Tag: makanan cepat saji

  • 5 Ayam Goreng Arab dengan Rempah Timur Tengah, Harga Rp 20.000-an!


    Jakarta

    Bosan ayam goreng biasa? Ayam goreng ala Arab dengan bumbu Timur Tengah dan nasi kebuli patut jadi pilihan. Harganya mulai Rp 20.000-an saja!

    Ayam goreng Arab kini makin populer di Jakarta. Banyak gerai menghadirkan ayam bercita rasa gurih dengan bumbu rempah khas Timur Tengah ini. Teksturnya renyah di luar dan juicy di bagian dagingnya.

    Selain ayam goreng, beberapa gerai menawarkan nasi kebuli yang wangi dan kaya rempah sebagai pelengkap. Selain itu, ada camilan hingga minuman berbasis susu khas Arab.


    Harga yang ramah di kantong mulai dari Rp 20.000-an per porsi membuat santapan ini mudah dijangkau. Cocok untuk makan siang cepat, ngemil sore, atau kumpul santai bareng teman.

    Berikut 5 tempat makan ayam goreng crispy ala Timur Tengah di Jakarta:

    1. Zangos Chicken

    Ayam goreng crispy Timur Tengah di JakartaZangos Chicken Foto: Instagram/@zangos.id

    Zangos Chicken ada di kawasan Condet, Jakarta Timur, jadi spot makan ayam goreng favorit anak muda. Lokasinya mudah dijangkau, dekat pusat keramaian dan area parkir nyaman.

    Menu andalan seperti Zangos Crispy Chicken dan Spicy Wings dibanderol sekitar Rp 20.000-an per porsi. Rasa ayamnya gurih, renyah di luar, lembut di dalam, cocok buat makan siang murah meriah.

    Selain ayam goreng, tersedia French Fries dan minuman segar untuk melengkapi santapan. Untuk nasinya tersedia dua pilihan, ada nasi putih dan nasi Zangos yang lebih berempah.

    Zangos Chicken
    Jalan Raya Condet RT 001/ RW 03 no 54 kelurahan Batu Ampar, Jati, kecamatan Kramat, Kota Jakarta Timur, Daerah Khusus Ibukota Jakarta
    Telepon: 0811-8115-244
    Jam buka: 9.00-23.00

    2. Almaz Chicken

    Almaz Fried Chicken hadir di berbagai titik dengan konsep ayam goreng berbumbu rempah Arab khas Saudi. Lokasinya mudah dijangkau, termasuk di kawasan Cempaka Putih, Jakarta Pusat.

    Menu favorit seperti paket Panas 2 dengan dua potong ayam goreng dan nasi kebuli dibanderol sekitar Rp 29.000. Rasanya gurih, rempah meresap hingga ke daging, renyah di luar tapi juicy di dalam, pas untuk lidah orang Indonesia.

    Selain ayam, tersedia sambal bawang dan saus garlic yang menambah cita rasa. Kombinasi bumbu rempah dan nasi kebuli membuat santapan terasa unik, lezat, dan tak kalah saing dengan ayam goreng dari luar negeri.

    Almaz Chicken
    Jalan Percetakan Negara No.20, RT.2/RW.1, Rawasari, Kec. Cemp. Putih, Kota Jakarta Pusat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 10570
    Jam buka: 08.00-22.00

    3. Mecca Fried Chicken

    Ayam goreng arab saudiMecca Fried Chicken Foto: Detikcom / Atiqa Rana

    Mecca Fried Chicken dapat ditemui di kawasan Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Di sini kamu bisa mencicipi berbagai pilihan ayam goreng dengan paduan bumbu khas Timur Tengah.

    Menu andalan Mecca Crispy Chicken dan Spicy Wings dibanderol sekitar Rp 20.000-an per porsi. Tekstur ayamnya renyah di bagian luar dan juicy di bagian daging dalamnya.

    Paduan bumbu rempah khas Timur Tengah yang bikin setiap gigitan kaya rasa dan bikin ketagihan. Selain ayam, tersedia French Fries, Onion Rings, dan minuman segar yang melengkapi santapan.

    Mecca Fried Chicken
    Jalan Perjuangan Lt. 1, RT.11/RW.10, Kb. Jeruk, Kec. Kb. Jeruk, Kota Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12260
    Telepon: 0811-1224-460

    4. King Abbas Fried Chicken

    King Abbas Fried Chicken mudah ditemukan di Pasar Kemis, Tangerang. Di sini kamu bisa mencicipi ayam goreng gurih dengan bumbu kaya rempah yang meresap ke daging.

    Pilihan bumbunya ada Original dan Spicy, keduanya sama lezatnya. Kamu bisa menikmati ayam goreng dengan nasi biasa, nasi kebuli, atau kentang goreng sesuai selera.

    Harganya sekitar Rp 20.000-an per porsi. Minumannya juga unik, mulai dari soda Arab hingga Pink Lava yang menyegarkan tenggorokan.

    King Abbas Fried Chicken
    Jalan Raya Taman Walet (Kios Grand Batavia) Sindang Sari, Pasar Kemis, Tangerang.
    Jam buka: 06.00-22.00

    5. AlBaq Saudi Chicken

    Ayam goreng crispy Timur Tengah di JakartaAlBaq Saudi Chicken Foto: Instagram/@albaqsaudichicken

    AlBaq Saudi Chicken berlokasi di kawasan Palmerah, Jakarta Barat. Dengan merogoh kocek senilai Rp 20.000 kamu bisa menikmati ayam goreng gurih yang bisa dipadu dengan nasi, kentang goreng, atau nasi kebuli.

    Camilannya juga menarik, seperti chicken & mashed potato fritters, Albaq nugget, fish nugget, dan french fries. Di sini menyajikan tiga pilihan saus untuk paduan makan ayam goreng.

    Mulai dari kurma, garlic mayo, dan sambal Saudi. Untuk minumannya tersedia piliha susu kurma yang manis dan menyegarkan.

    AlBaq Saudi Chicken
    Ruko Gaudia Home, Barat, Jl. Kyai H. Taisir No.3, RT.4/RW.11, Palmerah, Kec. Palmerah, Kota Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11480
    Telepon: 0858-8031-3923
    Jam buka: 10.00-21.00

    (raf/adr)



    Sumber : food.detik.com

  • Dokter Beberkan Minuman-Makanan Pemicu Penyakit Jantung, Sering Dikonsumsi Warga +62


    Jakarta

    Penyakit jantung kini tak lagi identik dengan lanjut usia (lansia), mereka yang berusia 30 hingga 40-an tahun pun juga bisa terkena. Kondisi ini bisa disebabkan oleh sejumlah faktor, salah satunya gaya hidup yang tak sehat..

    Spesialis bedah toraks dan kardiovaskular BraveHeart – Brawijaya Hospital Saharjo, dr Sugisman SpBTKV(K), menyoroti kebiasaan sehari-hari, terutama dalam hal pola makan, memiliki peran besar terhadap kesehatan jantung seseorang.

    Saat ini, lanjutnya, konsumsi makanan cepat saji atau junk food sudah menjadi hal yang dianggap biasa dan bahkan semakin mudah diakses karena layanan pemesanan daring yang kian populer.


    “Ya, memang kita lihat lah lifestyle dan pola makan kita saat ini. Semakin banyak kita saksikan makanan-makanan yang termasuk dalam golongan junk food. Yang dikonsumsi oleh kita-kita. Dan itu kita sudah anggap seperti biasa,” ucapnya dalam tayangan detikSore, Senin (10/11/2025).

    Selain itu, kebiasaan mengonsumsi minuman manis, bersoda, atau minuman energi juga turut memperburuk kondisi kesehatan kardiovaskular.

    Meski di sisi lain kesadaran masyarakat terhadap pentingnya berolahraga saat ini mulai meningkat, terlihat dari banyaknya orang yang rutin jogging, bersepeda, atau pergi ke pusat kebugaran, pola makan yang tidak seimbang masih menjadi tantangan besar.

    dr Sugisman menilai, masih banyak orang yang sudah menerapkan gaya hidup aktif dengan berolahraga secara rutin, namun belum diimbangi dengan perubahan dalam kebiasaan makan. Misalnya, setelah berolahraga, sebagian orang justru kembali mengonsumsi makanan tinggi lemak atau gula, seperti kopi bergula dan fast food.

    Pola ini membuat manfaat olahraga tidak maksimal karena tidak diiringi dengan nutrisi yang mendukung kesehatan jantung.

    “Nah itu yang membuat mungkin akhirnya jadi keseimbangannya jadi tergantung. Harusnya itu tapi jalan beriringan ya. Harusnya ya kalau bisa semuanya pola hidupnya jadi sehat gitu,” tuturnya.

    “Kalau lifestyle-nya sehat, pola makannya juga harus sehat. Sehingga kita bisa mencegah perkembangan perburukan kesehatan yang ke arah yang lebih jelek,” sambungnya lagi.

    Ditinjau oleh: Mhd. Aldrian, S.Gz, lulusan ilmu gizi Universitas Andalas, saat ini menjadi penulis lepas di detikcom.

    (suc/up)



    Sumber : health.detik.com

  • Waspada! Ini 6 Risiko Kecanduan Makanan Cepat Saji


    Jakarta

    Fast food atau makanan cepat saji memang enak dan murah, tetapi konsumsi berlebihan dapat membawa dampak negatif bagi tubuh dalam jangka panjang.

    Makanan cepat saji menjadi pilihan populer karena mudah ditemukan, rasanya enak, penyajiannya cepat dan harganya lebih murah. Namun mengkonsumsi fast food berkalori tinggi setiap hari dalam porsi besar dapat menimbulkan efek negatif bagi kesehatan.

    Alasannya berasal dari kandungan lemak jenuh, natrium yang tinggi, serta gula tambahan tersembunyi yang berbahaya untuk kesehatan. Meski begitu, bukan berarti makanan cepat saji harus dihindari sepenuhnya. Dalam porsi kecil dan sesekali, makanan ini masih bisa masuk dalam pola makan sehat.


    Menurut Ahli gizi Nicole Rodriguez, konsumsi makanan cepat saji setiap hari dapat menyebabkan berbagai efek samping, seperti peningkatan tekanan darah, kolesterol tinggi, kekurangan serat, hingga risiko diabetes tipe 2. Hal ini umumnya disebabkan oleh kandungan nutrisi yang tidak seimbang serta minimnya serat, vitamin, dan mineral penting dalam menu-menu cepat saji yang populer.

    Dilansir dari Eat This Not That (10/07/2025), berikut 6 efek yang dialami tubuh jika makan makanan cepat saji setiap hari:

    1. Meningkatkan Risiko Stroke

    assorted junk foodAneka makanan cepat saji yang bisa picu stroke. Foto: iStock

    Rodriguez, menjelaskan meski makanan cepat saji dapat menjadi bagian dari pola makan seimbang, mengonsumsinya lebih dari satu kali sehari secara rutin dapat meningkatkan asupan natrium.

    Sebagai contoh, satu porsi double cheeseburger, kentang goreng kecil, dan milkshake kecil dari salah satu restoran cepat saji dapat mengandung lebih dari 1.500 miligram natrium.

    Padahal menurut anjuran dari Dietary Guidelines for Americans 2020-2025, batas maksimal konsumsi natrium per hari untuk sebagian besar orang adalah 2.300 miligram. Jika dikonsumsi berlebihan, asupan natrium tinggi dapat memicu tekanan darah tinggi dan meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular serta stroke.

    2. Memicu Kenaikan Berat Badan

    Ilustrasi makanan cepat sajiIlustrasi makanan cepat saji Foto: Getty Images/arselozgurdal

    Porsi standar satu kali makan di restoran cepat saji seperti burger, kentang goreng, dan minuman bersoda bisa mencapai lebih dari 1.000 kalori. Kalori ini akan bertambah signifikan jika seseorang memilih burger yang berukuran besar, kentang goreng jumbo, dan minuman soda manis.

    Asupan kalori berlebihan yang terus-menerus serta melebihi kebutuhan tubuh harian, akan menyebabkan penambahan berat badan secara bertahap. Hal ini tentu berisiko bagi kesehatan dalam jangka panjang.

    3. Tubuh Kekurangan Serat

    Rodriguez menambahkan jika sebagian besar makanan diperoleh dari restoran cepat saji, kemungkinan besar asupan serat pada tubuh tidak akan memenuhi anjuran. Ia menyarankan konsumsi 14 gram serat per 1.000 kalori makanan.

    Contohnya pada salad ayam yang dijual di beberapa restoran cepat saji hanya memiliki kandungan 5 gram serat. Bahkan jika dikonsumsi tiga kali sehari, jumlah tersebut masih belum mencukupi kebutuhan harian.

    Rendahnya asupan biji-bijian utuh, kacang-kacangan, dan sayur serta buah segar di menu makanan cepat sajisulit memenuhi kebutuhan serat dan fitonutrien.

    Kekurangan serat pada tubuh bisa menimbulkan gangguan pencernaan, seperti sembelit, serta meningkatkan risiko kanker usus besar dan kolesterol tinggi.

    4. Risiko Kolesterol Tinggi

    Ilustrasi kolesterol tinggiIlustrasi kolesterol tinggi Foto: Getty Images/iStockphoto/interstid

    Salah satu masalah utama pada makanan cepat saji adalah tingginya kandungan lemak jenuh. Dalam diet 2.000 kalori, batas maksimal asupan lemak jenuh adalah 22 gram per hari. Sementara rata-rata satu porsi makanan cepat saji bisa mengandung lebih dari 75% bahkan mencapai 150% dari batas harian tersebut.

    Konsumsi lemak jenuh berlebih terbukti berkaitan dengan meningkatnya kadar kolesterol LDL (kolesterol jahat). Sehingga Dietary Guidelines for Americans menyarankan agar lemak jenuh tidak melebihi 10% dari total kalori harian setiap orang.

    5. Risiko Kekurangan Nutrisi

    Mengandalkan makanan cepat saji sebagai sumber utama asupan harian bisa membuat tubuh kekurangan nutrisi penting. Empat nutrisi penting yang sering mengalami kekurangan pada tubuh adalah kalsium, serat, vitamin D, dan kalium.

    Kalium banyak ditemukan dalam buah dan sayur dan jarang ditemukan di menu makanan cepat saji. Kalsium dapat diperoleh dari keju atau susu, namun jumlahnya tidak signifikan jika hanya dari selembar keju dalam burger.

    Vitamin D biasanya hanya tersedia dalam susu atau produk olahan susu tertentu yang juga jarang ditemukan di menu makanan cepat saji. Ketidakseimbangan ini berisiko menyebabkan kekurangan gizi mikro jika konsumsi fast food terus-menerus dilakukan.

    6. Meningkatkan Risiko Diabetes Tipe 2

    Image of an Asian Chinese woman helping her mother check blood sugar level using a blood glucose meter at homeIlustrasi cek gula darah bagi penderita diabetes. Foto: Getty Images/hxyume

    Sebuah studi beberapa waktu lalu menemukan bahwa konsumsi makanan cepat saji lebih dari dua kali seminggu berkaitan dengan meningkatnya risiko diabetes tipe 2, gangguan metabolik, dan risiko kematian akibat penyakit jantung koroner.

    Bagi individu yang memiliki kondisi pra-diabetes, makanan cepat saji tidak menjadi pilihan pola makan seimbang yang dibutuhkan, seperti setengah porsi sayuran di setiap piring, konsumsi biji-bijian utuh, dan sumber protein rendah lemak.

    Sehingga hal ini memperburuk kondisi kesehatan seseorang. Untuk itu penting agar tetap menjaga pola makan sehat yang berimbang. Menurut Rodriguez, sah-sah saja makan makanan cepat saji sesekali, asal tidak berlebihan dan tidak terus menerus.

    (sob/dfl)

    Sumber : food.detik.com

    Alhamdulillah Makanan Minuman Sehat Di JumatBerkah.Com اللهم صل على محمد
    Source : unsplash.com / Eater Collective

  • Makanan Manis dan Junk Food Picu Rasa Gelisah dan Stres


    Jakarta

    Di balik kelezatan junk food dan makanan manis, ternyata itu bisa menyebabkan kecemasan dan stres. Begini hasil penelitian para ahli.

    Ketika suasana hati terasa gelisah dan cemas, biasanya kita mengobati dengan makan makanan yang menyenangkan. Junk food dan makanan manis pun hampir selalu jadi pilihan.

    Namun, sebuah penelitian di University of Colorado di Boulder mempelajari keterkaitan antara pola makan tinggi lemak dan gula dengan peningkatan rasa cemas.


    Alih-alih mengurangi kecemasan, makan junk food dan makanan manis justru dapat memperburuk suasana hati tersebut. Selain itu, kedua makanan tersebut juga menyebabkan berat badan bertambah.

    Makanan Junk FoodJunk Food dapat memicu stres dan gelisah. Foto: iStockphoto

    Menurut penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Biological Research, pola makan tinggi lemak jenuh dapat mengganggu keseimbangan bakteri usus, lapor Food NDTV (18/06/24).

    Gangguan ini dikenal sebagai dysbiosis yang dapat memicu perubahan perilaku dan memengaruhi kimia pada otak melalui poros otak-usus yang rumit.

    Perubahan seperti ini pada akhirnya berpotensi pada peningkatan tingkat kecemasan. Hal ini telah dibuktikan peneliti dengan bereksperimen pada tikus.

    Para peneliti mengamati bahwa tikus-tikus yang diberi diet tinggi lemak menunjukkan tanda-tanda peradangan saraf dan perilaku yang berhubungan dengan kecemasan.

    Ilustrasi junk foodIlustrasi junk food Foto: Shutterstock

    Hasil ini menggarisbawahi implikasi yang lebih luas dari pilihan makanan selain kesehatan fisik, dan juga menyoroti dampak signifikan terhadap kesehatan mental.

    Penelitian ini mengeksplorasi lebih lanjut bahwa poros mikrobioma-usus-otak bersama dengan sistem serotonin di otak memainkan peran penting dalam membentuk hubungan ini.

    Keanekaragaman dan komposisi mikrobioma usus, terutama dipengaruhi oleh pola makan, merupakan faktor penting yang mempengaruhi kesejahteraan mental.

    Temuan penelitian ini mengejutkan sekaligus menjadi peringatan bagi semua orang yang mengalami stres. Sebagai alternatif pengganti junk food dan makanan manis, kamu bisa mengonsumsi kacang-kacangan untuk menghindari perasaan cemas dan stres.

    (raf/odi)



    Sumber : food.detik.com

  • Hati-hati Makanan Olahan Bisa Memicu Kanker Paru-paru!


    Jakarta

    Kebiasaan makan mie instan sampai nugget dan sosis ternyata bisa memicu resiko terkena kanker paru-paru. Zat tambahan di dalamnya jadi kekhawatiran para ahli.

    Sebuah studi terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal Thorax, menunjukkan bahwa konsumsi tinggi makanan olahan atau ultra proses (ultra-processed food/UPF) berkaitan dengan peningkatan risiko kanker paru-paru.

    Meskipun penelitian lanjutan masih diperlukan pada populasi yang lebih luas, para peneliti menyarankan bahwa membatasi konsumsi makanan jenis ini dapat membantu menurunkan angka penderita penyakit tersebut di dunia.


    Mengingat kanker paru-paru merupakan jenis kanker paling umum di dunia, dengan sekitar 2,2 juta kasus baru hingga 1,8 juta kematian yang tercatat pada tahun 2020 lalu.

    Cemburu Pacarnya Jajan Chicken Nugget Sendirian, Cowok Ini Minta PutusNugget merupakan makanan ultra proses. Foto: Getty Images/iStockphoto/

    Dilansir dari Medical Net (31/07/2025), makanan ultra proses biasanya melalui tahap pengolahan panjang, mengandung banyak zat aditif dan pengawet, serta tersedia dalam bentuk siap saji atau siap dipanaskan.

    Contohnya mie instan, sosis, nugget, minuman kemasan, makanan ringan kemasan, dan produk roti sampai kue kemasan yang banyak ditemukan di toko dan supermarket. Konsumsi tinggi makanan ini sebelumnya sudah dikaitkan dengan risiko sejumlah penyakit dan studi ini ingin menyelidiki kemungkinan hubungannya dengan kanker paru-paru.

    Penelitian ini menggunakan data dari Prostate, Lung, Colorectal and Ovarian (PLCO) Cancer Screening Trials di Amerika Serikat yang melibatkan 155.000 peserta berusia 55-74 tahun.

    Dari jumlah tersebut, 101.732 orang mengisi kuesioner yang berisi informasi seputar pola makan sehari-hari saat awal partisipasi. Makanan dikategorikan berdasarkan tingkat pengolahannya, dengan fokus khusus pada jenis UPF seperti es krim, makanan cepat saji, minuman ringan, roti kemasan dan mie instan.

    5 Efek Makan Mie Instan yang Tak Berkaitan dengan KesehatanEfek Makan Mie Instan Berkaitan dengan Kesehatan Foto: Site News

    Rata-rata konsumsi UPF yang disesuaikan dengan energi harian adalah tiga porsi per hari. Kemudian semua peserta dipantau selama 12 tahun. Hasilnya tercatat ada 1.706 kasus baru kanker paru-paru.

    Termasuk 1.473 kasus kanker paru-paru non-sel kecil (NSCLC), serta 233 kasus kanker paru-paru sel kecil (SCLC). Kebanyakan peserta yang menderita kanker paru-paru merupakan partisipan yang sering mengonsumsi makanan jenis UPF dalam jumlah tinggi.

    Setelah menyesuaikan berbagai faktor yang dapat mempengaruhi hasil, termasuk kebiasaan merokok dan kualitas diet secara keseluruhan, para peneliti menemukan bahwa peserta dengan konsumsi UPF tertinggi memiliki kemungkinan 41% lebih besar untuk didiagnosis menderita kanker paru-paru. Dibandingkan mereka yang berada di kelompok terendah atau peserta yang jarang konsumsi makanan UPF.

    Meskipun studi ini bersifat observasional dan belum dapat menyimpulkan hubungan sebab-akibat secara pasti, para peneliti menyoroti rendahnya nilai gizi dari makanan UPF serta tingginya kandungan gula, garam, dan lemak.

    Mereka juga mengungkapkan bahwa konsumsi UPF secara global terus meningkat selama dua dekade terakhir dan menjadi pendorong utama kenaikan kasus obesitas, penyakit jantung, gangguan metabolik dan kanker di berbagai negara.

    Konsumsi tinggi UPF juga berpotensi menggantikan asupan makanan sehat seperti biji-bijian utuh, buah, dan sayur yang diketahui mampu melindungi tubuh dari kanker.

    Proses makanan pabrik dalam pengolahan makanan dinilai mengubah struktur makanan, mempengaruhi ketersediaan, dan penyerapan nutrisi. Peneliti menekankan perlunya studi lanjutan berskala besar pada populasi yang berbeda untuk mengonfirmasi temuan ini.

    (sob/dfl)



    Sumber : food.detik.com