Tag: marah

  • Hadits Larangan Marah dalam Islam, Muslim Pahami Yuk!


    Jakarta

    Marah adalah satu dari sekian banyak ekspresi yang dimiliki oleh manusia. Banyak faktor yang menyebabkan timbulnya rasa marah.

    Islam sendiri tidak pernah melarang manusia untuk marah karena hal itu manusiawi. Hanya saja, ada sejumlah keutamaan yang diraih bagi kaum muslimin apabila dapat menahan dan mengendalikan amarahnya.

    Dalam surah Ali Imran ayat 133-134, Allah SWT berfirman:


    وَسَارِعُوٓا۟ إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا ٱلسَّمَٰوَٰتُ وَٱلْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ (133) ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ فِى ٱلسَّرَّآءِ وَٱلضَّرَّآءِ وَٱلْكَٰظِمِينَ ٱلْغَيْظَ وَٱلْعَافِينَ عَنِ ٱلنَّاسِ ۗ وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلْمُحْسِنِينَ (134)

    Arab latin: Wa sāri’ū ilā magfiratim mir rabbikum wa jannatin ‘arḍuhas-samāwātu wal-arḍu u’iddat lil-muttaqīn. Allażīna yunfiqụna fis-sarrā`i waḍ-ḍarrā`i wal-kāẓimīnal-gaiẓa wal-‘āfīna ‘anin-nās, wallāhu yuḥibbul-muḥsinīn

    Artinya: “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.”

    Selain dalil Al-Qur’an, ada sejumlah hadits yang membahas tentang larangan marah dan keutamaannya. Simak bahasannya seperti dinukil dari buku Ihya Ulumuddin oleh Imam Al Ghazali dan arsip detikHikmah.

    Hadits Larangan Marah

    Larangan marah di sini bukan berarti benar-benar tidak boleh marah. Melainkan lebih kepada menahan diri ketika marah atau naik pitam, sebab ekspresi marah yang berlebihan dapat merugikan diri sendiri hingga orang lain.

    1. Hadits Jangan Mudah Marah

    Dari Abu Hurairah RA bahwa ada seorang laki-laki berkata kepada Nabi SAW,

    “Berilah wasiat kepadaku,” Sabda Nabi SAW: “Janganlah engkau mudah marah.” Maka diulanginya permintaan itu beberapa kali. Sabda beliau, “Janganlah engkau mudah marah.” (HR Bukhari)

    2. Hadits Anjuran Menahan Amarah

    “Seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah SAW, ‘Dosa apa yang besar di sisi Allah?’ ‘Membuat murka Allah,’ jawab Nabi Muhammad saw. Ia bertanya lagi, ‘Apa yang dapat menjauhkanku dari murka-Nya?’ ‘Tahan marah,’ jawab Rasulullah SAW,” (HR Ahmad)

    3. Hadits Menahan Marah sebagai Penyelamat Murka Allah

    “Dari Abdullah bin Amr RA bahwa ia bertanya kepada Rasulullah SAW, ‘(Wahai Rasulullah), apa yang dapat menyelamatkanku dari murka Allah?’ ‘Tahan marah,’ jawab Rasulullah saw,” (HR At-Thabrani dan Ibnu Abdil Barr)

    4. Hadits Anjuran Diam ketika Marah

    Dari Ibnu Abbas RA, Nabi SAW bersabda:

    “Apabila seorang dari kalian marah, hendaklah ia diam.” (HR Ahmad dan Bukhari)

    5. Hadits Orang yang Menahan Marah Niscaya Diganjar Surga

    Dari Abu Darda RA, Rasulullah SAW bersabda:

    “Jangan kamu marah, maka kamu akan masuk Surga.” (HR Ath-Thabrani)

    Demikian sejumlah hadits yang membahas tentang larangan marah. Semoga bermanfaat!

    (aeb/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Allahu Yahdik dan Waktu yang Tepat untuk Mengamalkannya


    Jakarta

    Umat Islam selalu diajarkan untuk bertutur kata baik. Ditambah, sesama umat Islam diperintahkan untuk saling mendoakan kebaikan, baik secara langsung atau sembunyi-sembunyi.

    Sering kali kita tidak sadar mengucapkan kata yang sebenarnya bermakna doa. Misalnya, Assalamu’alaikum yang bermakna “semoga Allah melimpahkan keselamatan, rahmat, dan keberkahan untukmu”.

    Bagi umat Islam mungkin sudah tidak asing lagi dengan kata Allahu Yahdik. Namun tidak menutup kemungkinan, kata tersebut masih terdengar asing ditelinga, tidak taju artinya dan juga maknanya.


    Lalu apa arti Allahu Yahdik dan kapan harus memakai Allahu Yahdik? Lalu apa hikmah dari mengucapkan Allahu Yahdik?

    Pengertian Allahu Yahdik

    Seperti yang dapat dilihat, Allahu Yahdik ( اللَهُ يَهْدِك) terdiri dari dua kata, yakni Allahu yang artinya “Allah”, dan Yahdik yang artinya “Membalas dengan kebaikan” atau “Memberi petunjuk kebaikan.” Menukil buku The Prophetic Parenting oleh A.R. Shohibul Ulum, bisa disimpulkan jika kata Allahu Yahdik memiliki makna “Semoga Allah memberimu cahaya hidayah/petunjuk”.

    Allahu yahdik dapat digunakan dengan berbagai varian tulisan dan pengucapan, disesuaikan juga dengan siapa kita berbicara. Berikut cara memakainya:

    • Allahu yahdika (اَللهُ يَهْدِيكَ), ucapan tersebut ditujukan kepada laki-laki.
    • Allahu yahdiki (اَللهُ يَهْدِيكِ), ucapan tersebut ditujukan kepada perempuan.
    • Allahu yahdikuma (اَللهُ يَهْدِيكُمَا), ucapan tersebut ditujukan kepada dua orang laki-laki, atau dua orang perempuan, atau dua orang terdiri dari laki-laki dan perempuan.
    • Allahu yahdikum (اَللهُ يَهْدِيكُمْ), ucapan tersebut ditujukan kepada banyak laki-laki.
    • Allahu yahdikunna (اَللهُ يَهْدِيكُنَّ), ucapan tersebut ditujukan kepada banyak perempuan.

    Waktu yang Tepat untuk Mengucapkan Allahu Yahdik

    Untuk mengucapkan Allahu Yahdik ada waktu tertentu. Merangkum dari berbagai sumber, kata ini sesuai ketika kita bertemu dengan seseorang yang sedang kebingungan prihal agama, sehingga kita mendoakannya agar Allah segera memberinya petunjuk.

    Adapun kata ini diucapkan saat ada seseorang yang berbuat kesalahan dan maksiat. Agar orang tersebut selalu ingat dengan Allah, dan semoga hidayah dari Allah segara turun kepadanya.

    Namun mengucapkan Allahu Yahdik tidak boleh dibarengi dengan perasaan merendahkan orang lain, atau merasa diri sendiri paling benar. Sebagian orang yang mengucapkan kata ini seolah-olah orang yang ada di hadapannya berada di dalam kesesatan dan jauh dari jalan Allah SWT.

    Selain itu Allahu Yahdik juga bisa dipakai ketika seseorang sedang marah. Karena ucapan adalah doa, maka daripada mengucapkan hal-hal yang buruk lebih baik mendoakan orang yang sedang membuat kita kesal atau marah.

    Oleh karena itu, marilah kita menjaga perkataan kita agar tidak mengucapkan doa atau ungkapan buruk terutama kepada saudara atau keturunan kita. Saat kita merasa sangat marah terhadap anak atau keluarga, alangkah baiknya jika kita menggantinya dengan kata-kata yang baik.

    Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menyampaikan,

    ثَلَاثُ دَعْوَاتٍ يُسْتَجَابُ لَهُنَّ لَا شَكَّ فِيْهِنَّ : دَعْوَةُ المَظْلُوْمِ وَ دَعْوَةُ المُسَافِرِ وَ دَعْوَةُ الوَالِدِ لِوَلَدِهِ.

    “Tiga doa yang pasti dikabulkan dan tidak ada keraguan dalam terkabulnya: doa orang yang dizalimi, doa orang yang bepergian, dan doa kebaikan orang tua untuk anaknya.” (HR. Muslim no. 3009).

    Makna dan Hikmah Mengucapkan Allahu Yahdik

    Sejumlah hikmah dapat diperoleh dari pengucapan Allahu Yahdik. Salah satu hikmahnya adalah kita saling mendoakan sesama muslim agar selalu berada di jalan Allah SWT.

    Mengucapkan Allahu Yahdik dapat memotivasi diri kita dan orang lain untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Terlebih dalam meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT agar senantiasa ada dalam hidayah.

    Selain itu, saat kita mengingatkan saudara sesama muslim untuk tidak berbuat maksiat, secara tidak langsung kita juga mengingatkan diri sendiri untuk tidak berbuat maksiat dan selalu mendekat kepada Allah SWT. Maka pengucapan kata ini sangat memiliki makna besar bagi orang lain maupun diri sendiri agar tidak terjerumus dalam dosa.

    Hidayah adalah hal prerogatif Allah SWT, manusia hanya dapat berusaha untuk memperolehnya. Hidayah merupakan bukti maha kekuasaan Allah SWT terhadap hambanya.

    Semoga detikers adalah hamba Allah yang selalu berada di jalan-Nya dan selalu dilimpahkan hidayah. Amin.

    (hnh/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Jangan Emosi! Ini 7 Keutamaan Menahan Marah Sesuai Hadits



    Jakarta

    Marah terjadi jika emosi yang dialami oleh setiap manusia meluap. Namun dalam Islam, menahan marah dianggap sebagai tindakan luhur yang membawa keberkahan dan pahala.

    Seorang muslim juga akan mendapatkan keutamaan yang mulia jika ia mampu menahan marahnya. Lantas, bagaimana cara menahan marah? Dan apa saja keutamaan menahan marah?

    Keutamaan Menahan Marah

    Merujuk pada buku Ihya Ulumiddin: Menghidupkan Kembali Ilmu-ilmu Agama oleh Imam Al-Ghazali, berikut beberapa keutamaan menahan marah sesuai dengan hadits:


    1. Allah SWT akan Menahan Siksa-Nya

    Rasulullah SAW bersabda, “Siapa saja yang menahan kemarahannya, niscaya Allah menahan siksa-Nya daripadanya, dan siapa saja yang mengemukakan alasannya kepada Rabbnya, niscaya Allah menerima alasannya, dan siapa saja yang menyimpan lidahnya, niscaya Allah menutupi auratnya (segala sesuatu, yang dianggap malu). (HR Thabrani dan lainnya)

    2. Termasuk Orang yang Kuat

    Rasulullah SAW bersabda, “Orang-orang yang kuat di antara kalian adalah orang yang dapat mengalahkan hawa nafsunya ketika marah, dan orang yang paling santun di antara engkau adalah orang yang memaafkan ketika mampu.” (HR Ibnu ad-Dunya dan lainnya)

    3. Mendapat Ridha dari Allah SWT pada Hari Kiamat

    Rasulullah SAW bersabda, “Siapa saja yang menahan marah di mana seandainya ia mau melaksanakannya, maka ia dapat melaksanakannya, niscaya Allah memenuhi kalbunya dengan keridhaan pada hari Kiamat.”

    Dalam riwayat lain dinyatakan, “Niscaya Allah memenuhi kalbunya dengan rasa aman, dan keimanan.” (HR Ibnu ad-Dunya dan lainnya)

    4. Mendapatkan Pahala yang Besar

    Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah seorang hamba meneguk tegukan yang lebih besar pahalanya daripada seteguk kemarahan yang ditahannya karena mengharapkan keridhaan Allah.” (HR Ibnu Majah)

    5. Terlindung dari Neraka Jahannam

    Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya neraka Jahannam mempunyai pintu yang tidak memasukinya kecuali orang yang sembuh kemarahannya dengan perbuatan maksiat kepada Allah Ta’ala.”

    6. Hatinya Dipenuhi dengan Keimanan

    Rasulullah SAW bersabda, “Tidak ada tegukan yang lebih disukai oleh Allah SWT daripada tegukan kemarahan yang ditahan oleh seorang hamba. Dan tidaklah seorang hamba menahannya, kecuali Allah memenuhi kalbunya dengan keimanan.” (HR Ibnu ad-Dunya)

    7. Mendapatkan Bidadari

    Rasulullah SAW bersabda, “Siapa saja menahan kemarahan, sedang ia mampu melaksanakannya, maka Allah memanggilnya di hadapan makhluk-makhluk dan Dia menyuruhnya memilih mana bidadari yang dikehendaki.”

    Cara Menahan Marah

    Agar mendapatkan keutamaan dari menahan marah, maka setiap muslim harus mampu menahan perasaan marah dari dirinya. Merujuk pada Buku Ajar Akidah Akhlak oleh Syafiuddin dan Machnunah Ani Zulfah, berikut cara menahan marah:

    1. Menahan marah dengan beristighfar

    Jika seseorang sedang marah dalam keadaan berdiri, maka cara meredamnya dengan duduk. Namun jika marah dalam keadaan duduk, maka berusaha untuk tiduran atau berbaring sambil membaca istighfar.

    2. Meredam marah dengan menahan diri

    Pada suatu saat, datanglah seorang laki-laki yang meminta wasiat Rasulullah SAW. Kemudian Rasulullah SAW memberinya wasiat agar jangan marah.

    3. Meredam marah dengan berwudhu

    Wudhu menjadi salah satu cara untuk meredam rasa marah. Sebab, wudhu mampu mensucikan semua tindakan yang kurang suci, seperti rasa marah.

    4. Meredam marah dengan berdiam diri

    Obat yang sangat ampuh ketika marah muncul adalah diam. Sebab, jika sedang marah pasti kata-kata kasar akan keluar karena tidak bisa mengontrol. Maka dari itu, alangkah baiknya diam ketika sedang marah.

    5. Meredam marah dengan membaca ta’awudz

    Dengan membaca ta’awudz, maka seseorang memohon perlindungan Allah SWT dari godaan setan yang selalu membangkitkan rasa marah. Melalui syari’at Allah SWT yang agung, Allah SWT melindungi hamba-Nya dari segala kelicikan dan keburukan setan jika hamba-Nya membaca ta’awudz.

    (dvs/dvs)



    Sumber : www.detik.com

  • Hadits Rasulullah SAW: Jangan Marah, Bagimu Surga


    Jakarta

    Sebuah hadits shahih menyebutkan, Rasulullah SAW pernah berwasiat kepada umatnya tentang larangan marah sebab bagimu surga.

    Disebutkan dalam buku Syarah Hadits Arba’in yang disyarah oleh Imam Muhyiddin An-Nawawi, dkk, Rasulullah SAW berwasiat kepada seorang yang datang kepada beliau.

    Orang itu berkata, “Ya Rasulullah, ajarilah aku ilmu yang dapat mendekatkanku menuju surga dan menjauhkan diriku dari neraka.” Rasulullah SAW menjawab, “Jangan marah maka engkau akan berhak mendapatkan surga.” (HR Ath-Thabrani)


    Jangan marah, bagimu surga. Kalimat ini tentu sudah sering didengar oleh para muslimin. Sebab, Allah SWT yang menjanjikan surga kepada orang yang bisa menahan amarah dan memaafkan.

    Allah SWT berfirman dalam surah Ali-Imran ayat 133-134 yang berbunyi,

    ۞ وَسَارِعُوْٓا اِلٰى مَغْفِرَةٍ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمٰوٰتُ وَالْاَرْضُۙ اُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِيْنَۙ ١٣٣ الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ فِى السَّرَّۤاءِ وَالضَّرَّۤاءِ وَالْكٰظِمِيْنَ الْغَيْظَ وَالْعَافِيْنَ عَنِ النَّاسِۗ وَاللّٰهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَۚ ١٣٤

    Artinya: Bersegeralah menuju ampunan dari Tuhanmu dan surga (yang) luasnya (seperti) langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang selalu berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, orang-orang yang mengendalikan kemurkaannya, dan orang-orang yang memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.

    Larangan Marah dalam Islam

    Marah merupakan sifat manusiawi dan bisa dialami siapa saja. Bedanya, orang yang beriman hendaknya tidak meluapkan amarah tersebut dan malah dikuasai oleh emosi. Apalagi ia malah bertindak yang melampaui batas.

    Rasulullah SAW pernah berkata, orang-orang yang bisa menahan amarah meskipun ia sangat emosi dan bisa meluapkannya disebut sebagai orang yang kuat. Dilansir buku 100 Hadits Pilihan (Materi Hafalan, Kultum dan Ceramah Agama) oleh Muh. Yunan Putra, disebutkan hadits sahih yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA yang mengutip sabda Rasulullah SAW,

    عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ (رواه البخاری، مسلم و أحمد)

    Artinya: Dari Abu Hurairah RA bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Tidaklah orang yang kuat adalah orang yang pandai bergulat, tapi orang yang kuat adalah orang yang dapat menahan nafsunya ketika ia marah.” (HR Bukhari, Muslim, dan Ahmad)

    Rasulullah SAW bahkan mengulangi perintah untuk menahan marah berkali-kali. Ketika itu ada seorang sahabat meminta nasihat kepada beliau, kemudian beliau bersabda,

    حدثني يحيى بن يوسف اخبرنا ابو بكر هو ابن عباس عن أبي حصين عن ابي صالح عن ابي هريرة الله أن رجلا قال للنبي ﷺ أوصني قال: لا تغضب فردد مرارا قال لا تغضب. رواه البخاري

    Artinya: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Yusuf, telah memberitahukan kepada kami Abu Bakar dari Abi Hasin dari Abi Sholih dari Abu Hurairah RA bahwasanya ada seorang lelaki berkata kepada nabi SAW: “Wasiatilah aku” Nabi bersabda: “Jangan marah” la mengulanginya beberapa kali. Nabi bersabda: “Jangan marah.” (HR Bukhari)

    Untuk menaati perintah Allah SWT dan Rasulullah SAW, ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk menahan amarah dan emosi. Apa saja itu?

    Cara Menahan Amarah

    Dalam sumber sebelumnya disebutkan, Rasulullah SAW berpesan, amarah bisa diredam dengan melakukan beberapa hal, yakni duduk, tidur atau berbaring, dan wudhu. Rasulullah SAW bersabda,

    إِيَّاكُمْ وَ الْغَضَبَ فَإِنَّهُ حَمْرَةٌ تَتَوَقَّدُ فِي فُؤَادِ ابْنِ آدَمَ أَلَمْ تَرَ إِلَى أَحَدِكُمْ إِذَا غَضِبَ كَيْفَ تَحْمَرُّ عَيْنَاهُ وَتَنْفَتِحُ أَوْدَاجُهُ فَإِذَا أَحَسَّ أَحَدُكُمْ بِشَيْءٍ مِنْ ذَلِكَ فَلْيَضْطَجِعْ أَوْ لِيَلْصَقْ بِالْأَرْضِ

    Artinya: “Jauhilah sikap marah karena ia merupakan bara yang akan menyala di dalam hati anak keturunan Adam. Tidakkah kamu lihat salah seorang di antara kalian jika dia marah, bagaimana ketika matanya memerah dan urat lehernya membengkak. Jika salah seorang di antara kamu merasakan sesuatu dari hal itu, hendaklah dia berbaring atau duduk ke tanah.” (HR Ahmad)

    Di lain kesempatan, beliau juga berwasiat kepada umatnya, “Sesungguhnya, marah itu datangnya dari setan: sedangkan setan itu tercipta dari api; sedangkan api itu dapat dipadamkan dengan air. Maka, jika salah seorang di antara kalian marah, hendaklah segera berwudhu.” (HR Ahmad)

    Hadits-hadits di atas menjelaskan, apabila seseorang sedang dikuasai emosi, hendaknya ia menahannya. Jika ia sedang berdiri, duduklah. Jika dia sedang duduk, berbaringlah. Terakhir, jika semua itu sudah dilakukan dan masih marah, berwudhulah.

    (rah/rah)



    Sumber : www.detik.com

  • Kisah Abu Bakar yang Menahan Marah saat Dicela


    Jakarta

    Menahan marah memang tidak mudah, tapi muslim wajib melakukannya. Sebuah kisah dari Abu Bakar RA mengajarkan bahwa menahan marah adalah perbuatan mulia.

    Rasulullah SAW mengajarkan umat Islam untuk menahan marah ketika sedang merasa emosi. Anjuran menahan marah telah dijelaskan dalam beberapa hadits.

    Dari Abu Hurairah RA, ia berkata bahwasanya Nabi SAW bersabda: “Orang yang kuat itu bukanlah karena jago gulat, tetapi orang kuat ialah orang yang dapat menahan dirinya di kala sedang marah.” (HR Bukhari dan Muslim).


    Dalam Al-Qur’an terdapat ayat yang memerintahkan setiap muslim untuk menahan amarah. Siapapun yang mampu menahan marahnya maka termasuk dalam golongan orang bertakwa yang mendapat ampunan Allah SWT.

    Dalam surat Ali Imran ayat 133-134, Allah SWT berfirman yang artinya, “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.”

    Kisah Abu Bakar Menahan Marah

    Mengutip buku Kisah Mengagumkan dalam Kehidupan Rasulullah SAW karya Khoirul Anam, dikisahkan suatu ketika Rasulullah SAW sedang duduk bersama Abu Bakar RA. Tiba-tiba muncul seseorang yang mencela Abu Bakar RA.

    Menyaksikan tingkah orang itu, Rasulullah SAW hanya diam dan tersenyum. Namun, Abu Bakar merasa jengkel dan kesal mendengar celaan orang itu sehingga ia pun balas mencelanya. Namun, Rasulullah SAW tidak menyukai hal yang dilakukan Abu Bakar.

    Beliau bangkit berdiri dan merengkuh pundak Abu Bakar dengan raut wajah yang menampakkan kemarahan.

    Tentu saja Abu Bakar merasa heran dan bertanya, “Ya Rasul, ketika orang itu mencelaku, kau tetap duduk dan diam. Namun, ketika aku membantah celaannya, engkau tampak marah dan berdiri?”

    Rasulullah SAW menjelaskan, “Ketika kau diam dan tidak membalas, ada malaikat yang menyertaimu dan ialah yang membantah celaan orang itu. Namun ketika kau mulai membantahnya, malaikat itu pergi dan yang datang adalah setan.”

    Abu Bakar terdiam mendengar penjelasan Rasulullah SAW kemudian beliau melanjutkan, “Hai Abu Bakar, ada tiga hal yang semuanya benar. Pertama, ketika seorang hamba dizalimi, kemudian ia memaafkan karena Allah, niscaya Allah akan memuliakannya dengan pertolongan-Nya. Kedua, ketika seorang hamba memberi sedekah dan menginginkan kebaikan, Allah akan menambah banyak hartanya. Ketiga, ketika seorang hamba meminta harta kepada manusia untuk memperbanyak hartanya, niscaya Allah tambahkan kepadanya kekurangan.”

    Dalam kesempatan lain, beliau bersabda, “Jika engkau marah, diamlah. Jika engkau marah, diamlah. Jika engkau marah, diamlah.”

    (dvs/inf)



    Sumber : www.detik.com