Tag: meditasi

  • Pilates dan Yoga Apa Bedanya? Ini Penjelasan Lengkapnya untuk Pemula

    Jakarta

    Pilates dan Yoga merupakan dua olahraga yang berfokus pada pengendalian gerakan tubuh dengan pikiran, serta biasanya dilakukan di area yang tenang.

    Bagi awam, kedua olahraga ini terlihat sama. Akan tetapi, baik yoga dan pilates memiliki karakteristik dan dasarnya masing-masing, mulai dari asal-usul, gerakan, intensitas, hingga manfaat yang dihasilkan.

    Pada artikel kali ini, detikSport telah merangkum perbedaan antara pilates dan yoga, sehingga dapat dengan mudah dipahami oleh pemula. Yuk, simak penjelasannya berikut ini.


    Asal-usul Yoga dan Pilates

    Mengutip dari Jurnal Nusantara Community Service, pilates merupakan metode latihan yang dirancang untuk meningkatkan kekuatan tubuh bagian inti, memperbaiki postur tubuh, serta meningkatkan fleksibilitas dan keseimbangan tubuh. Latihan ini dikenal dapat membantu mengurangi rasa sakit pada punggung yang sering dialami wanita, serta mengurangi kecemasan serta stres.

    Pilates adalah aktivitas low impact yang mampu memperkuat dan menstabilkan core otot dengan serangkaian gerakan dan latihan pernafasan untuk memperkuat otot abdomen, pinggang, hingga kaki dan tangan.

    Sementara itu, yoga merupakan latihan tubuh dan pikiran yang berasal dari India. Olahraga ini semakin maju sebagai praktik kesehatan untuk berbagai ilmu imunologi, neuromuskuler, psikologis, dan kondisi nyeri.

    Mengutip dari Jurnal Maternitas UAP, Yoga berpotensi menciptakan keseimbangan di sepanjang dimensi emosional, mental, fisik, dan spiritual. Praktisi yoga dikenal dengan “yogl” yang diharapkan mencapai “Brahman” yaitu pencerahan dimana manusia menyadari hakikat diri sejati, sebagai bagian dari alam semesta.

    Fokus Gerakan

    Pada pilates, fokus utama adalah membangun kekuatan inti melalui gerakan kecil yang konsisten dan berulang. Aktivitas fisik dalam pilates dapat menguatkan otot perut, pinggang, kaki, dan tangan. Pilates juga memiliki latihan pernapasan dan konsentrasi yang dapat meningkatkan keseimbangan tubuh,

    Sedangkan yoga, lebih mengacu pada hubungan antara pikiran dan tubuh, terdiri dari pose-pose yang dipertahankan dalam waktu yang lebih lama. Latihan ini juga didominasi aktivitas meditasi, spiritualitas, yang tidak ditemukan dalam pilates.

    Intensitas Latihan

    Dalam intensitas latihan, yoga dinilai lebih lambat, dengan pose yang ditahan dalam durasi yang cukup lama. Hal ini bertujuan untuk menenangkan pikiran dan menjaga fleksibilitas tubuh.

    Sementara itu, pilates memiliki intensitas yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan yoga. Latihan pilates mencakup gerakan berulang yang berfokus memperkuat otot inti tubuh.

    Manfaat yang Dihasilkan

    Secara umum, pilates dan yoga sama-sama memiliki manfaat yang luar biasa bagi kesehatan tubuh dan kebugaran pikiran.

    Berikut beberapa manfaat yang didapatkan dari latihan pilates:

    • Meningkatkan pernapasan.
    • Memperbaiki postur tubuh.
    • Meredakan nyeri pada punggung.
    • Meredakan sakit pada saat menstruasi.
    • Mencegah osteoporosis.
    • Membantu meningkatkan konsentrasi dan fokus.
    • Mengurangi stres.

    Di sisi lain, yoga memiliki manfaat sebagai berikut:

    • Meredakan nyeri pada bagian punggung hingga leher.
    • Menjaga kualitas tidur.
    • Mengurangi stres dan menjaga kesehatan mental.
    • Membantu mengatasi masalah menopause.
    • Menurunkan berat badan.
    • Meningkatkan keseimbangan tubuh.

    Jika detikers masih bingung dalam menentukan pilihan latihan yang tepat, dapat menyesuaikan dengan preferensi dan tujuan. Yoga sangat cocok bagi pemula yang menginginkan latihan lebih lambat dan lebih condong bermanfaat untuk kesehatan mental. Sementara pilates berfokus pada peningkatan kekuatan inti dengan tempo yang lebih cepat.

    Agar mengetahui mana yang lebih baik, detikers dapat mencoba keduanya terlebih dahulu. Namun jika memiliki kondisi atau masalah kesehatan tertentu, ada baiknya berkonsultasi terlebih dahulu kepada dokter agar latihan lebih aman dan manfaat yang didapatkan lebih optimal.


    Artikel ini ditulis oleh Salamah Harahap, peserta magang di detikcom.

    (krs/krs)

    Sumber : sport.detik.com

    Alhamdulillah lapangan olahraga اللهم صل على رسول الله محمد
    ilustrasi gambar : unsplash.com / sandro schuh
  • Rahasia Fokus dan Percaya Diri Atlet Dunia


    Jakarta

    Mental juara menjadi salah satu aspek yang mendorong keberhasilan atlet di lapangan. Tidak hanya latihan fisik, keterampilan, dan taktik, namun mental yang positif juga harus dilatih untuk mendapatkan prestasi yang maksimal.

    Mengutip dari Jurnal Pendidikan Islam, persiapan mental yang tepat berfungsi sebagai pengendali, pengontrol, dan perintah untuk melakukan aktivitas motorik. Tingkat kinerja yang tinggi dapat diantisipasi dengan mental atlet yang positif.

    Pada artikel kali ini, detikSport telah merangkum ulasan bagaimana cara membangun mental juara yang menjadi rahasia fokus dan percaya diri atlet dunia. Yuk, simak rangkumannya di bawah ini.


    1. Latihan Kekuatan Mental dan Konsistensi dengan Meditasi

    Para atlet dunia melakukan banyak strategi psikologis untuk membangun mental yang kuat demi mempertahankan performa yang baik di lapangan. Salah satu cara yang bisa digunakan yaitu melalui pelatihan kognitif. Latihan ini dilakukan dengan menghadapi tantangan melalui pikiran konstruktif. Pelatihan kognitif membantu atlet lebih tenang saat bertanding dan menghindari kesalahan akibat tekanan.

    Selain itu, meditasi juga diperlukan untuk menjaga ketenangan pikiran, baik sebelum maupun setelah bertanding. Dengan meditasi, para atlet dapat mengontrol emosi dengan baik sehingga dapat meningkatkan performa dalam pertandingan.

    2. Melatih Fokus dengan Visualisasi Mental

    Visualisasi mental menjadi salah satu teknik yang digunakan untuk melatih kepercayaan diri dan membangun motivasi. Para atlet percaya dengan membayangkan diri mereka berhasil memenangkan sebuah pertandingan, mencetak poin, atau melakukan permainan dengan sempurna. Pola pikir ini membantu para atlet dapat fokus dan tidak mudah goyah dengan tekanan atau kondisi yang buruk.

    3. Mengelola Stres dan Tekanan

    Tak jarang para atlet mendapat tekanan dari berbagai sisi, baik itu pelatih hingga para pendukung. Untuk itu, dibutuhkan keterampilan untuk mengelola stres dan tekanan agar kondisi tetap prima dan performa lebih baik.

    Dalam mengelola stres, hal yang perlu dilakukan yaitu melakukan refleksi seperti teknik pernapasan dalam atau mengambil sesi konseling dengan psikolog.

    4. Mental Juara di Luar Pertandingan

    Tak hanya di dalam pertandingan, mental juara para atlet juga harus tetap ditumbuhkan di luar arena. Seorang atlet perlu melatih kedisiplinan, keuletan, hingga kepercayaan diri dalam kehidupan sehari-hari.

    Mental juara para atlet ini juga bisa kita terapkan, dapat dilihat dari kerendahan hati saat menghadapi kemenangan, hingga bagaimana cara atlet menerapkan target yang strategis dan terperinci.

    Mental juara merupakan fondasi yang kuat dalam mempertahankan prestasi atlet. Melatih fisik harus diimbangi dengan melatih mental yang positif, baik itu melalui visualisasi mental, strategi psikologis, hingga manajemen stres. Semoga artikel ini dapat menambah wawasan kamu ya, detikers!


    Artikel ini ditulis oleh Salamah Harahap, peserta magang di detikcom.

    (krs/krs)



    Sumber : sport.detik.com