Tag: mesir

  • Kisah Nabi Musa AS yang Menentang Firaun dan Para Pengikutnya



    Jakarta

    Nabi Musa AS adalah satu dari 25 nabi dan rasul yang kisahnya tercantum dalam Al-Qur’an. Semasa hidupnya, ia berdakwah menegakkan ajaran tauhid.

    Menurut Qashashul Anbiya oleh Ibnu Katsir yang diterjemahkan Umar Mujtahid, Nabi Musa AS lahir ketika Firaun memerintahkan rakyatnya untuk membunuh bayi laki-laki yang lahir. Meski demikian, ibu Musa AS mendapat ilham untuk meletakkannya di dalam peti dengan diikat tali.

    Rumah Nabi Musa AS kala itu berada di hulu Sungai Nil. Setelah menyusui Musa kecil, ibunya kembali meletakkannya di dalam peti khawatir akan ada orang yang mengetahui keberadaan si bayi.


    Peti tersebut diletakkan di lautan dengan tali. Ketika semua orang pergi, ibu Nabi Musa AS kembali menarik petinya.

    Dikisahkan dalam buku Kisah Nabi Musa AS oleh Abdillah, singkat cerita peti yang biasanya ditarik oleh ibu Nabi Musa AS terhanyut. Atas izin Allah SWT, peti itu ditemukan oleh permaisuri Firaun yang bernama Asiyah. Melihat Nabi Musa AS kecil di dalam peti tersebut, Asiyah akhirnya membujuk Firaun untuk mengadopsi Musa bayi.

    Ketika kecil, Musa AS menolak untuk menyusu pada siapa pun. Dengan kuasa Allah SWT, hanya ibu Nabi Musa AS yang tidak ditolak susunya oleh Musa kecil. Ini bermula ketika kakak Musa AS memperkenalkan ibu kandungnya kepada para dayang,

    Ibu Nabi Musa AS menyusui sang nabi dan diberi upah. Ia juga turut berperan merawatnya sampai dewasa.

    Menginjak dewasa, Nabi Musa AS dijadikan sebagai rasul. Musa AS diutus untuk berdakwah dan akhirnya berhadapan dengan Firaun.

    Ia meminta agar Firaun kembali ke jalan yang benar. Atas perintah Allah SWT, Nabi Musa AS berdakwah bersama saudaranya, Nabi Harun AS untuk membimbing Firaun.

    Mengutip buku Pengantar Sejarah Dakwah oleh Wahyu Ilaihi, pendamping dakwah Nabi Musa AS yakni saudaranya Harun AS. Allah memerintahkan Musa dan Harun untuk berangkat menemui Firaun dan mendakwahinya dengan kata-kata lembut.

    Alih-alih bertobat, Firaun justru membangkang. Musa AS dan Harun AS memerintahkan agar Firaun melepaskan bani Israil dari genggamannya dan membiarkan mereka beribadah kepada Allah SWT.

    Atas izin Allah SWT, Nabi Musa AS menunjukkan mukjizat berupa tongkat yang berubah menjadi ular dan tangan yang bercahaya. Namun Firaun tetap murka kepada Nabi Musa AS.

    Tanpa ragu, Firaun meminta tukang sihirnya menunjukkan kemampuannya di depan Musa AS. Mereka lalu melempar tali yang bisa berubah menjadi ular.

    Walau begitu, ular-ular tukang sihir dilahap oleh ular milik Musa AS. Peristiwa tersebut membuat pengikut Firaun akhirnya percaya kepada Allah SWT dan beriman, begitu pun sang istri yang bernama Asiyah.

    Semakin murka, ketimbang bertobat Firaun justru menyiksa seluruh pengikut Nabi Musa AS. Istrinya yang menyatakan beriman kepada Allah SWT juga disiksa sampai meninggal dunia.

    Akhirnya, Allah SWT memerintahkan Nabi Musa AS untuk meninggalkan Mesir. Meski demikian, pengikut Firaun yang belum beriman terus mengejar Nabi Musa AS.

    Tiba saatnya Nabi Musa AS menghadapi jalan buntu, Allah memerintahkan agar ia memukulkan tongkatnya ke laut. Dengan izin Allah SWT, tongkat tersebut dapat membelah lautan dan menciptakan jalur agar Musa AS dan pengikutnya dapat melewati.

    Setelah pengikut Musa AS selesai menyeberangi lautan, sang nabi kembali memukulkan tongkatnya sesuai perintah Allah SWT. Tiba-tiba, laut kembali ke kondisi semula hingga menenggelamkan Firaun beserta pasukannya.

    Wallahu a’lam

    (aeb/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Salahuddin Al-Ayyubi, Panglima Islam yang Menangkan Perang Salib



    Jakarta

    Salahuddin Al-Ayyubi merupakan satu dari sekian banyak muslim yang berjasa dalam sejarah penyebaran Islam. Sebagai seorang pahlawan, jasanya pada medan perang sangat berarti.

    Saking berjasanya, Salahuddin Al-Ayyubi mendapat gelar al-Malik al-Nashir yang berarti penguasa bijaksana. Pria yang juga dikenal sebagai Yusuf bin Ayyub itu lahir di Tikrit, Irak pada 532 H/1137 M.

    Menukil dari buku Sejarah Islam tulisan Mahayudin Hj Yahaya, Salahuddin Al-Ayyubi merupakan putra dari seorang Gubernur Baalbek yaitu Najm ad-Din Ayyub. Ia menghabiskan masa kecilnya di Damaskus dengan belajar.


    Tak hanya mempelajari Islam, Salahuddin Al-Ayyubi juga menempuh pembelajaran militer dari pamannya yang bernama Asaddin Syirkuh, panglima perang Turki Saljuk. Bersama sang paman, Salahuddin menguasai Mesir dan mendeposisikan sultan terakhir dari kekhalifahan Fatimiyah.

    Keberhasilan Salahuddin itu membuatnya diangkat sebagai panglima perang pada 1169 M. Ia merupakan sosok yang cerdas dalam menyusun strategi peperangan dan pemerintahan.

    Salahuddin tidak membutuhkan waktu yang lama untuk memimpin Mesir dengan baik. Ia bahkan mendirikan dua sekolah besar untuk mengajarkan tentang Islam dengan benar. Kala itu, Salahuddin bertujuan menghapus ajaran Syi’ah yang menyebar di Mesir.

    Sosok Salahuddin juga dikenal dengan kemenangannya dalam Perang Salib. Menurut buku 55 Tokoh Dunia yang Terkenal dan Paling Berpengaruh Sepanjang Waktu karya Wulan Mulya Pratiwi, Salahuddin Al-Ayyubi membutuhkan waktu panjang untuk mempersiapkan Perang Salib.

    Persiapan itu mencakup fisik, strategi jitu serta rohani. Ia bahkan membangun benteng-benteng pertahanan yang kuat, perbatasan-perbatasan yang jelas, markas-markas perang dan kapal-kapal terbaik.

    Salahuddin juga mendirikan rumah sakit serta menyuplai obat-obatan. Meski dirinya sedang sakit keras saat itu, ia tidak pernah menyurutkan niat untuk memperjuangkan tanah Nabi, Jerusalem.

    Tekad Salahuddin bahkan makin kuat di tengah kondisinya yang seperti itu. Perjuangan pertama disebut dengan Perang Hathin atau perang pembuka.

    Pasukan Salahuddin yang berjumlah 63.000 membunuh 30.000 pasukan salib dan menahan 30.000 lainnya.

    Lalu, pada perjuangan selanjutnya di Kota Al-Quds dan Jerusalem banyak pasukan Salahuddin yang syahid. Ketika pasukan Salib memasang salib besar pada batu Shakharkh, hal ini membuat pasukan semakin bersemangat dan akhirnya berhasil memenangkan Perang Salib.

    (aeb/kri)



    Sumber : www.detik.com

  • Ukuran Mr. P Berdasarkan Tinggi Badan, Mitos atau Fakta?


    Jakarta

    Ukuran penis merupakan topik yang sensitif bagi pria karena seringkali berhubungan dengan tingkat kepercayaan diri. Konon wanita juga lebih menyukai pria yang memiliki ukuran Mr. P atau penis yang panjang, sehingga hal ini mempengaruhi pandangan pria terhadap dirinya.

    Banyak cara yang bisa dilakukan untuk menentukan ukuran penis, salah satunya berdasarkan pada tinggi badan. Namun, benarkah demikian? Simak informasi lengkap mengenai ukuran Mr.P berdasarkan tinggi badan berikut ini.

    Ukuran Mr. P Berdasarkan Tinggi Badan, Benarkah?

    Banyak orang yang percaya bahwa ukuran Mr. P dapat ditentukan berdasarkan dengan tinggi badan. Jika seseorang memiliki ukuran badan yang besar dan tinggi, maka mereka cenderung memiliki ukuran Mr P yang panjang. Sebaliknya, jika seorang pria memiliki tubuh yang pendek, ukuran Mr P mereka cenderung akan lebih pendek.


    Lantas, benarkah ukuran Mr. P dapat ditentukan berdasarkan tinggi badan? Menurut sebuah studi yang dilakukan oleh M.E Shalaby dan kawan-kawan yang diterbitkan dalam jurnal National Library of Medicine tahun 2014, mengungkapkan bahwa tidak ada korelasi antara tinggi badan seseorang dengan ukuran Mr. P atau penis.

    Penelitian tersebut dilakukan dengan melihat hubungan panjang penis berdasarkan berat badan, tinggi badan, lingkar pinggang, usia, ukuran testis, dan panjang jari telunjuk pada 2000 pria Mesir berusia 22 hingga 40 tahun.

    Hasil penelitian menunjukkan bahwa panjang penis memiliki korelasi yang negatif dengan rasio pinggang, usia, ukuran testis, berat badan dan juga tinggi badan seseorang.

    Dilansir dari Medical News Today, kebanyakan orang berpikir bahwa pria dengan tubuh yang tinggi biasanya memiliki ukuran penis yang besar, namun hal ini tidak sepenuhnya benar.

    Seorang pria dengan ukuran penis terpanjang, yaitu 14 cm saat tidak ereksi dimiliki oleh seorang pria kurus dengan tinggi 170 cm.

    Sementara itu, seseorang yang memiliki penis yang kecil berukuran 6 cm dimiliki oleh seorang pria bertubuh kekar dengan tinggi 180 cm.

    Sehingga, dapat disimpulkan bahwa ukuran penis tidak bisa ditentukan berdasarkan tinggi badan seseorang. Ukuran penis umumnya dapat ditentukan berdasarkan ras, hormon, nutrisi serta genetik.

    Berapakah Ukuran Mr.P yang Ideal?

    Banyak pria merasa khawatir dan tidak percaya diri dengan ukuran penis mereka. Hal ini karena pria menganggap kualitas hubungan intim ditentukan berdasarkan dengan ukuran penis yang ideal. Lantas, berapakah ukuran Mr.P yang ideal?

    Ukuran panjang penis idealnya berkisar antara 7 hingga 9 cm saat tidak ereksi, sementara saat ereksi ukuran rata-rata penis pria berkisar antara 12 hingga 15 cm. Ukuran ini juga bisa dipengaruhi oleh ras, genetik, nutrisi dan juga hormon.

    Akan tetapi, ukuran penis pria ini tidak berpengaruh dengan kualitas hubungan intim dengan pasangan.

    Dilansir situs Healthline, dalam hal seks, ukuran penis bukanlah masalah karena tidak mempengaruhi fungsi serta kesehatan organ reproduksi pria.

    Sehingga, tidak perlu khawatir atau merasa tidak percaya diri dengan ukuran penis yang dimiliki. Kekhawatiran yang berlebihan tentang ukuran penis justru dapat mempengaruhi tingkat kepercayaan diri serta kemampuan dalam menikmati seks dengan pasangan.

    Selain itu, faktor psikologis berupa stres dan kecemasan juga dapat menyebabkan gangguan pada sistem reproduksi dan menyebabkan disfungsi ereksi.

    Nah, itulah pembahasan mengenai korelasi antara ukuran Mr.P berdasarkan tinggi badan seseorang. Seperti yang telah dijelaskan di atas, tidak ada hubungan yang signifikan antara tinggi badan dengan ukuran panjang penis pria.

    Oleh karena itu, tinggi badan seseorang tidak bisa menjadi satu-satunya patokan untuk menentukan ukuran penis seseorang. Semoga informasi ini bermanfaat.

    (inf/inf)

    Sumber : health.detik.com

    Image : unsplash.com/ Spacejoy