Tag: menstruasi

  • Berhubungan Intim Setiap Hari, Normal Nggak Sih? Begini Penjelasannya

    Jakarta

    Berhubungan seksual dikenal sebagai salah satu ‘obat’ pelepas stres. Pasalnya, seks diketahui dapat meningkatkan suasana hati seseorang secara instan. Namun, apakah seks setiap hari itu normal?

    Dikutip dari Everyday Health dan Healthline, bercinta setiap hari merupakan hal yang wajar, tapi bukan sesuatu yang umum. Menurut survei tahun 2017, hanya sekitar 4 persen orang dewasa yang mengatakan mereka berhubungan seks setiap hari.

    Pada fase-fase awal pernikahan atau ‘fase bulan madu’, biasanya pasangan akan lebih sering bercinta. Hal ini juga terjadi ketika pasangan berencana untuk memiliki bayi dan ingin meningkatkan peluang mereka untuk hamil.


    Apa Saja Manfaat Kesehatan dari Seks?

    1. Mengurangi Stres

    Seks dan orgasme terbukti dapat mengurangi stres dan kecemasan pada manusia. Hal ini karena seks dapat mengurangi hormon stres kortisol dan adrenalin. Seks juga dapat melepaskan endorfin dan oksitosin, yang memiliki efek menenangkan dan menghilangkan stres.

    2. Tidur Lebih Nyenyak

    Sebuah penelitian tahun 2019 menemukan bahwa melakukan hubungan seks dengan pasangan sebelum tidur dapat membantu seseorang tertidur lebih cepat dan lebih nyenyak.

    3. Meredakan Rasa Sakit

    Endorfin dan zat kimia lain yang dilepaskan selama gairah dan orgasme adalah pereda nyeri alami yang bekerja seperti opioid. Hal ini dapat menjelaskan mengapa seks dan orgasme memberikan kelegaan cepat dari kram menstruasi, migrain , dan sakit kepala bagi sebagian orang.

    4. Meningkatkan Kesehatan Jantung

    Sebuah studi berbasis populasi longitudinal yang diterbitkan dalam American Journal of Cardiology menemukan pria yang berhubungan seks setidaknya dua kali seminggu memiliki risiko lebih kecil terkena penyakit kardiovaskular seperti stroke atau serangan jantung dibandingkan mereka yang berhubungan seks sebulan sekali atau kurang.

    5. Mengurangi Risiko Kanker Prostat

    Sebuah studi yang melibatkan 32.000 pria di Amerika Serikat menemukan fakta bahwa mereka yang mengalami ejakulasi lebih dari 21 kali per bulan, dibandingkan mereka yang melakukannya hanya empat sampai tujuh kali per bulan memiliki kemungkinan 20 persen lebih kecil terkena kanker prostat.

    (suc/suc)

    Sumber : health.detik.com

    Image : unsplash.com/ Spacejoy

  • Pasutri Catat, Ini Waktu Terbaik Bercinta agar Cepat Hamil

    Jakarta

    Waktu berhubungan seks ternyata dapat berpengaruh pada peluang kehamilan. Pada dasarnya, hormon akan berfluktuasi sepanjang hari.

    Kunci untuk bisa mendapatkan peluang kehamilan yang terbaik adalah dengan menyesuaikan hormon pasangan. Selain itu, berhubungan seks di waktu-waktu tertentu juga dapat memperbaiki suasana hati atau mood, serta menurunkan tingkat stres.

    Selain dari segi waktu, peluang kehamilan juga bisa dipengaruhi beberapa hal lainnya. Misalnya seperti faktor usia, kondisi kesehatan, frekuensi berhubungan seks, hingga masa subur.


    Lantas, kapan waktu yang tepat untuk bercinta?

    1. Pagi Sebelum Beraktivitas

    Menurut hasil studi, jumlah sperma saat pagi dinilai lebih banyak dibandingkan waktu lainnya. Hal ini yang memungkinkan untuk proses pembuahan yang lebih efektif.

    Jurnal Chronobiology International, disebutkan bahwa air mani yang keluar sebelum pukul 07.30 pagi merupakan kualitas sperma yang terbaik.

    2. Bercinta saat Masa Subur

    Dikutip dari Your Fertility, seorang wanita hanya bisa hamil selama ‘masa subur’ dalam siklus menstruasi. Masa subur merupakan hari saat sel telur dilepaskan dari ovarium (ovulasi) dan lima hari sebelumnya.

    Jika berhubungan seks di waktu-waktu ini, akan memberikan peluang terbaik untuk hamil.

    Masa subur wanita mungkin terjadi saat hari-hari dalam siklus menstruasi. Ini bergantung pada lamanya siklus menstruasi yang bisa bervariasi pada setiap wanita.

    3. Bercinta Sore Hari

    Waktu terbaik untuk berhubungan seks menurun penelitian sains adalah pukul 3 sore. Waktu ini dinilai ideal, baik untuk suami maupun istri.

    Dikutip dari Men’s Health, di waktu tersebut wanita mengalami lonjakan hormon estrogen. Di waktu yang sama, hormon testosteron pria juga meningkat.

    Waktu bercinta pukul 3 sore ini bisa dilakukan saat masa ovulasi, supaya peluang terjadinya kehamilan lebih besar. Meski begitu, harus dipastikan kondisi suami maupun istri dalam keadaan sehat.

    4. Dua hingga Tiga Kali Seminggu

    Untuk meningkatkan peluang kehamilan, rutin berhubungan seks juga diperlukan. Namun, rutin ini bukan berarti harus setiap hari berhubungan seks.

    Pasangan suami istri bisa membuat jadwal untuk berhubungan seks, misalnya dua sampai tiga kali seminggu. Jika terlalu sering bercinta, itu bisa menurunkan kualitas sperma dan membuatnya sulit untuk membuahi sel telur.

    Menurut riset dari Fertility and Sterility, sperma berkualitas dapat terkumpul selama 2-3 hari. Jika di rentang waktu tersebut terjadi pembuahan, kemungkinan bisa hamil.

    Meski frekuensi bercinta ditingkatkan, perlu diperhatikan agar tidak memicu stres atau menjadi beban yang bisa saja membuat sulit untuk hamil.

    (sao/suc)

    Sumber : health.detik.com

    Image : unsplash.com/ Spacejoy

  • 5 Khasiat Jahe untuk Dongkrak Performa Seks Pasutri di Ranjang

    Jakarta

    Jahe adalah salah satu tanaman yang dikenal punya segudang manfaat untuk kesehatan. Bahkan, rimpang ini juga dipercaya berkhasiat dalam meningkatkan kemampuan seksual. Benar nggak sih?

    Jika berbicara soal manfaat jahe, mungkin yang paling dikenal banyak orang adalah untuk melancarkan pencernaan atau mengobati batuk pilek. Namun, mengonsumsi jahe ternyata juga bisa membantu meningkatkan gairah seks dan fungsi organ seksual.

    Lantas, bagaimana cara jahe mendongkrak performa saat bercinta? Dikutip dari Healthshots dan Healthline, berikut lima khasiat jahe untuk mendukung aktivitas di ranjang.


    1. Melancarkan Aliran Darah

    Jahe dapat meningkatkan aliran darah, salah satu faktor penting yang memengaruhi rangsangan dan respons seksual. Spesialis obstetri dan ginekologi dr Chetna Jain mengungkapkan senyawa aktif di dalam jahe, seperti gingerol dapat mengendurkan pembuluh darah, sehingga darah bisa mengalir lebih lanjar menuju organ reproduksi.

    Tak hanya itu, penelitian menunjukkan suplementasi jahe dapat meningkatkan libido atau gairah seksual.

    2. Melawan Peradangan

    Peradangan kronis memberikan banyak dampak bagi tubuh, termasuk dalam hal fungsi seksual. Peradangan juga bisa mengganggu aliran darah ke alat vital, sehingga memengaruhi respons terhadap rangsangan seksual. Antioksidan yang terkandung dalam jahe dapat membantu mengatasi peradangan ini.

    3. Menyeimbangkan Hormon

    Ketidakseimbangan hormon dapat memengaruhi gairah seksual. Misalnya pada wanita, penurunan kadar hormon estrogen bisa menghilangkan gairah seks dan membuat vagina menjadi kering. Akibatnya, seks menjadi tidak menyenangkan dan bahkan bisa menimbulkan nyeri.

    Dalam pengobatan Ayurveda, jahe adalah salah satu tanaman yang digunakan untuk mengembalikan keseimbangan hormon, yang mana penting untuk menjaga libido dan siklus menstruasi tetap teratur.

    4. Melawan Efek Radikal Bebas

    Antioksidan dalam jahe juga dapat melawan radikal bebas, yakni molekul berbahaya yang bisa merusak sel, memicu penuaan, dan meningkatkan risiko penyakit. Karenanya, mengonsumsi jahe dapat mencegah kerusakan sel dan meningkatkan kesehatan secara keseluruhan, termasuk fungsi seksual.

    5. Mendukung Pencernaan

    Sistem pencernaan yang sehat sangat penting untuk penyerapan nutrisi, yang berhubungan erat dengan tingkat energi dan kesehatan hormon. Jika tubuh kekurangan energi atau hormon, kehidupan seks akan terganggu.

    Enzim yang terkandung dalam jahe dapat meningkatkan pencernaan dan memecah gas yang terbentuk selama proses pencernaan. Hal ini dapat mencegah terjadinya ketidaknyamanan di perut yang bisa mengganggu saat sedang bercinta.

    (ath/kna)

    Sumber : health.detik.com

    Image : unsplash.com/ Spacejoy

  • Tak Disangka-sangka, Ini 5 Manfaat Seks yang Jarang Diketahui

    Jakarta

    Seks bukan sekadar aktivitas yang menyenangkan bagi pasangan. Bercinta, bagi banyak pasangan dapat membangun hubungan yang lebih kuat antara dua orang dengan mengurangi segala hal negatif yang ada.

    Hormon oksitosin yang dilepaskan selama momen intim antar pasangan mampu meningkatkan kepercayaan dan rasa persahabatan yang lebih kuat. Hal ini membuat seks tak hanya sekadar bersenang-senang di ranjang, namun juga memiliki banyak manfaat.

    Dikutip dari WebMD, berikut adalah 5 manfaat kesehatan dari bercinta.


    1. Menjaga Sistem Kekebalan Tubuh

    Pakar kesehatan seksual Yvonne K Fulbright, PhD mengatakan mereka yang aktif secara seksual memiliki kekebalan tubuh yang bagus, sehingga jarang sakit. Orang yang berhubungan seks memiliki tingkat pertahanan tubuh yang lebih tinggi terhadap kuman hingga virus.

    “Orang yang aktif secara seksual memiliki waktu sakit lebih sedikit,” ujar Fulbright dikutip dari Web MD.

    2. Mengurangi Rasa Sakit

    Profesor dari University of New Jersey, Barry Komisaruk phD mengatakan orgasme dapat menurunkan rasa sakit pada seseorang.

    “Kami menemukan bahwa rangsangan pada vagina dapat menghalangi nyeri kronis pada punggung dan kaki dan banyak wanita mengatakan kepada kami bahwa rangsangan pada alat kelamin dapat mengurangi kram menstruasi, nyeri rematik, dan dalam beberapa kasus bahkan sakit kepala,” kata Komisaruk.

    Pria yang sering ejakulasi (setidaknya 21 kali sebulan) lebih kecil kemungkinannya terkena kanker prostat. Hal ini terbukti pada penelitian yang diterbitkan dalam Journal of American Medical Association.

    4. Meningkatkan Kualitas Tidur

    Psikiater di West Hollywood, California Sheenie Ambardar, MD mengatakan seks dapat membuat seseorang mendapatkan tidur yang berkualitas. Hal ini karena adanya hormon prolaktin yang dilepaskan oleh tubuh.

    “Setelah orgasme, hormon prolaktin dilepaskan yang bertanggung jawab atas perasaan rileks dan mengantuk setelah berhubungan seks,” kata Ambardar.

    5. Meredakan Stres

    Setiap sentuhan dan pelukan pada saat bercinta, tubuh akan melepaskan hormon yang dapat membuat perasaan menjadi lebih bahagia. Gairah seksual melepaskan zat kimia otak yang meningkatkan sistem kesenangan dan penghargaan di otak.

    “Seks dan keintiman dapat meningkatkan harga diri dan kebahagiaan,” ujar Ambardar.

    (dpy/up)

    Sumber : health.detik.com

    Image : unsplash.com/ Spacejoy

  • Paksu Wajib Tahu! 5 Cara Ampuh Bikin Istri ‘Nikmat’ Bercinta Tanpa Rasa Nyeri

    Jakarta

    Saat pasangan suami istri berhubungan intim biasanya ada rasa kenyamanan dan kenikmatan. Namun, ternyata beberapa wanita mungkin merasakan sakit saat bercinta.

    Ada beberapa penyebab yang bisa membuat pasangan merasa kesakitan. Mulai dari nyeri otot karena posisi yang tidak cocok, iritasi atau rasa terbakar pada kulit, atau kondisi ginekologis seperti vaginismus.

    Meski begitu, kondisi seperti ini masih bisa dicegah ataupun diatasi. Dikutip dari Business Insider, berikut beberapa cara yang bisa dilakukan agar tidak sakit saat berhubungan seks.


    1. Lakukan dengan perlahan

    Sebagian orang mungkin memerlukan banyak ‘pemanasan’ sebelum memulainya. Direktur asosiasi Pusat Promosi Kesehatan Seksual di Universitas Indiana, Debby Herbenick, PhD, mengatakan tubuh wanita membutuhkan waktu untuk membuat vagina meregang sepenuhnya.

    “Tubuh membutuhkan waktu untuk memberi ruang bagi vagina untuk mengembang. Vagina dapat meregang dari 4-7 inci (10-17 cm) saat terangsang sepenuhnya,” terang Herbenick.

    Untuk mengatasinya, Herbenick merekomendasikan foreplay selama 20 menit untuk mempersiapkan tubuh dengan baik.

    2. Pastikan menggunakan pelumas yang cukup

    Salah satu penyebab wanita merasa kesakitan saat berhubungan seks adalah vagina yang kering. Ada beberapa penyebabnya, seperti penurunan kadar estrogen, titik-titik tertentu dalam siklus menstruasi, hingga mandi air panas sebelum berhubungan seks.

    Untuk mengurangi rasa sakit, cobalah untuk menggunakan pelumas berbahan dasar silikon atau air. Menghindari pelumas yang mengandung bahan kimia atau pewangi, karena berisiko mengiritasi area kelamin dan kulit.

    3. Coba posisi yang berbeda

    Pada beberapa kasus, posisi seks lebih mungkin menyebabkan rasa sakit. Posisi yang memungkinkan dorongan dalam, seperti doggy style, seringkali menyakitkan bagi wanita.

    Bisa mencoba posisi yang memungkinkan istri lebih mudah mengendalikan kecepatan, seperti woman on top, missionary, atau spooning. Ini bisa mengurangi rasa sakit saat berhubungan seks.

    4. Gunakan alat bantu

    Jika sudah mengubah posisi dan tidak membuat seks lebih baik, cobalah menggunakan bantuan dari alat lain seperti bantal. Bantal sangat bagus untuk membantu menyelaraskan tubuh dalam posisi yang lebih nyaman.

    5. Berhenti berhubungan seks

    Rasa sakit seringkali bisa menjadi sinyal bahwa tubuh perlu istirahat. Tidak ada salahnya untuk mendengarkan tubuh dan berhenti berhubungan seks untuk sementara waktu.

    (sao/naf)

    Sumber : health.detik.com

    Image : unsplash.com/ Spacejoy

  • Kronologi Wanita Hampir Tewas gegara Tak Lepas Tampon Haid Berbulan-bulan


    Jakarta

    Seorang wanita bernama Kelsey Foster membagikan kisahnya hampir meninggal karena lupa melepas tampon untuk menstruasi selama dua bulan, bahkan lebih. Ia pun harus berjuang untuk hidupnya setelah didiagnosis mengidap toxic shock syndrome (TSS).

    TSS adalah komplikasi infeksi bakteri jenis tertentu yang mengancam jiwa. Seringkali kondisi ini disebabkan oleh racun yang dihasilkan oleh bakteri Staphylococcus aureus (staph), namun juga dapat disebabkan oleh racun yang dihasilkan oleh bakteri streptokokus grup A (strep).

    TSS dapat menyerang siapa saja, termasuk pria, anak-anak, dan wanita pascamenopause. Faktor risiko TSS termasuk luka kulit, pembedahan, dan penggunaan tampon serta perangkat lain, seperti cangkir menstruasi, spons kontrasepsi, atau diafragma.


    Lebih lanjut, Kelsey pun menceritakan bagaimana dirinya bisa lupa melepas tampon dan didiagnosis TSS. Wanita dari Newcastle, Australia, itu diketahui sering bolak balik ke RS selama beberapa bulan terakhir karena memiliki masalah kandung empedu dan organ hati. Kondisi ini tak ada kaitannya dengan TSS karena sudah diidapnya sedari lama.

    Dirinya juga mengaku terbiasa merasa kram dan kesakitan pada perutnya lantaran mengidap endometriosis, suatu kondisi saat jaringan yang mirip dengan lapisan rahim tumbuh di luar rahim.

    Imbas hal tersebut, Kelsey selalu menghubungkan gejala kram perut dengan kondisi endometriosis atau masalah kandung empedu. Padahal, kenyataanya disebabkan karena penyakit lain.

    Suatu hari, Kelsey pergi ke kamar mandi dan merasakan ada sesuatu yang ‘keluar’ dari dirinya. Awalnya ia mengira sesuatu yang ‘keluar’ tersebut merupakan gumpalan darah yang kerap dialaminya imbas endometriosis.

    Namun setelah diperhatikan lagi, sesuatu yang keluar dari dirinya itu adalah tampon haid tua yang sudah berbulan-bulan ‘nyangkut’ di dalam dirinya.

    “Ditemukan bahwa saya mengidap batu empedu dan kemudian kantong empedu saya kolaps. Hati saya juga menunjukkan tanda-tanda iritasi. Saya menunggu operasi dan menjalani tes. Suatu hari, aku pergi ke kamar mandi dan aku merasakan ada sesuatu yang keluar dari diriku,” imbuhnya kepada news.com.au.

    “Saya tidak yakin sudah berapa lama hal itu terjadi di dalam diri saya, tapi pastinya sudah terjadi setidaknya enam minggu yang lalu, karena itulah saat terakhir saya mengalami menstruasi. Siklus menstruasi saya sangat tidak teratur,” katanya lagi.

    Kelsey mengaku tak tahu bagaimana dirinya bisa lupa mengeluarkan tamponnya, namun ia sangat yakin hal tersebut disebabkan karena stres dan rutinitasnya saat menjalani pengobatan di RS.

    Setelah tampon tersebut keluar dari tubuhnya, Kelsey pun memasukkannya ke dalam kantong zip-lock untuk ditunjukkan kepada dokter yang melakukan tes padanya, mengumpulkan darah, dan kemudian memastikan diagnosisnya mengidap TSS.

    “Itu adalah situasi ‘Anda sangat beruntung karena Anda tidak mati’,” ungkapnya.

    “Saya bersyukur saya menemukan tampon itu ketika saya menemukannya. Shock toxic dapat membunuh Anda dalam hitungan hari, saya sangat beruntung karena kondisi tersebut tidak sampai ke tahap itu,” katanya.

    (suc/vyp)

    Sumber : health.detik.com

    Image : unsplash.com/ Spacejoy

  • Mitos atau Fakta, Bercinta saat Menstruasi Tak Bisa Hamil?


    Jakarta

    Salah satu mitos terkait kehamilan yang umum di kalangan masyarakat adalah seorang wanita tidak bisa hamil ketika bercinta saat masih dalam masa menstruasi.

    Nyatanya, hal ini tak sepenuhnya benar. Dikutip dari Healthline, meski memang kemungkinan untuk hamil saat haid itu rendah, bukan berarti sepenuhnya tidak mungkin.

    Pada dasarnya, penting untuk memahami siklus ovulasi dan masa kesuburan seorang wanita untuk mengetahui kemungkinan kehamilan.


    Ovulasi adalah masa ketika ovarium melepaskan sel telur untuk pembuahan. Bila sperma terdapat di rahim pada masa ini dan bertemu dengan sel telur, maka kehamilan bisa terjadi.

    Rata-rata, siklus ovulasi wanita berkisar 28 hingga 30 hari

    Hari pertama adalah awal mulainya periode menstruasi. Ovulasi biasanya terjadi pada hari ke-14, namun tidak menutup kemungkinan bisa terjadi pada hari ke-12 dan 13. Beberapa wanita juga memiliki siklus yang lebih panjang hingga 35 hari dengan ovulasi yang terjadi pada sekitar hari ke-21.

    Artinya, jika seseorang berhubungan seksual kala menstruasi, kemungkinan tidak akan berovulasi selama beberapa hari setelahnya. Namun, hal ini tak berlaku pada orang yang memiliki siklus lebih pendek. Wanita dengan siklus yang lebih pendek bisa berovulasi sekitar hari ke-7. Hal ini yang menyebabkan masih adanya kemungkinan untuk seseorang mengalami kehamilan meskipun berhubungan seks saat menstruasi.

    Pertimbangan lainnya adalah bahwa sel sperma bisa hidup hingga 72 jam setelah ejakulasi. Karena itu, bila seseorang berhubungan seksual di masa akhir menstruasi, masih ada peluang terjadinya kehamilan jika berhubungan seks tanpa pelindung.

    Di luar dari siklus menstruasi dan ovulasi yang beragam, beberapa wanita juga seringkali keliru dalam menilai pendarahan di vagina sebagai menstruasi. Padahal, pendarahan pada vagina bisa terjadi saat masa ovulasi.

    Peluang kehamilan ketika berhubungan seks pada sekitar hari ke-13 setelah mulai menstruasi diperkirakan sekitar 9 persen. Meski peluang ini tergolong rendah, tetap dianjurkan untuk menggunakan pelindung untuk mencegah kehamilan yang tidak direncanakan.

    Risiko Bahaya Berhubungan Seks saat Menstruasi

    Perlu diketahui bahwa berhubungan seksual ketika dalam masa menstruasi tidak dianjurkan karena memiliki sejumlah risiko bahaya pada kesehatan. Berikut adalah sejumlah risiko bahaya yang bisa ditimbulkan.

    1. Infeksi

    Berhubungan seks saat dalam kondisi menstruasi bisa meningkatkan potensi penularan infeksi menular seks (IMS) yang mungkin tertular melalui darah, seperti hepatitis. Selain itu, vagina dalam masa menstruasi menjadi lebih sensitif. Jika kuman atau bakteri masuk ketika penetrasi, bisa saja membuat vagina infeksi.

    2. Endometriosis

    Dikutip dari HealthShots, seks saat dalam kondisi menstruasi juga bisa meningkatkan risiko terhadap endometriosis atau penebalan dinding rahim. Kondisi endometriosis ini juga bisa memicu sejumlah kondisi gangguan lainnya, seperti gangguan kesuburan atau infertilitas hingga tumor dan kanker.

    (suc/suc)

    Sumber : health.detik.com

    Image : unsplash.com/ Spacejoy

  • Saat Terangsang, Kedalaman Miss V Bisa ‘Sepanjang’ Ini


    Jakarta

    Vagina adalah salah satu organ tubuh dengan berbagai manfaat, mulai dari jalan keluarnya bayi hingga darah menstruasi. Saat berhubungan seks, vagina berperan sebagai tempat menyalurkan hasrat seksual sekaligus jalan masuk sperma ke rahim.

    Faktanya, ukuran vagina bersifat elastis. Panjang vagina dapat berubah pada situasi dan kondisi tertentu. Misalnya, ketika penis, jari, tampon, dan mainan seks dimasukkan ke dalam vagina maka dinding di dalamnya akan melebar sesuai dengan ukuran benda asing tersebut.

    Dikutip dari Men’s Health, penelitian dalam British Journal of bstetrics & Gynaecology menemukan rata-rata kedalaman vagina adalah 3,77 inci atau 9,6 cm dalam kondisi normal. Saat terangsang, vagina dapat melebar antara 4,25 – 4.75 inci atau setara dengan 10,8 – 12 cm. Hal ini disebabkan kerena selama bergairah, darah mengalir ke area genital yang menyebabkan rahim dan leher rahim naik dua pertiga bagian atas vagina yang memanjang.


    Vagina juga akan berubah ketika melahirkan. Untuk mengakomodasikan jalan lahir bayi, serviks, saluran vagina, dan vulva melebar hingga berdiameter sekitar 10 cm. Usai melahirkan, beberapa wanita mungkin akan mengalami vagina yang terasa longgar, kering, hingga nyeri. Namun, tak perlu khawatir, vagina akan menjadi lebih kencang dalam beberapa hari pasca melahirkan dan kembali ke bentuk semula sekitar 6 bulan setelah melahirkan.

    Seiring berjalannya waktu, elastisitas vagina dapat berkurang. Hal ini disebabkan karena wanita mulai memasuki masa menopause yang membuat otot vagina melemah. Sering melakukan persalinan juga dapat mempengaruhi elastisitas vagina. Faktor lain seperti operasi, mengejan saat sembelit, dan penambahan berat badan juga bisa mempengaruhi elastisitas vagina.

    (naf/naf)

    Sumber : health.detik.com

    Image : unsplash.com/ Spacejoy

  • Tanda-tanda Awal Menopause Dini pada Wanita, Termasuk Vagina Kering


    Jakarta

    Menopause adalah kondisi berakhirnya sirlukasi ovulasi dan menstruasi pada wanita. Umumnya, kondisi ini mulai dialami ketika wanita memasuki usia 40 hingga 50 tahun.

    Namun, tak sedikit juga wanita yang mengalaminya di usia yang lebih dini, yaitu pada usia 30 tahun atau bahkan sebelum berusia 30 tahun. Inilah yang disebut sebagai menopause dini.

    Dikutip dari NHS, penyebab dari kondisi menopause dini belum diketahui secara pasti. Namun, kondisi ini bisa dipicu oleh berbagai faktor, seperti riwayat atau keturunan keluarga, kelainan kromosom, penyakit autoimun, hingga sejumlah infeksi tertentu.


    Berikut adalah sejumlah gejala yang umum dialami oleh wanita yang mengalami menopause dini.

    1. Hot flashes

    Hot flashes adalah sensasi atau rasa panas yang muncul secara tiba-tiba pada tubuh, terutama tubuh bagian atas. Umumnya, rasa panas ini paling banyak dirasakan di area wajah dan leher.

    2. Night sweat

    Night sweat atau sering berkeringat saat malam hari bisa menjadi salah satu tanda-tanda seseorang mulai memasuki fase menopause. Hot flashes yang timbul saat tidur seringkali disebut juga dengan sebutan night sweat atau keringat malam.

    3. Vagina kering

    Vagina kering dapat menimbulkan berbagai gejala lainnya, seperti rasa gatal, rasa terbakar, iritasi, dan rasa sakit ketika berhubungan seksual. Kondisi ini seringkali disebabkan oleh ketidakseimbangan hormon ketika tubuh mulai memasuki masa menopause.

    4. Ketidakstabilan emosi

    Selain gejala pada kesehatan fisik, menopause juga bisa berdampak pada kesehatan mental. Salah satunya adalah gangguan tidur. Hal ini juga seringkali berkaitan dengan gangguan kecemasan dan depresi yang banyak dialami oleh wanita ketika memasuki masa menopause.

    Ketidakseimbangan hormon turut mempengaruhi kestabilan emosi seseorang. Selain itu, menopause juga bisa membuat seseorang jadi lebih sulit untuk berkonsentrasi dan menjadi lebih mudah lupa atau sulit untuk mengingat.

    5. Penurunan gairah seksual

    Kadar hormon estrogen dalam tubuh akan mengalami penurunan yang cukup drastis ketika mulai memasuki fase menopause. Bahkan, penurunan ini sudah dimulai sejak beberapa tahun sebelum benar-benar memasuki fase menopause.

    Penurunan kadar hormon seks ini akan berdampak besar pada hilangnya gairah seksual dan kesulitan untuk terangsang atau orgasme pada wanita.

    (kna/kna)

    Sumber : health.detik.com

    Image : unsplash.com/ Spacejoy

  • Sudah Menopause, Apakah Masih Bisa Orgasme saat Bercinta?


    Jakarta

    Bisa merasakan orgasme saat bercinta menjadi impian sebagian besar wanita. Melalui orgasme, wanita merasa berada di puncak kepuasan dalam melampiaskan gairah kepada pasangan. Seiring bertambahnya usia, wanita memasuki masa menopause. Dapatkah wanita menopause kembali merasakan orgasme?

    Dikutip dari Healthline, menopause terjadi ketika wanita tidak menstruasi selama 1 tahun. Di tahun-tahun sebelumnya, wanita mengalami perimenopause yang ditandai dengan penurunan gairah, menstruasi yang tidak teratur, masalah tidur, dan hot flahes (sensasi panas pada tubuh secara tiba-tiba). Perimenopause mungkin membuat wanita khawatir terhadap perubahan kehidupan seksnya

    Meskipun begitu, wanita masih mungkin melakukan hubungan seks yang berkualitas, menggairahkan, dan mencapai orgasme dengan langkah-langkah ini.


    1. Pakai pelumas

    Vagina biasanya kering selama dan setelah masa transisi menopause. Saat kadar estrogen dan progesteron dalam tubuh mulai turun, vagina menghasilkan lebih sedikit pelumasan, bahkan saat terangsang. Penurunan pelumasan alami ini bisa membuat penetrasi terasa tidak nyaman hingga menyakitkan bagi sebagian orang.

    Pelumas dapat membantu meredakan gesekan penis dengan rangsangan klitoris yang membantu wanita mencapai orgasme melalui sentuhan saja. Maka dari itu, gunakan pelumas agar aktivitas seks menjadi menyenangkan.

    2. Beri beberapa rangsangan

    Selama transisi menopause, aliran darah ke vagina dan klitoris berkurang. Jika biasanya membutuhkan rangsangan klitoris untuk orgasme, penurunan sensitivitas akibat menopause membuat orgasme lebih sulit dicapai. Namun, bukan berarti wanita tidak bisa mencapai orgasme. Mungkin perlu waktu sedikit lebih lama atau melakukan pendekatan baru.

    Sentuhan

    Mulai dengan menyentuh, menggosok, atau membelai klitoris. Minta pasangan juga untuk melakukannya. Jangan lupa gunakan pelumas.

    Seks oral

    Seks oral bisa menjadi cara bagus untuk mewujudkan orgasme. Seks oral merangsang klitoris dan memberi pelumasan tambahan.

    Vibrator

    Menggunakan vibrator secara teratur, selama seks solo atau pasangan membantu meningkatkan kepekaan dan pelumasan alami vagina, serta mempermudah orgasme.

    3. Luangkan waktu untuk menyentuh dan berciuman

    Mengubah hormon bisa berarti butuh waktu lebih lama untuk terangsang atau merasakan mood untuk berhubungan seks. Menghabiskan lebih banyak waktu untuk permainan erotis dan keintiman non-fisik tidak hanya meningkatkan gairah, tetapi membuat wanita lebih terhubung dengan pasangan.

    Beberapa hal yang bisa dicoba:

    • Saling memberi pijatan sensual kepada pasangan
    • Mandi bersama
    • Bicarakan seputar kehidupan seks

    (kna/kna)

    Sumber : health.detik.com

    Image : unsplash.com/ Spacejoy