Tag: likuiditas

  • Mengenal Makers dan Takers dalam Dunia Trading

    Dalam perdagangan aset kripto sering terdengar istilah Maker dan Taker. Istilah Maker mengacu pada seseorang yang melakukan jual-beli aset kripto secara tidak langsung dengan menggunakan metode “Limit Order”. Hal ini menciptakan likuiditas, dimana seseorang akan lebih mudah membeli atau menjual aset kripto miliknya ketika syarat sudah terpenuhi. Seseorang yang membeli atau menjual aset kripto dengan instan disebut sebagai Taker. Dengan kata lain, Taker telah memenuhi “Limit Order” yang ditentukan oleh Maker.

    Di segala jenis perdagangan baik forex, saham maupun aset kripto, penjual selalu dicocokkan dengan pembeli. Tanpa hal ini, seorang trader perlu mengiklankan penawarannya agar ada yang tertarik untuk membeli. 

    Artikel ini akan mengajak kita untuk membahas tentang konsep Maker dan taker yang adalah sumber kehidupan banyak platform perdagangan. 

    Mengenal Likuiditas

    Ketika mendengar seseorang membahas tentang “aset itu likuid” atau “aset itu tidak likuid”, ini berbicara tentang betapa mudahnya aset tersebut dapat dijual. 

    Emas adalah aset yang likuid karena dapat dengan mudah diperdagangkan dengan uang tunai dalam waktu yang singkat. 

    Sedikit mirip namun berbeda dengan likuiditas pasar, dimana pasar likuid adalah tempat dimana trader dapat menjual dan membeli aset dengan mudah dan dengan nilai yang wajar. Dalam pasar likuid terdapat demand yang tinggi dari mereka yang ingin memperoleh sebuah aset dan supply yang juga tinggi dari mereka yang ingin melepasnya. Aktivitas ini membuat pembeli dan penjual akan bertemu di titik tengah, dimana harga jual rendah tidak akan cenderung sama dengan harga beli yang tinggi. Hal ini mengakibatkan perbedaan antara tawaran tertinggi dan tawaran terendah akan menjadi kecil. Perbedaan ini disebut dengan bid-ask spread.

    Sebaliknya, dalam pasar yang tidak likuid, masyarakat cenderung kesulitan menjual aset dengan harga yang wajar karena permintaannya tidak terlalu banyak. Akibatnya, pasar yang tidak likuid memiliki bid-ask spread yang tinggi. 

    Market Makers 

    Perdagangan yang terjadi sering kali menghitung nilai pasar suatu aset dengan buku pesanan. Disinilah tempat berkumpulnya semua penawaran dari pembeli maupun penjual. Seorang maker dapat membuat pesanan dalam order book. Pesanan tersebut kemudian akan diisi ketika harga telah sesuai dengan permintaan yang telah dimasukkan ke dalam order book. 

    Contoh: seorang maker mengisi order book, “beli 600 BTC saat harga telah mencapai $4000”, maka pesanan tersebut akan terisi ketika harga BTC telah ada di titik $4000.

    Market Takers

    Menempatkan penawaran pada order book adalah sebuah langkah untuk meningkatkan likuiditas suatu bursa karena kita telah mempermudah pengguna untuk membeli maupun menjual aset mereka. Seseorang dapat membeli atau menjual aset dengan harga yang tertera pada order book baik limit order maupun market order. 

    Maker and Taker Fees

    Setiap kali seseorang membuat dan mengambil pesanan tentunya ada sejumlah biaya yang harus dibayarkan. Masing-masing bursa perdagangan memiliki jumlah biaya yang berbeda-beda tergantung kebijakannya, dan juga dapat bervariasi tergantung dari ukuran dan peran perdagangan. 

    Dalam Bulan Trading Nasional ini, Tokocrypto juga menghadirkan beberapa promo yang dapat dinikmati, salah satunya adalah 0% biaya maker untuk trading semua pairing BIDR dan 0% biaya transfer aset kripto untuk semua jaringan ke sesama akun Tokocrypto dan Binance. 

    Selengkapnya dapat dibaca disini



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Menghadapi Masalah Likuiditas Kripto? Ini Solusi yang Anda Cari!

    Likuiditas kripto adalah istilah yang menggambarkan seberapa mudah seseorang bisa membeli atau menjual aset kripto tanpa mengubah harganya secara drastis.

    Bayangkan jika kamu punya cokelat yang sedang trend dan ingin menjualnya. Jika banyak temanmu yang mau membelinya, kamu bisa menjualnya dengan cepat tanpa harus menurunkan harga.

    Hal ini seperti aset kripto yang likuid, di mana banyak orang tertarik membeli dan menjual aset kripto, jadi harganya tetap stabil. Namun, jika sedikit sekali yang tertarik, kamu mungkin perlu menurunkan harga atau menunggu lebih lama agar ada yang mau membeli—inilah yang disebut likuiditas rendah.

    Inilah alasan mengapa likuiditas kripto merupakan faktor penting yang harus diketahui oleh investor kripto sebelum melakukan investasi/trading kripto.

    Menghadapi Tantangan Likuiditas Kripto

    Bagi banyak investor kripto, masalah umum yang sering ditemui adalah sulitnya menemukan likuiditas yang cukup untuk melakukan transaksi dengan lancar. Hal ini terutama terjadi pada koin-koin yang belum populer.

    Likuiditas rendah mengakibatkan penundaan transaksi, biaya lebih tinggi, dan peluang yang terlewatkan, menyebabkan frustrasi dan kerugian finansial.

    Saat pasar bergerak cepat, ketidakmampuan untuk bertindak cepat akibat kendala likuiditas bisa menjadi kerugian serius.

    Bayangkan Anda ingin mencairkan atau menginvestasikan kembali dana, tetapi aset Anda terkunci. Hal ini memaksa Anda untuk menunggu atau menerima harga yang tidak menguntungkan.

    Kurangnya akses instan ini dapat menjadi pembeda antara perdagangan yang menguntungkan dan kesempatan yang hilang, karena harga berfluktuasi dengan cepat.

    Bagaimana Kalau Masalah Likuiditas Kripto Sudah Tidak Ada Lagi?

    Sekarang, bayangkan sebuah dunia di mana Anda dapat mengakses dana kapan pun Anda membutuhkannya, berdagang dengan lancar, dan menikmati pengurangan biaya transaksi berkat peningkatan likuiditas.

    Dengan protokol likuiditas yang tepat, Anda bisa membuka potensi investasi Anda dan memastikan bahwa aset Anda mudah diakses saat dibutuhkan.

    Tidak ada lagi menunggu proses perdagangan atau dipaksa ke perdagangan dengan harganya tinggi.

    Solusi likuiditas ini memungkinkan Anda untuk mengendalikan portofolio Anda, menyesuaikan posisi sesuai kondisi pasar, dan memiliki ketenangan pikiran, karena Anda tidak lagi terhambat oleh masalah likuiditas pasar.

    Bagaimana Anda Bisa Mencapai Likuiditas yang Lancar?

    Likuiditas yang lancar ini memungkinkan dengan protokol likuiditas yang dirancang khusus untuk meningkatkan proses likuiditas. Caranya adalah dengan berpartisipasi dalam liquidity pool.

    Di liquidity pool investor bisa mengakses cadangan aset yang luas. Hal ini tentunya memungkinkan transaksi lebih lancar dan akses dana lebih cepat.

    Protokol likuiditas ini mencocokkan pembeli dan penjual dengan lebih efisien, sehingga memudahkan perdagangan aset tanpa penundaan atau harga yang tidak menguntungkan.

    Menggunakan protokol likuiditas tidak hanya menguntungkan investor individu, tetapi juga menstabilkan pasar secara lebih luas dengan mengurangi volatilitas dalam ketersediaan transaksi.

    Apakah Anda memperdagangkan Bitcoin, Ethereum, atau aset alternatif?

    Protokol likuiditas dapat memperlancar perjalanan investasi Anda dan membantu Anda meraih kesuksesan yang lebih besar.

    Contoh Protokol Likuiditas Kripto

    1. Cetus Protocol
      Cetus adalah protokol likuiditas yang dibangun di jaringan blockchain SUI dan APTOS. Cetus terkenal dengan pendekatannya yang inovatif dalam memastikan likuiditas di decentralized finance (DeFi). Dengan teknologi automated market maker (AMM), Cetus menyediakan likuiditas tanpa hambatan bagi para pedagang.
    2. Pendekatannya meminimalkan slippage, menawarkan biaya kompetitif, dan memudahkan pengguna untuk menukar aset dengan efisien. Protokol ini sangat cocok untuk investor baru dan pedagang berpengalaman yang ingin mengoptimalkan akses likuiditas mereka. Cek harga Cetus di sini.
    3. Uniswap
      Sebagai salah satu decentralized exchange (DEX) paling populer, Uniswap memungkinkan pengguna untuk memperdagangkan token ERC-20 tanpa perlu otoritas terpusat. Uniswap menggunakan teknologi AMM untuk mempertahankan liquidity pool yang didanai oleh pengguna, menyediakan sumber likuiditas yang andal untuk berbagai aset. Protokol ini telah terbukti menjadi pilihan solid bagi siapa saja yang ingin mengelola likuiditas dengan fleksibilitas lebih besar.
    4. PancakeSwap
      Dikenal dengan likuiditasnya di Binance Smart Chain, PancakeSwap adalah pilihan utama bagi investor yang mencari transaksi dengan biaya rendah. Seperti Uniswap, PancakeSwap beroperasi dengan sistem AMM, tetapi keuntungan dari biaya transaksi yang lebih rendah karena berada dalam ekosistem Binance. Pool likuiditasnya yang dalam menjadikannya pilihan yang tepat bagi mereka yang tertarik pada beragam token, dari aset populer hingga proyek baru.

    Jalan Menuju Likuiditas yang Lebih Baik

    Jika Anda lelah menghadapi masalah likuiditas yang memperlambat perdagangan dan membatasi opsi Anda, pertimbangkan untuk menggunakan protokol likuiditas untuk meningkatkan pengalaman kripto Anda.

    Dengan memilih solusi yang andal seperti Cetus, Uniswap, atau PancakeSwap, Anda dapat mengakses likuiditas yang lebih dalam, mengurangi keterlambatan transaksi, dan memperbaiki hasil investasi Anda secara keseluruhan.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Apa Itu Likuiditas dan Mengapa Penting?

    Likuiditas adalah ukuran seberapa mudah sebuah aset bisa diubah menjadi uang tunai atau aset lain tanpa mempengaruhi harganya secara signifikan. Semakin likuid suatu aset, semakin cepat dan mudah proses pembelian atau penjualannya. Sebaliknya, aset yang tidak likuid lebih sulit diperdagangkan dan mungkin memerlukan lebih banyak waktu dan usaha untuk dijual atau dikonversi menjadi uang tunai.

    Definisi Likuiditas

    Likuiditas mengacu pada kemampuan untuk membeli atau menjual suatu aset dengan cepat tanpa mengubah harga pasar secara signifikan. Misalnya, emas batangan lebih likuid dibandingkan dengan buku koleksi langka, karena emas lebih mudah dijual dengan cepat di pasar yang lebih besar. Likuiditas tinggi memungkinkan akses cepat ke uang tunai dan meminimalkan risiko fluktuasi harga saat melakukan transaksi.

    Pentingnya Likuiditas

    Likuiditas penting karena memungkinkan transaksi berjalan lancar, membantu penentuan harga yang adil, dan menjaga stabilitas pasar. Pasar yang likuid memungkinkan aset dibeli dan dijual dengan mudah, meminimalkan dampak besar pada harga. Bagi bisnis, likuiditas yang cukup sangat penting untuk memenuhi kewajiban seperti membayar gaji dan tagihan.

    Mengapa Likuiditas Penting?

    1. Transaksi Lancar: Likuiditas memastikan pasar keuangan beroperasi dengan baik, memungkinkan aset seperti saham dan obligasi dikonversi menjadi uang tunai dengan cepat.
    2. Penentuan Harga yang Adil: Likuiditas membantu dalam penemuan harga yang wajar dengan memungkinkan aliran perdagangan dan informasi yang konstan.
    3. Stabilitas Pasar: Likuiditas tinggi mengurangi dampak transaksi besar terhadap harga, menjaga stabilitas pasar.
    4. Fleksibilitas Investor: Aset yang likuid memberikan kebebasan kepada investor untuk merespons perubahan peluang investasi atau kebutuhan finansial yang mendesak.

    Likuiditas dalam Kripto

    Di pasar kripto, likuiditas mengacu pada seberapa mudah koin atau token dapat dibeli atau dijual tanpa menyebabkan perubahan harga yang besar. Misalnya, Bitcoin dan Ethereum, yang memiliki volume perdagangan tinggi, cenderung lebih likuid. Hal ini memudahkan pembelian atau penjualan tanpa mempengaruhi harga secara signifikan.

    Kumpulan Likuiditas

    Kumpulan likuiditas adalah kumpulan aset yang disumbangkan oleh pengguna untuk mendukung perdagangan di bursa terdesentralisasi (DEX). Pengguna yang menyumbangkan aset ke kumpulan ini disebut penyedia likuiditas (LP). Mereka mendapatkan bagian dari biaya transaksi sebagai imbalan atas kontribusi mereka, membantu menjaga likuiditas di pasar.

    Likuiditas dalam Saham

    Likuiditas saham mengukur seberapa mudah saham bisa dibeli atau dijual di pasar tanpa mempengaruhi harganya. Saham dengan likuiditas tinggi memungkinkan transaksi dilakukan dengan cepat dan efisien, dengan sedikit risiko fluktuasi harga yang signifikan.

    Contoh Aset dengan Likuiditas Tinggi dan Rendah

    • Likuiditas Rendah: Properti, mobil, seni, barang koleksi, dan ekuitas swasta.
    • Likuiditas Tinggi: Saham perusahaan publik, uang tunai, dan mata uang kripto dengan kapitalisasi pasar tinggi seperti Bitcoin.

    Risiko Likuiditas

    Risiko likuiditas terjadi ketika suatu aset sulit dijual dengan cepat atau pada harga yang wajar karena kurangnya permintaan pasar. Risiko ini dapat menyebabkan kerugian atau penundaan dalam pencairan aset menjadi uang tunai.

    Penutup

    Likuiditas sangat penting dalam dunia keuangan karena memungkinkan investor untuk membeli dan menjual aset dengan mudah, menilai harga secara adil, dan menjaga stabilitas pasar. Memahami konsep likuiditas membantu investor membuat keputusan yang lebih tepat dan mengelola kebutuhan finansial dengan lebih baik.


    Jika kamu ingin mengetahui lebih dalam mengenai aset kripto atau cryptocurrency, bisa baca artikel “Belajar Crypto untuk Pemula Mulai Dari Sini.”

    Sumber: Binance Academy



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Lonjakan Likuidasi Aset Kripto Sebesar $604 Juta Mengejutkan Pasar!

    Menurut data Coinglass, pada 8 Januari 2025 pasar kripto dikejutkan dengan likuidasi besar-besaran senilai $604,09 juta dalam 24 jam terakhir.

    Lebih dari 191.921 trader mengalami kerugian akibat posisi trading mereka otomatis ditutup. Likuidasi terbesar terjadi pada pasangan ETH/USDT di Binance dengan nilai fantastis $17,74 juta.

    Likuidasi Pasar Kripto Hari Ini

    Data likuidasi di pasar kripto tanggal 8 Januari 2025. Sumber dari Coinglass
    Data likuidasi di pasar kripto tanggal 8 Januari 2025. Sumber dari Coinglass

    Berdasarkan grafik likuidasi di pasar kripto, terlihat bahwa pada tanggal 7 Januari terdapat lonjakan likuidasi yang cukup besar dibandingkan hari-hari sebelumnya.

    Likuidasi ini mencakup posisi “long” (warna hijau) dan “short” (warna merah), yang menunjukkan bahwa banyak trader mengalami kerugian karena harga aset bergerak tajam ke arah yang berlawanan dari prediksi mereka.

    Hal ini mengindikasikan adanya volatilitas pasar yang tinggi, di mana harga aset mengalami perubahan signifikan dalam waktu singkat.

    Apa Penyebab Likuidasi Besar Ini?

    Lonjakan likuidasi ini terjadi karena volatilitas harga yang tinggi. Banyak trader membuka posisi “long” dengan harapan harga akan naik, tetapi kenyataannya justru sebaliknya. Ketika harga bergerak turun tajam, posisi mereka dipaksa tutup karena tidak lagi memenuhi margin yang diperlukan.

    Mari lihat data berikut:

    Data likuidasi aset kripto berdasarkan exchange tanggal 8 Januari 2025. Sumber Coinglass
    Data likuidasi aset kripto berdasarkan exchange tanggal 8 Januari 2025. Sumber Coinglass

    Pada tanggal 7 Januari 2025 pukul 19:00, data menunjukkan total likuidasi sebesar $403,832 juta untuk posisi “long” dan $40,85 juta untuk posisi “short.”

    Data ini menunjukkan bahwa banyak trader yang membuka posisi “long” dengan ekspektasi harga naik mengalami likuidasi akibat pergerakan pasar yang tidak sesuai prediksi mereka.

    Fenomena ini mencerminkan tingginya penggunaan pinjaman (leverage) dalam trading kripto, yang dapat meningkatkan risiko likuidasi secara signifikan, terutama di platform dengan volume tinggi seperti Binance dan Bitfinex.

    Hal ini menjadi pengingat bahwa volatilitas pasar kripto memerlukan kehati-hatian ekstra, terutama saat menggunakan leverage besar.

    Apakah Ini Likuidasi Terbesar Sepanjang Masa?

    Meskipun angka $604,09 juta merupakan jumlah yang sangat besar, likuidasi ini bukan yang terbesar sepanjang masa di pasar kripto.

    Pada masa-masa volatilitas tinggi sebelumnya, seperti di tahun 2021 saat harga Bitcoin mengalami koreksi tajam, likuidasi pernah mencapai lebih dari $1 miliar dalam sehari.

    Namun, likuidasi kali ini tetap signifikan dan menjadi salah satu yang terbesar dalam beberapa bulan terakhir.

    Apakah Hal Ini Baik atau Buruk Bagi Trader?

    Likuidasi sebesar ini bisa dilihat sebagai hal yang buruk, terutama bagi trader yang mengalami kerugian besar.

    Ini mencerminkan ketidaksiapan atau kurangnya manajemen risiko dari sebagian trader.

    Namun, bagi pasar secara keseluruhan, likuidasi besar bisa memberikan dampak positif jangka panjang.

    Mengapa?

    Likuidasi membantu mengurangi posisi leverage yang berlebihan, sehingga pasar bisa menjadi lebih stabil setelah “bersih” dari spekulasi yang terlalu tinggi.

    Ini juga menjadi pengingat penting bagi trader untuk lebih berhati-hati, mengelola risiko dengan baik, dan memahami dinamika pasar sebelum menggunakan leverage.


    Pastikan kamu hanya melakukan investasi dan trading kripto di platform terpercaya, seperti Tokocrypto. Dengan berbagai fitur yang mumpuni serta ekosistem yang luas, trading kripto jadi lebih mudah.

    DISCLAIMERSetiap keputusan investasi adalah tanggung jawab pribadi Anda. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual kripto. Tokocrypto tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi Anda.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Awas! Porak-Poranda, Ethereum Diterjang Badai Likuidasi Terbesar!

    Ethereum (ETH) tengah berada di tengah badai keuangan.

    Dalam satu hari terakhir, pasar kripto mencatat likuidasi masif dengan kerugian senilai US$1,53 miliar, salah satu peristiwa paling dramatis sejak Mei 2021.

    Long posisi ETH paling banyak terpukul, menyapu investor dengan leverage tinggi dan memaksa gelombang penjualan paksa.

    Baca Juga: Vitalik Buterin Bongkar Rahasia Besar Ethereum, Siap Guncang Pasar!

    Longs ETH Dihabisi, Pasar Gemetar

    Dari total likuidasi $1,53 miliar, sekitar US$900 juta berasal dari posisi long ETH sekaligus menjadikannya salah satu aset altcoin yang paling menderita dalam peristiwa ini.

    Menurut laporan Cryptopolitan pada Selasa (23/9), sebanyak 404.386 trader dilikuidasi, sebagian besar adalah pengguna yang mempertaruhkan diri di posisi long leverage tinggi.

    PASOKAN likuiditas long pun nyaris habis di banyak titik, terutama pada bursa derivatif besar.

    DeFi dan pinjaman kripto juga terkena dampak. Di antara mereka, sekitar US$22 juta dalam pinjaman yang menggunakan ETH dan WETH sebagai jaminan ikut ter-flush.

    Mekanisme dan Pemicu Likuidasi

    Salah satu pemicu utama adalah aksi “whales” atau investor besar yang mulai menjual ETH secara besar-besaran.

    Ada yang mentransfer ETH ke Binance atau menukar WETH ke ETH agar bisa dijual lebih cepat.

    Spot selling memang relatif terkendali, namun leverage dan margin yang tinggi jadi pemicu ledakan likuidasi saat harga bergerak melawan posisi long.

    Open interest untuk kontrak per ETH masih cukup besar, di atas US$27 miliar, yang berarti potensi likuidasi tambahan masih terbuka lebar jika pasar terus tertekan. (Cryptopolitan)

    Dampak Jangka Pendek dan Ketidakpastian Pasar

    Setelah likuidasi besar ini, ETH sempat tenggelam di bawah level $4.200 sebelum memantul kembali.

    Meskipun rebound terjadi, support di level-level krusial kini diuji keras. Trader dan investor mulai khawatir jika support di kisaran tersebut gagal dipertahankan, tekanan baru bisa menghantam posisi long yang tersisa.

    Likuiditas long yang banyak tereliminasi juga berarti pasar mungkin akan semakin peka terhadap volatilitas.

    Gerakan harga kecil yang sebelumnya bisa diabaikan kini punya potensi menjadi pemicu likuidasi lanjutan jika leverage tinggi masih ada.

    Proyeksi dan Strategi Pemulihan

    Mengingat skala likuidasi, beberapa analis memperkirakan ETH bisa turun hingga sekitar US$4.100 jika tekanan jual terus berlangsung.

    Namun, terdapat potensi pemulihan bila investor baru / modal institusional masuk serta berita positif (misalnya perkembangan DeFi, regulasi, atau adopsi) muncul.

    Level $4.400 disebut sebagai satu zona likuiditas pendek untuk short (posisi jual) dan mungkin jadi target resistance jangka pendek.

    Jika ETH bisa menahan diri di atas support sekitar $4.200 dan mendapatkan kembali momentum, tren koreksi ini bisa berakhir dan mulai rebound.

    Mengapa Likuiditas ETH Kian Rentan

    • Leverage yang tinggi: banyak trader long menggunakan leverage besar, sehingga sedikit penurunan sudah bisa memicu margin call dan likuidasi otomatis.
    • Konsentrasi posisi: likuiditas long terkumpul di beberapa titik (exchange utama, Derivatives) sehingga ketika terjadi tekanan minimal, efeknya bisa cascading.
    • Kurangnya katalis mujarab saat ini: meskipun ada optimisme terhadap adopsi dan DeFi, belum ada berita besar yang secara langsung memberikan alasan kuat untuk pembelian besar-besaran ETH.
    • Sentimen pasar: berita negatif, kekhawatiran regulasi, atau dampak ekonomi global dapat mempercepat ketakutan, yang kemudian diterjemahkan menjadi aksi jual.

    Baca Juga: Ethereum Terkoreksi Tipis, Awal Menuju Rekor Baru?

    Gelombang likuidasi yang menerjang ETH adalah pengingat keras bahwa pasar kripto yang “liquiditas tinggi” tetap sangat rentan pada kekuatan leverage dan psikologi massa.

    Meskipun potensi rebound ada, terutama jika support mampu dipertahankan, pasar kini berada di fase uji coba ketahanan likuiditasnya.

    Untuk trader, saat ini mungkin waktu untuk lebih berhati-hati: mengevaluasi eksposur posisi long, memperhatikan level support, dan memantau sentimen global.

    Untuk investor jangka panjang, ini bisa jadi peluang jika ETH berhasil bertahan dan memulai langkah pemulihan.

    Ringkasnya, saat ini likuiditas Ethereum sedang diuji, dan hasilnya bisa menentukan arah altcoin market secara keseluruhan.


    Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekaran

    DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut.

    Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.



    Sumber : news.tokocrypto.com

  • Tokenisasi Jadi Tren Baru di Sektor Keuangan


    Jakarta

    Adopsi teknologi blockchain yang semakin pesat di sektor keuangan mendorong pengembangan tokenisasi aset oleh pelaku industri, tidak hanya fintech tetapi juga institusi keuangan tradisional. Tokenisasi, yang merupakan proses mengkonversi aset fisik atau riil menjadi aset digital melalui jaringan blockchain, menciptakan apa yang kemudian disebut sebagai tokenisasi aset dunia nyata (Real World Asset/RWA).

    Meskipun masih dalam tahap awal, tokenisasi RWA semakin menarik perhatian institusi keuangan karena menawarkan potensi besar dalam meningkatkan efisiensi, transparansi, dan likuiditas, sekaligus mendorong inklusi keuangan dan pendalaman pasar keuangan (financial deepening).

    Tigran Adhiwirya, co-CEO D3 Labs mengatakan, tokenisasi bukan gimmick semata, melainkan membawa nilai tambah nyata bagi industri keuangan, khususnya dalam aspek likuiditas dan inklusivitas. Tigran melihat sektor tokenisasi di Indonesia dapat menjadi yang terdepan di kawasan Asia Tenggara dan menjadi salah satu motor penting bagi ekonomi nasional


    “Dengan minat pasar yang tinggi terhadap solusi dari tokenisasi dan juga dukungan dari regulator terhadap blockchain melalui pelaksanaan regulatory sandbox (ruang uji coba), membuat potensi pengembangan tokenisasi di Indonesia masih sangat besar,” kata Tigran, di Jakarta, Kamis (21/11/2024).

    Salah satu contoh implementasi tokenisasi di Indonesia adalah kolaborasi BTN bersama D3 Labs dalam mengembangkan produk tokenisasi aset properti pertama di Indonesia. Melalui skema Dana Investasi Real Estat (DIRE) berbasis teknologi blockchain, BTN sudah mempersiapkan tokenisasi aset properti.

    Setiyo Wibowo, Direktur Risk Management BTN menjelaskan implementasi tokenisasi di sektor properti bisa berdampak pada kontribusi industri yang lebih signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Ia mencontohkan bagaimana tokenisasi RWA dapat mendukung pendanaan program strategis pemerintah seperti target membangun tiga juta rumah per tahun, karena memungkinkan likuiditas yang tinggi.

    “Sebagai banker, pendanaan bisa kita dapatkan, antara lain dari third party fund, time deposit, dan current account, yang pertumbuhannya rata-rata paling tinggi di kisaran 10-12 persen per tahun. Karena itu, diperlukan pendanaan dari instrumen pasar seperti Mortgage Backed Securities (MBS) atau DIRE. Lewat tokenisasi, perluasan akses ke instrumen seperti MBS bisa dilakukan sehingga mendukung pendalaman pasar (financial deepening),” kata Setiyo dalam salah satu sesi diskusi di Indonesia Blockchain Week 2024.

    Tidak hanya Properti, asset lain berupa emas juga dapat menjadi salah salah satu aset riil lain yang bisa ditokenisasi. Dengan adanya tokenisasi diperkirakan bakal mempermudah masyarakat dalam memiliki aset emas.

    “Permintaan terhadap emas itu tinggi, untuk itu tokenisasi menjadi penting karena dapat membuat prosesnya lebih mudah, efisien, dan juga lebih likuid,” kata Teguh Wahyono, Direktur Teknologi Informasi dan Digital PT Pegadaian.

    Selain memudahkan masyarakat dalam hal membeli dan menyimpan emas, tokenisasi juga memungkinkan perusahaan untuk menjangkau pasar lebih luas. “Karena dipecah lewat tokenisasi, denominasi bisa lebih kecil. Suatu produk yang nilainya milyaran bisa dipecah-pecah menjadi lebih kecil, sehingga dapat lebih terjangkau oleh masyarakat. Untuk saat ini (tokenisasi) kami masih siapkan, berkoordinasi dengan OJK,” tambah Teguh.

    Djoko Kurnijanto, Kepala Departemen Pengaturan dan Perizinan Inovasi Teknologi Sektor Keuangan, Aset Keuangan Digital dan Aset Kripto OJK menjelaskan pentingnya keseimbangan antara inovasi dan regulasi untuk memastikan kemajuan blockchain di Indonesia, termasuk tokenisasi. Kedepan menurutnya, teknologi ini akan mewarnai semua ranah kehidupan.

    “Kita butuh layanan yang cepat, efisien, dan transparan, dan (ini) terjawab dengan teknologi blockchain. Tokenisasi, khususnya, akan meningkatkan likuiditas dan inklusivitas karena investor bisa membeli dalam jumlah kecil karena aset sudah bisa dipecah. Tantangan kedepan adalah bagaimana meningkatkan literasi keuangan digital. Kolaborasi dan kerja sama jadi kunci,” ungkap Djoko.

    Kini, ada sekitar 18,5 juta orang Indonesia atau 6,7% dari populasi yang memiliki aset digital, melampaui investor saham yang berjumlah lebih dari 6 juta investor. Hal ini menjadi fondasi kuat bagi perkembangan tokenisasi di Indonesia.

    (rrd/rir)



    Sumber : finance.detik.com

  • Simak! Ini 5 Koin Kripto yang Diramal Bawa Cuan di 2025


    Jakarta

    Tahun 2024 menandai dimulainya pertumbuhan pasar kripto. Hal itu didorong oleh peluncuran ETF Bitcoin dan Ethereum spot di Amerika Serikat, serta meningkatnya kepercayaan masyarakat secara umum terhadap Bitcoin dan aset kripto lainnya.

    Crypto Analyst Reku, Fahmi Almuttaqin mengatakan tahun 2024 menandai dimulainya fase bullish yang telah membawa Bitcoin melewati level harga US$ 100.000 untuk pertama kalinya sepanjang sejarah.

    “Outlook inflasi yang fluktuatif dan rencana The Fed yang akan lebih berhati-hati mungkin dapat menjadi penghambat reli yang akan terjadi di tahun depan, namun optimisme terhadap kebijakan pemerintah AS yang akan lebih akomodatif terhadap pasar dan industri kripto berpotensi menjadi katalis positif yang kuat, yang jika terjadi, berpotensi membawa Bitcoin melanjutkan kenaikan melewati level US$ 150.000,” kata Fahmi dalam keterangan tertulis, Selasa (31/12/2024).


    Selain Bitcoin, investor juga bisa memantau sejumlah aset kripto lainnya untuk mengoptimalkan portofolio di tahun depan. Beberapa sektor yang telah membuktikan relevansinya pada siklus-siklus pasar sebelumnya seperti DeFi, L1, NFT, Stablecoin, Memecoin, telah sedikit banyak menunjukkan potensi masih relevannya proposisi nilai yang mereka bawa.

    Berikut lima aset kripto yang menarik di 2025 menurut analis:

    1. Lido DAO (LDO)

    LDO berada pada posisi yang strategis di tengah potensi integrasi ETH staking dengan produk ETF Ethereum seiring dengan outlook regulasi crypto AS yang semakin positif.

    “Sepanjang tahun 2024, Lido telah membuktikan relevansinya sebagai platform lliquid staking yang profitable dengan pendapatan mingguan terendah berada di US$ 14,37 juta, sebuah angka yang cukup fantastis khususnya karena terjadi pada periode di mana hype terhadap Ethereum masih relatif tidak terlalu tinggi sepanjang tahun ini,” imbuh Fahmi.

    2. Ethereum (ETH)

    ETH berpotensi semakin diminati di fase bullish tahun 2025 nanti. Tidak hanya karena dominasi Ethereum sebagai platform smart contract dan aplikasi terdesentralisasi, namun juga performa ekosistem Ethereum yang semakin akomodatif terhadap adopsi stablecoin.

    “Stablecoin menjadi salah satu motor distribusi likuiditas utama di fase bullish dengan tingkat penerimaan pengguna yang semakin meningkat. Pencapaian Ethereum pada akhir November lalu dengan menggeser Tron sebagai jaringan blockchain yang mengakomodasi suplai USDT terbesar turut memperkuat potensi Ethereum ke depan,” tambahnya.

    USDT sebagai stablecoin terbesar dengan kapitalisasi pasar hampir menyentuh US$ 150 miliar disebut telah menjadi salah satu penyumbang utama transaksi dan pendapatan di jaringan Tron sejak periode-periode awal kemunculannya karena biaya transaksi yang rendah dan performa blockchainnya yang baik.

    “Kini, pengembangan yang terjadi di Ethereum yang mampu menghadirkan performa dan biaya transaksi yang sama baiknya namun dengan potensi tingkat keamanan dan basis pengguna yang lebih tinggi, menjadi penantang yang serius untuk menangkap peluang di sektor stablecoin yang strategis tersebut,” katanya.

    3. USUAL

    USUAL menjadi salah satu aset crypto di sektor RWA dengan pertumbuhan adopsi tercepat sejauh ini. Posisi Usual sebagai platform RWA dan stablecoin terdesentralisasi membawa semangat origin Bitcoin sebagai sebuah aset dan platform publik yang tidak dikelola oleh entitas terpusat tertentu, sebuah keunikan yang jarang dimiliki oleh kebanyakan proyek besar di sektor serupa saat ini.

    4. PNUT

    PNUT menjadi aset crypto bertema hewan dengan pertumbuhan kapitalisasi pasar tercepat pada siklus kali ini. Kekuatan likuiditas yang tinggi dipadukan dengan naratif menarik serta asosiasi dengan beberapa figur berpengaruh membuat kepercayaan investor terhadap proyek meme coin ini berpotensi dapat semakin berkembang di tahun 2025.

    5. LINK

    LINK sebagai aset kripto utama di ekosistem infrastruktur Chainlink dianggap aset yang semakin strategis dengan semakin luasnya ekosistem teknologi Chainlink serta adopsinya. Kolaborasi dan keterlibatan Chainlink pada proyek-proyek besar oleh institusi-institusi strategis seperti Swift misalnya dapat berpotensi mengakselerasi adopsi dari teknologi yang dikembangkan secara signifikan.

    “Tahun 2025 menjadi tahun yang mungkin akan menandai capaian-capaian menarik dari hasil kolaborasi-kolaborasi tersebut yang berpotensi tidak hanya meningkatkan perhatian investor terhadap proyek ini namun juga meningkatkan permintaan organik terhadap aset kripto LINK,” imbuhnya.

    (aid/rrd)



    Sumber : finance.detik.com

  • Digoyang Data Ini, Nilai Bitcoin Kini Tembus Lebih dari Rp 1,6 M


    Jakarta

    Harga Bitcoin (BTC) melonjak signifikan setelah rilis data Consumer Price Index (CPI) Amerika Serikat untuk Desember 2024. Inflasi tahunan tercatat di angka 2,9%, sesuai dengan ekspektasi pasar. Seiring dengan hal itu, nilai Bitcoin terdongkrak hingga melampaui US$ 102.000 atau setara dengan Rp 1,6 miliar lebih.

    Kenaikan ini juga diikuti oleh aset kripto lainnya saat pengumuman CPI, seperti Ethereum (ETH) yang mencapai Rp 54 juta, XRP di Rp 50.000, SOL di Rp 3,2 juta, dan XLM di Rp 7.000. Mayoritas aset kripto lainnya turut mengalami tren kenaikan yang makin memperkuat optimisme pasar.

    “Kapitalisasi pasar Bitcoin kini berada di angka US$ 3,7 triliun, dengan total volume perdagangan mencapai US$ 183 miliar. Sebagai perbandingan, pada bulan sebelumnya, CPI tercatat sebesar 2,7%, di mana harga Bitcoin saat itu berada di kisaran US$ 90.000, naik dari sebelumnya US$ 87.000. Meski kenaikan CPI Desember sedikit lebih tinggi dari angka bulan lalu, hal ini tidak menunjukkan tanda-tanda inflasi yang memburuk,” CEO Indodax, Oscar Darmawan, dalam keterangan tertulis yang diterima detikcom pada Sabtu (18/1/2205).


    Sebagai catatan tambahan, CPI inti, yang tidak memperhitungkan harga makanan dan energi, hanya meningkat 0,2%. Angka ini lebih rendah dibandingkan perkiraan awal sebesar 0,3%. Data ini memberikan sinyal positif bahwa tekanan inflasi tetap terkendali.

    “Dengan inflasi yang moderat, ada potensi bagi Federal Reserve untuk mempertimbangkan pelonggaran kebijakan suku bunga dalam beberapa bulan mendatang, yang bisa semakin mendorong sentimen positif di pasar keuangan,” ujar Oscar.

    Lebih lanjut Oscar bilang, optimisme ini juga tercermin dalam Fear and Greed Index pasar kripto, yang berada di angka 75 dari 100. Angka ini menunjukkan dominasi sentimen “greed” atau optimisme yang kuat di kalangan investor. Jika tren ini terus berlanjut, tidak menutup kemungkinan Bitcoin akan terus melanjutkan level psikologis di atas US$ 102.000 dalam waktu dekat.

    Oscar menilai, lonjakan ini mencerminkan semakin kuatnya kepercayaan investor terhadap Bitcoin sebagai aset lindung nilai.

    “Kita melihat pola yang sama: ketika inflasi mulai stabil dan kebijakan moneter cenderung melunak, Bitcoin mendapatkan momentum kenaikan. Dengan target inflasi The Fed berada di angka 2%, hampir tidak ada peluang pemotongan suku bunga di akhir bulan nanti.” katanya.

    Menurut Oscar, keputusan The Fed akan sangat berpengaruh terhadap pergerakan Bitcoin dan aset kripto lainnya. Ia bilang, pasar sangat sensitif terhadap kebijakan moneter.

    “Jika The Fed memberi sinyal akan menurunkan suku bunga, maka likuiditas akan meningkat, dan Bitcoin bisa menjadi salah satu aset yang paling diuntungkan,” jelasnya.

    Selain itu, data Producer Price Index (PPI) yang akan dirilis pada 24 Januari 2025 diharapkan memberikan sinyal tambahan terkait tekanan inflasi yang mulai mereda. Oscar menilai bahwa faktor ini akan memperkuat sentimen bullish bagi Bitcoin.

    “Investor institusional kini lebih percaya diri dalam memasukkan Bitcoin ke dalam portofolio mereka. Ketika inflasi dan kebijakan moneter mulai stabil, permintaan terhadap aset kripto cenderung meningkat,” tambahnya.

    Oscar menegaskan bahwa regulasi global juga menjadi faktor penting dalam pergerakan Bitcoin. “Dengan semakin banyaknya negara yang mulai menerima Bitcoin sebagai instrumen investasi sah, kita melihat peningkatan adopsi dari institusi besar. Hal ini bisa menjadi pendorong utama bagi harga Bitcoin dalam jangka panjang.” kata Oscar.

    Meski optimis, Oscar juga mengingatkan investor untuk tetap berhati-hati terhadap volatilitas pasar. Ia bilang, Bitcoin memiliki fundamental yang kuat, tetapi investor tetap harus memperhitungkan faktor eksternal seperti kebijakan ekonomi global dan pergerakan pasar tradisional.

    “Saya percaya bahwa 2025 akan menjadi tahun penting bagi Bitcoin dan ekosistem crypto secara keseluruhan. Dengan kombinasi regulasi yang lebih jelas, adopsi institusional, dan momentum pasar, kita bisa melihat Bitcoin mencapai level yang lebih tinggi. Namun, seperti biasa, investor harus tetap melakukan riset mendalam dan memahami risiko yang ada,” tutup Oscar.

    (eds/eds)



    Sumber : finance.detik.com

  • Kondisi Ini Bikin Harga Bitcoin Terbang ke Level Rp 1,6 Miliar


    Jakarta

    Harga Bitcoin (BTC) terbang seiring dirilisnya data Consumer Price Index (CPI) Amerika Serikat (AS) untuk Desember 2024. Inflasi tahunan tercatat sesuai dengan ekspektasi di angka 2,9%.

    Hal ini mendorong nilai Bitcoin melampaui US$ 102.000 atau sekitar Rp 1,6 miliar lebih. Kenaikan ini juga diikuti oleh aset kripto lainnya saat pengumuman CPI, seperti Ethereum (ETH) yang mencapai Rp 54 juta, XRP di Rp 50 ribu, SOL di Rp 3,2 juta, dan XLM di Rp 7 ribu.

    Mayoritas aset kripto lainnya turut mengalami tren kenaikan yang memperkuat optimisme pasar. Kapitalisasi pasar Bitcoin saat ini berada di angka US$ 3,7 triliun, dengan total volume perdagangan mencapai US$ 183 miliar.


    Sementara pada bulan sebelumnya, CPI tercatat sebesar 2,7%, di mana harga Bitcoin saat itu berada di kisaran US$ 90.000, naik dari sebelumnya US$ 87.000. Meski kenaikan CPI Desember sedikit lebih tinggi dari angka bulan lalu, hal ini dianggap tidak menunjukkan tanda-tanda inflasi yang memburuk.

    Kendati begitu, CPI inti meningkat tipis sebesar 0,2%, lebih rendah dibandingkan perkiraan awal sebesar 0,3%. Namun begitu, data tersebut tetap menjadi sinyal positif tekanan inflasi tetap terkendali.

    Dengan inflasi yang moderat, terbuka ruang bagi Federal Reserve (The Fed) untuk mempertimbangkan pelonggaran kebijakan suku bunga dalam beberapa bulan mendatang. CEO INDODAX, Oscar Darmawan, menilai bahwa lonjakan ini mencerminkan kuatnya kepercayaan investor terhadap Bitcoin sebagai aset lindung nilai.

    “Kita melihat pola yang sama ketika inflasi mulai stabil dan kebijakan moneter cenderung melunak, Bitcoin mendapatkan momentum kenaikan. Dengan target inflasi The Fed berada di angka 2%, hampir tidak ada peluang pemotongan suku bunga di akhir bulan nanti,” kata Oscar dalam keterangan tertulisnya, ditulis Minggu (19/1/2025).

    Oscar mengatakan, optimisme ini juga tercermin dalam Fear and Greed Index pasar kripto, yang berada diangka 75 dari 100. Angka ini menunjukkan dominasi sentimen greed atau optimisme yang kuat di kalangan investor.

    Jika tren ini terus berlanjut, Oscar mengatakan tidak menutup kemungkinan Bitcoin akan terus melanjutkan level psikologis di atas US$ 102.000 dalam waktu dekat. Namun begitu, Oscar menilai keputusan The Fed akan sangat berpengaruh terhadap pergerakan Bitcoin dan aset kripto lainnya.

    “Pasar sangat sensitif terhadap kebijakan moneter. Jika TheFed memberi sinyal akan menurunkan suku bunga, maka likuiditas akan meningkat, dan Bitcoin bisa menjadi salah satu aset yang paling diuntungkan,” jelasnya.

    Sementara, data Producer Price Index (PPI) yang akan dirilis pada 24 Januari 2025 diharapkan memberi sinyal tambahan terkait tekanan inflasi yang mulai mereda. Oscar menilai, faktor ini akan memperkuat sentimen bullish bagi Bitcoin.

    “Investor institusional kini lebih percaya diri dalam memasukkan Bitcoin ke dalam portofolio mereka. Ketika inflasi dan kebijakan moneter mulai stabil, permintaan terhadap aset kripto cenderung meningkat,” tambahnya.

    Oscar menegaskan bahwa regulasi global juga menjadi faktor penting dalam pergerakan Bitcoin. Dengan semakin banyaknya negara yang menerima Bitcoin sebagai instrumen investasi sah, ia menilai peningkatan adopsi dari institusi juga semakin besar.

    “Hal ini bisa menjadi pendorong utama bagi harga Bitcoin dalam jangka panjang,” terangnya.

    Meski optimis, ia juga mengingatkan investor untuk tetap berhati-hati terhadap volatilitas pasar. Menurutnya, Bitcoin memiliki fundamental yang kuat, tetapi juga perlu memperhitungkan faktor eksternal seperti kebijakan ekonomi global dan pergerakan pasar tradisional.

    “Saya percaya bahwa 2025 akan menjadi tahun penting bagi Bitcoin dan ekosistem kripto secara keseluruhan. Dengan kombinasi regulasi yang lebih jelas, adopsi institusional, dan momentum pasar, kita bisa melihat Bitcoin mencapai level yang lebih tinggi. Namun, seperti biasa, investor harus tetap melakukan riset mendalam dan memahami risiko yang ada,” tutupnya.

    (kil/kil)



    Sumber : finance.detik.com

  • OJK Siapkan Aturan ETF Kripto, Begini Respons Pelaku Pasar


    Jakarta

    Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Indonesia tengah mengkaji penerapan Exchange-Traded Fund (ETF) berbasis aset kripto, demi menyediakan instrumen investasi yang lebih beragam dan terjangkau bagi masyarakat. Langkah ini disambut baik oleh pelaku pasar.

    CEO INDODAX Oscar Darmawan menilai ETF kripto berpotensi menjadi solusi bagi investor yang ingin berpartisipasi dalam ekosistem aset digital dengan pendekatan yang lebih terstruktur, transparan, dan diawasi oleh regulator.

    “Langkah OJK untuk menghadirkan regulasi ETF kripto sangat positif bagi industri ini. ETF bisa menjadi jembatan bagi investor tradisional yang ingin masuk ke aset digital tanpa harus menghadapi kompleksitas teknis dalam penyimpanan dan keamanan aset kripto,” kata Oscar, dikutip dari keterangan tertulis, Minggu (16/2/2025).


    Menurut Oscar, bila regulasi ini diterapkan dengan baik, akan mendorong lebih banyak investor institusional masuk. Kondisi ini pada akhirnya akan meningkatkan likuiditas serta stabilitas pasar kripto di Indonesia.

    Selain itu, Oscar juga menilai, lonjakan jumlah investor ini menunjukkan semakin besarnya kepercayaan masyarakat terhadap aset kripto sebagai instrumen investasi alternatif. Dengan regulasi ETF yang akan diterapkan, ia optimistis pertumbuhan pasar kripto Indonesia akan
    semakin inklusif dan menarik bagi berbagai jenis investor.

    “Tren adopsi aset kripto di Indonesia sangat menjanjikan. Regulasi ETF kripto yang tengah dikaji OJK bisa menjadi katalis utama dalam mendorong pertumbuhan yang lebih berkelanjutan,” ujar Oscar.

    “Jika regulasi ini diberlakukan dengan tepat, kita bisa melihat peningkatan signifikan dalam partisipasi investor institusional serta berkembangnya berbagai produk investasi berbasis kripto yang lebih inovatif,” sambungnya.

    Dengan kondisi pasar yang terus berkembang dan inisiatif regulator untuk memperkenalkan ETF kripto, INDODAX optimistis bahwa industri aset digital di Indonesia akan semakin stabil, inklusif, dan menarik bagi investor di semua level.

    Sebagai informasi, OJK tengah mengkaji penerapan ETF berbasis aset kripto. Ditargetkan penerapan ETF ini akan selesai pada tahun 2025 dan memberikan kepastian hukum bagi pelaku industri serta perlindungan bagi investor.

    ETF berbasis kripto sendiri merupakan instrumen investasi yang memungkinkan investor mendapatkan akses terhadap aset kripto tanpa harus secara langsung membeli dan menyimpannya. Dengan ETF, investor dapat memperdagangkan aset kripto dalam bentuk reksa dana yang terdaftar di bursa efek, sehingga memberikan akses lebih mudah dan aman bagi berbagai kalangan investor.

    Kajian ini dilaksanakan OJK dengan tujuan untuk memastikan bahwa regulasi dan penerapan ETF berbasis kripto dapat meminimalisir risiko yang mungkin muncul dari volatilitas tinggi aset kripto. Keputusan mengenai jenis aset kripto yang dapat digunakan sebagai underlying asset ETF akan didasarkan pada kriteria tertentu yang memastikan keberlanjutan dan keamanan pasar.

    Di samping itu, langkah ini mengindikasikan komitmen OJK untuk memfasilitasi pertumbuhan ekosistem kripto yang aman dan terkendali di Indonesia, seiring dengan meningkatnya jumlah investor kripto yang tercatat mencapai 22,91 juta orang pada akhir 2024, dan total nilai transaksi yang mencapai Rp 650,61 triliun.

    Simak juga Video ‘Nasihat Pakar Seusai Bitcoin Gagal Tembus Puncak USD 100 Ribu’:

    (kil/kil)



    Sumber : finance.detik.com