Tag: makan buah

  • Makan Buah Sebelum Vs Setelah Makan, Mana Lebih Sehat? Ini Faktanya

    Jakarta

    Dikenal sebagai sumber vitamin, mineral, serat, dan antioksidan, dari mulai meningkatkan sistem imun, membantu pencernaan, sampai menurunkan risiko anemia, obesitas, hingga penyakit kronis seperti diabetes dan jantung, buah memiliki banyak khasiat.

    Namun, satu pertanyaan klasik masih sering bikin bingung: lebih sehat makan buah sebelum makan, atau setelah makan?

    Sebagian orang percaya buah sebaiknya dimakan di perut kosong agar nutrisinya terserap maksimal. Ada pula yang terbiasa menjadikan buah sebagai pencuci mulut terbaik setelah makan berat. Mana yang benar?


    Buah Sebelum Makan: Bantu Kenyang Lebih Cepat

    Konsep makan buah sebelum makan sering dikaitkan dengan efek kenyang lebih cepat. Hal ini pernah dibuktikan dalam penelitian yang dipublikasikan di jurnal Appetite.

    Dalam studi tersebut menunjukkan makan buah utuh sebelum makan bisa menurunkan total asupan kalori hingga sekitar 15 persen.

    Mengapa bisa begitu? Kuncinya ada pada serat yang ada di dalam buah. Ketika memakan buah sebelum makan, maka lambung sudah terisi oleh buah. Sehingga makanan utama yang akan dikonsumsi jadi lebih sedikit.

    Selain itu, Studi lain di tahun 2019, menemukan bahwa konsumsi buah sebelum makan dapat meningkatkan hormon yang berhubungan dengan rasa kenyang. Akibatnya, tubuh lebih cepat merasa cukup dan asupan kalori total berkurang.

    Artinya, kalau tujuannya adalah menjaga berat badan atau mengontrol nafsu makan berlebih, makan buah sebelum makan bisa menjadi strategi sederhana yang efektif

    @detikhealth_official detikers tim kopi atau tim teh, nih? ☕🍵 Pasti punya alasan unik masing-masing kenapa pilih kopi atau teh… Ada yang bilang biar semangat, ada juga yang bilang biar happy. Tapi, ternyata, nggak semua alasan itu bener lho. Penasaran mana yang tepat? Cek videonya sampe abis yaa! 😉✨ Creator: Aldrian #detikHealth #Kopi #Teh #KopiVsTeh ♬ suara asli – detikHealth

    Buah Setelah Makan: Aman dan Sehat

    Di sisi lain, banyak orang terbiasa makan buah setelah makanan utama sebagai pencuci mulut. Kebiasaan ini ternyata tidak salah. Buah tetap memberi tambahan vitamin, mineral, dan antioksidan yang mendukung kesehatan.

    Khususnya, buah kaya vitamin C seperti jeruk, jambu biji, atau kiwi, punya peran penting bila dikonsumsi setelah makanan utama yang mengandung zat besi (misalnya dari daging, ikan, sayur atau kacang-kacangan). Vitamin C dapat membantu mengubah bentuk zat besi agar lebih mudah diserap tubuh. Sehingga dapat bermanfaat agar terhindar dari anemia.

    Ada juga mitos yang menyebut buah sebaiknya tidak dimakan setelah makan karena bisa menimbulkan rasa tidak nyaman di perut dan mengganggu pencernaan. Faktanya, hal ini tidak benar dan tidak memiliki dasar ilmiah. Penelitian menunjukkan, masalah kembung atau begah setelah makan buah biasanya lebih terkait dengan porsi makanan yang berlebihan, bukan karena makan buah setelah makan.

    Beberapa jenis buah bahkan mengandung enzim yang membantu pencernaan menjadi lebih lancar yaitu:

    • papaya
    • alpukat
    • pisang
    • mangga
    • dan nanas.

    Kesimpulan: Mana yang Lebih Baik?

    Jadi, lebih baik makan buah sebelum atau sesudah makan? Sampai saat ini belum ada penelitian yang menyebutkan lebih baik makan buah sebelum atau sesudah makan utama. Semuanya kembali pada tujuan dan kondisi tubuh saat konsumsi buah. Keduanya tetap sehat, hanya efeknya sedikit berbeda.

    Kalau ingin menekan nafsu makan berlebih, mengontrol gula darah, dan menjaga berat badan, makan buah sebelum makan bisa jadi pilihan dan solusi yang efektif.
    Kalau ingin melengkapi nutrisi dan mendapatkan manfaat vitamin C untuk penyerapan zat besi, makan buah setelah makan pun tak ada masalah.

    Tidak perlu bingung, boleh makan buah kapan saja, baik sebelum atau sesudah makan. Karena kuncinya bukan soal kapan, melainkan apakah kita cukup dan konsisten makan buah setiap hari.

    Kementerian Kesehatan (Kemenkes) merekomendasikan minimal 200-300 gram buah per hari, atau setara dengan 2-3 porsi. Asupan buah rutin inilah yang terbukti menurunkan risiko penyakit kronis seperti jantung, diabetes, obesitas, anemia dan kanker. Dengan begitu, manfaat buah bisa dirasakan maksimal untuk kesehatan jangka panjang.

    (mal/up)



    Sumber : health.detik.com

    Alhamdulillah sehat wal afiyat اللهم صل على رسول الله محمد
    image : unsplash.com / Jonas Weckschmied
  • Buah Potong Vs Jus Buah, Mana Lebih Sehat? Ini Faktanya


    Jakarta

    Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin baru-baru ini mengunggah video di akun instagram miliknya tentang perbedaan konsumsi buah yang dipotong dengan buah yang dijus. Menurutnya, meski sama-sama berasal dari buah segar, cara penyajian dapat memberikan manfaat gizi yang berbeda bagi tubuh.

    Video dengan hashtag #BGS (#BudiGemarSharing) ini pun memicu perbincangan publik. Sebenarnya, mana yang sebenarnya lebih sehat, buah potong atau buah jus?

    Nutrisi dalam Buah

    Buah adalah sumber gizi penting yang kaya vitamin, mineral, serat, serta senyawa bioaktif seperti antioksidan dan fitokimia. Menurut Pedoman Gizi Seimbang Kementerian Kesehatan RI, konsumsi buah dua hingga tiga porsi setiap hari sangat dianjurkan untuk mendukung kesehatan tubuh, menurunkan risiko penyakit tidak menular, serta menjaga pencernaan. World Health Organization (WHO) pun merekomendasikan asupan minimal 400 gram buah dan sayur per hari untuk memenuhi kebutuhan gizi dan menekan risiko penyakit kronis.


    Namun, cara mengonsumsi buah ternyata mempengaruhi kandungan gizinya. Serat, misalnya, akan lebih terjaga bila buah dikonsumsi utuh atau dipotong, dibandingkan bila dibuat menjadi jus.

    Keunggulan Buah dipotong

    Ketika kita makan buah dalam bentuk potongan, seratnya masih utuh sehingga memberikan efek kenyang lebih lama. Beberapa jenis buah mengandung serat yang berfungsi sebagai prebiotik yang dapat digunakan oleh bakteri baik (probiotik) sebagai makanan. Bakteri baik yang ada di dalam saluran cerna bisa mendukung kesehatan usus, meningkatkan imunitas, dan bahkan berperan dalam kontrol gula darah.

    Beberapa penelitian, salah satunya pada Jurnal Nutrients menunjukkan bahwa konsumsi buah utuh memiliki efek lebih baik dalam menurunkan risiko obesitas dibandingkan jus buah, karena serat berperan langsung dalam mengatur rasa kenyang dan metabolisme tubuh.

    Makan buah yang dipotong memerlukan waktu untuk mengunyah karena kandungan seratnya, menyebabkan penyerapan glukosa menjadi lebih lambat, sehingga indeks glikemik lebih rendah dibanding jus buah. Hal ini dapat membuat respons gula darah menjadi lebih stabil.

    Konsumsi buah yang utuh juga cenderung mengandung nutrisi yang lebih stabil atau tidak mudah hilang sebelum dicerna. Hal ini juga sesuai dengan rekomendasi Kemenkes bahwa konsumsi buah sebaiknya dalam bentuk asli, bukan hanya dalam bentuk jus atau olahan lain.

    Keunggulan Buah dijus

    Tidak bisa dipungkiri, jus buah lebih praktis dikonsumsi, apalagi untuk orang yang sibuk atau anak yang sulit makan buah potong. Jus juga memudahkan penyerapan sumber karbohidrat sederhana, vitamin, antioksidan, dan mineral tertentu karena sudah dalam bentuk cair. Berkurangnya kadar serat, dapat mengurangi efek mengenyangkan sehingga dapat dijadikan tambahan energi ketika melakukan aktivitas yang padat.

    Kekurangan Buah dijus

    Namun, ada catatan penting saat buah dijus, kandungan seratnya berkurang signifikan. Proses penghalusan juga dapat meningkatkan indeks glikemik (IG) dalam jus buah, sehingga gula lebih cepat masuk ke aliran darah. Akibatnya, jus bisa memicu lonjakan gula darah lebih cepat dibandingkan buah potong. Beberapa penelitian, misalnya dalam British Medical Journal, menemukan bahwa konsumsi jus buah secara berlebihan berkaitan dengan peningkatan risiko diabetes tipe 2, sementara konsumsi buah utuh justru menurunkan risikonya.

    Satu gelas jus buah dapat menggunakan dua sampai empat porsi buah sekaligus. Hal ini mengakibatkan asupan kalori dan gula meningkat tanpa adanya rasa kenyang atau rasa kenyang hanya berlangsung sebentar. Jika sering terjadi, maka kelebihan energi akan disimpan dalam bentuk lemak dan dapat meningkatkan risiko obesitas.

    Selain itu, vitamin C dalam jus juga lebih mudah rusak. Vitamin C adalah zat gizi yang sensitif terhadap panas, oksigen, dan cahaya. Proses pemblenderan dapat menghasilkan panas dan dapat meningkatkan risiko terpapar panas, oksigen, dan cahaya serta mempercepat oksidasi sehingga kadar vitamin C menurun. Ada beberapa nutrisi lain yang dapat berkurang selain vitamin C, seperti vitamin B kompleks yaitu folat dan antioksidan tertentu yaitu polifenol dan flavonoid.

    Tips Konsumsi yang Tepat:

    • Utamakan buah dipotong sebagai sumber utama asupan harian.
    • Jus buah 100% tanpa gula tambahan bisa menjadi pilihan sesekali, terutama bagi anak-anak yang sulit makan buah.
    • Hindari jus kemasan yang sering kali sudah ditambahkan gula dan perasa.
    • Bila ingin konsumsi jus, sebaiknya tetap sisakan sedikit ampas agar serat masih ada.
    • Konsumsi buah sesuai kebutuhan, sekitar dua sampai tiga porsi per hari, dengan variasi jenis agar zat gizi lebih beragam.

    Kesimpulan

    Jadi, mana yang lebih sehat: buah dipotong atau buah dijus? Secara nutrisi jawabannya adalah buah potong, karena lebih unggul pada kandungan serat yang utuh, lebih menyehatkan sistem pencernaan, dan membantu mengontrol kadar gula darah. Buah dijus masih memiliki kelebihan dalam hal cepat menyediakan energi yang dapat dipakai langsung oleh tubuh.

    Sebagai konsumen cerdas, kita bisa menyesuaikan sesuai kebutuhan. Bila ingin praktis atau butuh energi cepat, sesekali boleh minum jus buah. Namun, untuk kesehatan jangka panjang, biasakan mengonsumsi buah dalam bentuk utuh.

    (mal/up)



    Sumber : health.detik.com

  • Hobi Makan Buah Setelah Makan Nasi? Ini Efeknya untuk Tubuh


    Jakarta

    Banyak orang pilih menutup santapan dengan makan buah yang manis dan menyegarkan. Lantas, seperti apa efeknya pada tubuh jika kita makan buah setelah makan nasi?

    Buah merupakan bagian dari pola makan gizi seimbang. Konsumsi buah dapat melengkapi kebutuhan nutrisi harian setiap orang.

    Buah mengandung banyak vitamin dan mineral yang dibutuhkan tubuh. Buah juga jadi pelengkap asupan serat untuk memperlancar pencernaan.


    Mengonsumsi buah setelah makan merupakan salah satu kebiasaan umum yang dilakukan banyak orang. Buah kerap dijadikan makanan pencuci mulut yang menyegarkan.

    Lalu, apa yang terjadi pada tubuh saat makan buah setelah makan nasi?

    Pada dasarnya, makan buah tak disarankan dilakukan setelah makan. Melansir Times of India, secara keseluruhan, kebiasaan ini dapat memengaruhi pencernaan Anda. Berikut alasannya:

    1. Kadar gula darah bisa melonjak

    Cholesterol diet and healthy food nutritional concept with clean fruits in heart dish with nutritionist monitoring, blood sugar control record with measuring tool kitFoto: Getty Images/Chinnapong


    Tergantung pasangannya, makan buah tertentu setelah makan bisa meningkatkan kadar gula darah secara tiba-tiba.

    Misalnya, satu buah pisang mengandung sekitar 20 gram (g) karbohidrat. Pisang dimakan setelah makan nasi dan sajian lain yang tinggi karbohidrat.

    Hal di atas bisa meningkatkan beban glikemik keseluruhan, yang berpotensi memengaruhi kadar gula darah.

    2. Terjadi efek FODMAP
    Ada juga kekhawatiran akan peningkatan molekul yang dapat difermentasi atau yang dikenal sebagai FODMAP jika Anda terbiasa menutup sesi makan dengan buah. FODMAP banyak ditemukan pada buah seperti apel dan pir.

    Pada dasarnya, buah dicerna jauh lebih cepat daripada kebanyakan makanan lainnya. Namun, jika dipadukan dengan makanan yang lebih berat, buah akan tetap berada di dalam usus dalam waktu yang lebih lama dan berpotensi mengalami fermentasi serta memicu kembung.

    3. Berat badan naik

    Weight Gain. Unhappy Girl Touching Drooping Belly Standing In Front Of Mirror At Home. Empty Space, Selective FocusWeight Gain. Unhappy Girl Touching Drooping Belly Standing In Front Of Mirror At Home. Empty Space, Selective Focus Foto: Getty Images/iStockphoto/Prostock-Studio

    Konon, makan buah setelah makan bisa membantu proses penurunan berat badan. Padahal, faktanya semua buah kaya kalori.

    Jika dikonsumsi bersamaan dengan makanan lengkap, maka buah hanya akan memberikan kalori tanpa ada manfaat berlebih.

    Alih-alih dikonsumsi setelah makan, ada baiknya jika buah dikonsumsi di tengah waktu makan. Selain memberikan pilihan bergizi, makan buah di tengah waktu makan juga bisa memberikan manfaat lain sesuai dengan fungsinya masing-masing.

    Misalnya, memakan jeruk di tengah waktu makan dapat membantu meningkatkan penyerapan zat besi karena kandungan vitamin C yang tinggi. Atau, makan pisang di tengah waktu makan dapat memoderasi lonjakan gula darah.

    Artikel ini sudah tayang di CNN Indonesia dengan judul “Apa yang Terjadi pada Tubuh saat Makan Buah Setelah Makan Nasi?”

    (sob/adr)

    Sumber : food.detik.com

    Alhamdulillah Makanan Minuman Sehat Di JumatBerkah.Com اللهم صل على محمد
    Source : unsplash.com / Eater Collective

  • Hanya Makan Buah 30 Hari, Wanita Ini Rasakan Efek Positif dan Negatif


    Jakarta

    Seorang wanita membagikan pengalaman makan buah saja selama 30 hari. Wanita ini pun merasakan efek positif dan negatif pada tubuhnya.

    Banyak pola diet untuk menurunkan berat badan yang bisa dilakukan. Namun, jenis diet tersebut bisa disesuaikan dengan kondisi kesehatan dan preferensi individu yang menjalaninya.

    Salah satu jenis diet yang cukup terkenal, makan buah. Hal ini mengharuskan mereka makan buah sebagai asupan utama.


    Diet makan buah kerap dijalani karena kandungan nutrisi dan kalori rendah pada buah bisa membantu perut kenyang lebih lama sekaligus mengurangi asupan kalori lebih banyak.

    Lantas, apakah diet ini efektif dan tidak menimbulkan efek samping? Seorang wanita yang menjalaninya membagikan pengalaman ketika melakukan diet ini selama 30 hari.

    Shade Martin memilih melakukan diet ini usai menderita nyeri bahu. Terapi fisik dan obat-obatan pun gagal menyembuhkan penyakitnya.

    Suatu hari, ia membaca kalau buah-buahan dengan kandungan alkali tinggi, seperti nanas, beri, pisang, dan mangga mengandung sifat anti-inflamasi yang dapat membantu mengurangi rasa nyeri di tubuhnya, lapor dailymail.co.uk (16/01/2025).

    Hanya Makan Buah 30 Hari, Wanita Ini Rasakan Efek Positif dan NegatifWanita ini mengawali dietnya dengan konsumsi semangka. dilanjut anggur. Foto: TikTok @loveryourself2health

    Martin lantas menjalani diet buah secara perlahan. Diawali dengan hanya makan semangka di minggu pertama. Lalu dilanjut makan anggur pada enam hari berikutnya. Sampai akhirnya ia mengonsumsi semangkuk buah-buahan sepanjang diet tersebut.

    Memang makanan yang ia konsumsi hanya sebatas buah-buahan, tetapi Shade Martin merasakan perbedaan.

    Ia merasa tubuhnya lebih berenergi daripada biasanya karena pelepasan gula alami yang membuatnya juga bisa berpikir lebih jernih.

    Menurut salah satu penelitian dari Harvard Medical School, konsumsi buah-buahan memang dapat meningkatkan fungsi otak. Dari studi tersebut menemukan bahwa wanita yang makan satu sampai dua sajian stroberi dan bluberi setiap minggunya, dapat menunda penurunan memori hingga dua setengah tahun.

    Efek samping lainnya yang didapatkan oleh Shade Martin yaitu dirinya tidak pernah mengalami kram perut saat menstruasi dan berat badannya turun 4,5 kilogram.

    Buah-buahan yang mengandung banyak serat juga membuat wanita ini memiliki pencernaan yang lancar dan lebih banyak, sesuai dengan harapannya.

    Para ahli mengungkap bahwa peningkatan pergerakan usus ini merupakan perubahan positif, karena dapat membersihkan sistem pencernaan dan membuang kotoran yang bisa berkontribusi pada kesejahteraan secara keseluruhan.

    Menjalani diet makan buah membuat Shade lebih banyak mendapatkan manfaat dibandingkan efek negatifnya. Namun, ia juga menyadari bahwa diet ini tidak cocok dilakukan oleh semua orang.

    Hanya Makan Buah 30 Hari, Wanita Ini Rasakan Efek Positif dan NegatifSeetelah sudah terbiasa, ia baru mulai konsumsi semangkuk buah-buahan campuran. Foto: TikTok @loveryourself2health

    Shade dulunya memang sudah menjadi seorang vegan, dan sering mengonsumsi buah-buahan. Jadi, tubuhnya sudah terbiasa, tetapi mungkin diet ini cukup sulit dilakukan oleh orang lain.

    Seorang ahli gizi dan profesor di The University of Georgia, Dr Tracey Brigman mengungkap kepada Daily Mail bahwa tidak ada nasehat ekstrem yang akan dia berikan.

    Menurutnya, buah-buahan memang menjadi makanan sempurna, tetapi buah tidak memiliki semua nutrisi yang dibutuhkan oleh tubuh.

    Ahli gizi ini mengungkap bahwa sebagian besar buah mengandung hanya sedikit kalori yang bisa menyebabkan kurangnya asupan kalori dan kelelahan. Oleh karenanya, diet makan buah ini mengarah kepada kondisi malnutrisi.

    Pola makan buah ini memang membawa segelintir efek baik, tetapi bukan berarti tidak ada efek buruknya. Shade Martin juga mengakui bahwa pola makan buah-buahan ini memang tidak memberikan efek yang terlalu besar.

    Ketika Shade hanya makan anggur, ia justru mulai batuk berdahak dan mengeluarkan dahak yang cukup banyak.

    Ahli gizi Dr Brigman mengungkap bahwa secara keseluruhan, mengonsumsi buah-buahan dikaitkan dengan pengurangan produksi lendir. Namun, ada juga beberapa buah yang menyebabkan peningkatan produksi lendir.

    “Ini terjadi terutama pada individu dengan sensitivitas atau intoleransi histamin,” jelasnya.

    Hanya Makan Buah 30 Hari, Wanita Ini Rasakan Efek Positif dan NegatifDiet buah-buahan ini membuat wanita tersebut berhasil turun 4,5 kg dan lebih sehat. Foto: TikTok @loveryourself2health

    Beberapa contoh buah-buahan yang dapat memproduksi lendir termasuk anggur, jeruk, pisang, dan stroberi. Jadi, wajar sja jika setelah makan anggur, wanita ini malah batuk berdahak.

    Dalam sesi tanya jawab dengan influencer kesehatan Gillian Berry, wanita ini mengungkap bahwa siklus menstruasinya sangat lancar dan ia tidak merasakan sakit sama sekali.

    Sayangnya, siklus menstruasi Shade berlangsung lebih lama dari biasanya. Dr Vinni Makin pun merekomendasikannya untuk meningkatkan asupan kalori.

    Tentu efek positif juga memengaruhi kulitnya. Ia kini memiliki kulit yang sangat cerah, sekalipun awalnya ada beberapa jerawat muncul, tetapi hasil akhirnya kulit tampak lebih baik.

    Dalam hari dietnya, wanita ini memulai hari dengan minum segelas besar air lemon atau air jeruk nipis. Sekitar 20 menit, dia akan membuat smoothie dengan beberapa buah favoritnya, seperti pisang, kurma, blueberry, dan cherry. Sepanjang hari, ia akan ngemil potongan buah.

    Bagian tersulit ketika ia harus menyaksikan suami dan putrinya menyantap makanan normal. Ia harus mengalihkan perhatiannya.

    Secara keseluruhan, ia telah kehilangan 4,5 kilogram selama 30 hari menjalani diet. Tampaknya ini bukan masalah, karena memang tujuan utama diet ini bukan untuk menurunkan berat badannya, tetapi untuk mengurangi nyeri di tubuhnya.

    (aqr/adr)

    Sumber : food.detik.com

  • Alhamdulillah Makanan Minuman Sehat Di JumatBerkah.Com اللهم صل على محمد
    Source : unsplash.com / Anna Pelzer