Tag: mekkah

  • Mau Ibadah Nyaman di Rumah? Yuk, buat Musala dengan 7 Langkah Ini



    Jakarta

    Selama Ramadan, banyak dari kita yang berupaya meningkatkan intensitas ibadah khususnya di rumah. Namun, melakukan ibadah di rumah juga memungkinkan kita mengalami gangguan yang menyebabkan kurangnya kekhusyuk-an Dalam beribadah.

    Untuk itu, kita dapat merancang ruangan kecil yang dapat difungsikan sebagai musala untuk beribadah. Melansir dari situs Coohom, berikut 7 langkah mudah merancang ruang ibadah di rumah:

    Pilih Sudut Ruangan yang Tenang

    Langkah pertama bisa dilakukan dengan memilih salah satu sudut di ruangan rumah yang tenang dan bebas dari gangguan.


    Tentukan Arah Kiblat

    Selanjutnya menentukan arah kiblat untuk salat yaitu ke arah Ka’bah di Mekkah. Gunakan aplikasi kompas pada handphone untuk menentukan arah kiblat yang tepat. Kemudian, posisikan sajadah menghadap ke arah kiblat untuk menandai area salat.

    Dekorasikan Ruangan

    Mendekorasikan ruangan salat juga penting, seperti memilih warna cat dinding dan barang-barang lainnya. Pilihlah warna yang memberikan ketenangan, seperti putih atau biru lembut. Selain itu, dapat juga menambahkan elemen lain seperti kaligrafi yang ditempel pada dinding, rak menyimpan Al-Quran, tanaman hias, atau lentera untuk mempercantik ruangan.

    Perhatikan Pencahayaan Ruang

    Terdapat beberapa pilihan untuk mengatur pencahayaan dalam musala di rumah. Kamu bisa memilih ruang yang memiliki jendela atau ruangan yang punya pencahayaan lembut dan hangat. Hindari pencahayaan yang terlalu terang. Pilihan lain bisa menggunakan pencahayaan yang lembut seperti lilin.

    Beri Alas pada Lantai

    Demi kenyamanan beribadah, kamu bisa menambah karpet yang lembut atau sajadah yang tebal sebagai alas. Hal ini berguna untuk mengurangi rasa sakit pada lutut ketika salat dan dapat meningkatkan kenyamanan beribadah.

    Barang Pribadi

    Tambahkan barang-barang yang memiliki makna pribadi, seperti foto keluarga, buku doa-doa, atau karya seni yang menginspirasi.

    Itulah langkah mudah merancang musala di rumah. Semoga menginspirasi!

    (das/das)



    Sumber : www.detik.com

  • 6 Foto Artis Umrah Saat Tahun Baru 2024, Gaya BCL Pakai Khimar Jadi Sorotan

    Nycta Gina juga memanfaatkan momen pergantian tahun dengan melaksanakan ibadah umrah. Nycta Gina umrah bersama Rizky Kinos, kedua buah hatinya, dan keluarganya. Nycta Gina terlihat memakai busana serba putih. “Alhamdulillah umroh wajibnya sudah selesai.. dan masyaaAllah pas banget smua rangkaian umroh selesai ketika pergantian tahun di jakarta. Alhamdulillah bisa merasakan pergantian tahun dsni… semoga kita semua sehat, panjang umur, bisa menjadi manusia yg lbh baik lagi dan insyaaAllah bisa kembali ksni lagi. Buat mentemen yg pengen ksni juga, semoga dimudahkan Allah dilancarkan rezekinya, amin aminyra,” tulis akun @missnyctagina dan @kinosnoski. Foto: Dok. Instagram @missnyctagina.



    Sumber : wolipop.detik.com

  • 7 Potret Ira Wibowo Bikin Pangling Pakai Hijab saat Umrah, Banjir Pujian

    Selain itu, penampilan Ira Wibowo berhijab membuat warganet kagum. “Cantik bgt mbak pakai iilbab, semoga terus pakai ya mbak, Aamiin Aamiin YRA,” tulis akun @riniviyanti. “MasyaAllah 😍 mb ira cantik bngt pke hijab kliatan muda bngt😍,” puji akun @lyllawulan_478. “Maa Syaa Allah,,, tabarakallah,,, pangling lihat mba ira pake hijab, tambah cantik, semoga tetap istiqomah mba 🤲❤️,” timpal akun @yessi.mci.22. Foto: Dok. Instagram @irawbw.



    Sumber : wolipop.detik.com

  • 7 Gaya Dian Sastrowardoyo Bikin Pangling Pakai Hijab Serba Putih saat Umrah

    Postingan Dian Sastrowardoyo berhijab selama di Tanah Suci langsung mendapatkan banjir pujian dari warganet. Seperti di foto ini Dian terlihat mengenakan hijab pashmina yang dibentuk simpel. “Cakep bgt kak masyaAllah,” puji akun @_poppyyyx. “Berkerudung ,” ucap akun @vikyveovinza.”MasyaAlloh, pake tiap hari aja mba gmn?” timpal akun @m_abdulrohman_. “ kok cantik banget Mashallah…” puji akun @mrfasalli. Foto: Dok. Instagram @therealdisastr.



    Sumber : wolipop.detik.com

  • 8 Gaya Violentina Kaif, Istri Andrew Andika Tampil Syari Saat Umrah

    Gresnia Arela Febriani – wolipop

    Senin, 17 Nov 2025 19:00 WIB





    Anda menyukai artikel ini

    Gaya hijab Violentina Kaif saat umrah.
    Foto: Dok. Instagram @violentina.kaif.

    Jakarta

    Violentina Kaif mengunggah momen dirinya saat berada di Tanah Suci. Ia terlihat memesona saat mengenakan abaya dan khimar.

    Sosok Violentina Kaif mencuri atensisetelah aktor Andrew Andika tiba-tiba memamerkan buku nikah di Mekkah bersamanya. Andrew memastikan mereka menikah sebelum umrah.

    Sah menjadi suami-istri, Andrew Andika sangat menikmati perjalanan umrah bersama Violentina. Pria berusia 38 tahun itu bahagia bisa ke Tanah Suci bersama perempuan yang diharapkan bisa mendampinginya sampai maut memisahkan. Seperti apa gaya Violentina Kaif yang tampil pangling dengan busana Muslimah yang syar’i?


    Berikut gaya Violentina Kaif:

    Violentina Kaif Pakai Abaya Set Mocca

    Halaman 2 dari 8

    ” dtr-evt=”detail multiple page” dtr-sec=”button selanjutnya” dtr-act=”button selanjutnya” dtr-idx=”2″ dtr-id=”8215104″ dtr-ttl=”8 Gaya Violentina Kaif, Istri Andrew Andika Tampil Syari Saat Umrah”>

    Violentina Kaif Pakai Abaya Set Mocca

    Gaya hijab Violentina Kaif saat umrah.

    Foto: Dok. Instagram @violentina.kaif.

    Berpose santai di area Masjid Nabawi, Violentina mengenakan khimar set cokelat mocca yang tampak berlapis. Gaya busana ini menunjukkan tampilan modest yang tetap nyaman dan elegan.

    Padu Padan Busana Syari

    Halaman 3 dari 8

    ” dtr-evt=”detail multiple page” dtr-sec=”button selanjutnya” dtr-act=”button selanjutnya” dtr-idx=”3″ dtr-id=”8215104″ dtr-ttl=”8 Gaya Violentina Kaif, Istri Andrew Andika Tampil Syari Saat Umrah”>

    Padu Padan Busana Syari

    Gaya hijab Violentina Kaif saat umrah.

    Foto: Dok. Instagram @violentina.kaif.

    Violentina tampil pangling dengan khimar panjang berwarna cokelat mocca di halaman Masjid Nabawi. Ia memadukan busana syar’i ini dengan suasana cerah di luar area payung Masjid Nabawi.

    Violentina dan Andrew Andika Umrah Bersama

    Halaman 4 dari 8

    ” dtr-evt=”detail multiple page” dtr-sec=”button selanjutnya” dtr-act=”button selanjutnya” dtr-idx=”4″ dtr-id=”8215104″ dtr-ttl=”8 Gaya Violentina Kaif, Istri Andrew Andika Tampil Syari Saat Umrah”>

    Violentina dan Andrew Andika Umrah Bersama

    Gaya hijab Violentina Kaif saat umrah.

    Foto: Dok. Instagram @violentina.kaif.

    Violentina dan Andrew Andika terlihat bergandengan tangan di latar belakang bangunan tinggi yang modern di Mekkah. Ia tampil dengan abaya dan khimar hitam, berpadu dengan busana putih yang dipakai oleh Andrew Andika.

    Violentina Suarakan Bela Palestina

    ” dtr-evt=”detail multiple page” dtr-sec=”button selanjutnya” dtr-act=”button selanjutnya” dtr-idx=”5″ dtr-id=”8215104″ dtr-ttl=”8 Gaya Violentina Kaif, Istri Andrew Andika Tampil Syari Saat Umrah”>

    Di depan Ka’bah, Violentina mengenakan busana hitam syar’i dan khimar lebar. Ia menarik perhatian dengan lukisan bendera Palestina kecil di pipinya sebagai bentuk dukungan.



    Sumber : wolipop.detik.com

  • Berkunjung ke 5 Masjid Terbesar di Indonesia



    Jakarta

    Ramadan hitungan hari. Traveler bisa nih merancang wisata religi dengan berkunjung ke 5 masjid terbesar di Indonesia.

    detikcom telah merangkum, Senin (24/2/2025) lima masjid terbesar di Indonesia yang bisa dikunjungi saat Ramadan nanti.

    1. Masjid Istiqlal


    Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat, menyediakan 4.000 hingga 6.000 boks takjil gratis setiap hari. Masyarakat yang ingin mendapatkan takjil tersebut bisa mendatangi Masjid Istiqlal setiap hari saat berbuka puasa, Selasa (12/3/2024).Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat Foto: Pradita Utama

    Masjid Istiqlal beralamat di Jl Taman Wijaya Kusuma, Ps Baru, Kecamatan Sawah Besar, Kota Jakarta Pusat. Masjid ini sangat strategis karena berada di pusat kota. Letaknya berdampingan dengan Gereja Katedral di Kecamatan Sawah Besar untuk menunjukkan bentuk kerukunan beragama.

    Masjid Istiqlal memiliki luas bangunan 2,5 hektare di atas tanah 9,8 hektare dengan kapasitas jamaahnya sendiri mencapai sekitar 100.000 orang.

    Biasanya, selama Ramadan, Masjid Istiqlal menjadi salah satu destinasi wisata religi untuk ngabuburit di Jakarta. Setelah melihat kemegahannya, kamu juga bisa ikut berbuka bersama gratis di masjid bersama jamaah lain.

    2. Masjid Al-Akbar Surabaya (MAS)

    Masjid Al-Akbar Surabaya (MAS) menjadi masjid nomor 2 terbesar di Indonesia setelah Masjid Istiqlal. Masjid ini berdiri di atas lahan seluas 11,2 hektar serta mampu menampung hingga 60.000 jamaah.

    Lokasinya berada di Jalan Masjid Al Akbar Timur Nomor 1, Pagesangan, Kecamatan Jambangan, Kota Surabaya. Bangunan masjid sangat mudah dikenali karena kubahnya yang besar dan megah berwarna kebiruan.

    Daya tarik dari masjid ini terletak pada kubahnya yang berbentuk oval. Kubah besar dan megah ini berwarna kebiruan ditambah aksen diagonal yang saling menyilang berwarna hijau muda.

    Selain kubah, adapun menara setinggi 99 meter yang merepresentasikan 99 Asmaul Husna. Sementara, bangunan mihrab memiliki motif batik pada bagian sisinya.

    Selain sebagai tempat ibadah, MAS memiliki fasilitas yang lengkap. Di antaranya seperti taman, green house, urban farming, edu park, dan grand ballroom.

    3. Masjid Islamic Centre

    Masjid Islamic Center ini berada di Kecamatan Samarinda Ilir, Kalimantan Timur. Masjid yang diresmikan pada Juni 2008 ini memiliki luas sekitar 43.500 meter persegi.

    Luasnya ini menjadikan Masjid Islamic Centre mampu masuk dalam jajaran masjid terbesar di kawasan Asia Tenggara. Dengan luasnya bangunan, masjid tersebut dapat menampung jemaah sekitar 40.000-45.000 orang.

    Arsitektur Masjid Islamic Center Samarinda sangat detail. Terdapat tujuh buah menara yang terdiri atas satu menara utama dan enam anak menara lainnya. Induk menara memiliki tinggi 99 meter yang menyimbolkan Asmaul Husna. Selain itu, ketika memasuki bangunan utama masjid, jamaah akan melewati 33 anak tangga yang sama seperti jumlah biji tasbih.

    4. Masjid Raya Baiturrahman, Aceh

    Masjid Raya Baiturrahman di Banda AcehMasjid Raya Baiturrahman di Banda Aceh Foto: (Syanti/detikcom)

    Liburan ke negeri Serambi Mekkah saat Ramadan juga bisa jadi pilihan nih, Kamu bisa berkunjung ke Masjid Raya Baiturrahman. Masjid yang menjadi kebanggaan orang Aceh ini, arsitekturnya bercorak eklektik dan mampu menampung sekitar 30.000 jemaah.

    Masjid yang didirikan oleh Sultan Iskandar Muda pada tahun 1607-1636 itu menjadi saksi bisu pahit getirnya warga Aceh melawan Belanda, pergolakan pasca kemerdekaan, bencana gempa dan tsunami, hingga perjanjian damai GAM-RI. Masjid yang berdiri sekarang merupakan pengganti dari masjid raya yang telah Belanda bakar saat menaklukkan Aceh.

    Kapten de Bruijn, Komandan Zeni Angkatan Darat Tentara Kerajaan Belanda merupakan arsitek masjid ini. Ia berkonsultasi dengan Snouck Hurgronje, orientalis kepercayaan pemerintah Belanda dan penghulu masjid Bandung, Jawa Barat.

    Saat ini, dengan berlakunya syariat Islam, Masjid Baiturrahman dinyatakan sebagai kawasan terbatas. Hanya pengunjung yang menutup aurat, sesuai hukum syariat yang boleh masuk ke dalam masjid.

    5. Masjid Al-Jabbar, Bandung

    Suasana Masjid Raya Al Jabbar saat salat Idul AdhaSuasana Masjid Raya Al Jabbar Foto: Wisma Putra/detikJabar

    Masjid Al-Jabbar, Bandung telah menjadi primadona di Jabar sejak diresmikan pada Desember 2022. Masjid Al Jabbar terletak di Jl. Cimincrang No.14, Cimenerang, Kecamatan Gedebage, Kota Bandung, Jawa Barat.

    Masjid ini dibangun di tanah seluas 25 hektare dan mampu menampung 30.000 jemaah, dengan rincian 10.000 orang di area dalam (indoor) dan 20.000 orang di area plaza. Proses perancangan dimulai pada 2015 oleh Ridwan Kamil yang semasa itu menjabat sebagai Walikota Bandung.

    Arsitektur Masjid Raya Al Jabbar dirancang dari perpaduan arsitektur modern kontemporer dengan aksentuasi masjid Turki yang dihiasi seni dekoratif khas Jawa Barat. Bangunan utama masjid tidak memisahkan dinding, atap, dan kubah, melainkan hasil peleburan ketiganya menjadi satu bentuk setengah bola raksasa.

    Ketiga sisi bangunan masjid dikelilingi sebuah danau besar yang ibarat cermin, merefleksikan masjid menjadi berbentuk bulat utuh. Keindahan danau memiliki fungsi penting lain, sebagai retensi banjir sekaligus penyimpan air.

    Bangunan utama dirancang dengan luas lantai 99 x 99 m2 sesuai angka Asmaul Husna. Kelak, semua yang sudah terbangun di Masjid Raya Al Jabbar seperti museum, danau, plaza, dan taman-taman akan membuat masjid ini tidak hanya memiliki fungsi ibadah, tetapi juga fungsi edukasi dan berpotensi sebagai pusat wisata religi Jawa Barat.

    (sym/sym)



    Sumber : travel.detik.com

  • 5 Spot Hidden Gem di Sumatra Barat yang Mirip Ubud



    Jakarta

    Sumatra Barat tak hanya terkenal dengan kulinernya yang beragam, namun di sana juga memiliki alam yang memukau. Bahkan suasana beberapa tempat wisata di sini tak kalah dengan Ubud, Bali lho.

    detikTravel telah merangkum nih pada Rabu (9/7/2025), 5 tempat wisata hidden gem di Sumatra Barat yang suasananya mirip seperti di Ubud, Bali. Berikut daftarnya:

    1. Alahan Panjang

    Alahan Panjang di Solok, Sumatera Barat (Foto: Instagram @alahanpanjang.stayvacation)Alahan Panjang di Solok, Sumatera Barat (Foto: Instagram @alahanpanjang.stayvacation)

    Alahan Panjang, Kabupaten Solok dikenal sebagai daerah terdingin di Sumatera Barat. Di sini kamu bisa menikmati hamparan kebun teh seluas mata memandang dengan latar Danau Kembar.


    Desa ini dijuluki juga dengan ‘Swiss-nya’ orang Sumatera Barat. Karena landscapenya yang memukau membuat wisatawan takjub, tak menyangka pemandangan seindah ini ada di salah satu desa di Sumatera Barat.

    2. Lembah Harau

    Lembah HarauLembah Harau Foto: Brigida Emi Lilia/d’Traveler

    Kamu yang ingin mencari suasana alam yang berbeda di Sumatra Barat datang saja ke Lembah Harau di Kabupaten Lima Puluh Kota.

    Di sini kamu akan dibuat terpukau oleh tebing-tebing granit menjulang tinggi dan pemandangan sawah yang hijau. Lembah Harau sering disebut sebagai lembah terindah di Indonesia.

    Rasakan ketenangannya dengan menginap di salah satu glamping di Lembah Harau.

    3. Padang Panjang

    Padang Panjang dijuluki sebagai Serambi Mekkah dari Sumatera Barat. Di sinilah pusat sekolah agama dan pesantren ternama di Sumatera Barat.

    Tak hanya memiliki hamparan alam yang asri, Padang Panjang juga terkenal dengan hawa sejuk dan kulinernya yang beragam. Tak afdal rasanya bila datang ke kota ini tak mencicipi satenya.

    4. Sungayang, Kabupaten Tanah Datar

    Bila traveler ingin menikmati hamparan sawah dengan latar Gunung Marapi nan megah, salah satu tempat yang bisa kamu datangi adalah Sungayang. Desa ini berada di kawasan Kabupaten Tanah Datar yang bila ditempuh dari Bandara Minangkabau, butuh waktu 4 jam perjalanan.

    Bila kamu berkeliling Sungayang, kamu akan dibuat terpukau dengan terasering sawahnya, suasana sejuk di perbukitan dan kehidupan pedesaan yang tenang dan asri.

    5. Padang Mangateh

    Peternakan sapi Padang Mengatas, Sumbar, ternyata punya sejarah panjang. Peternakan ini adalah warisan Belanda yang sempat menjadi area peternakan terbesar se-Asia Tenggara.Peternakan sapi Padang Mengatas, Sumbar, ternyata punya sejarah panjang. Peternakan ini adalah warisan Belanda yang sempat menjadi area peternakan terbesar se-Asia Tenggara. Foto: Dikhy Sasra

    Bila kamu ingin menikmati hamparan alam bak luar negeri, datang saja ke Padang Mengatas (orang Minang menyebut tempat ini dengan nama Padang Mangateh). Ini adalah area peternakan yang hijau dan disebut-sebut mirip New Zealand.

    Lokasinya berada di Mungo, Kecamatan Luak, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat. Padang Mengatas merupakan bagian dari Balai Pembibitan Ternak Unggul dan Hijauan Pakan Ternak (BPTU-HPT) Padang Mengatas, yang dulunya merupakan peternakan terbesar di Asia Tenggara.

    (sym/wsw)



    Sumber : travel.detik.com

  • Peta Masalah Dunia Pesantren (1)



    Jakarta

    Pada masanya, pesantren adalah tonggak penting dalam dunia pendidikan dan pembentukan karakter di Nusantara. Sekarang, kita dihadapkan pada pertanyaan besar: Apakah pesantren mampu menyesuaikan diri dengan kebutuhan era modern tanpa kehilangan jati dirinya? Inilah titik mula dari upaya memahami dan mengatasi persoalan mendasar yang dihadapi pesantren hari ini.

    Tema utama pesantren saat ini, dan sekaligus permasalahan utamanya, adalah bagaimana institusi pendidikan ini bertransformasi dari model tradisional menuju integrasi dengan sistem global modern. Untuk membahas urusan ini lebih lanjut, kita tampaknya perlu terlebih dulu menjernihkan cara pandang kita. Salah satu yang perlu dikritisi adalah pandangan bahwa pesantren dimarginalisasi secara sengaja oleh negara. Pemikiran seperti ini mengandung bias seolah-olah pesantren sudah “mengutangi” negara dan sekarang menagih pengakuan.

    Faktanya, marginalisasi pesantren bukanlah sesuatu yang sepenuhnya disengaja. Hal ini lebih merupakan dampak dari proses transformasi peradaban menuju konstruksi modern. Kita tahu bahwa pesantren, sebagai lembaga pendidikan tradisional yang kita pelihara hingga sekarang, tumbuh dari tradisi lokal yang khas Nusantara. Model seperti ini tidak ditemukan di belahan dunia Islam lainnya, seperti Timur Tengah, Persia, Asia Selatan, atau Afrika. Pesantren betul- betul merupakan produk budaya lokal Nusantara yang lahir dari struktur sosial, budaya, dan politik yang unik di wilayah ini.


    Sebelum era kolonial, pesantren merupakan satu-satunya lembaga pendidikan yang ada tersedia. Ia menjadi pusat pembelajaran bagi berbagai lapisan masyarakat, menjadi tempat tujuan bagi siapa saja untuk mendapatkan pendidikan akademik dan intelektual. Bahkan anak-anak bangsawan dan putra raja dari seluruh Nusantara menimba ilmu di pesantren.

    Namun, ketika masyarakat tradisional Nusantara mulai bersentuhan dengan kekuatan kolonial Eropa, pesantren, bersama elemen tradisional lainnya, perlahan-lahan tergeser. Struktur sosial dan budaya tradisional digantikan oleh konstruksi modern yang diperkenalkan oleh kolonialisme. Bukan hanya pesantren yang mengalami hal ini, tetapi juga lembaga tradisional seperti keraton.

    Proses ini membuat pesantren terlihat lambat dalam beradaptasi ke dalam sistem modern. Salah satu alasannya adalah resistensi pesantren terhadap apa pun yang berasal dari kekuatan kolonial. Pada masa penjajahan, pesantren-pesantren, bersama elemen lain dari masyarakat pribumi,

    berperan aktif dalam melawan apa saja yang diperkenalkan oleh pemerintahan kolonial. Gerakan seperti Taman Siswa di Yogyakarta, yang dipelopori oleh Ki Hajar Dewantara, merupakan contoh nyata perlawanan terhadap sistem pendidikan kolonial.

    Keraton Yogyakarta juga mengambil inisiatif serupa dengan mengirim seorang santri bernama Muhammad Darwis ke Mekkah untuk belajar modernisasi pendidikan dari Syekh Khatib al- Minangkabawi. Sepulangnya, Darwis, yang kemudian dikenal sebagai Haji Ahmad Dahlan, mendirikan Muhammadiyah untuk mendorong modernisasi pendidikan dengan tetap mempertahankan konten lokal, sehingga tidak harus hanyut ke dalam konten yang disediakan oleh kolonial.
    Memahami konteks kesejarahan ini membantu kita melihat problematika pesantren sebagai bagian dari proses transformasi yang kompleks. Langkah ke depan memerlukan upaya untuk menjembatani tradisi pesantren dengan tuntutan zaman modern tanpa kehilangan akar budaya lokalnya.

    Transformasi Pesantren: Realitas dalam Konteks Globalisasi

    Salah satu ciri khas pesantren sejak masa kolonial adalah etos perlawanan terhadap sistem modern yang diperkenalkan oleh kekuatan kolonial. Meskipun perlawanan ini berlangsung lama, pada akhirnya, pesantren tidak mampu sepenuhnya menghindari dampak dominasi kekuasaan kolonial, yang memiliki sumber daya besar.

    Sekolah modern seperti Muhammadiyah, misalnya, awalnya hanya mengadopsi struktur formal pendidikan modern dengan tetap mempertahankan konten lokal yang dirancang oleh para aktivisnya. Namun, seiring waktu, sistem pendidikan Muhammadiyah menjadi bagian dari sistem pendidikan nasional yang bercorak modern sepenuhnya. Di sisi lain, pesantren tradisional lebih memilih untuk sepenuhnya menolak sistem pendidikan kolonial. Pada masa kakek saya, misalnya, bersekolah di sekolah Belanda adalah sesuatu yang aib. Akibatnya, kalangan pesantren tradisional tertinggal dalam pendidikan formal.

    Hingga 1945, anak-anak pesantren tradisional hampir tidak ada yang bersekolah. Sementara itu, dari kalangan lain, tokoh seperti Sumitro Djojohadikusumo-ayah Presiden Prabowo-sudah meraih gelar doktor ekonomi dari universitas di Amerika. Kondisi ini menciptakan kesenjangan besar dalam pendidikan formal antara pesantren dan kelompok masyarakat lainnya.

    Baru pada tahun 1960-an, anak-anak dari pesantren tradisional mulai mengenyam pendidikan formal dengan susah payah. Namun, mereka tetap menghadapi kendala, termasuk warisan mentalitas yang sulit sepenuhnya beradaptasi dengan sistem modern. Kiai Ali Maksum,

    misalnya, seorang intelektual pesantren terkemuka, mengaku tidak kerasan mengajar di IAIN, semata-mata karena setiap hari harus berangkat ke kampus mengenakan celana panjang.

    Kalangan pesantren baru mulai menghasilkan lulusan sarjana pada pertengahan tahun 1970-an- sarjana lulusan IAIN. Sebelumnya, hanya sedikit sekali orang NU yang mencapai gelar sarjana, sementara kalangan modernis sudah lebih dahulu menempati ruang akademik dan intelektual.

    Ini beberapa hal yang menurut saya perlu menjadi bagian dari perspektif untuk memahami masalah pesantren dengan lebih jernih. Kita harus berhati-hati agar tidak salah arah, karena jika kita tidak jernih dalam merumuskan masalah dan salah arah ini terus berlanjut, penyelesaiannya akan semakin jauh dari akar masalah. Hanya karena kita bangga terhadap pesantren, tidak berarti bahwa pesantren harus otomatis dianggap sebagai solusi alternatif dalam segala hal. Dunia sudah berubah, dan kita berada di era globalisasi. Tidak ada pilihan lain selain mengintegrasikan diri ke dalam sistem global. Kita melihat Arab Saudi melakukannya. Mereka menyadari bahwa tidak ada jalan lain kecuali menyesuaikan diri dengan sistem global. Pesantren pun perlu memikirkan posisinya dalam konteks global ini.

    Transformasi dari model tradisional menuju integrasi ke dalam sistem global yang modern inilah akar dari banyak keluhan yang kita dengar, yang kemudian melahirkan tuntutan-tuntutan afirmasi dan pengakuan. Kita mendengar keluhan bahwa lulusan pesantren sulit diterima di perguruan tinggi negeri. Lalu muncul Undang-Undang Pesantren, sebuah produk yang dipicu oleh desakan pesantren untuk meminta afirmasi, menuntut pengakuan, dan menagih janji pemerintah. Sampai-sampai ada kebijakan penerimaan mahasiswa fakultas kedokteran tanpa tes bagi hafiz Quran. Ini jelas tidak relevan, dan hal-hal semacam ini lahir dari cara berpikir yang tidak menyentuh akar masalah-pada kekeliruan membaca peta masalah.

    Persoalannya bukan pada afirmasi, melainkan pada bagaimana sistem tradisional dapat diintegrasikan ke dalam sistem modern. Suka atau tidak, kita harus memikirkan bagaimana pesantren bisa menyelaraskan praktik tradisionalnya dengan tuntutan sistem pendidikan modern. Ini mencakup tidak hanya sistem pendidikan nasional, tetapi juga sistem global yang semakin terstandar dengan ukuran-ukuran internasional, seperti World University Rankings (WUR) dan lain sebagainya. Globalisasi, bagaimanapun, telah membawa sistem pendidikan ke arah yang mengutamakan standar global, bukan sekadar relevansi lokal.

    Transformasi pesantren ke dalam sistem modern tentu membawa konsekuensi logis: ada hal-hal yang bisa didapatkan sebagai insentif integrasi, namun ada juga yang harus dilepaskan atau direlakan hilang. Tantangan utamanya adalah menentukan mana yang harus dipertahankan, dan bagaimana pesantren bisa berintegrasi dengan sistem modern tanpa kehilangan jati diri dan memperoleh manfaat darinya.

    Masalah utama pesantren hari ini adalah bagaimana proses transformasi itu dilakukan. Ada masalah-masalah sampingan, misalnya represi politik di masa Orde Baru. Meski itu pernah terjadi, masalah utamanya tetap pada integrasi sistem pendidikan pesantren ke dalam sistem global. Ini memerlukan visi yang jelas dan pendekatan yang strategis, agar pesantren dapat terus berkembang tanpa kehilangan identitasnya dalam menjawab tantangan zaman.

    KH. Yahya Cholil Staquf
    Penulis adalah Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama

    Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggung jawab penulis. (Terima kasih – Redaksi)

    (erd/erd)



    Sumber : www.detik.com

  • Lebih Baik Umrah atau Haji Dulu? Ini Penjelasannya dalam Islam


    Jakarta

    Pertanyaan mengenai mana yang lebih didahulukan umrah atau haji, sering kali muncul di umat Muslim. Sejatinya, kedua ibadah tersebut memiliki keutamaan yang besar.

    Tapi, untuk pelaksanaan haji dan umrah itu berbeda baik dari segi kewajiban maupun waktu. Haji adalah rukun Islam kelima yang wajib dilakukan sekali seumur hidup (bagi yang mampu), sedangkan umrah sifatnya sunnah namun tetap dianjurkan.

    Pada dasarnya, umat muslim perlu mempersiapkan kemampuan fisik dan finansial sebelum menunaikan umrah atau haji. Jadi manakah yang lebih utama, haji atau umroh?

    Apa yang Lebih Dulu, Haji atau Umrah?

    Dilansir situs Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) Kemenag, disebutkan jika kondisi seseorang sudah dianggap mampu dalam menunaikan haji, perkara yang lebih baik baginya ialah pergi haji terlebih dahulu.

    Pasalnya, ibadah haji hanya bisa dilakukan pada waktu bulan Dzulhijjah. Beda dengan umrah yang bisa dilakukan kapan saja.


    Meski demikian, mendahulukan umrah daripada haji juga bukan perkara yang salah. Sebagaimana dikutip dari situs Majelis Ulama Indonesia (MUI), hal ini pernah ditanyakan oleh seorang sahabat, Ikrimah bin Khalid kepada sahabat nabi yang lain, Ibnu Umar RA.

    أَنَّ عِكْرِمَةَ بْنَ خَالِدٍ سَأَلَ ابْنَ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا عَنِ الْعُمْرَةِ قَبْلَ الْحَجِّ، فَقَالَ : لَا بَأْسَ. قَالَ عِكْرِمَةُ : قَالَ ابْنُ عُمَرَ : اعْتَمَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَبْلَ أَنْ يَحُجَّ

    Artinya: Ikrimah bin Khalid bertanya kepada Ibnu Umar RA mengenai melaksanakan umrah sebelum haji. Maka Ibnu Umar menjawab, “Tidaklah mengapa. Nabi SAW melaksanakan umrah sebelum haji.” (HR Bukhari)

    Ibadah umrah terlebih dahulu dibanding haji menjadi hal utama bagi jemaah lansia. Karena seperti yang kita tahu, antrean haji di Indonesia sendiri itu mengular dan masa tunggunya lama. Jadi, dikhawatirkan kemampuan fisik dari jemaah lansia akan mulai menurun.

    Dikutip dari buku Antar Aku ke Tanah Suci oleh dari Miftah Faridl dan Budi Handrianto, pengamalan umrah lebih dahulu atau haji lebih dahulu itu bisa disesuaikan pada kondisi jemaah. Terutama dilihat dari kemampuan fisik dan finansial.

    Sekali pun pengamalan umrah pada bulan Ramadan bisa mengandung pahala yang setara dengan haji. Hal ini sebagaimana kesepakatan ulama atau ijma’.

    Tapi, hal yang perlu diingat yaitu pelaksanaan umrah sebelum haji tidak serta merta menggugurkan kewajiban haji bagi yang mampu.

    Hukum Pelaksanaan Umrah dan Haji

    Hukum umrah adalah sunnah muakkad. Tapi, masih ada perbedaan pendapat (khilaf) di kalangan ulama mazhab yang menyebutnya wajib.

    Dikutip dari Fikih Sunnah Jilid 3 oleh Sayyid Sabiq, hukum sunnah muakkad terkait umrah diyakini oleh ulama Mazhab Malikiyah dan sebagian ulama Mazhab Hanafiyah sebagai amalan untuk dikerjakan sekali seumur hidup.

    Landasannya mengacu dari salah satu riwayat hadits Nabi Muhammad SAW yang dinukil dari Jabir bin Abdillah. Bahwa Rasulullah SAW pernah ditanya soal apakah hukumnya wajib atau tidak,

    فَقَالَ: لاَ، وَأَنْ تَعْتَمِرَ فَهُوَ أَفْضَلُ

    Artinya: “Rasulullah SAW bersabda, ‘Tidak wajib, tetapi jika engkau berumrah maka itu afdhal atau lebih utama’.” (HR Tirmidzi)

    Sementara, menurut ulama Mazhab Syafi’i dan Hambali, hukum umrah adalah wajib. Hukum tersebut dilandasi dalam surah Al Qur’an surag Al Baqarah ayat 196, Allah SWT berfirman:

    وَأَتِمُّوا الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ لِلَّهِ

    Artinya: “Dan sempurnakanlah ibadah haji dan umrah karena Allah…,”

    Untuk ibadah haji merupakan rukun Islam kelima. Hukum menunaikan haji adalah wajib bagi yang mampu. Hal ini disebutkan dalam surah Ali ‘Imran ayat 97, Allah SWT berfirman:

    فِيهِ آيَاتٌ بَيِّنَاتٌ مَقَامُ إِبْرَاهِيمَ ۖ وَمَنْ دَخَلَهُ كَانَ آمِنًا ۗ وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا ۚ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ

    Artinya: “Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) maqam Ibrahim; barangsiapa memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah dia; mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.”

    (khq/fds)



    Sumber : www.detik.com

  • Biaya Haji 2025 Disepakati Turun, BPKH Salurkan Rp 34 Juta Nilai Manfaat per Jemaah



    Jakarta

    Biaya haji 2025 telah resmi ditetapkan. Berdasarkan Rapat Panitia Kerja (Panja) Komisi VIII DPR RI yang digelar Senin (6/12/2025) kemarin, Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH) diputuskan sebesar Rp 89,41 juta dengan Biaya Perjalanan Ibadah Haji (Bipih) Rp 55,43 juta.

    Besaran biaya haji tersebut turun dibandingkan pada 2024 lalu. Seperti diketahui, BPIH 2024 mencapai Rp 93,4 juta dengan Bipih Rp 56 juta.

    Selain Komisi VIII DPR RI, Rapat Panja juga dihadiri Kementerian Agama RI, Badan Penyelenggara Haji (BP Haji), dan Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH).


    Turunnya BPIH juga berdampak pada berkurangnya biaya yang harus dikeluarkan jemaah reguler atau Bipih 2025. Porsi biaya yang ditanggung jemaah dengan nilai manfaat yang dikelola BPKH diputuskan dengan perbandingan 62% : 38%.

    Melalui proporsi tersebut, biaya yang dikeluarkan jemaah haji reguler tahun ini hanya Rp 55,43 juta, turun dibandingkan tahun lalu yang sebesar Rp 56,04 juta.

    Sementara itu, sisanya sebesar Rp 33,98 juta ditanggung dengan dana nilai manfaat yang diperoleh dari hasil pengembangan keuangan haji yang dikelola oleh BPKH. Total nilai manfaat yang digelontorkan untuk mendukung pelaksanaan ibadah haji tahun 2025 mencapai Rp 6,83 triliun.

    Kepala Badan Pelaksana BPKH Fadlul Imansyah mengungkapkan terdapat tiga poin penting dari keberhasilan pemerintah menurunkan biaya haji 2025.

    “Keberhasilan pertama, adalah menjadikan biaya haji yang lebih terjangkau bagi jemaah dengan tidak meninggalkan kualitas penyelenggaraan ibadah haji. Kedua, yaitu sustainabilitas keuangan haji turut terjaga dengan baik, dan yang ketiga menjaga asas transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana haji,” katanya dalam rilis yang diterima pada Selasa (7/1/2025).

    Fadlul menuturkan bahwa BPKH siap melaksanakan keputusan yang disepakati pemerintah dan DPR.

    “Kami memastikan ketersediaan dana tepat waktu oleh BPKH untuk pembiayaan penyelenggaraan ibadah haji tahun 2025,” lanjutnya.

    Lebih lanjut, Kepala BPKH itu menekankan kemampuan menanggung biaya haji melalui dana nilai manfaat tak lepas dari sejumlah terobosan BPKH dalam mengoptimalkan dana umat yang dikelola. Diantaranya dengan mendirikan anak usaha yang masuk dalam ekosistem perhajian sejak tahun 2023.

    “Saat ini BPKH Limited telah mengelola sejumlah aset produktif berupa hotel di Mekkah, Madinah, dan Jeddah yang seluruh keuntungannya digunakan untuk menambah nilai manfaat bagi kepentingan jemaah haji Indonesia,” terang Fadlul.

    “BPKH berkomitmen untuk terus mendukung peningkatan kualitas penyelenggaraan ibadah haji dari tahun ke tahun, dan menjaga keberlanjutan dana haji yang telah dikelola dengan prudent dan profesional,” pungkasnya

    (aeb/inf)



    Sumber : www.detik.com