itu juga kadang ada yang serba salah tuh, ada yang masih TK, SD, SMP, SMA. Kalau TK dikasih Rp 1.000 dua puluh biji (Rp 20 ribu) seneng tuh, kalau SMA dikasih Rp 1.000 dua puluh biji marah-marah nanti,” tambahnya.

    4. Sesuaikan Budget

    Terakhir dan terpenting adalah detikers harus menyesuaikan dengan budget. Angpau ini biasanya diberikan dari uang THR pemberi yang hendak dihabiskan atau diambil sebagian.

    Disarankan agar jumlah pemberian tidak berdasarkan gengsi. Hal ini justru bisa melebihi anggaran, bahkan malah harus berutang untuk menutup kekurangan tersebut.

    (bai/row)



    Sumber : finance.detik.com

  • Berapa Besar Angpau Lebaran yang Perlu Diberikan? Begini Hitungannya


    Jakarta

    Memberi angpau atau amplop berisi uang saat Lebaran jadi satu tradisi masyarakat Indonesia. Hal ini dilakukan sebagai bentuk berbagi kebahagiaan dengan sesama. Biasanya, uang angpau ini diambil dari hasil tunjangan hari raya (THR).

    Namun tidak sedikit orang mungkin merasa bingung terkait seberapa besar uang yang perlu diberikan dalam angpau Lebaran itu. Sebab jika tidak diperhitungkan dengan baik, keinginan untuk berbagi angpau ini malah bisa jadi pengeluaran berlebih dan bikin kantong kering.

    Perencana Keuangan dari Tatadana Consulting, Tejasari Asad, menyarankan kepada yang ingin membagikan angpau untuk membuat daftar penerima. Misalkan saja untuk orang tua, anak, saudara, hingga keponakan.


    “Pertama kita biasanya kasih orang tua, nah itu biasanya yang paling gede. Terus yang kedua siapa nih? misalnya kakak-adik sudah pada kerja ngapain dikasih? jadi kasih ke yang belum kerja, biasanya keponakan sih. Atau misalnya punya adik yang masih kecil belum kerja, mau dikasih boleh. Jadi berdasarkan level keluarga aja,” kata Teja kepada detikcom, ditulis Rabu (27/3/2024).

    Setelah menentukan siapa saja yang akan diberi angpau, detikers bisa mengalokasikan nilai anggaran yang dimiliki. Pemberian angpao Lebaran bisa disesuaikan dari jumlah THR yang diterima.

    “Pertama adalah menyesuaikan dengan budget kita. Misalnya kita kasih budget ‘oke saya mau kasih THR Lebaran buat saudara-saudara misalnya Rp 1 juta deh semuanya. Karena saya dapat THR Rp 3 juta, masa semua dibagi-bagikan?’ Nanti habis dong,” jelas Teja.

    “Bisa juga dibudegtin maksimal berapa nih? 20% kah dari THR kah, 30% kah. Misalnya oke 20%, anggap saja Rp 1 juta, ya dibagi-bagi lah jumlah keponakan ada berapa, saudara ada berapa, siapa saja yang mau dikasih,” tambahnya lagi.

    Untuk nilai uang yang dibagikan sendiri, Teja tidak bisa menetapkan besaran pasti. Sebab menurutnya setiap individu memiliki perhitungannya masing-masing seperti tingkat ekonomi keluarga, usia, hingga wilayah tempat tinggal.

    “Misalnya kasih keponakan Rp 50 ribu pantes nggak? Tapi ternyata di kalau di kampung kasih Rp 5 ribu sudah cukup, kasih Rp 20 ribu sudah cukup, gimana tuh? Jadi tergantung situasi,” terang Teja.

    “Itu juga kadang ada yang serba salah tuh, ada yang masih TK, SD, SMP, SMA. Kalau TK dikasih Rp 1.000 dua puluh biji (Rp 20 ribu) seneng tuh, kalau SMA dikasih Rp 1.000 dua puluh biji marah-marah nanti,” tambahnya.

    Senada dengan Teja, perencana keuangan Andy Nugroho juga menyarankan untuk menentukan penerima angpau dan estimasi nilainya. Biasanya besaran angpau Lebaran yang diberikan, berbeda-beda tergantung tingkatan dalam keluarga.

    “Nah urutannya paling banyak saya akan kasih ke siapa? ke orang tua pertama, terus kemudian habis itu level berikutnya yang lebih kecil jumlahnya tuh saya kasihkan ke misalnya anak atau ke anaknya saudara-saudara saya,” kata Andy.

    Andy sendiri juga tidak bisa menentukan nominal angpau pasti yang ‘layak’ untuk dibagi-bagikan, karena kondisi orang berbeda-beda. Namun menurutnya yang terpenting saat menentukan besaran angpau tersebut harus disesuaikan dengan kemampuan dan budget, bukan demi mengejar gengsi.

    “Kadang misalnya kita pemudik, apalagi dari Jakarta kan ‘wah pasti tajir nih, orang kaya, sudah sukses’ nah kadang ditodong untuk ngasih angpau lebih besar,” katanya.

    “Sebenarnya pun kalau kita bersikukuh ‘ya saya ngasihnya segini’, masa iya yang dikasih terus nego nggak mau Rp 20 ribu dong, maunya Rp 50 ribu misalnya,” tambahnya lagi.

    Simak juga Video ‘Sanksi Bagi Perusahaan yang Tak Bayar THR: Teguran-Pembatasan Usaha’:

    [Gambas:Video 20detik]

    (fdl/fdl)



    Sumber : finance.detik.com

  • Stop Kalap! Segini Batas Makan Kue Lebaran biar Badan Nggak ‘Lebar-an’


    Jakarta

    Nastar, kastengel, putri salju dan kue kering lainnya biasa disajikan saat Lebaran. Meski menggoda, kamu harus bisa menahan diri supaya nggak makan terlalu banyak.

    Kue kering sajian khas Lebaran tinggi kalori namun minim asupan nutrisi. Terlalu banyak makan nastar bisa bikin badan malah lebar-an pasca Lebaran.

    “Kastengel itu kan 21 kkal, nastar itu sekitar 60 kkal. Memangnya kenapa kalau makan nastar satu atau dua? Kan boleh aja. Yang nggak boleh itu kan kalau makannya itu banyak,” kata spesialis penyakit dalam dari Mayapada Hospital, dr Roy Panusunan Sibarani, SpPD-KEMD saat berbincang dengan detikcom, Kamis (20/3/2025).


    Pengidap penyakit diabetes juga boleh-boleh saja kok makan kue Lebaran. Namun kata dr Roy, penting untuk mengedepankan porsi makan seimbang. Jangan tiba-tiba makan nastar satu toples sebagai ajang balas dendam usai berpuasa sebulan penuh.

    Penting juga selama Lebaran untuk tetap mengonsumsi asupan kaya nutrisi seperti sayur dan buah-buahan. Jangan lupa juga minum air putih yang cukup, serta berolahraga.

    “Makan nastar kebanyakan kan juga nggak enak. Saya kira kita tidak perlu terlalu nastarfobia atau kastengelfobia,” tandas dr Roy.

    BACA JUGA

    (kna/up)



    Sumber : health.detik.com

  • Saran Dokter Gizi agar Body Nggak ‘Lebaran’ di Momen Lebaran


    Jakarta

    Lebaran identik dengan beragam hidangan lezat. Meskipun mengandung gula, lemak, dan garam tinggi, ahli gizi menegaskan bahwa tetap menikmati makanan enak saat hari raya tidak akan merusak diet bagi yang menjalankannya.

    “Sebenarnya, tidak ada satu yang membuat diet menjadi lebih baik atau yang merusak. Jadi gini, mindset-nya diet itukan bukan berarti nggak makan, diet itukan artinya justru pengaturan pola makan,” ungkap spesialis gizi klinik, dr Diana F Suganda, SpGK, M.Kes saat dihubungi detikcom.

    Saat Lebaran, wajar untuk menikmati makanan khas seperti ketupat, opor, kue kering, dan hidangan lainnya. Namun, penting untuk tetap mindful. Artinya, perlu sepenuhnya menyadari makanan yang akan dikonsumsi oleh tubuh.


    “Tetep mindful itu bukan berarti ‘cheating’, kalau cheating kayanya mindsetnya oh bisa bebas nih makan apa aja dan seberapa banyak, banyak-banyak terserah, mungkin makannya apa aja minumnya apa aja, nah nggak bisa,” jelas dr Diana.

    “Nah tetep mindful artinya apa, oke kita tahu sebenarnya seberapa banyak sih yang diperlukan oleh tubuh,” imbuhnya.

    “Tadi kalau misalnya makanan tinggi santan segala macem ya mindful aja, makan sesuai dengan porsi yang tadi tapi ngerasa cukup, ya udah kalau udah siang tadi makan santan dengan ketupat dan sebagainya, ya kalau bisa malem ya bening-bening,” pungkasnya.

    Penting untuk tetap menjaga pola makan dan hindari konsumsi makanan lebaran secara berlebihan. Selain itu juga harus mindful atau memiliki kesadaran penuh terhadap makanan yang akan dikonsumsi oleh tubuh.

    (up/up)



    Sumber : health.detik.com