Jakarta –
Ada beberapa makanan dan buah-buahan yang direkomendasikan bagi wanita yang sudah berusia 50 tahun ke atas. Makanan-makanan ini bisa meningkatkan kesehatan.
Memasuki usia 50 tahun, banyak perempuan mulai menghadapi fase menuju atau sudah berada dalam masa menopause. Perubahan ini sering diiringi masalah pencernaan, rasa panas mendadak (hot flashes), hingga melemahnya tulang dan otot.
Kondisi tersebut juga kerap memicu peradangan kronis dalam tubuh. Oleh karena itu, menjaga pola makan menjadi salah satu kunci penting untuk menyehatkan tubuh dan otak di masa ini.
Dilansir dari Eating Well (29/08/2025), ahli gizi merekomendasikan lima jenis makanan kaya antioksidan, serat, kalsium, lemak sehat, serta protein yang dapat membantu mengurangi peradangan sekaligus melindungi kesehatan.
Berikut daftarnya:
1. Buah Beri
Buah beri. Foto: Getty Images/Dziuba Volodymyr
|
Blueberry, blackberry, stroberi, dan raspberry adalah sumber antioksidan tinggi yang mampu melawan peradangan serta mendukung proses penuaan sehat.
“Saya merekomendasikan buah beri karena mudah ditambahkan ke makanan yang sudah biasa dikonsumsi, seperti yogurt di pagi hari atau camilan sore,” ujar ahli gizi Zariel Grullón, RDN, CDN.
Buah beri juga bagian penting dari pola makan MIND diet, sebuah pola makan yang dirancang untuk membantu mencegah demensia dan penurunan fungsi kognitif. Mengingat dua dari tiga orang berusia di atas 50 tahun mengalami penurunan daya ingat, konsumsi makanan yang mendukung kesehatan otak sangatlah berharga.
2. Biji-bijian
Biji-bijian mengandung peptida, polifenol, dan saponin yang memiliki sifat anti-inflamasi. “Mengonsumsi beragam jenis kacang-kacangan membuat tubuh lebih lama merasa kenyang sekaligus membantu melawan peradangan berlebih,” ungkap Grullón.
Selain itu, biji-bijian kaya akan serat yang baik untuk kesehatan usus, terutama membantu mengatasi masalah pencernaan terkait menopause. Satu cangkir kacang hitam yang termasuk biji-bijian saja sudah memenuhi sekitar setengah kebutuhan serat harian.
Biji-bijian juga merupakan sumber protein nabati yang bermanfaat mencegah kehilangan massa otot seiring bertambahnya usia.
“Seperti halnya buah beri, kacang dan biji-bijian mudah ditambahkan dalam menu harian, entah sebagai lauk di pagi hari, sup, atau salad padat untuk makan siang,” tambah Grullón.
3. Sayuran Hijau
sayur bening bayam campur wortel Foto: Getty Images/Tyas Indayanti
|
Bayam, kale, selada air, hingga bok choy kaya akan vitamin A, C, E, K, serta polifenol yang mampu menekan peradangan dan mengurangi stres oksidatif.
“Beberapa sayuran hijau berdaun juga mengandung senyawa nabati seperti sulforaphane dan indole-3-carbinol yang menghambat jalur peradangan dalam tubuh,” jelas ahli gizi Seema Shah, M.P.H., M.S., RD.
Sayuran hijau ini juga menjadi sumber serat yang mendukung sistem imun, mengontrol gula darah, dan menurunkan proses inflamasi. Pada masa menopause, penurunan kadar estrogen sering merusak kesehatan tulang. Itu sebabnya, konsumsi kalsium menjadi sangat penting.
“Sayuran hijau gelap kaya akan kalsium, magnesium, dan kalium yang membantu menjaga kepadatan tulang,” ujar Shah.
Bila bosan menyantap sayuran sebagai salad, ahli gizi Jamie Baham, M.S., RDN, LD, menyarankan untuk mencoba smoothie berbahan dasar buah yang dipadukan dengan sayuran hijau.
4. Salmon
Ikan salmon kaya akan asam lemak omega-3 yang terkenal dengan khasiat anti-inflamasi.
“Mengonsumsi satu hingga dua porsi ikan berlemak per minggu dapat mendukung kesehatan jantung, mengurangi kaku sendi akibat artritis, dan menjaga fungsi otak. Bagi perempuan usia 50 tahun ke atas, salmon juga menjadi sumber protein berkualitas tinggi serta vitamin D yang penting untuk otot dan tulang,” kata ahli gizi Lizzie O’Connor, M.S., RD.
Baham menambahkan salah satu cara lezat menyantap salmon adalah dengan membuat poke bowl buatan sendiri.
“Saya suka membuat hidangan poke bowl dengan salmon, nasi cokelat, alpukat, timun, dan sedikit saus kedelai. Rasanya seperti sushi dalam mangkuk dan sudah menjadi menu favorit di rumah,” ujarnya.
5. Kacang-Kacangan
kacang almond. Foto: iStock
|
Segenggam kacang bisa menjadi camilan praktis yang kaya antioksidan dan nutrisi penunjang jantung, seperti selenium, magnesium, lemak tak jenuh, polifenol, hingga serat. Konsumsi kacang juga terbukti menurunkan risiko penyakit kardiovaskular.
Kacang seperti almond dan walnut dikenal efektif mengurangi peradangan, sementara kacang Brazil dapat membantu melawan stres oksidatif. Bagi yang tidak mengonsumsi ikan, kenari sangat disarankan karena mengandung omega-3 nabati yang bermanfaat melawan peradangan.
6. Tips untuk Penuaan yang Sehat
Selain mengatur pola makan, ada beberapa kebiasaan penting lain yang sebaiknya dijaga. Salah satunya tetap rutin melakukan olahraga kardio, latihan kekuatan, keseimbangan, dan peregangan.
Kemudian menjaga kualitas tidur, karena tidur yang baik berkaitan dengan rendahnya risiko penyakit dan menjaga fungsi fisik maupun mental. Selain itu setiap orang wajib rutin melakukan pemeriksaan kesehatan dan vaksinasi, untuk mendeteksi dini serta mengendalikan penyakit yang mungkin muncul.
(sob/dfl)
Sumber : food.detik.com
Source : unsplash.com / Rachel Park
Jakarta –
Dalam Islam, mandi junub adalah cara menghilangkan hadas besar dengan membasuh seluruh tubuh mulai dari atas kepala hingga ujung kaki. Kita perlu mengetahui doa cara mandi junub yang benar karena mandi junub atau mandi wajib termasuk syarat sahnya solat.
Jika terdapat kesalahan, baik dalam membaca doa ataupun tata caranya, ibadah kita akan dianggap tidak sah karena belum dalam keadaan bersih dan suci. Apa doa cara mandi junub? Apa penyebab seseorang wajib mandi junub? Simak penjelasannya berikut ini.
Penyebab Seseorang Wajib Mandi Junub
Dikutip dari buku Pendidikan Islam Informal oleh Romlah, ada beberapa alasan yang menyebabkan seseorang harus mandi junub, yaitu sebagai berikut
1. Keluarnya Mani
Salah satu alasan seseorang harus mandi junub adalah karena keluarnya mani. Keluarnya air mani dengan syahwat, baik dalam keadaan sadar maupun tidak sadar (tidur) wajib untuk melakukan mandi junub atau mandi wajib.
2. Berhubungan Intim
Pasangan suami istri yang melakukan hubungan intim wajib melakukan mandi junub setelahnya. Bahkan, jika keduanya hanya bermesraan tanpa keluar mani, tetap diwajibkan untuk mandi wajib.
3. Berhentinya Darah Haid dan Nifas
Setelah seorang wanita berhenti menstruasi atau nifas, maka mereka diwajibkan untuk melakukan mandi junub. Apabila seorang wanita tidak mandi junub setelah haid, ibadah dari wanita tersebut tidak sah karena belum dalam keadaan bersuci.
4. Meninggal dalam Keadaan Islam
Seorang muslim yang meninggal wajib untuk dimandikan. Dalam hal ini, sebelum jenazah dishalatkan dan dikubur, jenazah tersebut wajib untuk dimandikan terlebih dahulu. Namun, untuk jenazah yang meninggal dalam keadaan mati syahid tidak diwajibkan diberikan mandi wajib.
Doa Cara Mandi Junub
Setelah mengetahui penyebab seseorang harus mandi junub, selanjutnya adalah memahami doa cara mandi junub. Hal ini penting karena niat atau doa merupakan salah satu syarat sahnya mandi junub. Berikut ini beberapa doa cara mandi junub yang perlu diketahui.
1. Doa Cara Mandi Junub untuk Laki-Laki dan Perempuan
Niat dan doa ini dapat dilakukan oleh laki-laki maupun perempuan untuk menghilangkan hadas besar.
Berikut niat dan doa mandi junub:
نَوَيْتُ الْغُسْلَ لِرَفْعِ الْحَدَثِ اْلاَكْبَرِ فَرْضًا ِللهِ تَعَالَى
Nawaitul ghusla liraf ‘il hadatsil akbari fardhal lillaahi ta’aala
Artinya: Aku berniat mandi besar untuk menghilangkan hadas besar fardhu karena Allah.
2. Doa Cara Mandi Junub Setelah Haid
Menstruasi atau haid merupakan proses keluarnya darah akibat luruhnya lapisan rahim karena sel telur tidak berhasil dibuahi. Hal ini adalah hal yang normal terjadi pada wanita setiap bulannya hingga masa menopause.
Setelah masa haid atau menstruasi berakhir, seorang wanita diwajibkan untuk melakukan mandi wajib agar dapat beribadah kembali.
Berikut ini niat dan doa mandi junub setelah haid:
نَوَيْتُ الْغُسْلَ لِرَفْعِ حَدَثِ الْحَيْضِ ِللهِ تَعَالَى
Nawaitul ghusla liraf’i hadatsil haidil lillahi ta’ala.
Artinya: Aku berniat mandi wajib untuk mensucikan hadas besar dari haid karena Allah.
3. Doa Cara Mandi Junub Setelah Nifas
Nifas adalah proses keluarnya darah dari rahim seorang wanita setelah melahirkan. Umumnya, darah nifas akan keluar kurang lebih selama 40 hari. Setelah masa nifas selesai, seorang wanita diwajibkan untuk mensucikan diri dengan mandi junub.
Berikut ini niat dan doa mandi junub setelah nifas:
نَوَيْتُ الْغُسْلَ لِرَفْعِ حَدَثِ النِّفَاسِ ِللهِ تَعَالَى
Nawaitul ghusla liraf’i hadatsin nifaasi lillahi ta’aala.
Artinya: Aku berniat mandi wajib untuk mensucikan hadas besar dari nifas karena Allah Ta’ala.
Tata Cara Mandi Junub
Seorang muslim diharuskan untuk mensucikan diri setelah melakukan hadas besar, yaitu dengan mandi junub.
Jika seseorang tidak melakukan mandi junub selama hadas besar, maka ibadah yang dilakukannya, seperti shalat, membaca Al-Quran, puasa, hingga thawaf akan dianggap tidak sah.
Oleh karena itu, seorang muslim perlu mengetahui tata cara mandi junub yang benar. Adapun tata cara mandi junub, yakni sebagai berikut.
- Membaca niat doa cara mandi junub.
- Mencuci tangan sebanyak 3 kali untuk membersihkan tangan dari najis.
- Membersihkan bagian tubuh yang dianggap kotor, termasuk pada bagian kemaluan.
- Mencuci kembali tangan yang kotor dengan menggunakan sabun.
- Berwudhu.
- Membasahi kepala dengan air sebanyak 3 kali hingga ke pangkal rambut.
- Menyela-nyela rambut dengan menggunakan jari-jari tangan.
- Mengguyur air ke seluruh tubuh dimulai dari sisi kanan hingga dilanjutkan dengan sisi kiri.
- Mandi wajib telah selesai.
Demikian pembahasan mengenai doa cara mandi junub, penyebab mandi junub, hingga tata cara melakukan mandi junub.
Pastikan untuk melakukan tata cara mandi junub dengan benar agar tubuh suci dari hadas dan ibadah kita bisa diterima oleh Allah. Semoga informasi ini bermanfaat.
(inf/inf)

Sumber : www.detik.com
Jakarta –
Aktivitas seksual merupakan salah satu aspek penting dalam hubungan suami istri. Namun terkadang, pasutri bisa berhenti berhubungan intim karena beberapa alasan.
Rutinitas yang terlalu sibuk, gangguan kesehatan, hingga masalah dalam hubungan menjadi beberapa faktor yang membuat pasutri menunda berhubungan intim. Lantas, apa yang terjadi jika pasutri terlalu lama berhenti berhubungan seksual? Apakah ada efeknya bagi kesehatan?
Dikutip dari berbagai sumber, berikut efek samping yang bisa terjadi akibat terlalu lama berhenti bercinta.
1. Ansietas dan Stres Meningkat
Dikutip dari WebMD, pasutri yang jarang berhubungan intim dapat merasa kurang terhubung satu sama lain. Hal ini membuat mereka jarang membicarakan tentang perasaan masing-masing atau mendapat dukungan dalam mengelola stres sehari-hari.
Jarang berhubungan seks juga membuat tubuh melepaskan lebih sedikit oksitosin dan endorfin. Kedua hormon ini berperan dalam mengelola dampak stres dan menunjang kualitas tidur.
Dikutip dari laman The Pennsylvania State University, sebuah studi yang diterbitkan di jurnal The Gerontologist menganalisa hubungan antara fungsi ereksi, kepuasaan seksual, dan kemampuan kognitif pada pria. Penelitian tersebut menemukan pria yang tidak puas secara seksual atau memiliki masalah fungsi ereksi lebih rentan mengalami penurunan daya ingat di usia tua.
“Ilmuwan telah menemukan bahwa jika Anda memiliki kepuasan yang rendah secara umum, Anda berisiko lebih tinggi mengalami masalah kesehatan seperti demensia, penyakit Alzheimer, penyakit kardiovaskular, dan masalah terkait stres lainnya yang dapat menyebabkan penurunan kognitif,” ujar profesor dari The Pennsylvania State University sekaligus salah satu penulis studi, Martin Sliwinski.
3. Hubungan Jadi Tidak Harmonis
Seks yang teratur dapat membuat pasutri merasa lebih dekat secara emosional dengan satu sama lain, sehingga memungkinkan terjadinya komunikasi yang lebih baik. Pasutri yang lebih sering berhubungan seks cenderung lebih bahagia dibandingkan pasutri yang jarang berhubungan seks.
Namun bukan berarti pasutri harus berhubungan intim setiap saat. Sejumlah penelitian menunjukkan pasangan yang bahagia setidaknya melakukan aktivitas seksual seminggu sekali, terlepas dari usia, jenis kelamin, dan lama menjalin hubungan.
Pasutri yang jarang berhubungan seks bisa lebih rentan penyakit tertentu, seperti flu dan pilek. Ini karena seks secara teratur dapat meningkatkan kadar antibodi imunoglobluin A yang melindungi tubuh dari infeksi virus dan bakteri.
5. Atrofi Vagina
Bagi wanita, khususnya yang sudah mengalami menopause, seks yang teratur sangatlah penting untuk menjaga kesehatan vagina. Dikutip dari Cleveland Clinic, wanita yang jarang melakukan seks penetrasi juga lebih berisiko mengalami atrofi vagina. Atrofi vagina adalah kondisi lapisan vagina menipis atau mengering, sehingga menyebabkan sensasi gatal, terbakar, dan nyeri saat berhubungan seks. Atrofi vagina juga dapat membuatvagina lebih mudah robek, terluka, atau berdarah saat berhubungan intim.
6. Kanker Prostat
Hubungan antara seks dan kanker prostat masih pro dan kontra. Namun, beberapa penelitian menunjukkan pria yang jarang ejakulasi memiliki risiko lebih tinggi terkena kanker prostat.
Sebuah penelitian besar yang dilakukan pada 30.000 pria menemukan mereka yang mengalami lebih dari 21 kali ejakulasi dalam sebulan memiliki risiko kanker prostat yang lebih rendah dibanding mereka yang hanya ejakulasi empat hingga tujuh kali sebulan.
(ath/kna)
Sumber : health.detik.com

Image : unsplash.com/ Spacejoy
Jakarta –
Seiring berjalannya waktu, setiap pasangan memiliki frekuensi bercinta yang mungkin semakin jarang. Dorongan dan kepuasan seksual seseorang dapat berubah.
Hal ini memunculkan pertanyaan terkait berapa usia puncak seksual seseorang?
Dikutip dari Medicine Net, sebenarnya, tidak ada definisi biologis pasti terkait puncak seksual, namun studi menunjukkan bahwa orang-orang dapat mengalami kepuasan seksual sepanjang masa dewasa.
Menurut buku ‘Sexual Behavior in the Human Male’ dan ‘Sexual Behavior in the Human Female,’ karya Alfred Kinsey, pria dan wanita mencapai fase puncak seksual pada usia yang berbeda.
Temuan Kinsey menunjukkan bahwa wanita cenderung mencapai puncaknya di usia 30-an, sementara pria mencapai puncaknya di usia remaja akhir.
Namun, pandangan ini telah lama dipertanyakan, karena banyak peneliti berpendapat bahwa data Kinsey belum sepenuhnya menggambarkan kenyataan.
Kinsey meminta partisipan untuk melaporkan usia saat mereka mengalami orgasme paling banyak. Pria melaporkan orgasme terbanyak pada usia 17 atau 18 tahun, sedangkan wanita cenderung lebih sering mengalami orgasme ketika berada di usia 30-an.
Meski data ini valid, angkanya mungkin tidak menunjukkan puncak biologis sebenarnya. Jumlah orgasme pada pria mungkin hanya menggambarkan seberapa sering mereka bisa mencapai orgasme, baik dengan atau tanpa pasangan.
Sementara itu, banyak wanita memerlukan pasangan yang lebih berpengalaman atau membutuhkan waktu untuk melatih komunikasi kebutuhan seksualnya sebelum bisa mencapai orgasme secara teratur.
Salah satu cara mengukur seksualitas adalah melalui kadar hormon. Hormon seks biasanya meningkat sejak masa remaja, dengan puncaknya pada usia dewasa awal.
Kadar testosteron pada pria mulai menurun sejak usia 20-an, yang bisa memengaruhi libido dan sensasi seksual. Pada wanita, penurunan hormon terbesar terjadi di masa menopause, yang dapat memengaruhi libido dan menyebabkan kekeringan pada jaringan vagina.
Menurut penelitian terbaru dari Kinsey Institute, pria berusia 25-39 tahun dan wanita berusia 20-29 tahun adalah yang paling sering berhubungan seks, meskipun tingkat frekuensi menurun seiring bertambahnya usia.
Kepuasan seksual juga cenderung meningkat seiring waktu, banyak orang merasa lebih puas dengan kehidupan seksualnya meski frekuensi hubungan seksual berkurang.
(kna/kna)
Sumber : health.detik.com

Image : unsplash.com/ Spacejoy
Jakarta –
Kebanyakan orang mungkin pernah mendengar ‘puncak seksual’. Istilah ini merujuk pada periode waktu saat seseorang berada dalam kondisi paling ideal untuk melakukan hubungan seks dengan frekuensi tinggi dan berkualitas tinggi.
Dikutip dari MedicineNet, gairah atau nafsu seksual manusia dipengaruhi oleh beberapa faktor misalnya perubahan hormon, kondisi psikis, dan kesehatan fisik. Secara biologis, tidak ada definisi yang jelas tentang puncak seksual. Orang-orang mengalami hubungan seks yang memuaskan sepanjang kehidupan dewasa mereka.
Menurut penelitian yang dilakukan seksolog di Amerika Serikat, Alfred Kinsey, wanita dan pria memiliki periode puncak seksual yang berbeda. Hasil penelitian menunjukkan wanita mencapai puncak seksual mereka di usia 30-an sedangkan pria mencapai puncaknya di akhir masa remaja.
Kinsey meminta responden untuk mengukur kapan mereka mengalami orgasme terbanyak. Pria melaporkan mengalami orgasme terbanyak saat berusia 17 atau 18 tahun. Wanita lebih cenderung melaporkan mengalami orgasme teratur saat berusia di atas 30 tahun.
Meskipun data tersebut mungkin secara teknis benar, tetapi hal itu mungkin bukan menjadi indikasi puncak biologis. Meskipun dipertanyakan oleh banyak kritikus, temuan dari laporan Kinsey ini tetap menjadi pandangan umum selama beberapa waktu.
Dikutip dari WebMD, sebuah penelitian lain mengungkapkan bahwa wanita yang berusia antara 27 dan 45 tahun melaporkan minat tertinggi terhadap seks dan lebih banyak fantasi seksual dibandingkan wanita di kelompok usia lainnya.
Wanita juga melaporkan melakukan lebih banyak seks selama tahun-tahun ini dibandingkan wanita di usia lainnya.
Pada wanita, dorongan seksual akan mulai menurun ketika mereka memasuki periode menopause. Hal ini karena kadar estrogen menurun, yang mungkin sedikit mendinginkan libido dan menyebabkan kekeringan vagina.
(dpy/naf)
Sumber : health.detik.com

Image : unsplash.com/ Spacejoy
Jakarta –
Seks adalah salah satu ‘rutinitas’ yang dilakoni oleh pasangan suami istri. Selain untuk kepuasan dan menjaga keharmonisan, seks juga dapat memberikan sejumlah manfaat untuk kesehatan.
Lantas, apa yang terjadi jika pasutri mendadak jarang berhubungan seks? Berhenti bercinta untuk sementara waktu memang tidak memiliki pengaruh yang serius terhadap tubuh. Namun, jika seseorang berhenti bercinta dalam waktu yang sangat lama, maka efek sampingnya bisa menyerang kesehatan fisik dan mental.
Dikutip dari berbagai sumber, berikut hal-hal yang terjadi pada tubuh ketika berhenti bercinta dalam waktu yang lama.
1. Stres dan Cemas Meningkat
Dikutip dari WebMD, seks dapat membantu menurunkan tingkat stres dan kecemasan. Ini karena seks melepaskan hormon bahagia, seperti dopamin dan endorfin, yang membuat relaks tubuh dan mengurangi stres.
Karenanya, orang yang berhenti bercinta dalam waktu lama bisa lebih rentan mengalami stres. Kehidupan seks yang aktif juga dapat membuat seseorang lebih sehat dan bahagia, sehingga jauh dari kecemasan.
2. Gangguan pada Jantung
Penelitian menemukan orang yang berhubungan seks sekali sebulan atau kurang memiliki risiko lebih besar terkena penyakit jantung, dibanding orang yang melakukannya dua kali seminggu. Salah satu alasannya adalah karena seks bertindak sebagai aktivitas fisik yang membantu melancarkan sirkulasi darah.
Selain itu, seks juga dapat menurunkan tingkat stres, salah satu faktor yang dapat meningkatkan risiko penyakit jantung.
3. Penurunan Daya Ingat
Seseorang yang berhenti bercinta juga rentan mengalami penurunan daya ingat. Pasalnya, seks secara rutin dapat membantu meningkatkan kemampuan daya ingat, terutama pada orang yang berusia antara 50-89 tahun.
Belum diketahui secara pasti kaitan antara seks dan daya ingat. Namun, peneliti menduga seks dapat meningkatkan perkembangan sel otak yang berhubungan dengan ingatan.
Penelitian juga menunjukkan seks dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh, terutama immunoglobulin A yang terdapat pada lapisan mukosa (selaput lendir) dan melindungi tubuh dari ancaman virus, bakteri, dan zat berbahaya penyebab penyakit.
Pria yang jarang berhubungan seks ternyata memiliki risiko lebih besar terkena kanker prostat. Sebuah studi yang dilakukan oleh peneliti di Harvard menemukan pria yang ejakulasi kurang dari 7 kali dalam sebulan memiliki risiko kanker prostat 20 persen lebih tinggi dibanding pria yang ejakulasi 21 kali per bulan.
Studi yang sama dilakukan di Australia menemukan pria yang ejakulasi 7 kali dalam seminggu memiliki risiko kanker prostat 36 persen lebih rendah.
6. Risiko Gangguan Seksual Meningkat
Baik pria maupun wanita yang jarang bercinta juga punya risiko lebih tinggi mengalami gangguan fungsi seksual. Pada wanita yang memasuki masa menopause, dinding vagina mereka dapat menipis dan kering jika tidak rutin berhubungan seks.
Penelitian juga menunjukkan pria yang bercinta kurang dari satu kali dalam seminggu memiliki risiko lebih tinggi terkena disfungsi ereksi dibanding pria yang bercinta setiap minggu.
(ath/naf)
Sumber : health.detik.com

Image : unsplash.com/ Spacejoy
Jakarta –
Setelah menopause, beberapa wanita merasa seks atau bercinta tak lagi sama seperti sebelumnya. Bahkan bagi sebagian wanita, seks setelah menopause justru bisa menyakitkan.
Hal ini diakibatkan karena kadar estrogen yang mulai menurun setelah menopause, sehingga vagina menjadi kurang elastis bahkan bisa saja robek ketika bercinta.
Di sisi lain, penelitian menunjukkan bahwa orang yang aktif secara seksual, baik sendiri maupun dengan pasangan akan memiliki gejala menopause yang lebih ringan dari mereka yang tidak.
Menurut WebMD, berikut adalah beberapa posisi bercinta yang bisa menimbulkan rasa nikmat dan tidak menimbulkan sakit untuk wanita yang telah menopause.
1. You sit on top
Beberapa wanita setelah menopause biasanya mengeluhkan sakit di bagian dalam vagina dekat serviks ketika berhubungan seks. Ketika mengubah posisi bercinta ‘sit on top’ maka akan menimbulkan rasa nyaman karena mampu mempertahankan penetrasi pada titik ‘nyaman’.
Lebih lanjut, menggesekkan panggul ke pasangan pada posisi ini juga akan menambah rasa nikmat ketika bercinta.
2. Doggy style
Pada posisi ini memungkinkan wanita untuk mendapatkan rangsangan klitoris selama berhubungan seksual, sehingga bercinta akan terasa lebih nyaman. Meskipun posisi ini memerlukan bantuan lengan untuk menyangga badan, seseorang bisa menggunakan bantal di bawah perut atau di siku jika perlu.
3. Missionary
Posisi misionaris atau berbaring telentang dengan satu atau dua bantal di bawah punggung bawah akan mengangkat panggul sedikit lebih terangkat. Sehingga ini akan memudahkan pasangan untuk melakukan penetrasi.
4. Oral seks
Jika penetrasi menjadi masalah ketika bercinta karena takut akan memberikan rasa sakit, maka oral seks bisa menjadi solusi. Oral seks bisa juga bisa dilakukan secara bersamaan atau bergiliran memberi dan menerima.
5. Lie on your side
Berbaring miring saat bercinta dapat mengontrol seberapa dalam pasangan untuk ‘masuk’ ketika penetrasi. Hal ini juga dapat membantu seseorang yang merasakan nyeri vagina dalam.
Posisi bercinta ini dapat berhasil baik ketika pasangan berhadapan langsung atau saling membelakangi (tekuk sedikit kaki jika masuk dari belakang).
6. Standing from behind
Berdiri dan mencondongkan tubuh ke depan bisa menjadi salah satu posisi bercinta untuk mengurangi rasa sakit. Hal ini bisa dilakukan di kursi yang empuk, meja dapur, atau dengan tangan menempel di dinding.
Lalu, pasangan berdiri di belakang untuk melakukan penetrasi (mirip seperti doggy style). Kedalaman penetrasi juga bisa dikendalikan untuk menghindari rasa sakit akibat seks yang dalam.
(suc/suc)
Sumber : health.detik.com

Image : unsplash.com/ Spacejoy
Jakarta –
Vagina adalah salah satu organ yang penting pada tubuh wanita. Vagina merupakan bagian dari sistem reproduksi, bersama dengan rahim, ovarium, dan serviks.
Vagina memiliki kemampuan untuk membersihkan diri dan mempertahankan bau khasnya. Hal ini dipengaruhi oleh kadar pH dan bakteri baik yang ada di vagina. Aroma vagina pada setiap wanita berbeda-beda lantaran dipengaruhi oleh sejumlah faktor, seperti pola makan, hormon, dan lain sebagainya.
Terkadang, aroma vagina bisa berubah menjadi amis. Hal ini biasanya mengindikasikan adanya potensi masalah kesehatan seperti infeksi atau perubahan hormon. Beberapa kondisi yang dapat menyebabkan bau amis pada vagina di antaranya vaginosis bakterialis, infeksi jamur, infeksi menular seksual, infeksi saluran kemih, dan menopause.
Ada beberapa bahan alami yang bisa digunakan untuk menghilangkan bau tidak sedap pada miss v, seperti dikutip HealthShot:
1. Jus Cranberry
Infeksi saluran kemih (ISK) dapat menyebabkan perubahan bau pada vagina. Namun, studi yang dilakukan pada 2017 menunjukkan konsumsi jus yang terbuat dari cranberry dapat membantu mengatasi perubahan bau vagina akibat kondisi tersebut.
Studi yang dipublikasikan di Journal of Nutrition itu juga menemukan cranberry dapat menurunkan risiko ISK berulang sebesar 26 persen.
“Konsumsi jus cranberry tanpa pemanis untuk mencegah dan meringankan gejala infeksi,” ujar konsultan obstetri dan ginekologi dr Rekha Sukala.
2. Biji Fenugreek
Biji fenugreek dikenal sebagai bahan yang bersifat antimikroba. Beberapa penelitian menunjukkan mengonsumsi air fenugreek dapat membantu membersihkan sistem imun tubuh dan berpotensi mengurangi bau amis pada vagina.
Selain itu, fenugreek juga dapat membantu mengatur hormon, sehingga berkontribusi pada kesehatan vagian yang lebih baik.
3. Bawang Putih
Menambahkan bawang putih mentah ke dalam masakan dapat membantu melawan bakteri yang menyebabkan bau tidak sedap pada vagina. Manfaat yang sama juga bisa diperoleh dengan mengonsumsi kapsul bawang putih.
“Bawang putih memiliki sifat antibakteri dan antijamur yang kuat, yang dapat membantu melawan infeksi dan mengurangi risiko bau vagina,” ucap Sukala.
4. Makanan yang Mengandung Probiotik
Probiotik adalah zat yang dapat membantu menjaga kesehatan dan keseimbangan flora vagina. Mengonsumsi makanan yang kaya probiotik dapat menunjang bakteri baik di vagina dalam menjaga kebersihan Miss V, serta mencegah pertumbuhan organisme berlebih yang memicu bau.
Adapun makanan yang mengandung probiotik seperti yogurt, tempe, miso, acar, dan keju.
(ath/suc)
Sumber : health.detik.com

Image : unsplash.com/ Spacejoy
|